Anakku, Orpheus...

Kegelapan ini adalah dunia kita berdua.

Tapi kau begitu putih seperti kemilau cahaya yang memberikan harapan.

Sepasang permata abu-abu yang penuh keluguan dan binar-binar yang menarik rasa sayang di dari dalam hati yang telah membeku. Warna perak yang mewarnai helai-helai rambut ditiup angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.Kulit alabaster yang mengingatkanku tentang siapa ayahmu. Salah seorang selain diriku yang bertanggung jawab atas lahirnya dirimu ke dunia ini. Seseorang yang seharusnya memikul semua tanggung jawab. Semua kesalahan. Dan semua hukuman.

Oleh karena itu, di umur ketika kau belum mengetahui apa-apa, kukeluarkan tongkat sihir dan mendaraskan mantra yang dulu kulakukan pada diriku sendiri. Lalu warna putih itu berubah menjadi sehitam arang. Seperti genangan tinta yang membenamkan secarik kertas putih ke dasarnya.

Anakku, Orpheus...

tidak ada cahaya di dalam kegelapan malam.

Walaupun begitu, kau tetap berlari dan menyukai semua warna yang sama seperti salju yang turun di hari kelahiranmu.

Sementara aku terus menggenggam tanganmu agar kau tidak pergi terlalu jauh.

Agar kau tidak meninggalkan kegelapan ini.

.

.

.

a sequel of 'The Child who Vanished along with the Past':

The Woman who Surfaces to the Future

Hermione's story

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

.

.

-oOo-

23 Februari 2003


"Babulia!" pekik Orpheus kegirangan. "Aku sudah menunggumu! Lihat, aku menyusun balok-balokku menjadi sebuah istana! Sekarang babulia bisa tinggal di sini!"

Tangan berkerut Natalia mengelus kepala Orpheus yang kemudian menggenggam dan menariknya untuk mendekat. "Terima kasih, Orpheus. Sangat indah. Apa kau membangunnya untukku?"

"Ya!" ucapnya mantap, membusungkan dada dengan ekspresi penuh kemenangan. "Babulia sekarang bisa tinggal bersama kami. Jadi, kita berdua bisa bermain sampai kapanpun sampai puas," lanjutnya, menyengir. Natalia hanya tersenyum maklum seraya menepuk-nepuk sayang bahu Orpheus.

"Kau anak baik, Orpheus," katanya, "Kau pasti lelah setelah membangunnya. Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?" Tersenyum Natalia memperlihat satu tangan yang sejak tadi ia taruh di punggung, memperlihatkan tas biru yang berisi beberapa kotak makanan. Manik hitam Orpheus lantas berbinar-binar saat ia cepat-cepat menganggukkan kepala.

"Ayo!"

Cklek. Pintu terbuka.

"Aku pulang."

"Mama!"

Dengan riang Orpheus berlari menyambut ibunya di depan pintu, meloncat-loncat seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Jelas minta digendong. Hermione menurunkan beberapa tas dan kantung yang ia pegang ke lantai, kemudian mengangkat Orpheus ke dalam gendongannya.

"Natalia." Hermione mengangguk. Natalia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Selamat datang. Kau pasti lelah, Hartenzija. Aku akan siapkan makanan sekarang."

"Terima kasih, Natalia."

Orpheus menatap ibunya, lalu mengalihkan mata ke arah wanita tua yang tengah berjalan ke arah meja makan. Ia berkata dengan nada riang, "Terima kasih, Natalia!"

Hermione melirik balita yang ia peluk di pinggangnya.

Natalia sekilas tampak terkejut, namun ia tertawa. "Sama-sama, Hartenzija, Orphe."

Dengan sorot mata kalemnya, Hermione berbicara pada Orpheus. "Panggil nenekmu 'babulia'. Kau bukan temannya, jadi tidak boleh memanggil dengan nama. Itu tidak sopan. Mengerti?"

"Oh!" seru Orpheus, melirik Natalia khawatir, "maafkan aku, babulia. Aku tidak tahu."

"Aku mengerti situasinya, Orphe." Iris hijau hangat Natalia berkerling, "Kau hanya mengikuti ucapan ibumu."

Orphe lantas memekik kencang dengan semangat seraya memeluk leher Hermione dan membenamkan wajah di bahunya. Sang ibu yang wajahnya tampak selalu melankolis hanya menepuk-nepuk belakang kepalanya, berjalan ke arah meja makan. Tak sengaja matanya menangkap maninan balok Orpheus tersusun tinggi dan luas seperti benteng.

"Apa itu?"

Orphe tersenyum cerah. "Itu, mama, adalah istana untuk babulia!"

"Oh," tanggap Hermione seadanya.

"Jadi, babulia tidak perlu pergi saat sore. Dia sekarang bisa tinggal di sini bersama kita!"

Iris hitam menatap dalam. "Kau tahu itu tidak bisa, Orpheus. Aku sudah pernah katakan bahwa ada orang yang membutuhkan Natalia di rumahnya."

