Tiga

TOMOYUKI hampir tidak memercayai matanya sewaktu ia melihat Baekhyun keluar dari apartemen Chanyeol keesokan paginya. Ketika akan masuk ke apartemennya sendiri, gadis itu baru menyadari keberadaan Tomoyuki di tengah tangga.

"Oh, Tomoyuki-kun, selamat pagi," sapa Baekhyun dengan senyum salah tingkah. Dan kalau Tomoyuki tidak salah lihat, wajah Baekhyun merona. "Kau mau pergi kuliah?"

Tomoyuki mengangguk. "Aku baru mau ke tempat Chanyeol Oniisan," sahutnya, masih heran. "Mau meminjam...," ia terdiam sejenak, sudah lupa apa yang ingin dipinjamnya dari Chanyeol. "Baekhyun Oneesan...?"

Baekhyun buru-buru menyela, "Kalau begitu, sampai jumpa. Aku masuk dulu."

Begitu pintu apartemen Baekhyun tertutup, Tomoyuki berbalik menuruni tangga, tidak jadi pergi ke apartemen Chanyeol.

Haruka terkejut mendengar pintu apartemennya terbuka dengan suara keras. "Ada apa? Ada apa?"

"Oneechan! Dengar, aku baru melihat Baekhyun Oneesan keluar dari apartemen Chanyeol Oniisan," Tomoyuki melaporkan dengan nada mendesak.

"Apa?" Haruka mengangkat alis dan melirik jam dinding. Jam enam. "Sepagi ini?"

Tomoyuki mengerutkan kening dan berpikir-pikir. "Oneechan, menurutmu mereka..."

Haruka memukul kepala adiknya. "Jangan berpikir sembarangan. Baekhyun gadis baik-baik."

"Aku kan tidak bilang apa-apa," gerutu Tomoyuki sambil mengusap-usap kepalanya.

"Tapi kenapa dia keluar dari apartemen Chanyeol pagi-pagi begini?" gumam Haruka pada diri sendiri.

"Mungkinkah Baekhyun Oneesan berada di apartemen itu semalaman?" celetuk Tomoyuki.

Haruka menatap adiknya dan mengerjap-ngerjapkan mata. "Yah, mereka berdua memang cukup dekat. Selalu bersama-sama. Tapi masa...?"

"Baekhyun Oneesan memang gadis polos. Mungkin saja Chanyeol Oniisan yang mengambil kesempatan dengan..."

Haruka kembali memukul kepala adiknya. "Sebaiknya kau pergi kuliah sekarang. Heran, kau ini laki-laki tapi suka sekali bergosip."

Tomoyuki mengangkat bahu tidak peduli. "Bukankah aku belajar dari Oneechan?" Lalu ia melesat keluar sebelum Haruka sempat memukulnya lagi.


Memalukan. Kenapa aku bisa sampai tertidur di apartemen Chanyeol? Baekhyun mengembuskan napas sambil menyeberangi jalan. Hari ini banyak sekali yang harus dilakukannya di perpustakaan dan kesibukan mengalihkan pikirannya dari kejadian memalukan tadi pagi untuk sementara. Tapi sekarang dalam perjalannya ke rumah sakit karena flu yang tidak kunjung membaik, ia jadi teringat pada kejadian tadi pagi ketika ia terbangun di sofa ruang tamu Chanyeol.

"Aku tidur di sini semalaman?" tanya Baekhyun tidak percaya. Chanyeol mengangguk. "Tidurmu nyenyak sekali, jadi tidak kubangunkan. Lagi pula aku tidak keberatan."

Laki-laki itu memang tidak keberatan, tapi Baekhyun merasa malu. Ditambah lagi ia bertemu dengan Tomoyuki ketika ia keluar dari apartemen Chanyeol tadi pagi. Tindak-tanduknya pasti terlihat mencurigakan. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran. Tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Baekhyun mengeluarkan ponsel dari tas tangan dan membaca tulisan yang menari-nari di layar. Chanyeol.

"Moshimoshi? Chanyeol-san?"

"Lampu ruang dudukmu sudah bisa menyala." Terdengar suara Chanyeol di seberang sana.

Baekhyun tersenyum. Tadi pagi ia memang sudah melapor kepada Kakek Osawa dan menelepon tukang listrik untuk memperbaiki kabel listriknya yang bermasalah. Karena ia harus pergi bekerja dan tidak mungkin membiarkan si tukang listrik sendirian di apartemen, Baekhyun akhirnya meminta Chanyeol—tetangganya itu punya banyak waktu luang—menemani Kakek Osawa mengawasi apartemennya selama kabel listriknya diperbaiki.

"Kau memang tetangga paling baik sedunia," kata Baekhyun melebih-lebihkan. "Kau sudah menyelamatkan hidupku."

"Kalau kau mau berterima kasih, traktir aku makan." "Oke, kutraktir makan tteokbokki."

"tteok... apa? Apa itu?" Chanyeol terdengar ragu, tapi lalu cepat-cepat menambahkan, "Tapi aku mau saja, asal memang bisa dimakan."

Baekhyun tertawa sumbang—benar-benar sumbang, karena ia memang sedang flu. "Jam tujuh, kalau begitu."

Tidak lama setelah ia menutup ponsel, ponselnya berdering tiga kali. Ada pesan masuk. Alisnya terangkat heran melihat pesan itu dari Chanyeol. Bukankah laki-laki itu baru saja bicara dengannya? Begitu melihat isi pesan itu, alis Baekhyun pun berkerut samar. Sebuah foto. Sepertinya hasil jepretan Chanyeol. Baekhyun tidak terlalu paham, tapi kalau tidak salah foto itu menampilkan langit malam penuh bintang. Di bawah foto itu ada sebaris kalimat: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?

