Fleur et Neige
[Interested]
.
.
Namjoon mohon dengan sangat untuk cabut rasa sakit di hatinya tanpa tersisa
.
.
Siang yang hangat dan sejuk di saat yang bersamaan, burung-burung berkcau merdu seperti dalam cerita anak-anak, dan embun pada setiap helai daun dan kelopak bunga memantul seperti berlian.. jelas ini hari yang indah untuk Jaehwan. Dia tahu hari ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh seorang Lee Jaehwan.
"Tuan, hari yang indah, bukan begitu?"
"Ya, tentu saja." balas Jaehwan. "Ethan, kita pergi ke Cluster Looch, tolong."
Ethan, supir Lee Jaehwan, tampak terkejut. Pemandangan Cluster Looch memang sama bagusnya dengan Cluster Lothos -tempat tinggal Jaehwan-, tapi atasannya harus menghadiri rapat dengan teamnya.
" Tuan-"
"Hanya sebentar Ethan. Aku hanya ingin menyapa masa depan."
.
.
.
Mata setengah terbuka, wajah yang membengkak, tubuh yang bungkuk ketika berjalan.. jelas sekali Kim Seokjin baru bangun dari tidurnya. Namun si cantik memaksakan diri untuk keluar dari rumah untuk menyirami tanamannya di halaman depan kecil miliknya.
Otak Seokjin belum bisa mencerna apapun, bahkan ketika seekor lebah taman liar menggigit tangannya, Seokjin tidak melakukan apapun. Padahal jika bekas gigitannya tidak segera dikompres dengan daun mint akan mengakibatkan bengkak yang menyakitkan serta ruam merah di sekujur tubuh yang tentunya sangat gatal.
"Ya ampun Seokjin!" seseorang menarik tangan kiri Seokjin.
Seokjin memandangi orang itu, lalu menyapanya hangat. "Hai Yoongi."
Yoongi memandangi Seokjin horror. Lebah taman liar baru saja menggigitnya dan si cantik ini tidak melakukan apapun dan menyapa Yoongi yang panik setengah mati seperti orang tolol.
Yoongi mendesah berat. "Seokjin, apa kau tidak memiliki daun mint?" yang ditanya menggeleng. Sial! Yoongi merutuk dalam hati. Pasalnya persediaan daun mint di rumahnya juga sudah habis.
Rasa panik semakin menggerogoti Yoongi hingga ke tulang melihat beberapa ruam merah mulai bermunculan di kulit Seokjin. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang." ucap Yoongi final. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Seokjin yang masih memakai piyama motif sapi atau debgan dirinya sendiri yang hanya memakai celana pendek.
"Selamat pagi Yonggi dan Seokjin- astaga! Seokjin, wajah-"
"Dia digigit lebah taman liar. Bisa antar kami ke rumah sakit?!" suara Yoongi naik karena panik yang mendera. Jaehwan pun bergerak cepat menggendong Seokjin yang tidak memakai alas kaki. Jaehwan tidak ingin kaki Seokjin tergores walau hanya satu goresan.
Seokjin sedikit bergerak tidak nyaman dalam gendongan "Eungh, tanganku sakit." rintih si cantik dan itu membuat Jaehwan merasakan sesuatu yang ngilu di dalam hatinya.
"Aku tahu, kita ke rumah sakit sekarang. Yoongi, kau duduk di depan."
Kamar rawat VIP, tempat Seokjin berakhir. Seokjin sudah melarang Jaehwan saat lelaki itu meminta para perawat memindahkannya ke ruang itu, tapi malah omelan yang Seokjin dapatkan.
Seokjin hanya belum sadar sepenuhnya ketika lebah taman liar menggigit tangannya. Itu saja.
"Biasanya kau sarapan apa?" Jaehwan bertanya.
"Biasanya hanya roti dan susu." Seokjin berbohong. Tidak mungkin seorang Kim Seokjin hanya sarapan dengan susu dan roti. Kenyataannya, menu sarapan Seokjin dengan menu makan siangnya hampir sama, lalu dia akan makan camilan satu jam setelahnya.
