"Ikut aku!" Sasuke menarik Naruto keluar dari kelas tersebut tanpa menghiraukan si pirang yang terus meronta. Meninggalkan Gaara yang menggeram marah sebelum akhirnya menyusul pemuda itu, dan beberapa teman Yahiko yang membawa pemuda itu ke UKS. Sementara penghuni kelas yang lain hanya bisa merasakan tanda tanya besar yang menggantung dikepala mereka masing-masing.
.
Kyuubi, mengambil jasnya yang tersampir di kursi. Melangkahkan kakinya keluar ruang kerjanya.
.
.
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing: SasuNaru slight KyuuNaru
Genre: Hurt/Comfort
Rate: T
Warning: BL, Yaoi, BoyxBoy, Incest, Typo(s), Author payah!, Geje, bahasa yang membosankan, dan segala kekurangan lain.
Don't Like, Don't Read!
…
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara ketukan kuku jari tangan pada meja di sebuah café terdengar begitu nyaring. Ekspresi bosan tergambar begitu jelas di wajah sang pelaku pengetukkan tersebut. Berulang kali pemuda yang tengah mengetukkan kuku jarinya ke meja itu melirik jam di tangan kirinya disaat seseorang dihadapannya tak kunjung membuka suara. Cih, wanita didepannya ini memang buang-buang waktu saja, pikir pemuda itu.
"Waktumu sudah habis, aku pergi!" ucap Kyuubi berdiri dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan café.
Ia yang hendak mencaritahu keadaan Naruto, menjadi harus menunda hal itu saat ia keluar dari ruangannya tak sengaja menabrak wanita itu, hingga berakhir di café ini karena permintaan wanita tersebut. Ia sudah merelakan waktunya hanya untuk wanita itu, tapi beberapa menit telah berjalan, wanita itu tak kunjung membuka suara. Ia benar-benar kesal saat ini, waktunya terbuang percuma.
"Tunggu," Sementara wanita yang sedari tadi duduk dihadapan Kyuubi akhirnya membuka suara sebelum menghela napas—lelah melihat tingkah pemuda itu.
Kyuubi menghentikan langkahnya tanpa menoleh lagi kearah wanita itu. Ia menggeram marah. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan nenek tua?! Cepat katakan saja! Aku tak punya banyak waktu!"
"Jaga bicaramu Uzumaki! Aku punya nama! Setidaknya, Tsunade-sama cocok untukmu bocah!" sinis Tsunade.
"Ck, buang-buang waktu!" Kyuubi melangkahkan kakinya kembali, namun seruan Tsunade kembali membuat langkahnya terhenti.
"Ini tentang Uchiha itu dan—adikmu!" setelah mengalami perang batin yang cukup membuatnya dilema, akhirnya Tsunade memilih untuk mengatakannya pada Kyuubi.
"Ini mengenai permintaanmu waktu itu," lanjut Tsunade saat merasa Kyuubi benar-benar mendengarnya dengan baik.
Kyuubi terdiam, ia ingat waktu itu. Saat dirinya tahu siapa orang yang telah membuat adiknya seperti itu. Ia benar-benar marah, hingga tanpa pikir panjang dirinya langsung menghajar Sasuke yang memang pelakunya. Dan, yang ia lakukan berhasil membuat nenek tua yang menjabat sebagai Kepala Sekolah itu marah, hingga 'menyidang'nya diruang kepala sekolah.
.
Flashback….
.
Ruang Kepala Sekolah
.
"Jadi, apa kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari Tuan Uzumaki yang terhormat." Sinis Tsunade dengan menahan amarahnya.
Biar bagaimana pun juga, Sasuke adalah salah satu muridnya yang butuh keadilan dan perlindungan darinya. Walaupun ia tak tahu apa alasan dan penyebab pemuda dihadapannya itu menghajar muridnya secara tiba-tiba dan mengganggu muridnya yang lain dengan kegaduhan yang pemuda itu buat. Sebesar apapun kesalahan pemuda Uchiha itu, ia tak boleh membiarkan muridnya itu terluka, karena itulah tanggung jawabnya sebagai Kepala Sekolah. Apalagi pemuda di hadapannya ini menghajar muridnya saat dilingkungan sekolah, sungguh tak bisa dibiarkan!
