Arigatoooouuu! Buat yang udah review di chapter-chapter sebelumnya. Misa ga ngira kalau ternyata bisa dapet review di atas 10. Makasiii banget ya readers semua. Love you, muah muah. :* :D

Oke, tanpa banyak sapi berkeliaran, langsung saja dimulai fanfic ini. Oia, informasi, Fanfic yang satu ini akan Misa akhiri dengan sebuah epilog. :)

Disclaimer : FMA punya pemilik sapi sebelah *plak* yang bernama Arakawa-sensei. Roy Mustang tetap suami saya. *digoreng kremes*

enjoy your salep!


The Days Chapter 4

Lusa... Biasanya sesuatu yang disebut 'lusa' tidak pernah datang begini cepat. Apakah 48 jam bisa berjalan secepat ini? Dunia ternyata bisa berputar dengan kecepatan yang tidak kita inginkan.

Lusa yang (sebenarnya sama sekali tidak) dinanti datang dengan cepat.

Sejak pagi, Riza sudah memasuki kamar ruang perawatan intensif. Jantungnya berdebar keras. Tangannya mengelurkan keringat dingin. Meskipun begitu, ia tetap berusaha mengeluarkan senyum pada setiap dokter atau perawat atau teman-teman yang memasuki kamar rawatnya.

Pagi menjelang siang, Fuery datang membawa Breda, Falman, Ed, dan Al.

"Selamat siang Letnan... Eh?"

Jean Havoc sedang duduk di tepi tempat tidur Riza.

"Selamat siang, Sersan Fuery." Jawab Riza dengan senyum di wajahnya.

Havoc hanya terdiam di tempatnya. Wajahnya menunjukkan kecanggungan.

"Hai semua." Ucap Havoc pelan.

"Kau datang juga, Havoc." Ed berkata sambil memukul pelan pundak Havoc.

"Aku yang dimintai tolong oleh Riza. Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja." Jawab Havoc.

Riza tersenyum menatap para sahabat prianya. Ia membetulkan topi rajutan yang menutupi daerah rambutnya.

"Letnan, rambut anda..." Al memperhatikan topi rajutan warna putih yang sedang dikenakan Riza.

"Ternyata rambutku rontok lebih cepat dari yang aku perkirakan. Padahal aku baru ikut kemoterapi 2 minggu yang lalu." Jelas Riza.

"Rambut pirang yang aku banggakan sekarang hanya tinggal nama." Kata Riza lagi. Ia tertawa kecil, "lagipula topi ini modelnya tidak ketinggalan jaman kok."

Seisi ruangan mencoba tersenyum untuk menguatkan Riza.

"Jam berapa operasinya, Letnan?" Tanya Ed.

"Hmm... Aku rasa sejam atau dua jam lagi." Riza melirik jam dinding di sebrang tempat tidurnya.

Satu ruangan mengunci mulutnya.

"Hei semangatlah. Aku ingin kalian memberiku kekuatan untuk operasi ini. Ya?" Riza dipandangi oleh teman-teman prianya.


Sekitar pada jam yang sama, entah habis didatangi ilham apa, Roy menjejakkan kakinya di HQ.

Roy memandang isi kantor yang kosong.

"Untuk apa aku ke sini? Sekarang jam makan siang, tidak ada orang di ruang kantor. Tentu saja, dasar bodoh!" Gumam Roy pada dirinya sendiri.

Roy duduk di mejanya. Memandangi satu persatu meja subordinatnya.

Ia sampai pada meja sebelah kiri.

Meja itu terlihat lebih rapi dari meja di sekelilingnya. Di atas meja itu ada sebuah vas yang berisi bunga lili putih.

Roy memandangi meja itu. Tangannya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.

"Meja Riza..."

Roy menunduk di mejanya.

"Aku tidak akan pernah bersama Rizaku lagi, ya?"

Ckrik!

"Eh?"

Roy mendengar bunyi aneh di dekatnya. Mirip dengan bunyi retakan. Roy mencari di sekeliling mejanya. Sampai ia menemukan frame foto di atas mejanya.

