"Terima kasih untuk kerja kerasmu sejak semalam, maafkan aku seharusnya aku yang menjaga cafe pagi ini..."
"Tidak apa nyonya Kim, yang terpenting kau bisa mengantarkan anakmu untuk masuk TK pertama..." Sahut Eunhyuk seraya memberikan senyum manisnya kepada sang pemilik cafe.
"Terima kasih, dan sebenarnya aku punya kabar buruk untuk cafe kita ini..." Ucap wanita berusia 35tahun itu dengan suara pelan. Beruntung cafe saat ini sedang sepi, jadi mereka berdua masih bisa berbicara sebelum Eunhyuk mengakhiri jadwal kerjanya hari ini.
"Kabar buruk? Ada apa?"
"Shindong memutuskan untuk mengundurkan diri, tadi pagi ia mengirimkan pesan singkat padaku dan menyatakan bahwa ia ingin berhenti karena telah menemukan pekerjaan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan disini... Aku tidak tahu mengapa ia memutuskan hal itu secara sepihak, tapi aku belum bisa menemukan karyawan baru jika ia saja menyampaikan berita itu tiba-tiba... Jadi, sebelum aku mendapatkan pegawai baru... Bisakah kau bekerja di shift 3 mulai saat ini?" Ujar wanita itu pelan, merasa tak enak kepada Eunhyuk yang baru sebulan ini bekerja bersama dengannya di cafe kecil miliknya. Bukan karena pelit, sehingga ia hanya mempekerjakan beberapa orang untuk mengurusi cafenya, namun karena keterbatasan biaya dalam menggaji karyawanlah yang membuatnya harus mempekerjakan beberapa orang saja di cafenya.
"Apa? Shift 3? Ah, baiklah... Tak masalah... Hm, jadi nanti malam aku harus berjaga lagi?"
"Mian..."
"Ah, gwaenchanayo... Aku akan melakukannya... Tak apa nyonya Kim... Kalau begitu aku harus pulang untuk beristirahat dahulu... Permisi..." Ucap Eunhyuk menahan senyumnya yang akan memudar jika saja ia tidak menahannya. Entah kenapa ia merasa tidak senang dengan kabar itu. Ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju loker karyawan yang berada samping dapur.
'Donghae... Aku lelah...' Batin Eunhyuk dalam hati. Ia menghela nafas panjang ketika merasakan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi menghadapi jam kerjanya yang mengharuskan dirinya untuk bekerja dimalam hari, dan tak jarang ia harus menghadapi jadwal longshift seperti sekarang ini.
Ini semua karena Shindong hyung yang menjadi partner kerjanya telah mengundurkan diri, dan mau tak mau sebagai seorang pria, mulai sekarang ia harus bekerja pada waktu malam yang terkadang membuat matanya perih hingga pagi hari. Oh, sesulit inikah jika bekerja? Apakah dia tak seberguna itu sampai-sampai ia harus menyerah menghadapi ini semua?
'Donghae...'
"Astaga! Eunhyukee berhentilah mengeluh! Kau tidak boleh merepotkan Donghae! Aku harus membuktikan pada Donghae bahwa aku bisa bekerja!" Gumamnya menyemangati dirinya sendiri seraya menepuk kedua pipinya dengan cukup keras.
.
"Sudah selesai?"
"Astaga!" Pekik Eunhyuk terkejut ketika ia baru saja keluar dari cafe tempatnya bekerja. Batu es yang ia gunakan untuk mengopres kedua matanya sontak terjatuh akibat mendengar suara seseorang yang mengintrupsi kegiatannya tadi.
Eunhyuk membelalakan matanya ketika mendapati sosok Donghae yang kini tengah berdiri dihadapannya dengan tatapan datar. Kedua tangannya ia silangkan diatas dada, seakan menunggunya untuk membuka bajunya tepat dihadapan pria berbibir tipis itu.
"Se, sedang apa kau disini? Kau tidak bekerja? Bu, bukankah kau sudah pergi sejak pukul 10 tadi?" Tanya Eunhyuk bertubi-tubi.
Donghae mendengus, kemudian menegakkan tubuhnya di hadapan Eunhyuk yang masih menatapnya tak percaya.
"Kau akan pulang kemana?" Tanya Donghae tanpa sedikitpun menggubris pertanyaan Eunhyuk padanya tadi.
"Hah?"
"Aish, kau mau pulang ke apartemen kita atau ke rumah Leeteuk hyung ?!" Ucap Donghae menahan kesal. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah lusuh kekasih manisnya yang saat ini terlihat begitu kurus. Aish, betapa tidak bergunanya Donghae! Bahkan kekasihnya sampai tidak mempercayai usahanya sendiri dalam bekerja untuk menghidupi masa depan kekasihnya sendiri, hingga memutuskan untuk bekerja tanpa mendengarkan perkataannya yang melarangnya bekerja dan meminta Eunhyuk untuk diam saja dirumah.
Eunhyuk menerjapkan kedua matanya, menatap dalam manik kelam Donghae yang terlihat begitu tajam dan memabukan. Ingin sekali ia bercerita pada Donghae bahwa dirinya sudah lelah, namun kembali diurungkannya karena memang inilah keputusan yang telah ia ambil sejak 6bulan yang lalu. Dan ini adalah resiko yang harus ia terima kan?
"Kau masih marah padaku?" Tanya Eunhyuk dengan suara pelan.
