Just acting or REAL?

IV

By

Arisa Adachi

a.k.a

U-Know Boo

Pairing :: YUNJAE!

Casts :: Jung Yunho, Kim –Jung- Jaejoong, Park Yoochun, Kim Junsu and our beloved magnae Shim Changmin ^^ and others.

Disclaimer :: They're not mine...T^T

Warning :: YAOI (always), OOC, gaje, typo(s)

Previous Story :

Tanpa sepengetahuan Yunho, Jaejoong memungut bunga kecil itu. Ia mematahkan sebagian tangkainya sedangkan sebagiannya lagi ia simpan di dompetnya. Jaejoong tersenyum kecil melihat bunga yang ia selipkan di dompetnya itu. "Ne, kami mirip, kami sama-sama cantik," gumam Jaejoong pelan. Ia mengangkat wajahnya dan menatap punggung Yunho yang menjauh dengan pandangan sendu, "Apakah kau menyukai kami, Yunho-ah?"

xxx

Suasana sejuk dan sedikit dingin masih membayangi kawasan pegunungan itu. terlihat beberapa tetes embun menyangkut di dedaunan atau rerumputan. Suara-suara cicit burung seolah menjadi backsound hutan itu. Namun kemudian suara-suara burung itu hilang teredam oleh suara deru mobil van dan bis. Terlihat beberapa orang dengan jaket-jaket tebal mengangkut alat-alat keperluan syuting ke dalam garasi bis.

Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke bangku mobil van. Pengambilan gambar di wilayah pegunungan selesai sudah dan sekarang saatnya kembali ke Seoul. Jaejoong melongokkan kepalanya, sejak pengambilan gambar selesai ia belum melihat Yunho. Jaejoong sedikit terkejut ketika salah seorang pemeran film duduk di sebelahnya. Ia sedikit kecewa, padahal inginnya Yunho yang duduk disana.

"Eh, ternyata kau disini Jaejoong-sshi," ujar aktris yang bernama Jihye itu ketika menyadari Jaejoong duduk di sampingnya. Jaejoong mengerutkan alisnya bingung. "Tadi Yunho-sshi mencarimu," jelas aktris itu membuat Jaejoong membulatkan matanya. Yunho mencarinya?

"Benarkah? Lalu dimana Yunho sekarang?"

"Mungkin di van yang satunya lagi," jawab aktris itu.

Jaejoong melongok ke belakang. Terlihat sebuah van lainnya di belakang van yang ia naiki. "Kau mau pindah?" tanya aktris itu lagi.

Jaejoong menghela napas, lalu menggeleng pelan. Ia memang ingin sekali pindah ke van yang ada Yunho-nya. Tapi mungkin saja van di belakang sudah penuh dan lagi Jaejoong takut kalau Yunho berpikiran aneh padanya.

"Err… Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Jihye. Matanya terlihat melirik ragu-ragu pada Jaejoong.

"Apa?" sahut Jaejoong yang merasa penasaran.

"Emm… Sebelumnya aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu…"

Jaejoong mengernyitkan dahinya heran, "Aku tidak akan marah," ujarnya sambil meraih ponselnya, tadi Jaejoong merasa ponselnya bergetar dan ternyata ada pesan dari Junsu, "Tanyakan saja," lanjutnya santai sambil mengetikkan balasan untuk Junsu.

"Eumm~ itu… Apa Jaejoong-sshi dan Yunho-sshi pacaran?"

'Bruk'

Jihye memandang horror pada ponsel Jaejoong yang tiba-tiba terjatuh. Ia mengalihkan wajahnya ke arah Jaejoong dan mendapati pria cantik itu melotot padanya, "E-err… K-kau tidak marah kan Jaejoong-sshi?"

Jaejoong memungut ponselnya yang terjatuh lalu lanjut mengetik pesan balasan untuk Junsu, "Kenapa aku berpikir begitu?"

Jihye sedikit tersenyum, ia senang karena ternyata Jaejoong tidak marah padanya, "Habisnya di lokasi syuting kalian terlihat dekat sekali, padahal ini kali pertama kalian bertemu kan?"

Jaejoong yang tadinya akan menekan tombol untuk mengirim pesan jadi terhenti ketika mendengar alasan Jihye. Dekat sekali? Benarkah seperti itu kelihatannya? "Tapi kau tidak mesti menganggap kami pacaran kan? Kami hanya berteman," gumam Jaejoong. Suaranya terdengar sedikit lirih ketika mengucapkan kata 'berteman'.

"Yeah~ aku tahu kalian berteman. Tapi apa kau tidak sadar kalau Yunho-sshi sedikit memperlakukanmu seperti wanita?"

"Mwo?" Jaejoong membelalakkan matanya mendengar ucapan Jihye. Yunho memperlakukannya seperti wanita? Rasanya tidak begitu, "Y-Yunho tidak seperti itu…" ujar Jaejoong sedikit gugup.

"Aigoo… Apa kau tidak menyadarinya Jaejoong-sshi? Cara Yunho menatapmu, cara Yunho berbicara dan tersenyum padamu sangat berbeda dengan sikap Yunho pada orang lain," terang Jihye semangat sampai matanya berbinar senang.

Jaejoong mengernyitkan dahinya. Ia memang menyukai cara Yunho bersikap padanya. Yunho sangat lembut kalau berbicara dengannya. Tapi benarkah Yunho bersikap seperti itu hanya padanya.

"Dan lagi kami melihat kau senang diperlakukan seperti itu oleh Yunho, jadi kami kira kalian pacaran," lanjut Jihye lagi.

