standar warning applied, IF YOU DON'T LIKE, PLEASE DON'T READ. Rated M for the language

enjoy!


Repeated


Disclaimer :

Character © Masashi Kishimoto, 1999

Story © karinuuzumaki, 2010


CHAPTER 3 : DON'T ASK WHY

SASUKE POV

Suasana Parade—klub paling happening in town―mulai menggila, suara musik house yang dilancarkan DJ perlahan memanaskan suasana klub malam yang disirami cahaya kerlap-kerlip yang muncul sesekali, menyoroti lautan manusia yang asik menggerakkan badan, melepas penat yang melanda. Jam tangan Police ku menunjukkan angka 23.15, pesta baru saja akan di mulai. Dan tentu saja, malam masih begitu panjang.

Aku masih mengedarkan pandanganku sembari sesekali menegak absolut vodka yang baru kupesan, menebarkan pesona flamboyant yang merupakan bakat alam ku ke seluruh gadis yang menatapku penuh nafsu. Haha, jangan salahkan aku jika aku tampan dan selalu memiliki segudang fangirl. Anytime, anywhere. Tak ingin merusak citra, tentu aku hanya scanning sekilas pada seisi gadis dibalut dress sexy itu. Biarlah mereka yang menangkap sinyal ku.

Un.

Deux.

Trois.

Seorang gadis mengulas senyum manja sembari menyibakkan rambut merah panjangnya, sejenak pandangan kami beradu, mata lentiknya menatapku lurus, memberi tanda. Perlahan aku menyunggingkan senyum samar, pakaiannya minim, ditambah dandanannya yang menggoda. Nampaknya gadis one night standing yang tepat. Tak perlu pikir panjang, aku langsung menghampirinya.

"Hello, fabulous." Sapaku dengan nada se-gentle mungkin.

Gadis itu terkikik pelan menarik sudut dari bibir juicy ber-lipgloss itu, membuatnya semakin terlihat menarik, belum lagi kerlingan 'nakal nan sayu' dari bola mata berlensa kontak itu, kutebak, sehari-hari dia pakai kacamata. "Hi, hawtie.."

Mau tak mau aku ikut tertawa renyah mendengarnya, another compliment, yah, memang sudah seharusnya kaum hawa memujaku. Aku langsung mengulurkan tangan padanya. "Dance?"

Dia menerima tanganku dengan penuh suka cita—as usual. Kami langsung terjun ke dancefloor yang sudah jejal ruwal dengan manusia-manusia yang sudah menikmati beat terlebih dahulu. Ketika musik mulai mengganas di lantai ini, takkan ada yang sanggup menahan hasrat untuk bergoyang, termasuk aku dan one-night-stand ini. Kami mulai gerakan perlahan, tak kusangka gadis ini pintar 'menyetirku'. Buktinya dansa kami perlahan menjadi tontonan beberapa amateur dancer lain.

Aku menatap rona wajah puas dari gadis dihadapanku yang mengedarkan kerlingan nakal pada gadis-gadis lain disekitar kami yang mulai menatap cemburu, penuh iri karena gadis ini lah yang mendapatkanku. Haha, sungguh gadis yang beruntung.

Sepertinya absolut vodka mulai merajai tubuhku, kurasakan tubuhku menghangat dengan sendirinya hanya dengan berdansa kecil dan menatap bibir-sexy-berlipgloss itu. Mmm, mungkin sudah waktunya..

Aku mendekap si gadis ini, kemudian menciumnya. Ditengah dentum-dentum musik house dan hingar-bingar lantai dansa, diantara tubuh-tubuh berkeringat yang ikut memanas pula. Hmm, gadis ini rupanya cukup pandai 'bersilat lidah', kecupan ringan kami berubah menjadi ciuman-ciuman memburu nafsu yang melibatkan saliva.

"Hmmh..," gadis itu mendorong dada ku pelan, nampaknya panggilan alam memaksanya menyudahi ciuman kami. Untuk sekedar menginjeksikan oksigen ke dalam paru-parunya.

Aku tersenyum menatap dirinya yang juga tersenyum sembari mengigiti bibir bawahnya sexy. "Rest room?"

