Stay with Me

Disclaimer : Masashi kishimoto.

Pair : Naruhina.

Ganre : Romance, Friendhsip..

Rated : T.

Chapter 4.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kelopak mata itu terbuka perlahan, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu yang menerjang matanya. Hinata langsung membesarkan matanya kaget dan sontak mendudukan dirinya.

"Akhhh..." Gadis indigo itu memegang bahu kirinya yang terasa remuk. hinata ingat bagaimana gadis bersurai coklat itu menendang bahunya. Hinata tidak menyangka akan terasa sesakit ini.

'Tunggu, siapa yang membawaku kesini ?' Batin hinata seraya mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang ditempatinya. Dia berada di salah satu kamar yang berada dirumah sakit.

Kamar ini bukan kamar biasa, ini kamar VIP. Orang yang membawanya kemari bukanlah orang biasa. dilihat dari interior dan dekorasi kamar, kamar ini sangat mahal.

Krieettt...

Pintu kamar terbuka, menampakan 3 orang pemuda tampan yang membuat hinata terpaku seketika.

"Nona sudah sadar ?" Hinata tersikap karna terlalu lama memandang tiga pemuda itu.

"umm... i-iya... baru saja" Hinata meruntuki dirinya sendiri. kenapa dia gagap ?! Apa karna manik jade itu memandangnya ?. apa karna pemuda bersurai hitam itu tersenyum padanya ?. Apa karna pemuda pirang- tunggu dulu... pirang.

Hinata sontak meloncat dari ranjang pasien dan langsung menerjang pemuda pirang itu.

BRAK

BUGHH

"GHAAA !" Teriakan memekikan tidak bisa dihindarkan. Hinata menggeram dan menekan-nekan tangan kiri pemuda yang sudah berani mencuri ciuman pertamanya, ya Namikaze Naruto.

"WHOI ! LEPAS ! INI SAKIT !" Teriak naruto sambil berusaha memberontak. Naruto tengkurap dengan hinata menduduki punggungnya. gadis itu juga melintir tangan kirinya kebelakang.

"Dasar menyebalkan ! berani-raninya kau mencuri ciuman pertama ku ! Hah ! BAKA BAKA BAKA BAKA NARU !"

"LEPASKAN AKU GADIS ANEH ! INI SAKIT !" Naruto balas berteriak kepada hinata.

"WOI ! APA YANG KALIAN BERDUA TONTON ! TOLONG AKU !" Utakata dan Gaara terkejut dan berusaha menenangkan amukan hinata.

"Hey ! Lepaskan ! Aku harus menghukum makhluk pirang ini !" Hinata berusaha memberontak. walau Utakata sudah memeluknya dari belakang dan menjauhkannya dari naruto.

Gaara bergidik ngeri melihat sahabatnya yang berusaha menenangkan hinata malah dipukuli habis-habisan oleh hinata.

"Gadis itu monster" Gaara menoleh kearah naruto dan membawa lead vocalis boy group FOX itu duduk disofa yang ada dikamar rawat hinata.

"Monster tapi cantik hyuung" Gaara menimpali. Naruto mendecih dan sedikit mengurut pergelangan tangan kirinya.

"AWWW..." Teriakan Utakata membuat Naruto dan Gaara menoleh kearah pemuda itu. Seketika itu juga kedua pemuda itu harus menelan ludah mereka gusar. Utakata sudah terkapar sambil memeluk tangan kanannya.

Hinata berjalan dengan aura menyeramkan kearah naruto, dia sudah sangat siap dengan segala jurus yang akan dia gunakan untuk menghajar naruto.

Tidak ingin hal tadi terulang kembali naruto segera berdiri dan berjalan cepat kearah hinata.

"KYAAAAA ! APA YANG KAU LAKUKAN ?!" Hinata sukses berteriak disaat naruto tiba-tiba membopongnya dibahu kanan pemuda itu.

Dengan sedikit kasar naruto menghempaskan tubuh hinata keatas ranjang, membuat gadis itu diam.

"Sudah ?" Suaranya terdengar sangat dingin, membuat hinata tidak mampu untuk menatap pemuda didepannya. 'Haiss... Hinata ! kenapa kau mendadak down seperti ini ?!'.

Naruto sedikit menghela nafas dan menatap lekat gadis didepannya.