Sementara ia masih memandangi foto itu dengan bingung mencoba memahami maksud Chanyeol, ponselnya kembali berdering tiga kali. Ada pesan lagi. Kali ini tidak ada foto, hanya pesan tertulis dari Chanyeol: Jangan lupa ke dokter sebelum kau menyebarkan virus flu ke mana-mana.

"Ini juga sedang ke rumah sakit," Baekhyun menggerutu pada ponsel yang dipegangnya.

Ternyata Baekhyun harus menunggu 45 menit sebelum perawat memanggil namanya. Proses pemeriksaannya sendiri tidak lama. Dokter tua langganannya itu hanya memeriksanya sebentar lalu menuliskan resep obat yang harus ditebus di apotek rumah sakit.

"Semoga aku membawa cukup uang," gumam Baekhyun pada diri sendiri ketika melewati meja perawat dalam perjalanannya ke apotek. Ia mengeluarkan dompet dan memeriksa isinya. Karena asyik menghitung uang, ia tidak memerhatikan jalan dan menabrak seseorang yang berjalan terburu-buru ke arah meja perawat. Berhubung tabrakan itu cukup keras dan yang ditabrak adalah laki-laki, Baekhyun kehilangan keseimbangan dan membentur dinding koridor. Dompetnya terlepas dari pegangan dan uang logamnya yang banyak jatuh bergemerencing di lantai.

"Maafkan saya. Maaf."

Baekhyun merasa ada tangan yang membantunya berdiri tegak. Ia mendongak ke arah suara bernada khawatir itu. Pria yang ditabraknya itu mengenakan jubah putih dengan stetoskop tergantung di leher. Rupanya dokter. Usianya masih muda dan wajah kurusnya terlihat cemas.

"Tidak apa-apa?" tanya dokter muda itu sambil mengamati Baekhyun dari atas ke bawah.

"Tidak, tidak apa-apa," sahut Baekhyun cepat sambil berjongkok memunguti uang logamnya. Pipinya memanas. Ia tidak terlalu memikirkan tabrakan tadi, tapi ia malu karena uang logamnya berjatuhan di lantai dengan bunyi berisik. Koridor itu tidak sepi, banyak yang berlalu lalang, dan sekarang ia harus memunguti semua koinnya satu per satu. Belum lagi kalau ada uang logam yang menggelinding entah ke mana.

Si dokter muda menggumamkan permintaan maaf sekali lagi, lalu ikut berjongkok membantu Baekhyun memunguti uang logamnya.

"Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri," kata Baekhyun berusaha menahannya. "Sensei pasti sibuk."

Dokter itu tersenyum dan berkata ringan, "Aku yang menabrakmu, jadi tentu saja aku harus membantu. Jangan khawatir. Saat ini aku tidak sibuk."

Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan semua logam di lantai. Dokter itu menyerahkan hasil kumpulannya kepada Baekhyun.

"Terima kasih," gumam Baekhyun dengan kepala tertunduk. Ketika bergegas berdiri, barulah ia menyadari pergelangan kaki kirinya terkilir.

"Kenapa?" tanya si dokter begitu melihat Baekhyun meringis kesakitan. "Kakimu sakit? Biar kuperiksa."

Menggelikan. Ini sudah seperti adegan dalam film-film, pikir Baekhyun dengan wajah panas. Tetapi kalau dalam film kaki si tokoh utama wanita terkilir di depan seorang pangeran tampan, maka kaki Baekhyun terkilir di depan seorang dokter yang walaupun berwajah lumayan, tidak bisa Tuan, panggilan untuk yang lebih dihormati disamakan dengan pangeran tampan. Kalau dalam film si tokoh utama wanita akan digendong oleh si pangeran tampan dengan penuh kasih, maka Baekhyun sudah pasti tidak akan mengalami yang seperti itu. Ia berhadapan dengan dokter, jadi sudah hampir bisa dipastikan kakinya akan dibebat tanpa ampun dan ia harus berjalan dengan tongkat. Sama sekali tidak romantis.

Sebelum Baekhyun sempat menjawab, terdengar seseorang berseru, "Kitano Sensei, telepon untuk Anda!"

Mereka berdua serentak menoleh ke arah meja perawat tempat seorang perawat sedang mengacungkan gagang telepon ke arah mereka. Dokter siapa katanya tadi? Kitano?

"Ya, terima kasih," si dokter muda yang berdiri di hadapan Baekhyun membalas. Ia berpaling kembali kepada Baekhyun dan berkata, "Tunggu di sini sebentar, ya? Sebentar saja." Ia mendudukkan Baekhyun di salah satu kursi yang ada di koridor. "Aku akan segera kembali."

Baekhyun mengangguk dan memandangi dokter muda itu berlari-lari kecil ke arah meja perawat dan menerima telepon. Ternyata pembicaraan itu tidak lama. Dokter itu baru saja meletakkan gagang telepon ketika seorang dokter yang terlihat jauh lebih senior menghampiri dan menepuk punggungnya. "Oh, Akira, baguslah kau sudah datang. Kami butuh pendapatmu tentang pasien kamar 1502. Bisa ke ruanganku setelah ini?"

Mata Baekhyun melebar dan ia terpana. Sakit di pergelangan kakinya terlupakan sejenak. Dokter itu... Dokter Kitano...? Akira...? Kitano Akira? Kitano Akira yang itu?!

