Tittle : Love Latte

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rate : T+/M-

.

.

Kim Jong Woon

Kim Ryeowook ! GS

.

.

Hisk...pengen nangis ada salah satu review T_T

Mungkin banyak typo, mian ne..

Happy reading chingu ^^


Jong Woon menekan tuts ponselnya beberapa kali dan mendekatkan ponsel itu ketelinganya dia tidak berhasil menghubungi siapa-siapa dan sudah mulai bosan dengan ini. Kim Nathan atau lebih tepatnya Kim Ryeowook yang berubah dengan sangat signifikan membuatnya khawatir dan kebingungan. Pertama kalinya Jong Woon melihat gadis itu setelah delapan tahun lebih di Coffee Shop waktu itu, benar-benar mengingatkanya kepada gadis kecil yang sangat manja kepadanya. Gadis yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar dan dan baru di temuinya sekarang. Namun setelah berbicara denganya, Nathan bukan Ryeowook meskipun mereka adalah orang yang sama. Dan sekarang, Nathan menghilang lagi secara tiba-tiba dari pantauan Zhoumi.

"Anak itu bersembunyi dimana?" Gumam Jong Woon keras-keras sambil melagkah cepat menyusuri Koridor kampus tempat Ryeowook menghabiskan sebagian besar waktunya.

Zhoumi sudah memberi tahunya kalau Gadis itu berkuliah di kampus ini dengan nama
Kim Ryeowook, selain itu Jong Woon juga sudah tau dari data-data yang di berikan oleh detektif swasta lain yang pernah di sewanya untuk menyelidiki Nathan. Di tanganya, terdapat secarik kertas berisi sebuah alamat di Yeongdeungpo-gu yang di berikan oleh pihak kampus. Di alamat ini keluarga Ryeowook tinggal dan dalam waktu kurang dari setengah jam Jong Woon akan segera tiba disana.

Ternyata pengetahuanya tentang Ryeowook sangat sedikit, Zhoumi juga tidak memberi tau banyak hal selain dimana Ryeowook tinggal selama ini dan tempat itu sudah di tinggalkannya juga. Mobil kantor menunggunya di parkiran, dalam beberapa saat kemudian Jong Woon sudah mengendarainya dengan kecepatan penuh yang masih berada dalam batas-batas toleransi. Tapi walau bagaimanapun tekadnya yang bulat untuk menemukan Ryeowook hari ini juga membuat Jong Woon melupakan segalanya.

Seoul memang bukan tempat yang asing bagi Jong Woon. Meskipun begitu 380 Yeouidaebang-ro, Yeongdeungpo-gu juga bukanlah tempat yang biasa untuk di masukinya, Jong Woon bahkan tidak tau wilayah Yeongdeungpo-gu secara detail karena ia jarang sekali melewati daerah itu. Yang pasti, Yeongdeungpo-gu menandakan kalau Ayah kandung Ryeowook mempunyai uang yang banyak untuk tinggal di permukiman elit yang cukup di kenal di London meskipun bukan yang nomor satu.

Sebuah rumah megah dengan dinding berwarna coklat yang sebagianya di tutupi oleh tanaman rambat adalah satu-satunya rumah yang cocok dengan alamat yang di berikan pihak universitas. Rumah yang membuat Jong Woon terperangah, sangat luas untuk di tinggali empat orang, dan sekarang hanya tiga orang bila Ryeowook sudah tidak tinggal bersama orang Tuanya lagi.

Kim Jong Woon berusaha untuk mengumpulkan keberanian dan mendekat ke pintu rumah setelah menyusuri beberapa anak tangga yang menghiasi halaman sempit tapi sejuk dengan beberapa tumbuhan yang tidak Jong Woon kenal. Ia menekan bel yang berada di samping pintu bercat coklat tua itu beberapa kali. Hening, tidak ada satupun yang menjawab apa lagi membukakan pintu. Bahkan suara gerasak-gerusuk yang menandakan kalau ada orang dirumah sama sekali tidak didengarnya. Kelihatanya rumah itu kosong dan tidak berpenghuni, Jong Woon putus asa.