Kyuubi tetap bergeming dan tak menjawab. Ia sedikit lebih tenang setelah berhasil menghajar pemuda brengsek yang telah membuat adiknya menderita. Tapi bukan berarti ia telah memaafkan pemuda itu dan membiarkan pemuda itu begitu saja. Yah, tentu saja tidak!
Brak!
Tsunade menggeram marah, ia berdiri dari duduknya dan menggebrak meja didepannya.
"APA KAU SADAR APA YANG TElAH KAU PERBUAT!" Tsunade menatap marah pada rubby dihadapannya yang tak memancarkan rasa takut sama sekali.
Sedangkan pemuda dihadapan Tsunade itu mengepalkan kedua tangannya erat disaat ekspresi wajahnya tetap datar. "Seharusnya kau katakan itu pada murid brengsekmu nenek tua!," ucap Kyuubi begitu dingin dan datar dengan penekanan pada kata 'brengsek'.
Tsunade kembali menggeram atas ketidaksopanan Kyuubi. "Jaga bicaramu Uzumaki!" desisnya.
Suasana di ruangan yang cukup sempit namun umum untuk ruang kepala sekolah itu begitu mencengkam, dipenuhi dengan aura yang tak bersahabat sama sekali disaat kedua orang yang ada didalamnya saling beradu tatapan. Cukup lama hingga Tsunade memilih untuk memutuskan kontak mata diantara mereka. Ia kembali mendudukkan dirinya dikursi empuk miliknya. Menarik napas panjang sebelum mengeluarkannya lewat mulut—mencoba meredamkan amarahnya. Ia tak boleh bertindak gegabah dan tak mendapat hasil apapun disaat amarah menguasainya. Ia kembali bersikap tenang
"Apa masalahmu?," tanyanya pada Kyuubi dengan tajam—menuntut jawaban.
"Bukan urusanmu!" balas pemuda itu.
"Kutanya sekali lagi, apa masalahmu?! Kau tak bisa seenaknya saja, jika itu menyangkut muridku! Kau bisa dituntut!"
Kyuubi mendecak sebelum akhirnya menjawab. "Uchiha brengsek itu telah menyakiti adikku, dan aku tak akan membiarkannya begitu saja! Dan aku tak peduli dengan tuntutan itu!"
"Jadi masalah pribadi? Seharusnya kau tahu jika ini di sekolah!" Tsunade berkata sinis pada Kyuubi yang membuat Kyuubi memutar kedua bola matanya bosan.
"Dan kupikir itu sama sekali bukan urusanmu!" balas Kyuubi tak kalah sinis.
"Tentu saja urusanku bocah! Aku Kepala Sekolah disini! Dan kau telah membuat keributan di sekolah ini!"
"Dan aku tak peduli!" Ucapan Kyuubi membuat Tsunade mendecak. Tsunade kembali berpikir tentang perkataan Kyuubi. Ah—tunggu!
"Tunggu, apa Sasuke ada hubungannya dengan Naruto yang tak berangkat tanpa alasan yang jelas itu?!" Tanya Tsunade pada Kyuubi yang lagi-lagi memutar bola matanya bosan. Dapat Kyuubi lihat, wajah penasaran wanita tua dihadapannya itu.
"Menurutmu?," balas Kyuubi disertai senyum mengejek yang tak dihiraukan oleh Tsunade.
"Jelaskan semuanya!" perintah Tsunade dengan deathglare terbaiknya yang sedikit berpengaruh pada Kyuubi. Yah, Naruto adalah salah satu murid kesayangan Tsunade, jadi ia harus tahu mengenai apa yang terjadi pada muridnya itu! Walaupun rasa sayangnya itu ia tunjukkan dengan perlakuan yang sedikit kasar, tapi ia sangat menyayangi pemuda pirang itu.
Kyuubi meneguk ludahnya, sedikit gugup melihat betapa menyeramkannya wanita itu, sebelum akhirnya menceritakan apa yang diketahunya dengan sedikit enggan. Padahal saat tadi wanita itu marah pun tak semengerikan ini.
.
.
