-MEMORIES-

Cast : Donghae, Kyuhyun, Leeteuk and other

Genre : Brothership, sad, and other

Warning : typo(s), absurd, alur yang tidak jelas, bahasa tidak sesuai EYD.

.

JIKA TIDAK SUKA DENGAN FF INI, JANGAN BACA!

FF INI MURNI 100% DARI OTAK SAYA. HARAP MENGHARGAI KARYA SAYA, MESKI DILUAR SANA BANYAK FF YANG LEBIH BAGUS DARI KARYA SAYA!

DON'T COPY-PASTE. DON'T PLAGIAT. NO BASH THIS FF!

.

FF INI LEBIH PANJANG DARI CHAPTER SEBELUMNYA. SEMOGA READERS TIDAK KECEWA MENUNGGU FF INI #tebarkisseu

.

CHAPTER 3

.

.

.

Kejadian malam itu terus terbayang-bayang didalam ingatan Donghae. Terkadang memiliki kemampuan yang bisa mengingat apapun itu adalah musibah. Dirinya ingin melupakan semuanya. Melupakan saat Appa-nya selalu memarahi keluarganya. Melupakan saat Dongsaeng kecilnya dipukul didepan matanya. Semuanya.

Bahkan sampai kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Appanya, dia sangat mengingatnya. Tidak pernah, dan tidak akan pernah lupa sampai kapan pun. Syndrom itu telah merampas kebahagiaan dirinya. Donghae pria muda yang menjadi tulang punggung keluarganya.

Kini Donghae, Dongsaengnya dan Eommanya tinggal disebuah gubuk kecil dibelakang apartment yang berada di daerah Gangnam. Beruntung ada sepasang suami istri yang berbaik hati memberi tempat tinggal 'reot' ini kepada keluarganya. Meski terbilang sesak karna kecilnya tempat tinggal itu, namun ini lebih baik dari pada harus tidur di pinggir jalan.

Dan yang paling terpenting adalah jauh dari rumahnya dahulu. Ya, jauh dari sang Appa yang sangat kejam terhadap keluarganya.

.

Matahari bersinar cerah. Nampak burung-burung berkicau sembari hinggap dari dahan ke dahan. Namja kurus dengan rambut hitamnya sedang menyusuri jalanan kota Seoul. Menyusuri deretan pertokoan yang berjejer. Sembari singgah kebeberapa toko yang sekiranya butuh seorang karyawan –seperti dirinya-. Tak luput juga, sedari tadi singgah di beberapa pertokoan namun hingga saat ini dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan.

"Jangan patah semangat Lee Donghae. Hwaiting!" monolognya.

Hingga siang hari ini, namja kurus itupun belum mendapatkan pekerjaan. Lelah karena sedari tadi berjalan dari toko ke toko, Lee Donghae beristirahat di salah satu kursi dibawah pohon.

"Ya Tuhan, berikanlah aku pekerjaan. Agar aku bisa membiayai Eomma, dan membiayai sekolah Nae Dongsaeng." Lirihnya.

Saat sedang sibuk dengan 'meminta' kepada Sang Pencipta. Tiba-tiba datang seorang namja gempal yang sangat putih, lalu duduk disebelah dirinya. Heran karena namja yang berada disebelahnya sangat putih –pucat-. Tidak, bahkan kulitnya hampir menyamai warna kulit mayat.

"Gwaenchanna?" tanya Donghae.

"Eoh? E... Ne."

"Kau terlihat tidak baik-baik saja." Ucap khawatir Donghae.

"..."

"Kau sakit? Kau masih bersekolah?" tanya Donghae setelah melihat seragam yang dikenakan namja disebelahnya itu.

"..."

"Kau tidak bisa berbicara, eoh?" jengkel Donghae. Karna sedari tadi pertanyaannya tidak dihiraukan.

"Ya! Aku bisa bicara, pabo!" ucapnya tidak sopan.

