Chapter 4

Warning: WonKyu, Chaptered, Slash, Mpreg, OOC, AU, Typo(s)

Disclaimer: This story is mine.

.

oooOoooOooo

.

Sesuai permintaan yang sudah disepakati bersama. Tuan Choi Siwon yang tampan memasukkan permintaan ini pada poin kesepakatan mereka; Cho Kyuhyun akan ikut dengannya dan tinggal bersama dengannya setelah menikah. Dan di sinilah mereka, duduk bertiga untuk berpamitan. Dengan catatan, yang seharusnya berpamitan malah memilih kursi terjauh untuk duduk.

"Aku titip anakku, Siwon-ah. Tolong jaga dia." Cho Yeunghwan, ayah Kyuhyun, berpesan sambil menepuk bahu kokoh menantunya. Suaranya agak bergetar.

"Tentu, Abeonim. Akan ku jaga Kyuhyun dengan segenap jiwaku." Memang kalimat Siwon terkesan terlalu mendramatisir, tapi itu janji tulusnya pada Yeunghwan. Siwon membungkuk dalam, secara tidak langsung mengatakan rasa terima kasihnya pada si pria paruh baya, karena tanpanya tidak akan ada seseorang yang bernama Cho Kyuhyun.

Mungkin jadi hal sulit bagi Yeunghwan untuk melepas anak semata wayang. Dari jarak sedekat itu, Siwon bisa melihat dengan jelas bagaimana mata tua Yeunghwan dilapisi cairan bening. Ayah mertuanya hampir menangis.

Cho Kyuhyun–yang sekarang sudah berganti nama menjadi Choi Kyuhyun–duduk menyilangkan kaki kiri di atas kaki kanannya dengan sangat tidak sopan. Hanya diam memandang bosan dua namja beda usia yang duduk agak jauh darinya. Tak henti-hentinya ia berdecih malas mendengarkan pembicaraan memuakkan dua orang itu.

"Kyuhyunie, kau tidak ingin memeluk pria tua ini sebelum kau pergi?" pintanya dengan suara serak. Tangannya merentang lebar, berharap putra semata wayangnya segera menghambur dan memeluknya.

"Cih." Berdecih dan membuang muka memang terlalu menyakitkan untuk mengatakan sebuah penolakan. Tapi itulah Kyuhyun.

Yeunghwan hanya bisa tersenyum kecut mendengar decihan pelan itu. Sudah ia duga, Kyuhyun akan menolaknya.

Satu benda dikeluarkan Yeunghwan dari saku jasnya.

"Apa ini, Abeonim?" Bukannya Siwon tidak tau nama benda tipis yang Yeunghwan berikan padanya. Benda itu adalah sebuah credit card. Yang tidak dimengerti Siwon adalah, apa tujuan ayah mertuanya memberikan itu padanya?

"Ini milik Kyuhyun," jawab Yeunghwan memperlihatkan Black Card dengan nama 'Cho Kyuhyun' yang diukir menggunakan tinta emas.

"Maafkan aku, Abeonim. Aku tidak bisa menerima yang satu ini." Siwon mendorong kembali Black Card itu dengan sopan, mengembalikannya pada Yeunghwan. "Berikan aku kesempatan untuk mencukupi semua kebutuhan Kyuhyun dengan usahaku sendiri."

Tawa Yeunghwan menggema di ruang tamunya yang besar. "Tentu saja, nak." Menepuk pelan pundak Siwon yang sedang membungkuk dalam–meminta maaf. "Maaf, aku hanya takut kau kaget dengan kebiasaan buruk anakku menghabiskan uang dalam sekejap. Tentu Siwon, aku tidak meragukanmu."

Sepasang mata bulat indah milik namja pucat–yang sejak tadi hanya 'menonton'–tiba-tiba berbinar bahagia ketika melihat Yeunghwan mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam kantung jasnya. Kyuhyun tau benda itu. Benda bergemerincing yang benar-benar ia rindukan selama empat bulan ini.

"Biasanya aku yang menskors anak nakal itu," Yeunghwan tertawa pelan. "Tapi sekarang, kewenangan itu akan kuserahkan padamu." Diserahkannya dua buah kunci mobil pada Siwon.

