B e l i e v e or L e a v e
by zixyalous
Characters are JK. Rowling's
The idea's purely mine
AU - Horror - Romance fic of
D r a m i o n e
Chapter 4
Broken Fortress
--''''''''''''--
*Cafè au lait kopi susunya orang Prancis
*Scalding : istilah kuliner untuk 'merebus susu'
--''''''''''''--
Satu hal yang baru kuketahui tentang Draco Malfoy : Dia tipe perfeksionis.
Aku tahu ini dari pria-tukang-lap-jendela-dengan-tenaga-ekstra, si Gregory Goyle. Sudah belasan bahkan mungkin saat ini puluhan resume masuk via e-mail maupun orangnya yang datang langsung menyerahkan lamaran tapi Draco selalu bergeming. Ia tak meragukan kemampuan mereka, tapi Draco mencari lebih dari itu; loyalitas dan bakat.
Dan aku benar-benar tidak tahu bagian mana dari diriku yang menunjukkan keduanya atau bahkan hanya salah satunya. Karena dia menerima lamaranku.
Ya, kemarin sore aku keluar dari Malfoy's Kitchen dengan menenteng plastik berisi kaus--yang sebenarnya lebih mirip blus, berwarna merah bata yang merupakan kaus pegawai. Draco menempatkanku di bagian keuangan. Berdiri di belakang meja kasir dan melakukan pembukuan secara berkala. Meski tidak menutup kemungkinan, aku juga membersihkan restoran karena tenaga pekerjanya masih sedikit.
Tidak ada masalah dengan itu. Aku selalu baik dalam hal kalkulasi dan pelajaran-pelajaran tentangnya selalu kukuasai dengan sangat baik di sekolah. Tapi masalahnya, apa tidak salah memercayakan bagian sevital itu padaku, orang yang menyandang gelar 'sakit jiwa' selama bertahun-tahun di sekolah? Apa--maksudku, kenapa dia menutup mata soal itu?
"Selamat pagi, Hermione."
Sebuah suara riang menyambangi indera pendengaranku saat aku berjalan dengan kepala tegak menyusuri jalan menuju restoran Draco. Aku menghela napas, berusaha menemukan sesuatu bernama 'kesabaran' di dalam diriku. Melirik sedikit, terlihatlah Fleur yang tersenyum dan melayang tiga puluh centi dari tanah, "Aku tahu aku telah meminta bantuan pada orang yang tepat. Apa rencanamu setelah berhasil bekerja di tempat anaknya Lucius?"
"Tidak tahu." jawabku tanpa suara, dan aku sangat berharap Fleur meninggalkanku dulu untuk saat ini karena kehadirannya jujur saja sedikit menekanku. Fleur tampaknya bisa mengerti kebingungan yang melandaku, dia bersiul-siul sebentar dan menghilang begitu saja.
Tanpa sadar aku menghela napas lagi.
-o0o-
Seperti biasa, Goyle tengah mengelap kaca jendela dengan semangat luar biasa sampai wajahnya memerah. Aku punya perasaan kalau sebenarnya ia hanya tidak tahu harus melakukan apa dan tidak ingin terlihat menganggur.
"Selamat pagi." aku menginisiasi diri sendiri untuk menyapa lebih dulu.
Goyle yang sudah melihat kedatanganku sejak aku muncul dari persimpangan jalan tersenyum lebar, "Oh, pagi, Granger. Ini hari pertamamu, bukan?"
Aku mengangguk dan mengeksplor restoran Skandinavia yang anehnya mengusung masakan Prancis sebagai menu andalan karena Draco mengambil culinary shourt course di Paris ini. Mejanya masih belum mengilap--kenapa tidak ini saja yang dilap Goyle?-- kemudian buru-buru melenggang menuju ruang ganti. Aku melihat Crabbe tengah mengecek stok bahan di gudang yang pintunya terbuka.
Draco sepertinya belum datang.
Saat aku kembali dari ruang ganti, semua sudah berkumpul di samping meja kasir. Ya, semuanya, termasuk Draco yang belum memakai apronnya. Masih setia dengan stylenya yang biasa. Yang menunjukkan hasil latihan fisik yang dilakukan secara kontinu.
