"Oh, ya. Kau bisa mulai merancang alibimu sekarang, Tobio-chan."

Sial!

Kageyama meremas jemarinya sampai buku-buku jarinya memutih. Oikawa telah melenggang pergi ditemani asistennya. Sebelum pergi ia sengaja menjulurkan lidahnya pada Kageyama, yang pasti membuat Kageyama lebih kesal. Sawamura Daichi, selaku kepala polisi sentral turut mengurusi segala hal berkaitan dengan pembunuhan Shimizu Kiyoko. Dirinya sibuk memeriksa dokumen-dokumen kejadian serta memerintahkan kepada anak buahnya untuk memindahkan mayat Shimizu ke rumah sakit untuk segera diautopsi.

Sial! Sial! Sial!

"Kageyama." Tangan besar pria berambut hitam cepak itu menepuk bahu Kageyama. Membuat Kageyama tersentak kaget. "Jangan khawatir. Aku yakin Oikawa cuma bercanda. Aku yakin kau tidak membunuh Shimizu Kiyoko." Sambungnya seraya tersenyum.

"Ah, ya."

.

.

.

.

.

'Gagak Hitam'

.

Haikyuu! © Furudate Haruichi

.

Gagak HItam © MiracleUsagi

.

Rate : T

.

Genre : Crime, Mystery

.

Warning : Out of Character, missed TYPO(s), Alternate Universe, menggunakan kata dan kalimat yang melenceng dari KBBI, EYD kacau, etc.

.

Penulis tidak mengambil keuntungan materiil dari penulisan fanfiksi ini. Penulis hanya mengambil kebahagiaan semata karena telah menyiksa karakter favoritnya.

.

DLDR/Enjoy!

.

.

.

.

"A-aku t-tidak tahu apa-apa, pak polisi. T-tolong, biarkan saya p-pulang malam ini.." Seorang pria yang menjadi saksi penemuan mayat Shimizu itu tergagap ketakutan saat kedua mata Oikawa menatapnya tajam.

"Tidak bisa. Kau harus memberikan keterangan terlebih dahulu kepada kami. Kau yang menemukan mayat wanita itu kan?" Oikawa melipat tangannya dan duduk di depan pria tadi.

"T-tapi…"

"Oh, apa jangan-jangan kau punya sesuatu untuk disembunyikan, tuan pelayan?" Oikawa melepas seringaian yang membuat pria tadi tambah ketakutan.

"Oikawa, tidak perlu tergesa-gesa. Dia pasti juga sangat takut ketika melihat mayat Shimizu yang dalam keadaan seperti itu. Untuk sementara kita biarkan dia pulang." Oikawa menatap sebal Sawamura yang tiba-tiba datang menepuk bahu pria yang duduk di depannya itu.

"Yah, kau membuatku harus menyudahi keisenganku.." Oikawa berdiri, mengendikkan bahunya. Sambil tersenyum terpaksa ia melenggang pergi.

"Tuan Moniwa, tenang saja. Kau boleh pulang malam ini. Beristirahatlah. Tapi, kalau kau bisa dan mau, besok kami mohon kedatanganmu untuk sekadar memberi keterangan saat kau menemukan mayat Shimizu Kiyoko tadi." Sawamura tersenyum ramah. Pria yang diketahui bernama Moniwa itu hanya mengangguk kaku kemudian segera pergi dari kerumunan polisi dan beberapa warga yang masih berada di depan kafe tempat pembunuhan.

Setelah sosok Moniwa hilang dari pandangannya, Sawamura menarik nafas dalam-dalam. Ia mendesah lelah. Baru saja ia mengingatkan Oikawa untuk tidak iseng, si polisi tampan itu mulai mengisengi adik tingkatnya semasa Akademi yang tak lain adalah Kageyama.

"Sudah kukatakan, Oikawa-san. Aku hanya bertemu Shimizu-san selama setengah jam di kafe ini. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing. Aku tidak membunuhnya!" suara Kageyama terdengar frustasi. Di antara kelelahan dan rasa kesal pada seniornya, Kageyama masih memaksa otaknya untuk berpikir yang apa sebenarnya terjadi.

Shimizu-san langsung pulang, aku pun langsung menuju rumah!

