A Mafia Bride.
An SEVENTEEN Fanfiction.
Cast : SEVENTEEN's Kim Mingyu & SEVENTEEN's Jeon Wonwoo.
Other Cast : SEVENTEEN Members.
Rated M. Criminal Life, School Life & Marriage Life. Violence. Romance. Drama.
WARN! Maybe it has lil hardsex contens. Under 17? Jangan mendekat. Maksa? Tanggung sendiri akibatnya.
Note : disini Mingyu lebih tua daripada Wonwoo. Jika ada beberapa member yang masuk ke dalam scene Mingyu, berarti mereka lebih tua juga daripada Wonwoo. Jika masuk scene Wonwoo, mereka seumuran anak SMA pada umumnya—termasuk Wonwoo.
© SEVENTEEN. Pledis Entertainment.
Wonwoo menghela nafas pelan, meletakkan kacamata bulat yang sedaritadi bertengger di hidungnya begitupula dengan buku novel yang barusan ia baca. Punggung kurusnya bersandar pada sandaran ranjang dan pandangannya tertuju pada langit cerah berawan New York yang bisa ia lihat melalui pintu balkon yang sengaja dibuka lebar-lebar olehnya.
Sepi dan sunyi.
Itulah yang sudah 2 hari ini Wonwoo rasakan sejak ia resmi dinikahi oleh Mingyu. Pemuda berusia 18 tahun itu hanya berdiam diri di kamar, membaca novel yang ada di rak buku Mingyu atau terkadang memandang langit New York. Tak ada lagi selain itu. Keluar? Wonwoo tidak mengenal seluk beluk Mansion dan daerah ini. Lagipula jika dia menginginkan sesuatu, ia bisa mengatakannya pada Jeonghan atau Jisoo yang akan bergantian masuk setiap 2 jam sekali. Lalu saat malam—dia harus 'memuaskan' hasrat bejat Mingyu yang terkadang selalu pulang dalam keadaan mabuk.
Sungguh menyedihkan, tapi inilah kenyataannya.
Apa yang bisa Wonwoo lakukan selain menerima?
"Wonwoo?"
Wonwoo menoleh sedikit dan menatap Jisoo yang berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi makan siangnya. Bau sedap menguar di seisi kamar, Wonwoo akui makanan Jisoo berhasil memancing nafsu makannya. Meski begitu, dia belum bisa terlalu akrab dengan Jisoo maupun Jeonghan.
"Aku membawa pasta daging giling, sup daging ayam dan jus jeruk untukmu." ucap Jisoo sembari meletakkan nampan itu. "Makan ya? Sudah waktunya makan siang."
"Terimakasih Jisoo Hyung." jawab Wonwoo pelan. Ia sudah tahu jika semua penghuni Mansion ini—kecuali Lee Chan adik tiri Mingyu—berusia lebih tua darinya. Jadi mau tak mau Wonwoo harus menambah embel-embel 'hyung' atau 'noona' di belakang nama mereka.
"Kau ingin sesuatu lagi?" tanya Jisoo. Wonwoo menggeleng, "tidak."
"Baiklah. Ah, ngomong-ngomong, besok pagi adalah hari pertamamu bersekolah. Kau dimasukkan ke sekolah dan kelas yang sama dengan Lee Chan."
Wonwoo terdiam. Sesuai perkataannya, Mingyu memang akan melanjutkan pendidikannya di Amerika.
Tapi Wonwoo tidak tahu apakah ia bisa menjalaninya atau tidak.
"Hmm. Terimakasih untuk informasinya," sahut Wonwoo. Jisoo mengangguk, "baik. Kalau begitu aku permisi ya?"
"Ya."
Jisoo pun berlalu dan kembali meninggalkan Wonwoo dalam keheningannya. Ia menatap nampan itu, namun tak menyentuhnya. Angin siang membelai tubuh kurusnya yang terbalut sweater hijau gelap.
Dia merindukan Bohyuk dan seluruh keluarganya di Korea.
Bagaimana nasib mereka? Apa mereka makan dengan baik disaat dirinya selalu mendapat makanan mewah? Apa mereka hidup dengan baik disaat dirinya mendapat kehidupan yang jauh lebih layak sekarang?
Semua pertanyaan itu cukup untuk membuatnya menangis setiap harinya diantara keheningan yang melanda.