"Terima kasih untuk kepercayaannya, Abeonim. Kupastikan Kyuhyun tidak akan menggunakan benda ini tanpa pengawasanku." Sengaja Siwon melirik Kyuhyun. Menggoda sedikit sepertinya akan sangat menyenangkan. Benar saja, si pucat yang beberapa jam lalu menikah dengannya, kini sedang mengucap kata 'sialan' tanpa suara. Siwon tak kuasa menahan senyum geli.

Kyuhyun bangkit dari sofanya dengan semangat membara. Tidak pernah ada yang tau betapa rindunya Kyuhyun pada mobilnya. Hendak merampas kunci mobilnya yang sudah lama disita oleh sang Appa. Sayangnya, Yeunghwan mengetahui apa yang ingin dilakukan Kyuhyun.

"Apa yang kau lakukan, nak? Aku hanya akan mengembalikan mobilmu jika aku mendengar laporan kau sudah bisa mengurangi sikap burukmu. Jadilah anak baik, dan mobilmu akan kembali. Siwon-ah akan mengawasimu," jelasnya.

"Apa?!" Cho Kyuhyun berteriak. Kaget mendengar ultimatum dari Appanya.

"Abeonim?" Tidak kalah kagetnya dengan Kyuhyun, Siwon pun mengalaminya. Ayah mertuanya tidak mengatakan tentang hal itu sebelumnya.

Sepasang suami-istri yang baru saja melangsungkan pernikahan itu pun saling berpandangan bingung. Kyuhyun yang hendak protes, dan Siwon yang seakan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tau tentang peraturan baru yang Yeunghwan buat.

"Brengsek!" Makian terdengar lagi di ruang tamu mansion Cho.

PRANG

Guci besar yang diletakkan dekat pintu, pecah berkeping-keping ketika Kyuhyun melewatinya. Bunyi pecahannya nyaring terdengar. Meninggalkan sedikit gema di ruang tamu yang besar. Beberapa maid sampai memekik kaget mendengar suara benturannya. Tapi tak satu orang pun yang memperhatikan gucinya. Karena tiap pasang mata yang berada di sana hanya menatap cemas pada namja pucat pelaku kekacauan. Suara debuman benda yang dibanting ataupun kaca yang pecah bukanlah sesuatu yang baru bagi mereka. Telinga mereka sudah terbiasa mendengarnya. Porselain antik, pajangan kristal atapun kaca selebar dinding, tidak pernah bertahan lama ketika terkena 'sentuhan' Kyuhyun.

Semua orang menghela nafas lega ketika Kyuhyun terlihat baik-baik saja. Bahkan sang Tuan muda Cho sempat membanting pintu sebelum meninggalkan ruangan.

"Maaf, Siwon-ah–"

Siwon memotong perkataan Yeunghwan. "Aku yang seharusnya minta maaf, Abeonim." Suara benda–lain–yang dibanting, terdengar sayup di beranda. Cho Kyuhyun masih meluapkan amarahnya dengan menghancurkan barang. "Sepertinya aku harus pamit sekarang, Abeonim. Kyuhyun pasti menungguku," pamitnya segera.

Yeunghwan mengangguk paham. "Ya. Aku titip anak nakal itu padamu."

.

"Hati-hati, Tuan muda. Anda bisa terluka jika terus seperti itu."

"Tolong berhenti, Tuan muda, kami mohon."

Belasan maid berkumpul membentuk lingkaran, Cho Kyuhyun yang menjadi titik pusatnya. Mereka terus memohon agar Tuan muda Cho-nya mau berhenti. Walaupun yang mereka lakukan adalah hal percuma, karena Kyuhyun masih senang melempar pot-pot tanah liat ke segala arah untuk dihancurkan. Bahkan beberapa yang sudah menjadi kepingan masih diinjak-injak oleh si pemilik kaki jenjang. Siwon mempercepat langkahnya sebelum Kyuhyun melukai dirinya sendiri. Para maid memberi jalan untuk Siwon lewat. Ditambah tatapan memohon agar sang namja tampan mau menghentikan tuan muda mereka yang keras kepala.

"Hentikan, Kyu." Suaranya lembut namun tegas.

Seketika Cho Kyuhyun berhenti, lalu menatap Siwon bengis dan penuh kebencian. "Apa kau belum puas mempermainkanku?!" bentaknya. "Apa lagi yang akan kau lakukan setelah ini?"