Kembali Jaejoong mengernyitkan dahinya. Tadi Jihye bilang 'kami'. Apa maksudnya? "'Kami'?" Jaejoong mengangkat sebelah alisnya.

Jihye mengangguk-angguk cepat, "Yups! Kami. Aku dan beberapa staff lain. Bahkan Changmin-sshi berpikir seperti itu." Jaejoong sedikit sweatdrop mendengarnya, ternyata bukan hanya Jihye yang berpikiran seperti itu.

"Pikiran kalian terlalu jauh," gumam Jaejoong sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ya, pikiran mereka terlalu jauh. Jaejoong memang menyukai Yunho, namun Yunho tidak mencintai Jaejoong. Benar kan? Atau… Mungkin?

.

.

.

Jaejoong mendudukkan tubuhnya di kursi sambil meminum air mineral. Ia menghela nafasnya, Seoul benar-benar panas hari ini. Sungguh berbeda dengan cuaca di pegunungan. Pria cantik itu mengedarkan pandangannya ke seluruh lokasi syuting. Terlihat beberapa staff yang membagikan minum maupun memperbaiki riasan para aktris dan aktor.

Pandangan Jaejoong berhenti pada sosok Yunho yang sedang berbicara dengan salah satu staff. Paling membicarakan tentang adegan selanjutnya. Yunho selalu melakukan itu setiap pengambilan satu adegan selesai. Jaejoong tidak mengerti, Yunho adalah publik figur di dunia musik. Tapi kenapa ia begitu mencurahkan perhatiannya pada dunia perfilman.

Staff itu kemudian pergi, meninggalkan Yunho yang terlihat serius membaca script film. Tanpa sadar senyum tipis menyeruak di wajah cantik Jaejoong ketika melihat raut Yunho yang begitu serius mempelajari isi script itu. Yunho adalah pria yang sangat tampan, dan raut wajahnya yang tengah serius itu membuatnya terlihat semakin tampan.

"Eh!" Jaejoong berseru pelan ketika tiba-tiba saja wajah Yunho terangkat padanya. Buru-buru Jaejoong menundukkan kepalanya. Aish, memalukan sekali…

"Jaejoong-ah!" Jaejoong mengutuki Yunho yang tiba-tiba saja memanggilnya. "A-apa?" tanya Jaejoong ketika melihat Yunho berlari kecil ke arahnya.

"Kau sudah makan siang?"

"Belum, wae?"

Yunho menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Entah kenapa ia merasa sedikit salah tingkah, "Err… Apa kau mau makan siang bersama?"

Jaejoong membulatkan matanya. Padahal Yunho mengajaknya untuk makan siang, tapi dari cara Yunho mengatakannya, pria tampan itu seperti mengajak Jaejoong kencan. "Eumm… Ne, baiklah." Yunho tersenyum lebar. Ia pikir tadi Jaejoong akan menolak. Menolak karena apa? Entah, Yunho juga tidak mengerti. Yang pasti ia cukup merasa gugup waktu mengajak Jaejoong makan siang.

.

.

.

Yunho menyesap jus strawberry-nya. Ia baru saja menyelesaikan makan siangnya. Diliriknya Jaejoong yang sedang mengaduk-aduk milkshake-nya sambil mengutak-atik ponselnya. Tadi Jaejoong hanya memesan burger, karena itu ia selesai makan lebih dulu. Berbeda dengan Yunho yang memesan menu makan siang pada umumnya.

"Kau yakin cukup dengan sebuah burger saja?" tanya Yunho.

"Eung?" Jaejoong mengangkat kepalanya, "Oh yeah, aku sedang diet."

"Diet? Kau kan tidak gemuk, kenapa harus diet?"

Jaejoong tertawa pelan, "Ah, aku hanya sedang menjaga berat badanku."

Yunho mengangguk paham. "Hemm… Tidak terasa sebentar lagi syuting akan selesai. Padahal baru kemarin rasanya syuting dimulai, ya kan Jae?" Yunho menaikkan sebelah alisnya ketika melihat Jaejoong yang sepertinya tidak mendengar ucapannya, Jaejoong seperti sedang memperhatikan hal lain, "Kau kenapa?"

"Eh? A-ani, gwaenchana. Kau mengatakan sesuatu?" Jaejoong sedikit tergagap ketika Yunho memergokinya memperhatikan hal lain.

"Kau lihat apa?" tanya Yunho sambil menengok ke arah yang diperhatikan Jaejoong. Yunho sedikit heran ketika menemukan sekelompok gadis berseragam sekolah yang menaiki sepeda tengah berhenti tidak jauh dari café tempat Yunho dan Jaejoong makan siang. "Kau menyukai mereka?" tanya Yunho lagi.

"Mwo? Aniyo, sebenarnya aku lebih tertarik pada sepedanya."

"Sepeda?"

"Nde." Jaejoong mengangguk seraya menyesap milkshake-nya. "Waktu masih sekolah dulu aku senang sekali mengendarai sepeda, kalau sekarang tidak bisa lagi," lanjut Jaejoong sambil tersenyum mengenang masa-masa dulu.

"Kenapa tidak bisa?"

"Yah, pertama karena jadwal dan kedua karena aku sudah lupa bagaimana cara mengendarai sepeda."

"Mwo? Lupa?"

"Humm, mungkin karena keseringan mengendarai mobil."

Yunho tertawa kecil mendengarnya. Namun tawa itu terhenti ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Yoochun rupanya. Yoochun mengatakan agar Yunho segera ke lokasi syuting.