"APA?!" teriak Tsunade lantang—tak percaya—hingga membuat Kyuubi mengorek telinganya yang sempat berdenging mendengar teriakan membahana sang kepala sekolah.
"Yah, Uchiha itu yang melakukannya. Aku ingin, kau menyelidiki ini lebih lanjut!" Kyuubi berdiri, merapihkan pakaiannya kemudian melangkahkan kakinya menuju satu-satunya pintu diruangan itu.
Tsunade yang baru tersadar dari keterkejutannya kembali berteriak saat mendengar ucapan terakhir Kyuubi.
"Kau memerintahku? Kenapa kau tak melakukannya sendiri?!" Kyuubi menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ia menjawab pertanyaan sang kepala sekolah. "Lakukan saja! Aku tak ingin uangku habis untuk membayar suruhanku." Kyuubi memutar knop pintu didepannya, kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan kepala sekolah saat pintu coklat itu berhasil terbuka.
Tsunade menghela napas setelah Kyuubi keluar, sebenarnya tanpa disuruh pun Tsunade akan melakukan apa yang pemuda Uzumaki itu perintahkan. Ia juga tahu, kalau pemuda bersurai oranye itu pun hanya beralasan saat menjawab pertanyaanya yang terakhir.
Tsunade kembali mengingat apa yang terjadi pada pemuda blonde kesayangannya. Ia kembali menggeram saat mengingat bahwa Uchiha Sasuke lah pelakunya. Ia sedikit menyesal telah membela Sasuke tadi.
.
.
Sedangkan diluar, Kyuubi menendang tempat sampah yang ia lewati. Ia merasakan amarahnya kembali membuncah setelah mengingat kembali apa yang terjadi pada adik kesayangannya.
.
Flashback off….
.
Brak!
"Hey bocah! Berani sekali kau mengacuhkanku dan tak mendengarkanku sama sekali!"
Kyuubi tersadar dari lamunannya saat mendengar gebrakkan yang cukup keras menyeruak masuk kedalam indra pendengarannya, disusul dengan suara yang tak asing lagi baginya. Kyuubi bergumam pelan menanggapi ucapan Tsunade. Ia membalikan badannya dan kembali melangkah untuk duduk dihadapan wanita berambut pirang itu.
"Katakan lagi apa yang kau katakan tadi." Tsunade mendengus keras disusul senyum geli di bibir merah lipsticknya.
"Aku bilang kau mengacuhkanku dan tak me—"
"Bukan yang itu!" Kyuubi memotong cepat ucapan Tsunade.
"Hm?, Lalu?," tatapan tajam dari Kyuubi membuat wanita itu terkikik.
"Well, sebenarnya aku tak mengucapkan apapun." Lanjutnya dengan mengangkat kedua bahunya. Hal itu menuai kembali kemarahan Kyuubi yang merasa dipermainkan.
"Grrrrrrrr,, jangan mempermainkanku! Katakan yang ingin kau katakan! Sekarang!"
.
…
Bruk!
Dorongan yang cukup keras kearah dinding membuat Naruto meringis, apalagi disertai dirinya yang langsung jatuh terduduk ke kursi sehingga pantat dan punggungnya terasa sakit. Sasuke yang merupakan pelakunya langsung mendudukkan dirinya dihadapan si pirang mencegah agar pemuda itu tak banyak bergerak. Sasuke sedikit menidurkan Naruto dikursi panjang itu.
"Lepaskan!"
Dingin. Nada bicara pemuda itu begitu dingin. Sasuke dapat merasakan hatinya yang langsung memberikan respon atas ucapan yang keluar dari bibir pemuda pirang itu. Sakit, linu dan perih.
"Tidak!" balasnya tak kalah dingin. Melihat rahang Naruto mengeras, Sasuke merasa percuma berlaku dingin pada pemuda itu. Tatapannya melembut. Ia mengusap lembut garis halus yang ada dipipi tan Naruto. Lagi-lagi hatinya mencelos saat pemuda itu menolak perlakuan lembutnya. Naruto sengaja memalingkan muka darinya, menepis usapannya.
Sasuke menghela napas. "Aku ingin menjelaskan semuanya Naruto." Ucapnya lembut yang lagi-lagi hanya mendapat penolakkan dari pemuda pirang itu.
