-_ Ui Present _-
000 Akairo Hoshi 000
Pairing : SasuFemNaru
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC maybe, FemNaru, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan
Rated : T aja
READ N RIVIEW PLEASE
DON'T LIKE READ
Di salah satu gedung terbesar di Konoha tampak para petugas kepolisian lalu lalang berjaga disana, besok akan diadakan pameran senjata nuklir terbaru dari salah satu ilmuan hebat Jepang di gedung megah tersebut. Mereka memperkirakan akan terjadi pergerakan Akairo Hoshi untuk mengambil senjata tersebut.
"Bagaimana sejauh ini?" Tanya Kyuubi yang tampak baru tiba di gedung tersebut. Ia mengamati kerja para polisi yang memasang berbagai alat keamanan darinya tentu saja untuk mencegah kepolisian kembali mendapat malu karena Akairo Hoshi.
"Tak ada tanda-tanda pergerakan sejauh ini. " Ucap Itachi sembari meminum kopi instant yang diberikan salah satu bawahannya itu. Sejak pagi ia tak pulang mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, mengatur anak buahnya. Sebenarnya tubuhnya sangat lelah tapi ia tak sabar untuk menangkap ikan yang licin dengan tangannya sendiri.
"Aku yakin mereka akan datang, tak sabar bermain dengan mereka." Ucap Kyuubi, nampaknya barang yang ia buat telah jadi.
"Ya, tapi jangan membunuh mereka. Kita butuh pancingan untuk ikan yang lebih besar."
"Aku tak bodoh keriput." Ucap Kyuubi sarkatis.
"Heh, bagaimana kau kabur dari pengawasan Bibi Kushina? Aku yakin beliau takkan mengizinkanmu dengan suka rela." Tanya Itachi dengan nada meremehkan -mengatakan anak mama-
"Kau menghinaku? Kau pikir aku bisa di kurung dengan pintu seperti itu. Untuk apa otak jeniusku ini kalau begitu." Sombong Kyuubi.
Mendengar nada sombong itu Itachi hanya bisa mendengus
"Untuk merendahkan orang, bukankah itu fungsi otakmu yang sebenarnya." Ejek Itachi.
"Kau mau mati muda, Uchiha."
"Memang kau bisa membunuhku."
"KAU.."
Dan dimulailah pertengkaran tak berguna antar dua anak manusia itu, sedangkan para polisi lainnya hanya bisa mendesah pasrah melihat pertengkaran yang sudah tak asing lagi dari pemimpin muda mereka itu, terlalu terbiasa mungkin. Dan tanpa mereka ketahui ikan-ikan itu telah berenang bebas didaerah mereka tanpa di ketahui.
"Bagaimana Karin?" Tanya Ryu yang kini telah memakai peralatannya.
"Semua aman, tak ada yang berarti hanya merah merah saja yang bentuknya cukup rumit. Dan membutuhkan waktu lama karena ini buatan rubah ANBU itu." Lapor Karin yang menyamar sebagai pelayan yang membawakan para polisi makanan.
"Baiklah kami akan buat sedikit keributan di luar. Kau usahakan dapatkan chip itu, Runa akan melindungimu." Ucap Ryu seraya menatap pintu masuk gedung itu dengan seringai bahagia.
"Baik Ryu-sama." Ucap Karin dan memutuskan sambungannya dengan Ryu.
Tak selang waktu lama sebuah bom meledak menghancurkan pintu masuk gedung tersebut disertai Ryu yang melangkah santai memasuki gadung dengan beberapa anak buah dibelakangnya. Sedangkan Deidara –pelaku bom- mengikuti dibelakang Ryu seraya tersenyum melihat hasil karyanya yang indah.
Para petugas kepolisian yang mendengar suara ledakan segera menuju ke tempat Ryu berada termasuk Itachi dan Kyuubi yang tak menyangka Akairo Hoshi akan menyerang sefrontal ini. Adu tembak tak terelakkan antar kedua kubu, melihat hampir seluruh petugas telah berkumpul. Ryu menjentikkan jarinya, serempak seluruh anak buahnya mengenakkan masker pelindung disusul dengan keluarnya asap yang menbuat satu persatu polisi itu tumbang tanpa perlawanan berarti. Sebenarnya Ryu tak suka cara memakai asap bius, ia lebih suka mendengar suara kesakitan dari para polisi ini. Namun apa boleh baua ini permintaan Runa dan tak mungkin Ryu menolaknya.
Ryu kembali melangkah menuju lantai dua tempat senjata itu berada namun telah dihadang Kyuubi, Itachi dan beberapa polisi yang masih tersisa.