"Dangsin eun mueos eul dowa deulilkkayo?" Sebuah suara menyapa.

Jong Woon memutar tubuhnya dan memandang seorang pemuda berusia awal dua puEunhyuk turun dari sepedanya.

"Geugeos-eun hom paeg yeobu Mr. Kim Yunho? Kelihatanya rumah ini kosong," Pemuda itu mendekati Jong Woon dengan pandangan wajah serius.

"Ya, Aku anaknya yang bungsu. Namaku Henry. Ada perlu apa?"

"Aku mencari Nathan, emh…, Maksudku Ryeowook," Kedua alis Henry yang lebat bertaut, kedua pipinya memerah mengesankan kalau pemuda itu sedang kelelahan.

"Kau temannya? Kalau ingin bertanya tentangnya kepada orang tuaku, sepertinya kau harus menundanya untuk sementara waktu. mereka sedang menghadiri acara keluarga di luar kota dan baru pulang besok,"

"Bisa aku bertanya padamu saja?" Henry membuka topinya yang berwarna merah darah.

"Kalau begitu kita mengobrol di dalam saja," Pemuda itu kemudian membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Jong Woon untuk masuk.

Ruang tamu bergaya modern itu di dominasi oleh warna krim, di sofa yang membelakangi jendela-lah Jong Woon duduk sambil menanti Henry selesai berganti pakaian. Di dinding sebrang ruangan, Jong Woon menemukan sebuah foto keluarga berukuran besar dan cukup menarik.

Disana, Ryeowook bersama Ibu tirinya yang mengenakan pakaian berwarna putih duduk berdampingan di sebuah kursi kayu dengan senyum yang anggun. Lalu ada dua orang laki-laki berdiri di belakang mereka, keduanya mengenakan kemeja putih dengan tuxedo hitam pekat dan dasi kupu-kupu sutra, Henry dan Ayahnya. Foto itu tampaknya di ambil saat Ryeowook masih berusia belasan tahun, karena Ryeowook yang sekarang terlihat lebih tirus dan dewasa meskipun model rambutnya yang bergelombang itu sama sekali tidak berubah. Jong Woon menyesal tidak pernah mengetahui semua ini, meyesal karena tidak pernah tau kemana keluarga Yunho pidah dan menyesal karena tidak berusaha mencarinya dengan serius, ternyata selama ini Ryeowook sangat dekat.

"Maaf, lama menunggu," Henry menyapanya.

Pemuda itu sudah berubah menggunakan rumahan berwarna lembut yang menunjukkan kenyamananya. Henry meletakkan kaleng jus dingin di hadapan Jong Woon dengan tangan kirinya dan tangan kananya yang memegang portabel playstasion segera menyelipkan benda itu kesaku celananya. Ia lalu duduk berhadapan dengan Jong Woon yang kelihatanya agak terkejut mendengarkan sapaanya tadi.

"Foto itu? Di ambil sebelum Ryeowook berangkat ke Jepang dulu, butuh waktu lama untuk membujuk Ryeowook membuat foto keluarga. Dia selalu bertindak seolah-olah dirinya bukan bagian dari keluarga," Jong Woon hanya tersenyum, ia kemudian menyilangkan kakinya rapi sambil memandangi Henry.

Jong Woon sangat tau penyebabnya, Ryeowook sudah pernah mengatakan kalau ia tidak akan merasa nyaman bila harus tinggal dengan ayahnya delapan tahun yang lalu setelah ayahnya menikah lagi. Wajah Henry menarik perhatian Jong Woon, walau bagaimanapun Henry dan Ryeowook memiliki kemiripan yang tidak akan terlihat kalau tidak di perhatikan secara detail.

"Kau ingin bertanya tentang apa?" Ucap Henry dengan suara datar tapi ada rasa penasaran.

