Disclaimer : Fullmetal Alchemist juga akhirnya punya Hiromu Arakawa, kan? Masa saya?
Warning : AU ! OC ! Siapkan obat anti mabok sebelum anda betul-betul mabok karena keabalan fic saya.
~oOo~
Central Headquarters, Ruangan Fuhrer
"Meylisse...siapa tadi namamu?"
"Meylisse Wound, Yang Mulia."
Grummon mondar-mandir di depan meja kerjanya. Dan di depan mejanya, seorang wanita muda duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di atas pahanya. Wanita muda itu memutar sedikit kepalanya untuk memperbaiki rambutnya yang menempel di lehernya yang basah karena keringat.
"Jadi," kata Grummon sambil terus mondar-mandir, "apa tujuanmu masuk dalam kemiliteran? Kau tahu kan, pekerjaan di suatu kelompok berbasis militer seperti ini sungguh berat?"
"Karena saya ingin membantu militer saat ini, Yang Mulia" jawab Meylisse dengan tenang.
Grummon berhenti-tepat di depan jendela besarnya yang terdapat di tengah ruangannya.
"Membantu...apa?"
Meylisse meluruskan duduknya dan sedikit membusungkan dadanya. "Saya dengar militer sekarang terlibat lagi dalam suatu masalah. Kalau boleh saya tahu, masalah apa itu? Mungkin saya bisa bantu."
Grummon berjalan menuju kursi kerjanya. Sepatunya berketak-ketuk di lantai ruang kerjanya. Ia menarik kursi kulitnya itu, lalu duduk di atasnya.
"Sebenarnya ini masalah rahasia negara. Tidak banyak yang tahu tentang organisasi ini. Namanya-"
"Homunculus" potong Meylisse.
"Da-dari mana kau tahu itu?" Grummon tergagap, menanggapi jawaban Meylisse.
"Sudahlah Yang Mulia. Aku hanya ingin membantu negara, apa salahnya?"
Grummon bersandar di kursinya. Telunjuknya mengetuk-ngetuk mejanya.
"Ya-oke, aku setuju. Tapi kau diposisikan di mana?"
"Di mana saja, Yang Mulia. Saya bersedia di tempatkan mana saja!"
Grummon nampak berfikir. Kumisnya naik turun, seirama dengan tarikan nafasnya.
Tiba-tiba, sebuah keputusan tepat berada di kepalanya.
"Begini saja. Kau mau tidak, menjadi asisten sementara cucuku? Kebetulan cucuku juga sedang banyak terbebani dengan pekerjaannya sebagai kolonel. Ya-sampai aku betul-betul dapat meposisikanmu dengan tepat di militer."
Mata Meylisse berbinar-binar. "Benarkah, Yang Mulia?"
Grummon mengangguk.
"Ya-kau harus ke Ishvar sekarang. Minta bantuan salah satu anak buahku saja untuk mengantarmu ke sana. Nanti kuberi tahu Brigadir Jenderal di sana."
"Tapi Yang Mulia, apakah cucumu tidak keberatan kalau aku menjadi asistennya? Lagipula aku langsung lompat pangkat begitu saja."
Grummon tertawa kecil.
"Pertanyaan yang lumayan lucu, Meylisse. Cucuku itu anak yang baik. Kau akan bertemu dia di sana. Lagian pekerjaan ini hanya sementara. Kalau kinerjamu bagus, kau akan memiliki jabatan tetap sebagai bawahan cucuku. Sekarang waktumu harus berangkat, agar kau cepat bekerja."
Meylisse berdiri, merapikan bajunya lalu mengulurkan tangannya pada Grummon.
"Terima kasih, Yang Mulia atas perhatian anda."
Grummon berdiri lalu menyambut uluran tangan Meylisse.
"Ya, senang bertemu dengan anda juga."
Meylisse menampilkan senyum tulusnya lalu berjalan keluar. Haknya membuat suara yang sedikit menggema di seluruh ruangan itu.
Blam! Akhirnya pintu itupun tertutup.
~oOo~
"Sekarang kau berada di mana?"
Wanita itu menarik nafas. "Perjalanan ke Ishvar."
"Terus pantau keadaan di sana. Jangan sampai lengah. Siapa tahu ada 'pesan teror' dari organisasi licik itu."
