Love After Love
Title : Love After Love
Author : Gia onee-san a.k.a park Young eun
Pairing : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Go ahra, Sandara Park
Genre : Romantic, Drama, Complicated,
Rated : T
Leigth : Chapter
Happy reading^^
Chapter 4
Aku membuatmu terluka untuk bahagia
Aku menginginkanmu melupakan untuk mengingat
Aku membuatmu melepaskan untuk bersatu ...
Love After Love
Giaoneesan
.
.
.
"Oppa! Apa maksudnya ini?" Ara menatap tidak percaya saat tiba-tiba Jung Yunho, namja yang sekarang menjadi kekasihnya menggantikan Kim Jaejoong itu meraih tanganya dan meletakkan sebuah kalung berliontin hati, kalung pasangan yang baru saja mereka pilih saat mereka resmi berpacaran beberapa hari yang lalu.
"Kita berpisah saja Ara~ya." Ucap Yunho datar dan tanpa ekspresi. Ara terdiam, mulutnya kaku seakan mencoba mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"Jangan bercanda oppa, ini tidak lucu." Jawab Ara sembari menggelengkan kepalanya. Menolak, Gadis itu mundur beberapa langkah menjauh dari namja yang sekarang masih memasang wajah datarnya. Yunho mengarahkan pandangannya kearah lain, mencoba mencari sesuatu pengalihan dari yeoja dihadapanya yang sekarang tampak syok dan tubuhnya yang bergetar serta manik brown nya tampak berkaca-kaca.
"Anya, aku sangat serius Ara~ya. Kita sudah berakhir sekarang. Mianhe." Seru bibir hati itu lagi dan berbalik menghindari melihat tubuh gadis yang terguncang hebat karena ulahya.
Terdengar isak tangis yang semakin keras, Yunho berhenti sejenak dan menggeleng lalu melanjutkan langkahnya.
Greep
"Oppa, jebbal jangan seperti ini. Jika aku berbuat salah, aku minta maaf, tapi aku mohon jangan pergi dari ku dan meninggalkan ku seperti ini." Isak Ara memeluk Yunho dari belakang, menahan kepergian namja itu. Yunho terkejut, tapi wajahnya kembali datar. Perlahan dan pasti, Yunho melepaskan rengkuhan Ara dari tubuhnya. Dia berbalik menghadapi wajah yang bersimbah air mata itu. Dan sebuah senyuman justru terlukis di sudut bibir hatinya, membuat Ara tercenung heran dan menatap penuh tanya.
"Mianhe Go Ara ssi. Tujuanku bukanlah dirimu. Kau hanya alat untuk mencapai tujuanku itu. Sedikit lagi aku akan menggapainya. Kau sudah tidak kubutuhkan lagi. Jadi jangan menbuang airmata mu sia-sia untuk menangisi seseorang yang bahkan hanya memanfaatkanmu." Ara menggeleng dan mundur beberapa langkah menjauh dari namja tampan yang di kaguminya itu.
"Apa maksudmu hah?" Seru Ara semakin memperlebar senyuman milik Jung Yunho.
"Sebentar lagi aku akan meraih hadiah yang di berikan seseorang padaku. Kau bahkan mengenal baik seseorang yang ku maksud Ara ssi."
"Kau! Apa sebenarnya yang kau inginkan brengsek?" Sungut Ara emosi dan menatap nyalang. Laki-laki ini benar-benar telah mempermainkanya.
"Dengar baik-baik Go Ara, Aku—menginginkan—belahan jiwa—Han Jaejoong." Ara tersentak saat mendengar nama itu terlontar dari mulut Yunho. Bagaimana bisa namja itu tau soal Han Jaejoong, apa hubungannya Jung Yunho dengan saudara kembar Kim Jaejoong itu? Ara bahkan baru mengetahui tentang hal itu enam bulan yang lalu.
"Ba-bagaimana k-kau bisa tau soal Han Jaejoong? Siapa kau sebenarnya Jung Yunho ?" celetuk Ara semakin mengerutkan keningnya.
"Kau akan tau setelah aku mencapai tujuanku. Dan kau benar-benar yeoja yang sangat kasihan."