Gadis itu kembali terkikik pelan, sejurus kemudian dia mengangguk manja. Tanpa menunggu lama aku menariknya dalam pelukanku, meninggalkan lantai dansa 'panas' itu dan melangkah menuju toilet terdekat.

Pesta baru akan dimulai

•••

Pemuda tampan berambut cokelat panjang nampak asik menghisap batang rokoknya ditemani bourbon yang tersaji dengan ciamik di gelas kaki tiga dari pojok lounge yang cukup tenang di Parade. Matanya menatap sekeliling tanpa ada minat, hasratnya sudah cukup terpuaskan malam ini, kedatangan seorang gadis bercepol dua bernama Tenten tadi sudah membuat malamnya jauh lebih lengkap. Sementara pemuda disebelahnya, nyaris sama tampannya, berambut merah dan berwajah pucat hanya duduk diam. Sesekali pemuda itu menegak cocktail yang dipesannya sembari berkali-kali mengecek BlackBerry miliknya.

"Lama sekali kau," komentar pemuda berambut cokelat ketika seorang pemuda lagi, kali ini berambut biru donker, menghampiri lounge mereka. "Aku bahkan sudah menyelesaikannya dari setengah jam yang lalu."

"Kau memang selalu tergesa-gesa, Hyuuga." Balas Sasuke pedas. "Kalian tak akan menyangka betapa 'hebat' nya gadis yang kudapatkan malam ini, ah gila! Gadis itu benar-benar expert."

"Memang siapa namanya?" tanya Hyuuga, atau tepatnya Neji Hyuuga, penasaran.

Sasuke hanya menyeringai sinis, kemudian menaikkan kedua bahunya. "Siapa peduli dengan namanya? Hahaha,"

"Dasar sinting kau!" komentar pemuda berambut merah itu, akhirnya angkat bicara.

"Hahaha..," Sasuke hanya melanjutkan tawa sinisnya. "Kau kenapa, Gaara? uring-uringan begitu. Kutebak, tak dapat mebawa gadismu, eh? Haha!"

"Kalian tahu Hinata tak suka tempat seperti ini." Ujar Gaara kesal. "Kenapa kau malah memilih tempat seperti ini untuk farewell party mu?"

"Kenapa? Kau nampaknya sudah jadi bodoh sejak tobat, Gaara." balas Sasuke sarkas. Sudah beberapa bulan yang lalu memang Gaara memutuskan untuk berhenti menjadi playboy dan menjadi pemburu one-night-stand tiap malam, dan memilih untuk menjalin hubungan serius dengan salah satu adik sahabatnya, Hinata Hyuuga. Berbeda dengan Neji dan Sasuke yang memang nampaknya tak akan sober dalam waktu dekat. "Sepertinya Hinata hebat juga 'mengunci' mu sejauh ini."

"Memang sudah seharusnya dia tobat kalau memang ingin memacari adikku." Timpal Neji tajam, sepertinya insting sister complex nya kembali dalam posisi ON. "Kalo nggak, gue gibeng juga!"

"Jangan bodoh, lo tau, gue itu benar-benar cinta sama Hinata." Ujar Gaara meyakinkan Neji kembali. Memang susah mendapat restu dari abang sang pacar, apalagi ketika abangnya tersebut sudah mengetahui semua keburukan dirinya. "Kau sendiri, Sasuke. Masih belum putus dengan pacarmu itu kan? Siapa namanya? Sakura?"

"Hn, memang kenapa?" Sasuke balas bertanya acuh tak acuh.

"Rekor." Jawab Neji. "3 bulan, Sas. Lo masih belom putus? Tumben kau menjalin hubungan selama ini!"

Sasuke menyulut api rokoknya, kemudian menjawab malas. "Yahh, dia itu polos dan menyenangkan, kau tahu. Dia rela melakukan apapun demi aku, sepertinya aku cinta pertamanya. Haha, gadis malang."

Neji hanya tersenyum menyeringai seperti sudah mengetahui memang itulah jawaban yang akan keluar dari mulut Sasuke, sementara Gaara menggeleng pelan.