Baekhyun tidak mendengar pembicaraan kedua dokter itu selanjutnya, karena tepat pada saat itu perawat yang tadi memanggil si dokter muda untuk menerima telepon lewat di depannya. Baekhyun cepat-cepat menahan si perawat. "Permisi, ada yang ingin saya tanyakan."

"Ya?" Perawat itu tersenyum kepadanya dengan ramah.

Dengan ragu-ragu Baekhyun menunjuk ke arah si dokter muda yang sedang berbicara di dekat meja perawat. "Apakah benar dokter yang di sana itu Kitano Akira?"

Si perawat memandang ke arah yang ditunjuk, lalu mengangguk. "Benar, Kitano Sensei adalah salah satu dokter di sini."

Baekhyun mengangguk-angguk setengah sadar. Tetapi benarkah Kitano Akira Sensei yang ini adalah Kitano Akira yang membantu Baekhyun mencari kalung yang jatuh tiga belas tahun yang lalu? Baekhyun tidak yakin. Ia ragu-ragu sejenak sebelum bertanya lagi, "Apakah Anda kebetulan tahu di mana Kitano Sensei bersekolah sewaktu SD?"

Si perawat mengangkat sebelah alisnya dan menatap Baekhyun dengan tatapan heran.

"Itu..."

Baekhyun sadar pertanyaannya pasti terdengar aneh dan ia memaksakan tawa sumbang. "Saya hanya ingin memastikan apakah Kitano Sensei itu teman lama saya. Wajahnya terlihat tidak asing," katanya mencari-cari alasan, lalu tertawa lagi. "Tidak apa-apa kalau Anda tidak tahu. Terima kasih." Baekhyun membungkukkan badan dalam-dalam dan si perawat pun berlalu dengan ekspresi heran masih tertera di wajahnya.

"Nah, sekarang mari kuperiksa kakimu."

Kepala Baekhyun berputar cepat. Ternyata Kitano Akira sudah kembali berdiri di sampingnya. Sesaat Baekhyun tidak bisa berkata-kata karena terlalu tegang. "Kakiku baikbaik saja," sahutnya pelan. "Sensei tidak perlu repot-repot."

Kitano Akira berkacak pinggang dan memandang Baekhyun dengan ramah. "Aku yang menabrakmu dan membuat kakimu terkilir. Setidaknya biarkan aku memeriksanya sehingga aku tidak terlalu merasa bersalah."

Akhirnya Baekhyun menyerah, hanya karena ia ingin berbicara lebih banyak dengan dokter itu. Kitano Akira mengajak Baekhyun masuk ruang periksa lalu memeriksa kaki Baekhyun sebentar. Ternyata kaki Baekhyun hanya terkilir ringan. Tidak ada masalah serius. Setelah itu pergelangan kaki Baekhyun diolesi obat dan diperban dengan hati-hati.

"Selesai," kata Kitano Akira sambil tersenyum kepada Baekhyun. "Beberapa hari lagi pasti sembuh. Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu datang mencariku."

Baekhyun mengangguk. Ia mengamati dokter yang sedang membereskan peralatannya itu. Ia harus bertanya. Ia harus memastikan. "Sensei... Nama Sensei... Kitano Akira?"

Si dokter menoleh dan mengangguk. "Benar. Apakah kita pernah bertemu?"

Sulit mencari kalimat yang tepat. "Mungkin ini terdengar agak aneh," kata Baekhyun sambil tersenyum salah tingkah, "tapi sepertinya Sensei adalah kakak kelasku sewaktu SD. Masih ingat nama sekolah Sensei sewaktu SD?"

Begitu Dokter Kitano menyebut nama SD-nya, Baekhyun pun membelalak.

"Benar," bisiknya gembira.

"Jadi kita pernah satu sekolah?" tanya Kitano Akira terkejut. "Dan kita saling mengenal?"

Baekhyun menggeleng. "Kita tidak benar-benar saling mengenal. Kita malah belum berkenalan. Aku mengenal Sensei karena Sensei membantuku mencari kalung yang terjatuh."

Kitano Akira berusaha mengingat-ingat selama beberapa saat, lalu ia tersenyum menyesal. "Maaf, sudah lama sekali, aku hampir tidak ingat."

"Memang kejadian itu sudah tiga belas tahun yang lalu," kata Baekhyun sambil mengangkat bahu. "Tentu saja Sensei sudah tidak ingat. Sewaktu kita bertemu, Sensei sudah SMP dan Sensei datang ke sekolahku untuk menemui salah satu guru, kurasa."

Kitano Akira kembali mengingat-ingat. "Ingatanku tentang masa kecil sudah agak buram, tapi samar-samar aku ingat ada kejadian seperti itu."

Ternyata laki-laki itu tidak ingat padaku, pikir Baekhyun sedikit menyesal. Namun ia bisa maklum. Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Ia sendiri sudah melupakan banyak hal yang pernah terjadi selama tiga belas tahun terakhir ini. Ia tentu saja masih ingat pada Kitano Akira karena laki-laki itu adalah cinta pertamanya. Sedangkan bagi Kitano Akira, Baekhyun mungkin hanya seorang gadis kecil yang butuh bantuan dalam mencari kalungnya yang hilang. Sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk diingat.

Kitano Akira menatap Baekhyun sambil tersenyum ramah. "Tadi kaubilang kita dulu belum berkenalan. Kalau begitu..." Ia mengulurkan tangan kanannya. "Namaku Kitano Akira. Senang berkenalan denganmu."

