Baekhyun adalah lelaki yang payah.

Ya, sangat payah dalam meminum minuman dengan kadar alkohol –entah itu rendah atau tinggi- dan dia nekat melakukannya. Hanya tak ingin membuat kedua sahabatnya –Kai dan Sehun- kecewa karena telah rela meluangkan sedikit waktunya untuk mengadakan pesta penyambutan kecil pada Baekhyun di waktu sibuk keduanya, setidaknya itu asumsi yang membawa Baekhyun menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh mereka.

Kai bahkan sempat memarahi Sehun yang seharusnya dia tahu menahu mengenai fakta yang satu itu dan malah tidak bersengaja membuat pesta dengan minuman alkohol di dalamnya. Karena bagaimana pun, Sehun lah satu-satu orang yang paling tahu bagaimana Baekhyun dari kecilnya –mereka telah bersahabat lama sebelum bertemu dengannya- dan dengan itulah Kai memiliki alasan untuk memarahi Sehun.

Keduanya sungguh dibuat repot dengan tingkah berlebihan Baekhyun yang mabuk. Mereka tak memiliki alasan lain untuk tak mengantar Baekhyun pulang ke apartemennya. Untung bagi keduanya karena sebelum itu tepatnya saat pertemuan pertama mereka pada awal kepindahan di Seoul, Baekhyun telah memberikan alamat apartemennya dengan cuma-cuma. Kemudian pada pukul setengah satu dini hari, mereka memutuskan untuk membawanya pulang setelah melihat keadaan Baekhyun yang makin memprihatinkan.

"Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu, Oh Sehun. Ini seperti kau mengantarkan teman dekatmu sendiri ke jurang untuk terjun ke dalamnya." Dan untuk kedelapan kalinya Kai menyalahkan dirinya dengan kalimat puitisnya –entah Sehun harus menyebutnya seperti apa-.

Badan keduanya terhuyung-huyung ke kanan dan kiri di dalam tempat sepi itu karena tubuh Baekhyun yang tak bisa diam begitu saja saat dia mabuk. Sehun mendesis, merasa kesulitan menjaga keseimbangan tubuhnya dan alasan lainnya karena ceramahan Sehun yang tak habisnya. "Untuk kesekian kalinya, terimakasih atas perhatianmu, Kim Jongin." Kemudian membalas ucapan Sehun antara mau dan tidak mau. Lalu bersamaan dengan hal itu, pintu lift yang mereka naiki terbuka.

"Waa~ hei, hei, andai dia tidak memiliki paras tampan seperti itu, aku pasti sudah menghabisinya." Baekhyun kembali mengeluarkan racauannya. Badannya serasa berat –atau terlalu ringan- untuk melangkah, membuatnya kembali merepotkan kedua temannya. Dia tertawa kemudian cegukan. "Enak saja dia menyebutku penguntit. Aku bukan penguntit!" Lalu tiba-tiba berteriak mengagetkan kedua pemuda yang membantunya berjalan.

Ada jeda untuk beberapa detik setelah Baekhyun berteriak, membuat keadaan menjadi sangat sunyi. Sekarang pukul dua dini hari dan tentu hanya orang yang tak waras saja yang akan membuat keributan pada jam itu –termasuk mereka bertiga, tentu saja-. Sebenarnya, tak banyak orang yang berlalu lalang di koridor lantai tiga itu, bahkan hampir tak ada, kecuali seorang lelaki dengan tubuh jangkungnya yang tengah berjalan dari arah yang berbeda dengan ketiganya. Hanya untuk satu sampai dua detik Sehun memperhatikannya, dan sisa perhatiannya dia fokuskan pada Baekhyun.

Langkah pertama, kedua, hingga langkah kelima, Baekhyun justru lebih tak bisa mengendalikan dirinya. Satu kakinya tersenggol oleh kaki lainnya sendiri, membuatnya terjatuh di lantai, bersamaan dengan hal itu pula Sehun tak sengaja bersenggolan dengan lelaki tinggi yang dia lihat tadi. Tubuh lelaki itu bergeser beberapa langkah kecil ke samping karena senggolan itu dan Kai segera menyadarinya. Ucapan maaf atas ketidaksengajaan itu terlontar secara spontan dari mulut Sehun, reaksi yang didapatkannya adalah sebuah anggukan cepat kemudian lelaki itu secara cepat pula melangkah menjauhinya.

Untuk beberapa detik, Sehun tak mengindahkan apa yang terjadi di sampingnya –Baekhyun dengan kepala tertunduk kemudian menangis, melaporkan pada Kai jika dia bukanlah seorang penguntit-, dirinya fokus memperhatikan punggung sosok tinggi yang melangkah menjauh darinya. Hingga lelaki tinggi itu memasuki lift, kemudian melakukan kontak mata hanya beberapa detik hingga pintu lift tertutup sepenuhnya.

Sehun baru menyadari sesuatu yang tak biasa dari lelaki tinggi itu dan entah apa itu, dia ragu. Keduanya secara tak sengaja bersenggolan karena tingkah Baekhyun dan secara tak langsung pula Sehun menyerap energi dari tubuh lelaki tinggi yang berbalut dengan kaos biru dongker berlengan pendek itu. Energi yang didapatkan dari lelaki itu sungguh berbeda dari sebelumnya, energinya terlalu—nikmat, membuatnya ingin menyentuh pemuda itu lagi dan lagi.

