Flashback Chapter 3
"A-ada apa Minako-chan?."
"Kau tidak akan menerima misi ini kan?."
"Tapi hanya ini misi yang tersedia untuk hari ini."
"TIDAAAKK, aku tidak mau berhadapan dengan kucing lagi." Teriak Minako histeris yang membuatku sweetdrop.
Ya benar misi itu adalah mencari kucing milik salah satu penduduk yang hilang, hah sepertinya ini akan menjadi misi yang panjang."
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
NINJA ART ONLINE © SHERRYSAKURA99
INSPIRED by SWORD ART ONLINE
Warning: OC, Typo, OOC, jika ada kesalahan atau anda tidak mengerti dengan jalan ceritanya mohon dimaklumi, karena saya dalam tahap belajar.
Genre: Adventure, Friendship, Romance, Humor (mungkin, walau humornya agak garing)
Rate:T
Chapter 4: First Big Boss
31/12/2030
-10th Floor, Wind State: Sunagakure Village-
Hari ini adalah malam tahun baru, tapi kami masih belum punya petunjuk tentang keberadaan big boss lantai ini. Aku sekarang sedang duduk di kamar tempat kami menginap sambil membaca baik-baik pesan yang berisi teka-teki dimana letak dari big boss.
'Aku berada di sebuah tempat, dimana tempat itu berada di tengah-tengah padang kematian, tempat dimana orang-orang sangat membutuhkan tempat berteduh, dan tempat yang dialiri sumber kehidupan.'
"Berapa kalipunku baca, aku sama sekali tidak mengerti." Teriakku frustasi sambil mengacak-ngacak rambutku.
Aku menidurkan kepalaku dikasur sambil memandang langit-langit kamar, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku.
Tok…Tok…Tok
"Siapa?." Tanyaku.
"Ini aku Minako, boleh aku masuk Naruto-kun?."
"Oh Minako-chan, masuklah tidak dikunci kok."
Minako masuk kedalam kamarku dan langsung melihat kearahku yang masih menidurkan tubuhku diatas kasur. Dia mendekat kearahku lalu duduk disampingku.
"Masih memikirkan teka-teki itu?." Tanya Minako padaku.
"Ya, ternyata ini lebih susah dari yang ku bayangkan."
"Bagaimana kalau kau ikut aku."
"Kemana?."
"Tentu saja mencari petunjuk, kita bisa tanyakan sesuatu pada Sherry-san."
"Tapi apa dia akan memberi petunjuk pada kita?."
"Kita coba saja Naruto-kun." Minako berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju kearah pintu.
"Ayo kau mau ikut atau tidak?." Tanyanya padaku.
Aku menghela nafas lalu mengikuti Minako yang saat ini sudah keluar dari kamarku. Kami berjalan di sekitar pertokohan desa Sunagakure dan sampailah kami di depan rumah yang bertuliskan "Information", kami masuk kedalam rumah itu dan mendapati Sherry sedang duduk di kursi yang berada diruangan itu sambil sesekali meminum teh yang ada di tangannya. Dia menghentikan acara minum tehnya ketikah melihat kedatangan kami.
"Ah Minako-chan, kau kesini rupanya, masuklah dan duduklah disini?." Perintah Sherry pada kami.
Kami hanya bisa mengikuti kemauannya dan duduk di depannya. Sherrypun beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil dua buah cangkir yang terdapat di lemari tak jauh dari tempat duduk kami lalu meletakannya didepan kami dan mengisinya dengan teh yang berada di teko. Oh ya dia juga memberi kami beberapa cemilan yang dia ambil di lemari penyimpanan.
"Silahkan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Arigato." Jawab kami bersamaan.
Aku meminum teh yang diberikan Sherry, sedangkan Minako lebih memilih memakan kuenya dulu baru meminum tehnya.
"Jadi ada apa kalian datang kemari?." Tanya Sherry pada kami.
"Ada yang ingin kami tanyakan, ini tentang teka-teki big boss." Jawab Minako.