Baekhyun ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pria itu. Ia pun balas tersenyum dan berkata, "Byun Baekhyun. Senang bertemu lagi."


Winter in Tokyo


SAMBIL duduk bersandar di sofa, Chanyeol terpekur menatap layar laptop di hadapannya. Ia sudah terlalu sering memandangi foto-foto yang muncul silih berganti memenuhi seluruh layar laptop itu. Foto-foto yang dipotret dengan tangan dan kameranya sendiri. Foto-foto dengan objek yang sama. Foto-foto wanita itu.

Ia tahu seharusnya ia tidak boleh lagi membenamkan diri dalam kenangan tentang wanita di foto itu. Ia tahu ia tidak pantas, tetapi ia merasa belum sanggup menghapus bayangan wanita itu dari pikiran, ataupun menghapus foto-fotonya dari laptop. Sampai sekarang.

Lamunannya buyar ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Tangannya otomatis menurunkan layar laptop, lalu bangkit dan berjalan ke pintu.

"Halo."

Chanyeol mengerjapkan mata melihat Byun Baekhyun berdiri di hadapannya dengan senyum lebar tersungging di wajah.

"Oh, halo." Chanyeol minggir sedikit ketika gadis itu berjalan masuk ke apartemennya sambil menggigil. "Kau sudah pulang?" Biasanya Baekhyun belum pulang pada jam-jam segini.

"Ya, aku diizinkan pulang cepat karena flu. Biarkan aku masuk dulu. Dingin sekali di koridor ini." Baekhyun melepaskan sepatunya dan berganti mengenakan sandal Hello Kitty yang tersedia di jajaran sepatu dan sandal di samping pintu. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, Baekhyun mampir lagi untuk menaruh sepasang sandal yang sudah lama tidak dipakainya di apartemen Chanyeol. Biar praktis saja, ia punya sandal ganti di apartemen tetangganya itu.

Chanyeol menyadari suara Baekhyun yang sengau dan baru teringat gadis itu sedang flu. Ia cepat-cepat menutup pintu dan mengikuti Baekhyun ke ruang tengah. Ia juga menyadari langkah gadis itu agak timpang.

"Hari ini kita tidak jadi makan tteokbokki," kata Baekhyun sambil berputar ke arah Chanyeol. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan, "Tadi aku ketemu Nenek Osawa di bawah. Beliau masak shabu-shabu dan kita disuruh ikut makan bersama. Dan ngomong-ngomong, kau punya sake?

Persediaan sake Kakek sudah habis. Aku disuruh minta padamu, makanya langsung ke sini begitu pulang."

"Punya," sahut Chanyeol setelah mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan. "Kau sudah menuruti saranku dan pergi ke dokter?"

Baekhyun mengangkat sebelah alis. "Sebelum aku menyebarkan virus ke mana-mana?" Ia tertawa kecil. "Tentu saja sudah. Ayo cepat cari sake-nya dan kita turun. Aku sudah lapar nih."

Chanyeol tertegun. Ia menatap gadis di depannya dengan bingung. Tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu. Tiba-tiba saja ia tahu kenapa kini ia sanggup melepaskan kenangan masa lalu itu.

Baekhyun menatap Chanyeol berjalan ke lemari dapur dan mulai mencari-cari sake simpanannya. Ternyata tetangganya itu tidak memerhatikan kakinya yang diperban. Yah, tentu saja Chanyeol tidak menyadarinya karena pergelangan kaki Baekhyun sendiri tertutup celana panjang. Tapi memangnya Chanyeol tidak menyadari langkahnya agak timpang? Sebenarnya Baekhyun ingin laki-laki itu bertanya, sehingga ia bisa menceritakan kejadian di rumah sakit tadi siang. Memikirkannya saja sudah membuat Baekhyun tersenyum-senyum. Nah, siapa yang menyangka ia bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya setelah tiga belas tahun?

Laptop yang setengah tertutup di meja menarik tidak tahu apa yang mesti dilakukannya sambil menunggu Chanyeol, Baekhyun iseng-iseng menegakkan layar laptop dan melihat apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu sebelum ia membunyikan bel pintu.

Foto seorang wanita berambut panjang sebahu terpampang jelas di layar. Wanita yang tersenyum lebar ke arah kamera itu jelas orang Asia, tetapi di latar belakang foto itu terlihat patung Liberty.

Siapa wanita itu?

Sebelum Baekhyun sempat berpikir lebih jauh, fotonya lenyap dari layar dan digantikan foto lain. Masih wanita yang sama, namun di lokasi yang berbeda. Baekhyun mulai heran ketika melihat foto-foto selanjutnya juga menampilkan wanita yang sama.

Apakah wanita ini model?

Lalu foto berikutnya muncul dan Baekhyun tertegun. Kali ini wanita itu tidak sendirian di dalam foto. Park Chanyeol juga ada di sana. Sepertinya foto itu diambil di restoran. Mereka berdua duduk berdampingan dan tersenyum. Hanya saja si wanita tersenyum ke arah kamera seperti foto-foto sebelumnya, sedangkan Chanyeol tersenyum memandang wanita itu. Dan itu bukan senyum biasa. Di dalam foto itu Chanyeol tersenyum seakan-akan...

"Ketemu!"

Baekhyun tersentak mendengar suara Chanyeol. Wajahnya terasa panas dan ia merasa seakan ia tertangkap basah mengintip rahasia orang lain. Perasaannya tidak enak.

"Hanya ada satu botol," kata Chanyeol sambil berjalan mendekatinya. "Tidak apa-apa, bukan?"