Kageyama mendengus. Sesekali mendecih pelan. Sekarang ia memilih diam, ketimbang meladeni senior semasa akademinya yang terus-terusan menatapnya curiga. Untunglah beberapa menit setelahnya, kecanggungan antara kedua detektif polisi ini terhenti dengan kedatangan si kepala polisi yang kembali menenangkan suasana.

"Nah, Kageyama. Tadi kudengar, kau meminta beberapa informasi dari Shimizu sebelum kematiannya. Informasi seperti apa?" Si kepala polisi mengambil sebuah kursi lipat dan mulai duduk di sebelah Oikawa.

"Ah, ya. Aku meminta Shimizu-san untuk bercerita tentang apa yang terjadi sesaat sebelum kematian Yachi Hitoka. Karena dia satu-satunya saksi mata dari pembunuhan itu." Kageyama mengeluarkan buku kecilnya. Ia menyerahkan benda bersampul cokelat muda itu pada Sawamura.

"Hm, menarik. Jadi, si Yachi ini dijebak oleh sang pelaku dengan kedok mencari alamat. Kemudian malah membawanya ke lorong dan membunuhnya. Oh? Si Shimizu ini melihat rupa si pelaku. Bagus sekali Kageyama. Terima kasih atas kerja kerasnya." Sawamura membaca halaman demi halaman yang ditulisi Kageyama dengan serangkaian data hasil wawancaranya dengan Shimizu.

"Sama-sama, Sawamura-san. Dan menurutku, pelaku yang membunuh Shimizu ini pasti orang yang sama dengan pelaku pembunuhan Yachi. Dan motif utamanya…"

"..Menghilangkan jejak. Ya, kan, Tobio-chan?" potong Oikawa. Kageyama masih menatap curiga siapa tahu Oikawa akan menudingnya lagi.

"Ya.." Jawab Kageyama pendek. "Karena Shimizu-san tahu rupa pembunuhnya. Maka si pembunuh ingin melenyapkan Shimizu-san bersama bukti yang ada dalam ingatannya. Tapi sayangnya ia tidak menyadari bahwa bukti itu memang telah bocor kepada telinga polisi." Sambung Kageyama.

"Ya, pemikiranmu mungkin benar. Di sini Shimizu sangat ingat bagaimana rupa si pembunuh. Itu hebat sekali, jarang ada seseorang dengan daya ingat tinggi. Menurut Shimizu, si pelaku memiliki tinggi seratus delapan puluhan, berambut ikal hitam, bermata hitam, senyum yang ramah, dan.. eh? Apa ini, wajah yang manis?" Dahi pria berusia tiga puluh tahun itu mengernyit. Ia bertanya maksud dari tulisan Kageyama itu.

"Ah, itu juga aku tak begitu paham. Tapi Shimizu-san serius mengatakan bahwa wajah pria itu sangat manis." Kageyama mengusap rambut hitamnya.

Hening menghiasi ketiga pria yang duduk melingkar di depan toko bunga yang sudah tutup. Wajah Sawamura tampak berpikir serius sampai-sampai kerutan di keningnya nampak jelas. Oikawa sendiri memilih diam dan mendengarkan, ia sudah lelah juga mengisengi Kageyama dengan cara menuduhnya membunuh Shimizu-hingga berkali-kali sebelum si kepala polisi datang. Kageyama sendiri menimang-nimang sebuah hal yang mungkin atau tidak ia katakan sekarang pada kepala polisinya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk paha kanannya. Ia menghela nafas. Ia putuskan untuk memberitahu tentang pria misterius yang mengajaknya minum tadi.

"A-anu, sebenarnya.." Kageyama mendesah lagi, kemudian melanjutkan. "Saat selesai meminta informasi dari Shimizu Kiyoko, aku memang tak langsung pulang."

Oikawa berjengit mendengar penuturan Kageyama. Ia menatap Sawamura yang masih terlihat tenang mendengarkan.

"Aku merasa pusing setelah itu, sampai-sampai membuat macet perempatan jalan gara-gara motorku yang berhenti di lampu merah. Saat itu, ada seorang pria yang menyapaku. Dia bertanya apa aku baik-baik saja. Ketika aku mengatakan bahwa aku sangat pusing dan akan segera pergi dari situ, pria tadi mencegahku dan mengajakku untuk mengobrol sejenak dengannya di sebuah kafe. Dan pria itu…" Kageyama berhenti sejenak, mengambil nafas dan mulai berujar lagi. "Cocok dengan deskripsi yang diberikan Shimizu-san. Tingginya seratus delapan puluh dua, berambut ikal hitam, matanya hitam pekat, dan namanya… Black Angel. Seorang pembunuh."