"Ah tentang itu aku tidak bisa banyak membantu sih, tapi bisa aku lihat teka-teki itu seperti apa?."
"Baiklah." Minako membuka menu utamanya lalu menunjukan teka-teki itu pada Sherry.
"Sepertinya ini lumayan membingungkan ya." Komentar Sherry.
"Begitulah, aku sendiri tidak menemukan petunjuk yang berarti." Jawabku lalu meminum teh yang berada di tanganku.
Sherry terlihat diam sebentar seperti sedang berpikir begitu juga dengan Minako, aku sendiri juga diam sambil sesekali meminum teh yang dibuat oleh Sherry. Terjadi keheningan diantara kami bertiga sampai Sherry mulai membuka suaranya.
"Aku tidak tau ini bisa membantu atau tidak, tapi aku dapat informasi peta baru." Sherry mengambil sesuatu dari kantung bajunya dan melatakannya di atas meja. Ternyata itu adalah sebuah bola besi kecil. Dia menekan bola itu dan keluarlah sebuah peta 3D didepan kami.
"Ini adalah peta dari lantai 10, hampir semua sih yang terbuka." Ucap Sherry.
"Dari mana kau mendapatkannya Sherry-san?." Tanya Minako pada Sherry.
"Tentu saja dari para pemain lainnya, ya mereka yang dengan baik hati menjelajah lantai 10 dan memberikan informasinya padaku supaya disebarkan ke pemain lainnya, ini baru datang hari ini jadi aku belum sempat menyebarkannya atau memberikannya pada Resha."
"Kenapa kau tidak berkeliling saja Sherry-san?, kenapa harus orang lain yang memberi informasinya padamu?."
"Tidak bisa Naruto-san, karena mau bagaimanapun juga aku tidak akan bisa keluar dari desa karena tugasku memang disini."
Minako melihat dengan seksama peta itu begitu juga denganku, walau peta itu tidak menunjukan kesuluruhan wilayah dari lantai 10, tapi ini sudah cukup bagi kami. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah wilayah yang belum sempat di jelajahi tapi sudah ada nama yang terterah disana.
"Death desert?, tempat apa itu Sherry-san?." Tanyaku sambil menunjuk kearah tulisan yang berada di peta itu.
"Oww tempat itu, aku tidak tau pasti sih, tapi tempat itu di jauhi oleh para penduduk."
"Eh kenapa bisa begitu?."
"Kau tau sendiri Minako-chan, dari namanya saja sudah ketahuan, dan juga tempat itu sangat panas, bahkan player yang menyerahkan peta ini padaku tidak berani masuk kesana karena udaranya." Jelas Sherry.
"Tunggu sebentar gurun kematian, ah sepertinya aku tau dimana tempat big boss itu." Ucap Minako secara tiba-tiba, yang tentu saja membuatku kaget.
"Eh benarkah, kau tau tempatnya?." Tanyaku memastikan bahwa Minako tidak bercanda.
"Iya, kau tau baris pertama dari teka-teki itu?."
"Maksudmu 'Aku berada di sebuah tempat, dimana tempat itu berada di tengah-tengah padang kematian' itu kan?."
"Ha'i, apakah kau tidak merasa ada kesamaan dengan nama tempat ini Naruto-kun?."
Aku memasang pose berpikir dan mulai mencocokan nama tempat itu dengan teka-teki yang ada di baris pertama.
"Apa maksudmu 'Padang kematian' yang ada di teka-teki ini artinya dia berada di gurun kematian?."
"Tepat sekali, karena aku yakin kalau gurun itu sangat luas."
"Hmmm bisa jadi sih, lalu bagaimana dengan sisa teka-teki selanjunya?."
"Maksudnya 'tempat dimana orang-orang sangat membutuhkan tempat berteduh, dan tempat yang dialiri sumber kehidupan', ini hanya perkiraanku saja sih, aku rasa di padang pasir itu ada oasis."
"Oasis?."