"Kau seharusnya berterima kasih karna aku sudah menolongmu. tapi apa yang ku dapat ?" Hinata terdiam. jadi yang membawanya naruto. Hinata sedikit merasa bersalah karna sudah berprilaku buruk terhadapnya.

'TIDAK ! dia pantas mendapatkannya' batinnya. Hinata mengangkat kepalanya untuk membalas tatap naruto. bukankah karna pemuda itu yang membuatnya terkena amukan fans.

"tapi Namikaze-san... bukankah fans mu yang membuatku seperti ini ?" Hinata semangkin menegakan kepalanya disaat mendapati naruto diam.

"Kau mempunyai fans yang gila, jika kau tidak menyelamatkanku hari itu, aku tidak akan terluka seperti ini Namikaze-san"

"Kau melakukan semuanya tanpa berpikir namikaze-san" Mengerti arah pembicaraan hinata. Gaara berdehem.

"ekhemm... kami akan menunggu diluar" Ucap gaara sambil menarik tangan utakata dengan paksa untuk keluar.

Gaara dan Utakata duduk dibangku tunggu yang berada didepan kamar hinata. Mereka tidak bisa mendengar pembicaraan hinata dan naruto karna ruangan itu kedap suara.

Tidak berapa lama kemudian, pintu ruangan terbuka kasar dan hinata keluar dengan wajah masam dan kaki yang dihentak-hentakan.

"Nona, kau mau kemana ?" pertanyaan Gaara sama sekali tidak digubris. akhirnya gaara dan utakata memilih untuk masuk. Naruto terduduk disofa dengan mata terpejam.

"hyung... apa yang terjadi ?" Pemuda tunggal namikaze itu membuka matanya disaat mendengar pertanyaan utakata.

"Hmm... kau tidak perlu mengetahuinya utakata" Utakata mendecih dan menyusul gaara yang sudah duduk terlebih dahulu.

"ngomong-ngomong, gadis itu cantik" Naruto sontak menegakan tubuhnya dan menatap gaara tidak percaya. tumben sahabatnya yang satu ini membahas gadis.

"Kau demam atau apa, dia tidak cantik, dia mirip monster" Ucap naruto sambil memakan buah apel yang sudah dikupas.

"Mungkin kaulah yang demam hyuung, gadis itu cantik dan juga... tubuhnya nyaman untuk dipeluk" Ucap utakata sambil memeluk dirinya sendiri.

Naruto melempar bantal sofa kearah utakata disaat melihat tingkah aneh pemuda itu. Ada apa dengan kedua sahabatnya ?.

"Gadis itu mirip monster, dia juga bukan tipeku. "

"Jangan seperti itu aniki, nanti kau termakan omongan mu sendiri lohhh"

"Tutup mulut mu utakata, dan satu lagi... aku merinding tiba-tiba kau memanggilku aniki"

.

.

.

.

.

Hinata berjalan ditrotowar dengan langkah kaki yang dihentak-hentakan. Lukanya memang sedikit parah dibagian tangan dan kepala. tapi tidak pada bagian kaki.

Hinata absen hari ini. Entah bagaimana reaksi kaa-san nya disaat dia tidak pulang kerumah semalaman. Tapi hinata belum menghilang selama 24 jam, jadi kaa-sannya tidak bisa melapor kepada polisi.

Langkahnya terhenti kala mendengar teriakan memekikan dari gang sepi yang dilewatinya. Menoleh kekanan dan kekiri. Hinata baru menyadari tidak ada orang lain selain dirinya.

Hinata menelan ludahnya, siapa yang berteriak ?. Tiba-tiba bulu kuduk hinata berdiri. Sesaat kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya.

'Tidak ada hantu disiang bolong hinata !'

Hinata melangkahkan kembali kakinya. tapi lagi-lagi sebuah teriakan menggema dari gang sempit itu. Mau tidak mau, gadis indigo itu berjalan kearah gang itu.

Semakin masuk kedalam, semakin kuat pula rasa takut hinata. Jangan lupakan, hinata juga manusia biasa yang bisa takut.

Tapi sebuah tubuh perempuan bersurai pirang yang tergeletak sukses membuat Hinata berteriak.

"Kami-sama !" Hinata segera berlari dan membalikan tubuh yang memunggunginya.

Deg

Hinata langsung terduduk sambil menatap perempuan itu dengan mata melotot.