Plak
Ara menampar wajah Yunho, namun seringaian yang justru di lontarkan namja bermarga Jung itu.
"Kau benar-benar brengsek Jung Yunho. Aku akan memberitahukan semuanya pada Jaejoong oppa. Dan kau, aku sungguh menyesal karena tertipu olehmu. Ku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan." Ujar yeoja bermata bening itu dan meninggalkan Yunho begitu saja.
Yunho meraih ponselnya di saku celananya, mendial nomor yang masuk dalam panggilan cepatnya.
"Junsu~ya, eodiya?"
...
"Arraseo, aku kesana segera."
.
.
Love after Love
giaoneesan
.
.
Osaka, Japan
6 months ago
.
.
.
Yunho berlari sekuat tenaga menuju rumah sakit umum di Osaka. Kabar yang di sampaikan nyonya Han seakan merenggut sebagian hidupnya. Begitu sampai di sebuah ruangan perawatan ia semakin perlahan melangkahkan kakinya. Pendengarannya menajam saat tanpa sengaja didengarnya suara-suara dalam ruangan itu.
"Kalau dulu kau tidak egois, mungkin nasib anak itu tidak akan seperti ini." Yunho memperhatikan sosok pria berwajah tampan dan berbadan tegap itu berucap dengan nada seolah meremehkan.
"Aku mohon Joonwon ssi. Tolong selamatkan putraku. Bukankah dia putamu juga. Mereka saudara kembar, pasti Jaejoong bisa menyelamatkan Han. Sum-sum tulang Jaejoong pasti cocok dengan Han." Yunho melihat nyonya Han yang berlutut dihadapan laki-laki itu dengan wajah penuh linangan air mata.
"Kau sudah mengambil keputusanmu dua puluh tahun yang lalu. Bahwa kau bilang akan merawat dan membesarkan serta memberikan nama margamu padanya. Sejak itulah anak itu bukanlah anakku lagi." Yunho menggeram terahan di balik pintu ruang rawat Han Jaejoong saat melihat wanita paruh baya itu diperlakukan, bagaimanapun juga Yunho sudah menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri. Mata musangnya kembali mengawasi perbincangan yang sedang berlangsung itu.
"Jebbal, selamatkan Han Jaejoongku Joongwon ssi." Rintih nyonya Han. Sakit, perih di ulu hatinya, itulah yang Yunho rasakan sekarang. Tapi dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan urusannya dan wanita itu sekarang sedang memohon untuk secercah harapan bagi seseorang yang sangat berarti bagi Yunho.
"Cih ! bahkan kau memberikan nama yang sama pada anak itu. Asal kau tau, sampai kapanpun Han Jaejoong tidak akan pernah bisa menjadi seperti Kim Jaejoong. Biarkan saja anak itu menemui ajalnya. Jangan harap kau bisa mengganggu ku lagi. Jangan pernah mencoba mencari Kim Jaejoong atau keluarga Kim lagi." Sahutnya sembari memalingkan wajahnya dan bergegas keluar dari ruang rawat Han Jaejoong. Yunho menyingkir secepatnya dari pintu dan menghilang saat Kim Joongwon keluar dari ruangan itu. Berfikir, apa yang baru saja didengarnya, Yunho menatap lantai rumah sakit itu dengan tatapan kosong. Kembar? Mereka saudara kembar? Han mempunyai seorang kembaran? `Kim Jaejoong` nama itu terus-menerus muncul dalam otaknya.
"Eommonim ." nyonya Han berpaling setelah menghapus airmata yang sempat menghiasi wajahnya.
"Kau sudah datang Yunho~ah? "
"Nde, Eommonim, gwenchana? Bagaimana keadaan Jae?" nyonya Han melihat wajah pucat yang terbaring di ranjang rumah sakit itu. Dan air mata kembali mengalir. Wanita itu terisak semakin keras dan hebat. Yunho menghampirinya dan mendekap tubuh wanita paruh baya itu.
"Jae pasti kembali. Dia sudah berjanji padaku." Ucap Yunho dan melihat wajah orang yang begitu di kasihinya itu.
