Title : Still Have All of Me
Genre : Hurt/ Comfort, Romance
Length : Chaptered
Cast : Kris, Tao, Chanyeol, Baekhyun, Suho, Lay
Warning : Yaoi, abal, typos, plot pasaran.
Please! Don't like don't read it!
.
Cinta bukanlah cerita yang selamanya akan berakhir bahagia. Saat kau kehilangannya, dibalik bukit yang ditumbuhi Krissan indah itu, seseorang tengah menantimu. Siap mengulurkan lengannya, dengan senyum tulus yang terkembang tanpa noda.
.
.
PLAKK!
Denyutan nyata Kris rasa membakar paras tampannya.
"ITU TIDAK SEPERTI YANG GEGE KIRA!" pikik Tao dengan uraian air mata. Tak sanggup lagi mendengarkan derai kata penuh bisa yang terlontar padanya.
Menggeram kesal, Kris sempat menyeka sudut bibirnya. Merasakan anyirnya darah bekas tamparan yang ia dapatkan, sebelum mendorong raga namja muda itu menghantam bekunya dinding dibelakangnya.
Satu hal yang ia lakukan setelahnya membuat Tao menjerit tak percaya. Meronta sekuat tenaga melepaskan diri dari belitan nyata penoreh luka dalam dada.
.
.
— Still Have All of Me —
chapter 3
.
.
"H-hentikan ge…" lirih Tao tak kuasa menahan derai tangisnya yang tak terbendung lagi. Menahan gerak jari-jari panjang Kris yang tengah mengoyak pakaiannya. Ketakutannya kian nyata kala bulatan kancing-kancing seragam yang ia kenakan mulai berjatuhan.
Kris mendengarnya, sangat jelas. Tapi ia tak peduli. Ia menulikan diri. Membiarkan bocah yang tiga tahun lebih muda darinya terisak ketakutan dalam kungkungan. Sengaja melakukannya, ia sendiri tak mengerti. Hanya bergerak mengikuti naluri.
"Gege!"
Bahkan pekikan demi pekikan tak menghentikan tiap gerakan yang ia lakukan. Seolah pheromone memabukkan yang menguar begitu saja, Kris justru terbuai dengan sendirinya. Hingga ia tak sadar, belahan bibirnya tengah mengecap manisnya leher jenjang sang namja yang tak kunjung terbebas dari belenggunya.
Aroma citrus yang melekat dalam indera penciumannya sungguh menggugah selera, menarik Kris kian dalam menginginkan apa yang tak pernah ternalar olehnya.
"Katakan padaku, berapa pria yang pernah tidur denganmu sampai saat ini…" bisik Kris dengan bibir yang tak berhenti menginfasi. Menjajah kulit selembut sutra asal negeri China itu menggunakan bibirnya.
Tao dalam satu sisi masih mencoba melepaskan diri, meski genggaman Kris pada kedua pergelangan tangannya kian erat tiap ia bergerak. Bibirnya tak berhenti bergetar, begitu pula tubuhnya yang menggigil ketakutan. Jamahan yang ia rasakan tak kunjung menghilang.
"Ge… hukss… hen… tikann…" cicit Tao untuk kesekian kalinya. Meski lagi-lagi Kris kembali mengabaikan permintaannya.
"Atau jangan-jangan… kaulah yang membawa mereka menaiki ranjangmu…" bibir tipis pemuda rupawan itu menyusuri rahang Tao. Dengan satu tangan yang melepas genggaman, jemari panjangnya beralih pada bidang dada namja dalam kuasanya. Mengusap perlahan seolah menggoda sang pemilik raga terhanyut akan sentuhannya. Tao menahan nafas kala jemari panjang pemuda itu nyaris menyelinap dibalik celana panjang yang ia kenakan.
"TIDAAAKKK!" pekiknya histeris, sekuat tenaga menghempaskan raga Kris menjauh darinya. Menciptakan jarak diantara keduanya.
Gaung yang tercipta dari jeritan namja muda itu menggema, berbarengan dengan tubuh Kris yang sempoyong terhuyung kebelakang.
Dengan tubuh gemetar Tao meringkuk dihadapannya, menggenggam erat kusutnya seragam yang tak lagi layak pakai, mencoba menutupi bagian privasi diri. Butiran permata layaknya air terjun Niagara tak henti diproduksinya.