Hinata sangat mengenalnya, dialah ino. gadis yang selalu membullynya. Hinata berdiri dan membalikan badanya. Hilang sudah rasa ingin menolongnya disaat mengetahui bahwa orang yang ingin ditolongnya adalah orang yang selalu membullynya.

Langkah hinata terhenti kala memori-memori waktu dia masih kecil masuk kedalam pikirannya.

"Kaa-san mau kemana ?" Hinata kecil bertanya dengan mata besarnya. Hikari, sang ibu hanya tersenyum sambil menggenggam erat tangan hinata.

Hikari mulai menarik tangan hinata menuju seekor anjing yang tampak menggigil dibawah bangku taman. Hikari mengeluarkan sebuah saput tangan dari dalam tasnya dan menyelimuti anjing itu.

Hinata menarik-narik ujung dress ibunya disaat melihat hikari menggendong anjing itu.

"Kaa-san, kenapa kau menolongnya ? Hinata tidak menyukai anjing" Hikari tersenyum dan berjongkok dihadapan hinata.

"Dengar sayang, dalam menolong seseorang kita tidak boleh pandang kasta atau pun watak seseorang. Karna menolong adalah perbuatan yang mulia dimata kami-sama. Jadi, walaupun hinata tidak menyukainya, hinata tetap harus menolongnya. Asal kita menolong dengan niat yang tulus, maka semuanya akan terasa menyenangkan"

Hinata kecil tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Hinata memejamkan matanya disaat ingatannya bersama sang ibu hadir dipikirannya.

Hinata membalikan badannya dan tersenyum tipis.

"Kau tau, saat ini mood ku sedang buruk untuk menolong seseorang. Tapi sialnya ingatan ku bersama kaa-san hadir untuk mendorongku agar menolongmu. Itu bukan alasan utamaku ingin menolongmu. alasannya adalah karna aku ingin tumbuh dengan sifat baik seperti kaa-san. jadi, ini adalah hari keberuntunganmu yamanaka"

Hinata kembali berjalan kearah ino dan mulai membopong ino untuk berdiri.

"tidak kusangka gadis kurus sepertimu mempunyai bobot yang sangat berat" Hinata tersenyum tipis disepanjang jalan. Sesekali tubuh mereka berdua terhuyung-huyung tanpa arah.

Hinata menghela nafas berat setelah mendudukan tubuh ino disebuah kursi halte bis. Hinata baru sadar terdapat banyak luka ditubuh gadis pirang itu. Ya lebih banyak dari dirinya.

Hinata mendudukan dirinya disamping Ino. diliriknya wajah sayu ino. sebenarnya ino tidaklah kejam dalam membullynya. Paling-paling hanya menyuruh membelikan minuman dan mengerjakan tugas gadis itu.

Ino sebenarnya adalah gadis yang pernah memergoki ino disaat gadis pirang itu diam-diam memasukan seragam cadangan disaat seragam hinata ditumpahi air bekas pel yang sangat keruh.

Andai ino sedikit baik kepadanya, Hinata pasti akan menyukainya, menyukai dalam artian teman.

Tiitttt...

Hinata menoleh kearah depan, terdapat sebuah mobil putih terparkir sempurna didepannya. Kaca mobil terbuka, menampakan seorang pemuda bersurai hitam klimis tersenyum kearahnya.

"Ada yang bisa kubantu nona ?" Hinata tersikap dan melirik ino.

Hinata mengenal pemuda didepannya. Dia merupakan salah satu anggota FOX, Shimura Sai.

"Kurasa kau bisa membantunya kerumah sakit, karna aku sedang terburu-buru" Pemuda didepannya tersenyum dan memasang atributnya, atribut penyamaran seorang artis.

Pemuda itu turun dari mobil dan menggendong tubuh ino. Hinata sedikit membuka bibirnya, menatap sai tidak percaya.

"Kau bisa menggendongnya ?" Hinatabertanya dengan wajah polos. senyum diwajah sai memudar.

"Apa kau meremehkan kekuatanku nona ? Ingatlah, kekuatan seorang pria berkali-kali lipat lebih besar dari seorang wanita. Aku bahkan bisa menggendong tiga orang sekaligus"

Hinata berdecak dan mulai berjalan kearah mobil sai, membukakan pintu untuk memudahkan sai memindahkan tubuh ino.

"Aku pergi" Hinata berlalu dari hadapan pemuda itu. Sai tersenyum, kali ini senyum tulus, bukan senyum palsu yang biasa dia perlihatkan kepada fans nya.

