Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, OOC, typo, DLDR!

pengingat:

Seijuurou = 14 tahun

Shintarou = 11 tahun

Atsushi = 10 tahun

Ryouta = 8 tahun

Daiki = 7 tahun

Tetsuya = 3 tahun

Hadiah pertama lebaran buat kalian yang islam dan anggap aja hadiah buat yang non-muslim. Hadiah kedua nyusul. Enjoy!


Chapter 3: As Brother, Finding Out

Tetsuya membuka matanya tepat ketika bunyi 'biip' menggema di kamar tempatnya berada. Anak berambut biru langit tersebut bangkit dan duduk dengan sebelah tangan masih menggosok sebelah matanya untuk mengusir pergi rasa kantuk yang masih setia mengganggunya.

Tepat ketika ia duduk sempurna di atas tempat tidur, sebuah kain yang cukup lembab jatuh dari kening ke pangkuannya. Ingatan mengenai hal yang terjadi semalam kembali mengalir ke dalam benaknya.

Ia yang mulai demam dan kakaknya yang bilang akan menjaganya dan mengompresnya semalaman penuh jika memang perlu. Sebelah tangan Tetsuya terangkat dan ia menempelkannya ke keningnya sendiri. Mencoba mengatur suhu tubuhnya.

Demamnya sudah turun, hidungnya terasa lebih lega, dan tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik meski tenggorokannya masih agak sakit. Dan itu semua berkat kerja keras kakaknya yang mungkin tak henti-hentinya mengompresnya sepanjang malam hingga demamnya turun.

Tangan kecil Tetsuya meraih jam weker di atas nakas di sampingnya dan mematikan alarm tersebut. Jamnya masih menunjukkan pukul enam pagi. Masih terlalu cepat untuk bangun dan bersiap memulai aktivitas.

Detik itu juga Tetsuya baru sadar kalau ada sesosok remaja lelaki yang tengah tertidur di sampingnya. Dengan posisi duduk di lantai dan tangan tersilang di atas tempat tidur sebagai bantalan untuk kepalanya yang dipenuhi rambut berwarna merah.

"Kakak," gumam Tetsuya. Sesaat kemudian Tetsuya sudah menekan-nekan pipi kakaknya. Berusaha untuk membangunkannya karena biasanya di jam segini, kakaknya sudah bangun dan bersiap pergi berolahraga sebentar.

Ketika telunjuk Tetsuya membuat kontak dengan pipi Seijuurou, si bungsu bisa merasakan dengan rasa panas yang menjalar dari pipi kakaknya tersebut. Sebuah erangan keluar dari sela bibir si sulung yang matanya masih terpejam rapat.

Tetsuya berjengit kaget. Suhu tubuh kakaknya terlalu panas untuk ukuran normal. Tak percaya dengan indranya sendiri, Tetsuya kembali menjulurkan tangannya dan menyentuh pipi serta leher Seijuurou.

Panas. Seijuurou memang demam.

Tetsuya buru-buru menarik tangannya dan mendesis ketika rasa panas menjalar di telapak tangannya. Dengan cepat namun hati-hati agar tak sampai membangunkan sang kakak, Tetsuya beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan kakaknya untuk tetap tertidur.

Tetsuya melirik sosok Seijuurou yang masih tertidur dengan posisi yang sama.

Tetsuya rasa ia harus memberitahukan ini pada Masako-san dan Shintarou.


Mata Seijuurou bergerak membuka ketika cahaya matahari menusuk matanya hingga ke balik kelopak. Beberapa kali ia mengedipkan mata untuk dapat menyesuaikan matanya dengan tingkat penerangan kamarnya yang tiba-tiba naik drastis.

Seluruh tubuhnya terasa sakit. Tubuhnya terasa kaku dan persendiannya berderit setiap kali ia membuat gerakan, sekecil apa pun gerakan itu. Seijuurou tak bisa tak berjengit sekaligus meringis ketika ia mencoba untuk meluruskan punggungnya yang terus berada dalam posisi membungkuk sepanjang malam.

Ketika ia berhasil membuka kedua matanya dengan sempurna, sesosok wanita berambut hitam panjang tengah merengut padanya di sisi lain tempat tidur, tepat di depan jendela yang telah disibak lebar-lebar tirainya. Kedua tangan sosok tersebut terhubung dengan pinggangnya.

"Saya memang menyuruh Tuan untuk dapat sedikit tidur sebelum malam berakhir, tapi maksud saya bukan tidur dengan posisi seperti itu," omel sosok tersebut yang tak lain tak bukan adalah kepala pengurus rumahnya, Araki Masako.

"Ah, Masako-san," gumam Seijuurou. Masih sedikit tak fokus karena baru terbangun dari tidur. Butuh beberapa waktu baginya untuk menghubungkan berbagai hal dalam kepalanya hingga ia ingat kenapa tubuhnya bisa terasa tak enak seperti ini.

"Kalau Tuan sakit seperti ini, Tuan juga yang repot bukan?" lanjut Masako. Masih melanjutkan omelannya.

Wanita itu berjalan memutari tempat tidur hingga berada di sisi Seijuurou. Dengan sigap ia mencengkeram lengan atas Seijuurou dan menariknya hingga berdiri. Begitu kedua kakinya lurus kembali, Seijuurou berjengit. Dunia serasa berputar di sekelilingnya dan kakinya kesemutan tidak karuan.

Seijuurou meringis. Dengan bantuan Masako, akhirnya ia bisa duduk dengan benar di sisi ranjangnya.

"Jam berapa sekarang?" tanya Seijuurou sebari menahan kuapan yang terancam lepas dari mulutnya. Pikirannya bertanya-tanya kenapa jam weker di atas nakas samping ranjangnya tak berbunyi seperti biasa.

"Sebentar lagi jam delapan pagi," jawab Masako.

Shintarou dan yang lainnya pasti sudah pergi sekolah sekarang ini, pikir Seijuurou. Siapa yang membangunkan mereka tadi? Apa mereka sudah membawa bekal mereka? Siapa yang mengingatkan mereka akan barang-barang mereka pagi ini? Seijuurou tak bisa tak khawatir pada adik-adiknya.

"Tetsuya yang tadi memberitahuku kalau Tuan sakit. Pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan pintu kamarku untuk mengatakannya." Masako menarik keluar sebuah termometer dari dalam saku rok seragam maid-nya. Seijuurou membuka mulutnya dan membiarkan wanita paruh baya itu memasukkan termometer ke dalamnya.

Terjawab sudah tanda tanya besar dalam benak Seijuurou mengenai kenapa jam weker di atas nakasnya tidak berbunyi pagi ini. Pasti tadi Tetsuya yang mematikannya.

Sebenarnya tanpa perlu pengecekan dengan termometer pun Seijuurou sudah tahu kalau demam memang telah menggelayuti tubuhnya. Terbukti dari dahinya yang terasa basah karena keringat, pipinya yang terasa panas, udara sekitar yang terasa beberapa derajat lebih dingin meski AC tak menyala, dan sepasang telapak tangannya yang berkeringat.

Setelah kira-kira tiga menit, Masako menarik termometer tersebut dan melihat angka yang tertera di layar. Kerutan di alisnya bertambah dalam dan embusan napas keras keluar dari bibirnya. Ia sama sekali tak berusaha menyembunyikan kekesalannya terhadap tuan mudanya itu.

"Tiga puluh delapan koma lima derajat. Nol koma empat derajat lagi dan aku akan menyeretmu ke dokter," ancam Masako, ia kembali berkacak pinggang sembari memasukkan termometer tersebut kembali ke saku roknya. "Istirahatlah. Hari ini tidak usah sekolah saja."

Sayup-sayup Seijuurou bisa mendengar Masako menggumam pelan tentang 'setelah sekolah, ikut klub, kerja' dan 'masih nekat bergadang lagi'. Dan tak lama setelah gumaman tersebut, terdengar sang kepala maid menghela napas pelan.

Seijuurou tertawa. Tawa yang menyedihkan karena sejujurnya, kepalanya serasa dihantam batu besar berkali-kali sekarang ini. Meski ia tak ingin tak pergi ke sekolah, tapi ia tahu lebih baik tak menyanggah kata-kata wanita paruh baya yang telah bekerja pada keluarganya sejak Seijuurou baru lahir.

Karena ia pasti akan marah dan marahnya wanita itu mengerikan.

"Baiklah, baiklah," satu dua suara batuk tertahan terdengar. "Oh ya, Masako-san?"

Masako menghentikan gerakan tangannya yang hampir menutup sempurna pintu kamar Seijuurou. Kedua alis hitamnya terangkat.

"Tolong jangan biarkan adik-adikku selain Shintarou dan Atsushi masuk ke kamar. Ah, terutama Tetsuya," jelas Seijuurou. Si sulung berpikir, tindakan pencegahan harus dilakukan segera jika ia tak ingin adik-adiknya yang lain ikut tertular sakitnya. "Pesankan pada Shintarou kalau malam ini Tetsuya akan menginap semalam di kamarnya."

Menyedihkan sekali. Baru kemarin ia berpikir daya tahan tubuh Tetsuya sangat lemah dan sekarang justru ia yang terbaring tak berdaya di atas ranjang setelah sukses tertular demam anak itu. Apa ini yang orang-orang sering sebut dengan karma?