Apa yang bisa aku lakukan sekarang?
Pemuda itu membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping, menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi air mata diantara kedua tangannya yang berada di hadapannya. Suara isakan pelan terdengar diantara kedua bibir tipisnya yang memenuhi seisi ruangan.
Dan akhirnya, Wonwoo pun terpejam dengan rasa rindu dan sakit yang hanya dia rasakan sendirian.
Suasana di sebuah bar nampak begitu ramai malam ini oleh orang-orang yang penat dan lelah akan kerasnya kehidupan Amerika Serikat. Suara musik menggema di seisi bar, diikuti oleh suara desahan para wanita genit dan juga suara racauan orang-orang yang sudah sangat mabuk berat.
Mingyu adalah salah satu dari orang yang berada diantata hiruk pikuk itu. Dia ada disana, duduk di sofa pojok ruangan dengan segelas wine di tangannya. Dua orang wanita tanpa busana duduk di sisi kanan dan kirinya, menyentuh bagian tubuhnya tanpa rasa malu.
Tapi tatapan pemuda itu kosong.
Sudah 2 hari ini dia resmi menikah dengan Wonwoo, meski pernikahan itu adalah paksaan darinya. Mingyu tahu bahwa Wonwoo mungkin membencinya, tapi Wonwoo selalu menerima perlakuannya tanpa mengeluarkan protes sedikitpun. Setiap malam disaat Mingyu tidak sengaja terbangun, bisa ia lihat Wonwoo terlelap di sisinya dengan mata yang sembab.
Mingyu tahu Wonwoo menangis.
Jujur saja, Mingyu sedikit merasa—entahlah. Wonwoo tak pernah berkata, tapi dia menangis untuk menunjukkan emosinya.
Semua itu cukup untuk membuat Mingyu merasa pikirannya begitu campur aduk sehingga ia selalu melampiaskannya di bar ini.
Mingyu meletakkan gelasnya, menepis kedua tangan wanita yang sedaritadi terus menggerayangi tubuhnya dan berjalan keluar bar. Alkohol mulai menyeruaki seisi tubuhnya dan membuat pikiran Mingyu menjadi tidak jernih.
Dia butuh Wonwoo. Ya, dia butuh Wonwoo.
Entah kemana pemikirannya mengenai perasaannya setiap kali melihat wajah sembab Wonwoo, pikiran Mingyu sudah rusak.
Yang jelas dia sangat membutuhkan Wonwoo sekarang.
Wonwoo meletakkan handuknya yang semula ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Pemuda itu baru saja selesai membersihkan tubuhnya seusai makan malam, dan ia harus segera tertidur mengingat besok adalah hari pertamanya bersekolah.
Ia melangkah mendekati ranjang, menyingkap selimut sebelum membaringkan tubuhnya. Namun tiba-tiba, suara pintu yang terbanting membuat pergerakan Wonwoo terhenti. Bau alkohol pun menguar di seisi kamar.
Ini—
"Wonwoo!"
Wonwoo terperanjat mendengar suara berat di belakangnya diikuti langkah kaki menuju ke arahnya. Tanpa sadar tubuhnya bergetar ketakutan. Ini pasti—
Mingyu.
Dan sudah jelas jika bau alkohol itu berasal dari Mingyu yang sedang mabuk.
Mingyu merengkuh tubuhnya dari arah belakang yang sukses membuat Wonwoo semakin ketakutan. Jika Mingyu sudah mabuk seperti ini, Wonwoo tidak akan selamat.
Sedangkan besok dia harus pergi ke sekolah.
"M.. Mingyu-ssi, kumohon lepas.." pinta Wonwoo pelan. Namun sayangnya, Mingyu tak mendengarnya karena alkohol sudah merusak akal sehatnya. Ia justru membanting tubuh kurus Wonwoo lalu menindihnya sembari melepas pakaiannya sendiri.
"Mingyu-ssi, kumohon. Besok aku harus pergi ke sekolah—ugh!"
"Just shut up, Jeon Wonwoo!"
Wonwoo merintih ketika Mingyu mengangkat dagunya dengan paksa. Air mata mulai membasahi pipi putihnya diikuti rasa takut yang luar biasa. Dengan tidak berperikemanusiaan, Mingyu justru merobek piyama biru muda Wonwoo sehingga tubuh kurus yang masih dipenuhi bercak kemerahan serta keunguan itu terekspos.
