Us Against The World
.
Chapter 4: The Great Escape"Ikut aku!" Taeyong mengambil paksa pergelangan tangan Jaehyun, meninggalkan ekspresi terkejut di wajah Jaehyun. Taeyong tidak ambil pusing, karena setelah itu ia menarik tubuhnya untuk diajak lari sekencang-kencangnya.
"Hy...hyung! Kita mau kemana?"
"Sudah diam saja!" Taeyong membalasnya dengan senyum sambil menyeringai, tapi bukanlah seringai ejekan, melainkan sebuah ajakan.
Jaehyun diajak berlari menyusuri koridor, berbelok menuju pintu gawat darurat dan membukanya. Taeyong berniat turun ke bawah menggunakan anak tangga!
"Hyung! Serius?! Ini lantai 12!"
"Kalau begitu jangan sampai tersandung!" Taeyong-hyung kesayangannya sudah membuka pintu neraka, keluh Jaehyun.
Taeyong tidak memberi jeda kepada Jaehyun untuk berhenti. Mereka terus berlari menuruni ratusan atau mungkin ribuan anak tangga. Taeyong bisa mendengar napas Jaehyun yang tersengal luar biasa, ia menoleh ke belakang melihat ekspresinya yang masih penuh dengan tanda tanya. Taeyong menyeringai lebih lebar.
"Ayo, Jae! Jangan mau kalah dariku!"
Dada Jaehyun tertegun bercampur dengan panas luar biasa yang ia rasakan. Jaehyun tidak mengalihkan pandangannya dari sosok Taeyong yang berlari di depannya. Jaehyun bisa merasakan teriakan dari Taeyong bukanlah hentakan atau kekesalan yang biasa ia terima, ia menyadarinya samar-samar.
Apa tadi itu, Taeyong-hyung menyemangatiku?
Rute anak tangga sukses mereka lewati. Taeyong membuka pintu ke rute selanjutnya, yaitu lobby hotel yang luasnya terbentang dari ujung barat sampai ujung timur. Lantainya terbuat dari marmer berwarna kecoklatan. Taeyong-hyung kesayangannya mencoba menerobos padang pasir, keluh Jaehyun.
Jaehyun tidak akan pernah menyangka bahwa menyusuri hotel sebegini melelahkan. Sementara itu, Taeyong bergegas setelah ia bisa menemukan pintu keluar. Taeyong mendorongkan tangannya keras-keras membuka pintu keluar hotel. Mereka siap menempuh rute berikutnya. Jalan raya. Taeyong-hyung kesayangannya ingin menembus lautan.
Throw it away
Forget yesterday
We'll make the great escape
Mereka berlari tiada henti menembus jalan raya yang sudah sepi. Taeyong dengan bebasnya berlari ke tengah badan jalan di salah satu sudut kota Bangkok. Convenience store 24 hours, klub malam, restoran, toko-toko yang sudah tutup, taman, menjadi saksi bisu akan pelarian mereka. Orang-orang yang masih berkeliaran di sekitar kota menatap mereka dengan mata heran, kemudian berbisik seolah mempermalukan mereka. Apalagi yang bisa mereka pikirkan tentang dua lelaki ber-jogging di tengah malam sambil bergandengan tangan?!
"Hyung...orang-orang...memandangi...kita!" Kalimat Jaehyun ngos-ngosan.
"HA! Masa bodoh! Kita tidak kenal mereka!"
We won't hear a word they say
They don't know us anyway
Jaehyun mencoba menghentikan langkahnya di tengah jalan ketika ia merasakan hembusan udara malam bisa menjadi ganas seperti badai. Tentu saja Taeyong tidak membiarkannya. Ia tidak melepaskan tangan Jaehyun dan terus berlari menuju ke sebuah bangunan.
"Sedikit lagi, Jae! Teruslah berlari!" Langkah mereka berdua tidak berhenti. Tidak berhenti pula ketika mereka memasuki bangunan tertentu. Jaehyun menyesuaikan pandangannya. Sepertinya ia tidak merasa asing dengan gaya arsitektur dari bangunan itu, ia seolah mengalami déjà vu.
Jaehyun hampir saja mengumpat keras pada kekasih kesayangannya ketika ia melihat anak tangga yang akan mereka naiki. Taeyong juga sudah mencapai batasnya, tarikannya pada Jaehyun semakin melemah. Tetapi, satu yang pasti ia menolak mentah-mentah untuk melepas tangan kekasih jangkungnya itu.