Masako mengatakan 'baik' sebelum berpesan kalau sebentar lagi ia akan mengantarkan makanan ke kamar Seijuurou dan mengancam anak remaja tersebut kalau ia berani melangkahkan kakinya sedikit saja keluar kamar itu, maka Masako akan memberinya pelajaran habis-habisan.

Seijuurou mengangguk. Tubuhnya ia jatuhkan di atas ranjangnya. Setelah semalaman tidur dengan posisi duduk, bisa merasakan sensasi lembut kasur bertemu dengan punggungnya terasa begitu... heavenly. Tanpa sadar, desahan senang keluar dari celah bibirnya.

Rasa sakit yang menusuk kepalanya terasa sedikit terobati ketika kepala bersurai merah miliknya dipertemukan dengan bantal. Semakin nyaman ia merasa ketika ia memutar tubuhnya hingga kini ia berbaring di atas perutnya.

Mungkin ia memang terlalu memaksakan dirinya untuk menjaga Tetsuya tadi malam. Walau bagaimana pun, kemarin adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan.

Terlebih lagi ia harus bersekolah dari jam sembilan hingga jam empat sore dan ikut klub hingga jam lima. Langsung diteruskan tanpa istirahat sama sekali dengan tancap gas ke perusahaan keluarganya dan bekerja sedikit hingga pukul tujuh malam.

Setelah tubuhnya diforsir seperti itu, ia sama sekali tak mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur sejenak –tidur yang sebenar-benarnya tidur dengan posisi yang nyaman—di waktu malam. Tubuhnya yang belum terbiasa dengan jadwal kegiatannya yang baru tentu saja akan langsung drop.

Semua masalah yang berputar di sekelilingnya membuatnya lupa sejenak kalau ia hanyalah seorang anak usia empat belas tahun biasa dan bukannya seorang superman yang bisa melakukan segalanya dan masih terlihat sehat tanpa kurang suatu apa pun.

Ponsel flip merah Seijuurou bergetar. Awalnya Seijuurou mengira kalau yang masuk hanyalah sebuah pesan, tapi ketika ponsel merah tersebut bergetar untuk yang kedua kalinya, dengan enggan –karena sakit kepalanya bertambah parah mendengar 'drrrt drrt' ponsel bergetar di atas nakas—Seijuurou menjawab telepon tersebut tanpa melihat siapa peneleponnya.

"Halo?" sapa Seijuurou dengan suara yang masih agak serak karena belum mendapat asupan cairan sejak tadi malam. Alisnya berkerut dan matanya tertutup dalam usaha meredam hantaman keras di kepalanya yang diakibatkan oleh sakit kepala. Butuh usaha yang besar agar pemuda itu tak mendesis menahan sakit.

Astaga, mungkin ia butuh aspirin. Beberapa butir aspirin lebih tepatnya.

"Seijuurou, Paman dengar kau sakit. Benarkah?" suara lembut di ujung telepon membuat mata Seijuurou langsung terbuka lebar dengan sendirinya. Ah, ternyata pamannya.

"Ya, Paman. Aku kurang enak badan. Tapi ini cuma akibat kelelahan, kurasa," jawab Seijuurou. Ia memutar tubuhnya hingga kini ia berbaring di atas punggungnya. Mata Seijuurou kembali menutup secara perlahan tapi pasti dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menghalangi cahaya yang menembus kelopak matanya. "Aku ingin minta izin tidak pergi ke kantor hari ini."

Pamannya di seberang telepon tertawa renyah. "Aneh rasanya mendengar seorang pemilik perusahaan meminta izin pada orang lain untuk tak masuk kantornya sendiri."

Seijuurou nyaris mengerang ketika tiba-tiba saja denyutan di kepalanya terasa semakin sakit. Untung saja ia sempat menyadari kalau ia tengah berada di tengah pembicaraan dengan pamannya dan mengerang ketika bicara dengan seseorang di telepon bukanlah hal yang baik untuk dilakukan.

"Kalau begitu Paman akan perlu menyesuaikan diri? Karena selama enam tahun ke depan aku akan melakukan hal itu jika aku tak bisa datang ke kantor," kata Seijuurou. Nada main-main terdengar jelas dalam suaranya. Setelah berusaha matian-matian, akhirnya ia berhasil menelurkan sebuah lelucon ringan. Ia terkekeh meski kekehannya justru terdengar sangat aneh di telinga Teppei.

"Tawamu terdengar seperti orang sesak napas, Seijuurou. Lebih baik istirahat penuh dulu hari ini. Jangan melakukan apa pun! Berbaring saja di tempat tidur." Teppei berpesan. Nada suaranya penuh dengan peringatan.

Seijuurou mengangguk. Ketika ia sadar pamannya tak akan bisa melihat anggukannya barulah ia berkata 'baik'. Ia menitipkan pesan pada pamannya untuk menyampaikan pesan pada wali kelasnya kalau ia tidak bisa masuk hari ini. Karena walau bagaimana pun, Teppei adalah walinya. Meski hanya nama saja.

Teppei mengiyakan. Setelah sekali lagi memesankan Seijuurou untuk istirahat penuh di rumah dan tidak ke mana-mana hari itu, bahkan sampai menyarankannya untuk pergi ke dokter jika demamnya bertambah parah, Teppei memutuskan sambungan telepon.

Seijuurou menghela napas lega. Syukurlah, akhirnya ia bisa istirahat dengan tenang sekarang. Dengan malas, Seijuurou menarik selimut putih hingga menutupi hampir seluruh kepala Seijuurou. Dengan sekali lagi helaan napas lega, Seijuurou mulai kembali ke alam mimpi.


Telepon yang dipasang secara paralel di atas nakas di kamar Seijuurou berdering. Sebuah novel yang tengah Seijuurou baca di pangkuannya ia letakkan di sampingnya dan ia bergeser sedikit ke sisi tempat tidur. Pemuda tersebut berdeham beberapa kali untuk mengatur suaranya yang sedikit serak sebelum mengangkat telepon.

"Halo? Keluarga Akashi di sini," kata Seijuurou dengan nada profesional yang terdengar seperti ia sudah sangat terbiasa melakukannya. Seakan bersuara seperti seorang profesional merupakan bagian dari kesehariannya.

"Ah, halo. Saya wali kelas Akashi Shintarou, Nakatani Masaaki," kata orang di seberang telepon. Mata Seijuurou melebar. Apa Shintarou bersikap nakal di sekolah hingga wali kelasnya harus menelepon rumah? Oke, ini benar-benar sesuatu yang... tidak biasa. "Bisa saya bicara dengan walinya?"

Seijuurou tersentak dari lamunannya. Ia masih merasa sedikit terguncang dengan sepotong informasi baru ini. Meski pikirannya berusaha mengingatkannya untuk tak berprasangka yang buruk terhadap adiknya yang tertua. Walau bagaimana pun, tidak semua panggilan wali kelas berarti hal buruk bukan?

"Ah, wali kami sedang tidak ada di tempat dan tidak bisa dihubungi. Jika Anda tidak keberatan, bicara dengan saya saja," jawab Seijuurou sedikit menaburkan kebohongan dalam kalimatnya. Pemuda itu berusaha terdengar setenang mungkin meski di satu sisi otaknya tengah membuat skenario tentang perilaku buruk apa yang mungkin dilakukan seorang Shintarou hingga cukup untuk membuat walinya mendapatkan sebuah panggilan dari wali kelasnya.

"Dan siapa Anda?" tanya Nakatani dengan nada curiga.

Seijuurou buru-buru menjawab, sama sekali lupa kalau ia belum sempat memperkenalkan dirinya. Si sulung Akashi itu merutuk dalam hati, betapa tak sopannya ia, "saya Akashi Seijuurou. Kepala keluarga Akashi sekaligus kakak dari Shintarou."

"Oh, begitukah? Kalau begitu, saya sangat mohon pada Nak Seijuurou untuk bisa datang ke sekolah Shintarou hari ini. Sekitar jam..." nada suara di seberang telepon semakin lama semakin kecil. Sepertinya lawan bicaranya tengah mencari-cari jam untuk menkalkulasi jam kedatangan Seijuurou. Hal yang sama tengah dilakukan si anak berambut merah.

Kedua manik matanya terfokus pada jam meja sekaligus weker di atas nakas di samping tempat tidurnya.

"Jam dua belas? Saat istirahat makan siang."

Mata Seijuurou yang sempat melirik gagang telepon di samping telinganya kembali melirik jam sekali lagi. Baru jam sepuluh. Masih ada dua jam lagi untuk bersiap-siap. Kepalanya dianggukkan sembari berkata, "Tentu, tentu. Saya akan datang."

Diam sejenak. Seijuurou tengah menimang-nimang. Sebaiknya ia menanyakannya pada wali kelas Shintarou atau tidak? Di satu sisi ia merasa lebih baik menunggu hingga waktu makan siang saja. Tapi di sisi lainnya, mulutnya sudah gatal ingin memuaskan rasa ingin tahunya.

Akhirnya Seijuurou memilih sisi yang kedua dan menyuarakan pertanyaannya.

"Jika boleh tahu, apa yang dilakukan Shintarou hingga walinya mendapat panggilan seperti ini?"

Tanpa sadar, si sulung keluarga Akashi tersebut mengerutkan kedua alis merahnya dan matanya jadi terlihat beberapa tingkat lebih tajam. Kedua maniknya melihat ke sana ke mari, mencari objek untuk dilihat meski pikirannya tak benar-benar fokus dengan benda yang akan ditatapnya.

