Title : Sayonara

Author : cindyjung

Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)

Rate : M for all *maybe XD

Genre : Angst, Incest

Balasan Review :

Kim anna shinotsuke : waddduhhh O.O ini kenapa bisa baca pikiran author yang mau hiatus ? O.O #siapin perisai dirumah# oke ini next chap sudah dipublish semoga kamu suka ya J) makasih udah mau baca dan review karya cindy :D mungkin emang bakal rada menghilang sedikit dari peredaran :B *jangan teror tapi u,u

Himawari Ezuki : itu pasti! Terimakasih karen udah mau baca dan review :D

Yoon HyunWoon : iyaapp J) makasih yah udah mau baca karya ini dan ngasih reviewnya :D

Ifa. : justru kalo kepanjangan takut kalian pada bosen bacanya hehehe. Belum anget? Angetin coba (?) terimakasih afi udah mau baca dan ngereview cerita ini ya :D

Iasshine : kalo kamu baca chap sebelumnya kamu pasti tau kok mereka incest apa bukan hehehe J) makasih yah sudah mau baca cerita ini dan ngereview :D makasih semangatnya ! :D

Aje Willow Kim : Pasti! ^^ terimakasih udah mau baca cerita ini dan ngereview :D

Park July : Oh yah? Apakah Jae semenderita itu? *gaplok diri sendiri. Aslinya cindy ga maksud bikin disini Jae semenderita itu Cuma pas ada ide bikin cerita begitu langsung aja diketik hehe ._.v smua pertanyaan kamu akan terjawab pada chapeter ini :D makasih udah mau baca dan review yah :D

Vivi: niat awal sih pingin bikin Jae amnesia tapi jadinya di chap 3 bikin Jae ga amnesia tapi di chap ini amnesia lagi *nahloh bingung. Hehehe. Semuanya akan terjawab di part ini selamat menikmati chapeter ini ya :D makasih karena udah mau baca dan ngasih reviewnya :D

Missy84 : hayo tebak hayo :D siap! Ini udah lanjut kok/1 makasih udah mau baca dan ngasih review :D

Guest : iyup! Betul sekali :D makasih sudah mau baca dan review

Guest : iyahhh makasih udah mau menanti, membaca dan mereview yah :D

Min : Makasih yah udah mau baca dan mereview cerita ini :DD Maapkan juga typo-typonya hiks.. akan kuperbaiki di part ini :D

Hana-Kara : Hollaa makasih udah mau baca dan ngereview cerit ini wkwkw :D untuk dialog terakhir di chapeter 3 itu bagiannya Fanny kok bukan Jaejoong J) nah di chap semoga bisa kamu tetep nikmati ya.

A/N : Niatnya sih ini jadi chapeter terakhir dan kemudian ngga harus ngetik lagi tapi karena jalan cerita yang pingin cindy buat kepanjangan ternyata ini bukanlah Chapeter terakhir heheheheh ._.v Mungkin part depan bener-bener chap akhir tapi pembuatannya agak lama yaaahh hehehe. Makasih buat semua yang sudah mendukung ff ini dan membuat cindy semangat untuk ngelanjutinnya :D Sampai bertemu di chap akhir yaahhh :D

Diclaemer : Semua tokoh yang ada disini adalah hasil fiksi belaka, saya Cuma pinjam nama saja, jadi mohon jangan tersinggung ne? ^^

WARNING! YAOI, TYPO BERTEBARAN, ANGST DETECTED, COMPILICATED, OOC

.

.

.

"Kenapa?"

"Kenapa kami harus lahir... dari keluarga yang sama?"

.

"Oemma..." kata sebuah suara yang dengan serak berusaha memanggil sesosok wanita cantik yang tengah terduduk termenung sambil menatapi jendela kamarnya

Sosok tersebut hanya dapat merasakan jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya saat sebuah suara asing menyapanya dan memanggilnya oemma

Pemilik suara yang serak tersebut kemudian mematahkan langkah antara dirinya dan sosok itu. Mata doenya ia tatapkan pada mata sendu sang yeoja cantik yang sudah tidak muda lagi itu. Matanya melebar, dan mulai memanas kala menatap mata itu dan mata itu memandangi matanya dengan tak kalah penuh rindunya.

Seandainya saja, waktu mengijinkan mereka untuk bertemu saat itu, pasti hal ini tidak akan terjadi pada yeoja kesayangannya dihadapannya ini. Pasti semuanya, akan selalu baik-baik saja.

Flash Back

"Appa!" panggil suara itu dengan begitu bersemangat sambil berlarian dengan tidak sabar menuju kesosok orang yang memang sangat sudah ditunggunya

"Jaejoong ah! Pelan-pelan! Nanti kalau kau jatuh bagaimana?" kata seorang yang adalah Jung Yong Hwa tersebut

"Benar Kim Jaejoong, nanti kalau kau terluka Appa Jung akan memarahi Appa nih!" kata seorang lain yang mengakui dirinya sebagai Appa Jaejoong juga

"Aih, Hyun Joong Appa tenang saja. Jung Appa baik kok hehehe" kata Jaejoong dengan cengiran dimulutnya menandakan ia sangat bersemangat hari ini

"Kau bersemangat sekali hum?" kata Yong Hwa dengan wajah yang tak kalah sumringah

"Tentu saja! Hari ini appa akan membawaku pulang bukan? Ahhh aku bersemangat sekali! Sudah lama aku ingin bertemu Seo Oemma dan juga Hyungie! Kekekeke" kata bocah berumur 14 tahun yang kini tampak seperti saat usianya masih 4 tahun tersebut

"Jung Jaejoong apa kau tidak bertumbuh dewasa? Kenapa kau terlihat sama saja hum? Arra, arra, ini sudah sepuluh tahun sejak appa menitipkanmu disini dan semuanya kelihatan baik saja. Ah... Senangnya" kata Yong Hwa yang juga merasakan perasaan lega ketika melihat semuanya membaik selama sepuluh tahun ini

"Tuan, mobilnya sudah siap" kata Hyun Joong sambil membungkuk sedikit pada Yong Hwa

"Kalau begitu, ayo! Kita pulang!" Yong Hwa kemudian mengulurkan tangannya pada bocah 14 tahun itu yang diterima dengan sangat semangat oleh bocah tersebut

Jaejoong memasuki mobil itu dengan sangat tidak sabar dan penuh semangat. Hawa bahagia menyelimuti semua orang yang ada didalam mobil tersebut. Yong Hwa, Hyun Joong, dan Jaejoong, semuanya. Setelah sandiwara yang membuatnya didiamkan selama sepuluh tahun oleh anaknya –Yunho- tersebut, kini, setelah ia membawa Jaejoong kembali, Yong Hwa harap semuanya akan baik-baik saja.

