Ohayou.. Konnichi wa.. Konbang wa.. Chap 4 update.. Arigatou gozaimasu... Reader-san semua sudah mau membaca dan mereview fic ini. Juga arigatou buat saran-saran dari readertachi sekalian.
Desclaimer: Naruto and the other characters belongs to Masashi Kishimoto sensei. But this story is purely mine.
Rate: T
Pairing: (Hinata X ...)
Let's enjoy..
UNPREDICTABLE
.
.
.
Chapter 4,
"Eh, Hinata-chan kok tidak ikut?" Tanya Ino yang heran melihat Hinata mengangkat tangan.
"Jadi ada dua orang yang tidak bisa ikut ya." Kurenai sedikit lesu karena tidak semua siswanya bisa ikut.
"Hyuga-san kenapa tidak bisa ikut?" Tanya sensei itu.
"Mm, sa-saya ada u-urusan keluarga sensei." Jawab Hinata terbata.
"Souka? Kalau Sabaku-san kenapa tidak bisa ikut." Ya, seorang lagi yang mengangkat tangan adalah Sabaku Gaara.
"Ada urusan sensei." Jawab Gaara datar.
"Hh, padahal sensei ingin kalian semua bisa ikut." Kurenai menghela nafas.
"Ya sudah. Tapi kalau kalian berubah pikiran hubungi sensei." Ucapnya.
Teng
Teng
"Wah, bell sudah berbunyi. Kita lanjutkan setelah pulang sekolah nanti. Baiklah, buka buku kalian. Kita mulai belajar." Ucapnya, di hadiahi dengan keluhan dari siswanya.
...
"Hinata-chan~ Kaeru yo.." Ino mengamit lengan Hinata dan bersiap keluar kelas.
"Eh, bu-bukannya masih ada ra-rapat untuk karyawisata Ino-chan?" Balas Hinata lembut.
"Are? Aku lupa. He he." Ino hanya menampilkan cengirannya.
"Mm, kalau begitu a-aku duluan Ino-chan." Hinata melangkahkan kaki perlahan.
"Ya sudah. Jaa ne Hinata-chan. Hati-hati." Ino melambai.
"Mm. Jaa ne Ino-chan." Hinata balas melambai dan beranjak meninggalkan kelas.
'Hh, akhirnya sekolah selesai.' Hinata membatin.
...
"Gaara, Hinata-chan. Kalian hati-hati ne. Habiskan waktu kalian dengan bersenang-senang. Jaa~" Wanita bersurai coklat itu melepas kepergian Gaara dan Hinata.
"Mm, ikimasu yo kaa-san." Hinata sedikit mengangguk sebelum mengikuti Gaara menuju gerbang keberangkatan.
"Hati-hati." Ucap seorang wanita bersurai indigo yang berdiri di sebelah Karura-kaa-san Hinata-.
"Kaeru yo Karura." Hikari, Kaa-san Hinata berbalik dan menggandeng lengan kaa-san nya Gaara.
"Ayo." Kedua ibu itu berlalu meninggalkan bandara. Setelah mengantar anak-anak mereka, mereka berencana berjalan-jalan sebentar.
Setelah menempuh perjalanan yang terasa lama -sebenarnya tidak begitu lama- bagi Hinata, akhirnya mereka tiba di Sapporo, ibu kota Hokaido.
Hinata turun dari pesawat dengan menenteng sebuah tas tangan kecil yang tersampir di pundak mungilnya.
Hinata mengenakan sundress berwarna biru gelap dengan corak bunga lily beserta cardigan baby blue dan boat coklat ebony.
Ia memilih menggerai rambut sepunggungnya. Membuatnya terlihat manis dan anggun secara bersamaan.
Sedangkan Gaara, pemuda itu menutupi jadenya dengan sebuah kaca mata yang terbingkai di paras tampannya.
Ia mengenakan polo shirt berwarna hijau lumut dan mengenakan jaket kulit coklat gelap dangan jeans hitam yang melapisi kaki panjangnya.
Mereka berjalan dengan Gaara di depan dan Hinata mengikuti langkah pemuda itu.
Saat melewati ruang tunggu, samar-samar Hinata mendengar seseorang memanggilnya.
Gadis itu melihat sekeliling. Dan benar saja, seorang Yamanaka Ino sedang berjalan kearahnya sambil memanggil namanya.
