Terima kasih banyak kepada reviewer di chapter2 lalu. Maaf, nggak bisa semuanya dibalas m(_ _)m
Reiya, sori. Development-nya kayaknya masih belum. Aku bingung =="
"I want to be a hero."
-Zack Fair, FFVII: CC-
Sekarang adalah pertengahan bulan Juni. Musim panas sudah berlangsung setengah bulan. Angin yang lembab bertiup dari Selatan ke Utara melalui lautan-lautan sempit di antara Benua Barat dan Benua Timur. Rainy summer telah tiba.
Rainy summer. Musim yang menyenangkan bagi para petani di luar sana. Namun bagi kebanyakan orang yang tinggal di Midgar—di mana tidak ada tanah yang bisa ditanami—rainy season tak lebih dari sebuah fase menyebalkan.
"Lagi-lagi cuaca jelek. Latihan yang kutunggu-tunggu rusak sudah."
Tak terkecuali bagi Zack Fair.
Uring-uringan dia berjalan sendirian ke ruang olahraga. Dari perlengkapan olahraga yang ditentengnya: sarung tangan baseball, sebuah tongkat kayu panjang, dan topi biru berbordirkan tulisan "#1" di kepalanya, dapat disimpulkan latihan yang dimaksud Zack adalah latihan baseball.
"Ada yang salah hari ini. Tes fisika tadi sulit nggak kira-kira, coach yang marah-marah, terus angin monsun menyebalkan itu datang tiba-tiba," sebutnya. Di saat bersamaan, sekawanan gagak melintas di langit kemerahan sore itu.
Kaak kaak kaak…
"Oh, great. A bad omen. Kurang buruk apa lagi hari Jumat ini?"
Krosak!
JDUAK!
"Ouch!" seru Zack kesakitan. "Sekarang apaan? Bahkan ranting pohon saja berani menimpa kepalaku!" gerutunya. "Kadang aku berpikir lebih baik ShinRa tidak punya taman buatan sama sekali."
Zack meneruskan perjalanannya sambil mengawasi atas. Untunglah dia tidak tersandung.
Tiba di tujuan, Zack bergumam bingung, "Loz? Sedang apa?"
Orang itu tampak sedang duduk santai, coke di tangan kanan. "Bisa lihat sendiri, kan?" jawab Loz tak peduli.
Seraya membuka pintu bilik penyimpanan peralatan di pojok ruangan, si Rambut Jabrik memancing kembali percakapan, "Bukannya ini waktu yang bagus buat latihan? Hari Jumat yang santai, udara yang sejuk. Kurang apa lagi?"
Zack berhenti dan tertawa di dalam hati. Waktu yang bagus buat latihan? Jelas-jelas latihannya sendiri batal hari itu. Dan Zack memikirkan topik pembicaraan lain.
"Hm. Aku lihat daftarnya, lho. Siapa-siapa saja yang bakal kamu hadapi di MAC. Sama sekali bukan saingan mudah."
"Terus?"
"Terus, kenapa kamu malah santai-santaian di sini?"
"Apa urusanmu?" sentak Loz ketus. Wah wah wah… Bukan cuma Zack yang mood-nya sedang jelek. 'Jadi benar, hari ini memang menyebalkan,' simpul Zack.
"Maksudku, kamu punya tanggung jawab di sana. Perjuangkanlah itu," nasihatnya hati-hati. "Lagian, malas-malasan seperti ini artinya kamu menyepelekan lawan-lawanmu."
Serang Loz tiba-tiba, "nggak terima aku menyepelekan Tifa Lockhart?"
"Kamu kenapa, sih?" Zack mengerutkan dahi.
"Memangnya kau pikir apa yang bisa dilakukan seorang gadis yang baru kehilangan ibunya?" lanjut Loz tanpa menggubris Zack.
Mata biru laki-laki berambut hitam itu melebar. Untunglah sebelum segalanya semakin buruk, seseorang menengahi. Salah satu kembaran Loz. Laki-laki berwajah tenang itu bersandar pada rangka pintu.