Walau,

Tanpa mereka sadari,

Bahkan walau sudah sepuluh tahun berlalu,

Semua tidak baik-baik saja.

.

"Soo Jin brengsek! Aku tidak menyangka ia akan menyerang disaat seperti ini! Jaejoongie keluarlah!" kata Yong Hwa dengan penuh kepanikan

"Shirrrreoooo! Jongie ingin bersama appa! Kita harus pulang bersama-sama!" pekik Jaejoong tak kalah panik

"Pokoknya keluar!" Teriak Yong Hwa sambil membuka pintu disamping kanannya dan kemudian mendorong Jaejoong sekuat tenaga sehingga membuatnya meninggalkan mobil tersebut

Tubuh Jaejoong terlempar kuat hingga kesisi jalan dan meninggalkan beberapa bekas luka ditangan dan tubuhnya. Kepalanya yang tadinya menghadap tanah kini ia tengadahkan sambil berusaha menghadap arah mobil yang baru saja mengeluarkannya kesisi jalan.

Terlihat sebuah mobil lain dibelakangnya kini menyerempet belakang mobil tersebut berkali-kali dan menyudutkannya hingga membuat mobil yang Jaejoong ketahui milik kedua ayahnya kini hampir melampaui sisi jalan dan hampir menabrak pembatas sisi mereka.

Sekali lagi mobil itu menyerempet mobil tersebut dan menabrakkannya dengan sangat kuat sehingga membuat Hyun Joong terpaksa melayangkan stirnya ke arah palang yang ada disamping mereka dan membuat mereka menabrak pembatas itu hingga hancur dan menghimpit tubuh mereka berdua yang berada di dalam mobil yang juga terhimpit dan kini sudah tidak diketahui lagi bentuknya.

"Hyun Joong Appa... Appa... Jung Appa..." kata Jaejoong sambil sempoyongan saat berusaha mendekati mobil yang tampak sudah cukup jauh darinya tersebut. Matanya sudah sangat panas saat itu dan kepalanya pun berdenyut-denyut seakan siap meledak kapan saja.

Sementara didalam mobil keadaan sudah sangat tidak karuan. Yong Hwa tampak tak sadarkan diri setelah benturan hebat yang menimpanya sementara Hyun Joong cukup tertolong oleh penolong yang ada dalam setirnya tersebut. Dalam keadaan setengah sadar kini Hyun Joong tengah mengambil sebuah ponsel dan menelepon orang diseberang sana.

"Yoboseyo?"

"Jangan pernah serahkan Jaejoongie... pada siapapun.." kata Hyun Joong dengan nafas yang agak terengah

"Yoboseyo? Yoebo?!" kata suara diseberang sana dengan khawatir

Hyun Joong mendengar sebuah deruman mobil tak jauh dari tempat ia duduk sekarang. Sedikit matanya dialihkan pada kaca spionnya. Mobil tersebut masih mengerung padanya dan seakan siap menjatuhkannya kesungai dibawahnya kapan saja.

Hyun Joong menatap kembali hamparan dihadapannya dan menutup matanya. Mereka ulang setiap moment dalam hidupnya. Moment bahagia saat ia menikah dengan Taeyeon, saat mendapatkan pekerjaan berat dari seorang yang ramah seperti Yong Hwa, dan saat Jaejoong dititipkan padanya yang kini sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Semuanya.

Hyun Joong kembali membuka matanya kala erungan itu kini tidak terdengar.

"Saranghae..."

Hyun Joong menutup matanya dan kala itu juga sebuah hentakan keras membuat tubuhnya terpental kedepan belakang dan kemudian seakan membuat tubuhnya melayang dan rasa terakhir yang ia rasakan adalah...dingin.

Jaejoong terdiam. Diam yang sanngat lama hingga kemudian tulangnya tidak terasa lagi dan kemudian membuat seluruh tubuhnya ambruk begitu saja. Pandangan matanya kosong kala menatap kejadian yang baru saja disaksikannya.

Mobil itu terjatuh. Padahal didalam mobil itu ada Appanya. Ada Kim Hyun Joong Appa. Ada Jung Yong Hwa Appa. Ada keluarga yang disayanginya.

Seharusnya Jaejoong pulang. Bertemu semuanya. Bertemu Oemma. Bertemu Shin Hye Oemma. Dan bertemu Hyungienya, bertemu Yunho Hyung.

Seharusnya.

Seharusnya semua baik-baik saja.

"APPPPAAAAAAA!"

Flash Back End

Kata yang tidak bisa terucap selama 3 tahun ini, akhirnya, terungkap.

"... Aku pulang" kata namja manis dengan mata doenya tersebut sambil menatap yeoja yang ia panggil dengan oemma tersebut dan kemudian mengelus tangan oemmanya dengan perasaan penuh rindu.

Sebuah cairan hangat jatuh dari pelupuk mata yeoja tersebut dipadu dengan raut wajah sedih, kecewa, rindu, marah, semuanya, kini semuanya melebur menjadi satu dalam wajahnya tersebut. Namun kemudian semua itu menguap kala tubuh mungilnya dipeluk oleh tubuh namja tersebut dengan sangat erat.

Sosok anaknya kini sudah dewasa hum? Sudah 13 tahun dan banyak yang sudah ia lewatkan dalam masa pertumbuhan anaknya ini. Setelah ini, Seo Hyun berjanji, tidak akan lagi melewatkan apapun yang terjadi pada anaknya.

Tidak akan pernah lagi.

oOSayonaraOo

Jaejoong POV

Aku tidak menyangka, dia benar-benar akan membawaku pulang, padahal perlu aku akui, aku tidak ingin pulang dulu.

Aku belum siap.

Belum siap untuk melihat segala perbedaan antara dulu dan sekarang.

Belum siap untuk melihat wajah oemma yang aku tinggalkan.

Dan tidak akan pernah siap untuk melihat hal seperti ini didepan mataku.