Telinga Seokjin menangkap suara pintu terbuka dan dia pun menoleh, Yoongi berjalan masuk. Teman Seokjin itu pulang sebentar untuk bersih-bersih tadi, meninggalkan Seokjin dengan Jaehwan yang mengomelinya tentang bahaya lebah taman liar yang tentunya sudah Seokjin ketahui.
"Kau datang tepat waktu Yoongi. Tolong jaga Seokjin sementara aku mencari sarapan yang dia mau." Seokjin melirik Jaehwan dan rasa tidak enak yang sama seperti kali pertama mereka berkenalan di kafe menggerogoti Seokjin. Seokjin rasa dia sangat merepotkan lelaki itu.
"Kau sudah merasa lebih baik?"
Lamunan Seokjin pecah oleh pertanyaan Yoongi. Kepalanya mengangguk lemas. "Ya, berkat Jaehwan."
"Kau akan berada di sini hingga sembuh total. Jaehwan yang meminta." dan berkat ucapan Yoongi, Seokjin semakin merasa tidak enak pada Jaehwan.
"Yoongi, ibu bagaimana?"
"Sudah kuberitahu, tapi Bibi Kim minta maaf karena baru bisa menjenguk sore nanti, teman-teman lamanya berkunjung. Tapi Bibi Kim terdengar sangat panik tadi."
Kepala Seokjin mengangguk-angguk kecil, dia sudah tahu perkara teman-teman lama ibunya. Itulah alasan dia memaksakan diri untuk menyirami bunga walau kesadarannya sama sekali belum datang.
"Jangan lupa berterimakasih pada Jaehwan, dia mengorbankan jadwal rapatnya untuk merawatmu."
Seokjin mencatat baik-baik dikepalanya untuk membalas kebaikan Jaehwan.
.
.
.
"Kutunggu kehadiranmu sepupu.."
"Tambahan satu kamar lagi?.. twin bed, oke, tidak masalah.. ya, ya."
Dan sambungan holo Namjoon putuskan. Lee Jaehwan, sepupu sekaligus calon pemimpin wilayah Spring yang sekarang masih merangkap menjadi menteri lingkungan dan tata ruang wilayah Spring akan datang mengunjungi Hatysa. Kunjungan yang membuat Namjoon harus pergi ke Hatysa walau tubuhnya terasa remuk karena lelah.
Kamar hotel memang nyaman, tapi tetap tidak sebanding dengan kamar sendiri bagi Namjoon. Belum lagi Namjoon meninggalkan ibunya di Acrux. Memang penjagaan di rumahnya sangat ketat, tapi Namjoon tetap tidak bisa untuk tidak khawatir.
Namjoon hendak mengambil beberapa file ketika holo watchnya berbunyi. Dari Lee Jaehwan dan itu sebuah foto. Dahi Namjoon berkerut melihat dua tangan yang berada dalam foto itu. Namjoon tahu jelas tangan yang berurat dengan tulang-tulang yang tegas adalah tangan Jaehwan, tapi Namjoon bertanya-tanya tangan siapa yang sedang diinfus dan terluhat lentik? Apa itu kekasih Jaehwan? Kenapa sepupunya itu tidak bercerita?
N: siapa itu?
Jaehwan: tebaklah..
N: kekasihmu?
Jaehwan: mungkin (?)
Namjoon menghela nafasnya. Sepupunya jelas adalah orang yang sangat beruntung, tidak seperti dirinya yang bernasib malang. Mencintai orang yang mencintai orang lain, lalu kehilangannya, dari dirinya sendiri dan juga dunia. Semoga Jaehwan tidak mengalami hal yang sama dengannya. Namjoon tidak yakin sepupunya itu akan kuat melewati fase kelabu yang menyakitkan.
.
.
.
Seokjin membuka matanya dan menguap. Dia tertidur setelah memakan sarapan yang Jaehwan belikan untuknya dan menonton beberapa acara di TV. Tapi Seokjin sedikit mendengar percakapan Jaehwan dengan seseorang yang lelaki itu panggil sepupu. Seokjin harap dia tidak termasuk seorang penguping karena hal itu.