"Tak punya hati." Komentar si pemuda merah.

Sasuke justru hanya tertawa parau, penuh kemenangan. "Cinta itu tak lebih dari kepalsuan, Gaara. Semua hanya soal waktu dan lo bakal cepat ngelupain semuanya." Sasuke menyeringai tipis. "Kapan sih kau bisa memahami pikiranku? Kupikir kau salah satu dari jenius yang kukenal."

"Aku jenius.." jawab Gaara. "..tapi aku tetap tak dapat memahami jalan pikiran konyolmu itu."

Sasuke hanya tertawa malas sembari mengalihkan pandangannya. Sedari dulu mereka bersahabat, jalan pikirannya dan pemuda merah itu tak pernah sejalan, selalu saja ada perdebatan-perdebatan kecil. Namun anehnya, mereka tetap nyaman saja. Toh ketiganya masih dapat bersahabat hingga sekarang.

"Jadi tentang kepindahanmu kembali ke paris besok pagi.." ujar Neji membuka topik baru. "..kau tentu akan memutuskan gadismu itu, hah?"

Sasuke menghisap rokoknya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Neji. "Tidak tahu, gimana enaknya?"

"Najis, jangan bilang lo bener suka sama dia!" balas Neji cepat.

"Haha, santai. Aku tak pernah butuh hubungan seperti itu kan? Apalagi sampai hubungan jarak jauh." Ujar Sasuke sambil tertawa tajam. "Udah malem, kayaknya gue cabut duluan deh. Thanks for joining my party."

"Yeahs, we gonna miss you lot, pal." Jawab Neji, memberi pelukan ringan pada sobatnya itu.

Gaara hanya menghela napas, "Semoga paris merubahmu menjadi seseorang yang lebih punya hati."

"Paris would not dare to me, Gaara." ujar Sasuke dengan senyum liarnya. "Ok guys, jangan lupa mampir ke rumah kalo lo lagi di Paris. Gue cabut duluan."

Pemuda biru donker itu kemudian melangkah pergi keluar dari klub malam tersebut, bersiap pulang untuk menghabiskan beberapa jam terakhirnya di Konoha dengan tidur malam yang nyaman di apartmennya.

•••

Naruto menatap Sakura yang sedang meringkuk didepan pintu apartement dengan wajah panik, pucat pasi, diliputi berbagai gundah dan ketakutan sekaligus. Tubuh mungil sang gadis terlihat menggigil melawan dinginnya malam ini, kentara saja, jam tangan pemuda itu sudah menunjuk angka 01.32 dinihari. Pemuda jabrik itu kemudian menyelimuti tubuh sang gadis dengan jaket oranye yang dikenakannya.

"Kamu mau pulang sekarang, Ra?" tawar Naruto lembut, sembari menyelimutkan jaketnya ke Sakura. "Udah malem, gak bagus juga buat, emm.."

"Aku nggak apa-apa, Nar." Jawab Sakura tersenyum lemah, memotong apa yang akan diucapkan Naruto. "Lagian Sasuke juga pasti sebentar lagi pulang."

Bola mata biru safir itu kembali menatap Sakura iba, tak sengaja sudut matanya menemukan amplop cokelat yang bertitelkan 'Rumah Sakit Konoha' yang digenggam erat oleh Sakura. Mengingat apa isi amplop cokelat itu, seketika emosi kembali memuncak dalam benak Naruto. Kenangan membawanya ke kejadian beberapa jam sebelumnya

.

.

Naruto sedang berbaring di kasur buluk kos-kosannya ketika dia merasa benda elektronik di kantungnya bergetar kecil sembari berdendang, pertanda sebuah panggilan masuk. Segera pemuda itu mengecek layar hape nya, sebuah nomor tak dikenal rupanya. Berpikir sejenak, tapi toh akhirnya Ia menekan tombol yes.

"Halo..?"

"Selamat sore, bisa bicara dengan Tuan Naruto Uzumaki?"

"Ya, saya sendiri.." ujar Naruto menggantung mengetahui telepon yang masuk adalah telepon resmi. "Ada apa ya?"