Aku berusaha keras untuk tidak terfokus pada otot lehernya saat ia menoleh dan tersenyum cerah, "Ayo bergabung, Hermione."
Goyle dan Crabbe ikut menoleh dan mengisyaratkanku untuk mendekat. Mereka duduk di bangku bar tinggi di depan coffee maker. Aku berjalan pelan menuju mereka, tak tahu bagaimana tampangku akan terlihat.
Sudah lama sekali.. Sudah lama sekali sejak terakhir seseorang melambaikan tangannya dan mengajakku bergabung tanpa pandangan-pandangan itu.
Ada bagian dalam diriku yang merasa khawatir bahwa semua ini hanya temporal. Draco, baiklah dia sudah melihat histeriaku yang terburuk dan kemuliaan hatinya membuatnya tetap baik padaku tapi bagaimana dengan Goyle dan Crabbe? Apa yang akan terjadi jika mereka melihat aku tiba-tiba menjerit atau menjatuhkan benda?
Pergilah. Pergilah semua perasaan negatif, bisikku memohon dalam hati.
"Lihat, aku berhasil mendapatkan biji kopi dari suatu daerah bernama Sumatera. Susah sekali dapatnya, daerah itu memiliki biji kopi yang sangat bagus. Yang ini sudah bersertifikasi. Aromanya kuat dan sensasi after taste nya cukup panjang." Draco menunjukkan semangkuk biji kopi di tangannya. Kilatan di matanya penuh gairah dan sudah bukan rahasia kalau Draco selalu mampu mengimpresi semua orang dengan gestur dan kata-katanya.
"Kau akan membuat cafè au lait dengan ini kali ini?" tanya Crabbe lalu ia menelengkan kepalanya ke arahku, "Oh ya, Granger. Ini kebiasaan kami sebelum buka, kami selalu minum kopi dulu. Kau tidak alergi kafein atau semacamnya, kan?"
"Tidak. Aku juga sering minum kopi tiap pagi." jawabku, memandang biji-biji kopi yang ditimang Draco seperti menimang anak sendiri itu.
Draco bangkit dari duduknya, dengan masih penuh gairah ia berkata, "Baiklah, cafè au lait ini akan jadi yang terenak. Anggap saja untuk merayakan hari pertamamu, Hermione." ia mengerling ke arahku sejenak dan membuat ku harus kembali merapal kalimat 'aku disini untuk sebuah misi', ' aku disini untuk keadilan Gabrielle', 'aku tidak datang kesini untuk menelanjangi Draco dengan mataku' berulang-ulang seperti mantra.
Sepertinya aku memang perlu mantra agar aku tidak tersihir dengan persona Draco lebih dalam.
"Vincent, kau bisa mengurus ini dengan Greg, kan? Biar aku saja yang scalding." ia memberi intruksi seraya melenggang menuju dapur.
Ia berhenti dan kembali menoleh ke arahku yang merasa kikuk saat Crabbe dan Goyle sudah akan sibuk dengan coffee maker di hadapanku, "Bisa tolong siapkan gelasnya, Hermione?"
Aku segera bangkit dan mengekor Draco karena letak gelas berada di area yang sama dengan tempat Draco melakukan scalding. Ia mengeluarkan susu jenis whole milk dari kulkas dan menuangkannya ke panci di atas kompor.
"Kau mau mencobanya? Ini cukup mudah." tawar Draco saat aku mengeluarkan cangkir-cangkir dari rak dan hendak membawanya ke depan. Alhasil, aku meletakkan kembali cangkir-cangkir itu dan berdiri di samping Draco.
Aku menyalakan kompor dan mengaduk susu secara ringan. Tiba-tiba aroma musk Draco merajai indera penciumanku karena dia memutuskan untuk bergeser, menghapus sekat diantara kami, karena bahkan pinggang kami saling menempel.
Ia menunduk dan berujar dengan santai, "Apinya kurang kecil. Untuk cafè au lait, susunya jangan sampai berbusa.".