"Mingyu-ssi.." lirih Wonwoo, berharap Mingyu akan mendengarnya. Namun nihil, Mingyu malah mengikat kedua tangan serta kaki Wonwoo dengan tali—yang entah sejak kapan sudah dibawanya. Wonwoo merasa tubuhnya hancur saat itu juga, apalagi sisa-sisa perbuatan Mingyu kemarin masih begitu ia rasakan.
"Kau sangat manis, Wonwoo.." Mingyu mengusap pipi putih itu. Ia bangkit sebentar untuk mengambil sebuah kotak berwarna hitam dari lemari pakaiannya. Wonwoo membulatkan matanya dan mencoba melawan.
Kumohon jangan kotak itu!
Yah, kotak yang menurut Wonwoo adalah kotak 'kematian'.
Kotak yang berisi alat-alat yang sering Mingyu gunakan saat akan menuntaskan hasrat bejatnya.
"Mingyu-ssi! Lepaskan!" Wonwoo meronta dengan air mata yang mengalir semakin deras. Namun—sekali lagi, Mingyu tidak mendengarnya. Ia membalik tubuh kurus itu lalu menaikkan pinggulnya. Wonwoo menggigit bibirnya.
"Mingyu-ssi—anghh!"
"Kenapa kau begitu menggairahkan Wonwoo?"
"Hiks.. Mingyu-ssi kumohon lepaskan.."
Mingyu menyeringai puas setelah ia memasangkan cock ring pada penis Wonwoo yang sudah menegang. Wonwoo benar-benar tidak sanggup, rasanya perutnya mual dan sangat sakit karena benda itu menahan hasratnya. Tapi itu belum berakhir. Kini Mingyu menutup matanya dengan blind fold dan memasukkan sesuatu yang bergetar ke dalam lubangnya yang masih lecet akibat perlakuan Mingyu.
Sumpah demi apapun, itu sangat sakit.
"Hnghhhh—Mingyu-ssi—aahhhh!"
"Bagaimana rasanya Wonwoo? Apa kau lebih suka benda ini dibanding penisku hm?" Mingyu membisiki telinganya sembari menampar kedua bongkahan putih Wonwoo. "Jawab aku, sayang."
"Urghhhh! Mingyu-ssi—nghhh sshhh—akhhh!"
"Jawab aku, jalang!"
Wonwoo kembali menggigit bibirnya, harga dirinya sudah jatuh. Mingyu selalu memperlakukannya layaknya seorang budak seks. Ia tidak mengerti kenapa Mingyu harus menikahinya jika akhirnya ia akan selalu berakhir seperti ini.
Lebih baik aku mati saja.
"Mingyu-ssi—nghh! Bunuh aku!"
"Apa? Apa kau bilang Wonwoo?"
"Bunuh aku sekarang! Aku lebih baik mati daripada harus—aarghhhh!"
"Katakan sekali lagi! KATAKAN!"
Wonwoo memejamkan matanya saat Mingyu menjambak surai kecoklatan dengan sangat keras hingga lehernya terasa sakit. Ia sedikit menolehkan kepalanya ke arah Mingyu, "BUNUH AKU! BUNUH!" teriaknya, Wonwoo tidak memperdulikan apapun lagi. Baginya mati adalah jalan yang terbaik. Wonwoo sudah tidak kuat lagi.
"Kau pikir jika kau mati semuanya akan berakhir?" Mingyu mendekatkan wajahnya. "Apa kau lupa dengan kata-kataku Wonwoo? Meski kau mati nanti, bukan berarti semuanya akan berakhir. Aku akan menyiksa Bohyuk, nenekmu, dan seluruh keluargamu yang ada di Changwon."
"Lalu kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau menikahiku jika aku selalu diperlakukan seperti budakmu?!" air mata Wonwoo mengalir semakin deras. Mingyu menggeram. Ia melepas jambakannya kemudian mengangkat pinggul Wonwoo. Memasukkan penisnya dalam satu hentakan yang sukses membuat Wonwoo menjerit karena Mingyu belum sempat mengeluarkan vibratornya.
Bahkan Mingyu tidak menjawab pertanyaannya.
Sebuah pertanyaan yang selalu membuat Wonwoo semakin membenci Mingyu.