"Aku tidak menyangka ternyata kalian adalah adik dan kakak" kata suara seorang yeoja yang selalu kuakui cantik itu

"Begitulah Fanny ah hehehe" kata namja lain disampingnya dengan tawa anehnya pada akhir kalimat

"Berarti kau harus mentraktirku makan! Akukan sudah mempertememukanmu dengan adikmu!" kata yeoja yang bernama Fanny itu sambil menegadahkan tangannya pada Yunho

"Enak saja! Bukan berarti aku harus mentraktirmu!" balas namja yang adalah kakakku itu. Jung Yunho.

Kini aku sedang memandangi mereka yang tengah beradu argumen. Fanny, ah, dia selalu tampak cantik dimataku. Rambut hitam terurai dengan gelombang pada ujung rambutnya, kulit yang seputih susu, dan juga mata yang tampak seperti bulan sabit ketika ia tersenyum.

Cantik bukan?

Tidak akan salah bila ia disandingkan dengan seorang Jung Yunho yang gagah, tampan, bijaksana, mempunyai mata yang seperti musang, bibir hati yang lucu, kulit tannya yang menambah pesonanya, tangan yang indah, dan ah...sudahlah, dari dulu sampai sekarang ahjussi memang selalu tampak mendekati sempurna dimataku.

Kutatapi terus mereka yang kini tampak saling bertegur ria. Ah, sial, dadaku jadi berdenyut tidak nyaman seperti ini. Rasanya seperti ada ribuan banteng yang tengah berusaha menyeruduk hatiku dan rasanya sangat sakit. Aku sejenak menutupkan mataku dan menghela nafas dalam mencoba untuk meredam rasa sakit tersebut.

Dalam gelap kepalaku mulai mengulang segala kejadian yang telah kulewati dengan ahjussi ah, hyung. Kejadian saat kami masih kecil dan ia masih mengacuhkanku, saat aku kehilangan pengelihatan dan ia kemudian menjadi ksatria dalam hidupku, dan kini saat dia sudah kuakui menjadi separuh nafasku dan membuatku semakin mencintainya.

Rasanya aneh. Untuk apa aku melalui waktu yang begitu lama tanpanya bila pada akhirnya hatiku selalu menjadi miliknya?

Aish, semakin lama kupikirkan aku akan bisa semakin gila! Rasanya urat kepalaku ini malah berdenyut semakin keras dan membuat sensasi tidak nyaman pada kepalaku.

"YA! Jaejoong ah!" panggil suara dari seorang yang dari tadi sedang aku pikirkan

Mataku terbuka dan kemudian menatap mata musangnya itu. Sedikit aku terpaku kala ia memanggil namaku tanpa embel-embel bocah seperti biasanya. Ini bukan mimpi bukan? Kubuka telingaku lebar-lebar untuk mendengar setiap panggilan yang ia serukan.

"Jaejoong ah, ayo bantu aku!" katanya sambil sedikit memohon

"Jaejoongie, jangan diam saja" katanya lagi sambil memoutkan bibirnya

Jaejoong ah? Jaejoongie?

Hmmp, sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu dari mulutmu. Ah... aku jadi tersenyum kan sekarang, padahal tadi aku baru saja tampak akan frustasi karenamu.

"Aku tidak mau membantumu, ahjussi jelek! Wleee!" kataku sambil berusaha memasang senyum terbaikku

"Jaeeeeeeee!"

Jung Yunho kau memang menyebalkan.

END Jaejoong POV

oOSayonaraOo

Langit masih tampak hitam, bahkan bulan masih tapak bersinar cukup terang kala itu. Namun sang pemilik mata musang seakan enggan untuk membiarkan matanya tertutup. Dalam posisi yang masih tertidur diranjang matanya menatap langit-langit kamarnya dengan penuh keterdiaman. Hari ini masih terasa seperti mimpi.

Menemukan adiknya, mendapati Jaejoong yang menguping, membawa Jaejoong pulang, dan kini, walaupun masih memerlukan izin dari Taeyeon oemma, Jaejoong tidur untuk pertama kalinya disamping kamarnya. Setelah sekian lama tidak pulang apakah dia bisa tidur nyenyak dikamarnya?

Tsk, ternyata memang tidak ada waktu untuk tidak memikirkan adik kesayangannya tersebut.

"Aish, aku bisa gila" kata Yunho sambil membuka selimut dari kakinya dan menjatuhkan kakinya kelantai lalu melangkahkan kakinya menuju kamar adiknya disampingnya

Yunho memutar kenop pintu kamar itu dengan sedikit pelan berusaha untuk tidak mengganggu orang yang tengah berada dalam kamar tersebut. Pintu itu perlahan terbuka dan memperlihatkan sosok yang kini tengah terduduk sambil memandangi jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Tampak sekali bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Kau tidak tidur, Jaejoongie?" kata Yunho yang seketika mengagetkan sosok yang tengah terduduk tersebut

Jaejoong mengalihkan kepalanya dan memandang Yunho, "Aku tidak bisa tidur, ahju..., ehm, hyung"

Yunho melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Jaejoong dan duduk di sampingnya. Matanya kembali menatap sosok yang kini sudah mengalihkan kembali kepalanya menatap jendela tersebut. Pemandangan saat ini adalah pemandangan terindah yang pernah Yunho lihat dari adiknya. Walau dalam kegelapan, sosok adiknya itu masih terlihat sangat indah dibawah sinar bulan.

Matanya, Hidungnya, Bibirnya, semuanya, tampak sangat indah dimata Yunho. Bahkan, perlu ia akui, dari banyak wanita yang pernah masuk dan hilir mudik dalam hidupnya, ia tidak pernah mendapatkan pemandangan seindah ini dari mereka. Saat pertama kali bertemu lagi dengan Jaejoongpun, Yunho sudah berpikiran bahwa namja ini memang tampak seperti bidadari, iya kan?