"Iya, tempat apa lagi yang bisa kau temui di padang pasir selain oasis, kau tau tempat yang dibutuhkan untuk berteduh dan dialiri sumber kehidupan di tengah padang pasir itu cuma oasis saja tempatnya."
"Benar juga, dan jika hipotesamu benar, maka padang pasir itu termasuk sebuah dugeon yang sudah disiapkan khusus untuk big boss level ini."
"Ya begitulah Naruto-kun, ternyata kau membaca pikiranku."
"Wah kalian berdua memang hebat ya, padahal hanya dengan satu petunjuk kalian bisa langsung memecahkan teka-teki tersebut, ya walaupun masih dalam tahap hipotesa sih, tapi kalian sangat kompak ya." Puji Sherry sambil bertepuk tangan.
"Ti-tidak juga kok Sherry-san, kalau begitu kami permisi dulu, kami mau menyiapkan benda yang akan kami bawa, dan bolehkan aku minta peta itu Sherry-san?." Pinta Minako pada Sherry.
"Tentu saja, ini." Sherry memberikan peta itu pada Minako.
"Arigato Sherry-san." Ucap kami berdua.
"Kapan-kapan mampirlah lagi ya."
"Ha'i." Kami berdua keluar dari rumah itu dan mulai berjalan kearah taman yang berada di Sunagakure.
"Kira-kira kita mau kemana dulu Naruto-kun?." Tanya Minako yang berada di sebelah kananku.
"Seperti yang kau katakan tadi, kita membeli makanan dan juga air untuk persediaan kita di dugeon itu, kau tau sendiri kalau dugeon yang kita hadapi sekarang sangat panas, dan juga kita membeli beberapa armor untuk musim panas, kau tidak mungkin memakai jubah putih itu di tempat yang panas kan?."
"Ah kau benar juga, baiklah lebih baik kita ke pasar, bagaimana?."
"Tidak-tidak kita pergi kekenalanku saja, dia kebetulan berjualan benda yang akan kita butuhkan, dan sepertinya dia juga baru membuka tokohnya di lantai 10."
"Eh siapa?."
"Namanya Jiraiya, lebih baik kau hati-hati dengannya karena dia agak mesum, mungkin."
Kami berjalan kearah pasar dan berhenti disalah satu rumah yang sudah disulap menjadi sebuah tokoh kecil dengan beberapa armor dan pakaian serta beberapa aksesoris di kaca toko tersebut. Aku masuk kedalam toko itu diikuti dengan Minako yang mengekor dibelakangku.
"Selamat da-, oh rupanya kau Naruto, ada apa tumben sekali kau kesini?." Tanya Jiraiya to the poin begitu melihat aku yang masuk ke tokohnya.
"Aku sedang mencari armor dan aksesoris untuk musim panas." Jawabku.
"Bukannya sekarang masih musim dingin ya?."
"Aku mau pergi kesuatu tempat, dan daerah itu sangat panas."
"Kenapa kau ingin pergi kesana dimusim dingin begini?, atau jangan-jangan ada sesuatu?, hei Naruto ceritakan padaku apa alasannya."
"Baiklah aku akan menceritakannya padamu, sebenarnya kami sudah tau dimana letak dari big boss level 10 ini."
"Eh kau sudah mengetahuinnya?."
"Hanya sebatas perkiraan saja, tapi semua petunjuk mengarah ketempat itu, jadi kami berniat mengeceknya."
"Kami?, maksudmu dengan siapa?."
"Tentu saja dengan wanita yang berada dibelakangku ini." Aku menunjuk Minako dengan jempol kananku tanpa menoleh padanya.
Jiraiya yang penasaran dengan apa yang aku tunjuk langsung melihat kearah Minako, tiba-tiba saja mukanya memerah dan senyuman mesum terpasang diwajahnya. Jiraiya merangkul pundakku dan membisikan sesuatu di telingaku.
"Siapa wanita cantik itu Naruto?, kau tidak pernah memperkenalkannya padaku?."
"Namanya Minako, dia adalah partnerku."