"Aku tahu aku sangat tampan dan terlihat muda. Tapi asal kau tau berbicara dengan orang yang lebih tua darimu itu harus sopan." Ucap Donghae sembari memberi penekanan pada kata 'lebih tua' dan 'sopan'.

"Aish. Aku tidak peduli." Ucap ketus namja itu.

"Kau tidak punya orang tua? Atau kau tidak pernah mendengarkan kata-kata mereka?"

"Eoh? Kau?!... urusi saja urusanmu. Tahu apa kau? Lebih baik diam. Dan anggap aku tidak duduk disampingmu." Ucapnya datar.

Hening...

Donghae menuruti perkataan namja yang baru bertemu dengannya, untuk diam. Meski perkataan namja itu terbilang tidak sopan dan amat jauh dari kesan manis –seperti wajahnya-. Namun, Donghae merasa namja yang dilihatnya masih bersekolah itu adalah sosok yang baik. Sorot matanya yang agak kosong, seolah sedang mempunyai masalah dalam hidupnya –sama seperti dirinya-

Namun namja gempal itu tiba-tiba pingsan. Donghae panik. Tentu saja, bagaimana tidak. Sedari tadi mereka –namja gempal itu- diam membisu.

"Ya! Ya! Ireona! Kau kenapa?" ucap Donghae panik.

"Aish... aku belum mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang, tapi anak ingusan ini memberiku pekerjaan tanpa hasil. Aish!" runtuk Donghae.

Segera Donghae mebopong namja gempal itu keatas punggungnya. Meski tubuhnya kurus, namun jangan ragukan tenaganya yang tebilang kuat.

"Kau lebih gemuk dariku. Tapi kenapa malah aku yang menggendongmu?" monolognya.

Cukup jauh Donghae berjalan –membopong namja itu-. Donghae melihat ada klinik 24jam. Segera ia melangkahkan kaki lebar-lebar ke klinik itu.

"Uisa-nim cepat tolong anak ini!" ucap Donghae kepada salah satu perawat yang dia temui.

"Ah, ne. Cepat masukke ruang dokter, Tuan."

"Aigoo. Anak ini kenapa bisa sampai pingsan begini, eoh? Menyusahkan saja!" ucapnya berbisik.

.

.

Uisa telah mengecek kondisi pemuda –pucat- itu dan Donghae segera menanyakan perihal kondisi namja yang baru ditemuinya. Dari hasil pemeriksaan sementara, dia hanya kelelahan dan mengalami setres ringan. Namun, jika ingin lebih jelasnya mengenai kondisinya, disarankan untuk memeriksanya ke Rumah Sakit besar. Klinik itu hanya bisa memeriksa dari gejala-gejala yang dialami si pasien, Karna keterbatasan alat pemeriksaan.

Donghae pun segera menghampiri namja putih –pucat- itu. Tak berapa lama namja itu sadar.

"Gwaenchanna?" ucap Donghae.

"Arght... Appo" ucap Namja itu meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya.

"Apa kepalamu sakit?" ucap khawatir Donghae. Meski telah direpot kan oleh bocah ingusan yang baru ditemuinya ini, namun dirinya juga khawatir dengannya.

Dia tidak menjawab pertanyaan Donghae. Dirinya terlihat bingung dengan tempat yang belum pernah ia masuki.

"Kau berada di klinik." Ucap Donghae yang mengetahui gelagat bocah yang terbaring dihadapannya kini.

"Kau ingat aku? Aku yang berada di sampingmu saat dikursi di bawah pohon tadi. Kau tiba-tiba pingsan aku langsung panik, lalu menggendong mu hingga ke klinik ini. kau kenapa bocah?" sambungnya.

"Gamsahamnida, Ahjussi." Jawabnya lemah.

"Mwo?! Ahjussi? Aku aku terlihat setua itu kah?" ucap Donghae terkejut.

"Jeosonghamnida."

"Hmm... Donghae, Lee Donghae imnida. Kau boleh memanggilku Donghae Hyung. Namamu siapa?"

"Kyu." Ucapnya singkat.

