_My Girl_

Disclaimer :

All character belongs to God and SMEnt

.

This Fict is mine © Kim Minra

.

Rated T

.

Pair : Yesung x Ryeowook

.

Warning : Genderswitch, Gaje, Abal, OOC, Hancur, Typo bertebaran, Alur gk nyante, de el el.

.

.

.

IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ. JUST PRESS 'BACK'. OKAY?

.

.

.

_My Girl_

.

.

.

"Ya… Yesung, kau 'memelihara'nya dan tidak pernah memberitahuku," ucap sosok asing itu sambil mendekati Ryeowook yang kini menatapnya ketakutan.

Yesung pun menariknya masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya. "Jangan menyentuhnya, Kyu."

"Op-oppa…" Ryeowook bersembunyi di belakang Yesung. "Dia siapa?'

Yesung menggenggam tangan Ryeowook. "Dia−"

"Hai, aku Kyuhyun. Temannya Yesung, senang bertemu denganmu," ucap Kyuhyun sambil menjulurkan tangannya.

Ryeowook tersenyum ramah pada Kyuhyun dan membalas Kyuhyun. "Eng… aku Wookie. Senang bertemu denganmu juga, oppa."

Setelah itu, mereka bertiga beranjak menuju sofa dan duduk di sana. Ryeowook dan Yesung berada di satu sofa sedangkan Kyuhyun duduk di samping sofa yang diduduki oleh Ryeowook dan Yesung. Kyuhyun menatap mereka bingung menunggu penjelasan.

"Kyu… kau tahu maksudku 'kan?" tanya Yesung sambil menatap lekat kedua bola mata Kyuhyun.

"Aa. Wookie, bisa minta tolong buatkan minuman? Sepertinya, aku dan Kyuhyun kehausan. Maaf ya," suruh Yesung sambil melepaskan genggaman tangan Ryeowook. Ryeowook tersenyum manis dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan kedua pemuda tampan itu minuman.

"Kenapa dia bisa di sini? Dan juga kau memanggilnya dengan sebutan 'Wookie'. Bisa kau jelaskan?" tanya Kyuhyun.

Yesung menghela nafas. "Tapi, kau harus janji tidak akan memberitahukan orang siapapun itu. Janji!"

"Ckck, iya Kim Yesung. Jadi?"

"Begini. Dia itu amnesia,"

"Apa? Am-amnesia?" Kyuhyun terkaget dan hampir terjungkang ke belakang.

"Jangan keras-keras bodoh! Nanti dia tahu kalau kita membicarakannya. Dia belum mengingat apa-apa, entah kenapa bisa begitu."

Kyuhyun mengangguk. "Hm~ apa kau menyukainya?"

Yesung membuang muka ke arah lain. Tidak mau menatap Kyuhyun yang sepertinya serius dengan pertanyaannya.

"Ya!" panggil Kyuhyun. "Kau menyukainya 'kan? Tak apa. Siapa yang tidak menyukai artis cantik sepertinya. Kalau aku yang pertama kali bertemu dengannya, aku juga akan menyukainya,"

"Tapi, kau sudah punya Sungmin." Kyuhyun menyengir lebar mendengar Yesung yang sepertinya tidak suka dengan kelakuannya.

Sesaat sesudah itu, Ryeowook datang sambil membawakan sebuah nampan berisikan dua gelas minuman. Ryeowook tersenyum manis ke arah mereka berdua dan kembali duduk di samping Yesung. Kyuhyun hanya bisa senyum-senyum gaje melihat kedua orang tersebut.

"Oppa, silahkan diminum," suruh Ryeowook.

.

.

.

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Terlihat seorang gadis berambut panjang tengah memperbaiki tempat tidurnya. Helai rambutnya juga bergoyang ke sana-ke mari. Sesekali ia menguap karena masih mengantuk. Ia pun berjalan ke kamar mandi dan membasuh mukanya dengan air bersih.