"Hmmm..." Nakatani terdengar ragu. Seijuurou berani bertaruh kalau pria –yang ia asumsikan tengah berada di usia empat puluhan dari suaranya—itu pasti tengah memejamkan matanya dan berpikir sambil mengusap-usap dagu. Setelah beberapa saat menunggu, Nakatani akhirnya menarik napas dalam melalui mulutnya hingga timbul suara seperti suara mendesis, "sebaiknya kita bicarakan nanti saja. Tenang saja, ia tidak dipanggil karena sudah berperilaku buruk. Ini... tentang hal lain."

Seijuurou menghela napas lega. Ternyata Shintarou memang masih memegang predikat sebagai adiknya dengan sikap yang paling baik. Tapi sekarang rasa keingintahuannya justru kembali disinggung. Bahkan lebih besar dari sebelumnya.

Dengan susah payah Seijuurou menelan kembali keinginannya untuk mengatakan 'lantas?' dan akhirnya setelah ia mengucapkan terima kasih pada Nakatani karena sudah mengurus adiknya selama hampir satu tahun, ia memutus sambungan dengan menaruh gagang telepon kembali ke tempatnya.

Jadi, sekarang, bagaimana caranya meyakinkan Masako agar ia diperbolehkan pergi ke sekolah Shintarou?


Jujur, Shintarou sangat terkejut ketika pagi tadi ia mendapati Tetsuya yang membangunkannya dari tidurnya dan bukannya Seijuurou. Tangan kecil anak berusia tiga tahun tersebut mengguncang-guncangkan bahu Shintarou hingga anak berambut hijau lumut tersebut terbangun.

Dan jujur, Shintarou juga terkejut ketika Tetsuya berkata dengan polosnya kalau kakak mereka yang tertua jatuh sakit. Badannya terserang demam yang cukup tinggi dan sekarang sedang istirahat di kamarnya. Anak berambut biru langit itu juga mengatakan pada Shintarou untuk membantunya membangunkan saudara-saudara mereka yang lain.

Itulah pertama kalinya Shintarou mengetahui apa yang harus dihadapai Seijuurou selama beberapa pagi terakhir. Singkat kata, Shintarou pagi itu mengambil alih semua tugas Seijuurou. Mulai dari membangunkan adik-adik mereka yang lain dengan dibantu Tetsuya –meski anak itu tak banyak membantu—, memastikan mereka semua mandi dengan benar tanpa tertidur lagi ketika melakukannya, termasuk mengingatkan tentang buku dan bekal-bekal mereka.

Dan siapa yang menyangka kalau ternyata tugas membangunkan saudara-saudara mereka –yang sekilas terdengar mudah—begitu sulit untuk dilakukan? Terutama membangunkan Atsushi dan Daiki. Perlu beberapa cipratan air dan sedikit kata-kata tegas hanya untuk membuat mereka bangkit dari tempat tidur.

Shintarou jadi makin merasa bersalah pada kakaknya satu itu. Bisa dibayangkan oleh Shintarou bagaimana rasanya menjadi seorang Akashi Seijuurou yang harus mengurus kelima adiknya ketika ia baru masuk masa pubertas. Yah, meski hanya sebagian kecilnya saja yang bisa Shintarou bayangkan.

Dan aku justru menambah bebannya dengan bersikap begini...

Shintarou berjalan memutari lapangan sepak bola. Tepatnya ia berjalan menuju aula serba guna, tempat di mana ruang ganti berada. Pelajarannya setelah jam makan siang adalah pelajaran olahraga karena itulah ia harus cepat-cepat ganti baju. Satu stel baju olahraga lengkap telah tersampir di lengannya.

Meski ia berjalan dengan mata yang selintas terlihat fokus menatap jalan di depannya, sebenarnya pikirannya tak benar-benar berada di sana. Separuh jiwanya berada di rumah. Lebih tepatnya, ada bersama dengan kakaknya.

Apa yang sedang kakaknya lakukan? Apa ia sudah makan siang? Atau jangan-jangan ia sedang tidur? Apa ia benar-benar istirahat? Jangan-jangan begitu Shintarou dan yang lainnya pergi tadi pagi, ia memaksakan pergi sekolah karena ia menolak untuk tetap tinggal di rumah dan berbaring seperti selayaknya orang sakit?

Yang sedang dibicarakan ini Seijuurou. Seijuurou yang 'itu'. Yang jika sudah memutuskan sesuatu, akan sulit membuatnya tak mengeksekusi keputusannya tersebut.

Ah, bagaimana kalau ternyata kakaknya sakit parah? Ada orang yang bilang kalau penyakit jantung itu tanda-tandanya sama seperti orang masuk angin biasa bukan? Awalnya demam, lalu mulai berkeringat dingin, lalu sesak napas, lalu—

Shintarou menggeleng pelan. Mencoba membersihkan pikirannya dari setiap pikiran buruk yang mendobrak masuk ke dalam pikirannya. Ya ampun, sejak kapan Shintarou menjadi orang yang paranoid seperti ini?

Kakaknya pasti akan baik-baik saja di rumah. Mungkin ia sekarang sedang membaca novel di atas tempat tidur. Atau main shogi sendirian. Karena Masako pasti tak akan membiarkannya beranjak dari rumah begitu tahu kepala keluarganya sakit.

Kakaknya pasti cuma flu biasa yang diakibatkan kelelahan. Ya, pasti begitu. Ia juga berpikir yang aneh-aneh karena belum ada bicara dengan kakaknya sejak mereka main shogi bersama malam itu. Pasti begitu.

Begitu... kan?

Shintarou menghela napas panjang. Mungkin Shintarou memang harus benar-benar minta maaf pada kakaknya agar rasa bersalah bisa benar-benar pergi dari pikirannya.


Seijuurou menggeser pintu ruang guru tersebut terbuka. Remaja itu berusaha sebisa mungkin untuk tetap terlihat berwibawa meski sebenarnya kepalanya masih terasa agak pusing. Mata merahnya memindai seisi ruangan sedangkan mulutnya menggumamkan kata 'permisi'.

Ketika tak ada satu pun orang yang menyambutnya di sana, Seijuurou melangkahkan kakinya masuk dan menghampiri salah satu guru lelaki yang tengah menyantap makan siangnya. Kakinya berhenti melangkah tepat di samping pria tersebut dan sebelah tangan Seijuurou terangkat.

"Permisi, maaf mengganggu Anda," Seijuurou sukses menarik perhatian sang guru yang kini mengalihkan perhatiannya dari bekal makan siangnya. "tapi jika Anda tidak keberatan, bisa tolong Anda beritahu saya di mana guru yang bernama Nakatani Masaaki berada?"

Pria tersebut buru-buru mengunyah makanannya dan menelannya bulat-bulat. Matanya melebar, seakan melihat sesosok hewan yang sangat langka tengah berdiri di depannya sekarang ini, "Saya sendiri. Apa kau Akashi-san?"

Seijuurou mengangguk mengiyakan. Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya. Apa yang membuat Nakatani terlihat begitu terkejut melihatnya? Ia rasa ia masih terlihat seperti manusia normal ketika terakhir kali melihat cermin.

Mereka saling bertatapan beberapa lama hingga akhirnya Nakatani tersadar dari apa pun itu yang tengah dipikirkannya, mengambil sebuah kursi di dekatnya dan segera mempersilahkan Seijuurou untuk duduk.

Seijuurou mengucapkan terima kasihnya dan duduk dengan elegan. Ketika ia kembali melihat Nakatani, ia lagi-lagi menemukan Nakatani yang kini tengah menatapnya dengan pandangan yang entahlah, Seijuurou rasa pandangan itu merupakan pandangan campuran antara kagum dan terkejut.

"Ano, jika boleh tahu, kenapa Anda melihat saya seperti itu? Apa ada sesuatu di wajah saya?" tanya Seijuurou dengan alis berkerut. Meski ia sudah berusaha untuk menyembunyikan rasa risih yang mengisi hatinya, tapi wajahnya tetap menunjukkannya dengan cukup jelas.

"Eh? Ah," tiba-tiba saja Nakatani tertawa canggung. Sebelahnya tangannya mengusap bagian belakang kepalanya, "maaf, maaf. Aku hanya tidak percaya kalau kaulah Akashi-san yang bicara denganku pagi ini."

Seijuurou memiringkan kepalanya dengan sebelah alis merah yang terangkat. Kebiasaan Seijuurou jika seseorang sudah membuatnya penasaran, "Kenapa?"

Nakatani terdiam. Pandangannya ia alihkan dari mata Seijuurou dan ia terlihat malu, "Aah, karena tadi aku sempat berpikir kalau kau adalah remaja usia sembilan belas atau dua puluhan. Aku sama sekali tak menyangka kalau kau –sepertinya—baru empat belas tahun. Kau tidak sedang membolos sekolah saat aku meneleponmu bukan?"

"Tentu saja tidak. Saya tidak sekolah hari ini karena kurang enak badan. Tolong jangan berpikir macam-macam terlebih dahulu."

Nakatani menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya. Merasa canggung karena di bawah tatapan anak ini ia merasa begitu kecil dan mata merah itu seakan tengah menusuk langsung ke dalam jiwanya. Anak itu sama sekali tidak terasa seperti anak empat belas tahun pada umumnya.