"Sehun!" Seruan Kai –yang keempat kalinya- terpaksa menariknya ke keadaan yang sekarang. Secara linglung Sehun menjawabnya dengan gumaman ya, "Kita harus cepat sebelum Baekhyun lebih berulah." Ada nada tak suka yang saat Kai mengatakannya, alasan karena Baekhyun yang makin tak terkendali dan melihat Sehun yang hanya diam menatapnya tanpa ingin membantu, membuatnya kesal tentu saja. "Oh Sehun! Aku sedang berbicara padamu." Sekali lagi Kai harus memanggilnya, hingga akhirnya dia mendapati perhatian Sehun yang sepenuhnya tertuju padanya. "Cepat, bodoh." Sehun yang menyadari kesalahannya, langsung mengambil posisi—menggenggam tangan kanan Baekhyun, kemudian melingkarkannya pada lehernya sendiri-untuk membantu.

Kemudian ketiganya berlanjut melangkah menuju pintu bernomor tiga ratus dua di sepanjang koridor sepi itu.

.

.

.

UNTOUCHABLE

(A Choice) –chapter 3

By Fazamy

Main Casts : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Casts : Oh Sehun, Kim Jongin (Kai), Byun Baekbum, Kim Jongdae, Xi Luhan, etc

Genre : Romance, Humor (maybe), etc

Rate : M

Warning : Yaoi, Boys Love, Boy x Boy

.

Note : Oke. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan disini. Saya memutuskan untuk mengubah karakter Kai disini dan menukarkan dengan karakter Sehun, demi kemanan dan kenyamanan membaca (?) karena jujur saja, saya juga lebih merasa jika lebih nyaman seperti itu dengan alasan karena momen HunBaek yang ternyata lebih banyak dari KaiBaek, hal itu membuat saya lebih mudah dalam membayangkan karakternya. So, untuk beberapa readers yang sudah terlanjur suka dengan version yang sebelumnya, mianhae~ *-*

Kemudian pada chapter ini, kalian akan susah mendapatkan banyak momen ChanBaek disini. Sesuai dengan sub judulnya, disini Chanyeol akan diberi sebuah pilihan oleh kakaknya dan di chapter ini pula akan dijelaskan bagaimana kehidupan seorang Park Chanyeol. Hoho!

Last, happy reading all!

.

.

.

Seorang pria dengan tinggi yang tak sampai seratus delapan puluh senti itu keluar melalui pintu utama dari gedung bertempatnya untuk bekerja. Tingkat kedinginan yang menyergapinya jelas terlihat dari bagaimana dia berpakaian malam hari ini, ditambah dengan bibir pucat yang sedikit bergetar itu. Keduanya tangannya mencoba mencari kehangatan dari dalam tubuhnya sendiri. Beberapa kali dia mengutuk dirinya sendiri karena lupa memakai sarung tangannya yang justru bahkan sudah dipersiapkannya sejak jauh waktu sebelum beranjak untuk kerja kembali di pagi selanjutnya. Jongdae tak mengerti dengan penyakit permanen lupanya itu, tak bisa untuk tak jauh darinya. Mungkin dia perlu untuk kapan-kapan berkunjung dan berkonsultasi dengan psikolog terdekat.

Oke. Lupakan yang satu itu.

Langkah kakinya semakin lebar tak kala melihat sebuah bus yang berhenti tepat pada halte yang ditujunya. Tak ingin ketinggalan—dan juga karena tak ingin mati beku disana-, Jongdae lebih mempercepat langkahnya hingga akhirnya menjadi penumpang terakhir sebelum pintu masuk bus tertutup. Sejenak dia menghela nafas lega karena kedua matanya menangkap sebuah kursi kosong di seat nomor dua bagian belakang dekat jendela. Merasa bersyukur pada tuhan karena setidaknya dia memiliki waktu cukup untuk beristirahat hingga mencapai rumahnya nanti.

Selangkah, dua langkah, hingga beberapa langkah yang diambilnya menuju tempat duduk tujuannya. Kemudian setelah berada tempatnya dan akan mulai menempatinya, gerakannya terhenti karena seseorang yang ternyata juga ingin menempati satu-satunya kursi kosong disana. Reflek Jongdae membawa kedua indera penglihatnya untuk menatap sang pelaku.

"Maaf, tuan. Tapi aku yang melihatnya pertama dan menyentuhnya terlebih dahulu darimu." Dan kemudian ucapan yang final itu mengakhiri waktu pandang memandang Jongdae, membuat lelaki itu terkesiap dari lamunannya dan baru menyadari satu hal. Kursinya tela ditempati dan itu bukanlah hal yang bagus.

"He—hei. Itu tempat yang sudah kupatok sebelum memasuki bus ini. Jadi bisakah kau berdiri dan biarkan aku menempatinya?" Jongdae tentu saja tak mau kalah, dia masih ingin memperjuangkan tempat itu, dengan sedikit bumbu kebohongan di setiap ucapannya tentu saja.

Lelaki yang telah menempati dihadapannya menatapnya tak suka dan menunduk, bergumam akan betapa sialnya hari ini untuk beberapa detik. Kemudian selang setelah itu kembali mengangkat wajahnya dan mulai mencoba menatap langsung pada kedua bola mata Jongdae dengan kedua tangan yang ditangkupkan di depan dadanya, seperti mencoba membuat aegyo. "Oh, ayolah, tuaaan~"

Jongdae menutup kedua matanya, berdecak kemudian mendesis, sengaja dikeraskan. "Oke, aku mengerti dengan aegyo yang kau lakukan dan jujur saja itu terlihat manis di mataku—tapi tidak! Itu tidak akan bisa menggoyahkan keinginanku. Jadi, bisakah kau hengkang dari sana?" ucapannya itu membuat lelaki asing itu merengut, kemudian menatapnya tak suka.