"Kurasa kita harus kembali ke lokasi syuting," ujar Jaejoong sambil memandang ponselnya. Sepertinya Jaejoong juga mendapat pesan yang sama, dari Junsu tentunya.

Setelah membayar makanan masing-masing pada Yunho dan Jaejoong keluar dari café itu. Yunho agak tertegun ketika melihat Jaejoong menatap sepeda-sepeda yang terparkir di parkiran café dengan tatapan sendu. Hal itu rupanya memunculkan sebuah ide di benaknya.

"Sepeda ya?" gumamnya sambil tersenyum tipis.

.

.

.

'Brugh!'

Kim Jaejoong menghempaskan tubuhnya ke kasur dan sedikit menggeliatkan tubuhnya. Ah, nyaman sekali rasanya. Setelah seharian penuh punggungnya terasa kaku karena aktivitas dan kini punggung kaku itu menyentuh permukaan kasur yang empuk, benar-benar nyaman. Apalagi ia baru saja selesai mandi, sehingga tubuhnya masih terasa segar.

Jaejoong baru akan memejamkan matanya ketika mendengar ponselnya berdering. Dengan sedikit mendecih kesal, Jaejoong mengangkat teleponnya, "Ne?"

"Hyung, jangan lupa syuting besok dimulai pukul sembilan!" seru suara melengking ala lumba-lumba dari ujung sana.

"Neee~"

"Oke, selamat malam~"

Jaejoong mematikan ponselnya dan melemparnya begitu saja. Junsu meneleponnya hanya untuk memberi tahu soal jadwal, bukankah ia bisa mengirim e-mail saja? Ck, Jaejoong tidak pernah bisa mengerti manajernya itu.

Kembali Jaejoong menggeliatkan tubuhnya. Sekarang masih jam sepuluh malam, itu artinya ia memiliki waktu tidur yang lumayan panjang. Jaejoong mengusel-uselkan pipinya ke bantal empuknya, dengan erat ia memeluk gulingnya. Bersiap-siap untuk tidur. Namun ketika ia akan memejamkan mata, kembali ponselnya berdering.

"Apa lagi Junsu!" seru Jaejoong gusar.

"Ah, aku lupa hyung. Jadwal talkshow besok bukan jam sembilan, tapi jam sepuluh."

Jaejoong membulatkan matanya mendengar ucapan Junsu. Demi Tuhan, bukankah ia bisa mengirim e-mail untuk memberitahunya? "Junsu, kau kan bisa mengirim e-mail saja untuk memberi tahuku, kenapa harus menelepon segala?"

"Hehehee… Aku juga berpikir begitu, tapi saat ini pulsaku sedang banyak, jadi…"

"YAH!" seru Jaejoong kesal. Tanpa sungkan ia memutus hubungan komunikasinya dengan Junsu. Aish… Benar-benar, manajernya itu entah polos entah bodoh.

"Oke! Kali ini tidak akan kubiarkan seorang pun menggangguku!" seru Jaejoong. Ia melipat bantalnya dan menyelipkan kepalanya ke sana, dengan begini ia tidak akan mendengar suara apapun. Jaejoong merasa terlalu malas untuk men-silent-kan ponselnya. Ia terlalu mengantuk dan cahaya dari ponsel hanya akan membuat matanya terasa tidak nyaman.

Untuk tiga menit selanjutnya Jaejoong mulai terlelap. Tetapi sekali lagi suara dering ponselnya menghambatnya menuju alam mimpi. Jaejoong membuka matanya dan menatap ponselnya yang berkedip-kedip. Aish, Junsu benar-benar membuatnya kesal. Kali ini Jaejoong tidak memperdulikannya, ia menekan bantal kembali ke telinganya. Beberapa saat kemudian ponsel putih itu berhenti berdering.

Jaejoong membuka matanya, ia menghela nafas lega karena setelah ini ia bisa tidur dengan lega. Agar tidak terganggu lagi, Jaejoong akhirnya memutuskan untuk men-silent-kan ponselnya. Tetapi gerakannya terhenti ketika melihat tulisan di layar ponselnya.

'1 missed call.

Jung Yunho'

"Mwo? Jadi yang tadi menelepon Yunho?" seru Jaejoong tertahan. Tanpa ragu-ragu Jaejoong menekan tombol 'call' untuk menelepon Yunho kembali. Ini pertama kalinya Yunho meneleponnya malam-malam begini, tentu saja ia sangat penasaran.

"Aish… Cepat angkat…" gumam Jaejoong ketika tidak kunjung mendapat jawaban dari sana.

"Yeo-"

"Yunho-ah! Kenapa lama sekali?" seru Jaejoong cepat ketika akhirnya Yunho mengangkat teleponnya. Tadi Jaejoong merasa sangat menyesal karena tidak langsung mengangkat telepon Yunho dan ia sungguh khawatir Yunho tidak mengangkat teleponnya. Ia takut Yunho marah padanya karena tidak mengangkat teleponnya tadi.

"Ah, ne, mianhae…"

Mendengar gumaman pelan Yunho membuat Jaejoong sedikit tersentak. Aigoo… Bukankah seruannya tadi terlalu berlebihan? "Eh… Itu, anou… K-kenapa meneleponku?"

"Ah, lupakan saja," jawab Yunho, "Lebih baik kau tidur saja, kau pasti lelah seharian ini."