Ketika ia melihat Seijuurou yang balas hanya menatapnya dengan pandangan datar, ia justru jadi merasa malu sendiri. "Uh, bagaimana kalau kita langsung ke inti pembicaraan?"

Nakatani meletakkan sebelah tangannya di atas meja di sampingnya. Badannya ia condongkan sedikit ke arah Seijuurou, "Begini, sebenarnya bukan aku yang ingin bertemu dengan Akashi-san. Tapi seorang psikolog yang datang ke sekolah ini kemarin saat Hari Karir."

Sekarang pertanyaan di benak Seijuurou bertambah satu. Kenapa seorang psikolog ingin bertemu dengan wali mereka hanya untuk membicarakan Shintarou? Apa ada sesuatu yang salah dengan adiknya?

"Kebetulan ia sebentar lagi akan datang—" pintu ruang guru tersebut terbuka lagi. Kali ini menampakkan sosok seorang lelaki tua berjanggut dan berwajah lembut. Matanya menutup seiring dengan senyumnya yang terkembang. Auranya memancarkan kebaikan, keramahan, sekaligus kelembutan ke segala arah. Aura pria ini kurang lebih sama seperti Teppei.

Pria tua itu menoleh ke kanan dan kiri sebelum akhirnya berhasil menemukan mereka di antara banyaknya jumlah kepala di ruangan tersebut. Dengan senyum lebar menempel di bibirnya, pria tua itu berjalan ke arah Seijuurou dan Nakatani yang berhenti berbincang sejak munculnya ia di ambang pintu.

"Nah, itu dia orangnya," kata Nakatani seraya menunjuk psikolog yang tadi disebutkannya dengan dagunya.

Psikolog tersebut sampai di depan mereka berdua. Ia bertukar sapa dengan Nakatani sebentar sebelum menolehkan pandangannya pada Seijuurou. Mata mereka berdua bertemu dan sesaat kemudian sebelah tangan pria tua itu terulur, meminta sebuah jabat tangan. Seijuurou berdiri dan mencengkeram telapak tangan pria itu erat.

"Apa kau yang bernama Akashi?" tanyanya ramah sembari menawarkan senyuman terbaiknya pada Seijuurou. Seijuurou, tak mau terlihat tak sopan, membalas senyumnya dengan senyum simpul. Mereka menggoyangkan tangan mereka yang erat satu kali.

"Ya, saya Akashi Seijuurou. Senang bisa bertemu dengan Anda." Seijuurou mengangguk sekali dengan mantap.

"Perkenalkan saya Shirogane Kouzou. Mungkin Nakatani-san sudah mengatakannya padamu tadi mengenai diriku, tapi ya, salam kenal."

Setelah perkenalan singkat itu, Shirogane-sensei –begitu Seijuurou memutuskan untuk memanggilnya—bersama dengan Nakatani mengajaknya untuk pergi ke ruang bimbingan konseling. Karena walau bagaimana pun, tidak enak rasanya membicarakan suatu hal yang pribadi seperti ini di hadapan orang banyak bukan?

Nakatani yang memimpin jalannya ke sana sedangkan Shirogane dan Seijuurou mengikutinya di belakang. Pikiran Seijuurou terus berputar. Ia mencoba menggunakan kemampuan analisanya yang hebat untuk menyambungkan satu hal dengan yang lainnya yang mungkin bisa menjadi alasan panggilannya ke mari.

Tapi ia tetap tak bisa memperkirakan suatu apa pun yang mungkin telah dilakukan Shintarou hingga cukup membuatnya bisa menapaki koridor sekolah keempat adiknya sekarang ini.

Nakatani membukakan pintu ruang bimbingan konseling untuk Shirogane dan Seijuurou, mempersilahkan keduanya untuk masuk sebelum ia pamit undur diri dan menutup pintunya. Ruangan itu tidak cukup besar. Hanya cukup untuk sebuah sofa tiga orang, dua buah kursi yang diposisikan berhadapan beserta meja yang menjadi penghalangnya.

Shirogane duduk di kursi tersebut dan Seijuurou mengikuti duduk di hadapannya.

"Jadi, sebenarnya aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu. Ini berkaitan dengan sesuatu yang kami lakukan kemarin," kata Shirogane, memulai pembicaraan. Matanya ia pejamkan dan sebelah tangannya sudah merogoh saku dadanya.

"Kemarin aku masuk ke kelas Shintarou dan menyuruh semua anak menggambar keluarga mereka masing-masing. Termasuk orangtua mereka yang angkat mau pun anggota keluarga dekat yang sudah meninggal," Seijuurou menautkan kesepuluh jarinya dan meletakkannya di atas meja. Ekspresi pemuda itu sangat serius dan telinganya dalam kondisi sangat siap mendengarkan. "Dan ketika itu, inilah yang ia gambar."

Shirogane menarik keluar selembar kertas dari saku dadanya. Kertas itu dilipat sedemikian rupa hingga bisa masuk ke dalam saku dada kemeja Shirogane. Kedua tangan Shirogane perlahan tapi pasti membuka lipatan gambar tersebut. Setelah kertasnya terbuka sempurna, Shirogane mendorong kertas tersebut ke arah Seijuurou.

Dan sebuah gambar yang cukup berantakan –mungkin karena tak ada banyak waktu untuk membuatnya—namun penuh dengan makna masuk dalam lingkup penglihatan Seijuurou.

Gambar itu sederhana, sungguh. Hanya sebuah potret keluarga Akashi beserta orangtua biologis Shintarou. Masing-masing digambar dengan warna rambut asli mereka. Shintarou dengan warna hijau lumut, Seijuurou dengan merah, Atsushi dengan ungu, Ryouta dengan kuning, Daiki dengan biru tua, dan terakhir, Tetsuya dengan warna biru muda. Di sana juga ada gambar orang tua biologis Shintarou dan ayah mereka.

Singkat kata, gambar itu digambarkan seperti ini. Ada empat orang anak berbeda warna berdiri bersisian. Beberapa bahkan bergandengan tangan. Dari ujung kanan ada Atsushi, kemudian Daiki, Ryouta, dan Shintarou sendiri. Semuanya digambar dengan wajah tersenyum kecuali gambar Shintarou yang mulutnya justru membentuk kurva ke bawah.

Di sebelah gambar figur Shintarou ada gambar sepertinya seorang anak berambut merah –yang badannya digambar paling tinggi dibandingkan mereka semua—namun tak begitu terlihat karena dicoret kasar. Seakan gambar itu adalah sebuah kesalahan tapi Shintarou tak mau repot-repot menghapusnya dengan benar.

Lalu tak jauh dari keempat anak tadi, ada sosok seorang anak berambut biru muda yang merupakan yang paling pendek di antara semua anak. Anak itu memiliki sepasang tanduk berwarna merah di kepalanya dan sebelah tangan anak itu menggandeng sosok anak berambut merah tadi yang digambar ulang. Juga ada gambar seorang laki-laki tinggi berambut hitam dengan mata heterokrom. Di atas kepala laki-laki berambut hitam tersebut terdapat lingkaran kuning.

Di atas kepala ketujuh figur tadi terdapat sebuah awan, di mana ada dua orang berada di atasnya. Orang yang pertama laki-laki berambut hijau, Seijuurou asumsikan sebagai ayah kandung Shintarou, kemudian di sampingnya ada sosok wanita berambut hitam panjang, yang juga Seijuurou asumsikan sebagai ibu kandung Shintarou. Keduanya memiliki lingkaran berwarna kuning terang di atas kepala mereka, sama seperti sosok laki-laki yang berada di samping gambar anak berambut merah.

Sekilas mungkin ini hanya terlihat seperti gambar anak kelas lima SD biasa. Tapi jika diteliti lebih seksama, maka akan terlihat kalau ada kisah yang coba diceritakan oleh sang anak dalam goresan pensil warnanya. Ada di sana, meski hanya sepotong kecil, bagian dari perasaan Shintarou yang coba ia tuangkan.

"Nah, yang sangat menarik perhatianku—" Shirogane menjulurkan tangannya dan menunjuk sebuah bagian tertentu dalam gambar tersebut dan menggambar lingkaran imajiner dengan telunjuknya, "—adalah bagian ini. Di mana ada seorang anak berambut merah yang sosoknya dicoret kemudian digambar ulang dan gambar pria –yang sepertinya sudah meninggal?—di samping anak berambut biru muda."

Shirogane mengangkat kepalanya dan berkata, telunjuknya mengetuk-ngetuk kertas tersebut tepat di kepala anak berambut merah, "setelah melihatmu, kurasa ini adalah kau, Akashi-san?"

Seijuurou mengangkat kepalanya setelah mengamati kertas itu cukup lama dengan pandangan yang sulit diartikan. Hingga jika pandangan bisa membuat benda terbakar, maka kertas di hadapan Seijuurou pasti sudah terbakar karenanya.

"Ah, ya. Saya rasa juga begitu," jawab Seijuurou dengan nada yang jelas mengindikasikan kalau pemuda dengan manik merah tersebut tidak terlalu memerhatikan. Kepalanya mengangguk lemah. Menguap sudah sosok Seijuurou yang tadi kelihatan begitu sempurna dalam hal pengendalian diri, "Umm, jika bisa, tolong jelaskan pada saya tentang gambar ini menurut sudut pandang Anda..."

