"Sejujurnya," Bokuto-san menggeliat tidak nyaman di dalam pikiran Akaashi. Jangan tanya mengapa pria itu tahu apa yang dilakukan pendahulunya di dalam kepalanya. Pokoknya, ada sensasi tidak nyaman yang menggeletik sekujur tubuhnya, "Bisa kita pakai cara lain yang lebih tidak menjijikkan?"
"Bisa," Kuroo-san menjawab santai. Mungkin karena Kuroo-san merupakan pendahulu Bokuto-san, dan jelas Kuroo-san mengenal Kesatria sebelum Akaashi itu lebih lama, pria muda berambut hitam itu seolah selalu tahu harus melakukan apa, "Kalau kita boleh membunuh naganya. Sayang sekali kita tidak boleh membunuh naganya."
"Kecuali," nada bicara Bokuto-san menjadi lebih cerah seolah ia baru saja menemukan ide yang sangat bangus dan lebih menyenangkan, "Akaashi punya ide lain. Hey, hey, hey, kau punya ide lain kan, Akaashi?"
Akaashi tidak mau menjadi orang yang suka menghancurkan harapan orang lain. Tapi, secara literal mereka berada dalam satu pikiran. Ketiganya berbagi pikiran yang sama dan pikiran mereka saling terjalin satu sama lainnya. Entah Bokuto -san yang sifat optimisnya keterlaluan atau bagaimana, tapi jelas sedari tadi Akaashi tidak bisa memikirkan cara lain selain jurus baru yang diajarkan Nekomata-sensei semalam.
Atau mungkin Akaashi sudah terlalu lelah sehingga kepalanya tidak bisa berpikir jernih. Mungkin ia bisa menemukan cara lain kalau ia diberikan waktu sedikit lebih lama. Sayangnya, matahari sudah tinggi di atas kepala dan entah bagaimana kondisi kesehatan Ratu Shirofuku saat ini di Istana.
"Tidak," Akaashi menjawab singkat, "Maaf," tambahnya karena ia merasa kurang sopan kepada dua pendahulunya itu.
"Sudahlah," Kuroo-san menepuk bahu Bokuro-san berkali-kali seolah sedang menghibur mantan Raja Fukurodani itu, "Rasanya tidak terlalu buruk kok. Tidak perlu dipusingkan."
"Kau sih sudah biasa!" Bokuto-san misuh-misuh, Kuroo-san hanya menatapnya sambil tersenyum sangat lebar, "Ini kan pengalaman pertamaku. Apakah rasanya sakit?"
"Kau terdengar seperti seorang gadis yang hendak kehilangan keperawanannya, Bro!" suara tawa Kuroo-san membuat kepala Akaashi yang awalnya sudah pusing menjadi semakin pusing.
"Well, memangnya kau pernah memerawani seorang wanita, Bro?" Bokuto-san bertanya dengan ketus. Untung saja Kuroo-san masih tertawa dan menganggap ejekan Bokuto-san adalah hal yang lucu. Beruntung Kuroo-san tidak menanggapi Bokuto-san secara serius. Akaashi tidak mau ada perang dunia yang terjadi di dalam kepalanya. Berapa banyak sel dan neuron yang akan jadi korban?
"Bokuto hanya gugup, Akaashi," Kuroo-san mengedipkan sebelah matanya, "Bukankah semua orang merasa gugup saat pertama kali melakukan sesuatu? Pertama kali bertarung, pertama kali membunuh orang, pertama kali memimpin, pertama kali melakukan se—"
"Aku paham," Akaashi memotong apapun yang hendak dikatakan pria berambut hitam itu. Akaashi berjalan dalam bayang-bayang yang diciptakan oleh tebing batu di sekelilingnya sehingga sang naga tidak bisa melihatnya. Di bahunya, bertengger burung hantu peliharaannya, yang mengelus pipi Kesatria Fukurodani itu dengan puncak kepala kecilnya, dengan penuh rasa sayang, "Jangan jauh-jauh, Owl. Aku akan membutuhkanmu," burung hantu hitam itu berkukuk pelan sebelum terbang rendah. Tetap dekat dengan Akaashi namun lebih tersembunyi dibandingkan posisi Akaashi berdiri.