"Aniyo!" Kembali Kim Jaejoong berseru dan kembali ia merasa malu karena ucapannya yang terdengar berlebihan, "Eeeng, maksudku aku sedang senggang sekarang. Kau mau mengatakan sesuatu?"

"Ah itu… Sulit menjelaskannya. Bagaimana kalau kau turun dulu? Aku sedang berada di depan apartemenmu sekarang."

"Mwo?" Jaejoong melebarkan matanya. Jadi dari tadi Yunho berada di depan apartemennya? Tanpa pikir panjang Jaejoong yang saat itu mengenakan kaus singlet abu-abu dan celana training panjang berwarna hitam langsung meraih sweater hitamnya yang tipis dan berlari turun, "Aku kesana sekarang," ujarnya.

Tidak lama Jaejoong telah sampai di depan apartemennya. Dilihatnya sosok tegap Jung Yunho berdiri di sana. Yunho mengenakan jaket berwarna biru dongker dengan celana jeans berwarna hitam. Pria tampan itu tersenyum ketika melihat Jaejoong, namun senyumnya berganti kerutan bingung ketika melihat rambut Jaejoong, "Ng… Rambutmu berantakan, apa tadi kau sedang tidur?"

"Eh?" Buru-buru Jaejoong merapikan rambut hitamnya dengan tangan. Ck, ia terlalu bersemangat hingga lupa merapikan rambutnya. Jaejoong mengerjap bingung ketika menyadari adanya sebuah sepeda di belakang Yunho. "Yun, itu…"

"Ah, ini?" Yunho menoleh ke belakang, menatap sepeda yang ia pinjam dari Yoochun, "Err… Aku…" Yunho menggaruk belakang kepalanya. Ck, padahal ia tadi sudah merangkai kata-kata yang akan ia ucapkan ketika Jaejoong menanyakan soal sepeda itu, tapi ternyata setelah berhadapan langsung begini ia langsung blank, "Err… Aku ingin mengajakmu jalan-jalan dengan ini."

Jaejoong mengangkat sebelah alisnya. Ia masih belum menangkap maksud dari ucapan Yunho. Melihat Jaejoong yang bingung, membuat Yunho merasa seperti orang bodoh. "Itu… Kau bilang kau ingin naik sepeda kan? Jadi aku ingin mengajakmu jalan-jalan dan mungkin bisa mengajarimu naik sepeda," lanjut Yunho. Namun sedetik kemudian ia merasa konyol dengan ucapannya sendiri. Menelepon orang malam-malam hanya untuk mengajaknya naik sepeda? Bukankah hal itu sedikit tidak masuk akal?

"T-tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa." Kembali Yunho bersuara ketika dilihatnya Jaejoong masih diam.

"Ah, aku mau kok," jawab Jaejoong dengan senyum sumringah di wajahnya, "Tunggu sebentar ne? Aku ambil jaket dulu." Segera Jaejoong membalikkan badannya dan kembali memasuki kamar apartemennya.

"Haaaahh…" Yunho menghela nafas setelah kepergian Jaejoong. "Ck, ternyata mengajak seseorang kencan itu sulit ya?" gumamnya lirih.

.

.

.

Jaejoong membongkar seluruh lemarinya. Jaket-jaket dengan warna-warna yang berbeda dan tingkat ketebalan yang berbeda pula berserakan di lantai kamarnya. Sudah setengah jam berlalu tetapi Jaejoong belum juga menemukan jaket yang dirasanya pas.

"Yang ini aku suka warnanya." Jaejoong meraih sebuah jaket berwarna hijau gelap, "Tapi terlalu tebal~ Nanti Yunho mengira aku gemuk~" Jaejoong mengerucutkan bibirnya seraya melemparkan jaket itu.

"Yang ini tebalnya pas sih." Kali ini Jaejoong meraih sebuah jaket yang lumayan tebal berwarna kuning cerah, "Tapi, tapi warnanya norak sekali~" Dan sekali lagi jaket polos itu terlempar begitu saja.

Jaejoong terduduk di lantai kamarnya. Ia menghembuskan poni panjangnya yang hampir menutupi matanya, "Aigoo… Aku pakai apa dong~" gerutu Jaejoong sambil menarik rambutnya. Namun pandangan putus asanya berubah ketika melihat jaket berwarna biru gelap yang teronggok tidak jauh darinya. Jaejoong mengambil jaket itu dan menatapnya dengan pandangan berbinar. Ia suka warnanya dan lagi jaket itu juga tidak terlalu tebal. "Ini saja!" seru Jaejoong senang.

Pria cantik itu baru akan memakai jaket biru gelap itu ketika tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. "Y-Yunho kan pakai jaket warna biru gelap jugaaa~ Kalau aku pakai ini, kami jadi seperti… seperti couple dong~~~ Hyaaa~~~" Jaejoong menyembunyikan wajahnya ke tumpukan jaketnya. Wajahnya memerah membayangkan dia dan Yunho mengendarai sepeda bersama dengan warna jaket yang sama pula. Bukankah mereka terlihat seperti…

"Yah!" Jaejoong mengangkat kepalanya tiba-tiba. Wajahnya yang memerah berubah menjadi sedikit horror, "K-kenapa gayaku tadi centil sekali," gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri. Ck, sepertinya uri Kim Jaejoong sudah gila karena Jung Yunho.

Jaejoong kembali mengacak-acak lemarinya. Namun gerakannya terhentik ketika ponsel yang ia simpan di kantongnya berdering. Ada telepon masuk sepertinya. Segera Jaejoong mengangkat teleponnya, "Ne?"

