CHAPTER 4: That Feeling
.
.
.
Sudah kesekian kalinya Baekhyun merapikan baju yang ia kenakan. Kaus lengan panjang tipis berwarna hitam yang memperlihatkan tulang selangkanya terus ia amati dari cermin. Mungkin ia sudah bertukar baju puluhan kali dan tampaknya kaus itu menjadi pilihan terakhirnya.
Sial, kenapa aku jadi gugup?
Baekhyun berjalan keluar dari kamar mandi setelah menyisir rambutnya. Ponselnya sempat berdering tadi. Chanyeol mengiriminya pesan singkat sekedar mengucapkan selamat pagi dan mengingatkan Baekhyun untuk berkunjung ke rumahnya untuk "training". Lelaki mungil itu masih menginap di rumah neneknya, jadi hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuknya untuk sampai ke rumah Chanyeol. Ia tersenyum sendiri sambil membalas pesan Chanyeol, lalu melaju ke rumah si lelaki tinggi dengan tas ransel dan senyuman.
Sampailah ia di depan pagar rumah Chanyeol. Baekhyun tadinya berniat memanggil Chanyeol -berteriak- namun mengingat ada ibu Chanyeol ia harus memberi kesan pertama yang bagus padanya.
Baekhyun sudah menekan tombol bel rumah Chanyeol lagi namun tetap tak ada jawaban. Kemana dia?
Tiba-tiba seseorang membuka pintu rumah dan berjalan keluar untuk membuka pagar rumah. Wajahnya tak familiar bagi Baekhyun. Awalnya Baekhyun agak takut melihat wajah sangar pria yang tampaknya lebih muda itu, tapi saat pria itu tersenyum dan dengan hangat menyambutnya masuk, ketakutan itu menghilang seketika.
Baekhyun melangkah masuk kedalam kediaman Chanyeol dengan senyum tipis di wajahnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari Chanyeol. "Mencari Chanyeol-hyung?" tanya lelaki tadi.
"A-ah, iya. Kebetulan aku disuruh dia kemari," jawab Baekhyun seadanya.
"Kau pacar Chanyeol-hyung, kan? Iya kan?" tanya Tao over-excited sambil menggoyang-goyangkan pundak Baekhyun.
Baekhyun menggeleng canggung. "Bu-bukan!"
"Tao-ya! Siapa yang tadi memencet bel?" Suara seorang wanita paruh baya membuat Tao berhenti 'mengguncang' Baekhyun. Wanita itu lalu muncul dari balik dapur dengan celemek putih bermotif bunga merah dan sebuah senyuman ketika melihat Tao tidak sendirian di ruang tamu. "Ah.. Teman Tao?"
"Bukan, eomma! Dia pacar Chanyeol-hyung yang kemarin fotonya kutunjukkan itu!" seru Tao heboh. Baterai Tao seakan-akan sudah fully-charged jika itu menyangkut tentang Chanyeol.
Foto?
Senyum sumringah langsung tersungging di wajah ibu Chanyeol. "Tunggu sebentar ya, manis. Chanyeol sedang mandi. Kau dengan Tao dulu saja tidak apa 'kan? Maaf eomeonim sedang siap-siap untuk kelas masak jadi tidak bisa menemanimu,"
M..manis?
Baekhyun pun mengangguk tak keberatan. "Y..ya, tak apa-apa, eomeonim. Aku akan menunggu Chanyeol disini," Ibu Chanyeol kemudian melanjutkan aktivitasnya meninggalkan Baekhyun dan Tao.
"Apa aku boleh melihat-lihat?" tanyanya pada Tao yang sedang menelitinya dari atas hingga bawah dengan tatapan menginterogasi.
"Silakan, silakan. Anggap saja rumah sendiri, kakak ipar~"
BLUSH..
"A..aku bukan pacar Chanyeol!" elak Baekhyun dengan semburat merah tipis di pipinya. Baekhyun menatap ke arah tembok yang dipenuhi foto-foto perjalanan keluarga Chanyeol sejak kecil hingga sekarang.
Baekhyun menyedekapkan kedua tangannya didepan perut ratanya tanpa mengalihkan pandangannya pada foto-foto itu. Chanyeol kecil tampak sangat lucu dengan pipi tembam dan kacamata oval. Oh, jangan lupakan ferret yang bergelut manja diantara telapak tangan Chanyeol kecil. Lalu foto Tao kecil terpajang di sebelah foto tadi.