Kris tertegun. Mata elangnya kian melebar kala mendengar tiap isakan yang Tao dendangkan. Ia hanya diam memandangnya. Tak berniat menenangkan, maupun menyentuh bocah yang tengah terisak ketakutan itu dengan kelembutan. Mulai melangkah pergi, meninggalkan Tao yang tersedu seorang diri. Menangisi moment teramat mengerikan yang telah terjadi.
Langkah pemuda itu terhenti di anak tangga ketiga, kelima jemarinya mengepal dengan sendirinya. Tak tahu mengapa bathinya bergolak tak seperti biasanya.
.
.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Tak heran jika keadaan kelas tidak seramai saat masih dilangsungkannya proses pembelajaran. Chanyeol yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya tak menyadari keadaan sekelilingnya. Tenggelam dalam romantisasi pesan tiada henti. Sesekali terkikik geli menerima balasan dari sebrang sana, sang namja yang menjadi poros hidupnya.
Menarik nafas panjang, merentangkan lengannya lebar-lebar, mengurangi kepenatan yang entah datang sejak kapan. Angin siang berhembus dari jendela kelas yang terbuka lebar, memaksa ia menoleh, memandang sosok manusia yang terbaca panca indera tengah berdiri memunggunginya. Ada yang aneh, Chanyeol tahu itu. Perilaku yang berbeda dari biasanya. Telah lama ia tak melihat sosok itu menghabiskan waktu memandang cerahnya cakrawala.
"Coba kutebak, telah terjadi sesuatu padamu," ujar Chanyeol memecah kesunyian. Melangkah perlahan tanpa memutus kontak mata pada touch screen ponsel dalam genggaman.
Tak ada balasan, Chanyeol memandangnya sesaat sebelum menyandarkan punggung lebarnya pada bingkai jendela.
"Aku mengenalmu jauh lebih baik dari dirimu sendiri Kris." tambahnya singkat.
Mendengus remeh, Kris sama sekali tak berniat menimpali, hingga ia teringat satu hal. Masih dengan memandang lurus pemuda itu berkata, "Kau baik sekali sampai mau mengantarkannya pulang."
"Maksudmu Tao? Yaaah… kemarin aku mengajaknya makan bersama, kuharap kau tak keberatan dengan hal itu."
"Bukankah sudah kukatakan padamu, lakukan apa yang kau mau bersamanya."
Satu kalimat itu membuat Chanyeol terbahak, menoleh pada diri Kris yang balas menatapnya, tak menyukai cara kawan karibnya itu melolongkan suara, seakan memberinya penekanan bahwa apa yang ia katakan pantas ditertawakan.
"Diam bodoh!" umpatnya kesal.
"Kau… ahahahaha… jangan bilang jika kau cemburu."
"Tsk! Gila!"
Chanyeol terpaksa menghentikan tawa kala handphone yang masih berada dalam genggaman menujukkan adanya getaran panggilan. Menghela nafas, diliriknya Kris sesaat sebelum menerima panggilan itu dari sosok yang dikenalnya.
"Yobosseo… iya ini aku, ada apa? Hmm… bocah kemarin? Maksudmu Tao?"
Mendengar satu nama yang keluar dari bibir Chanyeol mau tak mau memaksa Kris menoleh padanya. Mengamati raut wajah kawan karibnya yang tampak memikirkan sesuatu, sebelum menarik nafas panjang dan berujar tanpa beban, "Baiklah, aku mengerti. Sampai jumpa nanti malam, Suho…"
Maka dengan satu kalimat itulah, hentakan jantung Kris terpacu dengan sendirinya. Tahu pasti siapa sosok yang tengah berbincang dengan Chanyeol detik ini.
.
.
Bisikan rindu terbawa hembusan nafas itu. Meski melodi menenggelamkannya diantara tawa manusia lainnya. Lengkingan yang mendengung liar berpadu dengan hentak puluhan raga dihadapannya. Meliukkan diri dibawah siraman warna-warni lampu sorot diskotik terkemuka ini. Memandang nyalang sekelilingnya, Kris tak hanya sekali melemparkan tatapan nakal pada yeojya yang terjerat pesonanya. Merasa tak cukup hanya dengan dua wanita yang mengapit tubuhnya.