"Begini, kami dari 'Rumah Sakit Konoha' ingin mengabari bahwa salah satu kerabat anda yang bernama Sakura Haruno masuk rumah sakit." Ujar suara diujung telepon tersebut. "Kami sudah menghubungi nomor yang disarankan oleh Nona Haruno, seseorang bernama Sasuke Uchiha namun tak ada jawaban. Jadi kami menghubungi nomor anda."

'Cih, si Uchiha celaka itu!' batin Naruto kesal, tapi dia mengkesampingkan ego nya dahulu, sekarang Sakura jauh lebih penting. "Lalu bagaimana keadaan Sakura sekarang? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?"

"Sebaiknya anda segera kemari," saran suara tersebut. "Dokter kami ingin bicara dengan anda."

"Baik, saya segera kesana! Terima kasih." Naruto langsung memutus telepon, menarik jaket dan segera menuju ke Rumah Sakit Konoha.

"Selamat Tuan, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah!" ujar Dokter Tsunade.

"A-apa?" tanya Naruto mendelikkan mata tak percaya kepada Sakura yang sedang terbaring lemah di dipan rumah sakit tersebut. Mata zamrud sang gadis menatap Naruto sendu, pandangannya mengabur, terhalang dengan air yang siap meluncur dari bola matanya. "T-tapi bagaimana, maksud anda Sakura hamil?!"

"Ya, dua bulan. Saya tak menyangka di usia semuda anda berdua sudah memutuskan untuk menikah dan mempunyai anak. Sungguh keputusan yang berani!" Ujar Dokter Tsunade. Naruto masih nampak shock dengan berita tersebut, tetapi berusaha memaksakan senyum bagi sang dokter berambut pirang itu.

"Sakura sebaiknya lebih dijaga kesehatannya, harus makan-makannan bergizi, dan jangan terlalu banyak pikiran. Sepertinya penyebab pingsannya anda tadi disebabkan oleh stres." Dokter Tsunade beralih pada Sakura yang hanya bisa tersenyum samar. "Baik, saya tinggal dulu. Jika ada sesuatu, silakan panggil saja saya."

Naruto berterima kasih pada sang dokter itu, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu meninggalkan ruangan tersebut.

"Kau.. hamil, Sakura?" tanya Naruto tak percaya. Hatinya terasa sakit dan pedih, perasaannya hancur berkeping-keping. Gadis impiannya, pujaannya, kini telah ternodai. Bahkan hingga mengandung benih dari seseorang yang telah menodainya tersebut.

Bola mata Sakura tak sanggup lagi membendung tangisnya yang perlahan lumer itu. Naruto meggeleng-gelengkan kepalanya abstrak, seketika rasa pening menyeruak dalam kepalanya, ditambah rasa perih hatinya kian merajam. Tapi pemuda itu masih berusaha kuat dihadapan gadis tersebut, menunggu sampai tangis sang gadis reda dan berkata sesuatu.

"Aku tau.. ini salah Nar..." Sakura menyeka tangisnya, terisak-isak. "Ini gak bener, aku sadar..., tapi aku cinta sama dia.."

Naruto menghela napas, menatap bulir-bulir air mata yang semakin deras jatuh ke pipi Sakura. hanya dengan menatap gadis itu terluka dan menangis, justru semakin membuat luka hatinya bertambah parah.

"Aku udah tau aku hamil... sejak sebulan yang lalu, tapi aku..." Sakura kembali terisak. "Aku nggak berani ngomong.., aku takut dia ninggalin aku.."

"Kamu harus ngomong ini semua sama Sasuke." Ujar Naruto pelan, tapi menghakimi. "Dia harus tahu, Ra."

"T-tapi Nar..,"

"Kalau memang dia sayang sama kamu, dia pasti akan bertanggung jawab." Potong pemuda jabrik itu cepat. "Tenang aja, Ra. Aku percaya dia pasti masih punya hati, dia pasti mau bertanggung jawab dan menikahi kamu."

"Nanti begitu kamu bisa keluar dari rumah sakit, kita ke apartemennya ya. Dia harus tau." lanjut Naruto.