"Ini kan..."

Roy memandangi foto yang berisi seluruh anggota pasukan kecilnya itu. Semuanya tersenyum bahagia. Saat itu tidak ada masalah seperti ini. Saat itu tidak ada pertengkaran hebat antara dirinya dan Havoc. Saat itu Riza selalu setia di sampingnya.

Riza Hawkeye...

Ckrik!

"Eh?"

Kaca frame itu tiba-tiba retak sedikit di dekat gambar kaki Riza...

Perasaan Roy tiba-tiba berubah resah. Jantungnya berdebar keras.

Riza? Riza? Apa yang terjadi denganmu? Riza!

Kriiiiiiiinggggg! Telpon di atas meja Roy berdering.

Roy langsung menyambar gagang telpon.

"Kolonel!"

"Siapa ini?"

"Siapa lagi menurutmu, eh? Dasar Kolonel Mesum Keras Kepala."

"Hagane? Ada apa kau menelponku? Tidak cukup dengan menggangguku kemarin-kemarin?"

"Aku tidak mau ribut dengamu hari ini."

"Lalu apa yang kau mau?"

"Ini mengenai Letnan Riza Hawkeye."

Tengkuk Roy langsung membeku, "Ada apa lagi dengan Riza?"

"Ehm, dia... Tidak salah."

"Kau berusaha membela Riza di depanku?"

"Untuk hal ini, iya."

"Kalau begitu kau buang-buang waktu. Aku akan tutup-"

"DENGARKAN AKU DULU, MUSTANG!"

Roy terdiam di balik gagang telpon. Ed terdengar serius kali ini.

"Letnan tidak bermaksud untuk 'curang' di belakangmu. Ia... Ia punya maksud tersendiri. Dan Letnan Havoc juga tidak bermaksud mencuri Letnan Hawkeye darimu. Lalu..."

"Tidak perlu berbelit-belit, Hagane. Langsung saja."

"Ehm, Letnan... Letnan sedang sakit."

Tangan Roy keringat dingin, "Sa-Sakit? Maksudmu? Sakit apa? Katakan yang lengkap, Hagane!"

"Letnan Hawkeye tidak mau kau khawatir. Ia merasa dirinya tidak pantas untukmu. Ia sengaja membuatmu menjauh darinya karena ia pikir kau tidak pantas untuk menderita untuk 'orang penyakitan' seperti dirinya."

"Penyakitan?"

"Letnan Riza Hawkeye... menderita penyakit kanker darah. Leukimia. Stadium akhir."

Roy terdiam. Ia tidak bisa mempercayai kata-kata Ed.

"Ah..A-apa? Ha-Ta-tapi..."

"Letnan Hawkeye akan segera melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang."

HAH? RIZA?

"Sebentar lagi ia akan masuk ke ruang operasi."

"..."

"Kolonel!"

"..."

"KOLONEL!"

Roy berlari meninggalkan telpon di mejanya dengan keadaan tergantung.


"Breda, jangan terlalu banyak makan ya. Nanti perutmu akan semakin besar. Well, aku tidak menyangka akan mengatakan ini, tapi... Kau boleh makan sandwich sambil bekerja, tapi jangan sampai sausnya tumpah di paperwork ya."

"Falman, kamus berjalan. Bantu teman-teman dengan pengetahuanmu yang luas itu. Jangan pelit ilmu ya? Tidak banyak yang bisa aku ucapkan untukmu. Sejauh ini progress pekerjaanmu cukup cepat dan tidak bermasalah. Pertahankan terus."

"Alphonse, cepat kembali ke tubuhmu Selama ini, itu yang aku nantikan darimu. Jangan menyerah, aku yakin kau pasti bisa. Kau begitu baik dan perhatian pada teman-temanmu, aku bersyukur menjadi temanmu."

"Edward. Hmph... Aku bingung mau berkata apa. Haha, jangan cemberut, aku bercanda. Kau selalu memberiku semangat dalam keadaan apapun. Terima kasih untuk itu. Dan... tolong bantu Kolonel ya. Aku tahu kau selalu bertengkar dengannya, tapi tolong tetap bantu dia ya? Aku tahu kau tidak sebenci itu dengan Roy."