Baekhyun menoleh ketika wangi lasagna beef yang baru keluar dari oven tercium oleh indera penciumannya. Ia menelan ludahnya kasar, mencoba mengalihkan pikirannya dengan kembali melihat-lihat foto-foto tadi.
Sialnya, aroma itu semakin menyebar hingga satu rumah.
Chanyeol dimana...
Jam arloji Baekhyun menunjukkan ia telah menunggu hampir setengah jam. Chanyeol spa ata apa? Entahlah.
Aroma itu kembali tercium. Kali ini wangi spaghetti dengan bumbu oregano yang Baekhyun kenal baik. Kaki Baekhyun tak sadar berjalan menghampiri tempat kelas memasak itu.
HAP.
Seseorang menangkup hidung dan mulut Baekhyun dari belakang, membuat Baekhyun terkesiap. "Jangan dicium, tahan dirimu," ucapnya dengan suara rendah khasnya. Baekhyun mencoba menolehkan kepalanya ke belakang ingin melihat siapa itu walaupun sebenarnya ia sudah tahu dari suaranya.
Jarak diantara wajah mereka tidak bisa dibilang jauh. Mungkin hanya sejengkal. Melihat wajah Baekhyun yang sudah memerah sempurna, Chanyeol menyingkirkan tangannya.
"Maaf lama. Tadi airnya sedikit bermasalah," Chanyeol mengeringkan rambutnya asal dengan handuk yang menggantung di lehernya. Jangan lupakan senyum konyolnya.
Baekhyun mengangguk. "Tak apa. Kukira kau spa dan sauna tadi,"
Chanyeol hanya mengenakan wifebeater (sejenis kaus tanpa lengan) hitam dan celana santai selutut. Tatapannya tak lepas dari collarbones yang terekspos milik Baekhyun.
"A..apa?" tanya Baekhyun melihat Chanyeol yang sedang termangu memperhatikan tubuhnya. Chanyeol berdehem.
"Baju yang bagus. Omong-omong, bisa kita mulai trainingnya, pasien Byun?"
Lelaki yang satunya terkekeh singkat. "Jangan konyol,"
Baekhyun mengambil posisi disamping Chanyeol ketika wanita paruh baya itu mempersilakannya untuk duduk, tepat setelah meletakkan semangkuk sup diatas meja dan duduk disamping Tao, berhadapan dengan Chanyeol yang masih menatap Baekhyun cemas. Pria mungil disebelahnya berusaha mengukir sebuah senyuman sementara dirinya sendiri menatap makanan-makanan itu tajam, menelan produksi liurnya bulat-bulat.
Chanyeol perlahan membawa tangannya untuk menggenggam telapak tangan Baekhyun dibawah meja, memberikan sedikit tekanan disana seolah meminta lelaki mungil itu untuk tetap tenang.
"Makanlah, Baek,"
"Hm, jangan sungkan, hyung!" tambah Tao antusias.
Baekhyun menekan tangan Chanyeol diatas pangkuannya, Chanyeol berdiri untuk mengambil sepotong lasagna beef.
"Makanlah dengan tenang, pelan-pelan saja, okay?" bisik Chanyeol di daun telinga Baekhyun setelahnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan tidak yakin, keningnya berkerut dan ia menggigit bibirnya.
"Chan-"
Lelaki yang lebih tinggi mengangguk yakin, melemparkan Baekhyun senyuman lebarnya.
Baekhyun mulai mengambil sepotong daging dari piringnya, memasukannya kedalam mulut dengan ragu. Beruntung ibu Chanyeol masih belum menyadari keanehan lelaki itu walaupun Tao tidak. Ia memperhatikan Baekhyun untuk beberapa kali dan mencurigai gerakan kaku lelaki mungil dihadapannya. Tao bahkan menjatuhkan maniknya pada Chanyeol dan lelaki itu hanya bersikap biasa saja, memotong kecurigaan Tao.
Ia memakan sajian didepan matanya dengan lahap walaupun ia sudah semaksimal mungkin menahan kebiasaan makannya yang buruk. Tak jarang Chanyeol memegang paha Baekhyun untuk menyadarkannya dan untung saja Baekhyun mengerti arti tatapan Chanyeol.