Akaashi masih berdiri di balik tebing. Ia mencabut pedang dari sarungnya. Night Owl's Heavenly Punishment berkilat memantulkan cahaya matahari. Akaashi juga mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi racun untuk memperlambat gerak sang naga.
"Sejujurnya lebih mudah membunuh naga daripada hanya… memperlambatnya," Kuroo-san menghela napas, "Maksudku, aku jago loh membunuh naga."
"Aku tahu," jawab Akaashi singkat. Ia memilih untuk fokus melumuri bilah pedangnya dengan racun buatan Master Konoha. Akaashi menyimpan botolnya yang kosong, memastikan ia tidak akan memecahkan botolnya secara tidak sengaja. Ia butuh botolnya untuk menampung darah naga.
Akaashi kembali menghela napas. Langkah kakinya membawanya menjauh dari bayang-bayang, lebih dekat dengan tebing perbatasan. Naga Merah Perbatasan melingkari tubuhnya di dasar tebing. Jarak Akaashi tingga beberapa puluh meter. Lima langkah lagi maka makhluk itu akan mencium baunya.
Akaashi memandangi tebing yang terjal dan tinggi. Bebatuannya menonjol, berwarna gelap entah karena memang warnanya seperti itu atau karena ditumbuhi lumut. Bentuknya mengerucut sempurna, jarak antara bebatuannya cukup jauh. Dari tempat Akaashi berdiri, Akaashi tidak bisa melihat pijakan untuknya mendaki.
"Oya?" Kuroo-san tersenyum lebar. Tidak, bukan tersenyum. Menyeringai meremehkan. Matanya menyipit, sorotnya malas. Kedua manik hazel itu seolah tengah menatap Akaashi, dalam-dalam dan menyeluruh sebelum mengejeknya, "Kau takut, Kesatria Muda?"
.
.
Souls in Sword belong to Arleinne Karale
Haikyuu! belong to Haruchi Furudate
The Author does not take any financial benefits from this story. This story only exists purely for entertainment
An Alternate Universe, possibly out of character, lot of typos story with no actual pairing
Read at your own risk
.
.
Frasa itu mengingatkannya kembali pada Nekomata-sensei, pria tua gemuk yang tertidur dengan nyenyak di dalam guanya. Tidak terlalu ambil pusing apakah Akaashi akan selamat atau tidak. Toh menurut Nekomata-sensei, mencemaskan Akaashi pun tidak ada gunanya karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh mantan presiden itu untuk Akaashi.
Untuk seorang mantan presiden dari Republik tetangga, Nekomata-sensei memiliki pengetahuan tentang Kesatria yang sangat luas. Mungkin hal itu dipengaruhi karena 'murid' kesayangannya, seseorang yang sebetulnya sudah ia plot dan ia usung sebagai calon presiden setelahnya dulu merupakan salah seorang Kesatria. Atau mungkin karena ia rajin membaca buku dan pernah memiliki akses ke semua buku yang ada di dunia ini. Atau mungkin karena ia sudah hidup cukup lama sehingga ia tahu lebih banyak hal dibandingkan Akaashi.
Apapun itu, yang jelas Akaashi bersyukur ia sempat bertemu dengan Nekomata-sensei dan pria tua itu mau mengajarinya banyak hal tentang posisinya sekarang. Seperti misalnya trik-trik menarik dan trivia-trivia yang tampaknya tidak ada di dalam buku dan dua pendahulu yang bersemayam di dalam kepalanya belum memberitahu Akaashi soal hal itu. Contohnya saja, Owl ternyata bukan burung hantu biasa. Ia berasal dari telur burung hantu yang dierami oleh Naga Merah Perbatasan, yang memiliki kekuatan yang hebat. Siapa yang sangka?
Ingatannya kembali ke malam sebelumnya. Nekomata-sensei mengajarinya sebuah trik berpedang baru, yang hanya bisa dilakukan dengan pedangnya. Pria tua itu mengajarkan cara lain menggunakan Night Owl's Heavenly Punishment, yang niatnya ingin langsung Akaashi gunakan saat ini juga, "Ingat kau hanya bisa bertahan tujuh menit," suara Kuroo-san memenuhi benaknya.