"Kyu?"

"Ne. Kyuhyun, emmm.. Donghae Hyung?" ucapnya bingung.

"Salam kenal Kyuhyunnie." Ucap Donghae sembari tersenyum tulus pada bocah –Kyuhyun- yang baru ditemuinya. Meski telah direpotkan saat tengah mencari pekerjaan.

"Kau sudah tidak apa-apa?" ucap tulus Donghae.

"Ne. Gamsahamnida, Hyung. Maaf, telah merepotkan." Ucap Kyuhyun.

"Ah, gwaenchanna. Sudah kewajiban setiap orang harus saling tolong menolong, bukan? Kata Uisa-nim kau hanya kelelahan dan setres ringan. Ck! Masih kecil kau sudah setres. Apa yang kau pikirkan, eoh? Apa kau tidak diberi uang jajan, sehingga kau setres?" ucap Donghae heran.

"Aish. Aku tau kau orang baik. Tapi kau tidak boleh menuduhku sembarangan, Hyung. "

'Terserah. Ah, aku lupa." Ucap Donghae sembari menepuk kedua tangannya.

"Aku harus mencari pekerjaan. Kau tidak apa-apa kan jika ku tinggal? Jangan lupa menelpon orang tuamu, untuk menjemputmu pulang, Kyu."

"Ne. Sekali lagi gamsahamnida, Hyung." Ucap Kyuhyun sembari tersenyum tulus.

"Ne. Jaga kesehatan, eoh? Bye bye." Ucap Donghae sembari meninggalkan ruang yang serba putih itu.

.

.

.

Angin malam sungguh menyejukan. Itulah yang sangat disukai oleh Kyuhyun. Duduk di balkon rumahnya adalah kebiasaan Kyuhyun saat malam tiba. Pertemuan dengan orang, ah tidak lebih tepatnya lelaki –Donghae- yang baru ditemuinya tadi siang membuatnya gembira. Bagaimana tidak, dia rela menolongnya saat pertama kali bertemu dengannya. Donghae Hyung adalah sosok yang ceria dimata Kyuhyun. meski, baru pertama kali bertemu dia sudah mengetahuinya.

Namun, ada yang berbeda dari keceriaannya. Sorot matanya seperti ada kesedihan yang mendalam. Itulah yang dipikirkan Kyuhyun hingga malam ini.

"Aigoo..." ucap Kyuhyun tiba-tiba sembari menepuk jidatnya.

"Bagaimana aku bisa lupa menanyakan nomor telponnya? Ah, bagaimana aku bisa bertemu dengan Donghae Hyung lagi?" ucapnya sedih.

"Arghtt... KYUHYUN PABO!" erangnya frustasi.

.

.

.

Langit telah cerah, dan matahari pun sedikit demi sedikit keluar untuk menerangi aktivitas yang dilakukan oleh makhluk hidup yang berada dibumi. Namja berkulit putih yang sedikit kecoklatan, berlesung pipi dibawah bibirnya, tengah berjalan menuju halte bus untuk menuju tempat kuliahnya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang biasanya menggunakan mobil pribadi.

Kini, namja berambut hitam itu pun tengah tersenyum sembari mengadahkan kepalanya kelangit cerah. Namja itu bersyukur. Bersyukur kepada Tuhan yang telah menddengar do'anya agar masuk ke Unniversitas dengan jurusan yang ia minati. Meski, harus ada pengorbanan untuk menempuh jurusan tersebut, yang harus meninggalkan keluarganya –Appa-.

Appanya sangat tidak setuju dengan keputusannya. Alhasil, beginilah dia sekarang. Hidup sendiri, tanpa fasilitas Appanya. Secuil pun tak ada.

Sekarang dia hidup dengan mandiri. Tanpa adanya kemewahan yang selama ini ia nikmati. Namun, dia bahagia. Cita-citanya akan segera tercapai. Psikolog yang handal.

"Sepertinya aku sekarang telah seperti burung itu." Ucap Leeteuk sembari tersenyum melihat burung yang tengah terbang.

