Laundry

Mingyu x Wonwoo

.

Dear Kim Mingyu…
Saat kau membaca surat ini aku sudah pulang karena sudah malam.
Aku besok tidak janji bisa bangun pagi
Aku tidak janji bisa mengantarmu ke bandara
Tapi yang terpenting, semoga kau selamat sampai tujuan, oke?
Sudah ya, aku tidak terbiasa menulis, tulisanku jelek
Tolong jangan beri nilai pada kertas ini, oke?

Dan satu lagi
Aku menaruh surat rahasia yang boleh kau baca saat sudah di indonesia
Aku menaruhnya di kopermu
Cari tahu sendiri di mananya, oke?
INGAT! HANYA BOLEH DIBACA SAAT SUDAH DI INDONESIA!
Selamat Malam.

Dari tetanggamu, Jeon Wonwoo

Wonwoo melipat kertas itu menjadi 2 bagian dan ditempelnya di kulkas dengan magnet ikan sebagai penahannya. Dan tak lupa, Wonwoo memberi tulisan 'OPEN ME' di bagian lipatan surat itu.

"Dan surat satunya aku sudah taruh di kopernya, kkk~" Wonwoo terkekeh kecil sambil berjalan keluar dari rumah besar itu, meninggalkan pemiliknya yang sudah tertidur sangat pulas. Tapi Wonwoo menyadari sesuatu, kalau ia sudah pulang, otomatis pagar rumah dan pintu rumah Mingyu tidak terkunci. Alhasil Wonwoo masuk lagi ke rumah besar itu dan membangunkan Mingyu.

"Maafkan aku" batin Wonwoo.

"Mingyu-ya" Wonwoo menyentuh lengan kekar pemuda Kim itu.

Masih tidak bangun.

"Mingyuu~" terlihat pemuda Kim itu menggeliat sedikit dan perlahan membuka matanya.

"Hmm…" Mingyu masih berusaha mengumpulkan nyawanya untuk bangun, sedangkan Wonwoo sudah tidak enak hati membangunkan Mingyu disaat seperti ini.

"Emm, anu.. Emm, aku mau pulang"

"Pulanglah" suaranya terdengar serak.

"Kalau aku keluar rumahnya tidak ada yang mengunci, bagaimana jika ada maling atau psikopat?" Mingyu tertawa kecil mendengar penuturan polos yang lebih tua itu.

"Bilang saja minta ku antar sampai depan" Mingyu menyibak selimutnya dan beranjak dari kasur nyamannya.

"Tidak seperti itu" Wonwoo mengangkat tangannya dan membuat tanda silang di depan dada bidangnya.

"Iya aku tahu, hyung" Mingyu mengacak-acak gemas surai coklat itu.

"Aku pulang dulu, oke?"

"Oke" Mingyu tersenyum dan mengikuti Wonwoo dari belakang.

"Jangan lupa kunci pintu dan tutup jendela mu" nasihat terakhir Wonwoo sebelum kembali ke rumahnya.

"Siap Kapten" Mingyu menaikan tangannya di atas alisnya seperti bawahan yang sedang hormat kepada atasan.

"Kau terlalu berlebihan, bye~" Wonwoo melambaikan tangan lucu dengan senyum manis yang terukir indah di bibirnya.

Malam itu Mingyu sadar kalau senyum itu selalu menggetarkan hatinya. Malam itu juga Mingyu berani bersumpah ia akan segera merindukan Wonwoo dengan tingkah konyolnya. Dan, Malam itu juga, Mingyu bingung dengan perasaan yang ada di hatinya. Baru 3 hari berkenalan sudah membuat efek berbunga-bunga yang membuatnya susah tidur.

"aku akan susah tidur karena senyum bunny"

.

Sang mentari mulai menampakkan wujudnya, itu artinya, Pagi telah tiba, dan artinya lagi, Mingyu sudah harus bersiap-siap untuk terbang ke Indonesia melakukan penelitian.

Di kediaman keluarga Jeon, masih terlihat sepi, hanya Nyonya Jeon saja yang terlihat mondar-mandir mengurusi pakaian orang-orang itu.

Di rumah Mingyu, pemuda itu telah berpakaian rapi. Mingyu sedang menunggu ayahnya untuk menjemputnya. Tuan Kim ingin sekali mengantar anak semata wayangnya itu.