"Menurutku hal itu tetap menjijikkan," Bokuto-san setidaknya sudah tidak menggeliat lagi. Ia berdiri tegak. Ia siap bertarung, "Ayo kita lakukan saja!" dalam bayangan Akaashi, pemuda berambut putih itu meninju telapak tangannya sendiri. Seringainya melebar, manik keemasannya membara karena semangat.
"Kau harus bisa memanjat tebing itu dalam waktu maksimal lima menit," Kuroo-san kembali mengingatkannya.
"Dan terbang dengan Owl sampai menghilang dari pandangan naga sebelum tujuh menit berakhir," Akaashi menghela napas. Owl masih terbang rendah tidak jauh dari sisinya, ia terbang beputar-putar. Tampaknya terlalu bersemangat untuk diam, tapi ia mengindahkan perintah Akaashi yang menyuruhnya agar selalu dekat.
"Akaashi, ayo kita selesaikan!" Akaashi bisa merasakan ketidaksabaran Bokuto-san yang sekarang mengaliri tungkai-tungkainya. Adrenalinnya mengalir deras dalam pembuluh darah. Antusiasme Kuroo-san pun bisa ia rasakan biarpun samar. Apabila dibandingkan dengan semangat Bokuto-san, emosi Kuroo-san hanya seperti bayangan bulan jika di sandingkan dengan matahari.
"Santai, Bro," Kuroo-san seolah menahan tubuh Bokuto-san yang mulai melonjak-lonjak di tempat dengan kedua tangan yang terkepal di depan dada dan cengiran lebar di wajahnya yang pastinya membuat pipinya sakit, "Biarkan Akaashi memutuskan untuk dirinya sendiri."
Terkadang Akaashi merasa kalau diantara kedua pendahulunya itu, Kuroo-san lah yang paling pengertian. Tapi Akaashi terlalu sering disadarkan kalau sebetulnya keduanya sama-sama tidak jelas. Kuroo -san hanya lebih pandai menyembunyikannya dan menunjukkan sifat kerennya saja.
"Jangan buang waktu tujuh menitmu yang berharga," Kuroo-san kembali mengingatkan. Berdasakan cerita dari Nekomata-sensei—dan dari pengalaman pribadi Akaashi—Kuroo-san lebih berhati-hati dalam melangkah sementara Bokuto-san lebih banyak mengandalkan semangatnya, emosi, pengetahuan, dan pengalamannya—yang menurut Nekomata-sensei, masih hijau.
Akaashi bisa merasakan keraguan dalam diri Bokuto-san. Ada apalagi sekarang? "Hey, hey, hey, Akaashi!" entah mengapa Bokuto-san dan Kuroo-san tersenyum lebar. Menatapnya dalam, "Kau tidak takut kan?"
Akaashi menarik napas dalam-dalam. Ia menarik Night Owl's Heavenly Punishment dari sarungnya dan menerjang maju.
Sang Naga Merah menoleh ke arahnya.
Tidak lagi bisa bersembunyi di balik bayang-bayang tebing, Akaashi berlari mantap ke arah Sang Naga. Hewan buas yang besar itu mengaum keras. Tanah disekitar Akaashi bergetar. Ia berlari zig-zag, ke kanan, ke kiri, ke kanan lagi, ke kiri lagi, untuk menghindari cakar-cakar tajam dari reptil itu.
Akaashi berusaha menghindari batu yang terjatuh dari tebing di atasnya, namun ia kehilangan keseimbangan. Akaashi jatuh dengan wajah bertemu lantai batu terlebih dahulu. Kepalanya pening. Ia hanya sempat berguling saat merasakan panas api yang disemburkan oleh Sang Naga ke tempat dimana awalnya tubuhnya berada.
"Berdiri, Akaashi!" terlalu pusing merasakan rasa sakitnya dan terlalu bingung untuk berpikir untuk dirinya sendiri, Akaashi menjadikan pedangnya sebagai tumpuan, "Lari ke kiri," Kuroo-san dengan santainya memberikan perintah dan Akaashi mengikuti sarannya saja.
"Oya, Akaashi! Larimu lambat sekali sih," hidung Akaashi masih berdarah. Ia tidak mau mengambil risiko tersedak darahnya sendiri kalau ia mendengus. Tapi komentar Bokuto-san barusan bisa dibilang menyebalkan dan tidak membantu kondisi Akaashi sekarang.