Menggenggam lembut sepasang tangan kurus yang mencengkram kerah bajunya. Siwon berusaha melepas tangan Kyuhyun tanpa menyakitinya. "Ini bukan mauku. Aku juga baru tau ketika Abeonim mengatakannya."

"Tutup mulutmu, brengsek! Apa yang sudah kau berikan padanya hingga dia begitu patuh padamu?"

"Semua yang kau tuduhkan itu tidak benar, Kyu." Siwon berhasil melepaskan tangan Kyuhyun yang hampir membunuhnya dengan membelit lehernya. "Dengar, aku sudah berjanji untuk mengembalikan mobilmu, bukan? Aku akan mengembalikannya. Tapi mungkin tidak sekarang." Suaranya mengecil. Merasa bersalah sudah mengkhianati Kyuhyun karena keputusan Yeunghwan. Namun Siwon percaya, ayah mertuanya pasti punya alasan melakukan itu.

"Benarkah? Kapan? Ketika aku sudah mati?"

"Secepatnya, Kyu. Secepatnya." Siwon melirik sejenak, rupanya para maid masih belum pergi dan menonton pertengkaran mereka dengan raut khawatir. "Sebaiknya kita pulang. Kau harus istirahat. Nanti kita pikirkan lagi cara agar mobilmu kembali," bujuknya.

Kyuhyun mengalah. Siwon benar, tubuhnya benar-benar lelah. Akan sangat buruk bila terus dipaksakan. Melangkah pelan menuju salah satu mobil sambil memikirkan cara agar Siwon mau mengembalikan mobil miliknya. Mungkin ia perlu mengancam Siwon, atau memberikannya sedikit pelajaran. Kyuhyun berpikir keras.

Tok Tok

Jendela kaca mobil diketuk dari luar. Siwon yang mengetuknya. Kyuhyun mencibir melihat Siwon berbicara di luar mobil. Sekeras apapun dia berbicara, suaranya tidak akan terdengar oleh Kyuhyun. Mobil yang ditumpanginya tidak akan tertembus suara apapun dari luar. Bodoh!

Kaca mobil terpaksa diturunkan.

"Baby, mobil kita di belakang. Kau lupa?" ingatnya sambil melempar senyum lembut. Menunjuk pada Audi putih yang masih berhiaskan bunga-bunga kecil dan pita yang melintang cantik dibeberapa sisinya.

Astaga! Karena kelelahan, Kyuhyun mendadak bodoh. Tidak juga sebenarnya, bertahun-tahun Kyuhyun diantar dan dijemput dengan mobil ini. Wajar jika sedikit keliru.

Mulai hari ini Kyuhyun sudah tidak akan lagi memakai semua fasilitas milik Appanya. Karena namja gila yang bossy itu melarang Kyuhyun menggunakannya. Dengan tambahan sedikit ancaman tentu saja. Cih!

Siwon melirik Kyuhyun menggunakan spion tengah mobilnya. Namja yang beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya itu sibuk membuang pandangan ke luar jendela. Hanya menghela nafas pelan, tanpa ingin mengganggu. Lalu Siwon mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pulang menuju rumah.

.

.

.

Sebuah rumah bercat putih tersaji di depan matanya. Tidak besar. Tidak juga berdesain khusus seperti mansionnya. Hanya rumah biasa berlantai dua. Dengan halaman kecil yang dipenuhi berbagai macam tanaman. Kesan asri jelas sekali menyelimuti rumah itu.

Kyuhyun tidak berhenti memaki dalam hati. Entah kenapa pundaknya meremang menatap rumah asri itu. Banyaknya bunga yang tumbuh di pekarangan, sama sekali tidak menghilangkan ketakutan Kyuhyun. Dari luar memang indah, tapi tidak ada yang bisa menjamin Kyuhyun tidak menemui ajalnya begitu masuk ke dalam. Lepas dari penjara, tapi masuk ke dalam neraka. Bisa saja Siwon mencekiknya di dalam sana. Yeah, dia pria gila! Tidak ada yang pernah tau apa yang akan dilakukan Siwon padanya.

"Kyu, kau baik-baik saja?"

Di sudut matanya, Kyuhyun bisa melihat senyum mengerikan Choi Siwon, dihiasi sepasang dimple menawan. Menyusul dua tanduk dan sepasang taring runcing yang siap menancap di lehernya. Siwon berubah menjadi makhluk mitologi menyeramkan.