Mingyu berjalan menuju dapur dan menemukan sepucuk surat yang digantung diantara magnet ikan.

"OPEN ME" Mingyu terkekh melihat tulisan itu. Siapa lagi kalau bukan Jeon Wonwoo.

Mingyu meraih surat itu dan di bawanya ke ruang tengah. Di bukanya surat itu, dan apa yang terjadi? Mingyu tertawa sampai perutnya sakit.

"Kuno sekali Wonwoo hyung" gumamnya sembari membaca lagi surat itu.

"Baiklah, surat satunya akan ku baca saat di Indonesia" Mingyu tersenyum sambil memasukan surat itu di saku celananya.

TIIIIINNNNN…..

Oh! Tampaknya Tuan Kim telah tiba. Mingyu dengan cepat mengambil kopernya dan mengunci rumah besar itu. Dan benar kata Wonwoo, si bunny itu tidak bisa bangun di pagi hari dan mengantarkannya ke bandara. Jangankan bandara, berdiri di depan rumahnya untuk mengucapkan sampai jumpa saja tidak.

"Aku pergi dulu"

"Kau sudah siap?" Tanya Tuan Kim.

"Ya"

Mingyu masuk di mobil hitam itu dan melihat ke arah atas rumah tetangganya itu, berharap si Bunny muncul dengan piyama polkadot pink dan muka lusuh khas bangun tidur.

Namun, semua itu hanya anggan Mingyu. Wonwoo tetap di kamarnya tertidur pulas.

"Sampai bertemu 2 minggu lagi, Jeon Bunny"

.

"Wonwoo" panggil Nyonya Jeon dari balik pintu putih itu.

"Wonwoo sayang~"

Tetap tidak ada balasan. Akhirnya Nyonya Jeon terpaksa masuk untuk membangunkan anak sulungnya itu.

"Wonwoo-ya, bangun. Ini sudah pagi" Nyonya Jeon menyibakkan selimut yang digunakan anaknya untuk menutupi seluruh tubuh kurusnya itu.

"Iya sudah bangun" Wonwoo terduduk di kasurnya dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya yang lusuh.

"Kenapa wajahmu?"

"Tidak apa" masih menutupi wajahnya.

"Coba Ibu lihat"

"Ini~" sambil membuka tangan yang ada di wajahnya.

"Kau bergadang lagi? Lihatlah kantung matamu!" Wonwoo hanya merigis saat Ibunya memukul kecil lengannya.

"Ibu"

"Apa?" Nyonya Jeon sibuk merapikan kamar anaknya itu.

"Mingyu pergi ke Indonesia selama 2 minggu"

"Lalu?"

"Aku merindukannya nanti"

"Tidak apa, hanya bilang saja"

"Oh"

"Yak! Ibu menjengkelkan sekali" Wonwoo meraih lagi selimutnya dan berbaring menutupi seluruh tubuhnya.

"Cepat mandi Jeon!"

"Tidak mau!"

"Kau harus bekerja"

"Pekerjaanku libur. Bos kemarin bilang bahwa libur sampai waktu yang ditentukan"

"Kalau begitu cepat mandi anak nakal!" Nyonya Jeon yang membawa sapu langsung memukulkan ke arah Wonwoo.

"Ampun Ibu. Iya aku mandi" Wonwoo langsung berlari menuju ke arah kamar mandi dan membanting pintu cukup keras.

"Dasar anak nakal" ucap Nyonya Jeon sambil tertawa kecil.

.

Kegiatan pagi ini, Wonwoo hanya berdiam diri di rumah. Tanpa melakukan apapun.

"Mingyu sudah sampai di Indonesia?"

"Mingyu sudah membaca suratku?"

"Apa dia tidak menemukan suratku?"

"Apa aku menyembunyikannya terlalu susah?"

"Bagaimana ini~" Di ruang tengah Wonwoo seperti orang gila. Setiap satu kalimat yang ia pikirkan, Wonwoo akan bertingkah aneh. Seperti saat ini. Wonwoo berguling di lantai sambil menggigiti batal sofa.

"ASTAGA" Bohyuk terkejut saat melihat kakaknya seperti Kucing yang marah.

"Apa kau!"