"Grrrrrrrr!" tampaknya Sang Naga mulai kesal karena targetnya belum musnah juga. Akaashi menahan cakar Sang Naga yang nyaris menebasnya. Dengan sekuat tenaga, ia menghempaskan pedangnya berikut tangan Sang Naga. Hal itu malah membuat musuhnya semakin marah, "Groaaaaaaaaaaar!" api jingga itu nyaris membakar Akaashi kalau saja refleks Akaashi tidak langsung bersembunyi di balik batu.
"Oya! Kau membuatnya semakin marah, Akaashi!" Bokuto-san kembali berkomentar hal yang tidak penting. Akaashi, yang terlalu terfokus menyelamatkan dirinya tidak terlalu berniat memberikan jawaban atas keluhan pria berambut putih-abu-hitam tersebut. Manik gelapnya menyipit, mengawasi Sang Naga yang mencari-cari dirinya sambil meraung marah.
"Kita sudah hampir dekat dengan sasaran," Kuroo-san, menjadi salah satu yang lebih berguna dari yang lainnya, bersuara. Ia melakukan perhitungan di dalam kepalanya, "Hujamkan pedangnya dalam-dalam dan segera Tarik kemudian baca mantranya."
Berbicara itu memang lebih mudah daripada melakukannya.
Napas Akaashi pendek-pendek ketika ia melewati lantai batu. Langkah kakinya yang tergesa membawanya lebih dekat ke dasar tebing. Sang Naga menoleh begitu Akaashi keluar dari persembunyiannya. Ia meraung. Ia kembali menyemburkan api.
Akaashi berguling di tanah, ia meloncat ketika raungan sang naga membuat batu-batu besar bergelinding ke arahnya. Akaashi tidak berlari dalam jalur lurus karena itu akan mempermudah sang musuh melemparkan senjatanya. Akaashi melakukan roll up kemudian kembali meloncati batu. Ia menepis cakar sang naga lagi.
Tangannya mulai mati rasa. Punggungnya sakit tidak terkira.
Dalam jarak dekat, ukuran kaki Sang Naga jelas lebih besar daripada yang ia bayangkan. Akaashi sempat ragu apakah pedangnya mampu menembus kulit bersisik yang tampaknya sangat tebal itu. Akaashi menghujamkan Night Owl's Heavenly Punishment.
Sang Naga meraung kesakitan. Jeritannya memekakkan telinga.
Pedangnya yang berlumuran darah ia pegang di depan dada. Ujung bilahnya yang tajam seolah membelah langit. Di antara tetesan darah yang menghiasi bilanya, Akaashi bisa melihat pantulan dirinya, "Portare, animas in gladio!" Akaashi berbisik pada pedangnya. Night Owl's Heavenly Punishment mulai berasap. Substansi merah seolah tersedot ke dalamnya karena tidak ada lagi darah yang menetes ke atas tanah, "Fiat tantum pax cum fiunt!" Akaashi melempar pedangnya ke udara.
Dua orang pria muda berdiri di tempat pedangnya seharusnya berkelontang. Berlumuran darah Naga dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Keduanya memiliki model rambut yang tidak normal, karena rambut mereka berdiri menentang gravitasi hampir semua helai.
Naga, sebagai seekor predator, lebih tertarik mencium bau darah dibandingkan bau Akaashi, sekalipun itu adalah darahnya sendiri, "Iyuuuuuh! Jijik banget sih, Bro!" Bokuto-san, persis seperti apa yang ada di pikiran Akaashi mengibaskan kepalanya, tangannya, dan bajunya. Ia mengenakan pakaian khas Kesatria, seperti milik Akaashi namun dikepala bertengger mahkota emas.
"Sabar, Bro!" Kuroo-san menepuk bahu mantan Raja itu. tubuhnya tinggi dan langsing, mengingatkan Akaashi pada jaguar, "Kalau kita lari juga darahnya nanti hilang. Kan ketiup angin," Sang Naga mengaum. Kedua pendahulu Akaashi itu langsung lari.
"Tujuh menit, Akaashi!" Akaashi masih sempat mendengar suara Bokuto-san sebelum ia mulai memanjat, "Semoga darahnya sudah hilang. Ini iyuh banget tahu gak!"