.
.
.
Yunho berjalan tertunduk di lorong rumah sakit, dan terkejut saat melihat beberapa perawat serta dokter yang berlari dengan panik . Pikiranya segera mencerna dimana tepatnya arah yang di tuju dokter serta perawat itu. Dia pun ikut berlari nafasnya terasa sesak dan hatinya berdenyut tiba-tiba.
Semuanya terasa begitu cepat. Seolah baru kemarin dia bertemu dengan anak laki-laki cantik yang dipanggilnya bishounen, yang mengajarinya bahasa Korea dan selalu menemaninya kapanpun dan bahkan tidak pernah mengetahui kalau ternyata orang yang dikasihinya itu mengidap penyakit leukimia mielogenus akut. Yunho menatap foto Han Jaejoong nanar, tanpa disadarinya dua buah air bening menjatuhi bingkai foto itu.
"Yunho~ah" Panggilan nyonya Han mengalihkan perhatian Yunho.
"Aku tau kau masih merindukanya. Tapi dia sudah pergi Yunho~ah, jangan membuatnya bersedih. Dia menitipkan ini padamu. Eomma sudah terlalu lama menyimpanya. Mianhe, kami tidak pernah memberitahukan semuanya dari awal padamu." Yunho tertegun sejenak dan menerima sebuah kotak yang disodorkan nyonya Han padanya. Dibukanya kotak itu, Yunho mengambil secarik kertas yang ada paling atas dalam kotak.
"Yunho~ah. Mianhe, aku tau kau menyukaiku. Bahkan aku menyukaimu jauh lebih lama saat pertama kali kau menyapaku dan memanggilku bishounen. Aku menyukai saat kita selalu bersama. Saat kita melihat daun gingko yang berguguran, saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Aku menyukainya. Tapi aku bukan orang yang tepat untukmu Yunho~ah. Karena itulah, sebagai ganti diriku yang telah menghilang dari sampingmu, aku akan mengirimkan hadiah terindahku padamu. Perjuangkanlah itu. Aishiteru ."
Yunho merasa bingung dengan tulisan singkat Han. Di lihatnya isi kotak itu lagi. Tampak sebuah foto yang Yunho yakini adalah Han, diperhatikanya wajah dalam foto itu, wajah yang sangat dirindukanya. Saat membaliknya ada sebuah tulisan lagi di belakang lembar foto itu.
"My gift for you"
Hanya satu dalam fikirannya saat ini. Pergi ke makam Han Jaejoong. Apa maksud Han? Apakah dia ingin Yunho mengenangnya selamanya karena itu memberikan dia fotonya? Tanpa foto pun Yunho bisa dengan jelas melihat dan membayangkan wajah Jaejoong.
"Yunho~ah, eodiga?" tanya nyonya Han saat melihat Yunho keluar dari kamar Han.
"Aku rindu pada Jae eomma, aku ingin mengunjunginya." Ucap Yunho dan mendapat anggukan dari nyonya Han.
.
.
.
"Mari tuan muda, silahkan." Seoarng namja memakai jas semi formal berwarna hitam dipadu kaos v-neck warna putih turun dari dalam mobil sedan. Mata doenya tertutup kacamata berlensa hitam dan diiringi beberapa orang dengan penampilan sama serta bertubuh atletis. Pemuda itu berjalan mengikuti sosok pria paruh baya di hadapannya yang sedang menunjukkan jalan padanya.
"Ini makam saudara kembar anda tuan muda." Namja berkacamata hitam itu mendekat kesebuah pusara bertuliskan Han Jaejoong. Diletakkannya sebuket bunga lily berwarna putih diatas makam itu.
"Annyeong, nan Kim Jaejoong imnida, bangapsumnida. Mianhe, aku tidak pernah mengetahui keberadaanmu. Mianhe, aku terlambat datang untuk mu. Mianhe Han Jaejoong, mianhe ,,, " Namja itu merunduk kan wajahnya dan tangannya yang putih terulur mengelus nama yang tertera dalam pusara itu.