Sakura mengangguk pelan. Seberkas senyum lemah dan lega muncul dari bibir sang gadis, sorot matanya seperti mengucap rasa syukur teramat sangat. Entah apa jadinya dia jika tak ada sahabat lelakinya yang menyemangati di kala berat seperti ini.

.

.

Hari sudah semakin gelap ketika Naruto kembali tersadar dari lamunannya karena derap-derap langkah berat. Begitu pula dengan Sakura, kepalanya langsung terarah ke arah suara tersebut, sosok itu semakin mendekat. Biru donker, sudah dipastikan itu Sasuke.

"Sasuke!" panggil Sakura langsung bangkit dari ringkukannya, menghambur ke arah sang kekasihnya.

Wajah tampan Sasuke itu hanya mengernyit tipis, seperti tak suka ada yang mengganggu malam nya yang tenang itu. "Sakura, ngapain kau kesini?" desisnya malas. "dan, untuk apa kau bawa si berisik itu?"

Naruto dapat mendengar apa yang diutarakan Sasuke tadi dengan jelas meski suaranya mendesis tajam, sial benar rupanya pemuda itu! Tapi demi Sakura, dia rela menahan emosinya sedikit lagi, ya, paling tidak sedikit lagi.

"Tidak perlu sekasar itu bicara tentang Naruto kan?" Sakura memperingatkan halus. "Aku.. hanya ingin memberitahukan ini.." tangannya menyodorkan amplop cokelat yang sedari tadi digenggamnya.

"Apa ini?" tanya Sasuke sembari membaca kop amplop tersebut, 'Rumah Sakit Konoha' seketika perasaan tak enak menyeruak dalam diri Sasuke, tapi dia masih berusaha bertampang acuh tak acuh.

"Surat dokter bahwa.." Sakura mulai angkat bicara ketika Sasuke menarik keluar isi amplop tersebut dan membacanya. "..aku hamil, Sas."

Sekali lagi wajah tampan itu mengernyit tiba-tiba saja dia merasa muak membaca penggalan kalimat yang tertulis di surat itu,

..bahwa pasien bernama Sakura Haruno telah mengandung 2 bulan..

Sasuke menarik matanya dari kertas tersebut, kemudian menatap lurus Sakura. "Lantas?"

Sakura terkejut mendengar komentar Sasuke yang begitu dingin dan terkesan tak peduli, "Tentu kau harus bertanggung jawab, Sas!" tegas Sakura. "Yang kukandung itu anakmu!"

Sasuke menggeleng sambil tertawa parau, "Kau pikir aku percaya begitu saja yang kau kandung itu anakku, hah? Jangan bodoh!" ujar Sasuke.

Kepala Sakura menggeleng-geleng tegas, "Aku nggak pernah berhubungan 'itu' selain sama kamu, Sas! Cuma kamu!" ujar Sakura histeris berusaha menahan tangisnya yang siap menyeruak. "Aku berani jamin, anak yang aku kandung ini anak mu!"

"Mungkin tampang mu lugu, Sakura. Tapi mana aku tahu, mungkin saja kau tak hanya berhubungan badan dengan ku?" tanya Sasuke penuh dalih. "Yang jelas, aku tak akan bertanggung jawab apapun soal kehamilanmu, anak itu belum tentu anakku."

"Bajingan lo!" Naruto langsung menyerbu ke arah Sasuke dan menonjoknya tepat di wajah tampan yang selalu dibanggakannya itu. Segera saja tubuh pemuda itu jatuh tersungkur. "Lo tau, anak itu, anak yang didalam kandungannya Sakura itu anak lo! Lo harus bertanggung jawab, brengsek! Lo HARUS bertanggung jawab!"

Sasuke hanya menyeringai tajam dan licik, kemudian meludahkan darah yang terkumpul dalam mulutnya ke wajah Naruto. "Lalu, kalo gue nggak mau, lo mau apa?" ujar Sasuke begitu tenang, sekaligus mematikan. "Lo nggak bakal bisa maksa gue."