"Havoc, terima kasih dan maaf. Terima kasih karena mau membantuku dengan rencana bodohku ini. Dan maaf karena telah membuat hubunganmu dengan Roy jadi berantakan. Aku tahu kau dan dia berteman baik. Jadi, tolong, jaga dia untukku. Dia pasti akan sangat kesepian. Dan juga..."

Riza memberikan cincin perak di tangan Havoc.

"...titip ini untuk Roy. Katakan padanya aku minta maaf, aku tidak bisa menemaninya sampai ia 'tua, keriput, dan jelek'. Tambahan, di mataku, ia tidak pernah menjadi jelek. Katakan padanya aku mencintainya dengan sepenuh hatiku. Tidak pernah sedetik pun aku tidak memikirkannya. Aku juga minta maaf telah membuatnya sampai semarah itu padaku. Aku hanya tidak ingin ia lebih menderita. Oh iya, satu lagi."

Riza membuka laci di samping ranjangnya dan menyerahkan sebuah amplop putih bertuliskan 'untuk yang tercinta, Roy Mustang'.

"Berikan ini untuk Roy ya? Aku tulis semuanya disini."

Seorang perawat berbaju putih menengok ke dalam kamar Riza, "Nona Hawkeye, sekarang saatnya."

Riza tersenyum, "Baiklah semuanya, aku pergi dulu. Doakan aku berhasil. Berhasil sampai di pintu Surga, maksudnya."

"Tidak lucu, Letnan!" Omel Ed.

Riza hanya tersenyum.

Breda, Falman, Al, dan Havoc balas tersenyum.

"Guk guk guk guk!"

"Hei! Binatang tidak boleh masuk ke rumah sakit!"

Terdengar teriakan perawat terdengar tidak jauh dari kamar Riza.

"Guk guk guk!"

Black Hayate berlari memasuki kamar Riza dan melompat ke atas pangkuan Riza.

"A- Hayate-gou?" Riza menatap bingung anjingnya.

Wajah Black Hayate terlihat sedih. Matanya yang hitam berkaca-kaca seperti hendak menangis.

Riza mengelus kepala dan telinga Black Hayate, "Hayate-gou, kau nanti baik-baik ya sama pengurusmu yang baru. Aku tidak tahu apakah Roy setuju mau mengurusmu, tapi aku sudah tulis di surat. Kalau dia tidak mau, aku rasa Becca akan mengambil alih. Nah, Hayate-gou, jangan nakal selama aku tidak ada."

"Guk!" Hayate menggonggong lemah.

"Hayateeeee!"

Rebecca Catalina memasuki ruangan sambil terengah-engah.

"Aku...haaahh...tepat...haaahh..waktu..haaahh.." Becca menyangga tubuhnya di kusen pintu.

"Becca?"

"Riza Hawkeye! Aku tidak percaya kau tidak mengatakan apapun soal operasi ini!" Rebecca menunjuk wajah Riza, "...aku...aku kan sangat cemas..."

Airmata turun dari wajah Rebecca.

"Becca, jangan me..."

"Bagaimana caranya agar aku tidak menangis, eh? Temanku akan menjalani operasi yang jarang ada orang selamat, dan aku tidak boleh menangis? Aku rasa selain rambut, otakmu juga ikut rontok. Hikkssss." Sembur Becca sambil mengelap airmatanya.

Rebecca terus sesenggukan tanpa henti. Riza hanya bisa tersenyum lemah melihat teman terbaiknya mencabut dan membuang tisu di hadapan tempat tidurnya.

"Becca. Kemari."

Rebecca mendekat ke tubuh Riza.

"Tolong jaga semuanya ya. Jaga Hayate juga, kalau Roy tidak mau mengurusnya. Becca, aku percaya kau tahu apa yang ku inginkan darimu. Tolong lakukan dengan baik ya."

Rebecca mengangguk lemah. Ia maju dan meraih tubuh Riza. Becca memeluk sahabatnya itu erat-erat.