Persetan dengan busa, aku memaki dalam hati. Nada santai dalam kalimatnya membuatku geram karena itu berbanding terbalik dengan impak yang diberikannya padaku. Aku hampir kehabisan napas dan ini gila. Draco selalu membuatku seperti manusia terisolir yang belum pernah disentuh manusia lain.
Atau mungkin yang gila adalah sentuhannya. Sederhana tapi penuh makna. Karena sentuhannya, sekecil apapun, mampu mengubah duniaku, secara harfiah. Semua lanskap mengerikan yang terlihat oleh netraku langsung bermetamorfosis menjadi keindahan. Tidak ada darah, atau lubang wajah yang menganga. Hanya segelintir orang biasa yang sedikit transparan dan kebetulan hanya bisa dilihat olehku.
Klik. Bunyi kompor yang dimatikan membuatku kembali tersadar. Draco memutar badannya, punggungnya bersandar pada meja dan kedua tangannya terlipat di dada. Ia menoleh dan bertanya, "Kopi jenis apa yang kau konsumsi selama ini?"
"Um.. Kopi susu?" jawabku ragu. Karena jawaban yang lebih tepat adalah kopi susu instan yang rasanya seperti susu panas beraroma kopi. Manis sekali. Aku yakin kandungan kafein di dalamnya sebenarnya hanya seperempat dari total kandungan.
"Pasti kau sangat sering minum kopi." tebak Draco. Ia menyondongkan tubuhnya dan tangan kanannya terangkat. Netraku dengan waspada menangkap tiap pergerakannya. Suara dalam kepalaku saling sahut menyahut mendaras mantra-perlindungan-pesona-Draco.
Tapi semua mantra itu pecah saat Draco melarikan jari jemarinya pada bagian bawah mata kiriku. Bulu romaku meremang dan rasanya oksigen di sekitarku ditarik dari peredaran; aku menahan napas.
Terdengar olehku suara denyut jantungku sendiri. Mataku terpejam; aku tidak peduli dengan lanskap indah yang ditawarkan oleh sentuhannya meskipun aku penasaran bagaimana rupawannya para hantu yang selama ini membuatku jeri. Yang kupedulikan hanya sensasi ini, detik ini, aku ingin membekukannya dan menyimpannya dalam memoriku.
"Kau tidur berapa jam sehari?" tanyanya, suaranya terdengar samar, seperti berada di tempat yang jauh. Aku seperti bermimpi.
Tapi kemudian, aku membuka kedua mataku dan berhadapan dengan sepasang netra hangatnya yang menatapku lekat. Seperti tali yang mengikat, agar aku tak bisa menatap yang lainnya lagi.
"Draco." Aku memberanikan diri untuk bernapas, menghirup secukupnya aroma musk ini untuk kusimpan sendiri sebagai kekuatan melewati hari-hari panjangku selanjutnya, "Jangan lakukan ini."
Biar bagaimanapun, perasaan ini harus tetap terjaga agar tidak semakin menyiksa. Biarlah tumbuh asal tidak membuat luruh. Untuk itu, ada batas-batas yang harus kutetapkan bagi diriku sendiri agar tidak terlalu larut. Draco memang dan akan selalu menjadi casanova karena ia, secara alamiah, suka menebar hal-hal manis pada orang di sekitarnya.
Just like this.
Ia menarik kembali jemarinya yang menyentuh kantong mataku dan menunduk menatap panci berisi susu. Emosinya tak terbaca dan aku memutuskan untuk segera pergi ke depan membawa cangkir-cangkir itu.
-o0o-
Draco benar. Biji kopi yang dibawanya memiliki aroma dan citarasa yang sangat kuat dan otentik. Dia membuat kopinya dengan rasio seimbang antara kopi dan susu yang telah kami scalding.
Rasanya sangat enak, tentu saja, tapi aku tidak menyadari kadar kafein di dalamnya yang ternyata tidak bisa tertolerir dengan baik oleh tubuhku. Sudah kukatakan, selama ini aku memang rutin mengonsumsi kopi tapi kopi instan yang kadar kafeinnya sangatlah rendah.