Bersamaan, Oikawa dan Sawamura terkejut dan tak percaya dengan penuturan Kageyama barusan. Seorang pembunuh dengan berani menunjukkan wajahnya kepada polisi. Itu sama saja bunuh diri namanya.

"J-jam berapa kau bertemu dengannya?" Suara Oikawa terdengar ragu. Kali ini Oikawa tak berniat main-main dan ingin mengisengi Kageyama dengan cara menuduhnya. Ia serius sekarang.

"Akan kujelaskan." Kageyama memperbaiki posisi duduknya. "Aku mengobrol dengan Shimizu-san di kafe ini setelah jam kerjanya selesai. Berarti kira-kira jam setengah enam sore…" Kageyama mencorat-coret kertas buku kecilnya. Menulis jam berapa ia pergi dengan Shimizu.

Oikawa mendekat, memperhatikan dengan saksama penjelasan dari Kageyama. Sawamura sendiri masih tetap duduk diam di tempatnya semula. Ia melipat kedua tangannya.

"…Tadi kaubilang, kau hanya setengah jam bersama Shimizu..?" Celetuk Oikawa.

"Ya. Jam enam sore aku sudah selesai mengumpulkan data. Shimizu-san juga bilang, ia harus segera pulang. Jadi jam enam itu kami berpisah. Oh, ya, aku sempat menawarkan tumpangan untuk Shimizu-san saat hendak pulang, tapi dia menolak. Dia bilang, dia mau naik bus saja. Dan memang saat itu dia menaiki bus dengan arah kebalikan dari arahku pulang. Tapi, kenapa dia kembali lagi ke sini, dan malah dibunuh…?" Kageyama meremas pulpen di tangan kanannya.

"Oh, ya, kapan kau bertemu si Black Angel itu?"

"Di perbatasan antara distrik tiga dan dua. Ketika aku tanpa sadar berhenti di tengah-tengah perempatan jalan. Di sana dia menyapaku, lalu mengajakku mengobrol di kafe."

Oikawa terdiam. Ia masih menunggu Kageyama melanjutkan ceritanya. Jemari tangannya saling bertaut di depan wajahnya.

"Saat di kafe itu. Kira-kira jam setengah tujuh malam kami masuk. Dia mengatakan bahwa ia adalah pesuruh Gagak Hitam, dan dia datang dengan tujuan membunuhku."

"Oi, oi, Gagak Hitam? Serius, Tobio-chan?"

"Menurutmu aku sedang bercanda, Oikawa-san?" Kageyama mendengus. "Ia cuma lima belas menit di sana, kemudian pergi setelah memberiku surat dalam bungkusan tablet opium." Kageyama mengeluarkan surat kecil dari si Gagak Hitam beserta bungkusan opium yang tadi diberikan oleh Black Angel.

Sawamura menerima surat kecil itu dan mulai membacanya. Oikawa memeriksa bungkusan opium yang dikeluarkan Kageyama. Kemudian ia bertanya lagi, jam berapa Kageyama keluar dari kafe.

"Jam tujuh malam aku keluar dan pulang."

"Kenapa kau lima belas menitan sendiri ada di kafe? Bukankah kau bisa langsung pulang?" Tanya Sawamura setelah memeriksa surat dari Gagak Hitam.

"Inginnya begitu, Sawamura-san. Hanya saja aku sempat ada sedikit cekcok dengan pelayan kafe, karena aku menggebrak meja mahoninya, dan tak mau bayar kopi yang dipesan Black Angel." Kageyama memalingkan wajahnya. Oikawa tertawa. Kageyama menatap kesal sambil mengatakan, "Kan harusnya yang pesan yang bayar!"

"Ahaha.. si Black Angel itu punya selera humor yang tinggi rupanya.. Lalu, apa yang terjadi setelahnya, Tobio-chan?" Oikawa memeluk perutnya yang sakit karena terlalu berlebihan tertawa.

"Aku pulang ke rumah. Kira-kira satu setengah jam perjalanan untukku pulang. Dan yang membuatku lebih kesal saat sudah hampir sampai rumah, Sawamura-san meneleponku untuk segera kembali ke distrik tiga.." Kageyama menatap kepala polisinya dengan geram. Si kepala polisi hanya tertawa sambil mengatakan maaf berulang kali.