Jongdae sangat mengerti mengenai tindakan yang dilakukannya demi mempertahankan sebuah kursi, ini demi kebaikannya tentu saja. Well, setidaknya itu menurut asumsinya sendiri. Kedua kakinya bergetar dan giginya masih saja bergemeletuk meskipun penghangat di dalam bus itu telah dihidupkan. Serasa tak kuat untuk berdiri kembali dan ingin mati saja rasanya, terlebih dengan rasa lelah sepulang dari kantor yang lebih membebaninya. Namun Jongdae –lebih- tak mengerti saat melihat perubahan wajah lelaki di hadapannya yang begitu kontras dari sebelumnya. Tersenyum kemudian beranjak dari tempat itu, membuat Jongdae juga ikut mengulas senyum, mengira jika lelaki itu akhirnya memutuskan untuk mengalah dan berbaik hati padanya.

"Baiklah." Lelaki yang memiliki tinggi sama dengannya itu masih tersenyum dengan pandangan mata lurus ke depan, kemudian menatap pada Jongdae masih dengan binar senang di matanya. Jongdae bahkan tak sempat waktu untuk menyadari jika lelaki di hadapannya mengulas sebuah seringaian main-main—seperti tengah merencanakan sesuatu- karena rasa bahagia yang menyelimuti hatinya dahulu dan berpikir akan segera menempati tempat itu. "Karena aku telah sampai pada tujuanku—" lelaki itu mengambil langkah ke samping untuk keluar dari sana, membuat Jongdae mundur beberapa langkah, "—kau bisa menempati tempat ini, tuan," hal itu Jongdae semakin melebarkan senyumnya, seiring dengan hal itu pula lah seorang wanita tua berjalan semakin ke dalam menuju arah mereka. "Akan tetapi—" satu langkah kecil yang lelaki ambil itu ke depan, membuat Jongdae juga mengambil langkah kecil untuk mundur, "—mungkin lebih baik jika kau mengalah pada seorang wanita tua yang tengah berjalan menuju kita."

Dan dengan hal itu, Jongdae segera menyadarkan dirinya dari harapan tinggi akan mendapati sebuah seat setelah melihat lelaki asing itu mempersilahkan seorang wanita tua—yang keadaannya lebih parah darinya- untuk menempati tempat yang mereka perebutkan. Jongdae bahkan melihat bagaimana interaksi lelaki itu dengan wanita tua yang telah menduduki tempatnya—masih dengan asumsi Jongdae-. Sang wanita tua tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada lelaki asing itu akan tetapi dia mengelaknya dan mengatakan jika itu adalah tempat duduknya dan seharusnya mengucapkan terimakasih pada pemuda berwajah kotak itu.

"Oh, benarkah?" lelaki asing itu mengangguk, kemudian sepenuhnya fokus sang nenek teralihkan pada Jongdae yang kini tengah menatap tak suka pada lelaki asing itu. "Jika begitu, terimakasih, tuan."

Jongdae mau tak mau tentu saja tersenyum, sekedar untuk merespon ucapan itu.

"Baiklah." Lelaki asing itu member Jongdae sebuah tepukan pada bahunya—yang entah apa artinya-, "Sampai bertemu lagi, brother." Dan dengan itu sang lelaki asing mulai mengambil langkah menuju pintu keluar bus.

Jongdae mendesis tak suka saat melihat lelaki asing itu masih tersenyum dengan tangan kanan yang melambai padanya, kemudian berganti dengan sebuah kepalan dan menggumamkan kata fighting padanya. "Sialan." Umpatnya—

"Kau mengucapkan sesuatu, tuan?"

—yang mengundang perhatian sang nenek.

.

.

Di lain sisi, seorang lelaki yang baru saja keluar dari ruang khusus pegawai tengah melangkah menuju tempat kasir, dia baru saja mengganti bajunya dengan seragam pegawai. "Dimana Baekhyun?" Masih dengan merapikan pakaiannya, dia bertanya pada seorang gadis yang lebih muda darinya, yang berada dibalik meja kasir.

Sang gadis tidak langsung menjawab, dia mengedarkan pandangannya menatap luar jendela sejenak, "Seharusnya dia sudah sampai—" kemudian beralih menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "—ini bahkan sudah satu setengah jam sejak pergantian shift—," Lalu menatap pemuda di hadapannya dengan wajah merengut lucu, "—dan selama satu setengah jam itulah aku bekerja sendiri, oppa."

Pemuda di hadapannya tertawa akan tingkahnya. Luhan tahu jika Krystal kini tengah merajuk padanya, melaporkan betapa kesepian dan kesalnya dia karena bekerja selama satu setengah jam itu. Kemudian bersamaan dengan itu, bel otomatis di pintu masuk tempat kerja mereka berbunyi. Keduanya sontak menengok ke arah yang sama, mengira jika ada pembeli yang mengunjungi dan berniat akan memberinya sambutan ramah. Namun nyatanya keduanya tak perlu repot melakukan sambutan itu karena orang yang menjadi topic mereka sebelumnya kini tengah berlari kecil ke arah keduanya, kemudian mengucapkan permintaan maaf atas kerterlambatannya.

"Well, kau sudah melewatkan satu jam empat puluh menit, oppa. Kau tahu itu?" Krystal mengucapkan kekesalannya setelah menilik waktu pada jam tangannya yang ternyata bertambah setelah perbincangannya dengan Luhan tadi.

Baekhyun mengangguk mengerti akan kesalahannya. "Maafkan aku." Ucapnya masih dengan sisa nafas yang bisa dia ambil dia kembali meminta maaf. Seharusnya Krystal tahu bagaimana perjuangannya mengejar waktu itu, dia berlari sepanjang perjalanannya menuju halte hingga perlu berdebat dengan lelaki asing mengenai satu-satunya kursi yang tersisa di bus yang dinaikinya tadi, kemudian kembali berlari lagi menuju tempat kerjanya ini.