"Aiisshh… apa-apaan ini, baru kutinggal sebentar saja kau sudah membawa wanita di kursi kita. Astagaaa…"
Chanyeollah yang tengah memekik tak suka. Mendesiskan geraman sangar yang membuat dua yeojya itu menciut dihadapannya. Tak habis fikir, meninggalkan Kris hanya untuk menjemput sang kekasih di lahan parkir beberapa menit saja kini ia harus dihadapkan dengan yeojya nyaris tanpa busana yang menggelayuti kawannya.
"Tsk! Kau mengganggu…"
Kris sempat meremas pantat satu dari dua wanita itu, sebelum mereka pergi meninggalkan kursi yang Chanyeol pesan sejak siang tadi.
Seolah ini adalah hal yang lumrah dimatanya, Chanyeol hanya menggeleng prihatin. Menggantikan sang yeojya menempati bangkunya. Mengulurkan lengan menarik Baekhyun duduk di pangkuannya. Namja cantik itu sempat memberikan tatapan tajam pada Kris, meski hal itu tak berarti apa-apa dimatanya.
"Tao ie… ayo duduk…" pinta Baekhyun pada diri Tao yang mematung. Pemuda manis itu mengangguk ragu. Tempat semacam ini teramat asing dalam hidupnya.
Kris menatapnya sekilas, beralih pada dua sosok yang berdiri dibelakang punggung Tao. Terlebih satu sosok yang telah menorehkan luka dalam hatinya.
"Lama tidak bertemu Kris…"
Suho mengulas senyum tulus, mengulurkan lengannya sebagai bentuk sapaan wajar antar anak muda. Namun sial baginya, tak sedikitpun gerakan Kris yang memiliki minat menjabat tangannya. Seolah tak terjadi sesuatu, Suho kembali menarik lengannya. Masih dengan senyum yang tertoreh pada belahan bibirnya, ia bergabung dengan Kris dan yang lainnya. Dibelakang pemuda itu, Lay mengekor dengan kepala tertunduk.
"Kemarin kita sudah bertemu tapi aku belum sempat menyapamu, kau pergi begitu saja dari hadapan kami. Paman Siwon sehat-sehat saja kan?" sekali lagi Suho mencoba mengakrabkan diri. Kursi yang didudukinya tepat berhadapan dengan sang sepupu, mudah baginya bagaimana melihat reaksi namja tampan itu.
Namun hal itu terulang kembali, respon kosong ia dapati. Kris hanya memandangnya dalam diam, masih dengan ekspresi yang sama, teramat dingin bagi mereka yang sesungguhnya berada dalam ikatan saudara.
Lay yang duduk tepat disamping Suho bergegas meremas jemarinya. Meminta pada sang namja chingu berbesar hati dan tak lagi mengganggu pemuda dihadapannya. Mengerti makna tanpa kata yang ditujukan sang kekasih padanya, Suho menepuk lembut punggung tangan namja manis itu berkali-kali. Seolah memberinya arti, bahwa ia tak ambil pusing pada perlakuan Kris yang sesungguhnya memberikan lubang dalam hati.
"Kau membawa bocah itu kemari, kau pikir tempat seperti ini menyediakan susu untuknya?"
Kris sama sekali tak menyebut nama, tapi Chanyeol tahu kalimat itu ditujukan pada siapa.
"Kau pikir ini salah siapa, bukankah sudah kukatakan padamu akan membawanya bersamaku. Tapi kau bersikeras memaksa berkumpul ditempat seperti ini."
Sedikit kesal Chanyeol membalasnya, mengingat bagaimana dia emosi dalam percakapan yang keduanya lakukan siang tadi.
"Hnn… kau bahkan sekarang terang-terangan membawa selingkuhanmu bersama kekasihmu."
Sekali lagi Kris membuat urat-urat kekesalan Chanyeol tercetak jelas. Baekhyunpun sempat menoleh, menajamkan telinga, memasang mata pada percakapan yang tengah menyeret statusnya.