"Berhentilah membuat catatan pelanggaran, Loz. Aku sudah pusing mengurusi tingkahmu," tegurnya. Ia mengangguk minta maaf pada Zack sebelum berbalik pada saudaranya lagi. "Kau dipanggil Lady Shalua. Perkelahian siang tadi diselesaikan hari ini juga, begitu katanya."
Mulut Zack ternganga.
"Berkelahi? Di saat-saat menjelang lomba? Geez! You might be disqualified!" raungnya frustrasi. Entah apa lagi yang membuatnya begitu terobsesi pada Loz dan Martial Art Championship. Hmm…Mungkin Zack memang hampir selalu overexcited terhadap segala hal.
Sementara itu Loz sendiri kelihatannya tidak peduli. Melewati Zack yang ternyata lebih tinggi darinya, Loz bergumam tentang betapa berlebihannya kata 'perkelahian' untuk sebuah adu mulut.
"Loz tidak sedang dalam mood. Mungkin besok," terang Yazoo, lalu keluar mengikuti kakaknya.
Zack cemberut. "Well, I'm not in the mood either," timpalnya. "Cuaca mendung, latihan batal, ketiban ranting, sekarang masih dimarahi adik kelas."
Zack menghela nafas pasrah.
"Paling nggak hari ini nggak mungkin bertambah buruk."
Tiba-tiba Reno datang. Kabarnya, "oi, kabar buruk. Si Jago Berantem cidera."
Well, Zack, di jagad raya ini, pada saat kau menduga tidak ada yang lebih buruk, biasanya terjadi yang lebih buruk lagi. (*)
.
.
Hug and Kiss
Chapter 4: OBNOXIOUS
.
.
=xoxo=
Banyak orang penasaran, rambut Zack itu jabrik alami atau tidak sih?
Jawabannya… Ya dan tidak.
Hujan deras benar-benar mengguyur Midgar. Butir-butir air menyerang tanpa ampun rambut hitamnya ketika Zack berlari keluar gerbang ShinRa. Meskipun seluruh tubuhnya basah kuyup, rambutnya yang jabrik itu tetap berdiri menantang gravitasi dengan… alami. Err… Rambu yang masih berdiri walaupun basah… sama sekali tak bisa dibilang alami. Tapi, siapa peduli? Zack tidak peduli. Yang dipedulikannya sekarang adalah bagaimana mendapatkan "mantol sweepy" pesanan Yuffie.
Oh, iya, ada satu hal lagi yang menarik dari seorang Zack Fair selain rambutnya itu. Dia cukup gila untuk menerobos masuk ke dalam asrama putri tanpa izin.
Setelah mendengar kabar buruk itu dari Reno, tanpa pikir panjang Zack menghambur ke Blizaga. Dia beruntung tidak digebuki—hanya beberapa jeritan terkejut para gadis. Ia sampai di kamar nomor 44—kamar Tifa, masih utuh.
Zack bertemu Yuffie di depan pintu. Katanya, Tifa sakit. "Kalau kau benar-benar ingin membuat Tifa merasa baikan, belikan "mantol sweepy" … Sekalian makanan kecil kalau bisa," begitu titah gadis Wutai itu. Kepanikan Zack menguasai pikirannya. Pokoknya, tahu-tahu ia sudah berlari meninggalkan area ShinRa. Tanpa kendaraan, tidak bawa payung pula. Dan, yah, beginiliah ia berakhir. Berlari-lari panik di pinggir jalan, kehujanan, dan rambut natural spiky-nya itu jadi bahan tontonan orang. Dan celingukan. Untung pikiran Zack tidak sampai pada kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada dirinya sekarang adalah kesialan yang lain. Bisa ngomel-ngomel lagi nanti.
"Hei... lagian mantol sweepy itu apaan?!" Zack nyadarnya telat.
Saat akhirnya otak Zack bisa bekerja normal, ia memutuskan untuk menanyakannya pada orang-orang sekitar. Tapi ia harus mempertimbangkan ulang, orang-orang di jalan itu melempar pandangan curiga, sih.
Zack berpaling pada sebuah kios kecil tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Permisi,"salam laki-laki itu saat ia menyibak kain di atap kios yang rendah. Ia mencari pemilik kios itu. Aha, di sana. Perempuan itu sedang berdiri memunggunginya.