"Wah selerahmu bagus juga Naruto, dia manis dan imut walau dadanya hanya cup D tap-gwaaa, apa yang kau lakukan Naruto?." Aku memotong ucapannya sebelum didengar Minako dengan cara memukulnya dibagian perut dengan sedikit kualiri cakra anginku yang membuatnya terpental sampai menabrak tembok dibelakangnya.
"Itu karena kau terus bicara yang tidak perlu, sudah cepat berikan saja armor yang kubutuhkan, dan jangan lupa untuk Minako juga." Omelku padanya, ditambah dengan death glare yang kutunjukan padanya.
"Cih…kau tidak tau caranya bersenang-senang Naruto, baiklah tunggu sebentar." Jiraiya masuk kedalam ruangan yang berada di belakangnya. Setelah Jiraiya tidak kelihatan lagi Minako mendekatiku dan bertanya tentang apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa kau memukulnya Naruto-kun?."
"Dia berbicara tentang hal yang tidak perlu, karena terlalu lama jadi aku pukul saja."
Minako hanya bisa sweetdrop mendengar jawabanku itu. Tak lama kemudian keluarlah Jiraiya sambil membawa beberapa pakaian dan aksesoris di tangannya, dia meletakannya di counter depan kami.
"Sepertinya ini cocok untuk kalian." Ucapnya.
Aku melihat pakaian yang dia bawa. Disana ada dua pakaian, yang pertama satu setel pakaian berwarna orange dan hitam yang di dominasi dengan warna orange seperti jaket yang aku pakai, hanya saja ini berlengan pendek di tambah dengan celana ¾ berwarna orange dan hitam, sedangkan yang satu lagi, ini seperti yukata tapi roknya hanya sampai di atas lutut dan juga roknya itu mengembang bukan lurus seperti yukata pada umumnya, pakaian ini berwarna hitam dan putih dengan gambar kupu-kupu di bagian ujung lengannya, panjang lengannya juga hanya sampai siku dan melebar di bagian ujungnya, baju ini juga banyak sekali rendanya, ini seperti.
"Gothic Lolita?, apa tidak akan panas kalau di pakai Minako?." Tanyaku pada Jiraiya.
"Tentu saja tidak, pakaian ini di buat untuk musim panas, memang kelihatannya berat dan panas, tapi kalau sudah di pakai pasti nyaman."
"Aku suka kok Naruto-kun, biarkan aku mencobanya." Pinta Minako yang sekarang melihat pakaian itu dengan tatapan berbinar-binar.
"Apa kau yakin Minako-chan?."
"Uhm, aku sangat yakin."
"Hah baiklah, Jiraiya-san tolong tunjukan kamar gantinya ya, dan jangan coba-coba mengintipnya atau aku akan mengeksekusimu." Ancamku pada Jiraiya.
"Ha'i, ha'i, tenang saja aku tidak akan macam-macam, mari aku antar ke ruang ganti nona manis." Jiraiya mengantar Minako kesebuah bilik kecil yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
Tak lama kemudian Minako keluar memakai pakaian tadi, dia terlihat cocok mengenakan pakaian tersebut. Minako mendekat kearahku sambil tersenyum.
"Bagaimana Naruto-kun, apa aku cocok memakai ini?." Tanya Minako padaku sambil memutar tubuhnya.
"Kau cocok kok memakai pakaian apapun, tapi apa kau merasa nyaman dengan pakaian itu?."
"Iya, ternyata benar apa kata Jiraiya-san baju ini tidak membuat ku gerah, malah baju ini seperti menyesuaikan iklim sekitarnya."
"Ya sudah kita ambil baju itu, lalu sepatunya?."
"Ah sepertinya aku punya sepatu yang cocok untuk baju itu." Jiraiya mencari sepatu yang berada di dalam lemari di belakangnya, lalu menyerahkannya pada Minako.
"Sepatu boots yang tidak terlalu panjang warna hitam, dengan hak hanya 3cm, jadi kau tidak akan terlalu susah untuk melompat dan berjalan, sepatu ini juga ringan kok." Jelas Jiraiya.