"Kau benar-benar… tsk! Lupakan, aku akan bersenang-senang. Awas jika kau membawa wanita nyaris tanpa busana itu kembali!" pemuda itu mengancam sebelum menyeret sang kekasih turun kelantai dansa.
Kris hanya memutar bola mata, merasa konyol mendengar ancaman picisan yang teramat menggelikan dari kawan karibnya.
Melayangkan pandangan pada sekitar yang sebelumnya terabaikan, Kris melihat bagaimana Tao menolehkan kepala kesana-kemari. Khas bocah yang baru menginjakkan kaki di bumi yang tak pernah dijajahi. Dan lihat apa yang tersaji di hadapan bocah polos itu, sebotol cola.
Ck! Yang benar saja!
Darimana Chanyeol mendapatkan minuman semacam itu ditempat seliar ini?
"Bagaimana keadaanmu?" Suho kembali mengawali percakapan. Berbeda dari sebelumnya, sang lawan bicara kali ini merespon kata-kata yang dilayangkannya.
"Aku baik-baik saja sunbae."
"Jangan memanggilku sunbae, kau bisa memanggilku Suho hyung. Aku dengar dari Chanyeol kau juga berasal dari China, apa itu benar?"
Tao mengangguk polos, membenarkan pertanyaan Suho yang ditujukan padanya.
"Kebetulan sekali ya Lay…" gumam Suho seraya memperhatikan sang kekasih yang tak juga menunjukkan wajahnya.
"Hey… aku sedang berbicara denganmu." tambahnya lagi.
Merasa bersalah, Lay bergegas mengangkat kepala. "Mianhae…" ucapnya sembari balas memandang Suho yang tak juga melenyapkan senyum tulus dari belahan bibirnya.
Pemuda bermarga Kim itu tak mengatakan apapun, hanya mengelus surai lembut Lay seraya menenangkannya.
Tao yang melihat romansa penuh cinta dihadapannya bergegas mengalihkan perhatian. Wajahnya memanas dengan sendirinya. Melihat bagaimana Suho memperlakukan Lay selembut butiran mutiara.
Tak sengaja, Tao menatap Kris yang tengah menggeretakkan giginya. Namja penyuka panda itu seketika merasakan amarah terpendam sang pemilik onyx kelam, tepat sebelum pemuda itu membawa kaki jenjangnya meninggalkan kursinya begitu saja. Entah kemana tujuannya, punggung Kris menghilang dibalik kerumunan orang.
Menghela nafas, Tao kembali mengarahkan sorot matanya pada kursi yang Suho duduki. Mengerjab heran bagaimana pemuda itu secepat ini turut menghilang dari pandangan. Menyisakan sosok Lay yang terdiam menyelami paras manisnya.
"Kau mencari Suho? Ada barangnya yang tertinggal dimobil. Dia pergi untuk mengambilnya. Oh iya… kudengar dari Baekki, kau itu calon tunangan Kris."
Tao tak tahu harus berkata apa. Mencoba menundukkan kepala tapi ia tak bisa. Tatapan Lay sama sekali tak mengintimidasi, tidak sopan jika ia tak balas memandangnya.
"Kris beruntung mendapatkanmu. Kau terlihat begitu polos dan menggemaskan." Lay terkekeh samar. Berbeda dengan Tao yang merasakan goresan luka tepat hatinya.
"Dia tidak beruntung sunbae… dia baru beruntung jika bisa mendapatkan orang yang dicintainya."
Kalimat itu teramat halus, namun memiliki kesan mendalam yang hanya Lay pahami. Terbukti dari bola matanya yang melebar sempurna. Seolah ia kembali dihadapkan pada dosa yang telah diperbuatnya.
"Aku akan menyusul Suho, tunggulah disini dan jangan kemana-mana. Tempat ini berbahaya untukmu Tao…"
Dan dengan baitan kata itu, Lay meninggalkan Tao seorang diri. Berbeda dari apa yang diucapkannya, Lay justru membawa kakinya melangkah mencari udara segar, yang sanggup mendinginkan segala macam pemikiran yang berkecamuk dalam isi kepala.
Kini angin malam menerpa tubuhnya. Menusuk raga itu melalui sekat-sekat pakaian yang ia kenakan. Taman kecil disisi barlah yang menjadi pilihannya melepas lelah. Pemuda itu memejamkan mata, menghirup wangi Omixochitl yang semerbak dimalam hari.