Sebuah pintu berdiri tegak dihadapan mereka. Taeyong tanpa ragu-ragu menghempasnya kuat-kuat. Akhirnya mereka berhenti. Jaehyun roboh seketika. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai semen yang dingin. Taeyong sempoyongan dan mendudukkan tubuhnya ke tanah.
Dua puluh menit setelah itu, hanya suara napas tersengal dari mulut dua lelaki yang lelah maksimal yang dapat terdengar.
Jaehyun mengerjapkan matanya berkali-kali, memandang sekitar untuk menangkap tempat yang mereka datangi. Mereka tadi memasuki gedung, menaiki anak tangga, dan berakhir di atapnya. Matanya yang sedikit terbelalak menandakan ia menyadari sesuatu.
"Ini…sekolah Ten-hyung?" Napasnya sudah dapat ia atur untuk bicara. Taeyong mengangguk. Jaehyun tidak tahu dan mendadak tidak ingin tahu kenapa Taeyong tiba-tiba mengajaknya race di tengah malam di negara orang pula. Ia hanya merasakan sendi-sendi di sekujur tubuhya yang seolah mau rontok.
Taeyong berdiri pelan, mengambil udara untuk bernapas dari hidung, mengeluarkannya dari mulut, terus berulang sampai beberapa kali. Jaehyun tidak peduli. Ia menutup kedua matanya dengan punggung tangannya, semoga Taeyong mengizinkannya tidur di sana.
"Jae."
"Ya?"
"Aku punya tugas untukmu."
"Tidak, terima kasih."
"…Oke. Kalau begitu katakan apa yang membuatmu khawatir."
"…"
"Aku mungkin bisa menebak beberapa."
"…"
"Kau khawatir kau tidak bisa menjadi leader yang baik."
"…"
"Kau khawatir meskipun kau sudah berpengalaman, kau takut tidak bisa mengarahkan membermu. Kau khawatir soal Jhonny karena ini debut pertamanya, kalau kau tidak becus para fans-nya akan membakarmu hidup-hidup."
"Kau khawatir soal Jaemin dan Jeno, kalau mereka tidak bisa berakting sesuai dengan konsep music video. Kau khawatir karena lagumu dibuat versi english, tentunya kalian juga akan diarahkan untuk promosi di Amerika atau Inggris. Kau khawatir gagal melakukannya."
"Kau khawatir menjadi pengaruh buruk bagi NCT."
Jaehyun menyingkirkan punggung tangannya dari matanya, membuat pandangannya menengadah ke langit Thailand di malam hari. Telinganya panas karena semua yang diucapkan Taeyong benar adanya.
"Lihat aku, Jae."
Walaupun enggan, Jaehyun memindahkan tatapannya kepada sosok yang sedang berdiri di depannya. Sosok itu memegang sebuah kertas dan pemantik api menyala. Ekspresi dingin yang biasa Jaehyun lihat dari sosok itu berubah ganas, namun tenang. Matanya tersulut api yang membara seolah mengalahkan bara pemantik api yang dipegangnya.
Jaehyun membenarkan posisinya, mendudukkan badannya dengan wajah panik. "Hyung? Hyung mau apa?!"
Ekspresi itu tetap tidak berubah. Pertanyaan yang dilontarkan Jaehyun membuat matanya semakin gencar bersiap melakukan sebuah eksekusi.
"Di kertas ini, Jae, adalah semua hal yang membuat otakmu buntu. Aku tulis satu per satu di semua kertas ini. Perhatikan baik-baik apa yang akan aku lakukan dengan semua kekhawatiranmu, Jae." Kalimat Taeyong terdengar begitu tajam di telinga Jaehyun, membuatnya menelan ludah kering.
Taeyong melakukan eksekusinya. Ia membakar kertas itu. Api menari melahap kertas dari ujung bawah, menjalar cepat ke bagian tengah dan akhirnya habis sudah. Kertas itu menjadi abu dan berterbangan di depan wajah Taeyong.
Jaehyun hanya bisa melongo menyaksikan semua itu. Matanya bergetar mencari alasan mengapa Taeyong sepanjang malam ini mengajaknya melakukan hal yang membuat pikirannya keruh.
"Aku tidak akan menceramahimu, Jae. Aku hanya perlu kau membuka matamu."
"Aku hanya perlu kau menjadi kuat. Aku hanya perlu kau tidak putus asa."