Dan sekarang rasa bencinya sudah berada di ubun-ubun.
"Mendesah saja, jalang!" Mingyu menampar bokong putih itu lagi sembari menggerakkan pinggangnya dengan sangat kasar hingga tubuh Wonwoo terhentak-hentak. "Tugasmu hanyalah itu Wonwoo—sshh—sempit sekali!"
"Aahhh! A-akuhhh—aahhh! Nghhh—hiksshhh—"
"Sshhh Wonwoo! Jangan menjepitku! Aahh astaga!"
Wonwoo menundukkan kepalanya, klimaksnya sudah di ujung dan cock ring itu menahannya. Wajahnya memucat karena rasa sakit diikuti keringat yang begitu deras membasahi tubuhnya.
"Sedikit lagihh—mendesahlah Wonwoo! Mendesah!"
"Nghhh! Aaahh sakithhh—akuhh—NGHHHH!"
"Aaahhh Wonwoo!"
Mingyu pun mencapai klimaksnya. Spermanya memenuhi lubang Wonwoo sampai-sampai beberapa cairan yang tidak tertampung mengaliri paha putihnya diikuti oleh jejak darah. Wonwoo melenguh—ia benci ini. Ia benci ketika Mingyu memenuhi tubuhnya dengan cairannya.
"Aku tidak pernah puas, Wonwoo." bisik Mingyu. "Kau harus memuaskanku karena itu adalah tugasmu. Mengerti? Jangan pernah membahas kematian atau aku akan menyiksamu."
Mingyu membalik tubuhnya, kembali menghentak lubang itu tanpa memperdulikan keadaan Wonwoo. Wonwoo merintih dan meringis. Ia menatap Mingyu tepat pada matanya—
Dan Mingyu bersumpah sesuatu di dalam hatinya terasa sakit saat itu juga.
"Aku membencimu, Kim Mingyu."
"Kau yakin akan pergi ke sekolah, Wonwoo-ssi?"
Wonwoo mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Jeonghan yang tengah mengeringkan rambutnya. Pagi tadi, Wonwoo bangun lebih awal karena dia masih ingat jika hari ini adalah hari pertamanya bersekolah. Meski seluruh bagian tubuhnya terasa ngilu—terutama lubangnya sehingga ia agak kesulitan berjalan—Wonwoo lebih memilih untuk tetap pergi ke sekolah dibanding diam di Mansion.
"Kau tahu? Kehidupan sekolah Amerika dan Korea sangat berbeda. Kuharap kau bisa beradaptasi." sahut Jeonghan. Ia meletakkan hair dryer lalu meraih sisir di atas meja rias, "jangan jauh-jauh dari Lee Chan, oke?"
"Iya Hyung."
Jeonghan tersenyum tipis, "baguslah. Nah, sudah selesai. Ayo kita sarapan sekarang." ajaknya sembari meletakkan sisir tadi. Wonwoo bangkit dari kursi di depan meja rias dan berjalan—dibantu oleh Jeonghan—menuju ruang makan yang ada di lantai satu. Disana sudah ada Jisoo, Lee Chan serta Seungcheol. Dan ada juga—
Mingyu. Di kursi yang berada di paling ujung.
"Good morning Wonwoo Hyung!" sapa Lee Chan dengan nada riang. Wonwoo membalasnya dengan senyuman tipis dan ia memilih untuk duduk di sisi kanan Lee Chan.
Tanpa sadar jika Mingyu sedang menatapnya dengan intens.
"Habiskan dulu supmu, Chan sayang." sahut Jisoo lembut sembari meletakkan segelas susu yang ia buat khusus untuk Lee Chan. "Jangan lupa juga habiskan saladmu. Kau harus banyak makan sayur agar bisa mengingat pelajaran dengan baik."
"Iya. Jisoo Hyung cerewet sekali."
Jisoo terkekeh pelan. Ia menatap Wonwoo, "kau ingin makan apa Wonwoo-ssi?"
"Samakan saja dengan Lee Chan."
Pemuda Hong itu mengangguk dan kembali ke kabinet dapur untuk menyiapkan sarapan. Seungcheol menyesap kopinya lalu memulai topik pembicaraan, "kau sudah kelas berapa, Wonwoo?"