"Kau harus mendapatkan gadis seperti dia hyuung" Seseorang keluar dari pintu belakang mobil dan berjalan kearah sai.

"Entahlah..."

.

.

.

.

.

"Kau yakin ingin sekolah hari ini sayang ?" Hinata tersenyum lembut kepada ibunya.

"Hai' kaa-san, hinata tidak ingin tertinggal pelajaran. masa depan hinata sangat penting bagi hinata" Ucap hinata sambil memeluk ibunya. ibunya, Mei terumi balas memeluknya.

"Hm, jika itu keinginanmu kaa-san tidak bisa melarang hinata. sebagai orang tua, kaa-san akan selalu mendukungmu. ini, jangan lupa dimakan" Hinata mengangguk dan mulai mengayuh sepedanya keluar area rumah mereka.

Sekarang hinata merasa kehidupannya sudah normal. Ibunya melarangnya untuk kerja sambilan karna Mei sudah membangun sebuah toko ramen kecil didekat rumah mereka. Jadi hinata akan membantu mei setelah pulang sekolah.

Hidup normal, ya setidaknya itulah yang hinata rasakan.

Setelah memarkirkan sepedanya, Hinata berjalan masuk kesekolah seperti biasa. Tidak lupa cibiran, ejekan, dan hinaan yang dia dapat.

Tap

Hinata menghentikan langkahnya disaat melihat gadis yang kemarin ditolongnya, Ino. Hinata menundukan wajahnya sambil kembali berjalan. Ino tetaplah ino, dia tidak akan berubah.

"Nerd"

Tap

Lagi-lagi hinata harus menghentikan langkahnya dan melirik ino.

Deg

Hinata membelelakan matanya disaat ino memeluknya. murid-murid yang berlalu lalang dikoridor tampak menghentikan langkah mereka. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, Ino menangis.

"Hikss... Hikss... A-Arigatou... Arigatou gozaimas Hinata-chan" Hinata tertegun, apa dia tidak salah dengar ?

"Y-yamanaka-san ?" Ino melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya sendiri.

"Umm... Gomenasai..." Ucap ino sambil membungkukan badannya didepan hinata. Lagi-lagi hinata tertegun. Apa gadis pirang ini tahu bahwa hinatalah yang menolongnya.

"Apa kau-"

"Ya, aku tau kaulah yang menolongku kemarin Hinata-chan. Aku sangat berterima kasih, dan juga... maafkan lah aku hinata-chan. maukah kau menjadi temanku ? tidak-tidak... maksudku... menjadi sahabatku" Ino menundukan kepalanya, tidak mampu melihat wajah terkejut hinata.

Begitu juga dengan murid lainnya yang menyaksikan kejadian itu. Tarlebih lagi shion, Ino adalah sepupu Shion.

"Apa-apaan ini Ino ? Kau berencana menghianatiku ?!" Bentak Shion disaat ino menyadari kehadirannya.

"Seharusnya akulah yang berkata seperti itu Shion, kau lah yang menghianatiku. Meninggalkanku digang sempit itu setelah premanmu puas memukulku. Kau hanya memikirkan hak warisan shion"

Wajah shion memerah karna malu, Ino baru saja membongkar kedoknya. Dia tidak tau ino mengetahui bahwa preman itu adalah suruhannya. Dengan wajah merah padam, shion berdecak dan pergi dari sana.

Hinata sangat terkejut. Dia sama sekali tidak tau bahwa shion setega itu kepada Ino. Hinata melirik kearah ino yang sudah jatuh terduduk, gadis itu kembali menangis. bukan lagi tangisan permintaan maaf yang tadi dia ajukan, tapi tangisan rasa kecewa.

Hinata berjalan menghampiri ino dan mengusap punggung gadis itu. Ino mendongkak dan mendapati senyum hinata.

"Aku ingin menjadi sahabatmu Ino-chan..."

.

.

.

.

.

.

Tbc...

Alhamdulillah... akhirnya update juga fic ini. Kizu kira gak bakalan lanjut, tapi... disaat melihat keyboard laptop. Ide-ide mulai bermunculan dipikiran kizu.

Dan satu lagii... Selamat bulan ramadhan bagi umat islam... Disaat menulis fic ini. kizu harus menahan loyo karna sedang berpuasa... hehehee...

oke, semangat !