Taeyong berjalan dan berhenti satu langkah di depan Jaehyun. Taeyong memendekkan tubuhnya, berjongkok dengan satu kaki di depan Jaehyun. Kini wajah mereka saling berhadapan.
"Tunjukkan padaku, Jae. Tunjukkan padaku kalau kau bisa mengatasi semua ini. Aku tahu kau tidak selemah ini." Taeyong tanpa ragu mengelus lembut kepala Jaehyun. Menyibakkan poni yang menutupi penuh dahinya. Kata-kata yang diucapkannya sarat dengan ketegasan, tapi tidak lepas dari ketenangan dan ada sedikit unsur kehangatan, kepedulian yang amat sangat.
"Karena kau adalah orang yang aku pilih untuk menjadi kekasihku." Taeyong mengecup lembut dahi Jaehyun yang telanjang tanpa poninya. Kecupan itu membuat dada Jaehyun berdesir, seluruh otot di tubuhnya kelu, semua sendinya resmi rontok. Lama Taeyong mengecupnya, membuat mata Jaehyun refleks terpejam.
"Hyung...apa yang hyung lakukan...dengan kekhawatiran hyung...setiap kali menjadi leader?" Taeyong melepas kecupannya, kembali berdiri seraya menunjuk sisa-sisa kertas yang tadi dibakarnya dan sekarang menjadi abu.
"Aku habisi dengan semangat apiku, Jae!" Jaehyun benar-benar tertegun dengan kalimat Taeyong yang ia ucapkan dengan senyum penuh keyakinan dan percaya diri. Sesaat Jaehyun memperhatikan sosok yang membelakanginya. Mata Jaehyun menatap lekat-lekat punggung lelaki yang berdiri di depannya.
Punggung itu...pastilah sudah membawa beban yang tidak terhingga beratnya. Baik dari masa lalunya, keputusannya untuk bangkit setelah itu, tanggung jawab yang harus ia emban untuk grup ini, dan semua emosi yang mungkin ia kubur dalam-dalam agar ia tidak terlihat lemah. Namun, sejak pertama kali Jaehyun menatap punggung itu, dalam situasi apapun, ia tidak pernah sekalipun gentar.
Ia tetap berdiri tegak, kokoh, dan menjulang tinggi. Menjadi pilar kuat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Mata Jaehyun nanar melihat semua itu. Betapa dirinya telah diselamatkan oleh punggung itu untuk yang kesekian kalinya.
Jaehyun kemudian bangkit, mengambil sisa kertas yang Taeyong letakkan di tanah bersama bolpoinnya.
Mata Taeyong menuju sosok yang sedang bersujud di tanah menulis sesuatu. "Kau sedang apa?"
Setelah selesai menulis, Jaehyun melangkah menghampiri Taeyong. Meraih pemantik api yang ada di saku jaket bagian depannya.
"Aku tidak mau kalah dari hyung."
Bersamaan mata Jaehyun yang memandang api membakar kertas itu, Jaehyun menyadari seketika maksud dari semua ini. Taeyong yang tanpa seizinnya, memaksanya berlari di tengah malam, dipermalukan orang asing, menerobos sekolah seperti berandalan, dan melakukan pembakaran di atap sekolah Ten.
Watch it burn
Let it die
Cause we are finally free tonight
Semua itu Taeyong lakukan hanya untuk dirinya. Semua itu Taeyong lakukan untuk membebaskan segala energi negatif yang menjalar pada diri Jaehyun. Mengubahnya menjadi energy positif.
Jaehyun kini menatap lelaki yang sedang menatapnya. Ia tersenyum dengan penuh kelegaan. Wajahnya bisa saja indah dan berseri meksi tanpa cahaya sekalipun. Mata Jaehyun sekali lagi nanar melihat sosoknya yang begitu kuat dan tanpa cela.
Orang ini benar-benar...
Tanpa apapun lagi, Jaehyun dengan cepat merengkuh tubuh ramping di depannya. Pelukan itu ia eratkan, ia tidak peduli jika Taeyong harus kesulitan bernapas. Jaehyun harus memeluknya dengan sangat erat betapapun juga.
"Dasar. Sudah waras sekarang?" Lelaki yang memeluk hanya menggangguk pelan. Suara Taeyong begitu dekat Jaehyun dengar jelas ditelinganya. Jaehyun menarik tubuh yang dipeluknya lebih dalam lagi, sampai tidak ada ruang bagi angin menyela masuk. Betapa Jaehyun sungguh berterima kasih dengan kehadirannya di hidupnya.