"Jaejoong-ah, kau masih lama?"

Jaejoong membulatkan matanya. Mendadak ia teringat kalau Yunho menunggunya di bawah sana, "A-aku segera ke sana!" Tanpa pikir panjang Jaejoong menarik sebuah jaket berwarna abu-abu yang cukup tipis. Ia langsung berlari keluar kamarnya tanpa merapikan terlebih dahulu jaket-jaket yang berserakan di lantai kamar apartemennya.

"Mi-mianhae…" Jaejoong mengatur nafasnya begitu ia sampai di hadapan Yunho. Ia terlalu terburu-buru tadi. Saking terburu-burunya sampai lupa menggunakan lift dan memilih menggunakan tangga. Jelas ia sangat kelelahan.

"Ng? Jaketmu apa tidak terlalu tipis?" tanya Yunho ketika menyadari jaket yang dipakai Jaejoong cukup tipis.

"Ah, t-tidak apa kok."

Yunho kemudian melepas jaketnya sendiri dan menyodorkannya pada Jaejoong, "Kau pakai ini, biar aku yang memakai jaketmu."

"Eh?"

"Jaketmu terlalu tipis Jaejoong-ah, aku tidak mau Junsu menyalahkanku karena membuatmu sakit."

"O-oh… ya…" Akhirnya Jaejoong pun melepas jaket abu-abunya dan menyerahkannya pada Yunho. Yunho agak blushing ketika melihat Jaejoong melepas jaket abu-abu itu. Maklum saja, Jaejoong mengenakan kaus singlet yang cukup tipis di dalamnya.

Setelahnya Jaejoong memakai jaket biru dongker milik Yunho dan Yunho mengenakan jaket abu-abunya. Jaejoong tertegun sejenak. Jaket milik Yunho terasa hangat dan bau parfum yang biasa Yunho gunakan menguar dari sana. Terasa seperti Yunho sedang memeluknya. Benar-benar… Nyaman…

"Ayo!" ujar Yunho yang telah duduk di kursi sepeda. Jaejoong menghampirinya dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang satunya lagi. Agar tidak jatuh, Jaejoong mencengkeram pinggang Yunho lumayan kuat.

"Siap?"

"Ung!"

Yunho mulai mengayuh sepedanya. Mulanya pelan karena harus membiasakan diri dengan beban berat Jaejoong. Namun, perlahan tapi pasti, Yunho semakin kuat mengayuh sepedanya. Jaejoong sedikit terkesiap. Ternyata memang lebih menyenangkan naik sepeda daripada mobil. Dengan naik sepeda pemandangan terlihat lebih jelas. Beruntung malam sudah cukup larut, sehingga jalanan mulai lengang dari kendaraan lain.

"Aish," tiba-tiba saja Yunho mengumpat sambil menghentikan laju sepedanya. Jaejoong yang penasaran melongokkan kepalanya dari bahu Yunho. "Ada apa Yun?"

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi jalan ke sana malah diblokir oleh perbaikan jalan ini," jawab Yunho.

Jaejoong mengangguk paham. Bisa ia lihat di jalanan di depannya sedikit berantakan. Papan bertuliskan 'Perbaikan Jalan' tertancap di sana. "Tidak ada jalan lain?" tanya Jaejoong.

"Ada sih, tapi jalannya memutar dan terlalu banyak belokan. Sudah begitu jalannya agak gelap. Tidak apa?"

"Hm!" Jaejoong menganggukkan kepalanya cepat. Tentu saja tidak masalah untuknya. Selama ada Yunho apapun akan ia lalui. Jaejoong tersenyum tipis. Ia sangat menyukai moment berdua seperti ini.

Yunho mengerti. Ia membelokkan sepedanya menuju jalan yang ia maksud. Jalan pintas yang Yunho maksud lumayan jauh dari tempat awal mereka. Sekitar lima belas menit kemudian mereka sampai di mulut jalan pintas itu. Jaejoong bisa melihat sebuah jalan kecil dengan lampu-lampu jalan yang berjejer dan rumah-rumah penduduk. Tanpa pikir panjang lagi Yunho menginjak pedal sepedanya dan menyusuri jalanan kecil itu.

Di awal Jaejoong merasa baik-baik saja. Namun seiring waktu berlalu, ia mulai merasa sedikit ketakutan. Bagaimana tidak. Jalanan yang dilalui sangat kecil dan berbatu. Membuat sepeda yang mereka naiki terlonjak-lonjak pelan. Belum lagi jalan itu sangat sepi dan gelap sekarang . Rumah-rumah penduduk nyaris tidak ada. Lampu jalan juga jarang-jarang. Kalaupun ada cahayanya tidak terlalu terang.

Tanpa sadar Jaejoong memeluk pinggang Yunho. Ia juga membenamkan wajahnya ke punggung Yunho. Yunho yang menyadari itu menggenggam tangan Jaejoong yang melingkar di pinggangnya. "Gwaenchana?"

"Ne…" Jaejoong mengangguk, suaranya terdengar lirih dan sedikit gemetaran. Jaejoong memang sangat anti dengan yang namanya gelap seperti ini.

"Kalau kau merasa tidak nyaman, kita bisa kembali sekarang juga," gumam Yunho sambil menghentikan sepedanya.

"Aniyo, aku baik-baik saja. Sungguh…"

Yunho tahu Jaejoong berbohong. Ia bisa merasakan tangan Jaejoong di genggamannya mulai dingin. Yunho mengeratkan genggaman tangannya di tangan Jaejoong. Kakinya kembali mengayuh sepedanya. Kini Yunho hanya memegang setir sepeda dengan satu tangan, karena tangan yang lain masih menggenggam tangan Jaejoong. Berusaha untuk membuat pria cantik itu merasa nyaman.