"Permisi, Nona," ulang Zack lebih keras. Mungkin suara hujan mengalahkan suaranya tadi.
Gadis itu berbalik. Sebuah senyuman ramah menyambut pemuda bermata biru itu. Ketulusan dalam senyum simpul itu memancing senyum Zack.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya si stallholder sopan. Dalam sekejap, Zack langsung mengagumi sosok di hadapannya. Perempuan itu masih sangat muda, mungkin baru 14-15 tahun. Namun pembawaannya pantas layaknya gadis dewasa.
Sekarang pemuda itu jadi bingung sendiri harus menyebut dirinya apa di depan si gadis kecil.
"Abang mau tanya sesuatu."
Zack nyaris batuk-batuk. Okedeh, 'abang' itu sesuatu banget. Ada yang lebih jelek lagi nggak?
Anehnya perempuan bermata bening itu tidak terganggu.
"Tahu apa itu mantol sweepy?"
Pertanyaannya meredupkan binar mata perempuan itu. 'Orang ini bukan datang untuk beli daganganku, ya,' mungkin batinnya demikian. Feeling Zack yang cukup tajam bisa melihatnya.
Karena merasa bersalah, Zack akhirnya berusaha mencari tahu apa yang dia jual. Matanya melebar.
"Tunggu dulu, kamu jual bunga?" tanyanya tak percaya. Si penjual bunga memiringkan kepalanya.
"Benar … Bang."
…
Di-dia benar-benar memanggilnya Abang.
"Bunga asli?" wajah Zack kusut waktu menanyakan ini.
"Ya. Semuanya."
"Kamu menanamnya sendiri?"
"Setiap tangkainya," senandung gadis itu riang.
Zack jadi heran. "Tapi bunga tidak tumbuh di Midgar."
"Itu karena orang tidak pernah mencoba menanamnya. Padahal sebenarnya ada yang bisa tumbuh dari tanah ini," jelas si gadis, "dan memberi kebahagiaan." Senyumnya mekar dengan indahnya. Ia berpaling pada bunga-bunga kuning dan putih miliknya, memandangi mereka lembut penuh sayang.
Si brunette ini pasti menganggap bunga adalah bagian hidupnya. Dan itu membuat Zack semakin tertarik padanya.
"Mau cium baunya?"
"Oh, ya, kalau boleh," jawab Zack. Ia memperhatikan si anak gadis mengambilkan dua tangkai bunga.
"Silakan," katanya. Zack meraih bunga-bunga itu dengan hati-hati. Jangan sampai tangannya merusak kecantikan mungil itu. Mungkin saja bunga-bunga itu satu-satunya yang tidak membuatnya sebal Jumat itu.
Ia menghirup wangi bunga-bunga itu dalam-dalam.
"Huh?"
Ekspresinya berubah aneh. Zack jarang menemukan bunga, tapi dia tahu, bunga yang wangi tidak begini aromanya.
"Bagaimana? Wanginya asli, kan?"
"Well, wanginya… Ganjil."
Perempuan itu hanya tertawa kecil.
"Bukan bagaimana wangi aromanya yang penting, tetapi bagaimana aroma itu menjadi tanda bahwa bunga ini hidup. Bunga plastik kan tidak mungkin punya aroma. Iya, kan?"
Alis Zack terangkat. "Ah, jadi itu maksudnya." Kemudian ia ikut tertawa. "Aku suka filosofi itu."
"Ya, saya juga. Ibu saya yang mengatakannya, dulu waktu saya masih kecil," kenang si gadis. Wajahnya bersemu merah. Dara itu telah mengatakan hal yang tidak perlu. Sebaliknya, Zack jadi makin tertarik. Seperti anak kecil yang minta dibacakan dongeng sebelum tidur, mata Zack melebar penuh rasa ingin tahu.
Gadis muda itu tersipu-sipu. Tentu saja. Gadis remaja mana yang tidak malu kalau seorang pemuda gagah, berwajah tampan, berperangai menyenangkan, memandangi wajahnya lekat? Apalagi kalau mata pemuda itu sebiru samudra.