"Um..." Alis Orpheus berkerut, terlihat bersalah. "Maafkan aku, mama. Aku kesepian jika mama pergi dan saat babulia harus pulang ke rumahnya."

Hermione hanya meliriknya."Hm."

Orpheus didudukkan di kursi yang agak lebih tinggi, sementara Hermione duduk di kepala meja. Natalia sangat senang tiap melihat apresiasi di wajah Orpheus terhadap makanan yang dihidangkan di atas meja.

"Selamat makan."

Dari ujung matanya, Hermione memandang Orpheus yang menyantap makanannya dengan lahap. Ada senyum yang terkulum di sudut bibirnya.

xxx

Sebelum petang, Natalia sudah harus pulang mumpung hari masih terang. Hermione menyuruh Orphe tinggal di rumah saat ia mengantar Natalia sampai melewati sungai. Dan seperti biasa, saat ia kembali dan membuka pintu, Orphe selalu siap untuk berlari dan meloncat untuk memeluknya. Petang itu mereka habiskan di dalam rumah. Duduk di kursi yang menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan panorama di dataran rendah yang tampak kecil dan langit sore musim semi yang perlahan menggelap. Sambil duduk di pangkuan ibunya, Orpheus menceritakan apa yang ia lakukan selama ibunya pergi. Tertawa saat berkata bahwa ia tidak takut tidur sendirian lagi. Lalu sesi cerita akan berakhir saat langit sudah gelap dan lampu telah menyala. Mereka menutupnya dengan makan malam.

Kepala Orpheus menyembul dari arah pintu. Sebelumnya ia menaruh semua mainannya di keranjang seperti yang disuruh ibunya, setelah itu ia berjalan menuju kamar yang ada di depan kamar tidur. Orpheus kaget saat pintunya ternyata tidak ditutup. Ia langsung masuk tanpa bicara. Lantas mengedarkan pandangan saat melihat rak-rak tinggi di dinding dengan benda-benda persegi disusun di atas papannya. Mulutnya terbuka, namun rasa takjubnya tidak bersuara. Dari sudut matanya ia menangkap sosok ibunya di dekat meja, tatapan terlekat erat pada benda di tangannya.

"Mama, itu apa?"

Iris hitam Hermione melebar. Ia langsung menoleh ke samping. Terdiam sejenak saat menatap Orpheus. "...Ini buku."

Orpheus mendekat dengan ekspresi penasaran, namun Hermione langsung menutup buku dan meletakkannya kembali ke rak.

"Mama?" Orpheus menelengkan kepalanya, tidak mengerti. "Apa aku boleh melihatnya?"

Hermione menatapnya sejenak. Sorot matanya tidak terbaca. Namun, akhirnya ia mengambil kembali buku yang ia taruh, membukanya dan memegangnya di depan muka Orphe. Iris kelam anak itu bergulir dari kiri ke kanan lalu berputar.

"Oh!" Ia memegang kepalanya, merasa pusing. "Aku tidak bisa mengerti."

"Benar," kata ibunya singkat, meletakkan bukunya kembali.

Kedua alis Orpheus berkernyit. Tampak kecewa. "Mama, aku ingin bisa mengerti buku itu."

Orpheus selalu mengutarakan kesungguhannya. Namun, saat itu Hermione Granger hanya duduk di kursinya sembari membelai pucak kepala balita itu. Sama sekali tidak merespon. Kalau saja Orpheus agak lebih dewasa, dia mungkin bisa melihat betapa kesedihan itu samar mewarnai iris hitam ibunya. Hermione sangat mencintai buku. Dan apakah yang lebih menyenangkan selain mengajarkannya pada orang lain?

Sayangnya, Hermione tidak bisa mengajarkannya pada Orpheus.

"Ikut aku," ajak wanita itu, bangkit dari kursinya dan melangkah menuju ruang tengah. Serta merta perhatian Orpheus teralih. Berlari dan meloncat-loncat saat sampai di samping ibunya.

"Apa!? Apa!? Mama membawa hadiah untukku!?"

"Hm."

Ada sebuah kotak besar besar yang di taruh di samping lemari. Orpheus tidak pernah menyentuhnya karena tidak pernah menyadari bahwa ada kotak di situ. Oh, pantas saja! Ternyata ditaruh di sana! Alis Orpheus terangkat tinggi. Ia kira kotak yang dibawa mamanya menghilang entah kemana.

Srk! Srk!

Terdengar suara berisik dari dalamnya. Orpheus bersembunyi di balik punggung ibunya saat Hermione berjongkok untuk membukanya. Lalu, ia menggendong keluar sesuatu dari dalam kotak.

"Meooowr!"

Waktu itu, saat Hermione memandang ekspresi Orphe, ketika ia membalikkan badan dan memperlihatkan apa yang ada di tangannya,

untuk sekejap saja tampak seolah sihir itu telah sirna dari matanya.

Ada warna abu-abu yang berputar seperti genangan air di pupil berwarna hitam.