"Yakk! Jangan sentuh aku!"

.

"Selamat datang di rumah keluarga Choi, Kyuhyun-ah. Mulai hari ini, rumah ini adalah rumahmu juga."

Satu dari tiga orang yang berdiri di depan pintu masuk, menyambut si penghuni baru. Kyuhyun tau siapa yang barusan berbicara, menyambutnya dengan basa-basi memuakkan–menurut Kyuhyun.

Dia Choi Seunghyun, hyung tertua dari Choi Siwon. Si namja berwajah keras menundukkan sedikit kepalanya, mencoba melakukan tata krama. Kemudian disusul namja lainnya. Kyuhyun juga mengenal si namja yang memiliki wajah kecil dengan bibir berbentuk hati yang tak kalah tampan. Dia Choi Yunho, hyung kedua Siwon. Dua orang itu datang di acara–Hell–perikahannya tadi pagi.

Kyuhyun tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil untuk merespon kata sambutan dari sang pemilik rumah.

"Kenalkan, ini Victoria, istriku," kata Seunghyun memperkenalkan wanita cantik yang berdiri tepat di sebelahnya.

Mata Kyuhyun langsung berkilat antusias begitu melihat wanita cantik yang mengenakan setelan blouse kerja. Pakaiannya yang sangat formal sama sekali tidak membuat penampilannya terlihat tua. Hanya sekali lihat, Kyuhyun bisa menebak jika wanita itu seumuran dirinya. Mungkin satu atau dua tahun lebih tua.

Sedikit berdeham sebelum berbicara, Kyuhyun memasang image cool sambil menebar pesonanya yang memang sulit ditolak oleh banyak wanita. Smirk andalan menghiasi senyumnya.

"Annyeong, Cho Kyuhyun imnida." Setelah menyebutkan namanya, Kyuhyun mengecup tangan Victoria dengan sangat lembut. Tak lupa senyum menggoda andalannnya dalam hal menarik hati wanita.

Wajah Seunghyun mengeras seketika. Gigi-giginya sampai bergemeretak. Namun, belum sempat Seunghyun mengeluarkan emosinya, Siwon sudah menyela.

"Jangan sok jantan, baby. Kau istriku sekarang," ingatnya. Siwon menarik pinggang ramping Kyuhyun dengan mudahnya. Menjauhkan istrinya dari sang kakak ipar.

Petir imajiner dalam kepala Kyuhyun menggelegar dahsyat, menyambarnya di siang hari nan terik. Kyuhyun hanya bisa melotot galak pada namja berdimple di sebelahnya.

'Namja sialan! Kau menggagalkan rencanaku, brengsek!' makinya dalam hati.

Ditepisnya tangan Siwon dengan kasar. Setelah ini, tolong ingatkan dia untuk membuat perhitungan pada Choi-brengsek-Siwon.

"Astaga, astaga! Ini kah Choi Kyuhyun? Senang bisa mengenalmu, Kyuhyun-ah. Benar kata Siwon-oppa, posisi kita sama sekarang. Jadi, jangan mencium tanganku seperti itu lagi, ne. Astaga, kau benar-benar menggemaskan."

Kyuhyun membelalak horor. Wanita cantik yang berdiri di depannya ini dengan sangat tidak elit mencubiti pipinya gemas. Rencananya berubah total, Kyuhyun tidak akan menjadikan wanita ini sebagai kekasih cadangannya. Hell no!

"Yakk! Sudah kukatakan bahwa namaku adalah CHO KYUHYUN!"

Tiga namja tampan bermarga Choi mengulum senyum geli. Yang dikatakan Victoria memang benar. Kyuhyun, istri sang magnae Choi Siwon, benar-benar menggemaskan. Mana ada gentleman yang memekik seperti itu saat sedang kesal.

.

"Annyeong. Maaf aku terlambat menyambutmu, Kyuhyun-ah. Aku harus mengganti pakaian Binnie dulu."

Satu orang lagi datang sambil menggendong seorang bayi. Seperti biasa, Kyuhyun hanya mengangguk angkuh tanpa membalas sapaannya.

Siwon maju mendekat. Tanpa canggung menggendong bayi mungil yang baru datang. "Hallo, jagoan. Kau merindukan samchon? Mulai hari ini samchonmu bertambah satu. Ah, tidak, panggil dia hyung. BabyKyu masih terlalu muda untuk dipanggil samchon." Sibuk berbicara dengan bayi yang tampak nyaman berada dalam dekapannya.

