Disclaimer = keduanya bukan buatan ane.

Hapyy reading minna-san :*

Bangkit?

Sial, kenapa akar - akar ini tiada habisnya? Dari tadi aku sudah memotongnya dengan sihir airku atau membekukannya dengan sihir es-ku, tapi tetap saja akar - akar ini selalu muncul lagi. Bahkan dalam jumlah yang lebih banyak.

"Naru-" Cih. Aku geram sekali dengan akar - akar ini. Selalu saja menggangguku. Di tambah dengan tindakan bodoh Naruto-kun yang lari menerjang akar - akar tersebut. Entah apa tujuannya. Mungkin munuju si pengendali akar - akar ini. Ya siapa tau.

"Khukhukhukhu..."

"Siapa kaum? Tunjukan dirimu!" Entah suara tawa siapa, tapi yang jelas itu membuatku tambah kesal juga aku yakin dialah yang menjadi biang keladi semua ini.

"Jangan marah begitu, nona cantik."

Dari depanku muncul seseorang yang memakai jubah hitam dengan wajah yang tertutupi tudung jubahnya dan seringai yang membuatku muak. Tanpa basa - basi aku langsung melancarkan seranganku yang berupa puluhan jarum es yang ukurannya cukup besar.

Orang yang ada didepanku tak bergeming melihat seranganku, malah dia mempelebar senringaian menjijikkannya itu.

Duar!

Ledakan terjadi saat seranganku mengenai orang misterius tersebut. Membuatku tersenyum untuk sementara waktu karena mengira ia sudah mati, tapi...

"Sial!" Tiga buah akar menerjang ke arahku dari balik asap yang mengepul dan membuatku harus menghindarinya dengan melompat ke samping. Karena kalau aku menggunakan sihirku untuk berlindung, aku jamin aku tidak akan kuat bertahan melawan orang ini cukup lama. Karena tenaga sihirku hampir habis saat orang sialan ini belum datang.

"Khukhukhu kau cukup tangguh juga ya nona." Berhentilah meremehkanku sialan, jangan tunjukan seringaian menjijikanmu itu padaku.

Karena kesal, aku langsung menembakan beberapa bola air dari tangan kananku. Tapi lagi - lagi seranganku ditahannya. Akar - akar yang ia kendalikan menyerap kekuatan sihirku hingga membuat bola air yang kuciptakan menghilang tanpa jejak.

Ya, aku mengetahui bahwa akar akan menyerap air, tapi proses yang dibutuhkan tidak instan seperti yang ia perbuat. Apa akar - akar ini...

"Ughhhh..." menyerap sihir...

Sial... Kakiku terjerat salah satu akar miliknya, tiba - tiba saja badanku menjadi lemas... Tidak bertenaga... Apakah ini akhir dari hidupku? Tidak, aku tidak boleh menyerah! Aku harus tetap hidup, untuk melakukan hal itu...

"Na...ruto-kun... Tolong... Aku..." Gumamku sebelum kegelapan mengambil alih penglihatanku dari seringaian orang menjijikan yang kini makin mendekatiku...

"Hyaaa! Lepaskan tuanku bangsat!" Teriakan Naruto bergema di padang bunga tersebut. Tangan kanannya mengepal dengan kuat saat akan meninju wajah orang bertudung yang ada di depannya tersebut.

Seringaian orang yang menyekap Hinata dengan akar - akar miliknya bertembah lebar saat melihat Naruto dengan berani atau bodohnya melakukan serangan langsung padanya. Tangan kanannya mengangkat setinggi dadanya sambil mengarahkan telapaknya ke arah Naruto. "Kau bodoh!" Setelah ejekannya kepada Naruto, lima buah akar keluar 50cm di bawah pijakannya dan berhasil menghalau tinjuan dari Naruto.

"Aw! Aw! Aw! Sakit! Sakit! Sakit!" Naruto mengibas - ngibaskan tangan kanannya sambil melompat ke sana ke mari untuk mengurangi rasa sakit akibat tangan kanannya berbenturan dengan akar yang keras milik musuhnya. "Hei! Kau curang! Tidak gentelman! Kalau berani lawan aku dengan tangan kosong. Bukan dengan ben-" Umpatan Naruto terhenti karena ia harus segera melompat ke samping kirinya untuk menghindari serangan mendadak dari pria akar yang menjadi musuhnya itu.

"Bodoh! Ini pertempuran dunia supranatural, bukan pertandingan resmi di ring. Jadi sudah wajar jika aku menggunakan kemampuanku, kuning bodoh." Orang yang menyekap Hinata berucap dengan nada merehkan sambil terus mengendalikan akar - akar miliknya untuk menyerang Naruto.

"Cih!" Naruto mendecih sambil menghindari akar - akar yang mengejarnya. Ia melompat, berlari, dan kadang - kadang tiarap untuk menghidar.