"Baiklah biar aku coba." Minako segera membuka menu barnya dan mengganti sepatunya yang lama dengan sepatu rekomendasi dari Jiraiya.
"Memang benar ini ringan, arigato Jiraiya-san karena sudah memilihkanku baju yang bagus."
"Apapun akan ku lakukan untukmu nona manis."
"Ehem, kalau begitu aku juga akan membeli pakaian untukku yang kau rekomendasikan, jadi berapa semuannya." Tanyaku pada Jiraiya.
"Ini gratis untuk kalian."
"Benarkah, tumben sekali?."
"Hari ini malam tahun baru dan juga aku harap kalian bisa mengalahkan big boss lantai ini."
"Kau tidak ikut Jiraiya-san?."
"Tidak Naruto, aku masih belum di panggil oleh kelompokku, lagipula aku juga ingin libur, jika ada sesuatu yang terjadi pada kalian segera hubungi aku ok."
"Tenang saja kami pasti bisa mengalahkannya."
"Oh ya ngomong-ngomong, kalian akan menuju kemana?."
"Death desert, kau pernah mendengar tempat itu?."
"Ah tempat itu ya, aku dengar tempat itu sangat panas dan tidak ada kehidupan disana, memang apa yang membuatmu berpikir kalau big boss itu ada disana?."
"Tentu saja dari kesamaan nama tempat dengan teka-teki itu." Jawabku yang masih mengotak-atik menu barku dan memasang baju yang diberi oleh Jiraiya.
"Begitu ya."
"Kalau begitu kami permisi dulu karena masih banyak bahan yang harus aku beli."
"Baiklah, semoga kalian berhasil, dan jaga nona cantik itu ya Naruto."
"Tanpa kau mintapun aku pasti menjaganya aho." Ucapku lalu keluar dari rumah itu diikuti dengan Minako yang berada di belakangku, tapi sebelum keluar Minako sempat menundukan badannya dan mengucapkan 'Arigato' pada Jiraiya.
Kami memutuskan untuk memulai perjalan besok karena Minako sendiri ingin melihat malam pergantian tahun didesa ini, jadi sepanjang hari ini hanya diisi dengan kegiatan berbelanja persediaan makanan dan minuman, lalu berjalan-jalan hingga malam menjelang dan diakhiri dengan pesta kembang api di taman utama desa ini.
Ninja Art Online
01/01/2031
-10th Floor, Wind State: Death desert-
"Minako-chan awas dibelakangmu." Ucapku pada Minako begitu melihat ada monster dibelakang Minako yang akan menyerangnya dengan pedang ditangannya.
Dengan sigap Minako menangkis serangan pedang itu dengan katana miliknya lalu menusukan katana yang telah dialiri cakra air pada monster tersebut, monster itu langsung musnah.
"Hah lain kali perhatikan sekelilingmu Minako-chan."
"Ha'i, gomenasai."
"Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita."
"Umm." Jawab Minako sambil menganggukan kepalanya.
Kami mulai melanjutkan perjalanan kami, sesuai perkiraan kami ternyata gurun ini termasuk dugeon yang lumayan luas, sekarang kami hanya tinggal mencari oasis, tempat dimana big boss itu bersembunyi. Kami sudah berlari selama 5 jam dan sesekali melawan musuh yang keluar dari dalam pasir, aku juga menyuruh Minako untuk mengaktifkan kemampuan sensornya, tapi ternyata memang susah mencari tempat itu.
"Naruto-kun, aku merasakan cakra yang sangat besar tak jauh dari sini." Ucap Minako padaku.
"Bagus, tunjukan padaku jalannya Minako-chan."
"Ha'i, lewat sini."
Aku terus mengikuti Minako hingga kami sampai di tempat yang kami tuju, ya kami sekarang berada di oasis. Dan ini pertama kalinya aku melihat oasis, tempat ini ditumbui pohon yang rindang, danau yang luas, serta suasana yang sejuk, benar-benar berbanding terbalik dengan death desert.