"Ini Jaejoong, istriku. Dan ini uri aegya, Choi Monbin," terang Yunho.

Kyuhyun menatap tidak percaya. Ia mengira bahwa seseorang yang baru datang sambil menggendong bayi di hadapannya ini adalah seorang yeoja. Ternyata tebakannya salah. Jaejoong yang diperkenalkan Yunho benar-benar namja. Karena tidak ada yeoja yang berdada rata dan memiliki gembungan di antara kakinya. Meskipun dia memiliki wajah 'cantik' melebihi kecantikan Victoria.

"Kau! Jadi kau juga gay?!" Kyuhyun nyaris menjerit tak percaya.

Tanpa peringatan, Siwon langsung membekap mulut pedas Kyuhyun. Siwon sampai terbata-bata meminta maaf pada Yunho dan Jaejoong atas nama Kyuhyun.

"Jaga bicaramu, baby. Sungguh, aku benar-benar minta maaf, hyung."

"Gwaenchana, Siwon-ah. Kau bisa melepaskan Kyuhyun, sepertinya dia mulai sesak nafas," kata Jaejoong khawatir melihat Kyuhyun yang masih bergerak, berusaha lepas dari dekapan Siwon.

.

Kyuhyun mendengus lagi, entah sudah yang keberapa kali. Sejujurnya ia lelah. Pikirannya, bukan hanya tubuhnya yang lelah. Tadi pagi adalah acara pernikahannya dan itu cukup menguras tenaga. Karena ia harus mati-matian menahan emosi, agar tidak meledak di tengah acara berlangsung.

Ingin rasanya Kyuhyun cepat-cepat mengistirahatkan tubuhnya di ranjang. Tapi Siwon menahannya di sini. Melakukan kegiatan ramah-tamah memuakkan untuk dirinya sebagai penghuni baru.

"Hey Kyuhyun-ah, ku dengar dari Siwon oppa, kau mahasiswa jurusan seni. Apa itu benar?" Victoria masih sangat antusias bertanya pada Kyuhyun.

"Hm. Seni musik," jawabnya malas.

"Woah, pasti kau pintar bermain alat musik. Apa kau bisa bermain piano? Oh! Mungkin kau bisa bernyanyi? Bisa nyanyikan satu lagu untukku?"

Seunghyun, Yunho dan Jaejoong mulai merasa tidak enak ketika melihat Kyuhyun berdecih pelan sambil memutar bola matanya malas. Sepertinya Kyuhyun terganggu dengan Victoria yang masih terus bertanya tanpa henti.

"Ayolah, magnae. Nyanyikan satu lagu untukku." Victoria memohon.

"Yeobo, masih banyak waktu untukmu mendengar Kyuhyun bernyanyi," bujuk Seunghyun. "Maafkan istriku, Kyuhyun-ah."

"Tidak apa-apa, hyung. Kyuhyun hanya belum terbiasa. Tenang saja, kakak ipar, suatu hari Kyuhyun akan bernyanyi untukmu," timpal Siwon.

"Benarkah? Aku jadi tidak sabar menantikannya."

Kyuhyun melirik tajam pada Siwon. Hampir saja ia ingin memberikan makian pada Victoria, karena sudah seenaknya memanggil dirinya dengan sebutan 'magnae'. Tidak pernah ada yang berani memperlakukan Cho Kyuhyun seperti itu. Di rumahnya, Kyuhyun adalah raja. Dan, apa yang pria gay itu katakan tadi? Bernyanyi untuk wanita berisik itu? Tunggu saja sampai semua air laut berubah menjadi manis, baru Kyuhyun akan melakukannya.

"Ada apa, sayang? Kenapa?" Siwon bertanya penasaran. Bukan pada Kyuhyun, tetapi pada bayi yang sejak tadi duduk di pangkuannya.

Choi Moonbin, bayi lima bulan itu tidak bisa diam dan terus bergerak. Tangan mungilnya terus menggapai ke ruang kosong yang ada antara Kyuhyun dan Siwon.

"Apa kau ingin berkenalan dengan Kyuhyunie hyung?" tanya Siwon gemas sambil mencium pipi gembilnya. Seakan ia bisa membaca apa yang ingin dikatakan Moonbin.