Shirogane mengangkat jemarinya yang saling bertautan di depan mulutnya dan bergumam. "Ini hanya asumsiku saja sebenarnya. Tapi... sepertinya Shintarou tidak menyukai adiknya yang berambut biru muda ini?"

Sebelah tangan Shirogane menunjuk sosok anak berambut biru muda yang digambar dengan sepasang tanduk tadi. "Ah ya, Akashi-san, ini sudah menggangguku sejak kemarin. Jika boleh bertanya, kalian semua... anak angkat? Karena kulihat kalian semua memiliki warna rambut yang berbeda."

"Saya anak kandung keluarga Akashi. Tapi adik-adik saya yang lain," Seijuurou mengarahkan telunjuknya pada lima anak lainnya dalam gambar dan menggambar lingkaran khayal di sekeliling mereka, "diadopsi oleh Ayah saya sejak mereka masih kecil."

Seijuurou menunjuk sosok lelaki berambut hitam dengan manik heterokrom tadi. Mengindikasikan kalau itulah ayah mereka. Pandangan Seijuurou untuk sesaat berubah sendu ketika bayang-bayang ayahnya mendobrak masuk ke dalam pikirannya.

"Hmm, begitukah... Lalu, menurutku, Shintarou ini merasa dekat denganmu dan ayahmu. Hanya saja..." Shirogane memberikan jeda. Entah ia tengah sengaja untuk membuat kesan misterius atau tidak. "ketika adik kalian yang berambut biru muda ini datang, ia jadi merasa... anak ini merebut kalian berdua darinya."

Shirogane menjelaskan dengan menggunakan telunjuknya untuk menunjuk beberapa bagian. Shirogane menghela napas pelan ketika ia telah menyelesaikan penjelasannya yang sangat panjang tersebut. Matanya kembali menatap Seijuurou.

Anak itu terlihat tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tengah memikirkan suatu masalah keluarga mereka mungkin? Atau ia sama sekali tak berpikir kalau adiknya akan berpikir seperti itu? Pikir Shirogane.

"Kalau bisa, Akashi-san, jangan terlalu menunjukkan perhatianmu secara terbuka ke satu adikmu saja. Karena bisa-bisa adikmu yang lain akan merasa iri dan ditinggalkan," Shirogane tersenyum lembut dan matanya menyipit hingga membentuk sebuah garis tipis. "aku berkata begitu, karena aku yakin kau menyayangi mereka semua sama rata. Hanya saja kau tidak terlalu terbuka memperlihatkan kasih sayangmu pada beberapa adikmu."

Seijuurou mengangguk. Sekarang semuanya telah terbentuk menjadi potongan puzzle utuh di kepalanya. Sekarang ia mengerti sepenuhnya kenapa Shintarou bersikap seperti itu. Namun, ia tak bermaksud untuk membuat Shintarou merasa ditinggalkan, sungguh.

Ia lebih terbuka dalam memberikan kasih sayangnya pada Tetsuya dan tanpa sadar menuangkan perhatian lebih pada si bungsu karena anak itu lebih membutuhkannya. Ia masih sangat muda. Orangtua kandungnya bersikap kurang baik padanya hingga meninggalkan luka permanen di hatinya, terbukti dari sikapnya ketika mereka baru menjadi keluarga. Dan yang terpenting, belum ada sehari ia menjadi anggota keluarga Akashi, ia sudah harus kehilangan ayahnya.

Dalam hati Seijuurou berjanji akan melakukan sesuatu untuk menyelesaikan ini. Dengan cara yang lebih baik.

"Baiklah. Saya sangat berterima kasih pada Anda karena sudah mau repot-repot memanggil saya ke mari untuk membicarakan hal ini. Sekarang saya jadi mengerti. Terima kasih banyak." Seijuurou membungkukkan badannya empat puluh lima derajat sempurna ke arah Shirogane.

Shirogane tertawa lirih dan berkata, "Tidak apa. Aku sangat senang bisa membantu kalian. Tapi aku juga melakukannya karena ini baru pertama kalinya aku melihat ada anak yang begitu menuangkan perasaannya saat disuruh menggambar keluarganya, maka dari itu aku merasa begitu tertarik. Lagi pula ia kelihatan seperti sedang punya masalah waktu itu."

Setelah berterima kasih kembali dan bertanya jika Shirogane bersedia dibayar untuk kebaikannya tadi. Karena walau bagaimana pun ia adalah seorang psikolog aktif yang berada di sana semata-mata karena ia ikut berpartisipasi dalam Hari Karir dan bukannya seorang guru bimbingan konseling sekolah yang dibayar pihak sekolah langsung.

Dengan rendah hati, Shirogane menolak dengan mengatakan kalau membantu orang dalam masalah internal –internal di sini maksudnya masalah perasaan dan kejiwaan—memang merupakan bagian dari deskripsi pekerjaannya. Jadi Seijuurou tak perlu membayar sepeser pun uang padanya.

Setelah pamit undur diri pada Shirogane dan mengucapkan terima kasihnya juga pada Nakatani, Seijuurou cepat-cepat kembali ke rumah sebelum Masako merasa dirinya pergi terlalu lama dan datang sendiri ke sana menjemputnya.


Daiki berjalan di trotoar tersebut dengan kepala yang ditundukkan dan pikiran yang bercabang ke mana-mana. Sejujurnya, ia sangat kecewa ketika pagi ini kakaknya tidak bisa diajak berbagi cerita mengenai uang lima ratus yen yang ia temukan di bawah bantalnya tepat ketika ia bangun tidur.

Batu-batu kerikil yang berserakan di sekitar kakinya ia jadikan pelampiasan kekecewaan. Ditendangnya batu tersebut hingga mendarat beberapa meter cukup jauh di depannya.

Anak berambut biru tua itu mengerti. Sangat mengerti malah kalau kakaknya sakit, jadi tak bisa membangunkannya seperti biasa. Walau pun ia tak begitu suka dengan metode yang dipakai Shintarou untuk membangunkannya pagi ini, ia tetap mengerti kalau kakak sulungnya memang tidak bisa.

Tapi tetap saja, ia ingin punya tempat untuk berbagi cerita 'peri gigi'nya. Bicara dengan Ryouta sudah pasti tidak mungkin; karena anak itu tak akan mendengarkan dan justru sibuk merasa iri karena Daiki dapat lima ratus yen dari peri gigi. Bicara dengan Atsushi juga sama sekali bukan pilihan. Anak itu pasti tak akan tertarik. Yang ada dalam pikiran anak berambut ungu itu hanya makanan dan basket. Dua itu saja.

Kalau Shintarou... entahlah, kakaknya yang satu itu mungkin akan mendengarkannya, tapi tak akan benar-benar mengeluarkan reaksi ketika ia bercerita. Bercerita padanya sebelas-dua belas rasanya dengan bicara dengan dinding.

Daiki berbelok dan langkahnya membawanya masuk ke pekarangan sebuah daycare. Tepat sekali. Daycare di mana adiknya, Tetsu, dititipkan.

Hari ini, ialah yang pulang paling cepat. Shintarou pulang masih cukup lama karena ia punya urusan sebagai perangkat kelas. Atsushi bilang ia ingin main basket sebentar dengan teman-temannya di lapangan sekolah. Sedangkan Ryouta, meski keberatan, harus mengerjakan tugas piketnya di sekolah.

Alhasil, di sinilah Daiki berada sekarang. Di depan pintu depan daycare tersebut. Setelah mencari-cari sosok anak berumur tiga tahun dengan rambut biru muda di pekarangan dan tidak bisa menemukannya, Daiki berasumsi kalau adiknya mungkin sedang main di dalam.

Daiki membuat celah sedikit di pintu depan bangunan tersebut dan menjulurkan kepalanya ke dalam.

"Halo, manis, sedang mencari siapa?" sapa suara seseorang yang kedengarannya, perempuan.

Daiki menoleh ke kiri dan mendapati sosok seorang wanita muda –entahlah, ia sepertinya sudah tua, hanya fisiknya saja yang terlihat muda—tengah berdiri tak jauh darinya. Apron hijau tua, yang sewarna dengan matanya, menempel di tubuhnya yang bisa dibilang sangat seksi.

Senyuman lembut menempel di bibirnya dan matanya berbinar ramah. Tak biasa berhadapan dengan perempuan, Daiki jadi gugup sendiri, "Ah, aku mencari adikku, Tetsu. Akashi Tetsuya."

Perempuan itu ber-ooh ria dan mengajak Daiki untuk masuk. Perempuan itu membimbingnya melewati beberapa ruangan yang ada dalam bangunan daycare tersebut. Daiki mengikutinya dari belakang hingga mereka sampai di depan sebuah pintu.

Perempuan itu memutar kenop pintu dan membukakannya untuk Daiki. Mata biru muda anak itu memindai seisi ruangan untuk mencari sosok adiknya.

"Ah, Tetsu!" panggil Daiki pada Tetsuya yang sedang sibuk bermain –sepertinya—hanafuda dengan teman-temannya. Tetsuya mengangkat kepalanya dari barisan kartu di hadapannya. Mata biru muda anak itu terlihat makin cerah ketika melihat Daiki.