"Apa enak?" tanya wanita yang sudah kepala lima itu pada Baekhyun. Ia tersenyum menanti jawaban lelaki imut yang kata Tao adalah pacar anaknya itu.
Baekhyun mengangguk semangat. "Sangaaaaaat enak,"
Tanpa ia sadari, Chanyeol tersenyum melihat tingkahnya yang seperti bocah kelaparan itu. Chanyeol menyelesaikan santapannya terlebih dahulu -ia terbiasa makan tidak terlalu banyak- tapi tidak beranjak dari kursinya.
"Kau sudah selesai?" tanya Baekhyun dan ibu Chanyeol bersamaan sedangkan Tao sibuk sendiri dengan makanannya. Chanyeol mengangguk.
"Kau makan sedikit sekali," tutur Baekhyun mengundang ibu Chanyeol untuk bicara juga.
"Lihat. Pacarmu saja bilang kau makan sedikit sekali. Sudahlah hentikan dietmu itu, kau sudah cukup proporsional,"
Rasanya Baekhyun ingin tertawa heboh karena Chanyeol diet namun semestinya ia cukup sadar diri. Harusnya ia yang wajib mulai diet karena berat badannya. Baekhyun menahan tawanya, membuat Chanyeol meliriknya tajam. "A..apa?" tanya Baekhyun.
Chanyeol tidak menjawab. Ia kemudian membereskan alat makannya dan membawa benda-benda itu ke tempat cuci piring. Lelaki yang lebih pendek masih melanjutkan makannya. Sekelebat rasa penasaran dan was-was menghampirinya. Takutnya Baekhyun tak dapat menahan dirinya jika ia tak memantaunya disampingnya. Tak berlama-lama disana, Chanyeol kembali duduk ke sebelah Baekhyun.
"Terima kasih banyak untuk makanannya," ucap Baekhyun setelah ia menyelesaikan suapan terakhirnya. Jamuan yang luar biasa. Yang lebih luar biasanya lagi, ia dapat mengatasi kebiasaan buruknya. Lumayan untuk latihan hari pertama..
Ibu Chanyeol tersenyum menanggapi Baekhyun. "Sama-sama. Senang kau menikmati makanannya. Untung saja ada kau, kalau tidak mungkin ini tak akan habis-habis,"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan 'ayo-kita-ke-kamarku' dan Baekhyun mengerti. Jadi Baekhyun meletakkan alat makannya seperti yang tadi Chanyeol lakukan dan naik ke kamar Chanyeol meninggalkan Tao dan ibunya yang masih makan.
"Aku berhasil, Yeol! Astaga aku tidak percaya ini, aku berhasil makan tanpa harus membuat malu diriku digadapan orang lain. Astaga aku senang sekali," kata Baekhyun girang tepat setelah Chanyeol menutup pintu kamarnya.
"Selamat," Chanyeol mengacak rambut Baekhyun sebagai tanda selamat.
Baekhyun tanpa sadar memeluk Chanyeol erat. Sangat erat. Membuat debaran jantung Chanyeol berubah drastis menjadi tak karuan. "Terima kasih," Lalu Baekhyun melepas pelukannya.
Wajah Chanyeol memerah sempurna ketika ia masih belum bisa mengontrol debarannya dan melihat senyum favorit Baekhyun -dan favoritnya juga- tepat dihadapan matanya. Ia ingin mimisan namun itu terlalu konyol untuknya yang amat jarang mimisan. Ia ingin membawa Baekhyun ke dalam dekapannya namun ia belum siap melihat respon Baekhyun nantinya.
Intinya, Chanyeol jatuh cinta.
Itu saja yang bisa otak Chanyeol deskripsikan untuk perasaannya saat ini.
"A..aku butuh bantuanmu Baek. Tapi aku tak yakin kau mau membantuku atau tidak karena aku tidak bisa jamin akan selesai jam berapa," tanya Chanyeol sambil memegang kedua pundak Baekhyun.
"Apa itu? Aku sedang luang kok,"
"Great," batin Chanyeol. "Eum, begini. Profesor Kang memintaku untuk membuat animasi tentang kampus kita, untuk promosi katanya. Jadi, aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan itu bersamaku. Apa kau bersedia?" tanya Chanyeol penuh harapan.