Alhasil, begitu aku menandaskan kopi yang mirip lattè ini, jantungku berdebar-debar dan aku sedikit pusing. Tapi waktu terus memburu dan tak lama setelah ritual pagi di Malfoy's Kitchen ini, pelanggan pun mulai berdatangan.
Ledakan pelanggan di pagi hari sudah mulai surut saat aku membantu Crabbe mengangkati kardus berisi sosis dan ham dan memasukkannya satu per satu ke dalam kotak freezer. Selain Draco, ada dua koki lain yang memasak; Theodore Nott dan Blaise Zabini. Mereka datang agak siang tadi.
"Vincent?! Tolong bantu aku, ada idiot yang menumpahkan saus ke lantai!!" teriak Goyle dari arah depan yang saat ini sedang tidak ada pelanggan.
Crabbe mendecakkan lidahnya kesal dan menggumamkan ngurusin itu aja tidak bisa yang memancing senyum tipisku, "Tidak apa-apa. Ini sebentar lagi selesai."
"Baiklah, kau juga sebaiknya segera ke depan. Sebentar lagi akan ada banyak pelanggan untuk makan siang." saran Crabbe seraya bangkit berdiri.
Aku melanjutkan memasukkan sisa sosis yang masih tersisa dua kardus lagi. Tiba-tiba saja penutup kotak itu tertutup dan Fleur duduk di atasnya.
"Astaga!" aku terpekik pelan--terimakasih Tuhan, jantungku masih normal sampai detik ini karena hantu-hantu kurangajar ini tidak pernah belajar caranya muncul dengan sopan dan beretika--dengan sebelah tangan memegang dada.
"Bloody hell. Apa yang kau lakukan disini? Jangan menggangguku bekerja!" peringatku dengan was-was. Ini hari perdanaku; aku tidak akan membiarkan hantu dari kuburan manapun merusaknya.
"Aku ingin bicara denganmu!" tukasnya dengan ceria, sama sekali tidak mengindahkan kejengkelanku.
"Sepenting apa itu sampai kau sengaja menumpahkan saus dan membuat orang lain repot? Kukira aku sudah tahu apa yang kau mau, jadi kau tidak usah mengingatkanku lagi." jelasku, membuka kembali penutup freezer dan membuat Fleur melayang naik-turun dengan semangat di sampingku.
Ia mengatakannya keras-keras, "Dengar ini. Aku membuntuti Lucius sepagi ini dan dia berencana untuk datang kesini sekitar pukul empat sore. Ini kesempatan besar daripada kau harus pura-pura salah makan atau keracunan suplemen peninggi badan untuk bisa menemuinya di St. Mungo. Itupun--"
"Jadi apa tepatnya yang kau ingin aku lakukan?" potongku, mengusap telinga. Suaranya sekeras sampel musik yang didengungkan keras-keras di toko elektronik atau persewaan DVD. Dan aku juga tidak paham mengapa ia menyebut-nyebut soal suplemen peninggi badan (apa dia menganggapku pendek, begitu?) D a s a r m e n j e n g k e l k a n.
"Lucius itu kalau di ruang publik ramah sekali, Granger. Kau bisa memanfaatkan itu untuk berbasa-basi. Bukankah jauh lebih baik kalau kau dekati dulu baru minta pertanggung jawabannya soal Gabrielle? Kau mungkin juga bisa mengorek penyelewengannya yang lain di dunia medis."
Aku tertegun dan memicingkan mata menatap Fleur tanpa sedikitpun gentar. Dia bergeming menunggu responku. Kemudian dengan marah aku berujar, "Sial. Apa kau sekarang menyuruhku untuk melemparkan diri ke Dr. Malfoy?"
Dengan cepat ia menggeleng, "Tidak, sungguh bukan begitu, Granger. Maksudku adalah--"
"Hermione."
Hampir saja aku menjerit terkejut karena Draco tiba-tiba datang dan berdiri di ambang pintu; menatapku keheranan. Sedari tadi ia tampak sedang memikirkan sesuatu dan moodnya jadi tidak begitu bagus sejak setelah acara minum kopi (satu lagi hal tentang Draco yang akhirnya kuketahui : dia sedikit moody.). Jadi aku sangat khawatir kalau dia mendengar aku barusan menyebut-nyebut ayahnya; apa yang akan dipikirkannya coba?