Perlahan namun pasti, gadis cantik itu mengelap bagian wajahnya dengan handuk putih sambil berdiri di depan cermin meja riasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Tiba-tiba keningnya mengkerut dan alisnya pun bertaut.

'Wookie, nona kecilku, kau di mana?'

Sebuah pertanyaan terngiang-ngiang di pikirannya. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit dan berdenyut-denyut. Pertanyaan yang terlontar barusan selalu di ucapkan oleh kakaknya saat sedang bermain di taman rumah mereka.

'Nona, kau tak apa?'

Pertanyaan yang sepertinya familiar dengan masa lalunya itu terus saja terngiang-ngiang. Ia meremas rambutnya sendiri. Air matanya sudah tidak terbendung lagi saat merasakan sakit yang begitu menyiksanya.

"Sa…kit…" erangnya.

Braak

Ia terjatuh begitu saja. Barang-barang yang semula tertata rapi di meja rias menjadi berantakan karena ulahnya. Ia tetap meremas rambutnya karena kesakitan. Tidak menghiraukan dingin dari lantai ubin yang kini basah karena air matanya.

"Oppa… hiks…"

BLAM

Pintu kamarnya terbuka dengan kasar, memunculkan seorang pemuda tampan dengan wajah khawatir yang kini menghampirinya. Sangat terlihat raut wajah khawatir serta merasa bersalah kepada seorang yang bernama Kim Ryeowook.

Ia tepat waktu. Kamarnya berhadapan dengan kamar Ryeowook. Ia mendengar jelas apa yang terjadi di dalam kamar ini, dan ini bukan yang pertama kalinya.

"Wookie, bertahanlah. Oppa ada di sini…" gumam pemuda−Kim Yesung tampan itu di telinga Ryeowook yang sedang sesenggukan. Ia menggendongnya ala bridal style menuju tempat tidurnya dan kembali membaringkan Ryeowook di atas tempat tidurnya. Sungguh memprihatinkan, Ryeowook layaknya orang yang sedang kerasukan. Air matanya tak berhenti keluar. Ia menggigit bibirnya menahan sakit di kepalanya.

"Op…oppa… hiks," erangnya sembari memanggil oppa-nya. Yesung yang sedang duduk di sampingnya hanya bisa meringis karena tak tega melihat gadisnya kesakitan seperti ini.

Yesung membelai rambut Ryeowook dan mengusap peluh yang ada di dahi gadis itu. sudah agak tenang dari yang tadi. Tapi, kedua tangannya masih meremas tempat tidur.

"Oppa di sini, Wookie~" bisiknya. Ia kecup kening gadis itu sangat lama. Sampai pergerakan Ryeowook berhenti dan tiba-tba tenang. Seakan kecupan Yesung-lah yang menjadi obatnya.

Yesung memandangnya lembut. Tangannya membelai pipi tirus gadis itu seraya mengingat perkataan Kyuhyun saat ingin pulang kemarin.

'Kau harus mempertahankannya. Kau sudah memberinya harapan. Apa kau mau melepaskannya sedangkan hatimu sudah sangat menginginkannya? Kau bukanlah orang munafik dan aku tahu kau tidak akan menjadi munafik, Kim Yesung.'

Ia menarik tangannya dari pipi tirus Ryeowook. Namun, pandangannya tetap tertuju pada gadis cantik itu.

'Aku tahu ini hanya sementara. Dan aku harap saat semuanya berakhir, semua kembali seperti dulu lagi.' Inner Yesung.

"Oppa…?" panggil Ryeowook dengan suaranya yang masih terdengar parau. Ia menyentuh lengan Yesung yang dinggapnya sedang melamunkan sesuatu. Bibirnya kembali membentuk senyum manis yang sepertinya memang abadi.

"Kau sudah baikan?" tanya Yesung.

Ryeowook mengangguk mantap. "Maafkan aku, oppa."

Yesung mengernyit. "Untuk apa?"

