Halo min'na, saya Reza.. panggil saja Erza.. disini, saya akan melanjutkan ceritanya si Vega.. Maaf kalau telat update.. Speedy sedang ngajak ribut.. TT^TT Oh ya, satu lagi.. karakter dari TWEWY mungkin akan saya selipkan disini.. jadi, jangan kaget ya.. -slap- Here you go~ My Friends are my Power! And I'm theirs! Chapter 4: tertinggal gara-gara Narsis. Kingdom hearts bukan punya saya.. kalau punya saya, para perempuannya akan saya hapus dari alur.. -slap- Genre: Friendship, Humor. Rate: T A/n: udah tuh diatas.. *nunjukkeatas-abaikanyangini-* Roxas P.O.V Hari ini, kami aku Sora, Ventus, Vanitas dan Riku akan menjenguk Terra yang sedang di rumah sakit. "Kak Axel!" panggilku. Kulihat ada seseorang dari arah kamar mandi. "KAK AXEL!" ulangku. "Ah! Ada apa?" sahut kak Axel saat menyadari kalau aku yang memanggilnya. "Minta uang dong.." ucapku dengan nada sedikit bercanda. Kulihat kak Axel memanyunkan bibirnya. "Berapa?" tanyanya. "Buat ongkos.." jawabku. Kak Axel merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa uang lembar. "Nih! Cukup kan?" tanyanya lagi Seraya menyerahkan beberapa uang lembar. "Yup! Ini juga udah cukup buat beli buah-buahannya juga.." jawabku sambil menyengir lalu kabur dari situ karena kujamin kak Axel akan marah kalau tau tujuanku. Hahaa, aku memang sangat senang kalau mengerjainya. Kuambil kunci motorku lalu melesat begitu saja ke Twilight Station karena, kami akan berangkat ke Hollow Bastion Hospital bersama. Setibanya, kulihat Sora sedang mengutak-atik jam tangannya. aku membunyikan klakson motorku. Din Din Sora menoleh kearahku. "Roxas!" serunya. Aku tersenyum lalu turun dari motor. "Mana yang lain?" tanyaku. "Aku tidak tau.. mungkin belum berangkat.." jawab Sora singkat. Kami diam sejenak. Tiba-tiba, Ven datang dengan kecepatan penuh. Sraaakk! Suara gesekan dari roda motor dengan tanah terdengar. "Yuhuu! Menang lagi!" seru Ven sambil membuka helmnya. Kemudian, disusul Vanitas dengan kecepatan biasa. "Huh.. kau itu.." gumamnya kesal lalu membuka helm hitam-merahnya lalu menatap kami. "Ho, rupanya kalian sudah datang toh.." tambahnya. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. "Dari tadi.." celetuk Sora lalu kembali pada aktivitasnya sendiri. Vanitas hanya menghela nafas sebal. "Mana Riku?" tanyanya kepada Sora. "Entahlah.. dia bilang,, dia akan langsung pergi ke HBH.." jawab Sora lalu mengegas motornya. "Kau mau kemana?" tanyaku. "Hanya encoba membuat keberisikan.." jawab Sora sambil menyengir. "Mana buahnya?" tanyaku lagi. "Tadi dibawa Vani.." jawab Ven. "Enak saja! Aku tidak membawa apapun!" Vanitas sewot duluan. "Ada di Riku.." ucap Sora. "Demyx tidak ikut?" tanya Vanitas. Aku menggeleng. "Dia ada urusan.. jadi, dia hanya menitipkan salam untuk Terra.." jelasku. "Jadi.. kita disini mau ngapain?" tanya Ven. "Aku dan Sora hanya menunggu kalian.." jawabku. Ven dan Vanitas saling bertatapan. Mereka tersenyum sebentar lalu menyimpan helmnya. "Ayo! C'mon!" ucap Ven lalu masuk ke dalam Twilight Station. Kami akan berangkat menuju kesana pukul 10:00. "Masih ada waktu nih! Mau kemana?" tanya Sora. "Beli makan yuk!" ajak Ven. "Oke.. sekalian cadangan buat di kereta nanti ya.." timpal Vanitas. Lalu, kami pergi ke tempat resto yang terdekat disitu. Aku membeli Sea-Salt bersama Sora lalu membeli beberapa makanan ringan. Sementara Ven dengan Vanitas sedang membeli Orange ice dan beberapa biscuit dengan Roti untuk camilan. Sisa waktu kami menjadi beberapa menit lagi. "Eh, udah mau jam 10:00 nih! Ayo kembali ke Station!" ajak Sora sambil menatap