Kim Jaejoong, Jung Jaejoong, Jaejoongie, kau benar-benar sudah membawa Jung Yunho terlalu jauh dalam pesonamu.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Yunho penasaran

"Yong Hwa Appa" jawab Jaejoong singkat tanpa menoleh

"Appa saat itu meninggalkanku, menjemputku, kini dia benar-benar meninggalkanku lagi" lanjutnya

"Apa kau mau ke makan appa besok?" tawar Yunho sedikit sendu

"Tidak, aku belum siap. Untuk yang satu itu, aku belum siap, Hyung" jawab Jaejoong dengan senyum miris diwajahnya

Yunho terdiam sambil memandangi raut wajah kesedihan yang kini tampak pada wajah adiknya. Ah, benar juga, orang terakhir yang melihat appa adalah Jaejoong bukan? Mungkin bagaimana pun juga kembali ke rumah ini akan membawanya pada kenangan yang tidak ingin diingatnya.

"Perlu kutemani tidur?" tawar Yunho lagi yang membuat Jaejoong sedikit melonjakkan badannya kaget

"Eh? Tidak usah, nanti aku merepotkanmu" tolak Jaejoong sambil berusaha mengatur detak jantungnya yang kala itu berdebar membabi-buta

"Jangan berbicara seolah aku ini orang asing begitu," Yunho kemudian memundurkan tubuhnya sampai menuju ke senderan ranjang dalam posisi duduk dan kemudian mengulurkan tangannya pada Jaejoong, "Ayo"

Jaejoong yang sedikit ragu kemudian mendekati Yunho lalu mengambil tangannya dan terduduk pada ranjang dengan pandangan yang kebingungan. Jujur saja, debaran jantungnya ini membuat kepalanya berpikir agak lambat karena terlalu gugup.

"Kau ini kenapa? Ayo sini! Kau tidurlah disebelahku seperti dulu" kata Yunho sambil menepuk-nepukkan bantal disampingnya sementara Jaejoong hanya menurut apa yang dikatakan Yunho dan kemudian menyandarkan kepalanya dibantal yang telah disiapkan Yunho

Tangan besar Yunho kini mengelus puncak kepala Jaejoong dengan penuh kasih sayang yang tanpa ia sadari perlakuan itu telah membuat jantung orang yang tengah ia manjakan itu berdebar sangat keras.

"Seperti dulu hum?" kata Yunho sambil tersenyum tanpa menatap Jaejoong

Jaejoong menatap wajah namja yang tampak sangat datar namun masih dengan senyum diwajahnya tersebut. Mungkin rasa ini memang hanya sepihak hum? Tapi tidak apa bukan? Tidak apa bila bisa terus merasakan hal seperti ini.

"Hum... Seperti dulu" kata Jaejoong sambil mendekatkan kepalanya pada pinggang Yunho dan menggesek-gesekan kepalanya pada pinggang Yunho untuk mencari rasa nyaman disana sambil menutup matanya dan membiarkan dirinya terlelap tanpa ragu lagi

Yunho menghentikan aktifitasnya mengelus puncak kepala Jaejoong karena merasakan kepala Jae yang semakin mendekat pada tubuhnya. Tindakan yang dilakukan oleh Jaejoong tanpa sadar telah membuat jantung Yunho yang tadinya sudah bergetar ringan kini terasa lebih berdebar dan lebih menggila daripada sebelumnya. Mata yang tadinya enggan menatap wajah itu karena debaran tersebut kemudian berusaha untuk mengalihkan perhatiannya pada namja disampingnya.

Sedikit diturunkannya badannya dari posisi duduk dan kini tubuhnya tengah tertidur sempurna disamping Jaejoong. Kembali tangan besarnya itu mengelus kepala Jaejoong pada puncaknya dan kemudian mengelus lebih lebar hingga ke pipi mulus Jaejoong yang tengah mulai terlelap.

Kembali Yunho menatapi sosok dihadapannya itu. DEG! Jantung Yunho terus berdebar semakin kencang ketika matanya kini tengah menangkap sebuah benda yang sejak dulu memang menjadi ikon yang tidak pernah dilewatkan matanya. Bibir peach Jaejoong.

"Tidak boleh, Jung Yunho! Tidak boleh! Ingat! Dia adikmu!" Yunho berusaha memperingati dirinya sendiri

"Hyung~" kata Jaejoong dalam tidurnya, "Saranghae" lanjutnya dengan senyum diwajahnya

Yunho terdiam mendengar perkataan Jaejoong. Walaupun mungkin itu adalah rasa cinta yang berbeda, tapi bolehkah Yunho menganggap bahwa itu 'cinta' ? Karena untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa gugup yang segugup ini. Canggung yang secanggung ini. Dan bingung yang sebingung ini.

Tampaknya Jung Yunho memang sudah jatuh kedalam tempat yang sama dengan Jaejoong. Tempat yang bernama cinta.

"Nado saranghae" kata Yunho sambil memeluk adik kecil kesayangannya itu dan kembali mengusap kepala Jaejoong sayang. Sayang. Yunho sangat sayang pada Jae. Sangat-sangat sayang. Bahkan bisa dikatakan sayang itu sudah menjadi cinta. Ahhhh pokoknya Yunho sayang Jaejoongie.

oOSayonaraOo

"Yunho ah, ayo kita jalan-jalan!" pekik Fanny dengan penuh semangat menuju ke meja makan keluarga Jung

"Ah, Fanny ah, pagi sekali kau sudah datang" kata Shin Hye oemma sambil tersenyum kala melihat Tiffany datang

"Ah, ne, oemma, aku sudah rindu sekali dengan Yunho" kata Fanny dengan sedikit malu-malu

"Hahaha, tunggulah, sebentar lagi dia akan turun" kata Shin Hye oemma sambil menunjuk tangga rumah mereka

"Ah! Itu dia Jung..." Fanny berusaha memanggil Yunho namun perkataannya tercekat kala ia melihat seorang lain yang turut dalam langkah tangga tersebut

"Eh, Fanny ah? Kau datang pagi sekali?" kata Yunho saat melihat Fanny sudah ada didekat meja makan

"Fanny Unnie, pagi" kata Jaejoong sambil sedikit membungkukan tubuhnya kala menyapa Fanny dan kemudian menuju sisi lain meja makan

"Ah, iya, aku datang untuk jalan-jalan bersamamu" kata Fanny sambil tersenyum

"Ah? Benarkah? Maaf tapi hari ini aku dan Jongie akan pergi mencari sepeda untuknya" jawab Yunho sambil menunjuk Jaejoong yang kini sedang membantu Shin Hye oemma menyiapkan makan

"Eh? Tapi aku kan sudah rindu sekali denganmu" kata Fanny dengan sedikit merajuk

"Aku benar-benar minta maaf Fanny ah, tapi kali ini tidak bisa. Ah, sebagai gantinya kau mau ikut makan dengan kami pagi ini?" tawar Yunho pada Fanny yang mendapat sambutan heboh dari Fanny

"Tentu saja!" kata Fanny sambil merebut tempat disamping Yunho

Keluarga Jung ditambah Fanny kini sedang menikmati makanan yang baru saja dibuatkan oleh Shin Hye oemma. Kali ini Shin Hye memang sengaja membuatkan porsi yang lebih banyak karena tau ada Jaejoong dirumah namun ia tidak menyangka akan ada Fanny juga disana. Untuk pertama kali dalam 13 tahun ini, ia merasa lengkap walau tanpa seorang suami. Setelah kembalinya Jaejoongpun membawa senyum yang berbeda dari wajah Yunho. Senyum yang sudah sangat lama tidak ia lihat.