"Ryeowook sudah beberapa hari ini menghilang. Kami tidak bisa menemukanya dimana-mana,bahkan di tempat kerjanya juga,"

"Ryeowook sudah keluar dari rumah ini tiga tahun yang lalu, dia tinggal bersama temanyanya, tapi ada juga beberapa orang yang bilang kalau dia tinggal di rumah pacarnya. Jadi kelihatanya kau tidak akan menemukan apa-apa disini karena Ryeowook hanya akan
ada di rumah selama musim dingin sebelum tahun baru. Dia cuma akan pulang seminggu sebelum tahun baru datang,"

"Benarkah? " Kedua alis Jong Woon bertaut.

Ryeowook sudah hidup dengan gaya barat, keluar dari rumah dan tinggal bersama pacarnya bukan hal yang lazim untuk di temukan di Asia. Ryeowook bahkan pernah menolak saat Jong Woon mengajaknya tinggal bersama dulu. Sepertinya gadis itu benar-benar berubah.

"Kau tau alamat pacarnya?" Henry menggeleng.

"Ryeowook sudah tidak bersama laki-laki itu lagi. Dua tahun belakangan ini dia menyewa flat bersama beberapa orang teman" Jong Woon mengangguk.

Laki-laki itu, Ryeowook sempat berpacaran dengan laki-laki lain selain dirinya? Seharusnya Jong Woon tidak perlu merasa heran Karena dirinya juga begitu.

"Apakah belakangan ini dia tidak menghubungi keluarga disini? Aku sudah mencarinya di Flat, tapi dia sudah tidak tinggal disana lagi,"

"Benarkah?" Henry kelihatanya terkejut. Wajah khasnya terperangah dengan sukses.

"Dia sering menelpon dan selama ini tidak pernah ada masalah yang di laporkanya. Kenapa bisa pindah? Apa dia kehabisan uang untuk bayar sewa? Kau sudah mencarinya di Namdong-gu? Dia bekerja sebagai barista disana,"

"Tidak ada juga,"

"Lalu dimana dia?" Pemuda itu menggerutu pelan. Ia kelihatanya memikirkan sesuatu sambil mengerutkan dahinya. Masalah yang kelihatanya serius. Ryeowook sudah keluar dari rumah selama tiga tahun dan tidak pernah ada keluhan dari mulutnya. Keluarganya selalu menganggapnya baik-baik saja dan kejadian seperti ini tentu saja bisa menimbulkan kekhawatiran bagi seluruh anggota keluarga.

"Tunggu dulu, dia punya teman bernama Eunhyuk. Wanita itu tinggal di dorm kampusnya. Eunhyuk sempat tinggal disini di awal-awal dia masuk kuliah dan pindah beberapa hari sebelum Ryeowook beberapa tahun yang lalu. Mungkin dia tau dimana Ryeowook sekarang. Mau ku berikan alamatnya?"

"Tentu saja," Jawab Jong Woon tanpa fikir panjang. Eunhyuk. Meskipun tidak terlalu banyak ingatan yang tersisa tentang Eunhyuk, Jong Woon masih bisa mengingat bayangan kebersamaan keduanya setiap kali nama Eunhyuk di sebut. Eunhyuk adalah teman dekat gadis itu, dan Eunhyuk pasti tau dimana Ryeowook berada sekarang.

*YEWOOK*

Sebuah taman kecil di ujung jalan adalah tujuan berikutnya. Jong Woon sudah menelpon Eunhyuk beberapa waktu lalu dan mereka berjanji bertemu di taman itu setelah Eunhyuk pulang kuliah. Cukup banyak orang yang berjalan santai di jalan setapak taman yang mengelilingi sebuah kolam. Seandainya tidak sedang dalam keadaan buru-buru Jong Woon mungkin akan lebih menikmati pemandangan tempat ini. Tapi sekarang bukan saatnya untuk bermain-main.