"Tentu," kata Baekhyun tergagap. Ia melirik laptop di meja dengan pandangan bersalah.

Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun dan melihat layar laptop-nya sudah terangkat. Ia tersenyum. "Kau sudah melihatnya, ya?" tanyanya.

Baekhyun mengangkat bahu serbasalah. Sebaiknya ia tidak berpura-pura bego. "Siapa wanita itu?" tanyanya.

Chanyeol menghampiri laptop dan mematikannya. "Wanita yang pernah kusukai," jawabnya.

"Oh."

"Tapi dia lebih menyukai sahabatku."

"Oh...?"

"Mereka akan menikah," kata Chanyeol lagi.

Baekhyun membuka mulut ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia tidak tahu apakah pertanyaan yang ingin ditanyakannya itu terlalu pribadi.

"Kau benar," gumam Chanyeol tiba-tiba sambil tersenyum samar, seakan bisa membaca pikiran Baekhyun. "Karena itulah aku datang ke Tokyo. Konyol sekali, bukan?"

Baekhyun menggeleng. "Entahlah." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, "Lalu bagaimana sekarang?"

Jeda sesaat sementara Chanyeol berpikir-pikir. "Semenjak aku datang ke Tokyo, aku jarang memikirkannya. Dan akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah memikirkannya."

"Bukankah itu bagus."

"Ya, kurasa itu bagus," gumam Chanyeol dengan nada melamun.

Melihat laki-laki itu agak murung, Baekhyun buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Baiklah. Ayo, kita turun sekarang. Mereka pasti sudah menunggu kita." Ketika Baekhyun akan berjalan ke pintu, ia mendengar Chanyeol bertanya, "Kakimu kenapa?"

Akhirnya! Baekhyun tersenyum dan berputar kembali menghadap Chanyeol, lalu menunduk dan menarik ujung celana panjangnya ke atas, memperlihatkan pergelangan kaki kirinya yang diperban.

"Terkilir sewaktu di rumah sakit," sahutnya dengan nada gembira. "Tidak parah."

Chanyeol mengamati kaki Baekhyun yang diperban. Kali ini keningnya berkerut. "Tidak sakit?"

"Tentu saja sakit."

"Bagaimana kakimu bisa terkilir?" tanya Chanyeol. Matanya kembali ke wajah Baekhyun.

Aku menabrak seseorang di rumah sakit," jawab Baekhyun cepat dan penuh semangat. "Hei, kau mau tahu siapa yang kutabrak?"

"Siapa?"

"Cinta pertamaku."

"Oh?" Hanya itu reaksi Chanyeol, tapi Baekhyun tidak peduli. Ia sedang bersemangat dan ingin bercerita.

"Dia sudah banyak berubah... Yah, itu memang sudah pasti. Lagi pula aku sendiri sudah lupa wajahnya tiga belas tahun yang lalu itu. Aku hanya ingat dia memakai topi biru." Baekhyun terdiam sejenak, seperti sedang melamun. "Aku tidak akan mengenalinya kalau perawat itu tidak memanggil namanya."

Chanyeol membuka pintu dan Baekhyun mengikutinya keluar. "Kau yakin memang dia orangnya?" tanya Chanyeol sambil menutup pintu.

"Ya, sudah kutanyakan langsung padanya." "Dia juga masih ingat padamu?"

Baekhyun tertawa pelan. "Tidak, dia tidak ingat. Kami dulu memangbukan teman sepermainan dan dia memang tidak mengenalku. Aku tahu tentang dia karena dulu dia pernah membantuku dan aku terpesona. Dia sangat ramah."

Chanyeol tidak berkomentar.

"Lihat." Baekhyun mengayunkan kaki kirinya ke depan. "Dia juga yang membalut kakiku. Dia dokter! Keren, kan?"

Chanyeol menatap kaki kiri yang diacungkan itu, lalu beralih menatap tangga di depannya. Setelah berpikir sejenak, ia menyerahkan botol sake kepada Baekhyun, lalu berjalan ke tangga dan duduk di anak tangga teratas, memunggungi Baekhyun.

"Apa?" tanya Baekhyun tidak mengerti.

Chanyeol menoleh dan menepuk punggungnya sendiri. "Ayo, biar

kugendong sampai ke bawah. Kau pasti susah naik-turun tangga dengan kaki seperti itu."

Baekhyun ragu-ragu. Alisnya terangkat. "Kau yakin?" "Tentu."

"Aku lumayan berat."

"Kelihatannya memang begitu."

Baekhyun berkacak pinggang. "Nah, apa maksudmu sebenarnya?"

"Oh, ayolah. Aku hanya bercanda," sela Chanyeol sambil tertawa kecil. "Aku mulai kedinginan, jadi tolong cepat."

Baekhyun menarik napas. "Sebaiknya kau tidak menyesal," gumamnya sambil berdoa dalam hati semoga laki-laki itu tidak ambruk karena berat badannya. Setelah memantapkan hati, Baekhyun merangkulkan kedua lengannya di leher Chanyeol dan membiarkan laki-laki itu menggendongnya.

"Wah, ternyata kau..."

Baekhyun memukul bahunya. "Sudah kubilang!"

Chanyeol tertawa dan berdiri tanpa kesulitan. "Aku hanya ingin bilang ternyata kau tidak seberat yang kuduga."

"Tidak seberat yang kauduga?" tanya Baekhyun sambil mengerutkan kening. "Jadi maksudmu aku terlihat gemuk?" Suaranya agak melengking.

Chanyeol menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menuruni anak tangga dengan hati-hati.