"Iya, iya, sama-sama. Sudah lepaskan, gerah tahu!" Taeyong di mata Jaehyun adalah sosok yang begitu peka. Jika orang mau melihatnya lebih dekat saja, ia adalah orang dengan jiwa selembut kapas. Meskipun kelembutan itu harus tertutupi sikap dingin, ketus dan pemarahnya, tapi tidak ada jiwa yang lebih peduli dari diri seorang Lee Taeyong.
Jaehyun tersenyum bersyukur dibuatnya.
"Hyung...omong-omong, sejak kapan hyung mendapat kertas, bolpoin dan pemantik itu?"
Taeyong terperanjat kecil, membuat tubuh mereka menjadi berjarak lima senti.
"I...itu...tadi aku...cuma kebetulan ada di jaket..."
"Hm? Dengan pemantik itu? Hyung kan tidak merokok?"
"Ugh...pokoknya tidak penting, jangan dibahas!" Sembari berdesis demikian, Jaehyun melihat wajah hyung kesayangannya menjadi panik seketika. Tubuhnya meronta salah tingkah, kedua pipinya memerah. Kikuk sekali, Jaehyun tertawa kecil.
"Baik, baik, aku tidak akan bertanya, jadi biarkan aku memelukmu lagi... Sayaang..." Kata terakhir Jaehyun sukses membuat Taeyong lebih terperanjat. Taeyong menahan malu luar biasa, tapi gagal karena warna merah terpancar jelas di seluruh wajahnya.
"Bo...bodoh! Jangan memanggilku dengan sebutan memalukan seperti itu!" Pekik Taeyong.
"Eh, hyung tidak suka? Kalau begitu... Honeey..." Jaehyun tersenyum bandel menikmati godaannya pada kekasih kesayangannya.
"Jung Bodoh Jaehyun, kau mau nasibmu seperti kertas yang aku bakar tadi?" Taeyong berujar dengan intonasi yang mengancam.
Kendati demikian, Taeyong tidak dapat menyembunyikan bahunya yang berguncang. Matanya yang mengerling kesana-kemari. Bibirnya yang setengah menganga setengah menutup, bersamaan dengan wajahnya yang semakin bersemu merah. Jaehyun memandangnya sumringah.
"Kau sungguh manis sekali, hyung." Jaehyun mengecup dahinya lembut. "Biarkan aku memelukmu lagi, ya?"
Taeyong sempat memajukan bibirnya kesal, tapi lagi-lagi ia tidak bisa menolak tubuh Jaehyun yang sekarang sudah menempel kembali dengan tubuhnya.
Taeyong selalu merasa, bahwa berdekatan dengan Jaehyun adalah hal yang salah. Gravitasi dari Jaehyun selalu berhasil menariknya, membiarkan dirinya dikuasasi Jaehyun. Meski begitu, sensasi kehadiran Jaehyun selalu bisa meredakan otot-ototnya yang menegang di sekujur tubuhnya. Kehangatan yang Jaehyun salurkan dari tubuhnya merasuk sampai ke tulang rusuk.
Ah, Jaehyun-nya yang manis sudah kembali.
Betapa Taeyong merindukan kehadirannya di dekatnya. Aroma tubuhnya yang berbau sitrus. Wangi shamponya yang berbau stroberi. Taeyong tidak pernah merasakan kenyamanan luar biasa seperti yang diberikan Jaehyun padanya.
Taeyong mencengkeram lembut sweater Jaehyun di punggungnya, walau hanya dengan satu tangan, memberikan balasan pada pelukan Jaehyun. Jaehyun terkejut, matanya melebar.
Sebaik yang ia ingat, sejak mereka menjadi sepasang kekasih, Taeyong tidak bergerak sekali pun ketika ia memeluknya atau menciumnya. Untuk itulah Jaehyun tidak pernah berbuat jauh selain mengecup bibirnya, pun itu hanya di permukaan saja.
Tapi, Taeyong-hyung kesayangannya malam ini...
Jaehyun mengendurkan pelukannya, menatap lekat ke wajah yang tertunduk dan yang masih dipenuhi rona merah. Jaehyun menyapu ujung bibirnya lembut, mengangkat wajahnya yang tirus, dan mengecupnya mesra. Bibir bawah Jaehyun bergerak bermain-bermain dengan bibir Taeyong.
Hyung, berikan dirimu padaku...
