Tidak tidur semalaman membuat mu mendapatkan mata panda. Bagaimana tidak, kau tidur dengan seseorang yang notabenya cowok, oke itu sih ngak masalah kalau kamu juga cowok. Masalahnya cowok yang berada di sampingmu yang tengah tidur tepat di sampungmu, satu futon lagi dan berhasil membuat kokoromu berdoki-doki ria yang hampir membuatmu berpikir macam-macam.

Hah~

Hidup itu penuh cobaan

Apalagi kalau yang tidur di sampingmu juga merupakan makhluk sempurna yang bisa saja merenggut nyawamu dalam hitungan detik.

.

.

.

.

.

.Absolute Love.

Raten : T

Disclamer : Fujimaki Tadatoshi, tapi boleh ngak Ryouta-chan jadi milik Yuki, nanti Yuki tukar dengan semua karakterku waktu smp?#plak!

Story : Namikaze Yukiko-chan

Pairing : OcReaderMale x Akashi

Type : Multi-chap

Warning : Typo(S) yang tak pernah luput dari mata anda, serta karakter yang OOC, serta hal-hal yang tak berkenan yang lainnya. Masih dengan tema bumbu BL alias shonen-ai

Summary : *Tiba-tiba pingin ganti summary* Cinta itu tak ada batas. Karena cinta memiliki arti luas. Dan cinta juga tak mengenal umur, suku, ras, agama, serta …. tinggi badan. *Yuki langsung kabur, takut ada Sei-tan nogol lalu membunuh yuki dengan gunting kratmanya.*

.

.

.

.

Langsung aja di baca!

Don't like, don't read.

.

.

.

.

Chapter 04

.

.

.

"Ohayou, tou-san"

"Oha—apa yang terjadi denganmu [nama kecil]-chan?!" ucap ayahmu panic melihat wajah pucatmu saat melangkah menuju kearah dapur.

"Ba-ba-banyak yang terjadi Tou-san hehehehe…" ucapmu sambil tertawa garing. Mana mungkin bilang bahwa dirinya tak bisa tidur lantara terus memandangi Akashi.

"Oh ya…. Ngomong-ngomong di mana calon menantuku yang manis?" kata Ayahmu sambil mencari-cari si bersurai merah.

"SUDAH KU BILANG AKU - ah sudah ah, aku malas berdebat sama Tou-san." Jawabmu lemas. Mau bilang dirimu sendiri 'normal' percuma, kalau kamu masih bisa 'terpikat' sama si kapten Teiko.

"Oh ayolah anakku~ Otou-san mu ini sudah menerima Sei-chan~" Lagi-lagi Ayahmu menggoda kembali dirimu.

" 'Se-sei-chan'?! Aku pikir Tou-san lah yang belok di sini?" Tanyamu mulai stress menghadapi tingkah Ayahmu yang memang ambigu sejak awal kau ingat kelakuan gilanya. Kamu bahkan ingat ketika kamu ulang tahun di saat bangku SD, sebagai hadiahnya pria paruh baya yang berada di depanmu menceburkanmu ke sungai. Memang sih niat pria seperempat abad itu memang baik, yaitu membuatmu agar bisa berenang tapi agak ironinya itu saat kamu harus berenang di sungai yang bahkan lebih dalam dari tinggi badan ayahmu sendiri.

"Ayolah [nama kecil]-chan. Tou-san tau kalau kamu sudah belok kok~" Oke FIX, kamu pingin banget nendang Ayahmu sendiri, ngak perduli bakal jadi maling kundang yang mendurhakai Orangtua kandungmu sendiri. Plus, hatimu juga.

"…." Karena sudah capek, kau tidak membalas dan segera ke kamar mandi. 'hah~ aku perlu air dingin' batinmu.

.

.

~Yukiko~

.

.

"Aku tak bisa membayangkan seperti apa tatapan mereka melihatku jalan dengan seorang Akashi." Ucapmu mulai tidak jelas.

"Memang apa yang salah denganku." Jawab orang yang sedang kamu bicarakan. Yah, berjalan berduaan.

"Mungkin akan ada yang bilang adalah, seorang pembantu dengan seorang bangsawan sedang berjalan bersama." Pikiran negatifmu itu benar-benar dasyat. Sampai membuat Akashi tersenyum.

"heee~ kalau begitu, sebagai pembantuku. Kau harus menuruti perintahku seharian." Ucap Akashi lalu memberikan tas sekolahnya.

"Apa maksudmu menyodorkan tasmu Akashi?" tanyamu bingung.