"Tuan muda sudah saatnya. Sebelum tuan besar mengetahui kepergian tuan muda ke tempat ini. Sebaiknya kita bergegas." Seru lelaki yang berdiri tak jauh dari namja cantik yang masih setia menatap nama dalam pusara itu. Dia lantas menyunggingkan senyuman di sudut cherry lipsnya.
"Lihat, bahkan nama kita pun sama. Han Jaejoong dan Kim Jaejoong. Mianhe, aku harus pergi, aku pasti kembali. Jadi jangan pernah bosan melihat wajahmu sendiri Han. Annyeong" Pemuda itu lantas berdiri.
"Adjjusi, gomawo sudah memberitahukan tentang Han padaku. Aku berhutang banyak padamu Go adjjusi. Mungkin aboji tidak akan pernah berniat memberitahukan kenyatann ini padaku. Adjjusi pergilah kemobil dulu, aku ingin berdua saja dengan Han sementara waktu. Kalian juga pergilah." Perintah Jajeoong pada para bodyguardnya serta supir pribadi keluarganya yang tak lain adalah ayah Ara. Orang-orang itu membungkuk dan meninggalkan namja cantik itu sendirian.
.
.
.
.
Yunho semakin kencang berlari sembari memegang erat selembar foto yang baru saja didapatnya sebagai hadiah terakhir dari Han Jaejoong.
Deg
Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika, perasaannya membuncah. Yunho melihat wajah itu lagi. Kali ini bukan wajah pucat seperti biasanya, melainkan wajah menawan dan penuh pesona. Yunho tak mampu mengucapkan kata-kata lagi, bibirnya terasa kelu semua perasaan bercampur menjadi satu. Diperhatikannya dengan seksama namja yang sedang berdiri di samping makan Han Jaejoong. Namja itu melepas kacamata hitamnya dan sekali lagi Yunho terpesona oleh mata doe yang hitam kelam serta teduh itu. Tanpa sengaja mata musangnya beralih melihat foto dalam tangannya. Satu perbedaan yang baru disadari Yunho. Han Jaejoong tidak pernah menggunakan tindikan di cuping telinganya. Dan dalam foto itu , jelas-jelas ditelinganya terdapat sebuah tindikan. Yunho beranjak memandang laki-laki cantik yang wajahnya sangat mirip dengan foto di tanganya, saat angin tiba-tiba berhembus, dan Yunho melihatnya, laki-laki jelas-jelas memakai tindikan di telinganya. Bibir hati itu tersenyum tapi juga meneteskan airmatanya. Entah dia harus merasakan apa. Kembali terngiang isi surat Han Jaejoong yang ditulis untuknya.
` sebagai ganti diriku yang telah menghilang dari sampingmu, aku akan mengirimkan hadiah terindahku padamu. Perjuangkanlah itu.`
Yunho menatap tulisan di balik foto itu dan kembali menatap namja cantik yang berdiri di samping pusara. Inikah hadiah yang kau maksudkan Jae? Kau ingin agar aku bisa bersama dengan belahan jiwamu yang lain? Gomawo, hadiahmu akan aku perjuangkan dan kudapatkan. Dan senyuman benar-benar mengembang di sudut bibir hati milik Jung Yunho.
Sekembalinya dari makam Han jaejoong, Yunho bertekad mencari tau tentang Kim Jaejoong yang baru diketahuinya. Dan keinginannya terkabul saat teman dunia mayanya yang bernama Kim Junsu mengirimkan fotonya bersama beberapa teman mahasiswa di universitas Chongju. Perhatiannya hanya tertuju pada satu sosok yang berdiri di samping Junsu , Wajah yang selalu diingatnya dan selalu bisa menarik mata musangnnya untuk tidak pernah lepas dari pesonanya. Kim Jaejoong, hadiah terakhir yang dipersembahkan Han Jaejoong untuknya.
.
.
Love after Love
giaoneesan
.
.
"Aku kembali Han. Mianhe, apa kau masih marah padaku? " Jaejoong berjongkok di samping sebuah pusara yang di tumbuhi beberapa rumput ilalang itu.