"Ternyata memang benar ada oasis disini, apa kau tau dimana letak big boss ini Minako-chan."
"Ya aku masih bisa merasakannya, dan juga ada cakra lain yang cukup banyak disekitar sini."
"Cakra lain?, apa mungkin player yang lainnya sudah sampai disini lebih dulu dari kita?."
"Munkin saja Naruto-kun, sebentar sepertinya ada yang mendekat kearah kita."
Aku mengangkat sebelah alisku begitu mendengar perkataan Minako, tiba-tiba ada suara dibelakang kami.
"Siapa kalian?."
Aku dan Minako menoleh kesumber suara tersebut, dan mendapati seseorang bersurai merah yang sangat di kenal oleh Minako.
"Gaara-san, kau berada disini juga?." Tanya Minako pada Gaara.
"Ah…kita bertemu lagi ya Minako, ya seperti yang kau lihat."
"Bagaimana kau bisa tau tempat ini?." Tanyaku pada Gaara.
"Informanku yang memberi tau tempat ini dan juga sedikit petunjuk dari Sherry-san."
"Begitu ya."
"Apa kalian hanya berdua saja?."
"Ya bisa dibilang seperti itu." Jawab Minako.
"Untuk sekali ini saja bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami." Pintah Gaara pada kami.
"Tapi kami sudah bilangkan kalau kami-."
"Ya aku tau Minako, tapi kalian tidak mungkin bisa melawan big boss ini hanya berdua saja, aku dengar dari Sherry-san kalau big boss itu lebih kuat dari small boss, jadi aku berpikir bagaimana kalau kalian ikut membantu kami?."
"Bagaimana menurutmu Naruto-kun?." Tanya Minako padaku.
Aku terdiam sebentar mencoba memikirkan tawaran dari Gaara, memang benar sih kalau big boss itu lebih kuat dari small boss, aku rasa tidak ada salahnya bergabung dengannya.
"Baiklah aku setuju, tapi hanya untuk melawan big boss ini saja."
"Bagus, aku akan mengenalkan kalian pada anggotaku yang lainnya." Ajak Gaara pada kami dan hanya dibalas anggukan kepala dari kami berdua.
Kamipun mengikuti Gaara menuju ketempat kelompoknya beristirahat. Sesampainya disana aku melihat banyak sekali player yang sedang makan atau hanya duduk di tanah, kalau ku perkirakan ada sekitar 27 orang. Gaara memperkenalkan satu persatu dari mereka serta keahlian dari mereka. Setelah perkenalan itu, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mencari pintu menuju ruangan big boss dengan bantuan Minako dan dua orang lagi yang memiliki kemampuan mirip Minako. Beberapa menit mencari, kami akhirnya sampai di depan gua yang memiliki pintu berwarna coklat, aku yakin kalau gua ini adalah tempat dari big boss tersebut.
"Baiklah semuanya bersiap di tempat masing-masing karena kita akan menghadapi big boss dari lantai ini, Hanabi, Hiashi, Minako aku ingin kalian berada di belakang kami berjaga-jaga jika dia bisa menghilang secara tiba-tiba dan untuk mencari kelemahannya, kalian mengerti?." Perintah Gaara pada mereka yang langsung di jawab "Ha'i" oleh mereka.
"Bagus, mari kita menangkan pertarungan ini." Teriak Gaara lalu dia membuka pintu menuju ruangan big boss tersebut.
Kami semua masuk kedalam dan ternyata ruangan ini kosong, tiba-tiba muncul sesuatu dari dalam tanah pasir didepan kami. Monster itu sangat besar, berwarna coklat dengan corak biru di seluruh tubuhnya, dan dia seperti err…musang mungkin, atau rakun?, aku tidak tau monster ini tidak jelas bentuknya. Namanya adalah Sukaku, dia memiliki 5 kotak HP dan sepertinya dia cukup berbahaya.
"Mu-musang?." Komentar Minako yang berada di sampingku.