"Ti-tidak. Lanjutkan saja" Bohyuk berlalu sambil bergidik ngeri. Mata Wonwoo tidak seperti biasanya. Matanya jadi sangat tajam dan menakutkan.

"Dasar anak muda!" gumam Wonwoo lalu kembali berdiri dan duduk di sofa lagi.

"Kenapa belum menghubungiku? Padahal sudah kutulis lengkap" sambil memandangi ponsel dengan 0 notification.

Tiba-tiba, Nyonya Jeon datang dengan secangkir susu coklat dan kentang goreng untuk Wonwoo.

"Kau kurus sekali. Makanlah. Kalau mau lagi, Ibu buatkan"

"Terima kasih" Wonwoo meletakan nampan itu di meja dan tiba-tiba Ponselnya berdering. Dengan cepat Wonwoo mengngkat panggilan suara itu. Berharap Mingyu yang menelfonnya.

"MINGYU? KAU SUDAH SAMPAI? BAHKAN DISINI MASIH JAM SETENGAH SEMBILAN? KAU NAIK PESAWAT TEMPUR YA?" teriak Wonwoo heboh saat mengangkat telefon itu.

"…"

"A-ah, maaf. Ku kira Mingyu" Wonwoo membaringkan tubuhnya malas di sofa.

"…"

"Baiklah akan ku sampaikan ke Ibu" Wonwoo langsung menutup telfonnya dan berdecak sebal. Dengan kaki panjangnya, Wonwoo sudah berjalan menuju ruang Laundry.

"Ibu"

"Ada apa?"

"Ada yang menelfonku, katanya pakaiannya minta diantar"

"Siapa?"

"Choi Hana namanya"

"Kau yang akan mengantar"

"Yah Ibuuuu~" Wonwoo mendesah memohon agar tidak dirinya yang mengantar pakaian itu.

"Siapa lagi Won? Adikmu sedang kuliah. Ayahmu? Kau tega?" Wonwoo menggeleng.

"Baiklah" Nyonya Jeon kemudian menyerahkan sekantung plastic besar yang berisikan pakaian bersih, dan yang akan diantar Wonwoo.

"Alamatnya sudah ibu tulis disitu. Kau bawa mobil Ayah" Wonwoo mengangguk lemah dan membawa sekantung plastik itu keluar dari ruangan wangi blossom peach itu.

Wonwoo mengambil kunci mobil di kamar Ayahnya dan langsung mengantar pakaian itu di alamat yang dituju. Untuk menuju alamat itu, membutuhkan waktu 15 menit. Di dalam perjalan, Wonwoo memutar lagu kesukaannya, dan sambil bersenandung kecil.

"I like it. I'm twenty five
Nal johahaneun geo ara
I got this. I'm truly fine
Ije jogeum al geot gata nal"

"Kalau begini, aku sudah sangat cocok menjadi penyanyi" gumamnya senang setelah menyanyikan bagian reff dari lagu yang Wonwoo suka itu.

.

"Permisi, Jeon Laundry" ucapnya dengan suara berat yang khas itu. Tidak lama kemudian, muncul lah seorang pria yang tidak asing bagi Wonwoo.

"Choi Seungcheol?"

"Kau?"

"Kau ternyata sudah menikah dengan wanita lebih tua ya?"

"JAGA BICARAMU! Aku belum menikah"

"Lalu Choi Hana yang suaranya seperti Ibuku itu siapa?"

"Dia Ibu ku bodoh"

"Oh" Wonwoo mengangguk mengerti.

"Ini" Wonwoo menyerahkan kantung plastik besar itu.

"Totalnya, 15.000 won" setelah Seungcheol memberi uang Laundry, tiba-tiba wanita paruh baya yang Wonwoo kira istri Seungcheol itu keluar dari pagar berwarna hitam itu.

"Tak biasanya kau yang mengantar, biasanya Ibu mu"

"Ibu sedang sibuk, sebagai anak yang baik, aku membantu Ibu" Wonwoo tersenyum 5 jari.

"Aih, lucunya…" Nyonya Choi mencubit gemas pipi jelly Wonwoo.

"Masuklah dulu"

"Boleh kah?"

"Boleh"

"Asik~" Wonwoo langsung masuk dan sedikit menabrak bahu Seungcheol.