Yang namanya disebut, menoleh tidak suka. Kyuhyun menggeleng horror, ketika melihat Siwon ingin memindahkan Moonbin untuk duduk di pangkuannya.

"Tidak, Choi. Aku tidak sudi berurusan dengan makhluk penuh liur." Kyuhyun mendesis.

"Lihatlah, Binnie sangat penasaran denganmu, baby."

"Choi, sudah kukatakan tidak!"

"Tidak apa-apa, baby," ujarnya menenangkan. Kyuhyun langsung menegang setelah Moonbin sudah duduk di pangkuannya. "Jangan kaku seperti itu, pegang saja dengan lembut. Dia hanya ingin berkenalan."

Kyuhyun terbiasa memutar stir, bukan menggendong bayi. Jika sesuatu terjadi pada makhluk tanpa gigi itu, salahkan saja Choi Siwon yang sudah memaksanya.

Terpaksa menuruti perkataan Siwon. Kyuhyun kembali bernafas, setelah menahannya sebentar. Dipandangnya sepasang mata bulat jernih yang sedang menatapnya berbinar. Kyuhyun benci bayi dan anak-anak. Mereka hanya makhluk lemah yang hanya bisa menangis jika ketakukan. Bahkan untuk menolong dirinya sendiri pun tidak mampu. Hanya mengandalkan wajah lucunya untuk meminta pertolongan orang dewasa. Benar-benar makhluk rapuh.

Sepasang tangan mungil mencoba meraih wajah Kyuhyun. Bayi dalam dekapannya kini berceloteh riang, memperlihatkan tawanya yang lucu. Ada titik putih di gusi depannya, gigi pertamanya yang hendak tumbuh.

"Dia lucu bukan, Kyu." Siwon mengomentari sambil mencuri kesempatan memeluk Kyuhyun dari samping. Alasannya ingin menjaga Moonbin agar tidak jatuh.

"Mu.. mu.. mu." Makhluk menggemaskan bernama Moonbin itu berceloteh riang dengan bahasanya sendiri.

Hampir saja Kyuhyun ikut tersenyum melihat bayi dalam dekapannya. Namun sedetik setelahnya, coklat karamelnya langsung membelalak. Sesuatu yang hangat tiba-tiba membasahi celana dan sebagian kemejanya.

"Yakk! Apa yang kau lakukan, bayi terkutuk?!" Kyuhyun langsung bangkit dari duduknya dengan tangan memegangi dua ketiak Moonbin agar menjauh dari tubuhnya. Tapi bayi itu malah terkekeh senang.

"Omo! Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Aku lupa memakaikan Binnie popok." Jaejoong bergegas memberikan sapu tangannya pada Kyuhyun. Sementara Yunho mengambil alih anak mereka.

"Hey, kau tidak boleh berkata kasar seperti itu pada anak kecil, Kyu." Siwon terkekeh sambil membantu Kyuhyun mengelap bajunya yang basah. "Kau tau? Aku juga pernah dipipisi Binnie saat pertama kali menggendongnya. Itu salam perkenalannya, baby. Tandanya Binnie menyukaimu. Kau boleh percaya, boleh tidak," lanjut Siwon.

"Jika aku percaya padamu, tandanya aku sudah gila."

Choi Siwon tertawa terbahak-bahak sambil menunjukkan pada Kyuhyun jalan menuju kamarnya. Ternyata namja pucat itu sangat marah karena mendapatkan salam perkenalan dari Moonbin. Tiada hentinya Kyuhyun menggerutu sampai dirinya masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar Siwon.

.

Siwon membuka dua buah koper milik Kyuhyun, sambil menunggu pemiliknya selesai membersihkan diri. Seketika raut wajahnya berubah sendu. Dalam koper itu didominasi jaket, sweater, dan pakaian hangat lainnya. Bahkan baju tidur milik Kyuhyun berbahan kaos yang cukup tebal.

Siwon sudah mendengar langsung dari ayah mertuanya, bahwa Kyuhyun sering sekali sakit sejak kecil. Sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Cho itu juga tidak tahan dengan udara dingin. Isi dari koper-koper ini membenarkan semua perkataan Yeunghwan. Meski Siwon tau, ayah mertuanya tidak mungkin berbohong.