"Bangsat!" dilancarkannya kembali pukulan ke arah Sasuke bertubi-tubi oleh Naruto, tapi pada akhirnya Sasuke dapat membalik keadaan dengan balas menonjok wajah Naruto pula. Pertarungan sengit terjadi diantara mereka berdua. Sakura hanya dapat menonton pertarungan kedua pemuda itu dihadapannya sembari tangis terus mengucur dari bola matanya.

"Cukup kalian berdua, berhenti." Sakura berusaha melerai keduanya, tetapi tak ada yang mengindahkan pekik sang gadis. Kedua pemuda itu masih saling terlibat baku hantam satu sama lain. Sasuke sudah berhasil membuat Naruto semakin tersedak, pukulan-pukulan Sasuke dilayangkan ke titik-titik yang cukup melumpuhkan. "Sudah, cukup! Berhenti! BERHEN-akkh!"

Tiba-tiba saja Sakura merintih pilu, sebuah kontraksi terjadi pada janinnya, sungguh menyakitkan. Membuat dirinya terus merintih kesakitan.

"Sakura, SAKURA!" Naruto sudah tak peduli dengan pertarungannya dengan Sasuke. Di dorongnya tubuh pemuda biru donker itu jauh-jauh kemudian dia langsung menghambur untuk menolong sang gadis yang terus meraung sakit.

Sasuke hanya menatap Naruto yang merangkul Sakura yang kesakitan itu penuh kasih dengan tatapan dingin. Nonsense, dia tak punya waktu untuk menonton drama picisan seperti ini. Harusnya dia sudah dapat terlarut dalam tidur malam yang menyenangkan, bukannya melihat sampah seperti ini.

"Kalau kalian sudah selesai berkasih-kasihan begitu, kuberitahu satu hal.." ujar Sasuke dengan nada malas. "Besok pagi aku akan pergi ke Paris, menyusul keluargaku. Dan mungkin takkan kembali lagi ke sini."

Naruto dan Sakura menatap sosok yang berdiri tegap itu penuh rasa tak percaya, si celaka ini benar-benar tak punya hati rupanya! Sungguh bedebah!

"Kalau memang merepotkan mengurus bayi itu, lebih baik gugurkan saja." Sasuke menambahkan, berkata tanpa dosa. "Kalaupun anak itu lahir, aku takkan mengakuinya sebagai anakku, sampai kapanpun."

"Lo itu—!"

"Udah, Nar.." potong Sakura meremas lengan Naruto, menahan tubuh pemuda itu tetap disampingnya, bukannya menghajar Sasuke. Pemuda jabrik itu tetap disamping Sakura, tetapi matanya tetap melempar deathglare pada Sasuke yang melangkah masuk ke dalam apartemennya tenang, seakan tak terjadi suatu apapun.

Naruto memapah Sakura perlahan keluar dari apartemen busuk itu, menuju parkiran mobil dalam diam, Naruto lah yang pertama kali membuka suara.

"Kenapa kau menghentikanku, Sakura?" tanya Naruto pada gadis yang masih diliputi duka teramat sangat itu. "Kenapa..?"

"Sudah cukup, Nar. Ini semua salah ku..," Sakura merutuki dirinya sendiri. "Aku yang bodoh.. aku yang salah.., harusnya aku dengerin kamu, dengerin Ino.."

Tak tahan melihat gadis dihadapannya itu terluka, Naruto menarik tubuh itu dalam dekapannya. Memeluknya erat, berusaha menghentikan tangis yang jatuh dari mata Sakura. "..sudah begini saja.."

Sakura menatap pemuda yang mendekapnya itu dengan mata sembab, menanti apa kalimat selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Naruto.

"Biarkan aku yang bertanggung jawab, aku yang akan menjadi ayah bagi anakmu!" ujar Naruto mantap.

"Ap- nggak, Nar!" tegas Sakura tak percaya. "Kamu nggak boleh berkorban demi aku, ini semua kesalahanku! Apa nanti kata pamanmu, apa kata keluarga mu?"