"Aku sudah berpisah dengan kekasihku. Apa dulu kau juga berpisah dengan kekasihmu?" Jaejoong tersenyum hambar dan mulai membersihkan daun-daun gingko yang mengering memenuhi makam yang di kunjunginya itu.
Srieett
Jaejoong tersentak saat mendengar sebuah suara tak jauh darinya. Perasaan dia datang sendiri ketempat ini, tidak diantar supir atau bodyguard nya.
"Nuguseo?" Tanyanya entah pada siapa. Digerakkannya kepalanya ke segala arah mencari, jika ada seseorang selain dirinya di tempat itu.
"Nuguya? " Kali ini Jaejoong berdiri dari berjongkok nya dan berjalan kearah suara yang didengarnya.
"Apa ada orang disana?"
?
?
Bruuukkk ... seseorang mendorong tubuh Jaejoong, hingga namja cantik itu tersungkur dan tubuhnya membentur pusara hitam di belakangnya. Punggungnya terasa remuk setelah jatuh dan membentur makam . Jaejoong meringis tapi doesnya memicing dalam gelapnya malam , mencoba mengetahui seseorang yang baru saja mendorongnya hingga terjatuh.
"Siapa kau?" Tanyanya masih berusaha melihat wajah orang yang berdiri dihadapannya. Saat sosok itu berjalan mendekat barulah Jaejoong menyadari siapa oranng yang telah mencelakainya. Sosok tubuh tegap dan senyum yang menyungging dibibir hati itu membuat wajah Jajeoong mengeras.
"Kau !"
"Rupanya disini kau berada. Kim Jaejoong?" Ucap suara bass itu dan kembali berjalan semakin dekat kearah Jaejoong yang sudah mulai beranjak berdiri.
"Kau datang dari Soul ke Osaka untuk menyusulku? Jung Yunho?" Jaejoong terkekeh, sementara Yunho diam tak bergeming.
"Aku sudah tau semuanya. Kau, kau teman dekat Han. Anya? Dan kau sengaja mendekatiku untuk membalas dendam padaku karena aku tak datang saat Han sedang sekarat, saat Han membutuhkanku, saat Han meregang nyawa, saat Han ..," Jaejoong tak mampu lagi meneruskan kata-katanya dia menunduk dan merasakan does eyesnya mulai terasa panas.
"Baguslah kalau kau sudah mengetahui sampai sejauh itu. Aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi kalau begitu." Ungkap Yunho masih mengawasi namja cantik itu dengan tatapan penuh arti. Jaejoong kembali mengangkat wajahnya dan rahangnya semakin mengeras. Mata doenya menatap tajam manik musang dihadapanya.
"Apa yang kau inginkan brengsek?" Teriak Jaejoong sambil menarik kerah baju Yunho, namun namja itu justru menyeringai.
"Apa kau ingin menghancurkan hidupku? Kenapa kau tidak membunuhku saja sekalian agar aku bisa menemani teman dekatmu itu. Dan tak akan ada lagi Kim Jaejoong yang hidup sementara Han Jaejoong mmeninggal. Ayo bunuh aku sekarang juga !" Teriak Jaejoong lagi.
"Kau benar-benar saudara kembar yang buruk Kim Jaejoong." Guman Yunho menatap tajam does eyes Jaejoong.
"Geure, aku memang saudara kembar yang buruk. Lalu apa maumu hah?"
"Kau ingin tau apa mauku? Aku menginginkan saudara kembar Han Jaejoong menjadi milikku." Jaejoong terbeku dan syok dengan apa yang baru saja didengarnya. Cengkeramanyanya dikerah baju Yunho mengendur, tapi dia semakin terkejut saat tiba-tiba Yunho menyerang bibirnya dengan ciuman mendadak. Yunho melingkarkan tangannya di pinggang Jaejoong sementara namja cantik itu membelalak berusaha mendorong tubuh kekar Yunho yang malah semakin menariknya dalam rengkuhanya untuk memperdalam ciumannya.
Hemmmppckk ...
