My Heart is For You, Hisana
Disclaimer: Tite Kubo
Don't Like, Don't Read!
Enjoy Reading!
.
.
.
CHAPTER 4: The Couples
"Ojou-san, Byakuya-sama sudah menunggu di ruang makan."
Hisana menyisir rambut dan melihat pantulan wajahnya dicermin. "Aku akan segera turun."
Pelayan wanita itu membungkuk sesaat dan pergi meninggalkan kamar Hisana. Bunga sakura telah berguguran, musim semi hampir berakhir dan akan digantikan dengan cuaca panas dan terik. Hisana melihat sebuah pigura foto di meja riasnya. Dua orang gadis kecil yang sangat mirip sedang berpelukan didalam foto itu. Jemari Hisana mengelus wajah gadis kecil yang memegangi sebuah boneka kelinci ditangannya.
"Sepuluh tahun kau meninggalkan rumah ini. Bersenang-senang, tanpa perduli ada yang melarangmu ini-itu. Melakukan apapun yang kau sukai tanpa ada yang membatasi kegiatanmu. Kau pasti senangkan? Sampai membuatmu lupa untuk menginjakkan kaki ke rumah ini lagi."
Hisana beranjak dari meja riasnya dan turun menuju meja makan. Semua pelayan terus membungkukkan badannya saat Hisana melewati tangga. Kuchiki Hisana. Putri sulung dari keluarga bangsawan Kuchiki. Anggun, menawan, dan pintar. Manusia yang nyaris sempurna yang di ciptakan oleh Tuhan. Hisana membungkuk memberi hormat pada kakaknya, Kuchiki Byakuya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa sakit?" Tanya Byakuya setelah Hisana duduk.
Hisana menggeleng. "Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir." Ujarnya.
Byakuya hanya menghela nafas. "Aku tidak akan se-khawatir ini kalau kau tidak pengidap penyakit jantung, Hisana." Ujar Byakuya.
Hisana diam. Semenjak kecil, ia memiliki jantung yang lemah. Rumah sakit, infus, bau obat-obatan, bukan hal asing baginya. Karena kondisinya itu, semua hal yang Hisana inginkan bisa dengan mudah didapatkan. Namun, hanya satu hal yang tidak bisa dia dapatkan. Kebebasan. Apa gunanya ia bisa memiliki apapun yang dia inginkan tapi tak bisa bebas menggunakannya?
"Aku sudah selesai makan." Hisana mengelap mulutnya dengan serbet. "Ittekimasu."
Byakuya mengangguk. "Hati-hati."
.
.
.
Rukia sedang mendengarkan musik dan tiba-tiba sebuah kotak dilempar begitu saja dihadapannya. Sebelah alis Rukia naik melihat seseorang yang melempar sebuah kotak padanya. "Apa ini?" Tanya Rukia sambil mengamati kotak yang dilempar Grimmjow padanya.
"Buka saja. Gampang'kan?" Ujar Grimmjow
Rukia membuka kotak yang ternyata berisi perban, alkohol, dan beberapa obat lainnya. "Aku tidak sakit." Ujar Rukia menggelengkan kepala dan melepas headphone-nya.
"Aku tahu kau tidak sakit. "Grimmjow mendekatkan wajahnya pada Rukia hingga gadis itu sedikit memundurkan kepalanya. "Obati lukaku." Pintanya sambil menunjuk sudut bibirnya. "Ittai!" Rintih Grimmjow. "Kenapa kau memukul kedua tanganku dengan penggaris?!"
"Kukira tanganmu mendadak lumpuh atau semacamnya, sepertinya kedua tanganmu baik-baik saja. Kau bisa mengobatinya sendiri." Rukia menatap seisi kelas. "Aku yakin para fansmu juga tidak keberatan untuk mengobati lukamu."
"Tapi aku ingin kau yang mengobati lukaku. Atau.." Grimmjow semakin mempersempit jaraknya dengan Rukia. "Kau ingin posisi kita terus seperti ini?" Tanyanya, menggoda.
Rukia menghela nafas pasrah dan membongkar kotak obat."Duduklah." perintahnya.
Dengan senyum yang merekah, membuat para siswi meleleh melihatnya, Grimmjow duduk di kursi dan memposisikan wajahnya dari jangkauan Rukia. Grimmjow mengamati wajah Rukia saat gadis itu sibuk mengobati lukanya. Manik mata violet Rukia menghipnotis Grimmjow sesaat. Mata Grimmjow tidak bisa lepas dari Rukia. Ia bahkan bisa melihat bulu mata lentik dari balik kacamata Rukia.
"Matamu indah." Puji Grimmjow
"Kalau kau ingin membunuhku, lempar saja aku dari jendela. Tidak usah mengatakan hal mengerikan seperti itu." Ujar Rukia
"Aku memujimu." Grimmjow masih menatap mata Rukia.
Rukia menempelkan plester di luka Grimmjow. "Dan pujian itu membunuhku. Seorang wanita akan lebih mengerikan saat sedang cemburu. Aku yakin walau IQ-mu tidak seberapa, kau pasti mengerti maksudku."
Gtimmjow berdecak. "Aku memujimu dan kau menghinaku? Kau itu benar-benar.."
CTAKK!
"Ittai! Kenapa menjentikku?!" Gerutu Rukia sambil mengelus dahinya.
"Itu balasan karena sudah menghinaku." Kata Grimmjow. "Tapi melihat ekspresimu tadi menurutku sangat menggemaskan." Komentar Grimmjow.
"Berani menjentikku lagi, tangan yang kau gunakan untuk menjentik tidak akan berfungsi lagi." ancam Rukia yang dibalas kekehan Grimmjow
.
.
.
