minnaaa~ akhirnya bisa update lagi XD
ini dia chapter 4 nyaa~
maaf kalau updatenya lama dan ceritanya kurang berkenan o.o
silahkan dibaca ~~
Hari demi hari berlalu. Sudah 3 hari sejak Tsunade di rumah sakit – masih juga tidak sadarkan diri. Sakura juga tidak meninggalkan kamar mamanya, bahkan rela tidak pergi sekolah sampai mamanya sadar. Jiraiya, papanya tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah sakit untuk menjenguk Tsunade semenjak wanita berambut pirang itu dirawat inap.
"Sakura sudah 3 hari tidak masuk sekolah." Ujar Ino pada Sasuke, sepulang sekolah. "Apa terjadi sesuatu, Sasuke?"
Cowok berambut hitam itu hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Ya.. Tidak ada apa – apa. Mungkin saja kejadian kemarin karena mental Sakura yang masih syok karena Ibunya masuk rumah sakit. "Aku harus pergi." Jawab Sasuke dingin dan meninggalkan Ino yang bengong.
Kaki Sasuke berjalan mengarah ke rumah sakit tempat Tsunade dirawat. Walaupun sebenarnya sikap Sakura yang mulai berubah sempat membuatnya takut dan bingung, tapi dia tidak tega meninggalkan gadis berambut pink itu sendirian di masa-masa sulitnya. Tanpa terasa, kakinya sudah memasuki rumah sakit itu, dan mencari ruangan Tsunade dirawat.
"Sasuke!" Seru gadis bermata emerald itu melihat kedatangan cowok berambut hitam memasuki ruangan ibunya. Sasuke hanya melemparkan senyumnya ke Sakura, lalu duduk di samping gadis itu.
"Bagaimana keadaan ibumu?" Tanyanya simpel.
Gadis berambut pink itu hanya diam, namun mata emeraldnya memandang wanita pirang yang terbaring dengan infus di hidungnya. "Seperti yang kau lihat." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya.
Sasuke merasa simpati pada gadis berambut pink itu. Tapi rasa simpatinya tiba-tiba lenyap mengingat kejadian kemarin, saat Sakura marah pada Karin. Aku ingin tau kenapa dia begitu.. Aku harus menanyakannya!
"Sakura," Ucap Sasuke dengan sedikit ragu, tapi rasa ragu itu berusaha disembunyikannya. "Aku ingin menanyakan sesuatu."
Gadis berambut pink itu hanya diam, lalu melihat cowok berambut itu dengan ekspresi datar, mata emeraldnya bertemu dengan mata hitam cowok itu. "Apa?" Ujar Sakura singkat.
"Kemarin.." Sasuke merasa kata – katanya tercegat di tenggorokan saat melihat mata emerald gadis itu – yang memandangan lurus ke mata hitamnya. "Kemarin, kenapa kau melakukan hal itu pada Karin..? Itu tidak seperti kau yang biasanya, Sakura." Ujar Sasuke.
Gadis bermata emerald itu diam, lalu bangkit dari tempat duduknya – berjalan menuju Sasuke – yang duduk beberapa meter di sampingnya. Cowok berambut hitam itu tidak beranjak dari tempat duduknya – namun perasaan gelisah dan takut akan gadis itu sedikit menyelimutinya. Kenapa aku harus takut? Perasaan ini.. aneh sekali. Pikirnya dalam hati - berusaha menenangkan pikirannya.
Gadis itu berhenti tepat di depan Sasuke – sehingga cowok itu dapat melihat wajahnya di depannya. "Karena dia mau merebutmu. Kemarin aku sudah bilang 'kan?" Jawab Sakura sambil tersenyum.
"Me..rebut..?" Tanya Sasuke perlahan.
Gadis berambut pink itu berbalik, lalu berjalan menuju jendela - melihat Konohagakure yang hampir semua kotanya terlihat dari jendela itu.
"Tidak ada yang boleh mendekati Sasuke. Tidak apa kalau Mama dan Papa tidak lagi saling memiliki. Aku juga tidak masalah kalau Mama akan meninggalkan aku pada akhirnya," Gadis itu beralih memandang ibunya yang sedang terbaring – tak berdaya. "Tapi siapapun yang berencana untuk merebutmu dariku, aku tidak akan tinggal diam."
Jawaban gadis itu berhasil membuat Sasuke berkeringat dingin. Cowok itu merasa benar – benar ada yang berubah dari Sakura. Tidak seperti biasanya. Sakura yang kukenal.. entah kenapa aku merasa berbeda. Ujarnya dalam hati – berusaha tenang.
"Sasuke," Ucap gadis itu tiba – tiba. "A-ah, ya, ada apa, Sakura?" Jawab Sasuke kaget – tersadar dari pikirannya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Tanya gadis itu sambil berjalan menuju Sasuke. "Kau.. khawatir dengan Karin?"
Sasuke tidak menjawab, dia masih sibuk dengan rasa penasarannya pada berubahnya sikap Sakura. "Hmm, bukan begitu, hanya saja kau berbeda, tidak seperti biasanya, Sakura." Jawab Sasuke.
Gadis bermata emerald itu kaget menanggapi jawaban Sasuke. "Berbeda?"