"Kurasa sudah cukuo bermainnya." Kedua tangannya mengepal di depan dadanya, mirip seperti orang berdo'a. Mulutnya berkomat - kamit layaknya dukun. Tanah yang ia pijak retak kedalam tanah. Puluhan akar bergerak liar di belakang badannya. "Matilah kau, kuning bodoh!" Bersamaan dengan perintah tuannya, puluhan akar itu bergerak dengan sangat cepat kearah Naruto, lebih cepat dari akar - akar yang pernah menyerangnya. Di tengah perjalanan menuju Naruto, akar - akar tersebut berubah menjadi naga. Melesat ke arah Naruto.

Wush! Angin lembut menerpa wajah Naruto. Membuatnya sadar akan ke takjubannya kepada serangan lawan dihadapannya itu. "Sial..." Naruto menutup matanya rapat - rapat saat menyadari tidak ada waktu lagi untuk menghindar dan...

Duagh! Nagar yang terbuat dari akar - akar tersebut menabrak Naruto sangat keras. Saking kerasnya membuat Naruto terpental sangat jauh dari tempatnya berdiri. Setelah berguling - guling dan tertancap duri - duri dari bungan yang ada di sana, Naruto akhirnya berhenti dengan tubuh yang terlentang menghadap langit.

'Sial! Maaf Hinata aku tidak bisa menyelamatkanmu...' Mulutnya yang berdarah membentuk sebuah senyuman, senyum getir.

"Khukhukhu... Hebat juga kau, bisa bertahan menerima seranganku yang satu itu. Tapi..." Orang bertudung yang menyekap Hinata mulai mendekati Naruto perlahan dengan seringaian yang tidak pernah lepas dari wajahnya itu. Saat sudah berjarak cukup dwngan Naruto, kira - kira 5 meter, tangan kanannya mengacung tinggi ke atas, di ikuti dengan sebuah akar yang ujungnya lancip seperti mengikuti orang tersebut. "Kau harus mati..." Bersamaan dengan tangan kanannya yang jatuh di depan dadanya, akar yang berada di depannya dengan ujung yang tajam yang mengarah ke langit, jatuh menuju dada kiri Naruto yang kini tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Gelap... Apa aku sudah mati? Aku harap kali ini aku bisa tenang... Bisa bertemu dengan ke-dua orang tuaku. Walau aku tahu aku tidak akan masuk ke surga, karena aku ini seorang iblis...

"Gaki... Oy, Gaki..."

Su-suara itu... Kuro! Mataku langsung terbuka saat mendengar suara yang familiar di telingaku ini. Sekarang aku sedang berada di tempat pertama kalinya aku bertemu dengan Kuro. Kuil yang berada di puncak gunung dengan angin kencang yang berhembus disekelilingnya. Kuro saat ini tidak terbang seperti sebelumnya. Kini ia sedang berdiri dengan ke-empat kakinya di depanku.

Tapi kenapa aku disini?... bukannya aku sedang bertarung dengan orang misterius yang menyekap Hinata? Hinata?... Tunggu dulu... Sekarang Hinata dalam bahaya... Bagaimana caranya aku menyelamatkannya...

"Apa kau akan menyerah begitu saja, gaki?"

"Ku...kuro..." Aku tundukan kepalaku ini, menyembunyikan ekspresi menjijikan yang kubuat saat ini. "Aku... Sebenarnya aku ... aku... aku ingin menyelamatkan orang yang telah membuatku hidup kembali... tapi... aku terlalu lemah... saking lemahnya aku tid-"

"Apa kau lupa denganku?" Kucing besar dihadapanku memotong keluhan yang mulutku lontarkan. "Kau masih ingatkan, bahwa aku ini adalah Sacred Gear? Senjata yang bisa menyaingi Tuhan?"

Mataku membelalak, melebar mendengar penuturan Kuro yang ke-dua kalinya mengakui bahwa ia salah satu senjata yang hebat. Bagaimana aku bisa lupa dengannya? Tapi tunggu...

"Ta-tapi Kuro... bukankah aku..."

"Tenaglah gaki. Aku akan meminjamkan sedikit kekuatanku padamu. Mungkin cukup untuk menghajar orang itu." Kaki kanan depan Kuro menunjuk ke arahku. Perlahan dari sana keluar cahaya biru yang menyilaukan mataku ini. "Tapi ingat. Untuk selanjutnya berlatihlah untuk menguasai kekuatanku dengan usahamu sendiri."

Aku mengangguk, tanda menyetujui ucapan Kuro. Cahaya biru yang dipancarkan oleh kaki kanan depan, milik Kuro terus bertambah intensitasnya. Membuat mataku menjadi silau...

Wing!

"Ke-kenapa bisa?" Shock. Orang bertudung tersebut shock karena serangannya seperti tertahan sesuatu tak kasat mata. Bukan dari sihir pelindung, karena sihir pelindung akan terlihat pola sihirnya saat bertabrakan dengan serangan. Lagi pula, sihir pelindung dapat di tembus dengan mudah oleh akar miliknya, karena akar miliknya dapat menyerap sihir lain selama sihir itu tidak bersifat tajam. Lalu apa? Apa yang melindungi musuhnya dari akar yang ia miliki? Keajaiban? Mungkin saja. Siapa yang tau.