Mppphhhhh
"Ap-pah yangh k-auh lagkuhkan bbrengsekkkkkhhhh. Leepasssh ... "Yunho tidak mempedulikan suara tanya Jaejoong dia memberikan lumatan-lumatan dan pagutan di bibir cherry itu. Menarik tengkuk Jaejoong agar memperdalam ciumannya. Jaejoong berusaha sekuat tenaga merapatkan katupan di kedua bibirnya saat lidah Yunho berusaha menerobos masuk ke dalam mulutnya, namun pertahananya runtuh saat Yunho menggigit bibir bawahnya. Membuatnya memekik dan Yunho mengambil kesempatan itu menyelipkan lidahnya hingga meluncur mengisi rongga mulut Jaejeoong. Lama-lama tarikan tangan Jaejoong di kerah Yunho berubah, Jaejoong mengalungkan tanganya di leher Yunho, pikiranya tak mampu lagi berfikir, otaknya menolak, hatinya berontak tapi tubuhnya terasa lemas dan seakan terbuai akan sentuhan bibir hati itu serta lidah Yunho yang semakin gencar bergerak dan menari menyusuri setiap inci rongga mulutnya. Tanpa namja cantik itu sadari, dia telah membalas ciuman Yunho yang intes padanya.
JEDLEEEERRRR
Dresssssss
Terpaan titik-titik air yang turun dari langit itu membasahi tanah pemakaman di kawasan Osaka. Membasahi dua sosok manusia yang saling berciuman di samping sebuah makam bernisan Han Jaejoong.
Enggghhh
Yuuunn...
Jaejoong melengguh, Yunho masih terus melumat bibir atas dan bawahnya bergantian, seakan ingin melahap bibir itu sepenuhnya, dinginnya air hujan sama sekali tak mampu menghentikan apa yang sedang dilakukannya.
Bruukk
Yunho mendorong dan membawa tubuh Jaejoong hingga tubuh ringkih itu membentur dan bersandar pada dinding pusara. Kembali dia meminta Jaejoong memberinya akses memasukkan lidahnya, dan Jaejoong tanpa sadar memberikanya. Kedua lidah itu saling bergulat dan bertarung di dalam rongga mulut Jaejoong. Merasa seakan nafasnya mau terhenti, Jaejoong melepas ciuman itu sepihak dan menengadahkan kepalanya. Membiarkan air hujan yang dingin menerpa dan menyentuh wajahnya. Yunho berhenti dan memperhatikan wajah Jaejoong dihadapannya. Wajah indah itu semakin menawan saat terguyur air hujan, apalagi saat air itu meluncur jatuh dari dagunya yang terangkat keatas. Yunho menelan saliva yang bercampur air hujan itu lalu kembali mengecup setetes air yang baru saja mengalir melewati bibir cherry Jaejoong. Yunho mengarahkan ciumannya di leher jenjang yang sedang terekspos itu.
Argghhhh...
Jaejoong memekik tertahan saat Yunho menggigit kulit lehernya dan memeberikan sebuah tanda kepemilikannya. Dan ciuman itu berakhir saat Yunho merengkuh tubuh Jaejoong dalam pelukannya. Yunho merasakan tubuh dalam rengkuhanya mengigil dan bergetar. Dia mengangkat tubuh Jaejoong dan mengalungkan lengan Jaejoong kelehernya, lalu menggendong tubuh lemas itu dipunggungnya. Mereka pun meninggalkan area pemakaman tempat seorang belahan jiwa Kim Jaejoong sedang beritirahat dengan tenang, tempat pertama kali seorang Jung Yunho bertemu dengan Kim Jaejoong, tempat saat dia berjanji akan mendapatkan dan memperjuangkan hadiah terindah yang diberikan teman dekat sekaligus seseorang yang pernah mengisi relung hatinya. Serta tempat yang menjadi saksi bisu ciuman yang baru saja terjadi diantara dua insan itu.
.
.
.
Tok
Tok
Tok
"Eommonim! Tolong buka pintunya." Teriak Yunho di depan rumah nyonya Han.
Pintu terbuka, menampakkan wanita paruh baya dengan wajah sayu dan tubuhnya yang tampak kurus setelah enam bulan lamanya dia hidup dan tinggal sendiri karena putranya telah pergi mendahuluinya, menuju tempat yang tenang.