Mengenai toko buku yang sudah seminggu ini menjadi tempat kerjanya, ternyata Wendy –manajer toko mereka- tak menempatkan Baekhyun bekerja di toko buku yang hanya terpaut beberapa meter dari apartemennya. Wendy menjelaskan kembali jika dia perlu menempelkan pengumuman kertas lowongan itu di setiap toko agar mempermudah aksesnya untuk mendapat pekerja baru dan Baekhyun akui itu berhasil, terbukti adanya dirinya yang tertarik dengan lowongan itu dan sekarang dia ditempatkan di toko buku yang perlu waktu dua puluh menit untuk sampai ke tujuan.

Baekhyun bukan mengeluh mengenai tempat kerja yang didapatkannya atau pun pekerjaannya, dia hanya merasa perlu mengeluh sekaligus kesal pada dirinya sendiri yang lupa memasang alarmnya—atau lupa waktu tidur- saat dia dengan nyenyaknya masih menjelajah di pulau mimpi sejak kejadian dimana dia mabuk dan mengharuskan Sehun dan Kai untuk mengantarnya ke apartemen hingga dini hari. Mengenai kedua sahabatnya, mungkin dia perlu meminta maaf dan berterimakasih atas bantuan mereka. Namun di lain sisi dia merasa kesal sendiri pada Sehun yang telah mengadakan pesta itu. Sudah tahu Baekhyun tak tahan dengan minuman beralkohol seperti itu, dia masih saja memaksa untuk menuruti pemintaannya. Baekhyun jadi kesal sendiri saat mengingat hal itu.

"Sudahlah." Luhan yang merasa lebih tua diantara mereka tentu perlu melakukan sesuatu, mencoba untuk menengahi keduanya. "Baekhyun, kau bersiaplah di dalam dan minumlah beberapa teguk air. Kau terlihat sangat berantakan." Baekhyun mengangguk, patuh pada seniornya itu sekaligus membenarkan ucapan Luhan jika dia terlihat sangat berantakan.

Luhan dan Krystal menatap punggung Baekhyun hingga hilang di balik pintu ruangan pegawai, kemudian saling bertatapan. Luhan tersenyum saat masih mendapati raut kesal Krystal, lalu menggerakkan tangan kanannya untuk mengusak rambut juniornya itu. "Setidaknya kau tak perlu bekerja sendirian untuk beberapa jam ke depan lagi."

"Aku mengerti." Balas Krystal masih dengan perasaan kesal.

.

.

.

Pertemuannya dengan Yoora dua hari yang lalu membuatnya berpikir mengenai beberapa pilihan yang diberikan padanya. Pertama, Yoora menyuruhnya untuk tidak terus menerus mendekam di kandangnya, menjadi seorang penyendiri yang hanya peduli pada dirinya sendiri dan pekerjaannya. Yoora mengumpamakannya dengan istilah itu bukan tanpa alasan tentunya, itu karena Chanyeol yang keterlaluan menghabiskan waktunya di dalam apartemennya, hingga untuk pekerjaan pula dikerjakannya disana dan malah tidak pergi ke kantornya. Sang kakak perempuan bahkan merasa sulit sekarang membedakan adiknya, Park Chanyeol, dengan seekor burung di dalam sangkar, sesungguhnya itu tak jauh beda. Dan lagi, Yoora bahkan sangat tahu jika selama ini Jongdae lah orang yang selalu direpotkan adiknya itu, entah untuk mengambil dan mengantar laporannya pada ketua mereka hingga sampai hal yang tak terlalu penting sekali pun, meminta Jongdae membelikan beberapa kaleng tuna di mini market misalnya. Setidaknya pilihan pertama itu dilakukan Yoora agar adiknya tak terlalu mengisolasi dirinya sendiri dengan keadaan luar. Kemudian jika Chanyeol tak melakukan permintaan pertama Yoora, maka semuanya kembali pada pilihan yang kedua, membawa adiknya itu pindah bersama dengannya ke London dan melakukan terapi disana selama berbulan-bulan. Yoora harus melakukan hal itu demi kesembuhan Chanyeol dan beruntung bagi mereka karena ada seorang psikiater disana yang merupakan teman Yoora semasa kuliah.

Mengenai sakit Chanyeol derita, sebenarnya itu bukanlah penyakit besar yang mengharuskannya untuk keluar masuk ke dalam ruang ICU rumah sakit. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, Yoora hanya perlu membawa Chanyeol ke seorang psikiater karena lelaki tinggi itu menderita mysophobia. Dalam hal ini yang Chanyeol alami adalah sebuah ketakutan yang berlebihan dengan kuman atau pun bakteri, sangat menjaga diri dengan kebersihannya dan tak ingin terjangkit penyakit apapun walaupun hanya melakukan jabatan tangan antar sesama manusia.

Sebenarnya Yoora menyangka jika adik laki-lakinya itu memiliki ketakutan seperti itu. Semuanya berawal dari ibu mereka jika dipikir kembali. Ibu mereka memang secara gambalng diketahui sebagai penderita mysophobia jauh sebelum memutuskan untuk menikah bersama sang ayah. Kemudian satu fakta yang bisa Yoora simpulkan disini, keprotektifan sang ibu terhadap anaknya, terutama dalam hal kebersihan, tenyata menurun pada anak kedua mereka. Singkatnya sang ibu tanpa sadar membuat Chanyeol memiliki ketakutan akan hal itu pula.

Kemudian setelah meninggalnya sang ibu, keadaan bertambah buruk. Chanyeol yang awalnya suka bersosialisasi dengan keadaan luar, yang dulunya bersedia direpotkan untuk membawa sebuah hand sanitizer, sekarang menjadi sangat tertutup dan terlalu memperhatikan ini-itu dengan kebersihan. Mungkin Chanyeol hanya merasa jika dirinya perlu menjaga diri sendiri setelah mendiang ibu mereka tak bisa untuk menjaga anak-anaknya.