"Apa katamu?" tanya Baekhyun sambil bergerak-gerak ingin melihat wajah Chanyeol.

Chanyeol memperbaiki posisi Baekhyun di punggungnya sambil mendesah,

"Kau sadar aku sedang menggendongmu turun tangga? Kalau kau tidak mau kita jatuh terguling sepanjang jalan, sebaiknya kau tidak bergerak-gerak."

"Tadi kaubilang aku tidak berat," protes Baekhyun.

"Kau memang tidak berat. Setidaknya tidak seberat yang kuduga."

Baekhyun kembali mengernyitkan kening tidak mengerti. "Lalu kenapa kaubilang kita bisa jatuh terguling kalau aku memang tidak berat?"

"Karena kalau kau bergerak-gerak, aku bisa kehilangan keseimbangan. Itu masalahnya," sahut Chanyeol dengan nada seperti sedang menjelaskan kepada anak kecil berumur lima tahun kenapa manusia tidak bisa terbang seperti burung.

"Tidak mungkin," balas Baekhyun, masih tidak puas. "Kalau aku memang seringan bulu, meskipun sekarang aku berjumpalitan, kau tidak mungkin jatuh."

Chanyeol tertawa. "Siapa bilang kau seringan bulu?"

Baekhyun mengguncang-guncang bahu Chanyeol. "Jadi menurutmu aku gemuk?" pekiknya. "Ayo, bicara yang jelas!"

Tawa Chanyeol semakin keras. "Aduh, kau mencekikku."

Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa, tapi ia tetap merangkul leher Chanyeol erat-erat dan mengancam, "Jadilah pria sejati dan bicara yang jelas. Aku gemuk atau tidak?" Dan pembicaraan tentang cinta pertama Baekhyun pun untuk sementara terlupakan.

Chanyeol tidak bermaksud memulai perdebatan tentang berat badan. Sebenarnya topik itu juga bukan topik yang suka dibicarakannya. Terlebih lagi dengan wanita. Tetapi lebih baik berdebat tidak jelas tentang berat badan daripada mendengarkan gadis itu bercerita tentang cinta pertama yang baru dijumpainya setelah bertahun-tahun.

"Ngomong-ngomong, foto yang kau kirimkan padaku itu foto apa?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tersenyum kecil mengingat foto yang dikirimkan ke ponsel Baekhyun tadi siang. "Kau tidak tahu?" ia balas bertanya. "Belum tahu?" "Sepertinya foto langit malam dan bintang," jawab Baekhyun ragu-ragu.

"Kau akan tahu saat kau akan tidur nanti. Tapi kau harus memadamkan lampu. Kau bahkan tidak boleh menyalakan lampu kecil di

samping tempat tidurmu itu."

"Kenapa?"

"Karena sesuatu yang indah akan terlihat saat gelap," sahut Chanyeol penuh teka-teki.

"Aku masih tidak mengerti," gerutu Baekhyun.

Chanyeol tertawa dan mengalihkan pembicaraan. "Semua lampu di apartemenmu sudah bisa menyala, bukan?"

"Sudah," sahut Baekhyun lega.

"Berarti kau tidak akan bermalam di tempatku lagi hari ini?" tanya Chanyeol ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Kakek dan Nenek Osawa.

"Bermalam...?" Baekhyun terdengar kaget. "Apa maksudmu? Kau membuatnya terdengar seperti..." Lalu gadis itu mulai mengomel dalam bahasa ibunya sambil mengguncang-guncang bahu Chanyeol sekali lagi.

"Aduh, tunggu...," kata Chanyeol susah payah di sela-sela tawanya.

Tepat pada saat itu pintu apartemen 101 terbuka dan Sato Haruka berdiri di sana sambil memandangi mereka dengan mata lebar dan alis terangkat heran.

"Turunkan aku," gumam Baekhyun kaku dan buru-buru turun dari gendongan.

Chanyeol menurutinya, walaupun ia tidak mengerti kenapa sikap Baekhyun tiba-tiba berubah.

"Oneesan, aku sudah membawa Chanyeol-san dan juga sake-nya," kata Baekhyun riang begitu kakinya kembali menginjak lantai. Ia bergegas menghampiri Haruka sambil menyodorkan botol sake Chanyeol.

"Oh ya, bagus," kata Haruka sambil memandang Chanyeol dengan senyum lebar penuh arti. "Ayo, masuk, Chanyeol-san. Semua sudah berkumpul dan sedang mengobrol di dalam. Mungkin kau bisa menyumbang obrolan menarik?"

"Siapa yang kau pilih?"

Baekhyun sedang membantu Nenek Osawa di dapur ketika Haruka menghampirinya dan berbisik dengan nada mendesak. Baekhyun menoleh dan melihat mata tetangganya berkilat-kilat penasaran.

"Apa maksud Oneesan?" gerutu Baekhyun salah tingkah, lalu kembali berkonsentrasi pada tugasnya memotong sayur.

"Kau sangat mengerti maksudku," sela Haruka tanpa ampun, masih dengan suara berbisik mengingat Nenek Osawa sedang mencuci sayur tidak jauh dari mereka. Haruka menyiku Baekhyun. "Tadi saat menelepon, kau bercerita panjang-lebar padaku tentang cinta pertamamu yang sudah jadi dokter itu. Kau begitu gembira dan tersenyum begitu lebar sampai kukira mulutmu bakal robek. Lalu tiba-tiba kau tertangkap basah sedang gendong-gendongan dengan Chanyeol-san."

Mata Baekhyun melebar kaget. "Gendong-gen...?" Teringat Nenek Osawa ada di dekat mereka, ia merendahkan suara. "Oneesan!"