"Kelas 3." jawab Wonwoo. Seungcheol mengangguk, "ah begitu. Bagaimana sekolah di Korea? Apa masih sama? Dulu ketika aku masih bersekolah disana, murid-murid wanita sangat senang berdandan. Ah, mereka juga selalu heboh membicarakan Idol yang sedang terkenal saat itu."
"Benarkah? Kalau begitu kita sama Hyung. Teman-teman gadisku juga selalu membicarakan Idol yang sedang terkenal."
"Hahaha.. astaga. Aku jadi merindukan Korea."
Wonwoo tertawa pelan sembari menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Mingyu masih menatapnya disana, sesuatu berdesir di hatinya saat melihat tawa Wonwoo.
"Hyung, apa kau tahu Seventeen?" tanya Lee Chan tiba-tiba. Wonwoo menatapnya, "ya aku tahu, kenapa?"
"Mereka sangat keren! Apa kau pernah melihat mereka secara langsung? Seperti apa wajah mereka?!"
"Hmm.. pernah. Mereka sangat tampan."
"Aish.. aku iri sekali padamu Hyung. Aku selalu ingin melhat Seventeen, kau tahu?"
"Ck, sekolah saja yang benar Chan. Nilai matematikamu masih buruk!" Jeonghan menyelanya. Lee Chan mengerucutkan bibirnya, "ya! Hyung!"
Sekali lagi Wonwoo tertawa dan desiran yang ada di hati Mingyu semakin begitu terasa. Hingga tanpa sengaja pandangan mereka bertemu—
Wonwoo memutusnya.
"Habiskan ini, oke?" Jisoo meletakkan sarapan yang tadi ia buat untuk Wonwoo. Wonwoo mengangguk dan tersenyum, "terimakasih Hyung."
Mereka semua pun larut dalam kegiatan sarapan sebelum memulai aktifitas yang akan mereka lakukan nanti. Terkecuali Mingyu. Ia sama sekali tak melepaskan pandangannya pada Wonwoo, sampai sampai kopi yang barusan diseduh oleh Jisoo sudah tak terasa panas lagi.
"Aku sudah selesai!" ucap Lee Chan sembari mengusap bibirnya dengan serbet. "Hari ini aku dan Wonwoo Hyung akan diantar oleh Kang Ahjussi kan, Hyung?" tanyanya pada Seungcheol yang dibalas oleh anggukkan—karena Seungcheol sedang sibuk mengunyah sandwichnya.
Tapi tiba-tiba, Mingyu bangkit dari kursinya.
"Hari ini aku yang akan mengantar kalian." ucapnya. "Lee Chan, tolong kau katakan pada Kang Ahjussi dan minta kunci mobilku."
"E-Eh? Baiklah Hyung."
Lee Chan lantas berlalu meninggalkan Seungcheol, Jisoo, Jeonghan serta Wonwoo yang menatap Mingyu heran. Mingyu hanya membalas tatapan Wonwoo namun lagi-lagi dia memutusnya—
Dengan sebuah delikan.
Mingyu menyandarkan punggungnya sembari menatap antrian panjang kendaraan di depannya. Seperti biasa.
Kemacetan pagi di Amerika.
"Hyung~ masih lama? Aku dan Wonwoo Hyung berjalan kaki saja ya? Sudah dekat kok!" ucap Lee Chan di bangku belakang, nadanya terdengar agak panik karena ia takut terlambat. Mingyu menatapnya melalui kaca spion tengah, "tidak. Aku akan mengantarmu sampai ke depan sekolah."
Lee Chan menghempas punggungnya, tak berani menyela perkataan Mingyu lagi. Namun sesekali ia memeriksa jam di pergelangan tangannya dengan resah dan mendesis.
Sementara itu, Mingyu yang berada di kursi setir mengalihkan pandangannya pada Wonwoo yang duduk di kursi penumpang tepat di sampingnya. Sedaritadi, Wonwoo sama sekali tidak bicara kepadanya. Bahkan dia selalu memutus tatapannya jika tak sengaja bertemu dengan kedua mata Mingyu.
Kata-kata Wonwoo kemarin malam kembali terngiang di pikirannya.
Apa Wonwoo benar-benar membencinya?
"Wonwoo—"
"Chan, apa benar-benar sudah dekat? Lebih baik kita berjalan kaki saja."
Wonwoo memutus ucapannya.