"Aku sudah membuatmu khawatir dan membuatmu repot,"

Ryeowook membangunkan dirinya dan kini tepat berhadapan dengan Yesung. Lagi-lagi ia tersenyum seraya menggenggam tangan Yesung dengan lembut.

"Terima kasih oppa…"

"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Yesung hati-hati.

Ryeowook kembali memegang kepalanya. "Aku… aku di panggil 'nona' oleh orang yang… tidak kuketahui,"

"Baiklah, jangan paksakan dirimu. Aku khawatir, jika aku tidak ada di rumah lalu sakit kepalamu kambuh,"

"Iya oppa. Eum… oppa tidak kuliah hari ini?" tanya Ryeowook sambil melihat penampilan Yesung yang sepertinya baru bangun pagi juga.

Yesung mengacak-acak rambut Ryeowook sambil tersenyum tipis. "Seperti yang kau lihat. Oppa akan seharian penuh di rumah bersama Wookie,"

"Benarkah oppa?" tanya Ryeowook kegirangan sambil menautkan ke dua tangannya.

Yesung mengangguk.

"Wah~ lalu… apa yang akan kita lakukan oppa?"

"Hm… apa ya?" tanya Yesung sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ryeowook. Sangat dekat. "Menurut Wookie apa?"

"A-apa…?"

"Oppa ingin mengajak Wookie ke suatu tempat. Oppa juga mau melepaskan lelah dengan Wookie,"

Mendengar itu, Ryeowook memanas. Wajahnya sudah semerah tomat. "Oppa…" jangankan pikirannya yang sudah melayang, bahkan arwahnya hampir melayang. Tapi, jangan arwahnya. Cukup bayangkan saja bagaimana rasanya melayang di udara. 'Apa itu tempat tidur?'

"Haha, sudahlah. Bantu aku menyiapkan sarapan," ucap Yesung sambil tertawa kecil melihat tingkah Ryeowook.

Yesung beranjak dari tempat tidur itu. meninggalkan Ryeowook yang masih fly to the sky. Namun, tidak berlangsung lama. Cepat-cepat ia raih tangan Yesung lalu berjalan menuruni anak tangga.

"Oppa selalu melupakan ini,"

Yesung tersenyum tipis. "Kalau begitu, kau yang harus mengingatkan oppa."

.

.

.

Selama ini aku berpikir bagaimana caranya agar tidak tenggelam dalam perasaan bersamanya. Tapi, seperti yang kau lihat. Semuanya berjalan bagaikan roda yang terus berputar. Kehidupan terus berputar dan perasaanku padanya semakin membulat. Aku tahu ini takdirku. Bertemu dengannya sudah takdir.

Tapi, aku juga selalu berpikir bahwa aku tidak pantas untuknya. Apa kalian tidak berpikir seperti itu? jika memang begitu adanya, bukankah takdir itu bisa diubah?

Aku tahu ini tidak mudah. Bahkan hal ini terlalu sulit bagiku. Duniaku dan dunianya bertolak belakang. Siapa yang tahu nanti jika ingatannya sudah pulih kembali? Aku mencintainya. Kuakui aku mencintainya. Cukup lama tidak merasakan hal ini. Dan ini membuatku kaku dan terasa asing.

Kyuhyun sadar, perubahanku selama bersamanya sangat drastis. Ia sahabatku yang sangat tahu tentangku. Ia juga yang menyuruhku untuk cepat berhubungan dengan seorang wanita. Aku tidak tahu karena perkataannya itu seorang gadis bisa terlibat denganku.

Apakah itu doa sehingga pada waktu itu aku dipertemukan dengan gadis itu?

.

.

.

Yesung dan Ryeowook baru saja keluar dari bioskop yang berada di lantai dua. Wajah keduanya terlihat sangat senang. Seperti biasa, Ryeowook memakai jaket dengan penutup kepala sedangkan Yesung memakai topi yang membuatnya benar-benar sangat tampan. Tak jarang gadis-gadis meliriknya, bahkan ada yang memanggilnya untuk keluar bersama.