"Kau sudah bangun rupanya. Apa kau lapar? Ini sudah siang.." Jaehwan tersenyum pada Seokjib. Seokjin hampir mengatakan bahwa dia sangat lapar sebelum teringat bahwa dia sudah cukup merepotkan Jaehwan. Akhirnya Seokjin menggeleng. "Tidak, aku hanya ingin minum."
Jaehwan dengan senang hati mengambilkan air yang ada di nakas dan memberikannya pada Seokjin.
"Kau hanya ingin minum? Sudah waktunya makan siang."
Seokjin menenggak air dari gelas hingga teguk terakhir lalu menggeleng dengan cepat. "Tidak perlu-"
"Eih, seharusnya aku tidak perlu bertanya." belum sempat Seokjin menahan Jaehwan, lelaki itu sudah menekan tombol jingga yang ada di sampung tempat tidur.
Seokjin jadi heran sendiri, kenapa rasanya dia terus merepotkan orang-orang? Apa karena dia lemah? Seokjin akan berusaha menjadi lebih kuat dari sekarang kalau begitu.
"Jaehwan,"
Yang dipanggil pun menoleh, mengabaikan berita di TV yang masih mencari buronan nomor satu. "Kenapa?" tanyanya lembut.
"Terima kasih."
"Huh?"
"Kita baru berteman seminggu yang lalu, tapi aku sudah banyak merepotkanmu. Aku jadi merasa sangat bersalah."
Jaehwan terdiam beberapa saat, setelah itu tersenyum begitu lebar pada Seokjin. "Aku melakukan semua itu dengan senang hati karena orang yang membutuhkanku itu adalah kau, Seokjin." tangannya mengusak rambut Seokjin lembut. "Lagipula aku tidak merasa direpotkan. Aku menganggap semua itu sebagai.. latihan."
"Latihan?" tanya Seokjin bingung dan Jaehwan mengangguk. "Ya, latihan."
"Latihan apa?"
"Hmm.. nanti kau juga tahu." Jaehwan mengedipkan sebelah matanya. Entah mengapa itu membuat wajah Seokjin merona. Jaehwan terlihat tampan ketika melakukannya.
"Seokjin, apa kau tahu Hatysa?"
Seokjin mengangguk. Tentu dia tahu Hatysa, Seokjin sangat ingin ke sana sejak kecil, terutama saat bunga salju mekar. Sayang ibunya tidak mengizinkan Seokjin pergi sendiri ke sana sementara ibunya juga tidak ingin pergi ke sana menemani Seokjin.
"Jika aku mengajakmu ke sana, apa kau mau ikut? Dengan Yoongi tentu saja."
Pertanyaan itu.. pertanyaan itu tentu saja tidak akan Seokjin jawab dengan tidak. Jaehwan baru bertanya padanya saja Seokjin sudah sangat senang. Pergi berdua saja tanpa Yoongi juga tidak masalah untuk Seokjin.
"Tiga hari lagi aku akan ke Hatysa dan aku tentu akan kesepian meski di sana ada sepupuku." tangan Jaehwan menggenggam tangan Seokjin yang bebas dari infus. "Kuharap kau mau ikut."
Tanpa menunggu apapun, Seokjin mengangguk berkali-kali, bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu lebar. Terlihat dengan jelas Seokjin sangat senang.
"AKU MAU! Terima kasih Jaehwan!"
"Kalau begitu kau harus menurut padaku, oke? Makan teratur dan jangan menolak obat yang diberikan dokter." Jaehwan berucap.
Seokjin memang sempat menolak obat untuk mengempiskan bengkak dan menghilangkan ruam yang diberikan dokter padanya. Seokjin memang menyukai semua yang bisa dimakan kecuali obat. Tapi untuk kunjungan yang dia impikan, Seokjin akan berusaha.
"Aku akan!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Masih sedikit-sedikit, kuharap kalian ngga keberatan..
Makasih buat support kalian untuk cerita ini :))
Maaf kalau ada typo :(
Kalau ada yang mau ditanyain tanya aja, nanti kuluangin waktu buat jawab kok :)
Have a nice day! Peace.