Dan hari ini, Yoora akan kembali ke apartemennya, dengan atau pun tanpa keluarga kecilnya, menagih keputusan Chanyeol mengenai pilihannya. Bersamaan dengan hal itu pula, hari ini Chanyeol—mau tak mau- akan pergi ke kantornya untuk melaporkan laporan yang diminta Jessica –ketua redaksinya- hari ini.

Sebelumnya, Jongdae telah menghubunginya mengenai deadline laporannya itu untuk sekedar mengingatkan dan menegaskan kembali pada Chanyeol mengenai perjanjian yang sebelumnya mereka buat saat Chanyeol memintanya untuk kembali menghadap pada Jessica dan meminta keringanan atas itu. Chanyeol tak tahu, apa dia perlu berterimakasih pada Jongdae atas hal itu atau mengeluh kembali pada sahabat karibnya itu. Karena mau bagaimana pun pula, sedikit banyak Jongdae telah membantunya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Oke, mungkin Chanyeol akan mengajaknya ke kafe langganan mereka dan mentraktirnya beberapa makanan dan minuman disana.

Kemudian berbekalan dengan sepasang sarung tangan sintetis yang digunakannya, masker wajah, kemudian sebotol hand sanitizer di dalam saku mantelnya, Chanyeol siap untuk berangkat ke kantornya. Namun saat dirinya sudah siap untuk memutar kenop pintu, pergerakannya terhenti, dia melupakan sesuatu. Kembali ke berjalan ke dalam kamarnya sendiri dan setelah menemukan yang dia cari, dia kembali menuju pintu.

Hembusan nafasnya terdengar begitu kentara di ruangan sepi itu. Yang dilakukannya hanya berdiri dan terpaku menatap kenop pintu, antara ingin meraihnya atau tidak, memutarnya atau tidak, dan membukanya atau tidak. Rasa gugup yang dirasakannya ini sebelumnya pernah terjadi. Saat itu dia berada di detik-detik job interview untuk mendapat pekerjaan yang didapatinya sekarang dan saat ini terulang kembali.

"Oke. Kau bisa melakukannya, Park Chanyeol." Kemudian setelah memberi motivasi pada dirinya sendiri, Chanyeol mulai mengenakan topi yang baru saja diambilnya dari kamar, selanjutnya yang dilakukannya adalah merai kenop pintu, memutarnya, membukanya, lalu mendorong daun pintu itu.

Lelaki tinggi itu mengangkat tangan kanannya untuk menutupi wajahnya saat merasakan bias matahari. Ini rasanya seperti dia sudah menjadi makhluk gua saja yang bertahun-tahun menghindar raja siang itu, atau mungkin Chanyeol bisa mengumpamakan dirinya seperti vampir untuk lebih kerennya. Buru-buru Chanyeol membenarkan tatanan topinya agar bisa lebih menutup wajahnya.

Sepanjang langkah yang diambilnya hingga menuju halte, yang dilakukannya hanya menatap bawah, entah mengapa melihat kedua kakinya melangkah itu hal yang menarik tiba-tiba. Hingga kemudian dia sampai di halte yang ditujunya, bersamaan dengan itu pula sebuah bus yang searah akan mengantarkan di halte dekat kantornya tiba. Orang-orang yang awalnya menunggu disana langsung berhamburan memasuki bus itu, hingga terlihat penuh, semuanya berdesak-desakan.

Untuk menyambung langkah kembali hingga memasuki bus itu, Chanyeol ragu sebenarnya. Dia berdiri disana selang lima belas detik tanpa melakukan apapun, hingga bus berwarna hijau dengan corak kemerahan itu pun menghilang dari pandangannya.

Chanyeol menghela nafas –antara bimbang atau lega- setelah mengetahui jika masih ada bus lain yang akan berhenti di halte itu pada sepuluh menit selanjutnya. Dia tahu itu saat melihat jadwal pemberangkatan bus di papan yang tersedia disana. Kemudian menilik ke arah jam tangannya, dua puluh menit sebelum jam masuk kantornya, Chanyeol menyebutnya beruntung. Sepuluh menit dia gunakan untuk menunggu bus selanjutnya, kemudian sepuluh menit sisanya adalah lama waktunya menuju kantornya. Setidaknya dia akan tepat waktu sesampai di kantornya.

Waktu sepuluh menit yang sebenarnya terlihat pendek akan terasa lama jika digunakan untuk menunggu tanpa melakukan apapun. Chanyeol merasa bosan saat sudah memasuki menit keenam. Sedari tadi yang dilakukannya hanya mengangkat kepala saat merasa pegal menunduk, kemudian kembali menunduk lagi saat merasa hal itu perlu dilakukannya, selanjutnya diikuti dengan helaan nafas. Begitu berkali-kali dan omong-omong Chanyeol masih dengan posisi berdiri. Kursi halte yang tersedia disana hanya diisi tiga orang dan menyisakan banyak tempat sebenarnya, namun sepertinya Chanyeol tak minat untuk menempati salah satunya. Antara tak minat atau ragu. Membayangkan berapa banyak kuman atau pun bakteri jahat penyebab penyakit yang tertempel disana, Chanyeol menggelengkan kepalanya cepat. Chanyeol hanya merasa tak ingin kembali melakukan ritual mandinya selama setengah jam setelah menduduki salah satu diantaranya. Lebih baik dia berdiri selama yang dia bisa.

"Tuan, kau akan masuk atau tidak?" Chanyeol menyadarkan dirinya saat merasa ada seseorang yang tengah berbicara padanya. Dia mengangkat kepalanya kemudian mendapati seorang lelaki berumur dengan seragam bertugasnya yang tengah duduk di tempat kemudi, Chanyeol baru menyadari jika bus yang ditunggunya telah tiba. Akan tetapi Chanyeol tak langsung masuk, lelaki tinggi itu masih membawa kepalanya ke kanan dan kiri, hanya untuk memastikan suatu hal. "Yang ku maksud memang kau, tuan. Iya, kau." Pria yang merupakan seorang supir di bus itu kembali menyuarakan suaranya, menegaskan pada Chanyeol jika memang dia lah orang yang dimaksud.