jam tangannya. kami langsung kembali ke Station dengan kecepatan penuh. Normal P.O.V Setibanya, mereka-Sora, Roxas, Ventus dan Vanitas-langsung turun dari gerbong kereta. "Fuh! Nah, sekarang cari rumah sakitnya! Sora, apa kau tau?" tanya Roxas kepada Sora. Sora langsung menatap Hp-nya. "Di dekat Hollow Bastion Center.." jawab Sora. "Got it! Sekarang, ayo pergi!" ujar Roxas lalu mereka berjalan menuju HBC a/n: huruf C-nya bukan Committee ya.. dengan berjalan kaki. Karena, letaknya dekat dengan HBS. Setibanya di HBH Hollow Bastion Hospital dan tanpa ba-bi-bu lagi, mereka masuk lalu bertanya kepada Suster yang sedang lewat disitu. "Terra ada di kamar nomor 4 lily.." ucap Sang suster. "Terima kasih.." ucap Sora lalu dia menyusul ketiga temannya yang sudah berjalan meninggalkan dirinya. Setibanya di kamar Terra—nomor 4 Lily—Ventus mengetuk pintu kamar tersebut. "Permisi!" serunya. Tiba-tiba, pintu kamar tersebut terbuka. Terlihatlah wajah seorang wanita cantik dengan berambut biru, dan berbola mata biru terang. "Aqua?" pekik Vanitas dan Ventus bersamaan. "Eh? Kalian juga kemari?" tanya Aqua agak kaget. Duo V—a/n: author lagi males nyebut nama mereka berdua.. agak ribet sih—itu mengangguk dengan mantap. "Nah, Terra ada didalam.. ayo masuk!" ucap Aqua lembut. Dengar-dengar sih, kalau Aqua dan Terra itu sudah berpacaran dan sudah menjadi sepasang kekasih yang, well.. romantiiss—Author lebay deh—di hadapan orang-orang. Bahkan, Vanitas agak iri dengan mereka berdua. "Loh, mana Riku?" tanya Sora sesaat mereka berada didalam kamar Terra. "Riku tadi sudah datang.." ucap Terra. "Ouh.. how are you, Terra?" tanya Sora. "I'm good thanks.." jawab Terra agak lemah. "Hei.." sapa seseorang dari luar. Semua orang yang ada disitu menoleh keasal suara tersebut. "Eh, Demyx?" pekik Roxas. Pemuda yang berpostur tubuh tinggi, dengan rambut blond, dengan sebuah Sitar di punggungnya, Demyx, dia datang bersama Tidus, Wakka, Cloud, dan Rhyme. "Cloud?" pekik Terra tak percaya. Cloud, ketua OSIS—yang selalu sibuknya mintaampun—datang menjenguknya. Dia juga sebagai anak orang terkaya di sekolah mereka. "Ada apa?" sahut Cloud yang agak kurang nyaman dengan tatapan mereka. "Ah.. tidak ada apa-apa.." sahut Terra. Cloud hanya diam. "Eh, Rhyme.. kau juga kemari?" tanya Aqua dengan senang. "Ya!" jawab Rhyme sambil tersenyum. Aqua membalas senyuman Rhyme. Dia berdiri lalu membawa Rhyme keluar kamar Terra menuju suatu tempat. "Mereka kenapa?" gumam Vanitas. "Entah lah.. mungkin karena mereka berdua perempuan sendiri disini.." sahut Ventus. Demyx berjalan menuju quarter group yang sedang mengelilingi Terra. "Hei.. aku mau memainkan Sitar.. boleh?" tanyanya. Terra mengangguk. "Terima kasih.. kebetulan, aku mempunyai lagu special untukmu, Terra.. tentang hubungan kau dengan Aqua.." ucap Demyx dan disusul tawa kecil darinya. Dia mulai memainkan sitarnya. Lagu tersebut mengalun indah. "Judulnya, pasti Where'd you go My First Love?" tebak Sora saat Demyx selesai memainkan Sitar-nya. "Ya.." ucap Demyx. "Kau tau darimana?" tanyanya. "Hum? Kakakku punya lagu itu.. dan memainkannya secara berkali-kali.." jawab Sora sambil melipat tangannya dibelakang kepalanya. "Oh.. eh, Demyx.. kau bilang, kau tdak ikut menjenguk Terra?" tanya Roxas. "Ini karena permintaan dari Cloud, Wakka, Tidus, dan Rhyme.. dan arena mereka memaksa, jadinya aku ikut juga.." jawab Demyx sambil menaruh Sitar-nya di punggungnya. Dia memang senang menaruh Sitar biru itu di punggungnya kalau sedang dibawa kemana-mana. "Oh.. begitu.." gumam Sora. "Ah! Kawan-kawan! Aku