"Iya Hyung, kita tinggal melewati 5 toko lagi. Dari sini pun terlihat." jawab Lee Chan. Wonwoo memakai tasnya yang semula ia letakkan di pangkuannya, "baiklah. Ayo kita berjalan."
"Baiklah Hyung."
Wonwoo membuka pintu mobil—tanpa menatap ataupun berkata sesuatu pada Mingyu. Lee Chan pun berpamitan sejenak sebelum menyusul Wonwoo, "Hyung kami pergi dulu. Terimakasih sudah mengantar!"
Mingyu tak menjawab, pandangannya tertuju pada Wonwoo yang sekarang sudah berjalan bersama Lee Chan. Mereka terlihat berbincang dengan akrabnya, sungguh berbeda dengan Wonwoo yang barusan duduk di sampingnya.
Tanpa sadar Mingyu mencengkram kuat setir mobilnya.
"Good morning, student."
"Good morning Mrs. Helen!"
Wonwoo memasuki kelas barunya bersama dengan seorang guru yang akan mengajar hari ini. Karena dia murid baru, otomatis ia harus mengurusi beberapa administrasi dan tidak bisa langsung pergi ke kelas bersama Lee Chan. Suasana disini terlihat sangat berbeda. Ucapan Jeonghan benar.
Meskipun begitu, Wonwoo sempat mendapati beberapa murid berwajah Asia. Itu artinya dia tidak hanya bersama Lee Chan saja.
"Today we have a new student." ucap Mrs. Helen, nama guru itu. Ia menatap Wonwoo, "introduce yourself, please."
"Hello, my name is Jeon Wonwoo. I'm from South Korea." ia memperkenalkan dirinya dengan singkat. Beruntung saat di Korea ia selalu mendengar lagu-lagu barat sehingga ia bisa sedikit berbahasa Inggris.
"Good Mr. Jeon. Now, please sit behind Mr. Jerry. We will start study now."
"Thanks Mrs. Helen."
Wonwoo berjalan menuju bangku yang berada di belakang, tepatnya di samping seorang lelaki berwajah Asia dengan surai kehitaman. Ia meletakkan tasnya dan membuka resletingnya untuk mengambil buku sebelum menyimak Mrs. Helen.
"Kau berasal dari Korea?" tanya lelaki yang ada di sampingnya, membuat pergerakan Wonwoo terhenti. Wonwoo menatapnya dan mengangguk, "ya. Apa kau juga?"
"Tidak, aku berasal dari Tiongkok. Tapi aku bisa sedikit berbahasa Korea." jelas lelaki itu. Dia menjulurkan tangannya sembari tersenyum, "ngomong-ngomong, namaku Wen Junhui. Kau bisa memanggilku Jun atau Jerry, itu panggilanku di Amerika."
"Ah, salam kenal Jun." Wonwoo membalas uluran tangan Jun. Setelah beberapa detik Jun melepasnya, "kuharap kita bisa berteman dengan baik Wonwoo-ssi." ucapnya dengan ramah. Wonwoo mengangguk, "kuharap juga begitu, Jun-ssi."
Keduanya pun lantas menatap ke depan kelas untuk menyimak penjelasan Mrs. Helen. Sesekali Wonwoo mengalihkan pandangannya pada seisi kelas.
Sepertinya ia akan baik-baik saja selama berada disini.
"Mingyu? Mingyu! Kau mendengarku?!"
"E-Eh? Apa Hyung?"
Seungcheol mendengus kasar sembari meletakkan dokumen yang ada di tangannya. Ia memijit pangkal hidungnya, "sudah 3 kali kau tidak menyimak penjelasanku. Ini tugas penting Kim, kau sendiri yang mengatakannya. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini."
Mingyu menghela nafasnya berat. Seungcheol memang benar, ia sedang tidak fokus. Pikirannya terus terngiang pada kata Wonwoo kemarin. Belum lagi dengan sikap Wonwoo yang membuat Mingyu semakin merasa bahwa Wonwoo benar-benar membencinya.
Entah kenapa itu membuat hatinya sedikit.. sakit?
Sungguh Mingyu tidak mengerti kenapa ia bisa jadi seperti ini.
"Maafkan aku Hyung." ucap Mingyu pelan. Seungcheol menatapnya dan menghela nafas, "baiklah. Sekarang simak aku, mengerti? Kita akan memulai penyerangan sore nanti."