"Kau kurusan, teman."

Riza tersenyum sambil membalas pelukan Becca. Setelah beberapa saat, Becca akhirnya melepaskan pelukannya.

"Nah, aku rasa semua sudah aku tinggalkan pesan." Pandangan Riza jatuh pada Ed, "oia Ed, sampaikan salamku pada Winry."

Wajah Ed bersemu pink, "I-iya. Akan kusampaikan."

"Jangan lupa saranku, cepat beritahukan perasaanmu padanya."

Wajah Ed semakin merah, "Akan ku-kulakukan, Letnan."

Perawat yang tadi memanggil Riza kembali melongokkan kepalanya di pintu kamar Riza, "Nona Hawkeye, sudah tidak bisa ditunda lagi."

"Iya Nona Perawat. Saya sudah selesai." Jawab Riza.

Perawat tadi bersama beberapa temannya mendorong ranjang Riza keluar dari kamar. Riza berbaring di atas tempat tidurnya. Dengan hati-hati ia mengatur selang infus yang terpasang di tangan agar jangan terbelit di tiang infusnya.

Ruang operasi berjarak hanya sekitar 10 meter dari ruang perawatan Riza. Riza bisa melihat label 'ruang operasi' tertulis besar.

Sedikit lagi, aku memasuki ruang operasi. Hmph, aku bahkan belum sempat mendengar suara Roy yang...

"Riza!"

"Haaahh... RIZA!"

Suara sepatu boot yang berlari di tengah koridor rumah sakit menggema sampai ke teling Riza. Suara teriakan mengiringi langkah kaki itu.

"Riza!"

Hah?

"Rizaaaa!"

Itu kan?

"Riza Hawkeye!"

Roy? Kau datang?

"Rizaaa! Kenapa kau tidak bilang tentang masalah ini, heh? Rizaaa!"

Maaf Roy, aku memang bodoh.

Setitik air mata turun dari sudut mata Riza.

Riza Hawkeye memasuki ruang operasi.

Roy terlambat.

"Aaaaarrrggh!" Roy berteriak kesal. Apa yang terjadi dengan kedua kakinya ini, apa tidak bisa berlari lebih cepat?

Pintu operasi berwarna pucat menutup di hadapannya.

BUAGH!

Roy bertabrakan keras di depan pintu operasi.

Tubuh Roy terasa sakit setelah bertabrakan dengan pintu operasi. Roy yakin ia akan mendapat beberapa ruam ungu di tubuhnya. Ia tidak peduli. Ia tetap berdiri di depan pintu operasi, berharap pintu itu akan membuka dan Riza Hawkeye akan keluar dengan keadaan normal.

"Maaf."

Tapi Roy tahu, keinginannya itu hanyalah mimpi semata. Semua telah terjadi. Nasi telah menjadi bubur, tidak bisa dikembalikan lagi.

"Maaf. Maaf. Maafkan aku Riza."

Roy akhirnya jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi Riza.

"Kolonel?"

Roy berbalik dan mendapatkan Havoc tengah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

"Havoc..."

Roy menyambut tangan Havoc.

Havoc menggiring Roy menjauh dari pintu operasi.

Havoc mulai menjelaskan keadaan, "Hawkeye bilang, ia minta maaf. Ia juga bilang bahwa ia mencintaimu dengan sepenuh hati. Tidak pernah terbesit dibenaknya untuk berbalik darimu. Ia... Ia hanya tidak mau kau lebih menderita."

Roy tercengang mendengar ucapan Havoc.

"Hawkeye menitipkan ini. Ia bilang semua ia ucapkan di surat ini."

Havoc menyerahkan surat yang Riza titipkan padanya.

"...oh, dan juga ini."

Cincin perak berpindah dari tangan Havoc ke tangan Roy.

"Hawkeye minta maaf tidak bisa menemanimu sampai kau menjadi... ehm, apa tadi yang ia bilang. Hmm, 'tua, keriput, dan jelek'. Tapi dimatanya, kau tidak pernah menjadi jelek."