"Aku ini bukan musang tapi Tanuki bodoh." Omel Sukaku yang sepertinya mendengar komentar dari Minako. Eh tunggu sebentar.
"E-eh dia bisa bicara?."Komentarku.
"Memang kenapa kalau aku bisa bicara ha?, tidak bolehkah monster untuk bicara?."
Minako tiba-tiba mendekatkan mulutnya ketelingaku dan membisikan sesuatu.
"Monster ini benar-benar pemarah ya."
"Ya mungkin dia sedang PMS."
"Hah?." Jawab Minako yang sweetdrop mendengar komentarku.
"jika kalian mau melewati tempat ini, kalian harus menghadapiku dulu." Ucapnya seketika kami dikelilingi oleh kabut pasir dan itu membuat kami tidak bisa melihat kearah depan. Minako segera pergi ke belakang kami dan mengaktifkan kemampuan sensornya, begitu juga dengan Hanabi dan Hiashi.
"Dia sedang berdiri disana, arah jam dua." Teriak Hanabi yang didengar oleh kami semua.
Aku langsung melempar beberapa kunai yang sudah ku beri kertas peledak diikuti dengan yang lainnya.
"Cih…hanya itu kemampuan kalian, kalau begitu rasakan ini, Fuuton: Mugen sajin daitoppa." Seketikah keluarlah angin berskala besar dari dalam mulut monter itu dan menerbangkan seluruh kunai yang akan menyerangnya, dan juga angin itu mengakibatkan beberapa player termasuk aku terpental cukup jauh, dan serangan ini menghabiskan seperempat HPku.
"Naruto-kun kau tidak apa-apa?." Tanya Minako padaku.
"Ya aku tidak apa-apa Minako-chan berkosentrasilah untuk menemukan kelemahannya."
"Baik."
Aku berdiri dari posisi dudukku, dan mulai menyerang kembali Sukaku. Aku membuat segel tangan dan berlari kearah Sukaku.
"Fuuton: Rasengan." Teriakku lalu mengarahkan tangan kananku yang telah muncul pusaran angin kearah Sukaku. Tapi dengan cepat Sukaku menangkisnya dengan cara sama seperti dia menangkis kunaiku.
"Fuuton: Mugen sajin daitoppa." Anginpun muncul dari mulutnya dan membuatku kembali terpental, tapi kali ini aku tidak jatuh ketanah melainkan ke pasir empuk yang sudah di buat oleh Gaara.
"Arigato Gaara-san."
"Tidak masalah." Jawabnya sambil membantuku berdiri.
"Lalu bagaimana sekarang, apa yang harus kita lakukan?."
"Kita masih harus menunggu Minako untuk mencari kelemahannya."
"Hah… kalian membosankan sekali, lebih baik aku akhiri saja." Tiba-tiba Sukaku menarik nafas dalam-dalam hingga udara itu memenuhi rongga mulutnya.
"Ini gawat sepertinya dia akan melakukan sesuatu." Gaara segera mengaktifkan segel tangan bersamaan dengan meluncurnya sesuatu dari dalam mulut Sukaku.
"Fuuton: Renkuudan." Ucap Sukaku keluarlah sebuah peluruh angin yang besar dari dalam mulutnya dan menujuh kearah kami semua.
"Suna no Tate." Ucap Gaara disaat peluru itu akan meluncur kearah kami, tiba-tiba munculah sebuah dinding yang terbuat dari pasir didepan kami. Tapi ternyata dinding itu tidak terlalu kuat untuk menahan serangan dari Sukaku dan mengakibatkan dinding itu hancur dan serangan Sukaku mengenai kami semua. Sebagian orang di kelompok kami mati karena serangan tersebut, sedangkan sisanya kehilangan setengah dari HP yang dimilikinya. Aku sendiri hanya memiliki sisa HP seperempat, sedangkan Minako sepertinya dia kehilangan setengah dari HPnya.
To Be Continue
Wah maafkan saya karena saya baru bisa update dikarena saya lumayan sibuk mendekati hari raya dan sesudah hari raya ini.
