The Refusal

"setidaknya aku menemui toriel."

"ini kali pertama aku menemuinya, tak pernah kusangka dia terlihat lebih ... tua dari yang kukira. dia dilempar dari tahtanya sebagai ratu oleh undyne setelah kematian sang raja olehmu dan para monster tidak menyukai kebijakan dari toriel, dan bicara soal dilempar, dilempar yang dimaksud adalah benar-benar dilempar sekuat tenaga oleh undyne dari istana ke sini."

"dia bertanya dimana papyrus sekarang dan kujawab dia menjadi penjaga kerajaan sekarang menemani undyne yang seperti kau tahu ... hanyalah bohong"

"jika aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dimana kau membunuh saudaraku, tentu dia tidak akan percaya dan hanya akan membelamu karena kau bagaikan anaknya disini."

"kau tahu, nak? aku punya satu pertanyaan untukmu?"

"kenapa dia? dari seluruh monster disini ... kenapa dia?" aku mulai mengeluarkan air mataku, terus terjatuh setetes demi setetes, namun aku usahakan untuk tidak terdengar menangis didepan telepon, khususnya terhadap anak kecil, walau anak kecil yang kutelpon ini adalah tersangka dibalik tiadanya adikku.

"apakah kau benar-benar mengira dia akan menangkapmu dan memberikanmu ke asgore? apa kau benar-benar berpikir dia akan membunuhmu? nak ... aku mengenal papyrus selama puluhan tahun, aku kenal bagaimana sifatnya, walau dia terlihat bodoh, konyol dan banyak berkhayal dimatamu, dia tak akan merelakan temannya begitu saja, ada alasan kenapa 'penjara'mu itu terlalu mudah dilewati dan ada alasan dia mencoba menghalangi perjalananmu ..."

Aku berhenti sejenak untuk mengelap air mataku dan mencoba untuk tenang, namun aku tak bisa, yang ada malah aku menangis lebih dalam lagi yang tak dapat kukontrol.

"... dia hanya ingin memastikan apakah manusia benar-benar seburuk yang mereka bilang, dia tak melihat kau sebagai sesuatu yang liar, namun ia ingin memastikan, dia merasakan jika kau bisa menjadi seorang teman, tapi kau lebih memilih rasa takutmu jika dia benar-benar ingin menangkapmu."

Aku berhenti berbicara sejenak, mencoba mendengarkan reaksi yang ditunjukkan dia oleh anak manusia itu. Dan ... tentu saja, dia tak merespon, dia memang bukan tipe yang sering bicara, namun setidaknya jika dia yang menelponku disini, dia harus mengatakan sesuatu.

"Maafkan aku, Sans," suara pelan keluar dari telepon, pada akhirnya dia mengucapkan sesuatu, sesuatu yang telah kutebak akan disebutkannya setelah cerita panjangku.

"hey, nak, aku sempat memikirkan hal ini, adakah panggilan untuk seseorang kehilangan saudaranya? maksudku jika seorang anak kehilangan keluarganya dipanggil yatim, seseorang kehilangan istrinya dipanggil duda, seseorang kehilangan suaminya dipanggil janda, lalu adakah panggilan untukku? seseorang yang kehilangan saudaranya yang merupakan satu-satunya yang pernah aku miliki disini? adakkah?"

"apakah karena hal tersebut terlalu biasa saja bagi orang lain jadi mereka tak memberikan kata mewah untuk kejadian seperti itu? atau aku hanya tak becus dengan perkejaanku dan kebanyakan orang yang kehilangan saudaranya dikarenakan kesalahan kakaknya maka dari itu tak perlu dibuat kata-kata indah untuk kondisi ini?"

Aku meletakkan teleponku diatas meja dan melanjutkan tangisanku, aku tak tahu jika anak kecil itu akan berbicara sesuatu lagi ataupun apa, tak ada satupun yang dia lakukan akan mengembalikan Papyrus kesini.

"jangan pernah kembali disini, nak. kau tak diterima disini ... setidaknya olehku."

Ppppppffffffffffffttttttttttttt

Telepon langsung kumatikan dan aku tak ingin dia pernah hadir disini lagi.

The End