"Terbang bebas, kemana pun ia inginkan. Terbang setinggi-tingginya agar bisa melihat alam yang indah ini." sambungnya.

.

.

Jam kuliahnya telah selesai. Kini Leeteuk sedang menikmati secangkir kopi di café kecil. Suasana café yang sangat nyaman, terlebih lagi kita bisa melihat pemandangan alam terbuka disamping café ini.

Karna merasa lapar. Kini Leeteuk pun ingin memesan makanan. Segera ia mengangkat tangan kanannya kepada pelayan.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan." Ucap ramah pelayan tersebut. Namun, Leeteuk merasa ada yang mengganjal pada pelayang tersebut. Pasalnya pelayan itu tidak membawa catatan kecil, seperti pelayan-pelayan yang lainnya.

"Ah, aku ingin memesan satu Cappucino Float dengan sedikit es, satu Spagethi, satu Ramyeon Katsu yang pedas, dan dua Cheese Cake."

"Ah, Baik Tuan. Mohon tunggu sebentar." Ucap pelayan itu dan segera pergi meninggalkan Leeteuk. Tak lupa dengan senyum ramahnya yang selalu menghiasi wajahnya. Namun, baru selangkah ia berjalan...

"Tunggu!" hardik Leeteuk.

"Ne. Ada yang ingin dipesa lagi, Tuan?" tanya pelayan itu.

"Kau mengingat semua pesananku?"

"Ah, Ne. Anda memesan satu Cappucino Float dengan sedikit es, lalu satu Spagethi, satu Ramyeon Katsu yang pedas, dan dua Cheese Cake. Apa ada yang ingin dipesan lagi, Tuan?"

Leeteuk heran. Ini jenius! Bagaimana tidak, seorang pelayan di cafe kecil ini memiliki pelayan yang sangat jenius. Dia megingat semua yang Leeteuk pesanan, tanpa bantuan kertas dan pulpen sebagai pengingatnya.

"Maaf, Tuan. Apa ada yang ingin Anda pesan kembali?" ucap pelayan itu, yang membuat Leeteuk tersadar kembali akan dunianya.

"Ah, Tidak. Cukup itu saja." Ucap Leeteuk yang masih terheran-heran.

"Baik. Saya permisi dulu, Tuan."

.

.

.

TBC OR END?

.

NB: huwaaaaa.. akhirnya aku bisa update ff ini. Meski ujian masih berlangsung , tapi aku nyempetin buka lappy buat nyelesaiin ff gaje-ku ini ... hehehe #janganditiru

Bagaimana readers? Ff ini makin gaje bukan? Huahahaha #ketawamiris maaf ide sempet mandek karna ngapalin pelajaran yang gak sedikit #elapkeringet

Ya semoga siders pada sadar buat ninggalin jejak sepatah dua patah kata barangkali? Tak apa yang penting ninggalin jejak buat jadi penyemangat aku nihhhh #hugdongek

Oh ya, apa readers nemuin typo? Mian, aku gak sempat baca ulang buat mastiin ada typo atau gaknya #ditimpukreaders

Terima kasih kepada readers yang mau menyempatkan baca ff ini dan meninggalkan jejaknya di kolom review. Aku sempet shock #ceilah yang review gak lebih dari 30 tapi yang liat 1000 #telenwajan

GIVE THANKS TO:

ChaYunwoo , mifta cinya , kyuli 99 , Awaelfkyu13 , Sparkyubum , noname , Sinsin21 , Shofie Kim , Wonhaesung Love , ningKyu , septianurmalit1 , suprihatin , erka , Haebaragi86 , .9 , vietakyu33 , .75470 , Guest

MAAF BELUM BISA BALAS REVIEW. SEMOGA CHAPTER DEPAN BISA MEMBALAS SATU PERSATU.

Oh ya, harap bersabar buat chapter selanjutnya ya. Aku masih menempuh ujian sekolah #uhuk

Harap review !