Seorang gadis berpakaian sederhana melambaikan tanganya kepada Jong Woon. Dia adalah Eunhyuk, dan Eunhyuk kelihatanya masih mengenal Jong Woon dengan baik. Mungkin Jong Woon adalah satu-satunya orang yang tidak berubah dewasa ini, bahkan Eunhyuk pun juga sudah berubah banyak dan Jong Woon hampir tidak mengenalinya jika bukan Eunhyuk yang melambaikan tangan padanya. Dengan setengah berlari Jong Woon mendekati Eunhyuk yang duduk di sebuah bangku panjang sambil memangku sebuah buku Arkeologi yang sangat tebal.

"Yesung, apa kabarmu?" Tanya Eunhyuk dalam bahasa ibunya.

Ia masih memanggil Jong Woon dengan sebutan Yesung seperti yang bertahun-tahun silam dilakukanya. Meskipun Jong Woon sudah lama menjauh dari keluarga Lee, tapi semua kenangan tentang Eunhyuk adalah juga kenangan tentang Ryeowook. Ia mengenal Ryeowook karena Eunhyuk. Tentu saja pembicaraan kali ini mungkin akan menjadi pembicaraan yang ayik karena semuanya akan kembali membawa Jong Woon mengarungi masa lalu.

"Baik. Bagaimana denganmu? Kau kelihatan lebih cantik," Eunhyuk tertawa.

"Terimakasih, kau membuatku melayang,"

"Bagaimana dengan Siwon sekarang? Apakah dia masih marah padaku karena kejadian waktu itu?"

"Kurasa dia bahkan sudah melupakannya. Siwon bahkan lupa untuk pulang kerumah semenjak dirinya menikah dan semakin sibuk mencari uang demi keluarga barunya," Jong Woon mengangguk-angguk.

Siwon adalah sahabatnya, kakak sulung Eunhyuk. Laki-laki itu dan dirinya sudah tidak pernah saling sapa sejak waktu yang cukup lama, sejak Ryeowook pergi meninggalkannya. Seyum kecut Jong Woon hadir meskipun samar, ia kembali memandangi Eunhyuk.

"Ku dengar kau tinggal di asrama kampus?"

"Sudah beberapa bulan ini tidak lagi. Aku menyewa flat bersama beberapa teman sekelas. Arkeologi bukan pelajaran yang mudah dan tinggal bersama teman-teman sejurusan membuatku lebih bersemangat untuk belajar,"

"Ku kira kau akan berada di Manhattan selamanya, ternyata setelah berpisah kalian masih berteman juga, maksudku kau dan Ryeowook," Ujar Jong Woon sambil memandang ke cahaya matahari yang menelisip dari balik dedaunan.

"Dia yang memberi informasi beasiswa. Ryeowook banyak membantu. Aku juga tidak menyangka kalau Yesung sekarang ada disini. Aku kira kita tidak akan bertemu lagi. Jantungku hampir lepas saat mendengar suaramu di telpon tadi,"

"Benarkah? Jadi Ryeowook tidak memberi tahumu kalau aku ada disini?" Senyum Eunhyuk pelan-pelan memudar.

Ia menggeleng pelan. "Aku dan Ryeowook sudah lama tidak berbincang dari hati kehati. Saat kami bertemu, dia yang selalu mendengar ceritaku, tapi aku tidak lagi pernah mendengar cerita apa-apa darinya,"

"Dia sepertinya sangat berubah ya? Kelihatanya dia bukan anak yang dulu lagi. Aku sudah kerumahnya dan bertemu dengan adiknya, Henry. Kami banyak bercerita dan Henry bilang kalau Ryeowook juga sempat tinggal dengan pacarnya,"

"Hyungsik?" Eunhyuk menggeleng sambil tersenyum.

"Saat bersama Hyungsik dia kelihatanya sangat bahagia. Jangan katakan kalau kau ingin mencari Hyungsik untuk menanyakan apakah Ryeowook sedang bersamanya," Jong Woon angkat bahu.