Baekhyun mengangguk tanpa perlu berpikir lama-lama. "Anggap saja ini balas budiku karena kau telah membantuku hari ini," Ia mengedipkan sebelah matanya jahil lalu tersenyum lebar. Andai saja jantung Chanyeol tidak dilindungi tulang-tulang rusuk mungkin jantungnya sudah loncat keluar.
"Baguslah. Ayo kita mulai,"
Sejak satu setengah jam yang lalu mereka berdua berkutat dengan komputer masing-masing. Kebetulan Chanyeol mempunyai komputer kerja lebih dari satu jadi memudahkan mereka untuk mengerjakan tugasnya. Baekhyun sibuk menggambar di drawing-pad yang tersambung ke komputer, sedangkan Chanyeol sibuk mendisain videonya.
Beruntung tangan Baekhyun cukup cepat mengerjakan gambarnya. Dengan earphone yang terpasang dikedua telinganya, Baekhyun semakin tak tahu menahu dengan lingkungan sekitarnya. Seperti Chanyeol yang terus meliriknya sedaritadi, contohnya.
Bibir Baekhyun melantunkan pelan senandung indah lagu yang sedang ia dengar. Tanpa melepas pandangannya pada pekerjaannya ia memanggut-manggutkan kepalanya pelan mengikuti irama ketukan lagu.
Chanyeol gundah. Matanya tak berhenti juga menatap bibir tipis lelaki disebelahnya itu. Bibir favorit yang sudah ia cicipi dua kali terhitung sejak kejadian di terminal kereta waktu itu. Chanyeol bukanlah seorang maniak. Namun Baekhyunlah yang membuatnya terlihat begitu. "Baek," panggilnya.
Tak ada jawaban. Yang ada Baekhyun malah semakin mengencangkan suara nyanyiannya.
"Baekhyun," panggilnya sedikit lebih kencang.
Tetap tak ada jawaban. Berarti pepatah 'Music on, world off' benar pada kenyataannya.
Chanyeol mendekatkan dirinya pada Baekhyun dan melepas sebelah earphone-nya. "Aku memanggilmu daritadi, Baek,"
"A-ah, maaf Yeol. Lagunya membuat suaramu tak kedengaran,"
"Tak apa. Hm, sepertinya ada kendala,"
Baekhyun mengerutkan alisnya bingung. "Hm?"
"Sepertinya kita harus melanjutkan ini di project room kampus. Bahan selanjutnya ada disana dan itu cukup penting," tutur Chanyeol sedikit frustasi.
"Kalau begitu ya ayo kita lanjutkan disana saja," usul Baekhyun sambil menyimpan pekerjaan yang telah ia buat tadi.
Tanpa berlama-lama lagi mereka beranjak pergi ke kampus dengan mobil Chanyeol. Chanyeol bisa menyetir? Tentu saja. Ia kan lelaki idaman.
Tadinya Tao merengek ingin ikut -yah kalian tahu lah apa yang akan ia lakukan disana dengan Chanyeol dan Baekhyun- tapi setelah ibunya mengajak Tao menemaninya ke mall, tentu saja ia lebih memilih ibunya.
Baguslah. Tak ada yang mengganggu mereka berdua.
Mazda X5 putih itu membelah jalan tol dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam dalam hening. Chanyeol fokus pada kegiatan menyetirnya, Baekhyun sibuk sendiri dengan lagu yang diputar di radio. Tak ada yang berinisiatif angkat bicara, tidak sebelum tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata dan menyelip mereka.
"ASTAGA TADI HAMPIR SAJA," kata Baekhyun setengah berteriak. Jantungnya berdegup lebih cepat karena kejadian mengagetkan barusan.
Chanyeol reflek membunyikan klakson mobilnya ketika mobil itu lewat. "Dasar gila," desis chanyeol. Ia melirik kearah lelaki yang tadi setengah berteriak itu. Lelaki itu tertawa kecil menampilkan deretan giginya yang agak kecil. "Mungkin dia kebelet buang air kecil?" candanya.
"Apa jangan-jangan orang tadi ingin melahirkan?" tutur Chanyeol lebih tak masuk akal.