Satu yang tidak lepas dari mereka berdua. Tangan mereka seakan diolesi lem yang tidak bermerk namun terlihat sangat lengket. Yesung menggenggamnya erat untuk melindungi gadis ini, jika saja ada yang mengenalinya.

Tapi, apa ini pantas disebut melindungi?

Yesung menolehkan wajahnya ke arah Ryeowook. Memandangi gadis yang sedang tersenyum senang itu.

"Wookie," panggilnya. "Apa kau senang?"

Ryeowook memandangnya juga. "Kau tidak lihat wajahku ini, oppa?" jawabnya sambil menunjuk wajahnya, lebih tepatnya bibirnya yang sedang tersenyum lebar.

Yesung tersenyum tipis.

"Oh, jadi begini kelakuanmu, oppa. Hm…" sahut Ryeowook sambil menatap ke depan.

"Apa maksudmu?"

Ryeowook menghela nafas. "Pantas oppa tidak punya kekasih. Sikap oppa itu sangat dingin terhadap wanita,"

"Yah, terkadang aku juga tidak punya waktu untuk melakukan itu," ungkapnya. "tapi, kau suka 'kan?"

Ryeowook menoleh kepadanya dengan tampang bingung. "Hm?"

"Kau menyukaiku yang bersikap dingin ini 'kan? Kau tidak punya saingan berat untuk mendapatkanku,"

"Aa,"

Mereka memasuki lift, Ryeowook masih memandang Yesung dengan bingung. Sedangkan Yesung bersandar di sudut lift dan tidak menghiraukan tatapan bingung Ryeowook.

"Oppa−"

Ucapan Ryeowook terpotong saat tangan kekar Yesung menariknya. Tak dapat dihindari, tubuh Ryeowook jatuh ke dada bidang Yesung dengan tangan yang disimpan di depan dadanya. Dan saat itu pula, orang memenuhi lift itu. Yesung dan Ryeowook berada di pojok sambil berhadapan dengan tubuh yang tertempel sempurna.

"Jangan memberontak," bisik Yesung tepat di telinga Ryeowook.

Ryeowook hanya bisa merasakan panas di bagian wajahnya. Semburat merah memenuhi pipinya. Jantungnya pun berdegup begitu cepat. Sedangkan Yesung hanya tersenyum melihat Ryeowook dengan wajahnya yang memerah. Tapi, di balik senyumnya itu ada keadaan sangat was-was bagi seorang Kim Yesung.

"Wajahmu merah, kau tidak sakit 'kan?" tanya Yesung sambil menyentuh dahi Ryeowook.

Ryeowook menggelengkan kepalanya cepat. "Ti-tidak, oppa."

Ryeowook mendongak, tiba-tiba Yesung melingkarkan kedua tagannya di pinggangnya. "Bibirmu…" gumam Yesung sambil mendekatkan wajahnya. "…indah."

Cup

Seketika mata Ryeowook membulat. Bukan karena perkataan Yesung, tapi bibir Yesung yang kini bertandang di bibirnya. Entah kenapa Yesung nekad melakukan itu di depan umum. Yesung menggigit bibir bawah Ryeowook serta menjilatinya.

"Hmmp," desahnya tertahan. Tidak sopan melakukan itu di depan umum. Tapi, cukup untung kedua orang ini karena tidak ada yang memperhatikan mereka.

Yesung semakin menjadi-jadi, ia memasukkan lidahnya di dalam mulut Ryeowook. Saling beradu dalam gua menghanyutkan itu.

Ting

Lift itu berbunyi tanda telah sampai di lantai dasar. Semua orang keluar dari lift itu meninggalkan kedua orang ini. Yesung masih menikmati kegiatannya. Sampai Ryeowook menarik dirinya sendiri agar bisa keluar.