"Sudah kubilang, tak ada yang perlu dijelaskan!" masih dingin, Naruto masih memperlakukannya dengan dingin.
"Aku mencintaimu Naruto." Ucap Sasuke tak menyerah.
"Aku tak butuh cintamu Uchiha!" sungguh, mendengar perkataan Naruto tadi, membuat hati Sasuke benar-benar hancur. Sakit, seandainya ia tak berhutang penjelasan pada Naruto, ia akan lebih memilih mati daripada mendengar ucapan Naruto tadi. Ucapan Naruto selalu menjadi jarum yang akan menusuk tepat dijantungnya.
"Aku tak peduli! Aku tetap akan mencintaimu Naruto, walau kau akan terus bersikap dingin padaku." Ucap Sasuke dengan menahan bibirnya yang bergetar agar tak mengeluarkan isakkan. Ia tak boleh terlihat lemah dihadapan pemuda yang dicintainya.
"Cih, kau menyedihkan!" Sasuke menulikan pendengarannya, ia tak tahan mendengar ucapan menyakitkan dari Naruto. Ia sangat membenci hal itu.
Ia hanya ingin jika Naruto membalas cintanya. Ia akan menjelaskan semuanya, dan Naruto akan memaafkannya. Berkata jika pemuda itu juga mencintainya, kemudian mereka akan hidup bersama dan bahagia selamanya, dan end! Hanya itu yang ia inginkan. Tapi Sasuke tahu, hidup itu tak akan seindah yang ia inginkan.
"Ka—mmpph,"
Sasuke membungkam bibir pemuda itu dengan bibirnya sebelum kembali menghasilkan lubang dalam dihatinya. Ia semakin menekan bibir pemuda itu saat Naruto terus meronta. Ia mengeluarkan lidahnya untuk menjilat bibir si pirang, yang kini tengah menatap tajam kearahnya dengan sapphire yang begitu ia sukai itu. Namun ia lebih memilih memejamkan matanya saat melihat tatapan benci dan jijik dari sapphire itu. Ia menjijikan, sangat menjijikan, Sasuke tahu itu, dirinya memang menjijikan.
Ia hanya tak ingin mendapatkan tatapan itu langsung dari pemuda yang dicintainya. Hatinya sakit melihat itu. Sasuke menghisap kuat bibir Naruto, menggigitnya keras hingga si pirang membuka bibirnya. Tak menunggu lama, lidahnya masuk membuat darah dari bibir Naruto ikut dirasakan oleh lidah Naruto.
"Le—mph—as be—mmhh—heng—hmmhpm—hsek!" Naruto mencoba berbicara ditengah-tengah ciuman sepihak itu. Ia merasa jijik saat ludah Sasuke memasuki mulutnya, kemudian tertelan masuk kedalam kerongkongannya. Membuat sensasi aneh kembali hadir, namun ia segera menepisnya. Ia benar-benar jijik, jijik pada dirinya sendiri.
Naruto menggigit lidah Sasuke membuat pemuda itu melepaskan pagutannya. Tanpa berpikir panjang, Naruto langsung melayangkan tinjunya ke rahang Sasuke yang masih biru saat pemuda raven itu melepaskan cengkraman ditangannya.
"BRENGSEK!" Ucap Naruto marah. Ia menarik kerah baju Sasuke yang kini jatuh terduduk, kemudian kembali meninju rahang pemuda itu—keras hingga menabrak rak buku di belakang pemuda raven tersebut.
Brak!
Sasuke meringis saat rasa sakit kembali menjalar keseluruh tubuhnya. Kepalanya terasa pusing karena beberapa buku tebal terjatuh tepat di kepalanya.
Naruto menatap Sasuke nyalang, ia sangat muak melihat tingkah Sasuke. "KAU—jangan. Mengganggu. hidupku. lagi!" desisnya.
.
.
Brak!
Pintu perpustakaan yang sengaja dikunci oleh Sasuke didobrak paksa oleh seseorang dari luar. Membuat Naruto mengalihkan perhatiannya. Sementara Sasuke hanya menggeram, tak suka jika ada yang mengganggunya.
.
.
..TBC..
Mind to Review? biar cepet update nih! XDD
[edited]