"Kita bertemu lagi Ketua muda ANBU dan Detektive Namikaze yang terkenal." Salam Ryu sambil memasang senyum merendahkan.
"Kau bergerak sendiri, apa kembaranmu terlalu takut pada kami." Balas Itachi tak terima.
"Dia tak perlu mengotori tangannya dengan darah ANBU rendah seperti kalian. Cukup aku yang bermain dengan kalian bukan." Ucap Ryu.
"Kami berhasil masuk tinggal mengenyahkan jaring merah tak berguna ini."
"GOTCHA." Ucap Ryu sambil meremehkan dan memberi tanda anak buahnya bahwa pertarungan dimulai.
Menyadari seringai Ryu, Kyuubi segera berlari menuju tempat senjata itu berada menghiraukan pertarungan sengit yang telah terjadi.
'Sial, semoga aku belum terlambat.' Batin Kyuubi.
Di sepanjang lorong menuju tempat penyimpanan senjata Kyuubi melihat tubuh-tubuh polisi yang tak sadarkan diri.
'Sial aku terlambat.'
"Heh, lambat sekali kalian. Aku tak menyangka pancingan anak kecil seperti ini bisa menipu kalian dengan mudah." Ucap Runa diujung lorong, nampaknya ia sengaja menunggu Kyuubi disana.
"Kau…"
"Senang bisa bertemu denganmu Kyuubi, jujur aku merindukan pertarungan kita." Ucap Runa seraya mendekati Kyuubi.
Kyuubi membalas pernyataan itu dengan senyum meremehkan andalannya. Ia mengeluarkan senjatanya, sama seperti Runa ia tak suka memakai pistol atau yang lainnya. Baginya hal itu sama sekali tidak menyenangkan.
Entah siapa yang memulai mereka kini saling serang, suara adu pedang terdengar nyaring disepanjang koridor. Runa mengayunkan pedangnya menuju perpotongan leher Kyuubi, namun berhasil ditangkis Kyuubi. Melihat ruang yang kosong Runa menendang tubuh bagian kiri Kyuubi yang tanpa pertahanan membuat Kyuubi terpental. Namun Kyuubi segera bangkit dan menyerang kepala Runa, yang dihindari Runa dengan menundukkan kepalanya. Kyuubi segara melayangkan lututnya kearah perut Runa, namun berhasil ditahan oleh kedua tangan Runa membuat Kyuubi menempelkan sesuatu di wajah tepatnya topeng Runa. Namun akibatnya Runa berhasil memegang kakinya dan membanting tubuhnya keras ke lantai.
Menyadari sesuatu yang berbahaya Runa segera mundur sedikit memberi jarak antara ia dan Kyuubi Yang tengah mengerang kesakitan dan tampak aliran darah mengalir dari sisi kepalanya. Runa bisa merasakan topengnya perlahan mulai melepaskan diri dari wajahnya. Runa segera memegang topeng itu agar tetap pada tempatnya.
"Percuma kau berusaha memperbaikinya, semua jaringan telah berbalik arah melepaskan diri dari wajahmu." Ucap Kyuubi yang meliha Runa mencoba memperbaiki topengnya, ia berdiri perlahan dan mulai menyerang Runa kembali menghiraukan lukanya yang terus mengeluarkan darah.
Runa terus berusaha menghindari serangan Kyuubi dengan satu tangan, namun pada akhirnya sebuah pukulan berhasil mengenai leher sebelah kanan Runa disusul sebuah tendangan keras yang membuat Runa tersungkur.
"Chip telah berhasil didapatkan. Sebaiknya kita segera keluar sebelum pasukan ANBU bantuan datang." Ucap Karin.
Kyuubi yang melihat Runa tergeletak tak bergerak segera mengambil borgol dan mendekati Runa, ketika jarak dekat Runa segera mengayunkan pedangnya dan menggores lengan Kyuubi. Runa segera berdiri dan berjalan menuju aula, namun sesuatu menghalangi langkahnya. Tangan Kyuubi menarik mantel hitam yang di kenakan Runa yang menyebabkan rambut pirangnya nampak, Runa segera menepis tangan Kyuubi dan menatap tajam Kyuubi tanpa menyadari mata kanannya tak lagi tertutup lensa merah berganti dengan mata biru shappire nya.
Kyuubi menatap mata biru itu kosong, ingatan masa lalu berlalu lalang di otaknya. Ingatan seseorang yang memiliki mata dengan warna serupa, seseorang yang terlepas dari tangannya.
"Naruto…" Ucap Kyuubi sebelum kegelapan menyelimutinya.