"Oh, Yunho~ah. Musun illya?" Pandangan wanitu itu tertegun saat melihat wajah seseorang yang berada dalam gendongan Yunho.
"Eomma, biarkan kami masuk." Seru Yunho mengembalikan kesadaran nyonya Han, wanita itu mengangguk dan membuka pintu lebih lebar, memberikan akses Yunho untuk masuk kedalam rumah.
Yunho merebahkan tubuh Jaejoong di tatami di salah satu kamar yang dulu sering sekali disinggahinya. Melihat wajah pucat Jaejoong, sebelum berpaling melihat wanita yang tak bergeming di samping pintu geser kamar bekas tempat tidur putranya yang satu lagi Han Jaejoong. Airmata itu pun kembali mengalir tanpa diundang. Saat melihat wajah yang sama persis yang sekarang berada di kamar itu, terbaring dan pucat.
"Eomma, kelihatannya dia demam. Tolong bantu aku mengganti pakaiannya yang basah." Pinta Yunho. Nyonya Han mengangguk dan menghapus airmatanya. Dia berjalan mendekat, memperhatikan wajah Jaejoong lagi sebelum membelainya dan beranjak menuju lemari pakaian di sudut suangan itu. Mengambil sebuah piyama yang dulu juga sering dipakai Han, serta mengambil baju untuk Yunho. Dulu karena sering nya Yunho berkunjung dan menginap di rumah nyonya Han, dia bahkan meninggalkan beberapa pakainnya dirumah itu.
"Kau juga gantilah bajumu Yunho~ah, kau sangat basah kuyup. Aku akan membantunya. Nanti jangan lupa ambilkan air hangat di dapur dan kainnya. Aku takut nanti dia akan demam kalau terus dibiarkan lama-lama." Yunho mengangguk dan mengambil pakaian yang baru diambilkan nyonya Han lalu namja tampan itu bergegas keluar. Meninggalkan ibu dan anak itu berdua.
.
.
.
Jaejoong terbangun dengan kepala yang sangat pening, mata doe nya mengerjap merasa terpaan sinar dari celah jendela mengusik indara penglihatanya. Dia bergerak pelan tapi ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Tanganya mencoba meraba sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Tangan? Siapa? Dia membalikkan badannya perlahan.
Chup
Jaejoong terbelalak saat bibir hati Yunho menyentuh dahinya. Mata musang itu masih terpejam. Jaejoong mencoba mengingat kejadian yang dialaminya di pemakaman kemarin malam, dan bayangan-bayangan kejadian itu terulangg kembali sepeti klise. Termasuk ciumanya nya dan kata-kata Yunho yang diucapkan namja tampan itu.
` Aku menginginkan saudara kembar Han Jaejoong menjadi milikku` Jaejoong menggigit bibir bawahnya dan terus berfikir, namun dia kembali tersentak saat Yunho menariknya semakin dekat dan mengeratkan pelukanya. Jaejoong menghela nafas saat wajahnya membentur dada bidang Yunho. Namun detik berikutnya namja cantik itu kembali terlelap karena merasakan kehangantan dari sosok yang bebaring sambil memeluknya.
.
.
Love after Love
giaoneesan
.
.
"Jadi mereka ada di Osaka? Geure, dia sudah terlalu jauh melangkah. Lihat saja, aku pastikan kau tidak akan pernah menginjakkan kaki ketempat itu lagi. Jangan harap untuk bersatu saat aku masih hidup !"
.
.
.
Tbc
Note: leukimia mielogenus akut- penyakit leukimia/kanker darah yang sering didialami saudara laki-laki kembar identik dan menyerang di segala usia.
Arigatou:
MaghT, trililililili, Vic89, MaghT, trilililili, lipminnie, KimYcha Kyuu, ichigo song, Guest, NaraYuuki, Vic89, Himawari Ezuki, Himawari Ezuki, Himawari Ezuki, Ichigo song, lipminnie, irengiovanny, J-Twice, meybi, Kim vinansia, MaghT, Guest, mitatitu. N all of favorit n follow this ff.
Your words is my inspiration^^ Ganbate :D