Si bungsu mengatakan sesuatu pada teman-temannya. Mungkin ucapan 'aku duluan' dan 'sampai besok' yang sederhana dengan beberapa lambaian tangan. Anak itu kemudian bangkit dan berlari-lari kecil ke arah Daiki. Daiki menyambut anak itu dengan cengiran lebar dan usapan di kepala.

Setelah mengucapkan terima kasih pada perempuan tadi karena sudah menjaga adiknya dengan baik sekaligus pamit, kedua anak tersebut berjalan bersisian di sisi trotoar dengan tangan yang bergandengan.

"Kak Seijuurou, sudah baikan belum ya?" gumam Tetsuya dengan pandangan yang mengarah pada kakinya kecilnya yang menapaki trotoar. Daiki menghela napas diam-diam. Mata biru tuanya tak hilang fokus pada jalan di depannya. Sebelah tangannya yang tak menggandeng Tetsuya ia masukkan dalam saku celananya.

Sejak dulu, Daiki selalu menjadi 'adik' dalam keluarga mereka. Jadi ketika Tetsuya datang dan ia harus menjadi 'adik' sekaligus 'kakak' ia jadi sedikit kesulitan. Tapi beberapa hal yang ia tahu tentang menjadi kakak adalah sudah tugas seorang kakak yang baik untuk membuat adiknya merasa lebih baik.

"Entahlah. Tapi kurasa Kakak pasti sudah membaik. Dia kan orang yang kuat!" kata Daiki seraya memberikan cengiran terbaiknya pada Tetsuya. Tetsuya tak balas tersenyum padanya dan justru menggumam 'entahlah, tadi pagi Kakak panas sekali'.

"Hei, Tetsu, bagaimana kalau kita mampir dulu ke Maji Burger sebelum pulang?" tawar Daiki. Mencoba untuk mengalihkan perhatian adiknya. Satu hal lagi yang anak berusia tujuh tahun itu ketahui tentang menjadi kakak yang baik adalah menyenangkan adiknya sesering mungkin sebisanya.

Tetsuya suka vanilla shake. Jadi kalau Daiki mentraktirnya vanilla shake, adiknya itu pasti akan senang bukan kepalang.

Dan pasti pikiran tentang sakitnya kakak mereka akan terkesampingkan untuk sementara waktu.

Ekspresi Tetsuya menjadi cerah. Tapi sedetik kemudian ia menjadi lesu dan mata birunya menatap Daiki dengan polosnya namun kekecewaan jelas tergambar di sana.

"Tapi Tetsuya tidak bawa uang," kata Tetsuya polos. Hingga anak berambut biru tua itu tak bisa menahan diri untuk tak mencubit pipi gembul adiknya.

"Aku baru dapat lima ratus yen dari peri gigi. Karena gigiku tanggal. Lihat?" kata Daiki dengan mulut terbuka lebar. Dengan bangganya anak itu menunjukkan barisan gigi depannya yang tidak lengkap.

"Oooh," gumam Tetsuya dengan penuh kekaguman. Sepertinya baru pertama kali mendengar kisah peri gigi, "Jadi kalau gigi kita lepas, kita akan dapat uang dari peri gigi?"

"Yap!"

Sepanjang perjalanan pulang mereka –bahkan ketika mereka sempat mampir ke Maji Burger—pun diisi dengan perbincangan mengenai berbagai kisah-kisah menarik yang ada di dunia. Awalnya hanya peri gigi, namun lama-lama merambat ke kisah Santa Claus, Jack Frost, Sand Man, dan kelinci paskah.

Tetsuya cukup terhibur hingga mereka sampai di rumah mereka yang terdiri dari dua lantai dan sangat luas tersebut. Keduanya serentak mengatakan 'aku pulang' seraya Daiki melepas sepatunya dan membantu adiknya menjaga keseimbangan ketika menunduk dan melepas sepatunya sendiri.

"Mau lihat keadaan Kakak dulu tidak?" ajak Daiki dengan sebelah telunjuk teracung. "Supaya Tetsu tidak khawatir lagi."

Mata biru muda Tetsuya berbinar cerah karenanya. Sambil berderap kecil di sepanjang koridor rumah mereka. Seijuurou pasti akan marah jika tahu mereka berlari-lari kecil di lorong. Tapi sesekali melanggar peraturan rumah tak akan menyakitkan bukan?

"Sssh," desis Daiki dengan badan yang sedikit membungkuk ketika mereka sampai di depan pintu kamar Seijuurou. Mengisyaratkan Tetsuya untuk diam karena siapa tahu saja kakak mereka tengah tertidur di dalam. Tetsuya balas mencondongkan badannya ke depan beberapa derajat dan telunjuknya ditaruh di depan bibirnya. Ia pun balas mendesis pada Daiki.

Daiki memutar kenop pintu.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya sebuah suara perempuan yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping mereka. Daiki dan Tetsuya bahkan hingga berjengit kaget ketika ia angkat suara. Perempuan itu tak lain tak bukan adalah Araki Masako.

Tangan Masako sudah menumpuk di atas tangan Daiki yang bertengger di kenop pintu. Jika Daiki berusaha mendorong pintu itu terbuka, maka Masako justru mencoba menarik pintu itu tertutup.

"Kalian tidak boleh menemui Tuan Muda Seijuurou dulu," kata Masako dengan nada lembut tapi tetap tegas. Alis wanita itu berkerut dan wajahnya terlihat begitu serius. Tangannya yang berada di kenop pintu berhasil menarik pintu itu untuk tertutup kembali.

"Eeeh, kenapa?" tanya Daiki dan Tetsuya bersamaan. Nada keberatan 'sangat' tertera jelas dalam kalimat mereka.

Masako membungkuk hingga wajahnya setara dengan kedua anak tersebut dan ia berkata, "Karena kakak kalian itu sedang sakit. Kalau kalian masuk sekarang, nanti kalian bisa ikut sakit juga."

Masako meraih kedua tangan anak tersebut dan membimbing mereka untuk menjauh dari pintu kamar si sulung. Memberikan waktu lebih bagi si sulung untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih sedikit sakit.

Kedua anak yang sama-sama berambut biru tersebut menoleh ke belakang, ke arah pintu kamar Seijuurou dengan tatapan kecewa. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang berani menyuarakan kekecewaan mereka pada kepala pengurus rumah Akashi tersebut.


Ryouta menghela napas panjang. Tubuh anak berambut kuning itu terhampar lemas di atas sofa. Seluruh ruang yang ada pada sofa tersebut dipakai seluruhnya untuk menampung anak tersebut. Anak itu tak biasanya terlihat lesu.

"Kakak... masih belum sembuh, ya-ssu?" gumamnya lebih kepada dirinya sendiri. "Kita belum boleh bertemu dengannya-ssu..."

Shintarou yang tengah membantu Daiki mengerjakan tugas rumahnya menghela napas pelan. Ia mengerti sepenuhnya akan sikap anak berambut kuning tersebut. Walau bagaimana pun, anak itulah yang paling senang ketika diperhatikan kakak sulung mereka.

Wajar jika ketika kakak sulung mereka tumbang karena sakit, Ryouta lah yang paling uring-uringan karenanya.

"Mau bagaimana lagi? Kakak harus dapat istirahat yang cukup," Shintarou memejamkan matanya dan melanjutkan, "kalau sekarang kita masuk menemuinya, kita pasti hanya akan mengganggunya. Lagi pula ia pasti tak mau kita tertular sakitnya. Makanya dari tadi Masako-san terus-terusan mengusir kalian dari kamar Kak Seijuurou."

Secara bersamaan, ekspresi tiga adik Shintarou yang termuda berubah kelam. Seperti hari di mana matahari tak bisa menyinari bumi karena tertutup awan mendung.

"Bagaimana kalau kalian sekarang tidur saja? Besok pagi ketika kalian bangun, pasti wajah Tuan Muda Seijuurou lagi yang pertama kali kalian lihat," bujuk Masako yang malam itu terpaksa bergabung dengan majikan-majikan kecilnya melakukan ritual mereka setiap malam; berkumpul di ruang keluarga.

Tangan wanita itu sibuk menggosokkan handuk pada rambut anggota keluarga Akashi yang paling bungsu. Tepat sekali. Karena hari ini Seijuurou sakit, pekerjaan memandikan adik-adik Seijuurou –Tetsuya dan Atsushi—kembali menjadi tugas Masako.

Tetsuya mengerang pelan ketika Masako menggosokkan handuk dengan sedikit keras. Kata 'yosh' keluar dari mulut wanita itu setelah selesai mengeringkan rambut muda si bungsu yang kini jadi lebih berantakan dari biasanya.

Masako berlanjut mengeringkan rambut Atsushi yang sedikit sulit dikeringkan karena lebih panjang. Sama seperti Tetsuya, anak itu juga mengerang pelan ketika Masako menggosokkan permukaan handuk yang agak kasar dengan kulit kepalanya.

Jika boleh memilih, mereka berdua lebih suka kakaknya yang mengeringkan rambut mereka. Karena kakak mereka lebih lembut dalam melakukannya.

Shintarou, Daiki, dan Ryouta bangkit dari duduk mereka dan mulai berjalan keluar ruangan ketika tiba-tiba saja Masako berkata, "Ah ya, aku lupa. Tuan Muda Seijuurou tadi bilang, malam ini saja, Tetsuya akan menumpang tidur denganmu, Shintarou."