Runa tersentak mendengar nama yang diucapkan Kyuubi, entah mengapa ia merasa nama itu familiar. Runa menatap Kyuubi yang kini tengah tertidur sekali lagi.
"Runa cepat keluar dari sana, pasukan ANBU bantuan telah tiba." Perintah seseorang -Ryu- dari alat penghubung yang ada di telinganya.
Runa segera menjauhi tempat Kyuubi tergeletak menuju aula. Sesampainya di aula Runa segera membuka jendela dan meloncat ke helikopter yang telah menunggunya di samping jendela.
Ryu segera membantu Runa yang baru saja memasuki helikopter, memerikas keadaan adiknya yang tampak tidak baik. Dengan luka merah keunguan di leher tak lupa darah yang mengalir disudut bibir dan luka disekujur tubuh yang tak tampak.
"Bagaimana bisa kau terluka seperti ini ?" Tanya Ryu, ia sangat jarang melihat adiknya terluka apalagi sampai babak belur seperti ini.
"Aku tak apa, lebih baik kita segera pulang." Ucap Runa yang kini sibuk melepaskan perlengkapannya.
"Baiklah." Ucap Ryu, membiarkan Runa yang kini menyamankan diri di bahunya.
'Naruto, siapa dia ? kenapa aku seperti ini ?'
Aku masih memikirkan nama itu, entah mengapa nama itu tak mau lepas dari benakku.
'Naruto.' Nama itu membuatku gila. Sekarang aku tengah menikmati udara disekitar apartemenku, tentu saja setelah membersihkan lukaku dan menutupinya dengan make up. Aku mengeratkan syal coklat yang ku kenakan untuk menghalau udara dingin sekaligus menutupi lukaku yang masih membekas.
Awal musim gugur benar-benar menyenangkan angina dingin yang membasuh lembut wajahku, aku benar-benar menyukainya. Namun nampaknya tubuhku tak sependapat, aku sedikit berlari menuju café terdekat untuk membeli secangkir coklat hangat mungkin.
Bruk
Nampaknya aku tak beruntung hari ini, aku memegangi bahu kananku. Rasanya sakit sekali karena luka yang tadi ku dapatkan kembali tertabrak.
"Dobe, apa kau tak punya mata."
Ku dongakkan wajahku menatap orang yang berani-beraninya menghinaku 'Dobe'. Wajah yang familiar, tentu saja siapa yang akan melupakan wajah targetnya.
"Apa maksudmu dengan 'Dobe' Uchiha."
"Ternyata benar-benar dobe, kau membuat kopiku jatuh bodoh."
Aku melihat kopi yang kini tergeletak tak berdaya di tanah, isinya yang ku perkirakan masih penuh tumpah menghiasi jalanan.
"Maaf, ayo ikut aku." Ucapku seraya menarik tangan Sasuke.
"Kemana?" Banyak Tanya sekali dia.
"Tentu saja mengganti kopimu Uchiha." Ucapku ketus dan memberi penekanan pada marga namanya itu. Aku segera menarik kembali tangannya namun ia masih melawan dan tak mau bergerak, apa ia tak tahu di luar sini dingin. Aku segera membalik wajah dan menatapnya tajam APA – LAGI –SEKARANG.
" Panggil aku Sasuke." Ucapnya singkat,huh.. aku kira apa.
"Baiklah ayo pergi Sasuke." Ucapku dan kembali menariknya kali ini tanpa perlawanan tentunya.
Sebenarnya aku tak tahu mengapa aku menariknya kemari, aku bisa saja meninggalkannya dan berpura-pura acuh. Entahlah semuanya membuatku pusing, aku meminum coklat hangatku. Mungkin minuman ini dapat menenangkanku. Ku lirik Sasuke yang duduk dihadapanku, ia tengah memandang ke arak luar melalui kaca café tempat kami berada. Aku ikut mengikutinya menatap jalanan setapak yang sepi karena memang udara malam yang dingin mungkin membuat orang-orang malas ke luar.
"Dimana rumahmu ?" Tanya Sasuke tiba-tiba menarikku ke alam nyata.
"Aku tinggal di apartemen didekat sini." Jawabku
"Ayo, aku antar kau pulang, Ini sudah larut."
Aku memandang jam tangan yang melingkar di tanganku 22.12 aku tak menyangka aku sudah hampir 3 jam meninggalkan rumah.
"Ya."
"Terima kasih telah mengantarku pulang." Ucapku pada Sasuke, kami baru saja sampai di gerbang kawasan apartemenku.