Jaejoong masih nyaman dengan posisinya. Wajahnya yang terbenam di punggung tegap Yunho dan tangannya yang digenggam dengan erat oleh pria tampan bermarga Jung itu. Aah… Andai bisa seperti ini selamanya.

"Yup, kita sampai."

Ucapan Yunho membuat Jaejoong mau tidak mau menarik wajahnya dari tempatnya semula. Jaejoong melongokkan kepalanya dari bahu Yunho dan sekali lagi pria tampan itu berhasil membuatnya terperangah.

Tempat ini sungguh luar biasa! Sebuah lapangan yang tidak terlalu luas. Terlihat beberapa pohon dengan ukuran sedang mengelilingi tempat ini. Bunga-bunga kecil berwarna ungu menyeruak malu-malu dari semak di sekitar sana. Tampak pula sebuah danau tenang tidak jauh dari situ. Dan kunang-kunang kecil berterbangan di sekitar sana. Membuat tempat itu terkesan begitu romantis.

"Kau suka?"

Jaejoong tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Jaejoong kemudian turun dari sepeda yang dibawa Yunho, sedang Yunho sendiri menyandarkan sepeda itu pada salah satu pohon di sana. Ia membalikkan badannya dan sedikit tercengang melihat Jaejoong yang berdiri agak membelakanginya.

Sosok cantik itu tersenyum sumringah. Tangannya terangkat dan beberapa kunang-kunang berkumpul di sana. Seolah ia memiliki cahaya dalam genggamannya. Belum lagi kunang-kunang lain yang hinggap di rambut dan bahunya. Benar-benar cantik.

"Aku tidak percaya masih ada kunang-kunang di kota besar seperti ini."

"Ne, aku juga tidak percaya. Tempat ini kutemukan saat tersesat pulang sewaktu aku baru pindah ke Seoul."

Jaejoong menolehkan kepalanya. Menatap Yunho dengan tatapan bingung, "Kau bukan orang asli Seoul?"

"Bukan," jawab Yunho, "Aku memang orang Korea, tapi besar di Jepang. Ibuku orang Korea tetapi ayahku orang Jepang. Aku sendiri ke Seoul sekitar tiga tahun yang lalu. Waktu itu niatku ke sini untuk sekolah, tapi malah jadi seperti ini."

Jaejoong mengangguk. Ia kemudian mendudukkan dirinya di hamparan rumput yang diikuti oleh Yunho yang duduk di sampingnya. "Berarti seluruh keluargamu ada di Jepang?"

"Ne, hanya aku dan adik perempuanku di sini. Itu pun setelah film ini selesai kami akan kembali ke Jepang."

"Eh?" Jaejoong tertegun di percaya. Yunho akan pergi ke Jepang?

"Aku sendiri juga terkejut," gumam Yunho sambil mengambil sebuah kerikil dan melemparnya ke danau di hadapan mereka, "Appa bilang sudah cukup main-mainnya. Beliau ingin aku pulang dan meneruskan perusahaannya."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Ia sungguh tidak rela kalau Yunho harus pergi ke Jepang. Well, bagi Jaejoong sebenarnya tidak sulit untuk pergi ke Jepang. Tapi rasanya tidak mungkin ia akan menyusul ke Jepang dan meninggalkan pekerjaannya di Korea. "O-ohh…" gumam Jaejoong pelan nyaris seperti bisikan.

"Kalau aku sudah ke Jepang nanti jangan lupakan aku ne?"

Jaejoong menoleh ke arah Yunho dan mengangguk sambil tersenyum, "Kau juga jangan melupakanku."

'Tidak akan,' gumam Yunho dalam hatinya. "Nah, kau mau belajar naik sepeda kan?" ujar Yunho yang tiba-tiba berdiri. Jaejoong menatapnya heran sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.

.

Jaejoong mendudukkan dirinya di jok sepeda. Kedua tangannya menggenggam matang stang sepeda itu. Sedangkan kedua kakinya masih menapak di tanah berlapis rumput-rumput kecil. Jaejoong merasa sangat gugup. Bukan karena ia akan belajar naik sepeda, tetapi karena kedua tangan Yunho yang memegang pinggang rampingnya.

"Kau masih ingat caranya kan? Tinggal injak pedal sepedanya tapi tetap menjaga keseimbangan," jelas Yunho.

"U-ung…"

Jaejoong meletakkan kaki kanannya di pedal sepeda. "Nah, hitungan ketiga kau langsung injak pedalnya. Oke?" Jaejoong mengangguk paham.

"Satu, dua, tiga. Yak!"

Yunho segera melepas tangannya yang sedari tadi bertengger nyaman di pinggang Yunho. Dan Jaejoong segera menginjak pedal sepeda. Roda sepeda itu mulai bergerak, setelahnya Jaejoong mengangkat kakinya yang satu lagi dan menginjak pedal yang lain. Lalu…

'Brak!'

Kim Jaejoong sukses terjatuh. Sepertinya ia gagal menjaga keseimbangan. Jaejoong meringis sakit karena lututnya tergesek dengan tanah. Namun rintihan sakit itu berubah menjadi decihan kesal ketika dilihatnya Yunho tertawa lebar.

"Yah, sudah kubilang jaga keseimbangan kan?" ujar Yunho masih dengan sedikit tawa di sela ucapannya.