Masako menarik handuk yang ia gunakan tadi dari atas kepala Atsushi dan menyampirkannya di bahunya dengan gaya bak seorang preman. Mata biru tuanya yang berbeda beberapa tingkat dari Daiki ia pertemukan dengan mata hijau Shintarou yang berhenti berjalan tepat ketika Masako menyebutkan namanya.

Masako membungkukkan badannya hingga bibirnya tepat berada di samping telinga Tetsuya. Ketika napasnya yang hangat mengenai telinga si bungsu, anak itu menjauhkan telinganya sedikit dari si wanita sebelum sekali lagi mendekat.

Entah apa yang dibisikkan wanita itu, tapi apa pun itu membuat Tetsuya melompat turun dari sofa dua orang yang tadi didudukinya bersama dengan Atsushi. Langkah kaki kecilnya membawanya menuju ke samping Shintarou.

Matanya yang besar dan polos menatap Shintarou lamat-lamat. Seakan menunggu Shintarou melakukan sesuatu padanya. Shintarou sebenarnya mengerti apa yang tengah ditunggu adiknya satu itu, tapi ia ragu melakukannya.

Jemari tangan kanan Shintarou berjengit. Tangannya sempat terangkat sedikit, sebelum kembali turun. Terangkat lagi, lalu kembali turun. Terus begitu hingga akhirnya Shintarou frustrasi sendiri dan memaksakan dirinya meraih tangan mungil Tetsuya dan membungkusnya dalam tangannya sendiri.

"Ayo... Tetsuya."

Tiba-tiba saja terdengar suara sesuatu ditepuk. Shintarou dan Tetsuya kontan berbalik dan melihat kepaa pengurus rumah mereka tengah menepuk dahinya sendiri. "Aah, aku sama sekali lupa untuk memakaikan piyama langsung pada Tetsuya."

Shintarou, Atsushi, dan Tetsuya sendiri langsung melirik ke bawah. Tepatnya ke baju yang dipakai Tetsuya. Selembar kaus dan celana pendek. Baju untuk di rumah memang. Tapi tetap bukan baju yang seharusnya dipakai untuk tidur.

"Aku tak bisa mengganti bajunya sekarang. Aku juga harus mengurus Atsushi. Bisa tolong kau yang melakukannya, Shintarou?" Masako bertanya pada Shintarou dengan nada setengah memohon. Sulit rasanya bagi Shintarou menolak permintaan wanita itu.

Shintarou mungkin memang anak yang sering bersikap dingin terhadap orang lain. Tapi bukan berarti ia tak punya hati bukan?

Dengan berat hati akhirnya anak berambut hijau lumut tersebut mengiyakan permintaan Masako.

"Aku akan mengantarkan bajunya ke kamarmu," seru wanita tersebut ketika ia sudah beranjak mengantarkan Atsushi ke kamarnya sedangkan Shintarou dan Tetsuya berjalan bergandengan tangan menuju kamar Shintarou.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kenapa bisa-bisanya kakaknya melakukan ini? Bukankah sudah jelas kalau ia tidak begitu menyukai adik bungsunya? Kakaknya nekat atau apa?

Pikiran Shintarou berputar selagi tangannya mengancingkan buah bajunya satu per satu. Sesekali manik hijaunya melirik Tetsuya yang tengah duduk di pinggir ranjang Shintarou dengan kaki yang ia goyangkan ke depan dan ke belakang sembari menunggu Shintarou selesai berganti pakaian. Sebuah senandung keluar dari mulut anak tersebut.

Jelas sekali kalau anak itu sama sekali tak sadar kalau Shintarou sebenarnya tak begitu menyukainya. Yah, lagi pula Shintarou tak pernah benar-benar menunjukkannya di depan anak itu. Anak berambut hijau lumut itu hanya menunjukkannya di depan Seijuurou saja.

Setelah selesai mengancingkan bajunya satu per satu, Shintarou berbalik dan mengambil bagian atas piyama tersebut. Agak heran ia ketika ia tak menemukan bagian bawah piyama tersebut dan ketika ia melirik Tetsuya ternyata celana itu sudah terpasang dengan rapi.

Tangan Shintarou kembali bekerja membuka kancing baju tersebut satu per satu. Setelah terbuka semua, diletakkannya piyama tersebut di atas ranjang. Tetsuya melompat turun dari tempat tidur dan berdiri persis di depan Shintarou. Shintarou berlutut di depan Tetsuya dan mulai bekerja.

Dengan lihai, mungkin karena Shintarou juga sudah cukup terbiasa mengurus ketiga adiknya yang lain ketika Seijuurou berhalangan, membuka baju Tetsuya dan menariknya hingga terlepas dari kepala biru anak tersebut.

Untuk kedua kalinya dalam minggu yang sama, dua orang dibuat terkejut ketika tubuh kecil Tetsuya masuk dalam ruang penglihatan mereka. Meski sudah diberi asupan makanan yang bergizi di rumah keluarga Akashi, tetap saja tubuh kecil tersebut tak bisa langsung berubah menjadi lebih gemuk.

Tulang-tulang rusuk Tetsuya masih bisa terlihat jelas. Memar yang sebagian besar sudah menghitam masih berserakan di sekujur tubuhnya dan jika dilihat lebih teliti, beberapa titik kecil bekas luka bakar bisa dilihat di beberapa bagian tubuhnya; lebih banyak di bagian sisi belakang sebenarnya.

Mata hijau Shintarou melebar. Ia memang tak sepandai Seijuurou dalam hal menyembunyikan perasaan. Maka dari itu, perasaannya ketika melihat tubuh Tetsuya langsung tercetak jelas di wajahnya.

Bahkan karena tak memercayai penglihatannya, Shintarou sempat mengedipkan matanya beberapa kali. Namun tentu saja, luka-luka tadi tetap ada di sana. Bersikeras untuk tak menghilang.

Sebelah tangan Shintarou mencengkeram lengan atas Tetsuya erat dan dengan sedikit kasar, membalikkan tubuh Tetsuya hingga anak itu kini berbalik memunggunginya. Mata hijau yang sewarna dengan rambutnya itu sama sekali tak berubah dalam hal ukuran ketika melihat punggung Tetsuya.

Tak ubahnya tubuh bagian depan Tetsuya, punggungnya pun memiliki sejumlah hal yang sama. Bahkan lebih banyak.

Mulut Shintarou terkunci rapat. Tenggorokannya terasa seperti disumpal batu hingga sulit baginya hanya untuk sekadar menelan ludah dan dadanya terasa seperti diikat tali transparan dengan sangat erat hingga napasnya sesak.

Sebelah tangan anak itu terulur ke arah punggung Tetsuya yang dinodai sebuah memar besar, tapi menahan diri ketika ujung jarinya hampir menyentuh kulit Tetsuya. Takut membuat adik bungsunya kesakitan. Sesaat kemudian, jemarinya mengepal menjadi sebuah tinju.

Astaga, bagaimana bisa aku...

"Kakak?" Tetsuya menoleh melewati bahunya. Nada heran menggantung jelas dalam suaranya. "Ada yang salah?"

"Ah!" Shintarou cepat-cepat mengembalikan kesadarannya. Dengan lebih lembut kali ini, anak berambut hijau lumut itu membalikkan tubuh anak itu hingga kembali berhadapan dengannya. Dibantunya Tetsuya memasukkan kedua tangan mungilnya sebelum mengancingkan seluruh buah baju tersebut.

Rasa bersalah sekaligus rasa penasaran membayangi mengapung seperti kabut dalam hati Shintarou. Bagaimana Tetsuya bisa mendapat luka itu? Dari kelihatannya, adiknya tidak mendapatkannya dari kecelakaan beberapa hari lalu yang melibatkannya beserta ayah mereka.

Jika begitu ceritanya, maka...

Shintarou tak bisa lagi menepis rasa penasarannya jauh-jauh. Jadi anak berambut hijau itu memutuskan untuk menerimanya saja dan menyuarakannya.

"Tetsuya..."

"Hm?" respon Tetsuya dengan kedua alis terangkat.

Shintarou mengambil tangan Tetsuya dan menggandengnya naik ke tempat tidur. Alis Shintarou tak henti-hentinya berkerut, "Memar di badan Tetsuya itu... didapat dari mana?"

"Oh itu ya," kata Tetsuya. Kedua tangannya mengangkat piyamanya dan tanpa ada maksud apa pun, memperlihatkan sekali lagi pada Shintarou bagaimana memar-memar yang sama sekali tak pantas menghiasi kulit putih pucat adiknya tetap bersikeras berserakan di sana.

Shintarou meringis tanpa sadar begitu disuguhi pemandangan itu.

Tetsuya melepaskan ujung piyamanya dan Shintarou sangat bersyukur karena tak perlu lagi melihat luka-luka buruk tersebut. Dengan lucu, anak itu merangkak ke dalam selimut dan membuat dirinya senyaman mungkin di dalamnya.

Shintarou menyusulnya dan masuk ke dalam selimut.

"Ibu Tetsuya yang membuatnya," kata Tetsuya tiba-tiba. Mengejutkan Shintarou yang sempat mengira mereka tak akan melanjutkan pembicaraan ini.

Shintarou menoleh ke arah adik bungsunya. Sekali lagi malam itu, matanya melebar, "Bagaimana..."