"Hosh… kenapa oppa melakukan itu?" tanya Ryeowook sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Ia berjalan keluar dari lift dan di susul oleh Yesung. Sebenarnya, ia suka Yesung menciumnya seperti itu. Tapi, waktunya tidak cocok. Memangnya tidak bisa tahan apa sampai di rumah? Pikir Ryeowook.

"Salahkan bibirmu yang sangat menggoda itu," sahut Yesung sambil tersenyum tipis.

Ryeowook terdiam di tempat. Ia memegangi bibirnya dengan jari-jari mungilnya sedangkan Yesung berjalan melewatinya.

"YA! Tunggu aku oppa!" seru Ryeowook seraya meraih tangan Yesung dan berjalan bersama.

.

.

.

Sekian lama dalam posisi ini, aku sudah memutuskan sesuatu. Sesuatu yang berakhir mungkin buruk bagiku dan baginya. Mungkin aku adalah orang yang paling beruntung sekaligus paling sial di dunia ini.

Menjalani hari-hari bersamanya, aku selalu tidak tenang dan selalu takut akan posisiku dengannya. Akulah orang tersial di dunia. Dan jika hari sudah malam dan sunyi, aku hanya berdua dengannya. Aku bisa menyentuhnya, mengecupnya bahkan mungkin merasakan lekuk tubuhnya yang sangat indah. Akulah orang yang paling beruntung di dunia.

Ketika bersamanya, banyak hal yang kualami. Banyak hal baru yang datang dalam kehidupanku. Banyak juga hal yang kulupakan dan terbuang begitu saja.

Harus kuakui bahwa aku tidak akan sanggup melepaskannya. Hati ini, perasaan ini memang tidak sanggup, namun keadaan sangat sanggup untuk melepaskan kami.

Tapi, jika semua adalah takdir yang tidak mungkin diubah lagi, aku akan sangat sanggup menerimanya. Sangat sanggup.

.

.

.

"Ya. Kenapa kau datang malam-malam begini?" tanya Yesung seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Seorang gadis di depannya hanya tersenyum sambil menatapnya senang.

"Sejam lagi pesta temanku akan dimulai. Aku ingin membawa Yesungie sebagai pasanganku. Cepatlah ganti bajumu!" sahutnya. Ia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. "Ayolah,"

Yesung menatapnya tidak suka. Sejenak ia alihkan pandangannya menuju lantai dua. "Maaf, aku tidak bisa."

"Ya, kenapa tidak bisa? Bukannya kau sedang tidak ada pekerjaan?"

"Aku… tidak bisa. Pulanglah!"

Gadis itu Yoona, berjalan menghampiri Yesung dengan tatapan manja. "Padahal, aku sudah memberitahu temanku akan datang dengan seorang pangeran tampan,"

"Benarkah? Tapi, kenapa kau datang ke sini? Di sini tidak ada orang yang seperti yang kau bilang tadi,"

Gadis itu berdecak. "Ya, tak usah merendah. Kaulah pangeran tampan itu!"

"Pulanglah! Aku tidak bisa pergi denganmu! Seperti tidak punya kekasih saja,"

Yesung berjalan meninggalkannya dan duduk di sofa. Gadis itu terdiam di tempat. Tiba-tiba, Yesung mendengar ada isakan yang keluar dari gadis itu.

"Kau kenapa?" tanya Yesung.

Yoona menoleh. Betapa kagetnya Yesung, kenapa gadis itu menangis? Apa yang membuatnya menangis.

"Hiks… aku… kekasihku memutuskanku," ucapnya sambil terisak.

"Ya. Tapi… tapi, jangan menangis seperti itu! Aku tidak suka melihatmu… melihatmu menangis," sahut Yesung seraya membuang muka. Bagaimana pun juga, Yoona pernah menjadi pujaan hatinya.

Yoona tersenyum lalu duduk di samping Yesung dan menghapus air matanya. "Kalau begitu, ikutlah denganku!"

"…"

"Ya! Jangan-jangan ada yang kau sembunyikan di sini! Kau punya gadis selain aku ya?" tanya Yoona sambil beranjak dari duduknya. Ia mulai menelusuri rumah Yesung. Tapi, Yesung mencegahnya saat kakinya menaiki tangga.