"Kau ingin makan apa Hisana?"
Hisana membaca daftar menu yang tersedia. "Yang itu saja." Tunjuknya pada salahsatu menu.
Setelah Ichigo memesan makanannya dengan Hisana, mereka keluar dari antrian para siswa di stan makanan dan mencari tempat kosong. Ichigo agak kesulitan mencari tempat karena suasana kafetaria yang sangat ramai. Ia mulai kebingungan karena hampir kehabisan tempat, dan lebih kebingungan lagi melihat Hisana yang mulai merasa sesak dengan hiruk-pikuk kafetaria. Seakan Kami-sama mengetahui masalahnya, Ichigo akhirnya melihat tempat kosong didekat jendela.
"Disana ada tempat kosong. Ayo Hisana." Ajak Ichigo.
Hisana mengikuti Ichigo dari belakang menuju tempat kosong yang Ichigo maksud. Mereka hampir menduduki tempat itu, tapi seseorang sudah mendahului mereka. Ichigo mendekati orang itu dan menatapnya kesal.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ichigo ketus
.
.
.
Rukia hanya menatap malas laki-laki yang sedang memelototinya. "Dua kata untukmu. Makan dan duduk. Kau mengerti?" Tanya Rukia skeptis
Ichigo mendengus. "Aku yang melihat tempat ini lebih dulu dan kau mengambilnya begitu saja. Lagipula, aku membawa seseorang. Sedangkan kau sendiri." ujarnya beragumen
"Ah, sang tuan putri." Rukia melihat seseorang yang berdiri dibelakang Ichigo. "Kenapa kau tidak bilang kalau yang kau bersama orang penting?" Rukia berdiri dari kursinya. "Kalian duduklah disini. Dan aku akan mencari tempat lain. Tuan putri selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Bukan begitu, tuan putri Kuchiki Hisana?" ujar Rukia sambil membungkuk badan hingga menjadi tontonan banyak orang. Rukia baru akan pergi meninggalkan mereka saat tangannya tiba-tiba ditarik.
"Kalian seperti sang penguasa yang merampas dari rakyat jelata." Komentar Grimmjow.
"Apa mau Grommjow? Aku sedang tidak ingin berkelahi denganmu." Ujar Ichigo dengan emosi yang ditahan
"Aku tidak akan mencari gara-gara denganmu jika kau tidak mengusik Rukia seperti itu." ujar Grimmjow
Ichigo mendengus. "Mainan barumu?" ia menatap Rukia. "Maaf kalau begitu. Aku tidak merusaknya, tenang saja." ujarnya mencemooh
"Kali ini aku serius." Ujar Grimmjow datar pemuh makna. Ia menarik lengan Rukia dan memaksanya duduk ditempatnya tadi. "Makanlah makananmu. Dan untukmu Ichigo, tidak bisakah kau mencari tempat lain? Kau adalah pemimpin sekolah ini. Gunakan saja kekuasanmu untuk mencari tempat yang lain. Yang lebih bagus."
"Kau!" Ichigo hendak menghajar Grimmjow tapi ditahan Hisana
"Sudahlah. Kita cari tempat lain saja. Maaf mengganggu kalian." Hisana menarik Ichigo menjauh dari Grimmjow dan Rukia.
Setelah merasa Ichigo dan Hisana cukup jauh, Grimmjow kembali menatap Rukia. "Kenapa diam saja? Ayo makan. Atau mau kusuapi?" Tanya Grimmjow menggoda.
"Bukankah kau sudah selesai bermain dengan 'mainan'mu ini? Kau bisa pergi sekarang." Usir Rukia.
"Jangan dengarkan kata-kata Ichigo." Ujar Grimmjow dengan raut wajah terlihat kecewa.
"Baiklah, kalau begitu aku yang pergi." Dengan kasar Rukia berdiri dari kursinya, Grimmjow dengam cekatan menarik lengannya
"Hei, dengarkan aku dulu.." pinta Grimmjow
"Kau ingin menyuruhku duduk dan makan? Tidak, terima kasih. Aku sudha kenyang." Grimmjow masih memegang lengan Rukia kuat. "Kumohon, sekali ini saja, tidak bisakah biarkan aku sendiri? Jangan menambah kerumitan hidupku. Kita bisa jaga jarak, saling tidak mengenal seperti sebelumnya. Itu sudah cukup." Rukia melepaskan cengkraman Grimmjow dan pergi meninggalkan kafetaria
"Kau yang menarikku dalam kehiupanmu dan kemudian kau membuangkanku begitu saja? Tidak semudah itu." Gumam Grimmjow
.
.
.
Matahari telah tenggelam, langit ditaburi bintang dan matahari yang digantikan bulan. Genryusai duduk sendiri ditaman walau dia tahu itu tidak baik bagi kesehatannya. Dipandanginya sebuah pigura foto yang sejak tadi digenggamnya. Setetes air mata mengalir membasahi kulit keriput Genryusai, sebisa mungkin ditahannya isak tangis agar tak didengar Rukia.
"Kalian begitu menyayangi orang tua kalian.." gumam Genryusai. "Apa yang akan terjadi jika kasih sayang kalian dibalas dengan kekecewaan?" Genryusai memegang erat pigura foto. "Apa yang harus aku lakukan? Membiarkan kalian terus dalam kesalahapahaman yang menyebabkan kebencian satu samalain? Aku..benar-benar tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada kalian. Maaf.."
TBC
Arigatou gozaimasu! \(^o^)/ Untuk para readers yang me-riview atau mambaca fanfict ini! Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan para readers:') Kesuksesan chapter berikutnya tergantung dengan dukungan readers. See you next chapter guys~ (~^3^)~
Love,
Kazari Tayu