punya kabar baru untuk kalian semua!" teriak Rhyme tiba-tiba Semua orang yang ada di kamar Terra, hampir kena serangan jantung karena teriakkannya. "Aqua suda-mph!" perkataan Rhyme terpotong karena Aqua sudah membungkam mulutnya. "Ada Rhyme?" tanya Tidus. "Ada apa dengan Aqua?" timbrung Wakka. "Ah.. tidak ada apa-apa kok!" jawab Aqua. "Diam kau!" ucapnya seraya berbisik kepada Rhyme. Rhyme mengangguk. "Apa aku boleh bermain dengan Moogle?" tanyanya dengan wajah cemberut. Aqua mengangguk. "Boleh.. tapi jangan lama-lama ya.." ucapnya. Perilaku Rhyme—di cerita ini—memang seperti anak-anak. "Hampir saja.." desah Aqua pelan. "Eh, aku pulang dulu ya!" ucap Cloud tiba-tiba. "Eh? Kok cepat sekali?" tanya Terra. Cloud tersenyum. "Aku masih ada PR dan pekerjaan OSIS yang lain.. dah! Kapan-kapan aku akan kemari lagi.." jawab Cloud lalu pergi meninggalkan kamar Terra. Beberapa menit kemudian, "Eh? Sudah jam 7 malam?" pekik Sora sambil melihat jam tangannya. "Ah! Iya! Err.. Terra, maaf ya, kami harus pulang dulu!" ucap Roxas yang mewakili teman-temannya untuk berbicara. Terra mengangguk. "Ya.. datang lagi ya!" ucapnya. Maka mereka—Roxas, Sora, Demyx, Tidus, Wakka, Rhyme, Ventus dan, Vanitas—pulang bersama menggunakan kereta. Mereka tiba di Twilight Station pukul 10:30. Perjalanan dari Hollow Bastion ke Twilight Town agak lama. Setelah itu, Sora, Roxas, Ventus, dan Vanitas langsung pergi ke tempat parkir motor lalu mengambil kendaraan mereka masing-masing lalu pergi ke rumahnya masing-masing.

Besoknya..

Sora bangun pukul 05:00. Satu jam lebih pagi dari biasanya. "Hum.. masih pukul lima.. mau ngapain dulu ya?" gumamnya seraya mengambil buku novel yang berjudul 'The Hunger Games' lalu membacanya. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.

'You're giving me, too many things lately, you're all I need. Oh yeah, you smile at me.. and say.' Dilihatnya siapa yang meng-SMS-nya sepagi ini. Ternyata, Roxas yang meng-SMS-nya. Isinya, 'Aku akan mengajak kalian ke The World That Never Was.. pada jam 08:00.. tapi, kau kerumah ku dulu.. ikut ya?' Sora menghela nafasnya lalu membalas SMS itu. Setelah membalas, Sora melanjutkan aktivitasnya yaitu, membaca buku Novel kesukaannya itu. Beberapa menit kemudian, Yuu masuk kedalam kamar Sora. "Hoi!" serunya yang—hampir—membuat Sora jantungan. "Ah! Nee-chan! Berhentilah untuk mengejutkan orang!" ucap Sora jengkel. Sebenarnya, dia sudah agak muak dengan prilaku Yuu yang—hampir—selalu membuat telinganya hampir budek dan nyaris jantungan. "Tinggalkan aku sendiri.. nee-chan.." ucapnya dengan kesal. "Ho.. begitu.. kalau begitu, kau tidak mau makan Macaroni keju panggang?" ujar Yuu lalu meninggalkan kamar Sora. "Eh? Macaroni keju? Aku mauu!" seru Sora sambil belari kea rah dapur. Macaroni keju adalah makanan kesukaannya. Saat hampir pukul 08:00, Sora segera bersiap-siap untuk ke The World That Never Was. Memakai pakaian yang bertumpuk-tumpuk—ini menurut author loh..—lalu meraih kunci motornya dan melesat pergi. Setibanya di rumah Roxas, Sora melihat Roxas, Axel—kakak Roxas— yang sedang mengatur sesuatu di halaman depan, Ventus, Vanitas, dan Riku. Menyadari ada seseorang yang datang, Roxas langsung menoleh kearah gerbang. "Sora!" serunya girang lalu belari menghampiri Sora yang sedang mematikan mesin motornya. "Eh.. aku tidak telat kan?" tanya Sora dengan nada yang aneh. Roxas menggelengkan kepalanya. "Kak Axel baru men-setting gummy ship sebagai transportasi kesana.." ucapnya sambil memberikan Sora senyuman yang sangat manis. Wajah Sora memerah