"Ah, masakan Shin Hye oemma sangat enak! Oemma bantu aku membuat resep ini ya!" kata Jaejoong dengan menggebu

"Eh? Memang kau bisa memasak?" kata Shin Hye oemma takjub

"Tentu saja, setelah Hyun Joong appa tidak ada, Taeyeon oemma yang bekerja keras untuk menghidupiku selama tiga tahun terakhir dan kadang beliau tidak ada dirumah, jadi daripada membeli makanan dari luar aku belajar memasak hehe" kata Jaejoong dengan bangga

DEG! Jantung Shin Hye mencelos, sedikit ada rasa kasihan dan cemas dalam dadanya. Kasihan karena selama ini anak dihadapannya ini harus mengalami hal-hal yang seharusnya tidak terjadi padanya dan cemas, karena sampai saat ini tidak ada yang pernah tau, bahwa Hyun Joong terbaring koma dirumah sakit.

"Ah, baiklah, kapan-kapan aku akan mngajarimu" Kata Shin Hye kemudian setelah beberapa lama terdiam dan terbawa dalam pikirannya

"Aku curiga makananmu itu tidak enak" kata Yunho berusaha mengejek

"Enak saja! Yoochun dan Junsu memuji masakanku kok! Kalau tidak percaya nanti akan kumasakan kau sesuatu, hyung!" kata Jaejoong tidak suka sambil memajukan sedikit bibirnya

"Temanmu pasti berkata begitu karena tidak enak padamu. Ah, sudahlah tidak perlu nanti aku sakit perut" kata Yunho sambil tersenyum geli sendiri

"Hyung! Lihat saja! Nanti aku akan memilih sepeda yang paling-paling-paling mahaaalll!" ancam Jaejoong sambil menodonkan sebuah sendok pada wajah Yunho

"Hanya sepeda, mana mungkin ada yang sangat maha hahaha" kata Yunho sambil tertawa pada akhirnya karena puas menggoda Jaejoong

"Hyuuuunggggggg!"

Shin Hye hanya tersenyum memandangi perengkaran Yunho dan Jaejoong karena untuk pertama kalinya Yunho terlihat sangat jail seperti itu. Rasanya kepulangan Jaejoong memang membawa pengaruh tersendiri bagi Yunho. Sementara Fanny hanya memandang mereka dalam diam.

Walaupun Fanny menyadari dengan sangat bahwa Yunho dan Jaejoong adalah adik dan kakak namun entah mengapa sejak mereka berdua turun tangga dan kini melihat pertengkaran mereka, Fanny merasakan sesuatu yang tidak biasa dimatanya. Senyum Yunho, sikap Yunho, Semuanya terasa sangat berbeda dari bisanya. Dan yang bisa membuat Yunho menunjukkan semua itu hanyalah namja yang ada dihadapannya.

Jujur saja, itu membuat Fanny kesal.

oOSayonaraOo

"Aku ingin yang itu!" pekik Jaejoong kegirangan kala menatap sebuah sepeda dari brosur yang ada ditangannya tersebut

"Ah, pilihan yang bagus, Tuan! Itu adalah sepeda desain terbaru dari produk kami! Dan karena jumlahnya terbatas dan harus memesan dahulu, anda baru bisa mendapatkannya kira-kira dua minggu lagi. Apakah anda masih berminat?" tanya salah seorang pria pada showroom tersebut

"Tidak!"

"Tentu saja!"

Yunho dan Jaejoong memekik secara bersama-sama namun dengan perkataan yang tidak sejalan. Mendengar pekikan Yunho yang seakan tidak setuju dengan sepeda pilihannya itu, Jaejoong lalu menggembungkan pipinya dan menghadap ke arah kakak laki-lakinya tersebut. Dikerutkan alisnya tidak suka dan menatap mata musang itu dengan mata doenya yang kii terlihat sedikit memohon.

Sial, Jaejoong tampak sangat manis saat ini.

"Kau benar-benar menginginkannya eoh?" kata Yunho sambil menghela nafas singkat tanda ia menyerah

"Tentu saja! Ayolah ahju.. eh hyuuungg" kata Jaejoong merajuk

Yunho terdiam sejenak dan kemudian mengangkat pipinya yang kini agak chubby itu dan membentuk sebuah senyum di wajahnya. Senyum yang.. entahlah, tampaknya mencurigakan.

"Baiklah" kata Yunho sambil mengangguk dan menyetujui sepeda pilihan Jaejoong

"Benarkah?! Aihh hyung memang baik sekali sama Jonggieee!" kata Jaejoong saking senangnya sambil memeluk tubuh Yunho yang tampak lebih tinggi darinya itu

DEG! Jantung Yunho bergetar keras kala kulit halus Jaejoong kini bergesekan hangat dengan kulitnya. Senyum yang di wajahnya pun semakin mengembang kala Jaejoong kembali menyebutnya Jongie. Ah, panggilan yang sudah sangat lama tidak terdengar hum?