Hinata berhenti dan memandang Ino heran. "Eh, Ino-chan." Jelas dari nadanya Hinata sedikit terkejut.
"Hah, yokatta. Ternyata benar Hinata-chan. Tadi aku sempat mengira kau orang lain." Ino berucap.
"A-apa yang Ino-chan la-lakukan di sini?" Hinata sedikit heran. Jangan bilang kalau karyawisatanya di sini. Pikir gadis lavender itu.
"Tujuan karyawisata kami ke sini." Jawab Ino dengan tampang innoncent.
Binggo. Tebakanmu benar Hinata. "Hontou ni?" Hinata tampak tak percaya. Kalau benar, rahasianya mungkin saja terbongkar.
"Aku serius. Itu yang lain di sana." Ino menunjuk ke depan Hinata. Dan benar saja, di sana sudah berkumpul orang-orang yang Hinata kenal. Dan sayangnya, Gaara yang tadi mendahului Hinata sekarang ikut terperangkap di kerumunan itu.
Hinata hanya menghela nafas berat. Apa yang harus ku lakukan? Pikirnya.
"Ayo ke sana Hinata-chan." Ino menarik lengan Hinata. "Oh iya. Kenapa kau juga ada di sini?" Lanjut gadis blonde itu.
Hinata mencoba mencari alasan. "Eh. Et-etto. Re-rencananya aku akan liburan dengan keluargaku di sini." Jawab Hinata. Ia tidak bohong. Memang dia akan liburan dengan keluarga kan. Tepatnya suaminya.
"Benarkah? Lalu mana mereka?" Ino celingukan mencari keberadaan keluarga Hinata yang lain.
Hinata tak berani mengatakan kalau Gaaralah orangnya. "Mm, i-itu. Kaa-san dan tou-san me-mendadak dapat te-telfon penting dan se-segera pergi lagi be-begitu sampai. Nejii-ni ma-masih kuliah, dan Hanabi-chan li-liburan dengan te-teman-temannya." Ucap Hinata dengan nada gugup yang kantara.
"Jadi kau hanya sendirian?" Ino tampak ikut bersedih dengan nasib temannya.
"Mm. A-aku su-sudah minta i-ikut mereka. Tapi me-mereka me-menyuruhku tetap ti-tinggal." Hinata sudah mulai lancar dengan kebohongannya.
"Kalau begitu Hinata-chan ikut kami saja." Ino menampilkan senyumannya.
"Eh. Bo-bolehkah?"
"Tentu saja. Ayo ketempat Kurenai sensei." Ino berujar mantap.
"Sabaku-san kenapa ada di sini?" Tanya Kurenai pada siswanya yang berambut merah.
"Aku liburan di sini sensei." Jawab Gaara datar.
"Kau hanya sendiri?" Tanya sensei itu lagi.
"Iya." Nada datarnya masih belum berubah.
"Kalau begitu. Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?" Sensei itu menawarkan.
"Tidak masalah." Jawabnya santai.
"Mm, baiklah. Eh. Hyuga-san juga ada di sini?" Tanya sensei itu lagi begitu mendapati gadis beriris lavender itu mendekatinya bersama gadis blonde yang menggandengnya.
"Sensei. Hinata boleh ikut kita tidak? Dia hanya sendirian." Ino berujar.
"Why not? Tapi ada dua kamar yang berisi tiga orang ya." Ujar sensei itu.
"Eh, kenapa sensei?" Tanya Ino yang masih betah menggandeng Hinata.
"Tentu saja. Tidak mungkin Sabaku-san dan Hyuga-san tidur satu kamar kan?" Jawab sensei itu santai. Sedangkan sigadis Hyuga sudah memerah mendengarnya.
"Kan aku dan suamiku juga ikut. Aku sekamar dengan anak perempuan dan suamiku di kamar anak laki-laki." Ujar Kurenai.
"Ti-tidak usah sen-sensei. Se-sebenarnya a-aku sudah a-ada tempat me-menginap." Jawab gadis bersurai indigo itu.
"Eh?" Sensei itu sedikit mengernyit.
"Iya sensei. Sebenarnya Hinata ke sini bersama keluarganya. Tapi ada hal mendadak hingga kedua orang tuanya kembali dan Hinata disuruh tinggal di sini untuk menghabiskan liburannya." Ino menjelaskan apa yang Hinata ceritakan tadi padanya.