"Apa yang kau lakukan dengan koperku?" Suara Kyuhyun memecah lamunannya.

"Kau sudah selesai, Kyu?"

Pertanyaan Siwon tidak mendapat jawaban. Siwon memperhatikan Kyuhyun yang menggigil kedinginan walaupun sudah mengenakan bathrobe. Rambutnya pun masih basah.

Dengan cepat Siwon menarik sebuah handuk baru dari dalam lemarinya. Menyampirkan handuk yang cukup besar itu di kepala Kyuhyun, menutupi sebagian bahu Kyuhyuh yang sudah tertutup bathrobe. Siwon hanya mencoba membuat Kyuhyun sedikit hangat.

Setelah mendapatkan bajunya, Kyuhyun kembali ke dalam kamar mandi dengan sedikit berlari.

.

"Keluar. Aku ingin istirahat." Lagi-lagi Kyuhyun menganggu Siwon yang masih asik dengan lamunannya.

Ternyata namja pucat itu sudah selesai memakai bajunya. Kaos lengan panjang dan celana training–yang juga panjang–menutupi sepasang kakinya yang jenjang.

"Jahat sekali. Kau mengusirku dari kamarku sendiri," kata Siwon setengah merajuk.

Kyuhyun melotot. "Lalu dimana kamarku?"

"Di sini. Ini kamar kita," jelas Siwon enteng.

"Apa tidak ada kamar lain?"

"Kenapa? Ada masalah?" Siwon kembali menggoda Kyuhyun. Ia ingin tau bagaimana reaksinya.

"Aku mau kamarku!"

"Ini kamarmu, baby. Kamar kita. Lagi pula kita sudah menikah. Tidak ada yang salah jika dua orang yang sudah menikah ada dalam satu kamar, dalam SATU RANJANG sekalipun."

Kyuhyun bergidik karena kalimat terakhir Siwon. "Aku laki-laki, Choi."

Siwon tertawa. "Tidak ada yang mengatakan kau wanita, sayang."

"Tapi aku pria normal, bukan gay!"

"Harusnya tidak ada masalah jika memang kau pria normal." Siwon mulai mendekati Kyuhyun setelah selesai menaikkan suhu kamarnya agar lebih hangat. "Apa kau tidak pernah tidur seranjang dengan laki-laki?" lanjutnya lagi.

Sekuat tenaga Siwon mencegah agar tidak tertawa karena melihat Kyuhyun yang perlahan mundur ketakutan.

"Diam di sana, Choi!" teriak Kyuhyun.

"Kenapa? Atau mungkin kau sudah menjadi sepertiku, hm?"

Siwon berhasil menghimpit tubuh kurus itu ke dinding. Tangannya bergerak mengusap rambut Kyuhyun yang hampir mengenai matanya. Sedangkan Kyuhyun, sang namja berkulit pucat, makin pucat kerena menyadari keadaannya yang terdesak. Terjepit antara tubuh besar Siwon dan tembok yang dingin. Mungkin sebentar lagi ia akan tamat di tangan namja gay-sialan bernama Choi Siwon.

Chup

Sebuah kecupan mendarat di pipinya dengan lembut.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" Refleks Kyuhyun langsung membalas kecupan Siwon dengan melayangkan sebuah tinju ke bahunya.

Siwon tertawa, seakan pukulan yang menghantam bahunya hanya sebuah hembusan angin. "Istirahatlah, baby. Akan ku bangunkan nanti, saat makan malam."

Setelah mematikan lampu kamar, Siwon langsung keluar. Meninggalkan Kyuhyun yang masih bersandar pada dinding karena tubuhnya sedikit lemas.

.

TBC

.

Seneng banget baca review kalian #hug. Apalagi yang komen tentang ceritanya. Bukan cuma bilang, 'ayo update kilat!', hehe. Kadang, komen kalian bisa jadi ide cerita buat chapter selanjutnya loh. Dan Alya paling suka komen yg isinya tebak2an; misal 'Jangan2 si Kyuhyun begini' atau 'mungkin si Siwon begitu'.

Hhmm, Alya kebanyakan request ya? Mian :p

Alya masih anak baru di sini. Masih butuh banyak bimbingan. Kl ada yang berbaik hati ngasih kritik beserta sarannya, Alya bakal seneng banget. Ditunggu ya readers2-ku tersayang.

15/Desember/2015. AlyaFarah.