"Kau ini kenapa? Duduklah kembali," suruh Yesung sambil menarik Yoona dan mendorongnya di sofa. Gadis itu meringis kesakitan.

"Akh!"

Yesung menatapnya tidak suka. "Maaf. Jadi, jangan bertingkah."

"Ikutlah denganku, Yesungie…"

"Tidak bisa,"

Yoona menghela nafas. "Kau benar-benar mencurigakan−"

"Baiklah, tapi kali ini saja. Tunggu di situ! Jangan ke mana-mana! Menyebalkan!" bentak Yesung lalu meninggalkan Yoona.

Yesung berjalan memasuki kamarnya dan mengganti pakainnya dengan wajah kesal. Tidak habis pikir Yoona akan curiga dengannya. Tapi, ia harus melakukan sesuatu agar Yoona tidak mencurigainya lagi. Setelah memakai pakaian rapi, ia pun keluar dari kamarnya.

"Oppa…"

Langkahnya berhenti saat didengarnya suara yang sedikit berbisik memanggilnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Ryeowook sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Ryeowook menatapnya bingung. Tanpa ba-bi-bu lagi, Yesung mendorongnya dengan pelan untuk masuk ke kamarnya kembali.

"Eng… oppa akan pergi dengan Yoona?" tanya Ryeowook.

Yesung memegang kedua pundak mungilnya dan menghela nafas. "Aku tidak akan lama,"

"Jangan lama-lama ya, oppa…" gumam Ryeowook.

"Aku pergi dulu,"

Yesung berjalan menuju pintu kamar yang terbuka. Tapi, suatu pertanyaan menghentikannya.

"Apa yang oppa sembunyikan dariku?" tanya Ryeowook sambil menundukkan kepalanya. Tak ingin menatap Yesung yang kini berjalan mendekatinya.

"Wookie…" panggilnya. Ini yang paling tidak disukainya. Saat Ryeowook bertanya kenapa menyembunyikannya. Apa yang harus ia katakan? tidak mungkin jika ia mengatakan yang sebenarnya.

Ryeowook mendongakkan kepalanya. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Yesung.

Cup

Yesung mendaratkan ciuman lembut di bibir Ryeowook. Meskipun hanya sebentar, Ryeowook sangat bisa merasakan dingin yang tidak biasanya ia rasakan jika berciuman dengan Yesung. Jika Yesung menciumnya, bibirnya hangat tidak seperti sekarang ini. Bibir Yesung sangat dingin.

"Jangan pernah tanyakan itu lagi," ucap Yesung sambil memegang kedua pipi tirus Ryeowook. "Aku mencintaimu,"

Sesaat sebelum meninggalkan Ryeowook, Yesung mengecup kening gadis mungilnya dengan lembut. Namun, gadis itu hanya terdiam di tempat. Masih mencerna perkataan yang keluar dari mulut Yesung tadi.

.

.

.

Aku selalu tahu hati ini akan sangat sakit. Aku harap jalan yang kuambil memang benar. Dan aku harap setelah meninggalkannya, dia akan melupakanku.

Maafkan aku.

.

.

.

Di sebuah rumah yang sudah di tata dengan sangat mewah, semua orang yang berada di dalamnya terlihat sangat senang. Tapi, orang yang sangat suka berada di pojok ini, hanya diam sambil melihat sekitarnya. Sesekali ia menghela nafas dan memutar bola matanya bosan.

Tiba-tiba, datang dua orang gadis menghampirinya. Yang satu di ketahui bernama Yoona dan satunya lagi adalah temannya. Tidak beda jauh dengan Yoona, temannya ini juga cantik dan sepertinya juga mengoleksi pakaian minim.

"Yesungie, ini temanku. Namanya Jessica," ucap Yoona sambil tersenyum ke arah Yesung. Gadis yang diketahui bernama Jessica menjulurkan tangannya seraya tersenyum manis.