Jaehyun memisahkan bibir atas dan bawahnya, membuat lubang kecil di antaranya. Ia melumat pelan bibir bawah dan atas Taeyong, membasahi permukaan bibir Taeyong dengan liur tipisnya. Taeyong mengerjap dalam matanya yang masih tertutup. Tangannya dengan gelisah mengepal, membuka, mengepal, membuka, merasakan sentuhan yang diberikan Jaehyun membuatnya begitu gugup.
Jaehyun yang tahu hal ini, tanpa melepas kecupannya, meraih tangan grogi Taeyong untuk ia tempatkan di pipinya. Jaehyun biarkan telapak tangan Taeyong merasakan pipinya yang juga memanas karena semburat yang membakar.
Taeyong merasakan dirinya ditarik lebih dalam ke gravitasi yang dipancarkan Jaehyun, membuatnya memiringkan kepalanya untuk memberikan akses yang lebih nyaman kepada Jaehyun. Tangan Jaehyun sekarang di pinggang Taeyong, menarik badan kecilnya lebih maju.
Hyung, berikan seluruhnya padaku...
Jaehyun menjulurkan lidahnya seperempat bagian, menyentuhkan benda lunak itu di bibir Taeyong, meminta izin untuk masuk. Taeyong ragu-ragu membuka bibirnya perlahan, mempertemukan lidahnya dengan lidah Jaehyun. Dua benda lunak itu kini bertemu dan saling melumat dengan canggung.
Keduanya bukan ahli dalam hal ini. Tapi, Taeyong bisa merasakan bahwa Jaehyun dapat mendominasi dirinya. Bagaimana ia menjulurkan lidahnya secara penuh ke dalam mulutnya setelah itu, bagaimana tangannya berpindah ke tengkuknya dan membawanya semakin jatuh ke dalam ciuman mesra canggung mereka.
Waktu berlalu Jaehyun tidak dapat menghitung berapa lama mereka berciuman. Ia kemudian merasakan napas terengah dari hyung kesayangannya, menarik bibirnya pelan untuk lepas darinya. Jaehyun tidak membiarkannya, ia enggan melepaskan bibir Taeyong yang bertaut dengan bibirnya. Taeyong meronta pelan dengan mengcengkeram, melepaskan, mencengkeram, melepaskan sweater di punggung Jaehyun.
"Ok, ok, aku berhenti..." Jaehyun melepaskan kecupannya diikuti senyum manis yang terbentuk di bibirnya, tidak ingin membuat kekasihnya tidak nyaman.
Taeyong masih tertunduk, napasnya terdengar sengal tipis. Rona merah dipipinya yang masih belum beranjak, membuatnya membalikkan badan membelakangi Jaehyun. Jaehyun terkekeh kecil, memeluknya dari belakang, dan mengecup lembut pelipis kanannya. Ia benar-benar manis.
Malam semakin dingin membuat mereka berpikir bahwa waktu tentu sudah mencapai dini hari. Jaehyun mendudukkan mereka berdua. Jaehyun dengan mudah memenjarakan tubuh Taeyong diantara kedua kakinya, tangannya melingkar di sekeliling leher dan pundaknya, mendekapnya dari belakang. Apa yang mereka alami barusan, membuat Jaehyun mengenang memori lama.
"Hyung, kau ingat kapan pertama kali kita bersentuhan?" Ada hening yang terbentuk sebelum Taeyong menjawab pelan.
"Mana mungkin aku lupa...," ia menyandarkan kepalanya di lengan Jaehyun yang melingkari lehernya, "...itu hari di mana aku mempermalukanmu di depan semua member."
Jaehyun tersenyum diikuti hembusan napas kecil. "Tepat sekali."
"..."
"Kau mengantuk, hyung?"
"Mm."
"Tidurlah, aku akan menjagamu."
To be Continued
Up next: Kira-kira ada kejadian apa di masa lalu hingga membuat Taeyong mempermalukan Jaehyun di depan semua member NCT? Penasaran? Follow terus ya!
A/N: Selamat siang.. Wah! Akhirnya selesai juga nulis chapter ini! So, like I said, full JaeYong moments only ^^ Karena ini ceritanya momen pertama mereka, aku buat senatural dan se-innocent (halah) mungkin, hahaha... So, bagaimana menurut kalian? kalian suka kah? x) silakan tinggalkan review ya :* :*
PS. terima kasih untuk yg sudah review/favs/foll chapter kemarin, aku sayang kalian :* :* :*