Baiklah kita mulai sesi jawab reviewnya.
(JENG…JENG…JENG…JENG) *Sound effect*
Reffast 1000cc: maksud anda perasaan yang kayak gimana ya?, tapi arigato karena sudah mau mendukung saya melanjutkan cerita ini.
Altadinata:arigato ini sudah lanjut, semoga anda menyukainnya.
Fazrulz21: arigato sudah mau memperingatkan kesalahan saya, saya sudah memperbaikinya dan semoga chapter ini tidak mengecewahkan.
Rahmatz: Ino disini adalah NPC, disini NPCnya bisa berinteraksi layaknya player lainnya, hanya saja mereka tidak bisa keluar dari tempatnya kecuali dengan alasan tertentu, ingat ini tahun 2030 jadi NPCnya sudah canggih, hehehehe.
DUMAY: wah arigato atas informasinya, saya baru tau loh, ya semoga chapter ini tidak terlalu mengecewakan.
Kuroki Kaze-san: hahaha tebakan anda tepat sekali, dichapter ini dan chapter mendatang mereka akan melawan Sukaku, dan arigato karena sudah mendukung saya melanjutkan cerita ini.
Rizqifa09151384: gomen saya tidak bisa update cepat karena kesibukan saya di rumah maupun di kampus tidak bisa ditinggal, dan arigato semoga chapter ini tidak mengecewakan.
Xiaooo: wah arigato karena sudah mengatakan fic ini keren, semoga lanjutan cerita ini tidak mengecewakan.
Uzumaki Rizallo: baiklah saya akan jawab satu persatu pertanyaan anda, ya disini big bossnya adalah bijuu, lalu soal Minako saya sudah bilang kalau Minako adalah seorang player karena kalau Minako seorang NPC harusnya dia sudah menghilang ketikah diserang oleh musuh dichapter yang lalu, untuk Naruto bertemu Sasuke saya sudah memikirkan bagaimana mereka bertemu jadi silahkan ditunggu saja, lalu yang terakhir akan terjadi masalah karena pada dasarnya Naruto hanya bisa mengendalikan skill yang memang sudah menjadi elemennya, jadi saya tidak berencana memberikan skill bijuu pada Naruto, tapi arigato karena sudah memberi saya saran, dan semoga chapter ini tidak mengecewakan.
Dark Namikaze Ryu: untuk unique skill mungkin ada mungkin juga tidak kita lihat saja nanti, saya bukan seorang player saya adalah Author *dipukul Minako*, ittai saya kan hanya bercanda, mungkin anda bisa menyimpulkan saya/Sherry itu siapa di chapter ini, tapi kalau masih belum tau juga anda akan tau di chapter-chapter selanjutnya, blacksmith dan teman-temannya tentu saya akan menambahkannya karena tanpa mereka kehidupan di game ini rasanya kurang bagaikan sayur tanpa garam #plak, untuk Beast Tamer sendiri tentu saja ada, toh di cerita Naruto yang asli juga ada kan orang-orang yang memiliki peliharaan, dan arigato karena sudah mau meriview dan mendukung saya melanjutkan cerita ini.
Saya akan menambahkan sedikit keterangan tentang Gaara dan Jiraiya, disini Gaara penampilannya sama seperti aslinya di Naruto Shippuden, hanya saja tanpa membawa gentong pasir (itu yang biasanya ada di punggungnya), lalu jiraiya sendiri penampilannya juga sama seperti cerita aslinya.
Special thanks to my big brother, yang telah memberi saya saran dan masukan untuk cerita ini :D.
Next Chapter
"Bagaimana ini jumlah kita hanya sedikit."
"Jangan takut, kita pasti bisa mengalahkannya."
.
"Kalian semua akan mati."
"Aku sudah menemukan kelemahannya."
Ninja Art Online, Chapter 5: Sukaku
"Aku punya ide, kita gabungkan saja jurus kita."
"Eh, memangnya bisa?."