"Baik."
Sambunganpun terputus. Wanita itu meminta izin pada pengantarnya untuk ke kamar kecil. Sesampainya di sana, ia mengganti bajunya menjadi baju biasa. Celana harem dan baju kaus belel warna senada. Rambutnya ia gelung lalu memakai kacamata minus. Penampilannya sangat berubah dari sebelumnya. Bajunya ia masukkan ke dalam tas selempang coklatnya. Ia melihat dirinya di cermin kamar kecil.
Ia keluar dari kamar kecil itu lalu berjalan ke pintu lain untuk mendapat gerbong kereta yang berbeda dari tempatnya menunggu tadi.
Setelah kereta menuju Ishvar sudah tiba, ia masuk ke dalamnya dengan terburu-buru. Menabrak semua orang yang dilewatinya. Di belakangnya, gemuruh kekesalan akibat ulahnya terdengar. Tapi wanita itu tidak peduli. Sampai akhirnya ia menemukan kursi yang dicarinya. 3 A-B.
Wanita itu duduk. Di sampingnya sesosok laki-laki memakai topi dan jas panjang sedang menekukkan wajah dan lehernya. Wanita itu tersenyum sinis.
"Kau tidak perlu seperti itu. Aku tahu siapa kau!"
Laki-laki itu mengangkat wajahnya perlahan. Ia tersenyum.
"Ternyata kau ditugaskan juga ke Ishvar."
Wanita itu mendengus.
"Halo, Serena. Kita bertemu lagi!"
~oOo~
Eastern Headquarters, Ishvar
Sore hari yang tidak begitu cerah. Matahari juga bersembunyi di balik tebalnya awan di atas sana.
Sesosok tubuh berjalan melewati tumpukan-tumpukan tanah bekas pekerjaan tukang-tukang yang sedang merenovasi beberapa bangunan yang tepat berada di depan kantor. Tangannya tepat berada di saku bajunya.
Saat di pintu gerbang, ia dihadang oleh empat orang penjaga gerbang.
"Heh! Siapa kau, gadis kecil! Beraninya kau masuk ke daerah militer! Ada perlu apa?"
Gadis itu tidak bergeming. Wajahnya ia tundukkan dalam-dalam.
"Heh! Ada perlu ap-"
Terlambat. Senapan kecil yang dimiliki gadis itu telah menembak tepat di dada penjaga itu.
Ketiga penjaga yang lain berang, melihat teman mereka telah menggelepar tak berdaya. Siap meregang nyawa.
Tapi sebelum mereka bertindak, sebuah bayangan hitam telah menerkam ketiganya dengan buas. Gadis itu menoleh tepat ke atas pagar kantor yang tinggi. Tampak sebuah siluet anak kecil berdiri di atas sana-sedang menoleh ke arahnya. Dengan isyarat satu kali jentikan, gadis itu mengerti lalu melompati pagar besi yang tinggi itu. Anak kecil yang tadi juga melompat tanpa rasa takut.
Sore hari yang begitu kelam. Di mulailah sebuah teror Ishvar dan teror bagi Amestris lagi. Di sini...
to be continued
A/N : makin bingung? saya aja bingung gimana jalan cerita ke depannya. Saya ngambil inspirasi dari buku-buku tentang kejahatan-kejahatan yang banyak saya bahas di fic ini. Dan yang paling menginspirasi adalah Mawar Merah karya Luna Torashyngu (kalian harus baca!) Dan saya juga belajar dari susunan naskah William Shakespeare. Ah~ saya cinta dengan semua naskahnya!
By the way, makasih yang udah review chapter-chapter selanjutnya. Dan, mungkin fic ini agak panjang (atau mungkin sangat panjang?). Well, kita lihat apa yang dilakukan Pride dan Dark ini.
Lalu, apa yang akan diperbuat mereka di kantor kemiliteran? Siapa Serena? Dan siapa laki-laki itu? Untuk apa mereka ke Ishvar? Teror apakah yang akan terjadi? Apakah Roy Mustang dan Riza Hawkeye akan bertemu dengan bawahan baru mereka atas perintah Grummon? Lalu, apakah akan muncul Edward Elric atau May Chang atau mungkin yang lainnya?
Tunggu di chapter ke LIMA! *on going*
:)
Nagisa