Wing!

Matanya kembali membesar saat melihat asal suara bising yang mengganggu telinganya itu. Di tangan kanan musuhnya yang kini tergeletak tidak berdaya, atau lebih tepatnya di cincin hitam yang musuhnya miliki itu, angin sedang berkumpul disana, membentuk sebuah pola lingkaran yang tidak beraturan. Beradu sehingga menimbulkan suara bising yang memekakan telinga orang yang mendengarnya.

"Si-siapa kau sebenarnya...?" Naluri yang ia miliki menyuruhnya untuk mundur beberapa langkah dari hadapan musuhnya yang kini melayang. Melayang melawan gravitasi dengan bantuan angin halus yang mengangkat tubuhnya.

"Aku?" Pemuda bersurai pirang tersebut bertanya lagi entah kepada siapa masih dengan mata yang terpejam. Perlahan namun pasti, kedua kakinya menginjak tanah dengan lembut, turun dari udara. "Aku hanyalah se-orang Knight dari iblis cantik bernama, Hinata Sitri." Dengan suara yang kalem ia berucap, bersamaan dengan terbukanya kelopak mata yang menyembunyikan mata biru laut miliknya. Tapi tunggu dulu... Mata birunya kini bersinar terang... Bersinar di kegelapan malam dengan iris hitam vertikal... Memandang orang yang telah menyakiti majikannya dengan tajam... Membuat bulu kuduk siapa oun yang melihatnya menari ketakutan...

"O-omong kosong. Mati saja kau!" Puluhan akar yang berada dipijakan orang bertudung tersebut menerjang dengan cepat orang yang berada dihadapannya.

Wush! Bersamaan dengan tangan kanannya yang di ayunkan dengan lembut ke arah depan, akar akar yang menuju ke-arahnya terhenti oleh tekanan angin yang membentuk sebuah dinding tak kasat mata. "Sekarang giliranku!" Naruto berucap dengan dingin. Sedingin udara malam saat ini. Sedingin matanya yang bagaikan lautan yang membeku.

Tekanan udara yang menghadang laju akar akar dari lawannya tersebut, perlahan berubah menjadi pisau angin yang mencingcang - cincang puluhan akar milik orang bertudung tadi. Yang sekaligus menuju pemiliknya. Melihat akar akar miliknya tercincang - cincang, orang bertudung tersebut langsung melompat kesamping mencoba menghindar dari pisau - pisau angin yang menerjangnya.

Buagh!

Belum sempat tubuhnya menderat dengan sempurna di tanah, tiba tiba saja pipi kanannya terpukul oleh tinjuan keras tangan kiri Naruto, yang entah sejak kapan sudah berada disana. Membuat orang bertudung tersebut terpental beberapa meter dengan bada yang berputar.

Swing! Swing!

"Mati kau!" Dua buah pisau angin yang berbentuk bulan sabit Naruto lepaskan dari kedua tangannya. Menuju orang berdutung yang kini duduk bersandar di sebuah batu yang ada di padang bunga tersebut dengan cepat.

Boom!

Ledakan terjadi ketika serangan Naruto berhasil mengenai orang bertudung tadi, menyebabkan kepulan asap yang menghalangi jarak pandangnya kepada musuhnya tersebut.

'Apa aku berhasil?' Tanya Naruto dalam hati. Karena ia masih ragu akan serangannya dengan mudah bisa menghabisi lawannya tersebut.

"Khukhukhu, serangan yang cukup berbahaya nak." Seseorang yang bertudung lainnya muncul dari kepulan asap sambil membopong temannya, orang yang Naruto lawan barusan. "Tenanglah nak, aku kesini untuk membawanya ke pengadilan. Karena ia sudah bertindak sewenang wenang disini." Melihat gelagat Naruto yang siap menyerang dirinya, orang bertudung yang baru datang menjelaskan maksudnya datang ke sana.

"Baiklah."

"Terimakasih sudah memudahkan misiku ini, nak."

"Yap."

"Nah, kalau begitu, aku pamit dulu. Semoga kita bertemu di lain hari. Jaa." Kedua orang yang berada di depan Naruto hilang bersamaan dengan cahaya yang menyilaukan mata.

Bruk! Tubuh Naruto tiba - tiba ambruk ke tanah setelah cahaya menyilaukan tersebut hilang. Meninggalkan dua muda mudi yang kehilangan kesadaran di padang bunga yang indah dengan bulan yang kembali bersinar setelah bersembunyi dibalik awan hitam.

TBC

A/N : gimana chap ini? Semoga cukup memuaskan.

Maaf bagi yang minta dipanjangin wordsnya, saya belum bisa. Karena sebentar lagi saya mau menghadapi UN. Jadi untuk itu, saya mempercepat update dengan words yang sedikit juga untuk meminta do'a dari para readers sekalian untuk kelancaran dam kelulusan saya.

Bye :*