"Kau tak berubah sedikitpun."
Tubuh itu menegang, seiring dengan lantun kata yang Kris lontarkan. Lay sama sekali tak menyadari sosoknya yang tengah menyadarkan punggung pada dinding bar. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa, maka hanya dengan balasan, "Kau yang banyak berubah…" Lay merespon kalimatnya.
Pemuda itu mengira-ngira kalimat apa yang akan Kris ucapkan setelah ini. Lama menunggu, ia hanya dihadapkan pada kebisuan namja tampan itu.
Meski pada kenyataannya, Kris terdiam hanya untuk menyelami wangi tubuh Lay yang tengah memunggunginya. Harum ini… bahkan sampai saat ini Kris masih bisa merasakan kelembutannya, kehangatannya, dan kenyamanan yang tak berubah dari masa sebelumnya. Kris ingat bagaimana dulu candu memabukkan dengan mudah ia dapatkan. Hanya dengan wangi ini, ia tak memerlukan marijuana, maupun barang haram lainnya.
"Kau tak mau mengatakan sesuatu?" Lay berujar lirih, sedikit gemetar pada pelafalan dalam perkataan yang ia tanyakan.
Dibelakangnya, Kris diam-diam menutup mata. Menyimpan dalam-dalam melodi syahdu yang keluar dari belahan bibir sang cinta pertama. Ini indah, dan mungkin tak akan berubah.
"Setidaknya maki aku, atau pukul aku dengan kedua tanganmu…" tak hanya bibirnya yang bergetar, tubuhnya turut menggigil entah karena apa.
"Apa itu akan mengembalikanmu padaku seperti dulu?"
Hening…
Lay terdiam, begitu pula Kris yang setia menunggu jawaban. Sampai gelengan samar namja manis itu tertangkap indera penglihatannya.
"Apa aku pernah menjadi milikmu?" ia justru bertanya.
"Tak kusangka kau memungkirinya…" sekali lagi Kris menekan gemuruh dalam dada, yang menggebu, membutuhkan sesuatu sebagai bentuk pelepasan beban jiwa. Jika saja, jika hati pemuda tampan itu tak mengikat tubuhnya untuk menjaga namja yang masih dicintainya, sudah ia hancurkan sosok manis itu menggunakan kedua tangannya.
"Siapa yang kau katakan memungkiri?" Lay berbalik, menatap tajam namja tampan itu tepat pada mata elangnya. Menarik nafas kuat, "LIHATLAH REALITA DENGAN HATIMU, BUKAN DENGAN MATAMU! KAPAN KAU MEMINTAKU MENJADI MILIKMU? KAPAN? KATAKAN PADAKU! APA KAU PERNAH MENGATAKANNYA? APA KAU PERNAH MENGUCAPKAN KATA CINTA PADAKU? KAU MEMBUATKU MENUNGGU SEKIAN LAMA TANPA KEPASTIAN! KAU MEMBUATKU BERHARAP TERLALU BANYAK. DEMI TUHAN KRIS… AKU LELAH… AKU… lelah…" sebelum memekik dibawah langit malam tanpa bintang. Tersedu, mencipta bulir-bulir panas yang hilang teresap tanah pijak itu.
Ini lebih mengerikan dari yang Kris bayangkan. Kembali mengingat apa yang terjadi pada masa-masa yang telah terlewati. Menyelami hari yang terekam jelas dalam hati. Menggunakan akal memilah untaian peristiwa bersejarah dalam hidupnya. Taman kanak-kanak, Lay, Chanyeol, dan Baekhyun yang pertama menjadi temannya. Tumbuh besar bersama, tawa, cinta yang tumbuh tanpa dapat dicegahnya, perkelahian konyol yang tak sekalipun berakhir menjadi duri dalam jiwa. Sampai Suho datang merusak segalanya.
Kris tercekat.
Itu… benar!
Sekalipun, sekalipun ia tak pernah mengucapkan kata cinta. Satu-satunya hal yang mendasari kebersamaan mereka hanyalah ikatan persahabatan. Tak lebih dari itu!