"Orang yang sedang hamil besar tidak mungkin menyetir, Yoda," Baekhyun tak sadar memukul pelan lengan atas Chanyeol. "Hei, aku sedang menyetir. Kalau nanti menabrak bagaimana?"
"Kau pikir pukulanku mampu membuat mobil ini oleng?"
Chanyeol memanggut-manggutkan kepalanya. "Ah, benar juga. Kau 'kan lemah," Baekhyun meliriknya sinis lalu mengerucutkan bibirnya dan tak membalas ledekan dari si lelaki tinggi.
Kurang lebih lima belas menit kemudian mereka sampai ke gedung kampus yang lebar itu. Chanyeol memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus mahasiswa yang untungnya terletak tak jauh dari ruang kerja mereka nanti. Lelaki tinggi itu membukakan safety-belt Baekhyun dengan jarak wajah yang cukup dekat sehingga membuat Baekhyun sedikit mundur dengan canggung. Chanyeol tersenyum memunculkan lesung pipi lucunya. "Sudah sampai, tuan Putri," ledeknya.
"Si..siapa yang tuan putri!" Baekhyun buru-buru membuka pintu mobil dan melesat keluar meninggalkan Chanyeol yang sedang terkekeh.
Chanyeol berjalan menuju pintu masuk project room yang hanya dapat diakses oleh mahasiswa yang berkepentingan, seperti dia contohnya. Baekhyun sendiri jujur saja baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang hanya dapat diakses para senior. Ia sempat berpikir mengapa Chanyeol begitu mempercayakannya sehingga ia bisa diajak ke tempat ini dan bahkan membantu mengerjakan proyeknya. Mungkin ia akan menanyakannya nanti.
Ruangan berukuran sembilan meter kali lima meter yang di setiap sudutnya terdapat komputer high-spec dan sebuah sofa kecil di salah satu sisi. Benar-benar tempat yang cocok dan nyaman untuk bekerja. Chanyeol memutar saklar lampu dan mengaturnya agar tidak terlalu terang dan gelap. Ia terbiasa bekerja di ruangan yang agak remang.
Chanyeol dan Baekhyun menyalakan komputer masing-masing dan memulai pekerjaan mereka yang sempat tertunda tadi.
Satu setengah jam telah berlalu dan mereka masih sibuk dengan diri mereka sendiri. Bahkan mereka tidak mengganti posisi duduk mereka. Tidak minum, tidak makan. Mereka terlalu fokus sampai melupakan hal-hal itu. Tapi tak lama Baekhyun-lah yang bergerak lebih dulu. Ia merasa tenggorokannya kering dan matanya sedikit sakit karena menatap layar komputer terlalu lama.
Baekhyun berjalan menuju kulkas kecil tempat Chanyeol biasa menyimpan minuman dingin dan makanan ringan. "Ah.. Pegalnya," gumam Baekhyun pelan sambil membuka minuman soda kaleng berwarna hitam yang barusan dikeluarkan dari lemari pendingin.
Ia lalu mengambil satu kaleng lagi dan membukakannya untuk Chanyeol. Baekhyun menempelkan kaleng dingin itu ke pipi Chanyeol, membuat lelaki itu tersentak kaget dengan rasa dingin yang menjalar ke kulitnya. Gumaman 'eh' lolos dari mulut Chanyeol.
"Minumlah. Kau pasti haus,"
Chanyeol tersenyum tipis dan mengambil minuman kaleng itu. "Thanks,"
Minuman soda berwarna hitam itu -coca cola- sedikit keluar dari bibir Baekhyun sehingga menetes ke bajunya. Ia mengelap noda bekas tetesan tadi dengan tangannya tapi yang terjadi malah noda itu semakin menyerap. "Chanyeol-ah, apa kau punya tisu?" Chanyeol menggeleng.
"Ada apa?" Chanyeol memalingkan kepalanya menghadap Baekhyun yang sedang berdiri di belakangnya.
"Cola-ku sedikit menetes ke bajuku," kata Baekhyun sambil menunjuk noda di bajunya.
Lelaki yang lebih tinggi bangkit dari tempat duduknya dan berdiri berhadapan dengan Baekhyun. "Dimana?" Chanyeol mendekatkan wajahnya pada tubuh Baekhyun -lebih tepatnya dadanya- mencari jejak noda yang Baekhyun ributkan tadi. Baju yang Baekhyun kenakan berwarna hitam, jadi noda itu tak begitu terlihat.