"Tentu saja! Itu karena kau tidak mau mendengarkan perkataanku yang melarangmu untuk bekerja!" Balas Donghae cepat.
"Kalau begitu aku akan kembali kerumah Leeteuk hyung." Ujar Eunhyuk sebelum ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Donghae yang saat ini sedang membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak percaya bahwa kekasih manisnya yang super keras kepala itu, lagi-lagi mengabaikannya tanpa mau mendengarkan apa yang belum sempat Donghae katakan pada kekasihnya itu.
Dengan hati yang kesal, Donghae memejamkan matanya untuk menenangkan emosinya yang kian bergejolak. Bagaimana ia bisa diam saja jika kekasihnya bekerja begitu keras sampai seperti ini? Bagaimana bisa ia hanya diam melihat kekasihnya terluka karena tersiram air panas seperti tadi? Dan bagaimana bisa Donghae diam saja ketika wajah lembut itu harus terlihat lusuh dan seperti kekurangan darah seperti itu?! Oh sialan! Bisakah Eunhyuk berhenti saja detik ini juga?! Si keras kepala itu harus diberi pelajaran!
"Ya! Lee Eunhyuk!" Donghae segera berbalik dan menghampiri Eunhyuk yang kini berjalan didepannya. " Tidak bisakah kau mendengar perkataanku sekali saja?! Apa salahnya menuruti perkataanku padamu? Aku tidak ingin kau bekerja Lee Eunhyuk! Bisakah kau hentikan ini sekarang juga?! Aku tidak mau melihatmu harus terluka akibat siraman air panas atau hal lainnya yang membuatmu harus bergadang sepanjang malam hingga siang hari! Aku sudah mendengarnya dari Leeteuk hyung! Bahkan ia juga tidak tega melihatmu seperti ini! Turuti aku dan tinggalah dirumah! Menungguku pulang kerja tidak ada buruknya juga kan?! Kau hanya tinggal menerima hasil usahaku dan menyemangati ku bekerja!" Ujar Donghae panjang lebar, ia menghela nafas panjang ketika dirinya hampir kehabisan nafas karena mengeluarkan seluruh pendapatnya pada Eunhyuk yang kini telah menghentikan langkah kakinya yang berniat mengabaikan Donghae.
Eunhyuk memalingkan wajahnya, dan menatap dalam diam sosok pria bertubuh kekar yang kini terlihat sedang mengatur nafasnya kembali karena perkataannya yang terlalu panjang tadi
"Sudah selesai bicaranya?" Tanya Eunhyuk pelan. Donghae menghela nafas seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya sudah.." Sahut Donghae.
"Aku tidak bisa menuruti perkataanmu Donghae..."
"Aish Lee Eunhyuk!"
"Aku tidak bisa! Haruskah aku katakan lagi padamu bahwa aku ini bukanlah lelaki lemah! Kau tidak perlu merasa khawatir akan pekerjaanku! Aku bisa mengatasinya sendiri! Bisakah kau mengerti?!"
"Aku tidak mengerti! Kau terlalu keras kepala! Aku sudah memberikanmu fasilitas, tapi kau tidak menurutinya! Apa salahnya dengan itu hah?!" Desis Donghae kesal. Astaga, kenapa ia harus punya kekasih sekeras kepala ini? Ia tidak mengerti jalan pikiran kekasihnya ini! Seminggu ia abaikan, tetap saja bocah ini masih pada pendiriannya!
Eunhyuk mendengus sebal. Kenapa disaat pikirannya sedang kacau ia harus kembali meladeni sifat Donghae yang menyebalkan seperti ini sih?! Tidak bisakah Donghae menjadi sosok baik yang memberikannya pelukan yang dipenuhi dengan cinta disaat kondisi tubuhnya dalam keadaan lelah? Tidak bisakah Donghae mengerti, bahwa ia juga tidak ingin terlalu bergantung pada Donghae?!
"Aku tidak mau menjadi orang yang akan selalu merepotkanmu..." Ucap Eunhyuk dengan suara parau. Ia menundukan wajahnya supaya Donghae tidak perlu melihat raut wajahnya yang sangat menyedihkan.
"Siapa yang bilang kau merepotkanku hah?!" Pekik Donghae seraya meraih pergelangan tangan Eunhyuk. Tanpa ia sadari bahwa perbuatannya telah membuat Eunhyuk memekik kaget ketika merasakan sakit pada tangan kanannya yang memerah akibat terkena air panas tadi.
"Akh! Aku bisa Donghae! Bisakah kau percaya padaku?! Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak berguna, aku mendapatkan gelar sarjana bukan untuk berdiam diri dirumah... Uh... Mengertilah... Aku, aku..." Ucap Eunhyuk dengan suara parau bahkan tanpa sadar kedua matanya telah dipenuhi oleh tetesan air mata, ia memandang wajah pias Donghae yang kini tengah menatapnya tajam.
Donghae terdiam, tangannya yang mengenggam pergelangan tangan Eunhyuk sontak ia hempaskan begitu saja. Mengabaikan pekikan kesakitan yang Eunhyuk keluarkan dari bibir ranumnya. Lelaki bersuara baritone itu hanya mampu mendesah dengan suara keras, hingga menyebabkan para pejalan kaki terkejut akibat ulahnya itu.
"Persetan dengan semuanya! Terserah kau saja! Aku tidak akan peduli lagi! Lakukan sesukamu!" Geram Donghae seraya memunggungi tubuh Eunhyuk yang terlihat lemas.
tbc