Kris tertohok, sebelum melengkungkan senyum miris berbarengan dengan tawa yang terasa membakar hatinya. Merasa konyol bagaimana mungkin Lay tak menyadari tatapan penuh kasih yang ia tujukan untuknya. Lalu ia anggap apa hubungannya dengan Kris selama itu? Perhatian berlebihan antar teman?
Hell!
Jangan mengada-ngada!
Lay merasakan sayatan dalam hati yang ia miliki. Melihat seberapa dalam luka yang ia goreskan pada namja tampan ini. Tawa itu kentara dengan rasa putus asa yang menggerogoti jiwa. Tergesa membawa langkahnya, menerjang tubuh tegap Kris yang tak juga menghentikan tawa. Merengkuhnya erat. Meredam tawa pemuda itu diceruk lehernya.
Lay sendiri tak mengerti mengapa ia sampai memeluk Kris seerat ini. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Menuntunnya tanpa peduli status dan keadaan yang menjerat keduanya. Dia sempat merasakannya, sepersekian detik raga itu gemetar dalam dekapnya. Itu lumrah, mengingat sekian pergantian tahun memisahkan keduanya terlalu lama. Sampai lengan kekar Kris melingkar dipinggangnya, merapatkan diri tanpa jarak barang sesenti.
"Maafkan aku…"
Hanya satu kata itu yang Lay ucap. Mewakili jeritan jiwa akan rasa bersalahnya. Tentu dia tahu, menyadari, dan melihat dengan mata kepalanya sendiri perubahan drastis yang Kris alami. Dialah penyebabnya, alasan pertama beban yang membebani jiwa. Terlebih… dia tak berada disisi Kris disaat pemuda itu kehilangan poros hidupnya, sang umma. Memikirkan itu membuat Lay merasa tak berguna.
Kreek…
Patahan ranting rapuh terbengkalai menyita perhatian namja manis itu. Gemeretak sepatu yang menginjaknya menjadi pusat perhatiannya. Pelan, ia mengangkat kepala. Menyusuri jenjang kaki itu sampai tiba pada paras rupawan yang membuat hatinya tercekat seketika. Lay panik bukan main, terlihat dari sorot matanya yang berbeda. Tergesa memutus pelukan hangat Kris hingga membuat namja tampan itu menatapnya bertanya-tanya.
"Suho… a-aku bisa jelaskan…" gumam Lay terbata. Membawa kakinya menghampiri keberadaan sang kekasih saat ini. Air mata tak berhenti ia produksi, kalut pada apa yang kini tengah menghantui.
Kala ia sampai tepat dihadapannya, Lay menggenggam erat kemeja depan pemuda itu. Memandangnya dalam-dalam. Mencoba mengantarkan penjelasan penuh perasaan meski tanpa bicara sepatah kata.
"Tidak apa-apa… aku mengerti. Aku percaya padamu," ujar Suho memecah kebisuan.
Diusapnya sisi wajah Lay dengan gerakan teramat lembut. Menghapus butiran permata yang turut melukai hatinya. Sekalipun Suho tak pernah rela melihat namja yang dicintainya meneteskan air mata.
Bukannya berhenti menangis, Lay justru terisak kian keras. Selalu jatuh dalam lubang yang sama, alasan yang membuat ia begitu gila mencintai namja tampan ini. Ketulusannya, kepercayaan yang melebihi segalanya, hingga Lay takut, sangat takut apabila ia dianggap hina merusak kepercayaan yang Suho berikan.
"Sssstt… jangan menangis lagi." lengan pemuda itu terulur tanpa ragu, mendekap raga Lay dengan kehangatan yang tak dapat terkatakan.
"Aku mencintaimu… aku mencintaimu…" gumaman sama berkali-kali Lay dengungkan. Menenggelamkan paras berurai air mata itu dalam bidangnya dada sang kekasih tampan.
Suho hanya mengulas senyum tipis, mengeratkan lengan yang membelit raga itu dalam dekapnya.
"Aku tahu…"
.
.
Tao menatap ngeri pada diri Kris saat ini. Sekembalinya pemuda itu beberapa menit lalu entah berapa botol vodka yang mengaliri tenggorokannya. Seolah tak ada hari esok, tegukan demi tegukan terus ia lakukan. Membakar raga itu dalam panasnya kadar minuman beralkohol yang tengah ditenggaknya.