Seharusnya Chanyeol yang gugup karena berada sedekat ini dengan Baekhyun namun yang terjadi adalah jantung Baekhyun yang berdetak tak karuan. Apalagi ketika Chanyeol meraba baju yang ia kenakan yang secara tidak langsung bisa dibilang menyentuh tubuh Baekhyun. Baekhyun seketika merasa dalam mode panik sekarang. Wajahnya memerah sempurna. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Dasar mesum.
Baekhyun sedikit memundurkan tubuhnya dan Chanyeol reflek menjauhkan tubuhnya. "Nanti nodanya juga hilang. Toh bajumu juga berwarna gelap jadi tak begitu terlihat,"
Benar juga sih. Kenapa Baekhyun menjadi over-reacted begini setiap kali ia bersama Chanyeol. Inginnya ia selalu tampil baik didepan lelaki bertelinga lebar itu namun pasti selalu saja ada yang menghalangi. Tapi walaupun begitu, Chanyeol tetap menganggap Baekhyun lucu.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan tugas mereka sudah selesai. Baekhyun sebenarnya sudah selesai sejak pukul tujuh tadi namun ia menunggu Chanyeol sambil membaca beberapa komik yang tersusun di rak. Chanyeol merenggangkan ototnya.
Melelahkan, batinnya.
Chanyeol mengusap ujung matanya lalu menemukan sesosok tubuh duduk dengan tidak elitnya dengan komik di tangannya. Tunggu. Tapi tampaknya ia tak sedang membaca. Ia tertidur? Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun yang nampaknya sudah terlelap menjelajahi alam mimpinya. Posisi tidurnya semakin miring sampai akhirnya kepalanya mendarat ke sofa. Lelaki yang lebih tinggi memposisikan dirinya sejajar dengan lelaki imut itu. Tanpa sadar, tangannya terulur dan mengusap rambut halus Baekhyun, lalu Chanyeol tersenyum tipis.
Melihat Baekhyun tidur dengan wajah penuh ketenangan membuat hati Chanyeol tenang juga. Darahnya berdesir pelan meninggalkan perasaan asing di dalam dirinya. Ia menelan ludahnya pelan dan sedikit susah payah ketika melihat baju yang Baekhyun kenakan sedikit menampakkan kulit putih mulusnya. Sambil memejamkan matanya, Chanyeol menutup daerah yang terbuka tadi.
Jemari panjang Chanyeol mengusap hidung kecil Baekhyun lembut, tak bermaksud mengganggu tidur Baekhyun. 'Kau lelaki tapi cantik..,' batinnya.
Entah bagaimana Baekhyun memegang tangan Chanyeol yang sedang berada di sekitar wajahnya. Lalu menggenggamnya erat, dan tersenyum dalam tidurnya.
Wajah Chanyeol memerah; ia membayangkan melihat Baekhyun dengan posisi begini setiap paginya, terbaring di sebelahnya, dekat dengannya, mudah didekapnya. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir lamunan-lamunan yang mungkin masuk ke daftar impiannya. Hati Chanyeol lagi-lagi berdebar tanpa ia suruh. Perasaan ini membuatnya nyaman sekaligus gusar. Apa perasaan ini benar? Chanyeol sendiri tak tahu.
Chanyeol mengeliminasi jarak antara wajah mereka. Ia tak peduli lagi apa yang akan Baekhyun pikirkan mengenainya, ia rindu bibir itu. Beberapa milimeter lagi sampai bibir mereka bertemu. Kemudian bibir itu menempel pada bibir Chanyeol.
Baekhyun menciumnya duluan.
Entah dalam keadaan sadar atau tidak.
.
.
.
.
To Be Continued
Chingchongs:
Hajar saja saya karena update lama + pendek banget cuma 2,7k TT
yah walopun CB moment lagi merajalela tapi tetep kayaknya suliiiiit bgt nuang inspirasi itu ke dalam tulisan. entah kenapa. /sobs/
next chapter janji update panjang dan diusahakan fast update. Diusahakan ;;;)
.
Thanks a lot buat yang uda review!
.
REVIEW again please?
.
.
Best regards,
exoblackpepper