"Benarkah begitu?"

Havoc mengangguk pelan.

Roy duduk di bangku tunggu ruang operasi. Ia membuka surat itu.

Ia membaca surat itu dengan seksama dari awal sampai akhir. Ia bahkan membacanya ulang. Setelah membaca 3 kali, Roy menurunkan surat itu dari hadapan wajahnya.

Roy meletakkan surat itu di pangkuannya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis. Roy tidak peduli walaupun suasan ruang tunggu sedang ramai. Ia hanya ingin sejenak mengeluarkan perasaannya, kesedihannya yang selama ini terpendam dan tidak pernah bisa ia keluarkan.

Roy merasa dirinya sangat bersalah pada Riza.

Roy terdiam, menunduk memandangi kertas surat dari Riza yang sedikit basah oleh air mata.

Hawkeye, aku minta maaf. Aku harusnya selalu percaya kepadamu.

Maaf, aku terlalu gelap mata dan tidak mendengarkan seruanmu.

Kenapa kau tidak langsung katakan saja tentang penyakitmu itu? Aku pasti akan ada disana untuk mendampingimu.

Kenapa Riza? Kenapa?

Jawab aku, Letnan! Kenapa?

Pikiran Roy berkecamuk saling melontarkan argumen. Ia menuntut jawaban dari Riza. Ia ingin memiliki waktu untuk berbicara sedikit dengan Riza. Ia ingin sekali saja, mendengar suara Riza untuk menyebut namanya.

"Riza..."

Hening sejenak.

'Roy'. Panggil sebuah suara.

"Eh?" Roy mengangkat wajahnya.

Hening kembali.

Klip! Tiba-tiba lampu tanda operasi dimatikan. Roy langsung menatap pintu ruang operasi.

Operasi telah selesai.

Seorang dokter berjubah putih keluar dari ruang operasi. Ia tidak berkata apapun. Sebagai gantinya, ia menarik ranjang Riza keluar dari ruang operasi.

Disanalah Riza Hawkeye.

Terbaring pucat.

Tanpa energi.

Dan tidak bernafas.

Roy mendekati jasad Riza. Ia tersenyum kecil.

"Riza, aku mendengar suaramu. Kau masih mau menerimaku. Terima kasih." Roy memandang wajah Riza. Kulit coklat muda merona Riza digantikan oleh warna pucat mengerikan, namun sama sekali tidak mengurangi kecantikan Riza. Roy menggenggam tangan Riza yang terkulai di samping tubuhnya. Tangan mereka terpaut beberapa saat.

Roy teringat sesuatu yang tergenggam di tangannya itu. Cincin perak yang ingin ia berikan untuk Riza.

Dengan hati-hati, Roy menyematkan cincin di genggamannya di jari manis kanan Riza. "Riza, cincin ini masih milikmu. Sampai selamanya akan menjadi milikmu," Roy berusaha menahan genangan air dimatanya agar tidak tumpah, "jangan lupakan aku ya."

Roy berusaha menguatkan dirinya. Ia ingin dirinya kuat seperti Riza yang kuat saat menahan penyakitnya. Ia ingin Riza bangga karena telah memilihnya dari sekian banyak pria.

"Riza Hawkeye, aku mencintaimu."

Roy meraih tubuh Riza yang terkulai lemas dan memeluknya erat.

Roy bisa merasakan tubuh Riza mendingin di pelukannya.

"Selamat jalan Riza. Baik-baik disana."


Chapter 4, mission accomplished.

Huaaaaaa! Hiks, hiks, hiks. Misa berat banget bikin chapter ini. Apalagi yang bagian Riza ngasi pesan wasiat buat Ed dkk, rasanya kaya bikin wasiat beneran. T.T

Seperti yang Misa tulis di atas, chapter berikutnya adalah epilog. :) otanoshimi ne!

Seperti biasa, berikan satu-dua review. ^^ Tolong kasi komentar, saran, dan kritik pembangun. Misa akan selalu menerima dengan tangan terbuka. Onegaishimasu, minna-sama!

Salam hangat,

^MisaChan^