"Aku nggak peduli, Ra." Ujar Naruto. "Satu-satu hal yang aku perdulikan cuma kamu, kebahagiaanmu. Aku udah nggak peduli lagi sama apa kata orang!"

Naruto meraih Sakura kembali dalam pelukannya, sejenak dia ingin merasakan kebahagiaan, meskipun itu adalah penderitaan pula. Hati Sakura terasa begitu hangat dengan perkataan Naruto, matanya kini basah karena air mata haru. Kenapa dia telah begitu bodoh menyia-nyiakan pemuda yang begitu mencintainya, begitu peduli padanya, tanpa pengorbanan ataupun nafsu belaka.

Tetapi, kenapa pula, pelukan ini sungguh berbeda dengan pelukan yang dirasakan oleh sang gadis? Berbeda dengan yang pernah didapatkannya dari Sasuke, kenapa?

•••

FLASHBACK : OFF

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya absurd, berusaha mengembalikan pikirannya yang tengah mengembara entah kemana tadi, bisa bahaya jikalau dia menyetir dalam keadaan tidak konsen seperti ini. Pikirannya perlahan mulai dikembalikan ke jalanan raya dihadapannya, tetapi gadis kecil disebelahnya angkat bicara.

"Ayah, kok Nagisa gak jadi ditinggal di rumah tante?" tanya Nagisa

"Tante sama Om tadi mau pergi, nak." Jawab Naruto singkat dengan senyum tipis. Ditatapnya sekilas gadis kecil itu, kemudian dia kembali ingat kehamilan Sakura dimasa lampau. Dia hanya dapat tersenyum pedih mengingat semuanya. Anak gadis ini sudah begitu besar.

"Ooh..," Nagisa ber-'ooh' ria. Tetapi, tiba-tiba mukanya berubah sedih "Jadi, nanti Nagisa sendirian di rumah..,"

Naruto mencuri pandang ke anak perempuannya yang sedang tertunduk sedih, masih memangku 'pak teddy' "Ayah nggak kerja hari ini, sayang." Sahut Naruto, ragu melanjutkan kalimatnya, toh akhirnya terlontar jua. "Kita... akan ke rumah Bunda."

"Bener Ayah?!" pekik Nagisa tak percaya. "Ayah baik banget! Makasih, Yah! Nagisa sayaaanng sama Ayah!" Nagisa kontan memeluk lengan kiri ayahnya.

"Hey, hey, Ayah sedang menyetir!" Naruto memperingatkan. Tapi bibirnya menyunggingkan senyum bahagia, paling tidak, dia dapat membuat putri kecil tercintanya, satu-satunya alasan untuknya bertahan hidup ini bahagia. Duplikat Sakura itu masih tersenyum bahagia di kursi penumpang sembari memeluk erat pak teddy itu.

"Tau tidak pak teddy, bunda Nagisa itu cantik! Kata Ayah, cantiknya Nagisa mirip Ibu!" Nagisa berbicara pada pak teddy seakan boneka itu dapat berbicara betulan. "Yang bikin kami beda hanya rambutnya, rambut Bunda merah muda, rambut aku kuning, iya kan Ayah?"

Naruto hanya menangguk perlahan sambil melempar senyum, ya, anak gadis itu berambut kuning, seperti dirinya.

TeBeCe


A/N :

Seharusnya saya dapat mengupdate fic ini sedari tadi dinihari kawanku, seperti biasanya. tetapi kali ini berterimakasihlah pada modem smart yang bangke ini memaksa saya baru dapat mempublishnya siang ini, huhuhu. eniwei, langsung aja. di chappie kemaren banyak banget yang kecewa karena saya terkesan mem 'bashing' Naruto dengan kesan 'Naruto dapet sampahnya Sasuke' guys, please you have to trust me million time, gue itu cinta mati deh sama Naruto. Jadi nggak bakal ada yang sedikitpun niat terbersit buat membuat yayang Naru menderita. Satu yang mesti aku jelasin nich, di fic ini konsepnya bener-bener beda, aku pengen nonjolin betapa besarnya cinta Naruto ke Sakura meskipun cewek itu b-tchy banget. So Sorry! ;(

Err, review? :3