"Eh, Draco." aku balik menyahut seperti orang tolol,
"Ada apa? Kau sudah er--lama disitu?"
Draco melarikan maniknya ke penjuru ruang, ke tumpukan kardus kosong yang isinya sudah kupindahkan lalu kembali terpancang padaku,
"Pelanggan sudah ada yang datang. Kalau sudah selesai, lebih baik kau cepat kembali ke posmu."
Dilihat dari reaksinya, sepertinya dia tidak mendengarnya.
"Oke. Ini sudah selesai, kok."
Tak ingin memberi Fleur lebih banyak waktu untuk merecokiku, aku pun melangkah melewati Draco yang masih bergeming pada tempatnya.
-o0o-
Croque Monsieur adalah roti lapis terbuka berisi ham dan keju leleh. Ayah pernah memasaknya dua kali untukku dan aku tahu rasanya enak. Tapi rupanya Draco mampu membuatnya lebih enak lagi sampai-sampai pengunjung yang datang untuk makan siang mencapai jumlah yang menurutku fantastis. Mereka memesannya sebagai hidangan pembuka bersama dengan pai telur.
Crabbe dan Goyle benar-benar kerepotan setengah mati dan aku mencoba untuk membantu sebisaku karena meja kasir juga sibuk sekali. Aku sempat melihat Draco dengan lengan apron yang sudah digulung naik sampai siku, memperlihatkan otot-otot yang mengundang lirikan hampir seluruh wanita di ruangan ini. Dan aku sadar, betapa makin cemerlangnya dia. Dia tampak kelelahan di satu sisi serta bahagia dan gorgeous di sisi lainnya.
Sedangkan aku merasa lelah dan bingung. Sejak kembali ke meja kasir beberapa jam lalu, aku mulai sakit kepala. Sepertinya tubuhku mulai protes diperlakukan seenaknya. Aku sadar tidak memiliki sesuatu bernama life balance. Tidur dan makan bukanlah sesuatu yang aku anggap penting untuk dijaga polanya.
Sementara itu, mendekati pukul empat sore, Fleur makin gencar menampakkan dirinya. Aku memutar bola mata; ini sudah pukul empat kurang sepuluh menit tapi belum ada tanda bahwa Dr. Malfoy akan datang.
"Biar aku yang membawa ke belakang." aku mengulurkan tanganku saat Goyle membawa setumpuk piring dengan satu tangannya dan yang satu lagi membawa sapu. Mengabaikan Fleur yang berisik di belakangku.
Goyle mengangsurkan tumpukan piring itu seraya berkata, "Draco benar-benar harus mempekerjakan beberapa orang lagi, iya kan? Aku tidak peduli seberapa besar tipsnya untuk pekerjaan kita yang gila ini kalau akhirnya aku jadi kurus gara-gara bekerja disini."
Aku tersenyum seikhlasnya menanggapi humor Goyle dan beranjak membawa piring ke bak cuci saat Zabini datang membawa dua porsi besar spaghetti. Goyle langsung terkesiap dan memasang tampang ngilernya.
Zabini terkekeh, "Kita benar-benar sudah bekerja keras. Saatnya makan enak. Ayo, Goyle, Granger. Theo dan Draco akan segera bergabung." ia mengerling ke arahku dan sedikit menggoyangkan piring lebar yang dipegangnya. Aroma saus bolognese langsung menguar dan membangkitkan selera makanku.
"Iya, aku akan meletakkan ini dulu." tukasku lalu berlalu dengan piring-piring kotor.
Aku melihat Draco sekilas masih berkutat di depan kompor dan berbincang seru dengan Nott tentang teknik-teknik memasak. Aroma enak masakannya tercium sampai ke ruang cuci piring saat aku meletakkan segunung piring itu dengan nafas terhela. Kepalaku berdenyut nyeri entah sudah kali keberapa. Jarak pandangku mulai terbatas. Aku sudah harus mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen penambah darah atau vitamin atau apapun itu.