"Tidak mudah tahu!"

Yunho menghentikan tawanya ketika merasa Jaejoong mulai kesal. Ia kemudian membantu Jaejoong berdiri. "Pulang atau lanjut?" tanya Yunho melihat Jaejoong mengerucutkan bibirnya.

"Tentu saja lanjut!" seru Jaejoong cepat. Ia kembali menaiki sepedanya dan mulai menjalankannya, tapi sama seperti tadi, belum apa-apa sepeda beserta pengemudinya sudah terjerembab ke tanah. Jaejoong mendecih kesal. Meski begitu ia sama sekali tidak menyerah, berulang kali ia berusaha menaiki sepeda walaupun berulang kali pula terjatuh. Yunho mendudukkan dirinya di salah satu batang pohon. Ia terlihat asyik dengan ponselnya ketika sebuah suara terdengar.

'Byur!'

Yunho mengangkat wajahnya dan sontak ia langsung tertawa ketika melihat Kim Jaejoong beserta si sepeda tercebur ke danau. "Yah! Kim Jaejoong, kau benar-benar parah! Hahahahahaa…!"

Jaejoong mengerucutkan bibirnya. Tadi ia sudah bisa mengendarai sepedanya beberapa lama sebelum akhirnya tercebur ke danau. Jaejoong tidak jatuh ke bagian yang dalam. Air danau hanya setinggi pinggangnya saat itu. Melihat Yunho yang tidak kunjung berhenti membuat Jaejoong merasa kesal. Mendadak sebuah ide jahil melintas di benaknya.

"Hmf! T-tolong!" teriak Jaejoong tiba-tiba. Ia sengaja menekuk lututnya sehingga ketinggian air mencapai kepalanya sekarang. "Yun-ho!" Dan idenya berhasil. Yunho berhenti tertawa sekarang. Matanya membulat khawatir melihat Jaejoong yang –ia kira- nyaris tenggelam. "Yah! Jaejoong!" seru Yunho khawatir.

Jaejoong tersenyum penuh kemenangan. Aktingnya benar-benar terlihat seperti sungguhan. "Yun! Tolong! A-mhf!" Perlahan Jaejoong menggeser tubuhnya mendekati tempat yang dangkal. Ia memiliki ide lain, "Yun! Aku-akan tengge-mhpf!"

Yunho mulai panik. Segera ia melepas jaket yang ia kenakan dan mencampakkannya begitu saja. Tanpa pikir panjang Yunho melangkahkan kakinya memasuki danau, mendekati Jaejoong yang terus berteriak minta tolong. "Bertahanlah Jae!"

Jaejoong tersenyum, ia bergeser lagi mendekati Yunho. Begitu jaraknya dirasa cukup, Jaejoong langsung menarik tangan Yunho. Membuat pria tampan itu ikut tercebur ke danau. "Yah!" teriak Yunho kesal.

Giliran Jaejoong yang tertawa. Tawanya sungguh keras ketika melihat wajah Yunho yang basah. "Rasakan itu!" seru Jaejoong lagi sambil tertawa. Tangannya bergerak menyiram-nyiramkan air ke tubuh Yunho, "Hahaha! Tertipu kau kan?" seru Jaejoong girang.

"Yah, hentikan Kim Jaejoong!" Yunho berusaha menghentikan tangan Jaejoong, namun sulit sekali.

"Makanya jangan mentertawakan aku!" seru Jaejoong lagi. Ia masih saja menyipratkan air danau ke arah Yunho. Jaejoong sangat menikmati aksi balas dendamnya ini.

"Henti-"

"Tidak mau! Tidak mau! Hahahaaa…!"

"Kim Jaejoong!" seru Yunho. Tapi sepertinya Jaejoong tidak memperdulikan hal itu. Ia masih terlihat sangat asyik dengan kegiatannya sekarang. Yunho yang mulai merasa kesal meraih tangan Jaejoong cepat. Memutar bahu pria cantik itu dan menghempaskannya ke tanah. Dan dengan gerakan cepat, Yunho langsung memposisikan dirinya di atas Jaejoong. Tangannya mencengkeram kedua tangan Jaejoong dan lututnya berpijak di kiri kanan pinggang Jaejoong.

"AKU BILANG HENTIKAN!" teriak Yunho tepat di depan wajah Jaejoong. Reflek Jaejoong menghentikan tawanya. Saat ini mereka berada di bagian terdangkal dari danau itu. Air danau hanya mencapai telinga Jaejoong yang tengah terbaring. Paham maksud saya kan?

"INI SAMA SEKALI TIDAK LUCU!" teriak Yunho lagi. Matanya menatap kesal pada sosok cantik di bawahnya. Jaejoong terdiam. Wajahnya menegang serta menyiratkan kegugupan yang amat sangat. Bisa ia lihat wajah Yunho memerah karena amarah. Mata tajam itu menusuk tajam ke matanya. Dan rahangnya mengeras karena amarah. Membuat dada Jaejoong terasa perih.

"KAU TIDAK TAHU BETAPA KHAWATIRNYA AKU!" Yunho masih betah membentak Jaejoong. Tidak sedikit pun ia pedulikan wajah cantik yang memucat karena ketakutan itu. Yunho sungguh merasa khawatir tadi ketika melihat Jaejoong tenggelam –yang ternyata hanya kepura-puraan-. Bagaimana kalau Jaejoong tewas? Sementara tadi ia lebih memilih mentertawakan Jaejoong daripada menolongnya.