Sontak Hermione mematung.

Kucing berwarna putih menggeliat, sementara Orpheus terlalu senang untuk menyusun kata dan berbicara selayaknya manusia normal. Ia berteriak kencang dan tak mampu menahan kakinya untuk tetap tinggal di lantai. "Mama! Mama! Itu kucing! Kau membawakan teman untukku!"

"Ya...kau benar..." Keraguan itu benar-benar jelas. Wanita itu tampak ingin menarik kembali keputusannya. Namun, sayang rasanya karena Orpheus sudah terlanjur bahagia. Hermione lantas menjatuhkan tatapannya ketika ia menaruh kucing putih itu di lantai. "Kau...suka warna putih. Selalu suka warna putih."

Tanpa menunggu lagi Orpheus melipat kaki dan merunduk untuk membelai kucing itu.

"Kau...harus memberinya nama."

"Um... nama apa yang harus kuberikan padanya? Dia putih seperti salju! Apa aku menamainya 'salju' saja?"

Hermione diam. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya, berkata, "Snowhunt."

"Snyov...hunt?"

"Bukan. Snowhunt."

"Baiklah! Err... snyouv...snuv..hunt!"

Sang ibu hanya tersenyum kecil dengan sorot matanya yang selalu menyimpan rahasia.

Snowhunt.

Orpheus tidak tahu bahwa kata itu bukan bahasa Belarusia ataupun bahasa Rusia yang umum digunakan oleh Natalia maupun 'Hartenzija'. Itu adalah bahasa yang berasal dari tanah kelahiran Hermione Granger. Namun, Orpheus mengira bahwa dua kata itu merupakan bagian dari bahasa yang ia gunakan sehari-hari. Tapi, tidak apa. Lebih baik memang kalau Orpheus tidak pernah menyadarinya. Tidak perlu mengetahuinya.

Tidak perlu tahu apapun.

Tidak perlu tahu membaca.

Tidak perlu tahu menulis.

Hermione memahami bahwa ia telah membatasi pengetahuan Orpheus. Mengurungnya di dalam rumah, kemudian pergi meninggalkannya selama berhari-hari. Natalia datang menemani dan menyiapkan makanan Orpheus. Ketika Hermione pulang, ia mulai menyadari bahwa Orpheus akan tumbuh besar tanpa dirinya.

Dan mungkin saja, tanpa Hermione sadari, bisa-bisa Orpheus berjalan meninggalkan kegelapan.

Kemudian mengetahui kebenaran tentang ibunya, tentang ayahnya, tentang siapa keluarganya. Dan api yang telah padam selama bertahun-tahun akan kembali berkobar. Lalu cerita tentang kekecewaan dan rasa jijik itu akan kembali diperdengarkan.

Oleh karena itu, lebih baik membatasi kemampuannya untuk belajar.

Karena Orpheus tidak perlu tahu apapun.

Walaupun begitu, biarpun Orpheus memang tidak pernah menunjukkannya, Hermione tahu bahwa dia kesepian. Jika Orphe bisa membaca, mungkin buku bisa menghiburnya—tapi, keadaan tidak memperbolehkan hal itu. Karenanya, Hermione membeli seekor kucing berwarna putih dari toko hewan di Minsk. Seputih salju. Warna kesukaan Orpheus.

Ah, Orpheus, snowhunt berarti 'pencarian salju'. Wanita yang melahirkanmu memilih nama itu berdasarkan karaktermu. Kau selalu berlari ke sana kemari mencari warna putih dimanapun kau berada. Kau sangat suka salju walaupun ibumu berkata bahwa kau lahir di musim gugur di bulan September. Namun, anak-anak mungkin sangat peka dan bisa merasakan perasaan yang tampak di wajah seorang ibu. Saat itu, untuk menyenangkannya, kau berkata, "Mama, sebenarnya aku lebih suka warna orange daripada putih, lebih suka daun cypress daripada salju."

Namun, kau terus berlari mencari warna yang merupakan antonim dari warna mata dan rambutmu.

Tanganmu yang bebas terjulur, mencoba meraih warna salju.

Sementara tangan yang lain digenggam erat oleh ibumu.

Agar kau tidak meninggalkan kegelapan ini.

_bersambung_

Alhamdulillah,, kita ketemu lagi di chap 4,, yosh,, di sini Scor masih berumur 4 tahun,,,

*babulia : grandma

yosh! special thanks buat srimelati0603 (sankyuu,, saya semangat nih), aindri961(yooshaa!), DCherryBlue(haha,, Score lagi sibuk casting di fic lain), Liuruna(hohoho), kite(entah kapan kembalinya =w="), aquadewi(hmmmm v,v), Tenshi Kazenna (ooh hahaha, fic Orphe memang hanya fokus pada beberapa potong adegan kehidupan Orphe di mansion Pansy. Alurnya aneh, 'kan? memang disengaja. ^^",, ),,makasih udah mampir di kotak review yaaaa =w=

Yosh! thanks for reading!

Rozen91