"Kenapa sial sekali!" Seungcheol mengumpat sambil meremas plastik besar yang ada di tangannya itu, dan segera menyusul Ibu dan pengantar Laundry?

Di dalam rumah, Seungcheol duduk di sofa dengan laptop di depannya dan beberapa berkas di samping laptopnya. Lalu Wonwoo duduk di sofa sambil melihat-lihat sekeliling rumah itu.

"Kau kenal dengan Seungcheol?" Nyonya Choi datang dengan membawa sepiring kue dan orange juice.

"Kita teman"

"Teman?" Seungcheol menghentikan kegiatan menatap laptopnya itu.

"Ibu percayalah, aku tidak kenal dengan dia" sambil menunjuk ke arah Wonwoo kesal.

"Hyung bisa saja" Wonwoo mendorong kecil bahu pria Choi itu.

"Seungcheol tidak boleh begitu!" Seungcheol pun diam dan beralih menatap laptopnya lagi dengan kesal.

"Maafkan Seungcheol ya…"

"Wonwoo. Jeon Wonwoo"

"Nah, maafkan Seungcheol ya, Wonwoo" Wonwoo mengangguk dan mengambil orange juice nya.

"Kau suka musik?" Tanya Nyonya Choi.

"Aku suka. Apalagi lagu-lagu IU" wanita paruh baya itu terlonjak gembira, sampai-sampai Wonwoo dan Seungcheol ikut terkejut.

"BENARKAH? BIBI JUGA SUKA DENGAN LAGU-LAGU IU"

"Wah!" Wonwoo juga ikut bersorak.

"Palette?"

"IYA AKU SUKAAAAA~" itu suara Wonwoo.

"Bagaimana kalau kita berduet?"

"Call~"

Dan akhirnya Nyonya Choi dan Wonwoo berkaraoke ria di depan Seungcheol yang sedang mengerjakan tugasnya. Seungcheol terlihat pusing dengan apa yang ada di depannya. Ibunya yang memang cepat akrab dengan siapa saja, dan pemuda aneh bermarga Jeon yang memiliki sifat aneh dan unik, dijadikan satu. Itu membuat pusing.

Seungcheol masih setia disitu, saat ini Seungcheol sudah tidak fokus lagi dengan tugas yang ada. Seungcheol fokus kepada 2 orang yang sedang heboh berkaraoke. Lebih tepatnya, Seungcheol fokus kepada pemuda yang menurutnya aneh itu.

Seungcheol terlihat tertawa kecil saat melihat Wonwoo melucu di depan Ibunya, dan mencoba menirukan suara kecil IU dengan suara beratnya.

"Kapan-kapan kau harus main-main kesini!" Wonwoo mengangguk dan menoleh ke arah Seungcheol.

"Aku tidak apa ya main kesini"

"Tidak boleh!"

"Bibii~" Wonwoo mengerucutkan bibirnya lucu.

"Sial! Kenapa ada laki-laki penuh aegyo!"

"Jangan dengarkan Seungcheol" Wonwoo dengan cepat menoleh ke arah Seungcheol lalu menjulurkan lidahnya.

"Kalau begitu aku pulang dulu bibi, Ibu pasti mencari"

"Baiklah.."

"Seungcheol, antar Wonwoo ke depan"

"Ya" dengan malas Seungcheol berdiri dan langsung berjalan malas menuju depan.

"Aku permisi" Wonwoo membungkuk sopan dan langsung menyusul Seungcheol.

"Hey tunggu" Wonwoo berlari kecil dan menyamai langkah Seungcheol.

"Aku tidak menyangka bisa bertemu hyung lagi"

"Aku tidak peduli" jawab Seungcheol cuek.

"Baiklah" Sesampainya di depan, Wonwoo langsung berpamitan sopan.

"Aku permisi, jangan rindu ya" Seungcheol langsung mendelik kesal.

"Bye~" Wonwoo memasuki mobilnya dan melajukan mobil itu, sedangkan pria Choi itu masih berdiri di depan sambil menatap kepergian mobil itu.

"Tidak boleh! Tidak boleh! Tidak boleh!" batin Seungcheol sambil menggelengkan kepalanya.

.