Haruka menatapnya dengan mata disipitkan. "Kau suka yang mana?"

Baekhyun membuka mulut ingin membela diri, tapi tidak jadi. Tidak ada gunanya mengikuti permainan Haruka. Jadi ia hanya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi menurutku Baekhyun-chan dan Chanyeol cocok sekali."

Baekhyun dan Haruka serentak menoleh ke arah suara bernada kecil dan ramah itu.

Nenek Osawa memandang mereka berdua sambil tersenyum cerah. Matanya berkilat-kilat senang. "Bukankah begitu?"

"Tapi," Baekhyun mencoba menyela, "kami sungguh tidak ada hubungan apa-apa."

"Ada hubungan juga tidak apa-apa," timpal Haruka cepat.

"Benar sekali," dukung Nenek Osawa. "Senang sekali melihat kalian berdua bersama."

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan mata. "Tapi... tidak, maksudku..." Kenapa dua orang itu tiba-tiba berkomplot melawannya?

"Tentu saja kau tetap harus memilih salah satu," tambah haruka, mengingatkan Baekhyun pada topik awal.

"Menurutku Chanyeol itu anak baik," kata Nenek Osawa ringan sambil mengangkat bahu. Baekhyun mengembuskan napas dan menggeleng-geleng lagi. "Tapi aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Aku tidak... menyukainya." "Siapa? Chanyeol-san?"

Sebelum Baekhyun sempat menjawab pertanyaan Haruka itu, terdengar suara Nenek Osawa menyela, "Jangan berkata begitu kalau kau sendiri tidak yakin, Baekhyun-chan."

Baekhyun tertegun. Nah, apa maksudnya?

Nenek Osawa memandangnya dengan ramah dan senyum yang seakan menyatakan ia tahu lebih banyak daripada Baekhyun sendiri. "Kita tidak mau mengatakan sesuatu yang nantinya akan kita sesali, bukan?"

Untungnya Baekhyun tidak perlu menjawab karena tepat pada saat itu lagu Fly Highnya Hamasaki Ayumi terdengar.

Sementara para wanita sibuk di dapur, para pria duduk mengobrol di ruang duduk. Kakek Osawa sedang bercerita tentang masa mudanya dulu ketika ia masih bekerja sebagai petugas keamanan di sekolah menengah, salah satu topik yang paling disenanginya. Chanyeol berpikir tidak mungkin semua kejadian yang diceritakan orang tua itu benar. Mungkin ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan. Tetapi baik ia maupun Tomoyuki tidak keberatan karena Kakek Osawa pintar bercerita dan selalu berhasil membuat mereka semua terhibur.

"Hari Natal selalu membuat anak-anak senang. Anak-anak perempuan sibuk merajut syal atau topi untuk anak-anak laki-laki yang mereka sukai. Bahkan dulu ada satu anak perempuan yang merajutkan syal hangat untukku," kenang Kakek Osawa.

"Mungkin sebenarnya syal itu dirajutnya untuk anak laki-laki yang disukainya, tapi ternyata anak laki-laki itu menolak hadiahnya. Akhirnya karena tidak tega membuang syal itu, anak perempuan itu memberikannya kepada Kakek," gurau Tomoyuki. Chanyeol tertawa.

"Kalian ini," gerutu Kakek Osawa sambil mendecakkan lidah, lalu ia ikut tertawa kecil dan bertanya, "Lalu apakah kalian punya rencana istimewa pada Hari Natal tahun ini?"

Tomoyuki mengangkat bahu. "Kalau aku tidak ada yang benar-benar istimewa. Paling-paling hanya berkumpul dengan beberapa temanku."

"Tidak ada kencan istimewa?" Kakek Osawa terkekeh. "Tidak ada gadis yang cukup cantik untuk menarik perhatianmu di kampus?"

Tomoyuki mendesah dan menggeleng kecewa.

"Bagaimana denganmu?" Kakek Osawa beralih ke Chanyeol. "Ada kencan istimewa?"

Chanyeol mengangkat wajah. "Aku? Hmm, aku belum tahu." "Belum tahu?" tanya Tomoyuki. "Kenapa?"

"Aku belum mengajaknya." Chanyeol berhenti sejenak, lalu meralat, "Sebenarnya sudah, hanya saja tidak secara langsung. Dia juga tidak menanggapi dengan serius."

"Oniisan seharusnya bertanya langsung," kata Tomoyuki memberi saran. "Zaman sekarang ini semuanya harus serba langsung. To the point. Benar tidak, Kakek? Oniisan harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Lagi pula cewek juga tidak berbasa-basi kalau mau menolak kita."

"Jadi kau pernah ditolak mentah-mentah?" tanya Kakek Osawa.

Sementara Tomoyuki menceritakan salah satu kisah cintanya, Chanyeol berpaling ke arah dapur. Ia melihat Baekhyun sedang memotong-motong sayur sambil mengobrol dengan Haruka dan Nenek Osawa. Bertanya langsung, ya? Bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Hmm...

Chanyeol masih tetap mengamati Baekhyun ketika gadis itu tiba-tiba merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel yang berbunyi nyaring. Lalu gadis itu sedikit terkesiap dan menjauh dari Haruka dan Nenek Osawa. Chanyeol tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Baekhyun, tapi ia berhasil menangkap satu patah kata ketika Baekhyun menjawab telepon. Sensei.

Kemudian pandangan Chanyeol terhalang ketika Haruka menghampiri meja sambil membawa piring dan sayuran.