"Senang bertemu denganmu. Yoona juga banyak cerita tentangmu. Ternyata kau sangat tampan," ucap Jessica.

Yesung membalas jabat tangan Jessica. Sangat singkat. Lalu ia ia kembali memasang tampang dinginnya.

"Apa kalian pasangan kekasih?" tanya Jessica.

"Bukan." sahut Yesung singkat, padat dan jelas.

Yoona tersenyum ke arah Jessica. "Aa, lebih tepatnya sih belum, hehe,"

"Duduklah dengan nyaman di sofa itu. Aku akan mengambil minuman untuk kalian berdua," Jessica pun berlalu. Yoona menarik lengan Yesung untuk duduk di sofa. Daritadi, Yesung hanya berdiri di pojokan.

"Yesungie, jangan cemberut begitu,"

Yesung mendeliknya tajam. "Apa pedulimu?"

"Ya, seharusnya kau senyum kepada Jessica,"

"Membosankan,"

'Sabarlah sedikit, Yoona. Sebentar lagi akan dimulai,' ucap Yoona dalam hati sambil menyeringai.

Setelah itu, Jessica datang sambil membawa dua gelas minuman yang berwarna merah. Terlihat sangat menggiurkan. Jessica pun menyodorkan minuman itu sambil tersenyum manis.

"Minumlah dan selamat bersenang-senang!"

Yesung memutar bola matanya bosan. Mendengar kalimat Jessica tadi sepertinya ada sesuatu yang direncanakannya. Ia menatap minuman yang sedang di pegangnya.

"Kenapa Yesungie?" tanya Yoona setelah meneguk minumannya. "Kau haus 'kan? Minumlah,"

"Hm, aku tahu."

Yesung meneguk minumannya sampai habis tak tersisa. Benar-benar sangat haus. Ia tak menyadari, di sampingnya Yoona sedang menyeringai lebar.

.

.

.

Ryeowook sendirian di rumah itu. Ia berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Sesekali ia duduk di sofa jika lelah berjalan ke sana- ke mari. Terlihat wajahnya sangat gusar dan sangat khawatir. Di liriknya jam yang ada di dinding rumah itu dengan malas.

"Oppa ke mana saja? Sudah sangat malam," gumamnya.

Ia beranjak dari sofa dan mulai mondar-mandir lagi. Ia sangat memikirkan Yesung yang sekarang ini belum pulang. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

"Apa yang dilakukannya? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya entah pada siapa.

Sesekali ia menyibak tirai jendela untuk melihat keadan di luar. Tapi nihil. Tak ada yang menandakan bahwa Yesung sudah pulang.

"Kenapa sangat lama?"

.

.

.

Yoona dan Jessica membantu Yesung berjalan dan masuk ke dalam sebuah kamar di rumah Jessica. Direbahkannya tubuh Yesung yang setengah sadar di atas tempat tidur empuk itu. kedua gadis itu memasang tampang senang penuh kemenangan.

"A-apa yang… k-kalian lakukan pada…ku?" tanya Yesung sambil berusaha menatap kedua gadis itu.

Tapi, kedua gadis itu hanya tersenyum saat dilihatnya Yesung sudah tidak bergeming lagi. Di dalam minuman tadi, Jessica sudah memberikan obat penenang serta bubuk penambah gairah(?) yang sudah direncanakan bersama Yoona.

Yesung tertidur karena obat penenang itu dan beberapa menit kemudian ia akan bangun karena bubuk penambah gairah(?) tadi. Dan ketika melihat Yoona di sampingnya, Yesung akan melakukan sesuatu kepada Yoona di atas tempat tidur itu. Begitulah, cara berpikir Yoona yang sangat sempit.

"Terima kasih, Sica. Dan sekarang… kau boleh keluar," suruh Yoona sambil tersenyum senang.