Mingyu mengangguk dan Seungcheol pun kembali menjelaskan rencana penyerangan ke Chicago sore ini. Ini adalah salah satu proyek besar Mingyu, sebab ia akan menaklukkan klan terbesar disana.
Yah, cukup fokus dengan itu.
Begitulah batinnya.
Tapi herannya, otak dan hati Mingyu tidak demikian.
"Nah, ini dia perpustakaan sekolah. Besar kan Hyung?"
Wonwoo menatap takjub ruang perpustakaan yang didatanginya bersama Lee Chan. Buku buku terjajar dengan rapi di setiap rak, warna vintage yang begitu menenangkan, serta angin segar yang berasal dari luar karena jendela yang terbuka.
Sesuai dengan pemikirannya tadi. Sepertinya Wonwoo akan baik-baik saja selama berada disini, bahkan lebih dari itu.
"Bagaimana Hyung? Kau suka?" tanya Lee Chan. Wonwoo mengangguk, "tentu. Sepertinya aku akan betah berada di sekolah ini."
"Heyyo Dino!"
Wonwoo dan Lee Chan menoleh pada 4 orang lelaki yang sedang berjalan ke arah mereka. Diantaranya ada Jun, dan dia tersenyum padanya. Tentu saja Wonwoo membalasnya.
"What are you doing here?" tanya lelaki yang berwajah sedikit kebaratan. Lee Chan menunjuk Wonwoo, "aku mengantar Wonwoo Hyung, katanya dia ingin melihat perpustakaan."
"Oh, apakah kau murid baru di kelas Lee Chan?" tanya lelaki lain yang berpipi agak chubby. "Siapa namamu? Ah ngomong-ngomong namaku Boo Seungkwan. Aku teman satu ekstrakurikuler Lee Chan."
"Namaku Jeon Wonwoo. Salam kenal Seungkwan-ssi." jawab Wonwoo ramah. Seungkwan mengangguk paham, "oh~ salam kenal juga. Kau berasal darimana? Korea itu luas, aku yakin tidak semuanya berasal dari Seoul. Aku saja berasal dari Jeju."
"Aku berasal dari Changwon."
"Benarkah? Kalau begitu kau tahu—"
"Seungkwan Hyung, kenapa kau cerewet sekali?"
"Kurang ajar kau Lee Chan!"
Wonwoo tertawa pelan melihat interaksi antara Lee Chan dan Seungkwan. Hingga akhirnya ia pun tahu nama-nama teman Lee Chan itu. Yang berwajah kebaratan adalah Vernon—tapi dia memiliki darah Korea sehingga bisa berbahasa Korea. Sedangkan yang bermata bulat adalah Minghao, murid asal Tiongkok yang bisa berbahasa Korea karena pernah tinggal disana.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal ekstrakurikuler, kau mau memilih apa Hyung? Tadi Mr. Robinson menanyakannya padamu kan?" tanya Lee Chan. Wonwoo terdiam, Lee Chan memang benar. Tadi guru kesiswaan bertanya padanya apa ekskul yang akan dipilihnya. Ekskul adalah salah satu hal wajib disini dan itu akan masuk ke dalam nilai tambahan. Minimal harus ada 1 ekskul yang dipilih oleh seorang murid.
"Entahlah, aku bingung. Banyak sekali ekstrakurikuler disini." jawab Wonwoo. "Semuanya menarik, tapi aku masih bingung."
"Kau bergabung dengan klub Rap saja. Suaramu sangat berat, aku yakin kau cocok masuk ke klub Rap!" saran Vernon yang memang salah satu anggota klub Rap. Wonwoo tersenyum kecil, "aku akan mempertimbangkannya."
"Tapi saranku, kau juga lebih baik masuk ke klub basket." ucap Jun tiba-tiba. "Kau tinggi, itu sangat cocok untuk kriteria anggota. Aku juga berada disana, dan kebetulan kami sedang kekurangan anggota untuk pertandingan bulan depan."
"Ah iya, Jun Hyung benar. Kau masuk klub basket saja Hyung." Lee Chan menyahuti. Wonwoo terdiam dan berpikir, saran Vernon dan Jun sama-sama bagus.