Sesampainya di rumah, Wonwoo langsung menuju ruang tengah. Ternyata disana sudah ada Ibunya dengan berbagai macam makeup di meja.

"Apa itu Ibu?"

"Skincare"

"Oh"

"Pakailah yang ini" Nyonya Jeon memberi 1 kotak kardus lumayan besar.

"Aku kan laki-laki Ibu!"

"Lihatlah wajahmu, kantung matamu! Ini bisa membuat kulit halus. Ibu lihat kulit wajahmu sedikit kasar"

"Tapi aku tidak tahu cara memakainya Ibu" Nyonya Jeon kemudian menarik putranya dan membuka kotak itu.

"Akan Ibu contohkan, kau harus memakainya saat pagi dan malam"

"Seperti perempuan saja"

"Diam Jeon"

Nyonya Jeon mengaplikasikan skincare itu dan mengoceh panjang lebar sekali, sampai-sampai Wonwoo bosan dengan bahasan skincare.

"Ibu, aku ingin tidur~"

"Baiklah, istirahat yang cukup" Nyonya Jeon mengacak surai coklat putranya.

"Selamat siang Ibu" Wonwoo naik ke menuju kamarnya. Sebenarnya Wonwoo tidak ingin tidur. Tiba-tiba terlintas Mingyu di pikirannya, yang membuatnya kelabu lagi karena belum ada kabar dari si Kim itu.

Wonwoo membawa laptopnya di sofa orange. Niatnya adalah Stalking Mingyu. Sebenarnya bisa saja Wonwoo mengirimka pesan melalui direct message, namun itu terkesan seperti penguntit, karena Mingyu dan dirinya belum pernah bertukar akun sns. Wonwoo masih punya harga diri tentunya.

"Tidak ada update dan tidak aktif" Wonwoo cemberut.

"Kenapa aku memikirkan Mingyu sih" gumamnya.

Wonwoo meletakan laptopnya di meja dan ia mulai berbaring di sofa orange kesayangannya itu. Berbaring sambil memejamkan matanya. Berbaring sambil memikirkan banyak hal.

"Aku harap Mingyu membuka suratnya segera. Aku mohon"

.

Mingyu telah sampai di Indonesia, tepatnya di Solo. Karena Mingyu akan melakukan penelitian manusia purba. Banyak sekali penemuan yang harus diselidiki lebih lanjut. Apalagi Universitas tempat Mingyu menuntut ilmu itu aktif dalam kegiatan seperti ini.

Karena di Sangiran tidak terdapat hotel mewah, para tim menginap di rumah penginapan di sekitar Situs Sangiran sendiri. Kegiatan Mingyu disini akan lebih banyak di outdoor. Mingyu akan di fokus kan di pusat Sangiran 17. Dimana, disitu masih tersimpan jejak-jejak manusia purba yang ternyata masih banyak sekali jejak-jejaknya, dan daerah tersebut jarang tersentuh oleh ahli. Kalau ada, kemungkinan hanya para expert.

Mingyu merupakan mahasiswa yang pintar. Meski bukan minatnya, Mingyu bisa dengan cepat berbaur dan mempelajari dengan cepat materi yang bahkan belum diajarkan oleh dosen. Maka dari itu Mingyu lah yang di kirim.

Mingyu juga mendapat banyak ilmu dari Indonesia di penelitian pertamanya, ia bisa merasakan tanah yang berumur 1000 tahun, bahkan Mingyu juga belajar langsung di Situs yang memang terkenal di kalangan arkeolog.

"Mingyu, istirahatlah dulu. Besok kita akan memulai penelitian"

"Baik"

.

Ini sudah 12 hari setelah kepergian Mingyu ke Indonesia. Dan hampir selama itu juga Wonwoo menunggu kabar dari Mingyu yang tak kunjung ia dapat. Bahkan Wonwoo sudah memberanikan menurunkan harga dirinya untuk mengirim pesan ke akun sns Mingyu. Namun nihil. Tidak ada balasan sama sekali.

Selama 12 hari itu Wonwoo hanya membantu Ibunya, dan di hari ke-6 Wonwoo mengantarkan Hoshi ke bandara untuk terbang lagi ke Jepang. Wonwoo benar-benar merasa gelisah. Entah kenapa. Padahal Wonwoo sadar kalau dirinya dan Mingyu tidak memiliki hubungan special apa-apa.