"Oh," tatapan Zack itu berhenti saat ia mengingat sesuatu. "Abang—Kakak—aku belum tahu namamu. Ehm. Baiklah. Sebaiknya aku memperkenalkan diriku dulu. Hai. Namaku Zack Fair. How do you do?" Zack tebar pesona dengan mengangkat alisnya dan memperlihatkan giginya. Bukannya terpesona, si penjaga toko malah mentertawainya lagi.
"Apanya yang lucu?"
Gadis itu berusaha mengerem tawanya. "Maaf. Hihihi. Tidak ada yang lucu. Hihi."
"Kenapa tertawa?" tanya Zack penuh antisipasi. Zack meraba rambutnya. Mungkinkah mereka mencuat ke arah yang salah? Lidahnya menelusur gigi-giginya. Apa ada sisa makanan yang terselip? Tidak ada tuh.
"Karena saya senang."
"Senang?"
Ia mengangguk.
"Baru Anda pengunjung yang mengajak saya bicara. Sudah lama saya tidak diajak bicara oleh pengunjung yang mampir. Akhir-akhir ini orang-orang terlalu sibuk untuk memikirkan apapun selain dirinya sendiri," jelas si penjual bunga itu murung. "Kadang, saya merasa kesepian."
Zack bergumam simpati.
"Aku mengerti. Kamu senang, kan, diajak ngobrol orang ganteng?" gurau si cowok. Gadis mungil itu tertawa lagi. Zack malah jadi keasyikan. Dia menciptakan beberapa lelucon lain sampai lawan bicaranya tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah beberapa saat, tawa mereka reda. Zack pun pamit.
"Well, tak akan ada habisnya kalau kita melanjutkan obrolan ini." Zack mundur selangkah untuk menyibak kain penutup kedai. Lanjutnya "lihat, nggak terasa hujan sampai sudah reda."
"Ya."
"Jam berapa kamu tutup?" tanyanya lagi sambil mencari-cari sesuatu di saku celananya.
"Setelah matahari terbenam."
"Sebentar lagi ya?" Sekali lagi pemuda itu mengamati kios. "Bunga-bunganya masih banyak."
Stallholder itu mengangguk lesu. "Memang biasanya sepi kalau hari hujan."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku beli semuanya? Orang tampan itu penglaris yang ampuh, lho."
"Boleh saja," ucap remaja itu setengah terkikik. Dara itu bergerak ke rak-rak bunga untuk memunguti bunga-bunganya. Dengan rapi ia membungkus mereka.
"Satu tangkainya berapa?"
"Satu gil."
Zack kaget. "Satu gil?"
"Ada dua puluh tiga tangkai. Semuanya jadi dua puluh tiga gil."
Zack menyerahkan beberapa lembar uang.
"Kecantikan langka ini jelas bernilai lebih. Kalau aku, sih, pasti sudah kujual seratus gil per mahkota. Satu bunga enam ratus gil! Hm!" tandas pemuda tinggi itu.
"Kalau begitu caranya, tidak akan ada yang beli," timpal si pedagang sambil menyerahkan uang kembalian.
"Tidak usah. Simpan saja kembaliannya."
Zack menghiraukan protes kecil sang gadis tapi masih menghadap gadis itu. Selanya, "besok kau buka lagi?"
Perempuan itu mengangguk. "Setiap hari."
"Bagus," ujarnya senang. Setelah itu Zack langsung berbalik. "Kalau begitu, sampai jumpa besok."
Sosok tinggi besar itu pun menghilang. Hanya beberapa saat, sebelum kepalanya menyembul lagi.
"Eh iya, siapa namamu tadi?"
Kalaupun nanti Zack lupa namanya, senyuman manis sang gadis itu tidak akan pernah ia lupakan.
"Aerith. Nama saya Aerith Gainsborough."
Dan hari terburuk Zack pun seketika berubah oleh sebuah pertemuan yang akan mengubah hidupnya.
.
.
=xoxo=
"I'm Aerith, the flower girl. Nice to meet you."
-Aerith, FFVII-
=chapter4ends=
Di jagad raya ini, pada saat kau menduga tidak ada yang lebih buruk, biasanya terjadi yang lebih buruk lagi. —Kalimat yang saia sukai (karena memang benar adanya) dari novel Demon Thief karya Darren Shan ^^
Buat yang mau baca dan review terima kasih banyak ^^