"M-mianhae…" gumam Jaejoong lirih. Suaranya terdengar lemah. Entah karena kedinginan, entah karena takut akibat bentakan Yunho.

Yunho menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali. Berusaha semaksimal mungkin meredam emosinya. Tanpa banyak bicara Yunho langsung bangkit dari posisinya. Ia berjalan menuju sepeda yang tercebur ke danau dan membawa sepeda itu ke daratan. "Kita pulang sekarang," ujar Yunho dingin tanpa memandang Jaejoong sedikit pun.

Jaejoong bangkit dari posisinya. Ia berjalan mendekati Yunho yang tengah mengecek apakah ada kerusakan di sepeda itu. "Y-Yunho-ah… Mianhae…" gumam Jaejoong lirih lagi. Kedua tangannya memilin-milin ujung jaket dengan gugup. Jaejoong sungguh takut melihat Yunho tadi.

Yunho menghela nafasnya. Untunglah tidak ada kerusakan apapun di sepeda itu. Ia menoleh ke arah Jaejoong yang tertunduk. Yunho sedikit merasa menyesal karena sudah membentak Jaejoong, tetapi penyesalan itu tidak sebanding dengan amarahnya. Yunho kemudian mengambil jaket abu-abu milik Jaejoong dan menyerahkan jaket itu ke Jaejoong. "Pakai ini," ujar Yunho datar. Jaket biru tua yang Jaejoong kenakan sudah basah karena tercebur tadi.

"Yun, aku…"

"Pakai ini Kim Jaejoong."

Nada ucapan Yunho terdengar dingin. Tidak ingin membuat Yunho bertambah marah, Jaejoong cepat-cepat melepas jaket basah itu dan menggantikannya dengan jaket yang Yunho sodorkan. Yunho meraih jaket birunya yang telah basah. Ia memeras jaket itu untuk mengurangi air dan meletakkannya begitu saja ke keranjang sepedanya. Tanpa banyak bicara, Yunho menaiki sepeda itu, "Ayo cepat."

Jaejoong tidak punya pilihan lain. Ia belum ingin pulang, setidaknya tidak dalam situasi kaku seperti ini. Tapi Jaejoong lebih tidak ingin Yunho semakin marah padanya. Akhirnya dengan perasaan sangat tidak rela, Jaejoong menaiki sepeda itu. Ia menggenggam kaus Yunho yang basah dengan erat. Dan masih dengan diam Yunho menjalankan sepeda itu.

Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Jaejoong merasa menyesal. Sungguh. Lihatlah Yunho sekarang. Pria itu hanya mengenakan kaus yang basah, sedangkan Jaejoong meski kausnya basah tetapi ia mengenakan jaket yang masih kering. Ia sungguh bodoh. Ide konyolnya merusak hubungannya dengan Yunho.

"Yun, mianhae…" gumam Jaejoong lagi. Tetapi Yunho hanya diam. Ia tidak mengucapkan apapun, melirik ke arah Jaejoong pun tidak.

"Jeongmal mianhaeyoo Yunho-ah~"

"Sudah sampai."

"Eh?" Jaejoong menolehkan wajahnya. Ia sangat terkejut ketika menyadari mereka sudah sampai di apartemennya. Sepertinya Jaejoong terlalu banyak melamun hingga tidak mengetahuinya. Jaejoong lalu turun dari sepeda itu. Ia berniat untuk meminta Yunho singgah di apartemennya. Namun betapa terkejutnya Jaejoong ketika Yunho langsung mengayuh sepedanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Yun-ah…"

==TBC==

A/n :: Annyeong haseoo~ *bungkuk2*. Sebelumnya saia ucapkan makasih banyak buat yang nge-review di chapter tiga dan di FF yang berjudul 'Story From Saipan'. Jeongmal gomawoo~ Ini chap empatnya udah di apdet, semoga suka ne?

Ehem~ saia menyadari begitu banyak utang saia ke chingudeul semua. Seperti sekuel MTMH, trus sekuel yang baby-baby itu *judul ff sendiri gk ingat ==*, terus sekuel My First Time. Saia bener2 gak yakin bisa nyelesaiin itu apa gak, coz selain waktu luang yang nyaris gak ada, kadang mood saia juga macet. Padahal plot cerita udah dirancang~ tapi ya begitulaaah~ dan parahnya lagi kadang dalam kepala saia muncul ide untuk FF baru dan akhirnya yang lain jadi terbengkalai. Mianhae… Jeongmal mianhae… Saia akan berusaha untuk menyelesaikan utang2 saia itu… *bungkuk2* Oh ya, mungkin ada beberapa di antara chingudeul yang membaca profil saia, di situ tertulis kalau saia adalah cassie sekaligus elf. Well, itu dulu~ sekarang saia 100% CASSIOPEIA ^^ saia mau ngerubah isi profil tapi gak jadi-jadi~ T^T

Ne, saenggil chukkae for uri Junchan~ *telat banget~* and…

HAPPY 8th ANNIVERSARY

FOR

THE BEST BOYBAND IN THE WORLD

DONG BANG SHIN KI

TONG VFANG XIEN QIE

TOHOSHINKI

ALWAYS KEEP THE FAITH!

Kecepatan sih, kan TVXQ debutnya tanggal 26 Des~ tapi biarlah daripada gk sama sekali~ ^^. Oke deh! Chapter ending nanti bakal di apdet tanggal 31~ kekekekekekee~ Yosh, in the end saia mohon kesediaan chingudeul sekalian untuk mereview… gomawooo~~~