Akaashi memanjat tebing, berusaha tidak menarik perhatian Sang Naga. Ia meletakkan satu kaki diatas batu kemudian menyeret kakinya yang lain, kedua tangannya mengangkat tubuhnya ke atas. Semakin jauh dari tanah, semakin dekat ke puncak, "AKAAAAAAAAAAASHIIIIIIIIII!" Ia bisa mendengar teriakan Bokuto-san, sepertinya waktunya hampir habis.
Untung Akaashi tidak terlalu kehabisan napas begitu sampai di puncak. Ia perlu memanjat pohon Delima Ruby untuk memetik buahnya. Dengan tubuhnya yang terbilang kecil dan kurus, memanjat pohon bukan masalah baginya. Masalahnya adalah teriakan Bokuto-san yang terus-terusan memanggil namanya seolah bunyi detakan jarum jam yang menghitung mundur waktunya, "AKKKKAAAAAAAAASHIIIIII!" suaranya lebih dekat dari yang Akaashi bayangkan.
"WAKTUMU HABIS, AKAASHI!" teriakan Kuroo-san nyaris membuat Akaashi menjatuhkan Delima Ruby yang ia pegang.
Akaashi perlahan menuruni pohonnya. Sang Naga masih jauh di sana, tapi Akaashi bisa melihat kilauan cahaya matahari yang dipantulkan oleh bilah pedangnya, "Akaashi, kesadaranmu semakin menipis," Kuroo-san mengingatkan. Tebing dan tanah seolah berputar dibawah kaki Akaashi. Langit biru diatasnya perlahan berubah menggelap, "Baca manteranya!" Kuroo-san memberi perintah.
Embusan angin membuat Akaashi mampu berpikir jernih selama beberapa detik. Hanya ada dua hal lagi yang bisa ia lakukan sekarang, "OWL!" Akaashi mengangkat tangannya dan burung hantu hitam itu menyambarnya. Mereka terbang, melayang diudara. Perut Akaashi bergejolak, makanan yang ia santap kemarin malam seolah berlomba merangngkak ke kerongkongannya untuk keluar dari mulutnya.
"Lassitudinem requiem tuam extendas ad caput,"dengan napas terengah Akaashi menyebutkan larik mantranya, "Nolite flere non est!" sarung pedangnya terasa lebih berat.
Semuanya berubah sehitam langit malam.
.
.
To be Continued
.
.
Curhatan Arleinne:
Ketemu lagi di chapter 4 UvU
Seperti yang udah dibilang dari 2 chapter sebelumnya, mulai ada aksi. Tapi rasanya kayak kurang greget ya aksinya /orz. Ngebayangin Kuroo dan Bokuto berlumuran darah entah kenapa malah kebayang mas-mas di film aksi macam Mission Impossible yang seksi abis kalo berlumuran darah /abaikan
Ah ya, soal manteranya, literal translatenya adalah:
Carry on, Souls in Sword
There will be piece when you are done
Lay your weary head to rest
Don't you cry no more
Sebuah penggalan lagu berjudul Carry on My Wayward Son (lirik Carry on, My Wayward son diubah menjadi Carry on, Souls in Sword) oleh Kansas.
Untuk membalas review non-login Tekoteko-san: sejujurnya kusuka baca review yang capslock semua karena berarti review-ernya bersemangat(?) Terima kasih banyak sudah mampir membaca bahkan menyempatkan mereview loh. TERHARU *ini anak gampang terharu emang* Omong-omong tanggal 2 Februari hari saya beneran lancar, di traktir temen dan makan enak(?) /gapenting. SEKALI LAGI, TERIMA KASIH BANYAK ATAS REVIEWNYAAA JANGAN LELAH MEMBACA INI YAAAH
(MUNGKIN) Chapter depan ada sebuah kejadian yang tidak terlalu disangka-sangka. Yah, who knows… Spoilernya, Akaashi gak mati kok, guys. Aru juga gak tega bikin makhluk seindah dia mati mengenaskan. Stay tuned, Guys. Semoga masih sesuai rencana yah dan selalu ada niat untuk update *nyilang jari*
Ah ya, terhitung minggu ini Aru udah kembali ke rutinitas lagi. Jadi… nulisnya… gitu… *menangis sedih*
Ada saran, kritikan, masukan? Ada keluhan, curhatan, kisah yang ingin diungkapkan? Silakan isi kotak review-nya, Teman-Teman Sekalian. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