"Baiklah kita pesan yang itu ya" kata Jaejoong dengan sumringah setelah melepas pelukannya dari Yunho

"Dengan satu syarat" kata Yunho tiba-tiba yang mengagetkan Jaejoong

Jaejoong menatap wajah Yunho yang tampak beda dari biasanya. Tubuhnya sedikit bergetar kala menatap wajah Yunho yang kali ini terlihat mencurigakan. Aish, apa yang akan Yunho lakukan padanya?

oOSayonaraOo

"Ah, syukurlah kau sudah pulang. Apa kau lelah? Istirahatlah, setelah itu ayo kita ke taman bersama" ajak Fanny dengan pernyataan yang bertubi ketika melihat Yunho pulang tampak lebih cepat dari dugaannya

"Ah, mana Jaejoong?" lanjutnya saat melihat tidak ada seorangpun disampingnya

"Ah, Jongie pulang kerumah Kim Oemma" jawab Yunho saat Fanny menanyakan tentang Jaejoong

"Oh... jadi bagaimana? Apa kau ingin pergi ke taman?" kata Fanny lagi mencoba mengajak Yunho pergi bersamanya

"Ah, maaf Fanny ah, soal itu.. aku rasa tidak bisa. Hari ini aku ingin menyelesaikan semua pekerjaan agar besok aku dan Jongie bisa pergi jalan-jalan. Maafkan aku ya" kata Yunho santai sambil memperlihatkan senyum semangatnya yang membuat Fanny terdiam

"Arraseo" kata Fanny yang terdengar seperti berbisik

"Lain kali saja ya. Aku masuk dulu" kata Yunho lagi sambil memegangi puncak kepala Fanny yang tertunduk sebentar kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya

Fanny masih terdiam dan tertunduk. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak biasa antara Yunho dan Jaejoong dan itu sangat mngganggunya. Senyum tadi adalah hal yang sangat tidak biasa Yunho perlihatkan padanya, dan sentuhan tangan tadi terasa lebih lembut dari sebelumnya.

"Jung Yunho adikmu itu... aku atau Kim Jaejoong hum?"

"Tunanganmu itu...aku atau Kim Jaejoong?"

"Fanny ah, apa Yunho sudah pulang?" tanya Shin Hye sambil mendekati Tiffany sementara Fanny hanya membalasnya dengan keterdiaman

"Fanny ah.."

"Jung Oemma" panggil Fanny kemudian sambil menegadahkan kepalanya dan menghadap yeoja paruh baya dihadapannya yang membuat yeoja itu sedikit tersentak

"Apakah Yunho dan Jaejoong adalah saudara kandung?" kata Fanny yang mengagetkan Shin Hye seketika

"A..apa maksudmu?" kata Shin Hye dengan sedikit gugup

"Aku hanya... Yunho dia, tampaknya dia menyukai Jaejoong" kata Fanny sambil kembali menundukkan kepalanya dan menatap lantai rumah itu dengan hampa

"Mwo?! Jangan asal bicara Fanny ah itu sangat tidak mungkin!" kata Shin Hye masih dengan segala kekagetannya

"Karena itu aku bertanya apa mereka saudara kandung? Karena jika iya, bukankah hal itu sangat terlarang? Sedikit banyak aku akan merasa lega jika mereka benar saudara kandung" kata Fanny lemas

Shin Hye hanya terdiam. Kali ini ia yang menundukkan kepalanya dan kemudian berpikir. Mungkin hanya dia, Yong Hwa, dan Soo Jin yang mengetahui kenyataan bahwa Yunho dan Jaejoong bukanlah saudara kandung. Tapi mengapa Fanny bisa berpikir tentang hal yang mendalam seperti ini? Apa karena ia merasa cemburu?

Ah, ya. Yunho memang tampak sangat tidak biasa pada Jaejoong dan Shin Hye cukup mengakuinya. Binar mata itu selalu ada saat Yunho menatap Jaejoong. Senyum hangat itu selalu ada saat ada namja berkulit putih itu dan ya, semuanya selalu muncul kala Jaejoong ada disisinya.

Padahal ia berharap semuanya akan baik-baik saja setelah Jaejoong kembali, namun mengapa? Rasanya masalah selalu saja ada?

"Jung Oemma" panggil Fanny lagi sambil kembali menegadahkan kepalanya

"Kau taukan, jika Yunho tidak menikah denganku?" tanya Fanny dengan nada sedikit mengancam

Shin Hye menegadahkan kepalanya sambil balas menatap Fannya. Dia tahu benar apa yang akan terjadi bila perjodohan antara Fanny dan Yunho dibatalkan begitu saja. Semua usaha dan kerja kerasnya dan Yunho selama tiga belas tahun ini akan terasa sia-sia.

"Aku mengerti, Fanny ah" jawab Shin Hye dengan sedikit bergetar

"Aku ingin dipercepat" kata Fanny sambil membalikkan badannya dan berkata dengan dingin

"Pernikahanku dengan Yunho, aku ingin dipercepat. Mohon bantuanmu, Oemma" lanjutnya sambil meninggalkan sosok yeoja yang terpaku atas segala perkataan yang diucapkan Fanny

"Aku pasti... akan menjadi pengantinmu, Jung Yunho" batin Fanny

oOSayonaraOo

TOKTOKTOK

"Yunho ah" panggil Shin Hye pada anak semata wayangnya tersebut

Yunho yang tengah mengenakan headset pada telinganya tersebut hanya terdiam karena tidak mendengarkan panggilan ibunya. Shin Hye dengan lembut lalu menurunkan headset yang tegah dikenakan Yunho tersebut dan lalu memenaggilnya lagi. "Yunho ah" panggilnya

"Ah, oemma?" kata Yunho kaget sejenak kala menatapi ibunya yang kini sudah berdiri disampingnya

"Oemma ingin bertanya sesuatu" kata Shin Hye dengan nada bicara yang cukup serius

Yunho mengalihkan sedikit kursi kerjanya dan menghadapkan tubuhnya pada Oemmanya yang membuat mereka saling berhadapan kini. Shin Hye menatap Yunho dengan sedikit ragu. Haruskah ia menanyakan hal ini?

"Apa kau menyukai Jaejoong ah?" tanya Shin Hye kemudian setelah menarik nafas panjang

Yunho terdiam sambil membelalakan matanya tidak percaya. Bahkan ibunya sendiri menyadari perasaannya hum?

"Ah... Oemma menyadarinya?" tanya Yunho dengan senyum malu-malu pada wajahnya

Shin Hye terdiam. Jantungnya berdetak tak percaya kala jawaban itu keluar dari mulut anaknya. Dilihatnya wajah anaknya itu yang kini tengah tampak merona kala dirinya menanyakan perasaannya pada Jaejoong. Senyum Yunho yang menurutnya sangat lucu namun mengapa harus ia dengar dengan perasaan tak menentu seperti ini?