"Oh, Kapten Daichi, selera isengmu nice!" Oikawa mengangkat kedua jempol tangannya pada Sawamura.

Kageyama mendengus. Sejenak ia tersenyum simpul. Ia merasa suasana sejenak menjadi ringan setelah banyaknya kejadian terjadi pada hari ini.

"Sudahlah Oikawa, diam. Kageyama lanjutkan.." Sawamura menyuruh pria berambut cokelat tampan itu untuk mendiamkan tawanya.

"Ya, setelah itu aku kembali lagi ke sini. Karena kesal dan penasaran, aku ngebut, dan sampai di sini hanya dalam waktu tiga puluh lima menit."

"Tobio-chan kau parah sekali. Masa seorang polisi kebut-kebutan?"

"Berisik, Oikawa-san…"

"Sudah, sudah kalian berdua. Jadi, kejadian yang dialami Kageyama seperti ini.."

~Pukul 17.30 (Kageyama mengobrol dengan Shimizu),

~Pukul 18.00 (Shimizu pulang naik bus, Kageyama juga pulang naik motornya),

~Pukul 18.30 (Kageyama bertemu dengan Black Angel),

~Pukul 18.45 (Black Angel pergi),

~Selang Pukul 18.45-19.00 (Kageyama tertahan di kafe),

~Pukul 19.00 (Kageyama pulang),

~Dari Pukul 19.00-20.30 (Kageyama berada di perjalanan pulang),

~Pukul 20.30 (Sawamura menghubungi Kageyama untuk kembali ke distrik tiga),

~Dari Pukul 20.30-21.05 (Kageyama kembali ke distrik tiga),

"Hah… Kasus yang melelahkan.." Oikawa merenggangkan otot-ototnya.

"Oh, ya, Oikawa-san." Kageyama mengernyit ke arah Oikawa. "Kata ahli forensik, Shimizu-san meninggal sudah kira-kira satu jam yang lalu. Memangnya kapan kalian sampai di kafe ini?"

"Pukul setengah sembilan malam, Tobio-chan. Saat itu si pelayan kafe ini menemukan mayat Shimizu di lorong antara kafe ini dan toko bunga tempat kita sekarang mengobrol ini. Dan entah kebetulan, si kapten ini lewat bersama dengan asisten berambut peraknya.." Oikawa menunjuk Sawamura.

"Berarti satu jam dari jam setengah sembilan, pukul setengah delapan malam.." Kageyama menambahkan data keterangan waktu ke dalam catatan kecilnya. "Waktu aku pulang ke rumah." Lanjutnya.

"Ya, benar sekali." Oikawa merenggangkan lagi jemarinya yang mulai kaku kedinginan. "Masalahnya hanya satu dari cerita ini…" Oikawa menunjuk kertas buku Kageyama.

"Ya. Pertanyaannya.." Sawamura berdiri dari kursi lipatnya.

Apa yang Shimizu-san lakukan antara pukul 18.00-19.00? Bukankah pukul 18.00 dia pulang dengan naik bus. Lantas kenapa mayatnya ditemukan di kafe ini pukul 19.30 malam?

.

.

.

.

.

Bersambung….

.

.

.

A/N

Selamat datang di chapter 4! Chapter terpendek, yha..

Maaf karena chapter ini lebih pendek dari sebelum-sebelumnya /sungkem/ Saia punya beberapa hal yang mengganggu pikiran akhir-akhir ini (baca : tugas sekolah), jadi nggak bisa fokus dan nggak sempat untuk melanjutkan cerita :"))))) /sungkem lagi

Uwah… nggak nyangka bikin series misteri itu panjang dan ribet banget ya. Tapi saia suka banget cermis-cermis jadinya saia selalu semangat untuk lanjut!^^

Untuk typo dan kesalahan lain-lain saia sudah berusaha untuk memperbaikinya. Dan sebelumnya maaf bila ceritanya mengalami penurunan, misal kalimatnya gak nyambung dan gak masuk akal. Mungkin itu saia lagi mabok karena tugas ^^

Terima kasih ya buat yang masih mengikuti Gagak Hitam! Kritik dan saran masih terbuka lebar, lho.. jadi jangan ragu untuk kasih saran ke saia!

Sampai ketemu di chapter lima, ya!

Salam, Usagi.