"Benar begitu Hyuga-san?" Tanya Kurenai.
"Mm, iya sensei." Jawab Hinata.
"Ya sudah. Berarti hanya satu kamar yang berisi tiga orang." Lanjut Kurenai lagi.
"Sebenarnya aku juga sudah menyewa tempat menginap." Gaara kembali membuka suaranya. Bagaimanapun ia masih punya rasa tanggung jawab dan tidak bisa meninggalkan Hinata sendirian di penginapan sedangkan ia di sini bersama yang lain. Gaara juga tak mau ambil resiko kalau kaa-sannya tau ia meninggalkan Hinata sendirian.
"Baiklah. Penginapan kalian tidak jauh dari sini kan?" Tanya sensei itu lagi.
"Mm, ku-kurasa tidak se-sensei." Hinata berujar.
"Kurasa juga tak jauh." Gaara ikut berujar.
"Baik. Apa semuanya sudah berkumpul?" Kurenai memperhatikan seluruh siswanya.
"Eh, Hina-chan di sini?" Suara cempreng itu terdengar dari siswa berambut coklat yang baru saja tiba di depan mereka.
"Ki-kiba-kun." Hinata memampilkan senyum lembutnya pada temannya itu.
Kiba mendekati Hinata. "Kenapa Hina-chan di sini?" Tanyanya lagi.
"Aku ja-jadi ikut Kiba-kun." Hinata masih mempertahankan senyumnya.
"Hontou-ni?" Raut senang jelas tergambar di wajah pemuda itu.
Hinata mengangguk perlahan. "Ya, Hinata ikut dengan kita." Kali ini bukan Hinata yang menjawab, melainkan Ino.
"Wah, kalau begitu kita bisa satu kelompok, aku, Hina-chan dan Shino." Kiba berucap dengan cengiran yang terpatri di bibirnya.
"Jangan seenaknya. Aku kalian kemanakan?" Ino tampak tak terima dengan penuturan Kiba barusan.
"Kalau begitu kita berempat saja." Jawab Kiba santai.
"Baka, mana bisa? Satu kelompok itu tiga orang." Ucap Ino kesal.
"Ya sudah. Kau masuk kelompok lain saja." Kiba menjawab Ino malas.
"Aku tidak mau. Aku mau sekelompok dengan Hinata-chan." Ino bersikukuh.
Hinata yang melihat perdebatan kedua temannya itu hanya menampilkan senyumannya.
Selagi mereka asik beradu pendapat, tidak jauh dari sana juga terlihat beberapa orang yang berdebat tak jelas dengan tema yang sama dengan mereka.
"Pergi sana jidat. Aku mau bersama Sasuke-kun." Seorang gadis berambut merah berkacamata sedang terlibat adu mulut dengan gadis bersurai merah muda.
Mereka berdua tampak sangat mencolok. Dan saling memperebutkan seseorang yang sudah jengah dan lebih memilih mendahului mereka.
Uciha Sasuke, orang yang menjadi bahan rebutan kedua gadis itu melangkah dengan malas. "Urusai." Dengusnya.
Saat hampir sampai di kerumunan, ia menemukan dua sosok yang seharusnya tidak berada di sana.
'Kenapa mereka di sini?' Batinnya. Ia terus melangkah dengan onyx yang terus menatap lekat seorang gadis yang mengenakan pakaian senada dengannya.
Pemuda raven itu mendekati kerumunan dengan tenang. Ia 'sedikit' merasa senang karena gadis itu ada di sini.
"Gaara-kun~ kita satu kelompok ya.." Seorang gadis berambut pirang mendekati Gaara dan bergelayut manja di lengan pemuda itu.
Sedangkan Gaara dengan tatapan datar melepaskan tangan gadis itu karena merasa risih. "Ck, urusai." Suara dingin meluncur dari bibir pemuda itu.
"Gaara-kun~ jangan begitu." Gadis yang diketahui bernama Shion itu kembali mengamit lengan Gaara.
"Ck." Hanya decakan kesal yang terdengar dari pemuda bersurai merah itu. Sebenarnya ia sangat malas dengan gadis ini.
"Mm, Kiba-kun." Hinata memanggil Kiba yang masih beradu mulut dengan Ino.