Aku mendengar suara Zabini memanggilku lagi untuk segera kesana sebelum Goyle menghabiskan semua spaghettinya tapi kakiku terasa begitu lembek dan susah digerakkan. Pandanganku benar-benar kabur sekarang. Aku berjongkok dan mengistirahatkan kepalaku di dinding sebentar; menenangkan diri.
Bertahanlah. Bertahanlah. Setidaknya sampai shiftmu berakhir. Jangan lemah.
Tapi stok kekuatanku sudah habis dan hal terakhir yang aku ingat adalah panggilan ketiga kali dari Zabini saat semua mendadak gelap.
-o0o-
Pernahkah kau merasa seperti ditekan masuk dalam sebuah lorong sempit, curam, dan gelap yang membuatmu begitu menderita. Sulit sekali keluar darisana. Lalu, tiba-tiba sebuah kekuatan mendorongmu keluar, menuju kebebasan dan udara segar.
Dan udara segar itu menyambutku dalam aroma musk yang begitu kuat saat kedua netraku perlahan membuka kelopaknya. Eternit lusuh berwarna putih yang sama sekali menjemukan membuatku mengenali dimana keberadaanku sekarang, meskipun aku merasa sangat sangsi akan itu
Karena sepertinya, aku berada di apartemenku.
Aku mengangkat tangan kiriku dan mengambil sesuatu yang tertempel di kening; sebuah waslap yang masih hangat. Aku dikompres? Siapa yang--
Suara dengkur halus di sebelahku membuat detak jantungku seakan berhenti. Aku menoleh dengan cepat dan rasanya aku berani bersumpah kalau selama beberapa milisekon jantungku pastilah berhenti berdetak saat kudapati Draco Malfoy tidur di sebelahku.
Kedua tangannya dijadikan sebagai bantal; ia tidur menyamping dan sedikit meringkuk karena tinggi badannya tidak mampu diakomodir oleh ukuran ranjangku yang kecil. Nafasnya teratur dan guratan di dahinya menunjukkan bahwa ia sangat kelelahan. Aku menatap ke jam beker di nakas yang juga sudah penuh dengan mangkuk berisi air hangat, segelas air putih, dan obat-obatan. Jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Astaga.. Apa Draco.. Mungkinkah dia merawatku semalaman ini?
Entah ini mimpi atau tidak. Kalau ini adalah kenyataan, dunia pastilah akan kiamat sebentar lagi.
Telunjukku menyentuh pipinya, menyusuri garis rahangnya dan kemudian kepalan tanganku sepenuhnya membuka dan membelai pipinya. Aku hanya ingin memastikan apakah ini benar-benar nyata. Dan tanpa kuantisipasi, kedua netra itu membuka dengan cepat. Draco mengernyit dan aku secara spontanitas ingin menyingkirkan tanganku dari wajahnya--karena aku sadar telah melanggar batasan yang telah kucipta.
Namun sebelum itu terjadi, tangan Draco sudah lebih dulu menahan tanganku untuk tetap disana. Semula aku berpikir ia akan menyingkirkannya tapi nyatanya dia sedikit meremas tanganku dan berkata dengan serak,
"Aku minta maaf karena datang begitu terlambat."
Seketika, semua batas teritori yang kucanangkan untuk tak pernah kulangkahi memudar dan benteng di antara aku dan Draco runtuh.
Bersambung.
A/N : Ya aku tahu chapter ini datang sangat ngaret, maaf ya semua tapi aku harap kalian tetap bisa mengikuti jalan ceritanya dengan baik'-'9)
And also big thanks buat segala review dan juga yang sudah menjadikan BoL sebagai fav story hehe. Segala kata semangat kalian benar benar menyemangatiku lohh. Even buat yang masih betah jadi silent reader, terimakasih sudah membaca karya zi yang nggak seberapa ini/ waktu nulis kebanyakan baca fik lain jadi minder sama tulisan sendiri tapi semoga fic ku ini worth to read ya/ Nah sekian cuap cuap dari zi, semoga fik ini bisa menghibur hati yang gundah gulana/halah emang kamu zi gundah terus :v/ Review please?