Pemuda itu hanya menginginkan satu hal, melupakan apa yang telah ia lihat. Tak sudi mengingat kembali bagaimana Suho dan Lay terlihat begitu serasi. Dua orang itu benar-benar…
Praakk…
Tao memekik kaget, melihat kucuran darah segar mengalir deras dari buku-buku jari Kris. Gelas kaca yang berada dalam genggamannya hancur berkeping-keping. Pemuda besurai pirang itu hanya memandang dingin luka ditangannya.
Berbeda dengan Tao, namja manis itu panik bukan main. Tergesa menyambar tumpukan tisu meja dihadapannya, menghampiri Kris seketika itu juga. Menyambar lengan itu hati-hati. Menjadikan pahanya sebagai tumpuan lengan kekar sang namja yang lebih tua. Tak peduli pada geraman samar yang Kris umbar.
"Astaga Kris! Apa yang terjadi denganmu?"
Saat itulah Chanyeol datang dengan pekik keterkejutan yang ia suarakan. Melihat bagaimana kondisi mengerikan Kris saat ini. Vodka itu benar-benar membawa kesadarannya mengambang diudara. Terlebih telapak tangannya yang basah oleh kentalnya darah.
.
.
"Ughh… kau benar-benar berat Kris…"
Chanyeol mengeluh pelan, terhuyung membawa tubuh Kris yang kehilangan kesadaran, entah berapa botol minuman keras yang dihabiskannya. Chanyeol tak habis pikir, seliar apapun Kris diluar sana, ini pertama kali baginya melihat pemuda itu melakukan hal sebodoh ini.
"Hati-hati ge…"
Dibelakangnya, Tao sebisa mungkin membantu seniornya itu.
"Aaaahh… bahuku…"
Chanyeol bergumam lega sesaat setelah memastikan tubuh Kris tertidur di ranjangnya. Menarik nafas panjang, menyandarkan punggungnya pada dinding kamar pribadi sang namja pirang.
"Maaf sudah merepotkan gege."
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kau istirahat sekarang, ini sudah terlalu malam."
"Tapi Kris gege—"
"Aku yang akan menjaganya, kau tenang saja. Lagipula disaat seperti ini aku tak bisa membiarkanmu sendirian merawatnya."
"Eeh… kenapa?"
"Bagaimana jika dia melakukan sesuatu padamu humm?"
"Sesuatu…"
"Nah! Coba kutebak, dia pernah melakukan sesuatu padamu. Benar begitu?"
"T-tidak! Itu… tidak benar…" Tao memutus tatapan keduanya begitu saja. Mencoba menyembunyikan semburat merah pada kedua pipinya. Meski hal itu tak berlangsung lama, saat Chanyeol malah memajukan wajahnya. Mencari celah mengamati perubahan ekpsresi yang terjadi padanya.
Tak lama, kekehan geli Chanyeol menggema ditelinga. Teramat gemas pada gembungan pipi yang Tao lakukan detik ini.
Baik Tao maupun Chanyeol tak ada yang menyadari, Kris tak sepenuhnya menutup mata pada apa yang terjadi dihadapannya.
.
.
Bara api tepercik dalam hati. Membutakan nalar yang menumpulkan akal. Tak ada tutur kata yang dapat menjabarkan perasaannya. Itulah yang Kris alami saat ini. Segala hal yang terlihat dimatanya terasa salah. Amat salah.
"Kris…"
Pemuda itu menatap punggung Baekhyun. Memandang kosong si pemilik paras cantik yang tak lelah menarikan jemarinya diatas tuts-tuts piano. Entah berapa lama sejak Chanyeol meninggalkan keduanya dalam ruangan yang sama, hasrat Baekhyun mendendangkan melodi tak juga sirna. Ruang musik memang tempat favorit namja ayu pemikat hati itu.
"Hei… kau mendengarku?"
"Hnn…"
"Lalu apa kesanmu padanya?"
"Siapa?"
"Tsk… Tao, pabbo! Sudah kuduga daritadi kau tidak mendengarkanku." Baekhyun menoleh kesal. Menghentikan sejenak gerak jemari lentiknya. Bibirnya berkedut lucu, menahan umpatan sebal yang urung ia lontarkan.