"O—oh?" Chanyeol mengangguk cepat. Kemudian bergegas memasukinya tanpa ingin membuang waktu lama.

Sebenarnya masih ada banyak kursi kosong disana, namun lagi-lagi Chanyeol memilih untuk berdiri saja. Lelaki tinggi itu bahkan tak memegangi salah satu kendali yang bergantung di atas kepalanya, membuat tubuhnya terhuyung-huyung saat bus mengerem atau kembali berjalan.

"Oppa, apa kau tak ingin menempatinya?" Salah seorang penumpang, gadis berseragam sekolah atas menginterupsinya, mengundang Chanyeol untuk menoleh dan mambawa kedua mata bulat jernihnya untuk menatap perempuan itu. Sebuah seat masih tersisa di sampingnya.

Chanyeol hanya mengulas sebuah senyum kemudian menggeleng sebagai responnya. Gadis itu hanya mengangguk dan diam setelahnya, tanpa ingin bertanya lagi. Kemudian memasang kembali satu headset yang sebelumnya dia lepas hanya untuk bertanya pada lelaki dewasa itu.

Hingga kemudian setelah pemberhentian halte dua kali, Chanyeol turun di pemberhentian ketiga, sebuah halte yang terletak hanya berseberangan dengan gedung kantornya. Sekali lagi Chanyeol menghela nafasnya. Mencoba menenangkan dirinya saat merasa keringat dingin kembali meluncur melalui pelipisnya. Kedua matanya menatap tegas pada gedung megah di seberangnya, menatap pintu masuk disana dengan mantap. Dan dengan hembusan nafas terakhir, Chanyeol memantapkan langkahnya.

"Everything is gonna be fine, Park Chanyeol." Mantapnya mengiringi di setiap langkahnya.

Well, hari ini merupakan hari baru bagi Chanyeol, sedikit ragu—namun sepertinya.

.

.

"Kim Jongin! Ambillah yang hanya kita butuhkan. Atau aku akan meninggalkanmu disini dengan semua barang di dalam trolly itu."

Kai tersenyum main-main saat mendengar peringatan yang baru saja Sehun keluarkan. Dengan kedua tangan yang masih memegang kendali trolly, pemuda itu kembali mendorongnya setelah memasukkan beberapa minuman soda dan susu berperisa stroberi. "Ini untuk permintaan maafmu, ingat?"

Sehun mendelik menatapnya. Bukan kaget karena peringatan yang Kai berikan, melainkan lagi-lagi Kai memasukkan tiga bungkus potato snack ke dalam trolly. Kemudian memutar matanya merasa bodoh telah ditipu Kai. Seharusnya dia sadar jika nama Baekhyun hanyalah sebuah embel-embel yang Kai gunakan untuk memeras isi dompet Sehun. Bukan hanya itu, Kai juga mengancamnya jika akan membeberkan rahasianya mengenai kebiasaannya yang suka menghabiskan waktu di club pada Baekhyun jika dia tak ingin memenuhi permintaan lelaki tan itu. Sekali lagi Sehun meyakinkan dirinya, ini dilakukannya demi Baekhyun dan dirinya sendiri tentu saja.

"Jika bukan karena Baekhyun, aku tak akan melakukan hal sebodoh ini, Kim Jongin." Sehun mengucapkannya dengan penekanan di setiap kata. Mereka telah berada di depan kasir, anyway.

Mengenai mengapa mereka bebas berkeliaran di tengah kota seperti ini, bukan tanpa usaha mereka bisa melakukannya. Keduanya meminta manajer mereka dengan memohon-mohon untuk mengosongkan jadwal di pagi hari hingga siang nanti. Alasan yang digunakan sebenarnya sudah biasa, ingin beristirahat di akhir pekan sejenak tanpa melakukan pekerjaan. Sang manajer sudah menolak lima kali sebenarnya, namun gagal di saat yang keenam, karena Sehun dan Kai mulai melakukan aegyo mereka. Lelaki yang lebih tua enam tahun dari mereka itu tentu terpaksa mengiyakan permintaan mereka, karena sungguh tak ada yang mengerikan jika dibanding melihat aegyo kedua anak itu, bahkan untuk melihat film horror sekalipun, sang manajer lebih memilih untuk itu.

Kemudian dengan pakaian tertutup, topi, dan beberapa aksesoris untuk penyamaran mereka, keduanya memulai hari dengan mengendarai mobil menuju mini market di pukul sembilan pagi. Membeli apa-apa saja yang dibutuhkan sebagai bingkisan permintaan maaf untuk Baekhyun karena telah membuat lelaki kecil itu mabuk tempo lalu di pesta kecil mereka. Namun sekali lagi Sehun menegaskan, itu hanyalah akal-akal seorang Kim Jongin saja.

"Yap! Ini karena Byun Baekhyun, sahabat tercintamu, Sehunie~" Kai mulai menggoda karibnya kembali, seraya menunggu sang kasir menghitung berapa biaya yang perlu mereka—oh tidak, Sehun keluarkan nantinya.

"Sial! Berhenti memanggilku dengan panggilan bodoh itu lagi, Kim Jongin!"

"Really? Bukankah itu panggilan yang manis, Sehunie?"

"Sialan kau—"

"Semuanya 300 ribu won, tuan."

"—apa!?" Sehun yang awalnya bersiap mendaratkan kepalan tangannya pada kepala Kai tiba-tiba saja mendarat di meja kasir. Suara yang dihasilkan begitu keras, menarik perhatian beberapa pengunjung disana. Terlebih dengan gema suara yang Sehun keluarkan yang begitu keras, sang kasir bahkan sudah merasa ciut dengan pandangan takutnya.