"Kau licik sekali, Yoona. Tapi, jika aku yang duluan bertemu dengannya… aku juga akan melakukan yang sama denganmu. Tapi jika dia tidak menyukaiku, haha."

Jessica pun berjalan keluar dari kamar itu. "Selamat menikmati,"

BLAM

Hanya Yoona dan Yesung di kamar itu. Yoona menatap wajah Yesung yang begitu tampan seraya mendekatinya. Ia melepaskan jaketnya dan memperlihatkan bahu mulusnya serta sebagian dadanya.

"Yesungie… kau sangat tampan," gumanya seraya berbaring di samping pemuda itu. ia menyangga kepalanya dengan tangannya agar bisa menatap wajah pemuda di sampingnya itu.

"Tapi, kenapa kau selalu menjauhiku? Padahal, aku sudah menyukaimu saat itu," ia membelai pipi Yesung dengan lembut. "Orang sepertimu memang harus dipaksa,"

Ia menghela nafas. "Aku yang salah. Andai saja waktu itu aku menyadari bahwa kau menyukaiku, kita mungkin sudah menikah."

Yoona beranjak dan duduk di samping Yesung. Diraihnya kerah jaket pemuda itu lalu dengan perlahan membukanya. Ia membuka kancing kemeja pemuda itu satu persatu.

"Aa~ kau sangat seksi," gumamnya.

Yesung bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang tidak terlalu atletis namun terlihat sangat seksi. Tiba-tiba pemuda itu merespon. Ia mengucek-ngucek matanya dan mencoba sadar.

Matanya membulat saat dirasakannya sebuah tangan membelai bagian dadanya yang tidak terbalut apapun. Ia menoleh ke samping dan mendapatkan Yoona yang sedang tersenyum ke arahnya.

"Kau?" bentak Yesung sambil melempar jauh tangan gadis itu. Tapi, gadis itu malah menggerakkan tangannya menuju restletting celana Yesung.

Peluhnya berjatuhan saat menahan sesuatu yang merangsangnya agar melakukan itu pada Yoona. Dan Yoona berhasil membuka restletting celananya.

"Ja-jangan melakukan itu!" Yesung berusaha melarang Yoona. Nafasnya memburu saat rangsang dari obat itu semakin menjadi-jadi. "Yoona!" entah kenapa ia hanya bisa berteriak, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Jika bergerak salah maka semuanya akan terjadi.

"Yesungie, seharusnya kau menerima perlakuanku,"

\

"Tidak mungkin!"

Yoona membelai pipi Yesung dengan manja sedangkan Yesung berusaha agar melawan dan pergi dari keadaan ini. Peluhnya masih saja bercucuran dari pelipisnya. Saatnya otaknya harus bekerja.

Yoona menduduki perut Yesung lalu membungkukkan badannya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Yesung. Tangannya menghapus peluh di dahi pemuda itu dengan sangat lembut. Tangan Yesung beralih ke punggung Yoona dan membuka tali yang mengikat dress-nya itu. Yesung menarik tangan Yoona hingga keadaan berbalik, kini Yoona berada di bawah Yesung.

"Lakukanlah, Yesungie~" ucapnya.

.

.

.

.

.

.

TBC *tuberculosis* #plak

.

.

.

.

.

Annyeong^^

Yah, chap ini kebanyakan CUP-nya ya? Hahaha *ketawagaring. Chap ini terkesan kecepatan ya. Karena mungkin chap depan udah END. Haha #buagh

Nah, gimana nih chap kali ini? pasti sangat membosankan dan agak gimana2. -_-" kayaknya author udah gak puny aide lagi untuk fict satu ini. tapi, diusahakan bisa berkesan baik dihati para reader^^

Tapi tapi tapi tapi… gak bisa balas review satu-satu. Tapi, GOMAWO buat semua reader, reviewer plus silent reader *kalo ada* hahaha. JEONGMAL KAMSAHAMNIDA^^ Saranghae #plak

Chap ini…

.

.

.

REVIEW LAGI?