Kris terdiam. Hanya sesaat, sampai bibir itu berucap, "Pengganggu…"
"Yah! Hanya itu?" jawaban singkat Kris membuat Baekhyun mendelik tak terima.
"Apalagi?"
"Kau itu bodoh atau apa, lihat dengan jelas! Tao itu manis, menggemaskan, dan demi Tuhan dia polos sekali. Siapapun dengan senang hati mau menggantikan posisimu saat ini Kris."
"Termasuk Chanyeol?"
"Mwo?"
"Sebesar apa rasa percayamu padanya?" Kris kembali bertanya. Membawa kaki jenjangnya melangkah mendekati diri Baekhyun yang tengah memandang aneh padanya.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?"
"Kau tak takut dia bermain dibelakangmu?"
"Heii! Yeolli tak mungkin melakukannya! Aku tahu dan percaya padanya."
"Hhh… naif…" cibir Kris sinis.
"Kau ini bicara apa sih Kris?" Baekhyun yang tak mengerti arah pembicaraan namja tampan itu hanya memandangnya kesal.
"Mau mencobanya denganku?" masih dengan tatapan yang berbeda dari biasanya Kris mulai mencondongkan tubuhnya. Mempersempit jarak diantara keduanya.
"Haah…?"
"Kau pasti akan menyukainya." satu senyuman Kris berikan.
"K-Kris… apa yang…" menyadari sosok dihadapannya bukan lagi Kris yang sama, Baekhyun mulai waspada.
"Bermain hanya dengan Chanyeol membuatmu bosan bukan?" bisik Kris seduktif. Menjilat sekilas daun telinga Baekhyun, membuat raga namja cantik teman sebayanya itu bergetar seketika.
"Kau gila! Menyingkir dariku Kris!" lengan ramping Baekhyun mencoba membentengi diri. Menegakkan tubuhnya, hendak menyelamatkan diri dari ketidakwarasan yang terjadi pada namja tampan ini.
Braakk…
Dan tentu Kris tak membiarkan sosok itu kabur darinya. Hanya dengan sekali hempas punggung Baekhyun menghantam badan piano yang tadi ia mainkan. Menciptakan derit pilu yang menghiasi lantai bisu itu.
"Sakit! Kau menyakitiku Kris!" jerit Baekhyun meluapkan amarahnya. Ia yakin kini punggungnya memar.
"Diamlah..."
"Lepaskan aku!"
Baekhyun tak berhenti bergerak, terus meronta. Meneriakkan nama Kris berkali-kali. Berharap pemuda itu sadar pada apa yang diperbuatnya. Melihat perbandingan tubuh keduanya, tentu Baekhyun tak dapat melakukan apa-apa, hanya mampu menolak dengan tenaga yang tak seberapa.
"Kulitmu benar-benar indah Baekki..."
Tangis Baekhyun tak tertahan saat bibir Kris mulai menjamah bahunya. Menyingkap seragam yang Baekhyun kenakan. Membasahi titik yang biasanya hanya Chanyeol jamah menggunakan salivanya. Kris bahkan sampai hati menggigit dan menyesapnya. Meninggalkan jejak merah keunguan yang membuat Baekhyun tak tahan untuk tidak mengerang. Menahan sakit pada hati dan tubuhnya.
"Hiksss… Hentikan Kriss… Jebal, hen— tikan…"
.
.
TBC!
.
.
Saya buru-buru, no edit, dan saya yakin banyak banget typos dichapter ini.
Balesan reviewnya chapie depan ya *bow dalem-dalem*.
Mrs. EvilGameGyu, parkleestan, Fly21, NanaFujoshi, Yooooona, ajib4ff, Riyoung kim, meyy-chan, Viivii-ken, Time to Argha, Jin Ki Tao, 13ginger, Guest, evilkyvng, diitactorlove, putchan, PrinceTae, mademoiselle, KecoaLaut, , teresia tea, Qhia503, vickykezia23, paprikapumpkin, NicKyun, KyuKi Yanagishita, TAO bbuingbbuing, Guest, blackwhite28, Riszaaa.
Thank you ^_^