"Sayuran sudah siap. Kita bisa mulai makan," kata Nenek Osawa yang menyusul dari belakang.

"Di mana Baekhyun-chan?" tanya Kakek Osawa.

"Oh, dia sedang menerima telepon di dapur," kata Haruka sambil tersenyum lebar. "Telepon dari si dokter cinta."

"Dari siapa?" Chanyeol bahkan tidak menyadari ia mengucapkan kata-kata itu dengan lantang dan jelas.

"Si dokter cinta," Haruka mengulangi. "Cinta pertamanya yang sekarang sudah menjadi dokter. Sepertinya si dokter berencana mengajaknya kencan. Menyenangkan sekali."

Chanyeol menoleh kembali ke dapur. Ia teringat kata-kata Tomoyuki tadi. Oniisan harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain.


"Terima kasih banyak," kata Baekhyun riang sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol ketika laki-laki itu menurunkannya di depan pintu apartemennya.

Chanyeol menegakkan tubuh dan mendesah. "Kau bertambah berat setelah makan."

Baekhyun tersenyum lebar. "Itu wajar, bukan? Lagi pula aku memang makan banyak tadi."

Chanyeol mengangkat alis. "Aneh sekali. Kau tidak uring-uringan walaupun kubilang bertambah berat." Ia menatap Baekhyun sejenak. "Sepertinya kau sedang gembira."

"Aku memang gembira."

"Karena mendapat telepon dari si dokter cinta?" "Dokter apa?" Baekhyun memandangnya tidak mengerti. "Cinta pertamamu itu."

Baekhyun mengangkat bahu, kembali tersenyum. "Ya, itu salah satu alasannya." Ia menunduk menatap kaki kirinya, lalu kembali menatap Chanyeol sambil tersenyum. "Ia menanyakan keadaan kakiku."

Chanyeol diam sejenak, seakan sedang berpikir-pikir. "Cepatlah masuk," katanya tiba-tiba. "Nanti flumu bertambah parah."

Agak heran, Baekhyun mengiyakan dan membuka pintu.

"Baekhyun?" Kepala Baekhyun berputar. "Apa?"

Dengan tangan memegang pegangan pintu apartemennya sendiri,

Chanyeol menoleh menatap Baekhyun. "Jangan lupa matikan semua lampu saat kau tidur nanti."

Kening Baekhyun berkerut samar. "Kau tahu aku tidak suka gelap."

Chanyeol mengangkat bahu. "Coba saja dan kau akan lihat nanti." "Lihat apa?"

"Kalau kau tidak mencoba kau tidak akan tahu, bukan?" kata Chanyeol sambil tersenyum, lalu masuk ke apartemennya, meninggalkan Baekhyun yang kebingungan sendiri.

Tiba-tiba lagu Fly High terdengar dan membuat Baekhyun tersentak. Ia menggigil, lalu bergegas masuk ke apartemennya sendiri sebelum mengeluarkan ponsel.

"Moshimoshi?" "Baekhyun?"

Mendengar suara ibunya di ujung sana, Baekhyun secara otomatis langsung berbicara dalam bahasa Korea. "Annyeong, Eomma!" Ia mengenakan sandal rumah dan mengempaskan diri ke sofa empuk, bersiap-siap mengobrol panjang-lebar dengan ibunya.

Dua jam kemudian, ketika ia keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, bersiap-siap tidur, Baekhyun baru teringat kata-kata Chanyeol tadi.

"Matikan lampu?" gumamnya pada diri sendiri sambil berdiri di kamar tidurnya. Baekhyun berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu. "Tidak ada salahnya dicoba."

Ia berjalan ke sakelar lampu. Sebelah tangannya memegang dinding supaya ia tidak merasa tersesat dan tangan yang satu lagi menggapai sakelar lampu. Dengan sekali jentikan, lampu kamar tidurnya pun padam.

Seketika itu juga Baekhyun mengerjap-ngerjapkan mata dan terkesiap. Langit-langit kamar tidurnya bertabur bintang! Bintang-bintang besar dan kecil memancarkan nyala kuning kehijauan yang samar.

"Astaga," gumamnya pelan. Perlahan-lahan tangannya terlepas dari dinding dan ia melangkah ke tengah-tengah kamar, masih tetap mendongak menatap langit-langit kamar tidurnya dengan takjub.

"Bagaimana...? Astaga," gumamnya sekali lagi.

Kemudian ia menyadari foto yang dikirimkan Chanyeol ke ponselnya adalah foto langit-langit kamarnya. Ternyata sementara mengawasi tukang listrik memperbaiki kabel, Chanyeol melukis langit-langit kamar tidurnya menjadi langit bertabur bintang dengan cat khusus yang bisa menyala dalam gelap. Siapa yang menyangka laki-laki itu juga pandai melukis?

Baekhyun teringat tulisan yang tertera di bawah foto yang dikirimkan Chanyeol tadi siang: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?

Baekhyun masih tercengang. Kemudian ia meraih ponsel dan menekan beberapa tombol. Setelah menunggu sesaat, hubungan tersambung. " Chanyeol-san?" Ia mendongak menatap bintang-bintang yang menghiasi langit-langit kamarnya. "Kau apakan langit-langit kamarku?" Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum. "Indah sekali. Terima kasih."


TBC


Duuh sweet sekali sih chanyeol

Bee Payol 04 : sip udah dilanjut yaa

bee payol 61 : apakah pertannyaanmu sudah terjawab di chapter ini

FreezingUnicorn180 : duuh aku seneng, tenang aku akan bertanggung jawab wkwk