"Hn"
Aku hanya bisa diam ditempat tak tahu harus bagaimana, dan kenapa ia tak pergi-pergi membuatku canggung saja. Aku menggigit bibirku tanpa sadar entah apa yang aku rasakan saat ini.
Pluk
Ia menepuk kepalaku dan mengacak rambutku.
"Apa yang kau lakukan Teme." Bukannya menjawab ia hanya tertawa, yang aku balas dengan bibir manyun.
"Masuklah."aku segera masuk ke dalam kawasan apartemen. Di dalam lift aku hanya bisa merutuki kebodohanku kenapa aku bisa bersikap seperti itu di depan Sasuke, harusnya aku tak usah menghiraukannya. Tapi…
"Argghh.." aku mengacak acak rambutku kesal, rasanya pipiku memerah sekarang. Kenapa aku bertingkah seperti gadis remaja ababil seperti ini.
Sasuke meninggalkan kawasan apartemen Runa, dengan senyum yang mengembang untung suasana sepi sehingga tidak terjadi jeritan masal para gadis yang melihat senyumnya yang langka. Ia sangat bahagia, ini benar-benar membuatnya gila. Ia merogoh sakunya, kemudian menyalakan handphone nya yang memang sengaja ia matikan agar tak ada yang mengganggunya.
5 misscall dan 1 sms semuanya dari ibunya.
Sasuke datang ke Rumah Sakit Konoha sekarang, kakakmu masuk rumah sakit.
Membaca sms tersebut Sasuke segera mengambil mobilnya dan menuju rumah sakit, mungkin meminta penjelasan mengapa kakaknya bisa terluka. Ah. Tentu saja resiko menjadi anggota kepolisian. Itu mengapa ia tak punya minat menjadi anggota kepolisian seperti ayah dan kakakanya, mungkin menjadi pengusaha lebih menyenangkan.
"Oni-chan tunggu Naru."
"Oni-chan gandeng tangan Naru ya, jangan dilepas." Tentu saja aku tak akan melepaskan tanganmu, Oni-chan akan selalu melindungimu Naru-chan.
"Oni-chan, Naru sayang Kyuu-nichan. Oni-chan juga sayang Naru kan.?" Tentu saja Oni-chan sangat sayang Naruto.
"Oni-chan tolong Naru. Kyuu-nichan tolong Naru."
"Naru, NARUTO.." Kyuubi terbangun dari tidurnya, ia melihat sekelilingnya. Putih, bau obat, tentu saja kamar rumah sakit. Ia menundukkan kepalanya bayang-bayang mimpi itu masih berputar di , ia memang berharap semuanya mimipi. Tapi tidak semuanya bukan mimpi, adiknya tak ada lagi disampingnya, ia yang telah melepaskan tangan adiknya.
Kyuubi menatap tangannya sedih, tangan ini yang telah membuatnya tak bisa melihat Naruto. Naruto adiknya, adik yang sangat ia sayangi.
Kyuubi menggenggamkan tangannya erat, tak peduli buku jarinya memutih atau rasa sakit yang ia rasakan saat kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Tidak yang ia rasakan jauh lebih sakit, hatinya sakit karena sesal dan kehilangan. Ia yang membuat ibunya yang cerewet dan galak menangis, ia yang membuat keluarga mereka kehilangan matahari kecil mereka.
Kyuubi merasa sakit, sangat Sakit. Ia menggenggam bajunya tepat di jantungnya. Berharap rasa sakit ini sedikit berkurang, biarkan ia tampak lemah kali ini. Biarkan air mata ini mengalir membasuh lukanya, biarkan ia seperti ini.
Kyuubi menunduk dalam diam, membiarkan air matanya mengalir tanpa isak. Kali ini biarkan ia melepaskan topengnya, biarkan ia menjadi manusia biasa yang mepunyai sisi lemah.
Tapi Tuhan tentu tak akan membiarkan hambaNya menderita selamanya kan? Akan ada saat bahagia untuk keluarga Namikaze ini, dan itu tak akan lama.
TBC
Chapter 4 selesai, maaf jika actionnya garing gak kerasa ya, Belum lagi romancenya yang remaja banget, he..he…
Terima kasih sudah meriview fic ini, hal itu membuat saya semangat menulis… dan lagi-lagi saya tak bisa update kilat, dan buat lebih panjang kelihatannya gak bisa. Entah mengapa ide saya hanya bisa menjangkau angka 2000 kata.
Baiklah yang sudah riview, riview lagi ya. Yang belum riview, riview dong, amal di bulan puasa.
Oke, cukup sekian. Dengan ini saya mengucapkan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. See you…!
MIND TO RIVIEW
-_Uichan…..