Yunho bukanlah saudara kandung Jaejoong, mungkin itulah yang membuat hatinya merasakan tidak apa bila Yunho menyukai Jaejoong. Tapi mengingat hutangnya pada keluarga Hwang kala perusahaan kehilangan Yong Hwa lah yang membuat perasaannya tak menentu.

"Yunho ah... kalian ..." kata Shin Hye terbata sambil berusaha mengubah pemikiran anaknya tersebut

"Kami adik kakak? Aku mengerti hal itu oemma. Aku sangat mengerti. Aku juga tidak tahu mengapa saat berada didekatnya aku sangat ingin melindunginya, sangat ingin menjaga hatinya, ingin melihat segala ekspresinya, dan ingin selalu melihat senyumnya. Entah ini perasaan seorang kakak atau karena aku menyukainya, yang aku tahu, aku selalu ingin berada didekatnya dan bersamanya" kata Yunho dengan senyum hangat yang membuat jantung Shin Hye mencelos

Lagi-lagi senyum yang belum pernah Yunho tunjukkan pada Shin Hye, lagi-lagi senyum yang terkibar karena ia tengah memikirkan Jaejoong, lagi-lagi sikap Yunho yang hangat dibanding sebelumnya. Jung Yunho kau benar-benar menyukainya eoh?

"Aku mengerti, tapi jangan lupakan tentang perjodohanmu" kata Shin Hye yang membuat senyum itu seketika menghilang dan berganti menjadi pandangan yang lebih serius

"Ah, ye" jawab Yunho kemudian dengan senyum yang berbeda

Shin Hye menghela nafas lalu mengalihkan tubuhnya dan meninggalkan Yunho yang tengah duduk terdiam denga pandangan wajah yang sangat dingin. Shin Hye membuka pintu itu dengan sedikit bergetar dan kemudian menutupnya lagi dengan pelan.

Segera setelah Shin Hye mengatakan hal itu segala perasaan bersalah seakan menghantam tubuhnya satu-persatu. Jung Yunho, kenapa Oemmamu ini sangat jahat hum?

.

"Seo ah..." panggil Shin Hye sambil terisak pada yeoja yang kini tengah terbaring di tempat tidurnya dan menatapnya dengan pandangan bingung

Dipegangnya tangan Seo Hyun yang lebih hangat dari sebelumnya itu dengan erat. Tubuhnya ia biarkan terkulai di lantai kamar tersebut. Shin Hye duduk dengan lemah sambil menangis disamping tempat tidur Seo Hyun. Kebingungannya saat itu sudah tidak dapat dipendam lagi, semuanya, rasanya, ia butuh mengadu.

"Apa yang harus kulakukan? Yunho pasti membenciku. Tapi jika aku tidak mengingatkannya tentang Fanny, semua usaha kami selama tigabelas tahun untuk bertahan hidup akan sia-sia saja. Aku ingin melihat senyum Yunho yang hangat lagi, tapi kenapa ia hanya memperlihatkannya pada Jaejoong?" keluh Shin Hye sambil menangis keras

"Seo Hyun ah... kenapa aku jahat sekali pada anakku? Sejak dulu, aku hanya bisa membuat senyum itu hilang dari wajahnya.. Kenapa? Kenapa aku harus hadir diantara kau dan Yong Hwa?"

"Jika saja, jika saja Soo Jin tidak ikut perang dan disisiku, jika saja kau adalah istri satu-satunya Yong Hwa, semua pasti baik-baik saja iyakan? Semuanya pasti baik-baik saja kan, Seo Hyun ah?"

Shin Hye terus menangis keras sambil menggenggam tangan Seo Hyun dan memeluknya. Seo Hyun yang tadinya hanya terdiam perlahan mencoba mengangkat tangannya yang kaku itu kemudian ditaruhkannya dipuncak kepala Shin Hye. Perlahan namun kaku Seo Hyun mencoba menghiburnya. Seo Hyun menyadari dengan sangat apa yang dicemaskan Shin Hye karena ia juga seorang ibu. Selain itu ia juga menyadari satu hal,

"Oemma, aku cuka Yunnie hyung, makanya Jongie cuka cekali alo deket-deket hyungie"

"Oemma, aku masih menyukai Yunho hyung, tapi aku mohon ini jadi rahasia kita saja ya?"

Jaejoong juga menyukai Yunho. Dan satu yang harus ia tanyakan dalam dirinya, apakah ia siap melihat sinar wajah Jaejoong yang meredup kala kehilangan Yunho lagi?

oOSayonaraOo

BRUGH! Tubuh itu terjatuh lagi kala kedua kakinya tidak dapat berdiri dengan seimbang diatas sebuah bongkahan es yang kini telah menjadi lintasan skating. Kaki yang bergetar karena sensasi dingin ditubuhnya dan takut akan terjatuhnya lagi itu perlahan kembala menapakkan pisau skate itu ke bongkahan es itu, namun karena kegugupannya, tubuh itu kembali terjatuh dan membuat pantatnya kembali membentur es.

"Hahaha, kau ini payah sekali bermain ice skating" kata Yunho dengan tawa puas

"Ishh! Berisik! Suruh siapa hyung mengajakku kesini? Awas saja kalau aku sampai kerumah dengan keadaan tubuh yang membiru!" ancam Jaejoong sambil mengerucukan bibirnya dan kembali berusaha membangkitkan tubuhnya

Sebuah tangan kemudian terulur diidepan wajahnya dan kemudian Jaejoong mengambilnya dengan wajah sedikit tidak suka.

"Tapakkan kakimu seakan kau menapak tanah seperti biasa" kata Yunho yang seketika menjadi guru ice skating

Jaejoong mengikuti saran Yunho dan kemudian dapat membangkitkan badannya dengan baik. Perlahan Yunho mengambil satu tangan Jaejoong lagi dan kemudian ia membawa Jaejoong meluncur sambil menariknya.