"ya ampun… [nama kecil]. Kau adalah pembantuku sekarang…. Ayo bawa tasku." Jawab Akashi anggkuh yang ingin kamu lempar tas dengan tas miliknya. Tapi, kamu masih tidak kuat melihatnya tersakiti. 'uh.,… kenapa aku malah jadi pemeran uke?' batinmu stress.

"Baiklah, Master…. Apa boleh saya menggendong Anda menuju sekolah, karena seorang bangsawan seperti anda tidak boleh berjalan seperti ini" ucapanmu sebenarnya cuman candaan. Dan Akashi itu bukan wanita, jadi pasti menolak. Dan lagi apa yang akan di katakana orang-orang klo dua orang cowok saling terlihat mesra seperti itu?

"Baiklah, Ayo gendong aku." Kata Akashi membuatmu terbengong beberapa saat.

"EH…?! AKU CUMAN BERCANDA, KENAPA KAU ANGGAP SERIUS?!" Teriakmu setelah sadar.

"Oh… bercanda … ya?!" suara Akashi terdengar menyeramkan, apalagi ketika dia menekan kata 'Ya' tadi.

"Ma-ma-maafkan saya master… saya akan angkat anda." Ucapmu gugup lalu pasrah terhadap nasip.

Tas yang kamu bawa di kalungkan di lehermu supaya bisa dengan mudah menggendong Akashi. Kamu segera saja berlutut. Akashi lalu segera menaiki pungungmu.

"Akashi, kamu ternyata ringan juga." Ucapmu tersenyum lalu berdiri menggendong si surai merah.

"Maaf saja kalau aku ringan…. Ayo cepat jalan." Segera saja kamu berjalan.

"Akashi, memang kamu tidak malu di gendong olehku?" tanyamu binggung melihat Akashi yang terlihat datar saja.

"Untuk apa?"

'oh, iya yah… Akashi kan sekarang majikanku. Mungkin dia bakal bilang diakan pembantuku, jadi suka-suka pemiliknya.' Batinmu mencoba memahami suasana. Lagipula, hari ini suasana masih sepi. Lagi-lagi kamu berangkat terlalu pagi dari biasanya. Namun kali ini bersama Akashi yang saat ini berada di gendonganmu. Langkahmu pun di perlambat. Kamu berpikir, ah… di perlambatpun mereka tak mungkin sampai terlambat.

Butuh waktu beberapa puluh menit bagi mereka –er.. mungkin bagi kamu— untuk sampai ke sekolah.

Lorong kelas terlihat masih sepi, untunglah. Penjaga sekolah sudah membuka pintu gerbang. Kalau tidak kamu pasti akan malu di lihat oleh orang banyak walau tak di kenal menggendong pemuda lain di punggungnya. Apa kata dunia?

Tapi kalau lelaki lain itu ngak masalah. Kalau ini beda ceritanyan klo yang di gendong olehmu itu Akashi seijurou. Seorang pewaris sah Akashi yang multi-talenta. Baik dalam olahraga maupun dalam pelajaran. Semuanya sempurna.

Tanpa sadar kakimu sudah sampai di depan pintu kelas.

"Hey Akashi kita sudah sampai" tapi yang berada di punggungmu tak menjawab.

"Hoy… Akashi." Kali ini kamu menggoyang-goyangkan bahumu. Namun hasilnya nihil. Yang terdenger adalah suara dengkuran halus dari si Emperor Eye.

"Dia malah tidur… ya sudahlah. Aku bawa ke UKS saja… sebelum itu aku harus mencari penjaga sekolah."

Saat penjaga sekolah melihat kondisimu yang menggendong Akashi. Entah kenapa raut mukanya terlihat ingin muntah(?) mungkin dia berpikir kamu melakukan hal yang "iya-iya" dengan Akashi. Karena seragam si bermata dwi warna sedikit tidak rapi –karena mencoba mencari posisi nyaman di gendong olehmu—. Setelah menjelaskan panjang lebar. Akhirnya, kamu mendapatkan kamar UKS dan lalu segera membaringkannya.

Cukup lama kau memandang wajah si surai merah yang tengah tertidur pulas saat ini. mengingat si penggila sup Tofu ini cukup dingin ke semua orang, baik kepada dirimu atau orang lain. Tetapi, wajah damai ketika tidurnya itu. Mungkin hanya bisa di lihat beberapa orang termasuk dirimu.

"Oh, ya… kenapa dia bisa tertidur dengan nyenyak begitu? Padahal kemarin dia tertidur paling awal." Tanganmu tanpa sadar mengusap rambut lelaki bernama lengkap Akashi Seijurou. "Ah… sudah lah. Tak begitu penting.".