Sasuke mengangguk. "Kau tidak pernah berbuat kasar sebelumnya, apapun yang terjadi. Tapi kemarin.. kau langsung mendorong Karin sampai dia terjatuh. Sikapmu aneh, Sakura. Apa.. kau baik – baik saja?"
Gadis itu hanya diam – mengepalkan tangannya. Apa yang salah! Aku hanya bertindak begitu karena dia ingin merebutmu dariku! Apa yang berbeda? Apa itu salah? Kenapa.. Kenapa kaau begitu perhatian pada Karin..?
"Saku-.." Belum lagi Sasuke menyelesaikan kata – katanya, gadis itu menjawab pertanyaan Sasuke sebelumnya, "Kenapa.. kau begitu perhatian pada Karin..?" Ujarnya dengan pelan. Cowok berambut hitam itu semakin bingung dan berjalan mendekati Sakura. "Sakura..?"
Gadis berambut pink itu menarik lengan baju Sasuke, "Sasuke.. Kau.. Kau menyukai Karin..?" Tanya gadis itu, mata emeraldnya mulai berkaca – kaca – suaranya pun bergetar.
Sasuke yang melihat wajah Sakura yang seakan – akan ingin menangis pun menjadi panik dan bingung. "Aku – tidak, aku tidak bermaksud membuatmu menangis.."
"Bukan itu yang aku tanyakan!" Seru Sakura semakin kuat menarik lengan baju Sasuke. Cowok berambut hitam itu terkejut merasakan cengkaraman tangan Sakura di lengan bajunya. Ini.. sama seperti kemarin..
"Kau menyukai Karin?" Tanya Sakura – kali ini dengan suara yang tegas. Mata emeraldnya seakan – akan kosong. "Tidak." Jawab Sasuke singkat. Matanya yang tajam memandang mata emerald Sakura. "Aku khawatir padamu." Ujarnya sambil menarik lengannya yang dicengkram Sakura – lalu menepuk kepala Sakura dengan lembut.
Gadis berambut pink itu terdiam dan terduduk di lantai. "Maafkan aku.." Ujarnya pada Sasuke – tanpa melihat wajah cowok bermata tajam itu.
Sasuke menepuk pundak gadis itu, lalu keluar dari ruangan itu. Maafkan aku, Sasuke.. Aku tidak bisa menahan diri kalau menyangkut hal tentangmu.. Pikir Sakura yang masih duduk di lantai – menyesali perbuatannya.
oOoOoOo
Malam hari pun tiba. Hujan membasahi Konoha. Sasuke yang masih merenungi kejadian siang tadi tiba – tiba dikejutkan dengan suara ibunya. "Sasuke! Sasuke!" Teriak ibunya – membuat Sasuke dan Itachi panik dan keluar dari kamar mereka masing – masing. "Ada apa?"
Mata hitam dua bersaudara itu seakan tidak percaya melihat sosok gadis berambut pink yang basah kuyup – tersungkur di beranda rumah Uchiha. "Sasuke, itu Sakura 'kan?" Tanya Itachi memastikan. Sasuke mengangguk dan menggendong Sakura yang pingsan. "Pasti terjadi sesuatu di rumah sakit." Kata Sasuke yang disambut dengan anggukan Itachi.
Dua jam pun berlalu. Sakura pun akhirnya sadar dan merasa badannya tidak bertenaga. Aku.. di rumah Sasuke..? Pikirnya sambil melihat sekeliling. "Sakura, kau sudah sadar?" Tanya Sasuke sambil masuk ke kamarnya – membawa teh hangat untuk gadis itu. Gadis berambut pink itu mengangguk dan tersipu saat sadar kalau dia berada di kamar Sasuke. Sasuke duduk di sampingnya, lalu menyodorkan teh hangat yang dibawanya. "Terima kasih.." Jawab Sakura.
"Terjadi sesuatu di rumah sakit..?" Tanya Sasuke pelan – berusaha tidak membuat Sakura panik ataupun takut untuk menceritakannya. Gadis itu mengangguk. "Papaku datang."
Jawaban Sakura cukup membuat Sasuke terkejut. Sejak kapan ayah Sakura berbaik hati menjenguk istrinya? Pikir Sasuke bingung.
"Dia datang tiba – tiba membawa tas besar. Lalu melemparkannya padaku. Dia marah. Berteriak. Tidak peduli Mama sedang sekarat. Tidak peduli kalau itu di rumah sakit." Ujar gadis itu mulai gemetar, tapi tetap melanjutkan ceritanya. "... Dia.. menjual rumah kami untuk membayar hutangnya. Dia marah dan mulai bersikap kasar pada Mama yang belum sadar dari keadaan komanya. Aku tidak bisa menahan diriku.." Serunya sambil menundukkan kepalanya.
Sasuke yang mendengar itu hanya diam – tetap berada di samping Sakura. Dia hanya mengusap punggung gadis yang menangis itu tanpa berkata apapun – karena dia benar –benar tidak tau harus berkata apa. "Lalu.." Lanjut Sakura dengan suara datar, sambil memandang teh yang dia pegang. "Aku membunuh Papaku."