"Kalau aku seperti ini, artinya aku sudah menyukai Mingyu sejak malam itu" gumamnya.

"Tapi kata ramalan, cinta pertama tidak akan berhasil"

"Tapi Mingyu kan bukan cinta pertamaku"

"Siapa ya cinta pertamaku?"

"Ah! Younghee. Tapi dia sekarang sudah mau menikah"

"Jadi aku dengan Mingyu akan berhasil, begitu ya?"

Itulah secuil kegiatan Wonwoo di sela rindunya.

"Kalau rindu itu berat. Apa Seungcheol juga rindu aku ya? Pasti tidak enak"

Ngomong-ngomong, di hari ke-10 Seungcehol tiba-tiba menelfon Wonwoo dan menanyakan kabarnya.

"Hai"

"Ini siapa? Penguntit ya? Kenapa tahu nomerku? Kau mau menculik?! Apa kau iseng mau berkenalan?! Maaf aku tidak ada wakt-"

"Aku Seungcheol"

"Ah~"

"Jangan mendesah!"

"Tidak!"

"Bagimana kabarmu?"

"Aku baik-baik saja, masih sehat. Masih makan 3 kali sehari. Masih minum air. Masih bernafas. Kau sendiri?"

"Apa kau masih aneh?"

"Aku tidak aneh!"

"Hahahahaaa"

"Kau jangan tertawa ya!"

"Kau lucu sekali, aku suka menggoda anak bodoh sepertimu"

"Aku tidak bodoh!"

"Terserah kau anak bodoh~"

"Aku matikan saja, aku kesal!"

"JANGAN"

"Ada apa memangnya? Kau merindukanku?"

"Tidak"

"Ya sudah, aku matikan By-"

"Iya aku merindukanmu"

"Kenapa kau merindukanku?"

"Karena kau bodoh HAHAHAHAHA"

"Ish!"

Kurang lebih seperti itu isi percakapan mereka.

"Kenapa memikirkan Seungcheol. Fokus Mingyu!"

"Kenapa masih tidak ada kabar" Wonwoo menghela nafasnya kesal.

"Apa aku menyembunyikan terlalu rahasia?"

"Padahal aku menaruh di tempat celana dalam. Harusnya tahu, apa Mingyu tidak ganti celana dalam?" Wonwoo menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.

"Tidak. Tidak. Harus berfikir positif Jeon Wonwoo"

"Hahhhh~ Aku merindukan Mingyu"

.

Sudah 12 hari Mingyu melakukan penelitian tanpa henti. Setiap sehari setelah penelitian, masing-masing di haruskan membuat laporan dengan minimal 30 halaman. Tapi untungnya Mingyu tidak ditugaskan untuk penelitian lebih lanjut karena ijin Appa nya.

Dan di hari ke-12 ini Mingyu sudah bebas kegiatan. Karena 2 hari lagi akan kembali ke Korea. Jadi Mingyu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di Solo dan Jogja sebelum kembali ke Korea. Hari ini Mingyu pergi mengunjungi Candi Prambanan. Wisatanya masih berhubungan dengan Arkeologi tentunya. Mingyu juga sempat melihat Sendratari Ramayana yang menurutnya sangat keren. Tak lupa Mingyu menyempatkan diri untuk berfoto di bangunan Candi yang cantik itu.

Di hari ke-13, Mingyu mengunjungi Candi Borobudur. Sudah kedua kalinya Mingyu datang di Candi ini dan tetap saja Mingyu terkagum-kagum dengan bangunan cantik ini. Di sore harinya, Mingyu menuju puncak Puthuk Setumbu. Mingyu tertarik saat rekan-rekannya menyarakan untuk menikmati Sunset di puncak itu.

Akhirnya pukul 4 Mingyu sudah di sana. Suasana di Punthuk Setumbu cukup sepi, Mingyu mengambil daerah yang lebih sepi karena ingin menikmati sore dengan tenang. Setelah mendapat spot yang bagus, Mingyu mengeluarkan surat yang ada di saku celananya.