"Ibu Tetsuya bilang, Tetsuya pembawa sial. Karena sejak Tetsuya lahir, tak ada hal baik yang terjadi pada Ayah dan Ibu," jelas Tetsuya dengan pandangan menerawang. Ia masih terlalu polos untuk menyadari kalau ia baru saja menohok hati kakaknya.

"Memangnya... hal buruk macam apa yang terjadi pada orangtua Tetsuya?" Shintarou bertanya dan anak itu sadar betul kalau suaranya terdengar seperti orang tersedak makanan.

Tetsuya mengetukkan jemarinya di dagu. Mengingat-ingat sejenak, mungkin, "Ayah pergi dan tidak pernah kembali saat Tetsuya masih dua tahun. Orang-orang bilang Ayah pergi mengunjungi Tuhan. Sejak itu Ibu berubah. Ibu jadi sering marah-marah. Katanya hidup jadi terasa sulit sejak ada Tetsuya. Karena itu Tetsuya pembawa sial. Dia juga bilang harusnya Tetsuya ikut Ayah saja mengunjungi Tuhan dan tak usah kembali pada Ibu."

Hati Shintarou kembali tertohok. Hatinya yang tadinya tak menyukai Tetsuya, kini memertanyakan kembali perasaannya. Masih bisakah ia membenci anak ini sekarang? Setelah ia mengatakan semua ini padanya?

"Lalu... apa yang terjadi pada ibu Tetsuya?" Suara Shintarou semakin tercekat di tenggorokan. Dan juga lirih.

"Ibu pergi malam-malam dan tidak pernah kembali. Tahu-tahu waktu Tetsuya bangun pagi-pagi Ibu sudah tidak di rumah. Ibu pergi tanpa bilang apa-apa," kata Tetsuya. Ia terlihat seakan-akan ia tengah menceritakan sebuah cerita pengantar tidur pada Shintarou. Seolah semua yang diceritakannya hanya sebuah cerita, yang tak pernah terjadi di dunia nyata.

Atau seperti sebuah mimpi buruk. Yang akan segera menguap begitu kau terbangun dari tidur.

"Tapi Tetsuya sendirian cuma sehari saja! Besoknya Ayah Kak Seijuurou datang dan berkata ia akan mengurus Tetsuya. Besoknya, besoknya, dan besoknya juga ia datang terus ke rumah. Memastikan keadaan Tetsuya katanya. Lalu, lalu, beberapa hari lalu ia bilang ia akan membawa Tetsuya ke rumahnya dan Tetsuya akan jadi anaknya—"

Sebuah kuapan menyusul sebelum Tetsuya sempat menyelesaikan ceritanya. Lagi pula, meski pun Tetsuya tak sempat menyelesaikan ceritanya, Shintarou sudah tahu bagaimana kisah itu akan berakhir.

Tetsuya menggosok sebelah matanya. Shintarou menghela napas, untuk sesaat tadi sesaknya terasa sedikit berkurang meski memang masih ada.

Ditepuk-tepuknya selimut yang menutupi badan Tetsuya. Persis seperti yang selama ini selalu dilakukannya pada Daiki dan Ryouta atau bahkan Atsushi jika tengah menidurkan mereka. "Tidurlah."

Tetsuya menggumam sebagai jawaban dan menutup kedua matanya. Tak perlu menunggu lama, Shintarou sudah bisa memastikan kalau si bungsu telah tertidur lelap. Terbukti dari ekspresi wajahnya yang terlihat amat sangat tenang.

Shintarou memerhatikan wajah anak itu. Selama ini Shintarou selalu menduga kalau dari kelima anak angkat keluarga Akashi, Tetsuya lah yang memiliki masa lalu yang paling normal. Yah, Shintarou mengira paling-paling anak itu hanya ditinggal mati orangtuanya tanpa harus benar-benar melihat jasad orangtuanya atau bagaimana mereka bisa meninggal. Tapi siapa yang sangka kalau ternyata meski berbeda, Tetsuya juga menyimpan ceritanya sendiri?

Malam itu, untuk yang kedua kalinya, Akashi Shintarou –yang dulunya bernama Midorima Shintarou—mempertanyakan keputusannya dalam membenci adiknya, Akashi Tetsuya. Bisakah ia tetap membenci adiknya?

Tidak, lebih tepat jika dikatakan begini, masih benarkah baginya untuk membenci Tetsuya?


OMG 11 REVIEW? WHAT SHOULD I SAY? MY TONGUE TIED. ONE THING FOR SURE I LOVE YOU GUYS. A LOT. CHAPTER PANJANG INI KUDEDIKASIKAN UNTUK PEMBACAKU YANG BEGITU... LOVELY! XDDD

Saatnya bales revie~w

Eqa Skylight: haha di sini udah mulai keliatan, di chapter depan baru bakal bener-bener terbuka(?) tabirnya /korbaniklanG*rcia/ Bakao bakal muncul nanti, tenang aja X3 siip! thanks ya udah review! X3

Letty-Chan19: haha, aku memang mau menusuk kokoro-mu /ditabokletty/ di chapter depan penuh sama AkaMido kok, tenang aja, bukaaan, bukan AkaKuro kok haha, kan udah kubilang, adeknya Akashi gak akan suka dengan cara seperti 'itu' sama Akashi di sini. Posesif ya, tapi suka nggak. ini dia updatenya! Thanks reviewnya ya! X3

elfarizy: thanks! ini dia update-nya! thanks for review x3

UchiHarunoKid: wahaha aku juga kadang kayak gitu, kalo kepanasan banget tapi /ketauandeh/ silakaaan, paling nanti dikeroyok adek-adeknya Akashi wkwkwkwk X3 diusahain deh yaa tapi gak janji, soalnya aku mau mudik, jadi bingung gimana mau update pas mudik itu hehe, astaga Uchi bikin aku senyum-senyum sendiri baca reviewnya hehe thanks reviewnya ya! X3

yuukihanami.5: sumpah demi apa, kemaren aku udah tulis nama yuuki-san di bagian special thanks, tapi ffn nyolot dan gak nongol deh namanya yuuki-san, maaf ya QAQ makasih, kalian bener-bener penyemangatku! Thanks reviewnya X3

Just-Sky: Terima kasih banyak Just-Sky-san! Aku juga pengen punya adek kayak Tetsu /digamparkakak-kakaknyaTetsu/ aww, aku tersanjung deh jadinya, malu sendiri hehehe thanks ya reviewnya dan ini dia chapter barunya X3

Aka Shagatta: haha gak apa koook, aku maklum, di sini baru kebongkar masa lalu tetsu, chapter depan baru fully masa lalu midorin hehe, chapter ini nyaris 9k loh, semoga cukup panjang ya hehe scene akakuro akan bertebaran tenang saja huaahaha thanks for review! X3

Megumi: gak apa kok, aku ngerti :D di sini terungkap sebenernya si Shirogane mau ngapain hehe satu chap lagi dan masalah midorin selesaaaiii, sei-chan ngucapin makasih tuh hehe yes, rencananya fic ini bakal sampe si Sei umur 28, berarti tetsu umurnya 17, dan yang lainnya yaaa udah pada gede hehe, tapi banyak time skipnyaaa ini dia lanjutannya, semoga suka dan thanks for review! X3

shota nogami: arigatou~ ini obat diabetesnya /lemparkeshota-san/ ini update-nya! Hint akakuro masih bertebaran hehe thanks for review! XD

yaoiHunhan: arigatooooou~~ aku tersanjung banget omg, aku mulai demam saking senengnya! Akashinya aku coba sesuaiin sama waktu dia sebelum dapet emperor eye, soalnya waktu itu dia lembut sangad /fangirlingan/ AoKi emang selalu rusuh, yang paling berisik sekeluarga wkwkwwk ini gak lama kan? hehe thanks ya udah review XD

Hana Kijimuta: Makasih banget! Aku bener-bener tersanjung! Thanks reviewnya ya! XD

special thanks to: UchiHarunoKid, Letty-Chan19, .5, elfarizy, Just-Sky, Aka Shagatta, Megumi, shota nogami, yaoiHunhan, Eqa Skylight, denOden, Ayuni Yukinojo, Shiraume-Machida, yuukihanami5, Hana Kijimuta, aadivaazzahra, putrikeisukechan.

Oke, mari kita buka-bukaan aja sekarang(?) aku sebenernya gak suka yaoi, meski gak bisa memungkiri kalo TakaMido itu epic, dan AoKi itu ngenes, yes, aku bukan fujo, jadi kalo pun ada pair yaoi di sini ya paling dengan genderbend pasangan mereka. Maaf buat yang kecewa yaaa, tapi aku pengen mereka ngejalanin hidup normal senormal-normalnya.

Satu lagi, demi apa ffn ngajak ribut, di chap kemaren sebenernya ada 3 nama lagi di special thanks yaitu aadivaazzahra, ShiraumeMachida, sama yuukihanami.5 tapi ffn nyolot dan gak ke-save di bagian itu. what the banget kan? Sori di sini namanya kutulis gak pake titik, supaya gak ilang lagi soalnya Dx

AND JUST WHAT DID YOU GUYS DO TO MEH? AKU GAK BISA BERENTI NGETIK FF INI DAN GAK BISA GAK UPDATE LEBIH DARI 3 HARI?! KALIAN TELAH MERACUNI AKU, PLEASE TAKE RESPONSIBILITY.

Well, review?