"Mm, Kiba-kun." Cicit Hinata lagi. Kali ini pemuda bersurai coklat itu menoleh.
"Eh? Doushita no Hina-chan?" Akhirnya Kiba memusatkan perhatiannya pada Hinata.
"Mm, Shino-kun do-doko ni desu ka?" Tanya gadis itu dengan melihat sekeliling.
"Oh, toire. Mungkin belum kembali." Jawab Kiba santai.
Hinata hanya mengangguk kecil. Hingga suara Kurenai sensei menginterupsi. "Baiklah. Karena semuanya sudah di sini. Ayo kita pergi."
Mereka sampai di luar dan berbaris rapi.
"Ne minna, aku akan membagi kelompoknya sekarang." Kurenai berujar semangat. Ia melihat siswanya sudah berdiri dengan kelompok-kelompok mereka.
Ia menghela nafas. "Untuk membuat kalian tambah kompak, kalian tidak menentukan sendiri kelompoknya, karena aku yang akan membaginya." Kurenai menampilkan smirk evilnya yang membuat seluruh siswanya mengeluh.
"Kenapa begitu sensei?" Shion tidak terima.
"Kan sudah ku bilang tadi." Jawab sensei itu santai. "Yang ku panggil namanya berbaris di sebelah sini." Kurenai menunjuk sisi sebelah kirinya.
"Hai' sensei." Jawab siswanya serempak.
Kurenai memperhatikan siswanya selagi menyusun nama-nama di kepalanya. Sebenarnya ia belum mempersiapkan kelompok yang dimaksud.
"Mm, Lee, Sakura, Chouji, kalian kelompok satu. Berdiri di sebelah sini." Kurenai memulai.
Sakura yang mendengar hanya berjalan lesu, ia sangat berharap satu kelompok dengan Sasuke. Sedangkan Lee sangat bersemangat karena sekelompok dengan Sakura. Dan Chouji hanya mengikuti sambil mengunyah keripik yang hampir selalu ada di tangannya.
"Baiklah, kelompok dua, Shino, Shion, Sikamaru." Shino dan Sikamaru menuju tempat yang di suruh Kutenai. Shion menggerutu kesal.
"Sekarang kelompok tiga. Mm, Kiba, Ino, Suigetsu." "Eh?" Dua siswa di sana bersorak kompak. Ya mereka Kiba dan Ino. "Hina-chan/Hinata-chan.." Lagi-lagi mereka sangat kompak. Suigetsu? Pemuda bersurai perak itu hanya mendecak kesal karna sekelompok dengan orang-orang berisik, padahal sendirinya juga.
"Sudah, sekarang kelompok empat Sasori, Tenten dan Jugo."
Hinata hanya menghela nafas. Semua orang yang ia harap sekelompok dengannya sudah dapat kelompok.
Karin yang mendengar sudah empat kelimpok terpanggil mulai menampakkan senyum kemenangan. Itu artinya kesempatan untuk sekelompok dengan Sasuke semakin besar.
"Baik, kelompok lima Sai, Karin dan Yahiko." Senyum Karin runtuh seketika. Digantikan dengan muka tertekuk.
"Dan kelompok terakhir berdiri di sini." Ujar Kurenai.
Para siswa memandang kelompok terakhir itu. Semua orang tau siapa yang tersisa dan mejadi kelompok terakhir.
Mungkin bagi gadis-gadis lain menjadi kelompok terkhir itu merupakan suatu keberuntungan.
Tapi tidak pada gadis ini, ini merupakan sebuah kesialan bagi Hinata, karena ia lah salah satu anggota kelompok itu.
Dan dua rekannya itu adalah Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara. Orang-orang yang paling ingin ia hindari sebisa mungkin.
'Harusnya aku tidak ikut tadi.' Batin gadis itu merana. Melihat aura kedua rekannya saja ia sudah takut setengah mati, apalagi harus bersama mereka seminggu penuh.
... To be continue ...
Gomennasai...(Sujud-sujud).. Sory saya telat update.. Kerjaan numpuk nggak selesai-selesai.. Kepala jadi mumet ngeliat kerjaan yang bejibun di depan mata.. Minggu ini baru kelar, dan udah ada lagi kerjaan buat minggu depan..
Arigatou buat para reader yang udah setia nungguin nih fanfic..
Salam dari saya, Chiharu...^^
Jaa.. Mata kondo...^^