"Kalau memang harus begitu, apa boleh buat,"

"Yesung, kurasa Hyungsik pun tidak akan tau apa-apa Tidak ada seorangpun yang tau banyak tentang dirinya," Jong Woon tersenyum kecut.

Dia mencari Ryeowook karena ibunya, tapi mungkin akan berlanjut ke hal lain setelah menemukanya. Kim Jong Woon akan menepati janjinya kepada ibu kandung Ryeowook untuk menjaga anaknya dengan baik sampai gadis itu benar-benar siap berdiri sendiri. Karena itulah Jong Woon bersedia menjalankan pekerjaan ini lebih dari sekedar kewajiban, terlebih setelah mengetahui kalau gadis yang harus di jaganya adalah Ryeowook.

"Yesung, Bagaimana perasaanmu pada Ryeowook? Kau sepertinya masih terus berusaha mendekatinya Ku fikir kau tidak akan mencarinya, tapi ternyata sekarang kau mencarinya juga," Eunhyuk mengembalikan kesadaran Jong Woon. Jong Woon hanya tersenyum dan tidak menjawab apa-apa.

"Aku fikir saat itu kalian akan tetap bersama meskipun sudah kehilangan calon bayi kalian,"

"Dia meninggalkanku,"

Apa kau benar-benar tidak mengingat apa-apa Yesung? Eunhyuk membatin. Ia berusaha meningkatkan cahaya wajahnya tapi terlalu sulit. Jong Woon benar-benar merasa kalau Ryeowooklah yang meninggalkannya.

"Kami hanya bicara di kampus, pada saat ulang tahunku dia juga selalu datang ke flat. Kadang-kadang dia juga mengantarku ke Manhattan. Tapi, kalau kau ingin mencarinya. Coba cari di Flower Seoul Park dia mungkin sedang melihat bunga-bunga disana," Jong Woon terdiam sejenak.

Flower Seoul Park adalah taman yang juga sering di kunjunginya semasa kuliah dulu, ia juga pernah kesana menemani Baekhyun yang sepertinya saat itu sedang mengidam untuk makan fish 'n chips disana. Meskipun bukan taman yang besar, tapi taman itu cukup menarik dan lokasinya yang dekat dengan sungai Han membuat taman itu laris manis di kunjungi wisatawan. Tempat yang ramai.

"Ku kira Ryeowook tidak suka dengan tempat yang ramai,"

"Ya, memang. Tapi tidak dengan Flower Seoul Park. Dia sengaja kesana dengan harapan bisa bertemu dengan pangeran seperti cita-cita konyolnya sewaktu sekolah," Eunhyuk kemudian tertawa dengan ceria.

"Tidak, tidak aku cuma bercanda. Saat kita merasa terlalu gaduh dan berisik, kita akan memilih mengasingkan diri dari keramaian. Begitu pula sebaliknya, kalau kita merasa sendirian dan kesepian, kita akan mencari keramaian itu kan? Semenjak pindah kemari dia seringkali kesana karena di Seoul, Ryeowook selalu merasa sendirian. Dia berhenti datang ke Flower Seoul Park sewaktu dirinya menjalin hubungan dengan Hyungsik. Setelah laki-laki itu pergi, praktis kehidupanya kembali seperti semula,"

.

.

TaeBaekChen


Adakah yg tau orang yg review dengan kata-kata yg MENJIJIKAN itu? Sumpah author bingung kenapa bisa review dengan kata-kata TAK BERMORALNYA seperti itu.

OK, buat yg gak suka sama tulisan author gpp, jangan baca+mampir. Keep SILENT aja, jangan ngBUSH please... Yg suka monggo baca ^^

Pertama kali author dikaya giniin, rasane nyespleng banget .

Makasih buat Yryeonggu, Kim HyeNi, meidi96, .1, yg udah mau review #KissKalian :*

Lestarikan ff RYEOWOOK (YWS,KWS) chingu ^_^