seketika. Dia berusaha menyembunyikan semu merahnya dari tatapan Roxas. Semenit kemudian, Roxas menariknya ke arah Axel yang sedang men-setting Gummy Ship bersama Ventus. Ventus terkenal dengan kepintarannya akan men-setting computer dan yang lain yang berhubungan dengan menggunakan bahasa computer lainnya. "Ho.. Srupanya Sora ikut ya.." gumam Vanitas saat melihat Roxas menarik tangan seorang pemuda yang tak asing lagi di pandangannya. Riku menoleh kearah Roxas. "Nah! Selesai!" ucap Ventus dengan senang sementara Axel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal atau lebih tepatnya, bingung dengan pengetahuan Ventus tentang bahasa computer. "Eh? Cepat sekali.." gumam Roxas. Ventus menatapnya dengan senyuman. "Kan aku yang men-setting!" ucapnya bangga. Roxas menatap Axel dengan sedikit pandangan yang meledek. "Huu.. kemanakah kakakku yang katanya pandai dalam men-setting Gummy Ship itu?" ucapnya dengan nada bercanda sambil menatap kearah berlawanan. Axel agak kesal tapi dia tertawa lepas karena tau bahwa adiknya, Roxas, sedang meledeknya. "Ah.. Sorry, Roxy! Kakak sudah lupa bagaimana cara men-settingnya.." ucapnya sambil mengembalikan peralatan yang digunakan olehnya untuk men-setting Gummy Ship. Tapi Roxas masih menatap kearah yang berlawanan. Axel menghela nafasnya. "Sudahlah.. jangan dipikirkan lagi.. bagaimana, semuanya siap?" tanyanya dengan nada bersemangat. Semuanya bersorak 'YA!' lalu menaiki gummy ship. Oh, sebelum itu, Axel dan Roxas memastikan kalau semua pintu telah terkunci rapat dan aman. Mereka langsung melesat ke 'The World That Never Was'. Setibanya, mereka memakirkan gummy ship dekat Disney Town-loh, kok bisa nyampe sini?-karena disitu satu-satunya jalan tercepat yang bisa mengantarkan mereka langsung ke Castle of Nobody, tempat Axel bekerja. "Nah, kalian, berkelilinglah kemanapun yang kalian suka.. nanti aku akan menjemput kalian jam delapan malam.. tapi, Roxas! Pastikan kalau ponselmu itu tetap menyala ya! Kalau tidak, akanku tinggal kalian!" ucap Axel sambil mengacak-acak rambut Roxas. Roxas mengangguk mantap. Beberapa menit setelah ditinggal oleh Axel, mereka berkeliling keluar Castle of Nobody. "Owh.. tempat yang agak menyeramkan.." gumam Sora. "Aku punya tempat yang bagus.." ucap Roxas lalu mengajak teman-temannya kesuatu tempat. "WOAH! Indah sekali!" ucap Sora saat melihat sebuah istana megah yang berada di hadapannya. "Ini namanya Castle Oblivion.." jelas Roxas. Tiba-tiba, JEPREET! Suara kamera terdengar. Pandangan mata mereka beralih ke asal suara tersebut. Ternyata Vanitas sedang memfoto istana itu. "Eh.. sejak kapan Vanitas bawa kamera?" gumam Riku. "Entahlah.." sahut Roxas. Mereka berdua berpandangan sebentar. Saat Vanitas memfoto istana itu terakhir kalinya, dia terkejut dengan hasil fotonya. Terlihat Sora sedang berpose disana. "Sejak kapan dia disitu?" gumam Vanitas. "Ada apa Vani?" tanya Ventus seraya berjalan kearah Vanitas. "Eh, ada Sora!" pekik Ventus saat Vanitas menunjukan hasil potretannya kepadanya. "Eh, sudah jadi? Aku mau lihat hasilnya!" seru Sora dengan nada ceria dan tak berdosa. Vanitas memperlihatkan hasil potretannya kepada Sora. "Hum, bagus! Eh, jangan dihapus ya!" pesan Sora sambil menyengir senang. Ventus menatap Sora. "Huu.. Sora narsis neh.." cibirnya. Sora tertawa kecil. "Iya dong! Sekalian untuk kenang-kenangan!" ucapnya. "Hum, Sora ada benarnya juga.. kita bisa foto bersama disini.." ucap Riku. Tiba-tiba Ventus teringat sesuatu. Oh ya, disekolah bukankah ada lomba foto? Yang menang, hasilnya akan dipajang di