"Maaf baru membukanya sekarang"

Hai Kim Mingyu,
Kau membacanya kan?
Pastikan kau membacanya dengan nada yang sekecil mungkin, karena aku malu tulisanku di dengar oleh orang lain selain kau.
Bagaimana Indonesia? Apa seindah Seoul? Kalau sangat indah, kau harus mengajakku kesana lain waktu, oke?

Mingyu, kau tahu?
Tidak tahu yaaaaa~
Akan ku kasih tahu
Kau tampan
Kulitmu seperti coklat nuttela
Tapi aku lebih menyukai silver queen
Terlebih, aku lebih menyukaimu
Hehehee
Aku bercanda, eh apa tidak ya? Tidak tahu:p
Aku belum bertanya lagi dengan Jeon Wonwoo yang ada di hatiku
Aku harus menanyakan "Hei Jeon Wonwoo, apa kau menyukai Mingyu?"
Tapi sepertinya dia belum bisa menjawab

Sudah ah seriusnya
Oh iya, kau harus membelikanku oleh-oleh yang banyak ya
Kau kan 2 minggu disana
Jadi aku mau oleh-oleh
Eh, tapi tidak jadi
Aku merepotkanmu nanti
Soalnya aku tidak akan menjemputmu di bandara hehehe

Mingyu
Saat kau membaca ini apa kau merindukanku?
Sepertinya tidak
Atau mungkin iya?
Aku tidak tahu pastinya
Tapi apa kau tahu kalau rindu itu berat?
Aku tidak ingin kau merindukanku
Biar aku saja
Aku sedang menganggur disini
Sedangkan kau disana banyak tugas
Merindukanku akan membuat tugasmu semakin banyak

Pulanglah dengan sehat, Mingyu
Nanti akan aku buatkan Kimchi kalau sudah di Korea
Tapi Ibuku ikut membantu tidak apa ya?
Aku tidak jago memasak
Tapi aku sudah ada niatan untuk membuatkan Kimchi untukmu

Cepat pulang ya!
Aku mencantumkan akun sns dan nomor ponselku
Aku langsung to the point saja
Hubungi aku setelah kau sampai di Indonesia, oke?

Sudah dulu ya
Semangat Kim Mingyu~
Jangan lupa hubungi aku!

Dari, Jeon Wonwoo yang Tampan.

Mingyu tersenyum sendiri membaca surat yang menurutnya sangat lucu dan berkesan di hatinya. Bagaimana bisa ada orang seperti Jeon Wonwoo yang datang di kehidupan Mingyu

"Ini surat pernyataan cinta yang terselubung" Mingyu tertawa dan sedih kemudian.

Benar. Kim Mingyu merindukan Bunny nya yang lucu itu. Setiap tingkah konyolnya, senyumnya dan semua tentang Wonwoo. Mingyu merindukannya. Saat setelah membaca surat ini, Mingyu merasakan sore bersama kenangan yang manis. Di saat itu, Matahari perlahan turun dan terlihat sangat cantik dari tempat Mingyu melihat. Sama cantiknya dengan Wonwoo, sama cantiknya dengan kenangan itu.

"Sekarang aku tahu…"

Mingyu mengeluarkan ponsel pintarnya dan dengan cepat mengambil gambar dari matahari terbenam itu. Mingyu menata surat Wonwoo diatas batu dan memotretnya dengan background Sunset.

Kelak akan ada sore yang begitu sepi, dan satu persatu kenangan akan mulai kau ingat kembali. Maka ketika kenangan itu menyentuhku, kau akan tersenyum dan mengerti karena apa kau tersenyum

Mingyu tersenyum senang dan tak sabar untuk segera pulang ke korea dan menemui Bunny nya.

TBC

Tarraaaa~
Akhirnya up jugaaa, maaf banget kalo aneh chapter ini.
Makasih banyak untuk yang uda follow,fav dan review~!
Sepertinya aku bakal up seminggu sekali, semoga bisa yaa, dan jangan lupa untuk review yaaaa~
Salam Bunny

Thanks To

MinJimin . Zizi'd . Rizki920 . HoshKwon .Sevenextrateen . Park RinHyun-Uchiha . Mockaa2294 . ilyjww . pearlgyuu . Dodio347 . mutianafsulm . naintin2 . Kim Jaemin . ChwangKyuh EvilBerry . awmeanie . wonuguaegi . minminyeol . Byeongari . Chrysanthemum Napellus .