Mungkin dia akan memilih keduanya. Hitung-hitung memperlama waktunya sehingga ia tak akan pulang cepat ke Mansion.
"Baiklah. Kurasa aku akan memilih keduanya."
"Bagus. Kalau begitu, ayo kita ke ruang klub Rap dan Basket."
Mereka pun lantas berjalan bersama meninggalkan perpustakaan. Jun terus menatap Wonwoo intens sejak tadi, bahkan sejak mereka berada di kelas—tentu saja Wonwoo tak menyadarinya. Entah kenapa Wonwoo terlihat begitu berbeda.
Sepertinya dia menyukai Wonwoo—
Dan Minghao, lelaki yang menyukai Jun sejak lama, menyadarinya.
Mingyu melepas coat yang membalut tubuhnya begitu tiba di Mansion beberapa menit yang lalu. Proyeknya tadi sore berhasil, meski ia sempat terluka akibat pukulan seorang anggota mafia lawan. Malam sudah tiba, dan Mingyu sangat ingin beristirahat.
Ah ngomong-ngomong, pasti Wonwoo sudah pulang.
Lelaki itu lantas berjalan cepat menuju kamarnya setelah meletakkan coatnya di lengan sofa. Ia ingin meminta maaf, Mingyu akui bahwa dia bersalah selama ini.
Namun sayang.
Begitu tiba di kamar, ia mendapati Wonwoo sudah tertidur dengan posisi membelakangi pintu.
Mingyu menghela nafas—sedikit kecewa. Tadinya dia ingin membangunkan Wonwoo—tapi tidak, ia berniat ingin meminta maaf. Ia lantas mendekat, membaringkan tubuhnya di sisi Wonwoo dan mendaratkan lengannya di pinggang Wonwoo yang terbalut oleh selimut. Suara dengkuran halusnya menyapa gendang telinga Mingyu.
Sangat menenangkan, sungguh.
Kemana saja dia selama ini?
"Wonwoo." Mingyu semakin menempelkan dadanya dengan punggung Wonwoo setelah ikut memakai selimut. "Aku.. Aku minta maaf." lanjutnya pelan diantara keheningan. Bibirnya mendadak kelu—ada apa ini? Kemana kata-kata yang seharusnya ia ucapkan?
"Wonwoo."
"Hnghhh.."
Sepasang mata Mingyu sedikit melebar saat tiba-tiba Wonwoo membalik tubuhnya sehingga sekarang mereka saling berhadapan. Surai cokelatnya nampak menutupi matanya yang terpejam. Wajahnya sangat damai dan indah, berbeda dari hari-hari yang lalu. Tak ada jejak air mata di pipi putihnya.
Seperti inikah Wonwoo jika tidak disiksa olehnya?
Kenapa indah sekali? Apa yang sudah Mingyu lakukan?
"Wonwoo.." Mingyu berujar lirih layaknya lullaby. Jemarinya bergerak menyingkirkan surai yang menghalangi mata Wonwoo, "..aku minta maaf.."
Wonwoo tak menjawab dan tetap terpejam. Mingyu menatapnya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di keningnya. Sekali lagi ia berucap tepat di telinga Wonwoo, "aku minta maaf, Wonwoo. Kumohon jangan.. membenciku."
Mingyu meraih bagian belakang kepala Wonwoo untuk mendekatkannya pada dadanya. Rasa kantuk mulai menyerangnya, padahal sebelumnya Mingyu berniat ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Dan akhirnya, ia pun terpejam.
Tanpa sadar jika Wonwoo semakin mendekatkan wajah serta tubuhnya.
TBC.
Author's bacot;
Halo.
Terimakasih untuk review di chapter 2. Saya tau chapt itu banyak kekurangan, dan terimakasih banyak untuk ichinisan1-3 yang sudah memberi kritik mengenai grammarnya. Soal bantuannya, mungkin saya akan pertimbangkan. Tapi asli deh, review kamu suka saya screenshot wkwk xD makasih banyak ya. Cepet update tuh FF kamu/?
Maaf jika chapt ini tidak memuaskan, saya sedang mumet di kehidupan roleplayer. DAN ITU ASTAGA VLIVENYA HIPHOP TEAM ASDFGHJKL MEANIEKU ;;;;;;
Btw, adegan terakhir itu terinspirasi dari VLive Meanie ya. Tq.
Sekian.
-kaxo.