MaDing.. batinnya. "Eh! Benar! Lagi pula, belum lama ini, disekolah ada lomba foto bersama teman-teman! Dengan tema, BFF.. yang menang lomba, fotonya akan dipajang!" ucapnya. Ketiga temannya menatap Ventus. "Ya!" seru Sora. "Dia benar! Ayo kita foto!" tambahnya. Akhirnya, mereka pun berfoto-foto didepan Castle Oblivion. Tak lama kemudian, ada seorang pemuda berambut coklat agak keabu-abuan, dengan berbola mata ungu pucat, menyapa mereka. "Oi! Ven, Van, So, Roku, Riku!" panggilnya dengan nama yang disingkat-singkat seenak jidatnya*author kena gampar*. Mereka berempat, yang sedang asik berfoto, menoleh keasal suara. "Joshua!" pekik mereka secara bersamaan. Pemuda yang menyapa mereka tadi, a.k.a Joshua, berjalan mendekati mereka berempat dengan santai. "Eh, bisa minta tolong fotoin kami berempat enggak?" tanya Sora secara tiba-tiba. Joshua mengangguk lalu mengambil kamera yang diberikan oleh Sora kepadanya. "Background-nya Castle Oblivion itu?" tanyanya sambil menunjuk Castle Oblivion. Sora mengangguk. "Nah, ayo.. satu.. dua.. tiga.." komando Joshua lalu, JEPREET! "Thanks a lot, Joshua.." ucap Sora sambil mengambil kamera Vanitas dari tangan Joshua. "Welcome.. Sora.." balas Joshua sambil tersenyum tipis. "Sekarang Joshua! Kau ikut di foto!" ucap Vanitas lalu mulai mengambil posisi siap memfoto. Akhirnya, mereka berfoto bersama. "Eh, sekarang sudah jam berapa?" tanya Sora sambil melihat jam tangannya. "OMFG! SUDAH JAM DELAPAN LEWAT!" jeritnya sampai keempat temannya menutup kupingnya masing-masing untuk melindungi serangan maut dari teriakkan Sora. Roxas mengambil ponselnya. "Omfg.. Ponselku mati!" pekiknya. "Wah, berarti.. kita.. ditinggal sama kak Axel dong?" Ventus mulai menduga-duga. Mereka berempat, Ventus Vanitas Sora dan Roxas, bertatapan mata sejenak. "KITA DITINGGALIIN!" seru mereka semua sampai membuat Joshua bingung. "Eh, sampai jumpa lagi ya, Yoshiya!" ucap Riku yang mewakili tanda terima kasih dari ketiga temannya yang sudah melesat pergi lalu menyusul ketiga temannya. Setibanya di Disney Town, tepatnya tempat dimana Axel meakirkan gummy ship, mereka terkejut karena gummy ship sudah tidak ada. "Waduh! Gimana nih?" tanya Sora dengan penuh kepanikan. "Kita ditinggal sama kak Axel!" ujar Ventus yang paniknya sudah menjulang selangit—lah?—lalu menatap kesana-kemari seperti orang linglung(?). Tak lama kemudian, ada suara mesin gummy ship dan disusul cibiran orang yang sangat familiar di telinga mereka berempat. "Ah! Itu kak Axel!" pekik Riku sambil menunjuk kearah seorang pemuda berambut merah mencolok. "Ah, kak Axel!" ucap Roxas lalu belari menuju Axel yang sedang memakan es potong. "Dapat dari mana?" tanya Roxas sambil menunjuk es potong yang dimakan Axel. "Nih! Dibagi-bagi sama temen-temenmu itu yang wajahnya udah panic banget!" ucap Axel sambil menyerahkan sekantung es yang sama seperti yang dimakan olehnya. Roxas mengangguk lalu berjalan menuju ketiga teman-temannya. "Hufftt! Untung saja tidak ditinggal.." ucap Ventus lega sambil mengambil Sea-Salt pemberian Roxas. "Wah.. enggak bakal lupa waktu gara-gara narsis bentar lagi deh.." ucap Riku. Kayaknya dia kapok*authorpuas-digamparsamafansnya-*sambil menggigit Sea-Saltnya. Yang lain mengangguk. "Boleh sih narsis, tapi lain kali inget waktu!" timbrung Sora. semua mengangguk. TBC Akhirnya selesai.. kalian pasti bingung, kenapa masih TBC? Karena, masih banyak adegan lain yang seru! Jadi, nanggung kalau selesai sekarang.. Sekian.. Mata sakit.. Bokong keram(?).. Koneksi abal.. Selalu diganggu sama adek.. TT^TT Review ya.. X3