.

.

.

"Hei [Nama kecil]! Bangun. Kau tidak niat untuk bolos kan?"

Suara manis itu membangunkanmu dari tidur. Kau kaget bukan kepalang karena tanpa sengaja ikut tidur si UKS sekolah. Tapi bukan d ranjang yang di tempati si rambut merlah loh~ kamu cuman duduk tertidur di sisi ranjang milik pemuda bermata dwi warna doang kok.

Segera saja kamu menegakkan badanmu. Terdengar samar-samar "krak-krak" pada bagian punggung, lengan dan kepala akibat posisi dudukmu yang tidak benar. Dan kau agak mengadu kesakitan sedikit saat di area kepala.

"Kayak orang bau tanah saja."

Ucapan 'gebetan'mu memang menusuk banget. Apalagi yang di singgung soal umurmu yang sebenarnya. Kamu hanya membalasnya dengan cengengesan garing membalas pernyataannya barusan.

"kalau begitu kita ke kelas saja Akashi, aku tidak mau kalau teman-teman marah ke kita karena bolos pelajaran pertama Himuro-sensei." Ucapmu agak tersenyum sebari menggambil tas kalian yang di taruh di kursi tempat dokter UKS biasa duduk.

"Mereka tak mungkin memarahiku…." Ucap Akashi datar.

Kenapa kamu bego ya, pake kata 'kita'. Seharusnyakan 'aku', karena si kapten mungil mana ada yang berani memarahinya. Akashi seijurou itu bagaikan bunga mawar, penampilan rupawan dan kelihatan sempurna, tapi dalemnya menyakitkan. Kamu sih ngak masalah di gituin, yang penting masih jadi seorang teman buat Seijurou cukup. Atau bahkan kamu sendiri di kira babu sempurna di mata Akashi. Entahlah… siapa yang tau.

"Kenapa kau memberikan tasnya padaku." Mungkin ini tidak terdengar bertanya oleh kedua gendang telingamu.

"Loh, memang kenapa. Ini kan tasmu Akashi?" tanyamu bingung.

"bukannya kau pembantuku hari ini, kau seharusnya yang membawa tasku!" perintah Akashi itu Absolute tapi masa iya, dia juga harus menggendong Akashi kayak tadi pagi. Mau di kemanakan mukamu.

"Bisa kita tunda dulu peran 'majikan-pembantu'nya selama belum di rumah?" tanyamu agak pelan. Takut-takut kau salah bicara. Keheninganpun terasa di dalam ruang UKS. Tanpa ada salah satu di antara kalian yang memulai pembicaraan.

"Baiklah, aku akan menghukummu ketika sepulang sekolah." Entah kenapa bulu kudukmu merinding disko mendengar kata 'hukum' barusan. Dalam hati, kamu mendapat hukuman yang normal-normal saja.

.

.

.

.To be Continue.

Hwaaa~

Hampir satu tahun ini fic terlantar karena kesibukan kampus. Larat, dua tahun malah. Bahkan aku harus menyembunyikan wajahku ini karena terlalu malu untuk mempublish chapter yang gagal aku jadikan chapter terakhir. Yang bahkan aku telantarkan karena tidak mendapat konsep yang bagus. Berkali-kali alur aku hapus sampai mentok.

Apalagi kesibukankku di anime musiman *nyari calon husbando di tema idol* dan hampir juga puluhan kali sakit-sakitan, karena tubuhku agak lemah beberapa tahun ini belakangan ini. tapi untungnya aku tidak di bawa sampai ke RS atau ke UGD gara-gara kesehatanku yang menurun karena aku takut di infuse dan di suntik. Cukup sekali aku di suntik obat bius ketika kakiku sakit. Aku tidak mau mengingatnya.

Maaf kalau ini chapter terbilang pendek. Dan malah lagi, ngak mood menulis selama satu tahun belakangan. *abaikan fanficku yang kebetulan ada di fandom lain, percayalah itu murni aku nulis spontan pas bosen dengerin ceramah dosen.*

.

.

Adakah yang mau me-review?

.

.

.

Tambahan : maaf ya, Arisa-san karena aku tidak mempublish secepat perkiraanku. Aku memang berniat menulisnya tahun lalu setelah ada pesanmu. Namun apa boleh buat, kesibukan di duta dan hobby nyari husband serta kesehatan menurun dari hari-kehari.

Hontou ni Gomenna-sai.

.

.

.

Salam Yukiko-chan T.T