Sehun lekas saja memutarkan kepalanya menghadap ke lelaki di sampingnya. Kedua matanya masih mendelik kaget dan lebih lebar saat melihat Kai hanya tersenyum puas padanya. Lelaki itu benar-benar mempermainkannya dan Sehun bersumpah akan membalasnya.

"Baekhyun, kau ingat?"

–dan Sehun bersumpah akan melempar Kai ke segitiga bermuda sekali pun.

.

.

Kedua mata lelaki itu melebar saat tak sengaja menangkap sebuah siluet tinggi yang baru saja keluar dari ruang kerja ketua mereka. Kedua kakinya dibawanya untuk melangkah menuju lelaki itu. Tangan kanannya bersiap untuk menepuk bahu lelaki tinggi yang masih menghadap pintu namun diurungkannya setelah mengingat sesuatu. Kemudian memutuskan untuk memanggil nama lelaki itu saat dikira keputusan itu adalah yang lebih baik.

"Chanyeol?"

Sang lelaki berbalik, bergantian posisi membelakangi pintu dan mulai menatap penuh pada sosok di hadapannya. "Oh? Luhan?" Ada nada kaget yang terselip di setiap katanya.

Senyuman Luhan bahkan tak lepas sejak dia melihat siluet Chanyeol, bertambah dengan kedua matanya yang nampak berbinar. Merasa senang menemukan Chanyeol di kantor. "Kau disini?"

Chanyeol tersenyum kikuk. Tangan kanannya terangkat mengusap kepala bagian belakang. "Yah, sekitar lima belas menit yang lalu."

"Benarkah? Kenapa aku tak melihatmu di mejamu tadi?" Luhan mulai mengambil langkah dengan keyakinan jika Chanyeol akan kembali ke mejanya. Meja keduanya bersebelahan.

Dan dengan itu pula Chanyeol ikut melangkah. Tangan kirinya menenteng sebuah tas kantor berwarna hitam yang belum sempat dia simpan di mejanya, karena Jessica yang memintanya untuk memberikan hasil laporan tepat waktu, tanpa adanya dispensasi waktu. Jessica itu sangat displin mengenai hal itu.

"Aku harus memberikan hasil pekerjaanku pada ketua dahulu." Chanyeol terhipnotis untuk ikut tersenyum. "Oh, apa kau melihat Jongdae? Aku berencana untuk—"

"Wow, Park Chanyeol." Belum lama, seseorang yang tengah dibicarakan muncul di tengah-tengah mereka. Menepuk pundak Chanyeol, kemudian merangkulnya. Menahan keduanya –Chanyeol dan Luhan- untuk melanjutkan beberapa langkah menuju ruangan mereka. "Kau disini?" Jongdae tersenyum padanya, amat lebar. Menghiraukan tatapan yang Chanyeol berikan padanya, kesal sekaligus tak nyaman.

"Kim Jongdae." Luhan berbisik padanya, memperingatkan padanya akan suatu hal.

Namun Jongdae hanya mengangkat bahunya acuh. "Biar saja." Kemudian kembali memfokuskan diri pada Chanyeol. "Kau—sungguhan-disini?" Dan menanyakan kembali pertanyaan sebelumnya, menegaskan sebenarnya.

"Ya, aku disini." Chanyeol mencoba menggerakkan tubuhnya agar Jongdae menyadari apa yang telah dilakukannya. Namun sepertinya lelaki itu tak memiliki niatan untuk melepas rangkulannya. Menghindari pun percuma karena Jongdae benar-benar telah merapatkan kedua tubuh mereka, membuat Chanyeol yang tingginya melebihi darinya menunduk untuk menyamai. Sepertinya Jongdae ingin bermain-main kali ini.

"Wow." Sekali lagi Jongdae menatapnya terkejut, ekspresi yang tak murni. "Atas dasar apa, Park Chanyeol?"

"Pertama, jauhkan tubuhmu dulu, Kim Jongdae." Chanyeol tak tahan untuk tidak mengeluarkan nada sarkastiknya. Jongdae hanya tersenyum main-main padanya kemudian mulai melepaskan rangkulannya. "Sesuai dengan janji kita—" Chanyeol menepukkan kedua tangan yang masih terlapisi dengan kaos tangan di masing-masing bagian jas yang telah Jongdae sentuh, "—aku kemari untuk memberikan laporanku pada Jessica." Kemudian menggerakkan kepalanya ke kanan, kiri, dan memutarnya, merasa pegal dengan posisi yang dia pertahankan sebelumnya. "Dan alasan lainnya karena Yoora noona." Dia menghela nafas mengingat hal itu.

Jongdae tak bisa mengendalikan wajah penasarannya, kali ini murni. Begitu pula yang dilakukan dengan Luhan.

"Ada apa dengan Yoora noona?" kali ini Luhan mencoba bersuara.

Chanyeol tak langsung menjawabnya. Dia menyambung langkah kembali untuk memasuki ruang mereka, membuat kedua teman kantornya itu juga mengikutinya hingga ke meja Chanyeol sekali pun. "Yoora noona akan membawaku ke temannya yang seorang psikiater di London jika tak melakukan ini."

"Well, sedikit lebih yang dilakukan Yoora noona adalah benar."

Luhan mendelik pada Jongdae, merasa jika temannya itu tidak bisa melihat suasanya yang terjadi. Dan Jongdae hanya membalasnya dengan sebuah senyum jenaka.

"Aku yakin jika kau bisa sembuh dengan sendirinya, Park Chanyeol." Luhan meyakinkan. Dapat dilihat Chanyeol tengah mengeluarkan sebuah lebaran koran yang telah dipotong kotak dengan sedemikian rupa dari tas kantornya, lalu meletakkannya di atas kursinya dan mulai mendudukinya. Luhan menatap ke arah Jongdae yang tengah mendelikkan kedua matanya melihat itu, kemudian tersenyum geli merasa lucu dengan ekspresi Jongdae.

"Ya—" Chanyeol tersenyum padanya, "—terimakasih, Luhan."

.

.

Baekhyun tengah menonton sebuah film action dari DVDnya dengan beberapa cemilan yang menemani saat bel apartemennya berbunyi. Seingatnya dia tak ada janji dengan siapapun hari ini. Itulah mengapa Baekhyun lebih memilih waktunya untuk melakukan hal ini disamping untuk menunggu waktu bekerjanya hingga sore nanti.

Ting tong…

Sebungkus stik kentang yang baru saja dibukanya, diletakkannya di meja hadapannya. Jika diperhatikan kembali, Baekhyun sebenarnya tak benar-benar hanya membuka satu bungkus itu saja. Lima bungkus makanan ringan, beberapa susu kotak stroberi dan kaleng yang telah habis isinya terbuang di keranjang sampah sebelah sofa yang dia duduki. Baekhyun memang mudah lapar jika tidak melakukan apapun, dia bahkan tak bisa fokus dengan film yang dia putar itu saking sibuknya dengan makanan-makanan itu. Apalagi setelah mengingat jika dia belum menyerap energi dari siapa pun semenjak sore kemarin. Uh, Baekhyun bahkan bertaruh jika berat badannya semakin bertambah saja karena tak bisa mengendalikan kebiasaan itu. Padahal sebelumnya dia berniat untuk diet, namun sepertinya hal itu hanya jadi mitos saja baginya.

"Tunggu sebentar." Baekhyun menilik dirinya terlebih dahulu sebelum membuka pintu apartemennya. Merapikan baju yang tengah dia pakai, meraih selembar tisu yang menyapukannya pada sekitar bibirnya untuk mengantisipasi jika ada remah-remah makanan disana. Seburuk apapun yang dilakukannya sebelumnya, setidaknya dia harus bisa terlihat baik di depan orang-orang yang akan ditemuinya nanti.

Langkahnya kemudian terbawa menuju pintu keluar—dan masuk- satu-satunya disana, setelah sebelum itu dia membuang tisu yang dipakainya tadi ke keranjang sampah. Lalu sekali lagi Baekhyun merapikan penampilannya, kali ini tatanan rambutnya. Kemudian tanpa menilik ke intercom, Baekhyun membuka kunci dan mengayunkan daun pintu untuk membukanya. Kedua matanya menatap heran pada kedua laki-laki yang di hadapannya. Satu laki-laki tinggi yang berdiri tepat di depannya, dan satu lainnya di belakang lelaki itu dengan beberapa kantong bawaan. Keduanya sama-sama mengenakan topi dan masker yang menutupi setengah wajah mereka, terlebih keduanya saat ini tengah menunduk. Baekhyun sama sekali tak bisa menebak siapa mereka.

"Baekhyun."

Namun sebuah suara bisikan yang mengarah padanya, membuat Baekhyun mengenali lelaki yang berdiri di hadapannya dari suaranya. "Sehun?"

"Biarkan kami masuk, Byun Baekhyuuun!" Satu suara lainnya mengikuti. Lelaki di belakang Baekhyun dengan barang-barang bawannya, masuk begitu saja tanpa perlu meminta izin dari sang pemilik apartemen. Kai meletakkan seluruh barangnya di atas meja, kemudian tubuhnya dia istirahatkan di sofa sembari kedua matanya menatap ke arah layar televisi yang memutarkan sebuah film. White House Down, Kai telah menonton film itu sebelum ini.

"Apa saja yang kalian bawa? Banyak sekali." Baekhyun bergumam menatap tiga bungkus plastik besar di atas mejanya.

Sehun datang dari belakang setelah menutup pintu. "Kai memintaku untuk membelikan ini semua sebagai permintaan maaf atas kejadian tempo lalu. Dan tepatnya lagi, Kai yang memilih semua ini. Aku yang membayarnya." Sehun merasa sangat dongkol saat mengingat hal itu, namun bibirnya tak lama membentuk sebuah seringai main-main saat melihat Kai yang nampak kelelahan. Salah sendiri dia memilih semua itu. "Dan Kai yang membawakan semua itu dari lantai bawah sampai kemari." Sehun menambahkan, kemudian ikut mendudukkan diri di samping Kai lalu dengan sengaja menumpukan semua beban tubuhnya pada Kai. Sementara Baekhyun memeriksa semua isi kantong itu, matanya berbinar senang melihatnya. Beberapa bahan makanan dan snack untuk persediaan hari-hari selanjutnya.

"Terimakasih, Sehun!" Dan dengan itu Sehun ikut tersenyum melihatnya, mengabaikan Kai yang mendesis disampingnya, merasa terganggu dengan beban tubuhnya.

Well, demi melihat senyuman itu, Sehun rela hingga dompetnya tak berisi sekali pun. Menghilangkan nama Kai untuk ikut campur di dalamnya tentu saja.

Asal itu ditujukan untuk orang yang dicintai, mengapa tidak?

.

.

.

TBC

.

A/N : Yoosh! Semalaman menyelesaikan bagian ini, jadi bagaimana? :v hoho, maaf atas perubahan dadakan ini. Kemudian maaf lagi atas tidak adanya momen ChanBaek disini. Saya hanya ingin menjelaskan semua masalah Chanyeol saja di bagian ini dan bagian selanjutnya kita mulai dengan momen mereka. Hoho!

Dan kemudian, author meminta maaf untuk beberapa hari –atau minggu- ke depannya karena bakal telat publish, author akan UAS untuk senin nanti.

And last,

Review please~

-Fazamy-