"Jangan diamkan kakimu, angkat saja kalau kau merasa kakimu sudah semakin melebar, lalu tapakkan lagi. Tapi lakukannya satu kaki-satu kaki ya, jangan dua-duanya hehehe"

"Iya, kalau itu aku mengerti!" kata Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya tapi sambil meluncur lagi

Mereka meluncur sambil terus berpegangan tangan karena terkadang Jaejoong masih sangat sulit menyesuaikan badannya kala berdiri di tempat skating ini. Sesekali Jaejoong terjatuh dan menghantam tubuh Yunho sehingga ia terjatuh tepat diatas tubuhnya. Dan kala itu, mata mereka saling bertatapan dengan wajah yang sangat dekat membuat jantung keduanya bergemuruh hebat namun mereka selalu mengalihkannya seakan tidak terjadi apa-apa dan terus melanjutkan permainan mereka hingga akhirnya Jaejoong cukup handal.

"Ayo! Kau pasti bisa!" kata Yunho dengan jarak yang cukup jauh dari Jaejoong

Yunho kini menyuruh Jaejoong meluncur sendiri tanpa menggenggam tangan Yunho seperti tadi. Jaejoong dengan sedikit ragu meluncurkan sepatunya dan mulai meluncur diatas es tersebut. Digerakan kakinya dengan sedikit kaku sambil berusaha menuju ke arah Yunho yang perlahan kini tampak semakin dekat padanya.

"Yunho! Yunho! Yunho hyung!" batin Jaejoong sambil menyemangati dirnya sendiri dan memfokuskan dirinya pada Yunho

"Ayo sedikit lagi! Ya! Ya!" pekik Yunho sambil menyemangati tanpa mempedulikan tatapan orang yang tidak suka dengan suaranya yang tampak ribut itu

"Hyung!" Panggil Jaejoong sambil menutup mata dan merentangkan kedua tangannya ketika Yunho sudah tampak sangat dekat dengan dirinya.

HAP! Yunho menerima tubuh Jaejoong yang tampak sudah merentangkan tangannya itu dan kemudian memeluk tubuh namja yang lebih mungil itu. Tangan Jaejoong yang tadinya diam kini balas memeluk Yunho dengan perasaan yang cukup bangga karena pada akhirnya dia bisa meluncur sendiri.

"Uwahhh, Jaejoongieku berhasil! Chukkae, chukkae" kata Yunho masih sambil memeluk Jaejoong ditengah tempat skate tersebut dan membuat perasaan bangga Jaejoong perlahan menjadi perasaan gugup yang lebih daripada sebelumnya

"Hyung aku sangat menyukaimu"

.

"Ah, kenapa aku harus menggendongmu seperti ini huh?" keluh Yunho sambil membetulkan posisi gendongan Jaejoong dipunggungnya

"Siapa suruh hyung mengajakku ke tempat ice skating dan membuatku harus terjatuh terus menerus hingga badanku sakit eoh?" kata Jaejoong sambil memoutkan bibirnya di bahu Yunho

Yunho mengalihkan pandangannya ke bahu yang terasa berat baginya kini. DEG! Ia melihat bibir Jaejoong yang kini tengah dipoutkannya ini tampak sangat menggoda. Darahnya berdesir kala membayangkan hal yang 'iya-iya' tentang adiknya.

"Jung Yunho!" batin Yunho sambil berusaha memperingati dirinya sendiri

"Hyung!" panggil Jaejoong kala mengamati sebuah tempat yang tampak menarik perhatiannya

"Hm?" kata Yunho saat kembali ke dalam dunia nyata

"Ayo kita kesana! Seribu cermin! Tampaknya tempatnya menarik!" kata Jaejoong dengan antusias

"Ah tidak mau! Tempat itu membosankan! Lihat saja betapa sepinya tempat itu!" kata Yunho acuh

"Aiihh, hyung! Ayolah sekali saja! Aku kan sudah menemanimu seharian ini sambil bermain skating hingga tubuhnku mau potong rasanya. Ayolah, sekali sajaaaaa~" rajuk Jaejoong sambil menarik-narik baju Yunho yang akhirnya membuat Yunho menyerah dengan keantusiasan Jaejoong

Yunho dan Jaejoong akhirnya memasuki tempat yang bernama seribu cermin itu, dan tidak main-main didalamnya memang banyak sekali cermin. Dari awal yang menampakkan cermin yang mengubah bentuk muka dan tubuh kita dan bagian tengah yang menampakkan cermin dimana-mana.

"Uwaaaah. Keren sekaliii" pekik Jaejoong bersemangat

"Apanya yang keren? Disini aku hanya bisa melihat bayanganku dan juga bayanganmu" kata Yunho tidak antusias sama sekali

"Loh? Justru itu kan yang menarik? Rasanya seperti banyak orang yang memperhatikan padahal hanya ada kita berdua disini" kata Jaejoong kemudian yang membuat Yunho sedikit menegak salivanya

Tampaknya kalimat 'hanya ada kita berdua disini' benar-benar memberi pengaruh tersendiri bagi Yunho. Seakan semua pikiran-pikiran yang melayang dalam kepalanya menghasutnya untuk mengatakan semua yang ada dalam pikirannya. Mengingat tentang perkataan ibunya tentang pernikhannya itu, rasanya membuatnya ingin sekali menyatakan perasaannya pada namja ini.

Bahkan ibunya sendiri menyadari perasaannya, bagaimana namja ini tidak?

"Jung Jaejoong" panggil Yunho kemudian dengan nada serius kemudian dan membuat namja yang tadinya membelakanginya dan menatap ke arah cermin itu kemudian menatapnya

"Hm?" saut Jaejoong

"Kim Jaejoong" panggil Yunho lagi dengan serius menatap Jaejoong dan membuat Jaejoong terdiam seketika

"Jaejoongie" panggil Yunho lagi sambil menyudutkan Jaejoong pada cermin didepannya

"H..h..hyung" kata Jaejoong dengan gugup sambil merasakan debar jantungnya yang tampaknya akan meledak karena disudutkan oleh Yunho seperti ini

"Jaejoong ah" panggil Yunho lagi sambil terus menatap namja di hadapannya yang kini tampak menundukkan wajahnya

"Saranghae" tuntasnya kemudian yang membuat Jaejoong mengadahkan kepalanya sambil melebarkan matanya kaget

"H..." belum selesai Jaejoong mencob memanggil hyungnya tersebut sebuah sentuhan hangat dibibirnya sudah mendarat dan membuat sebuah rona merah muda diwajahnya

Awalnya Yunho hanya mengecup bibir itu dengan biasa namun perlahan ia mulai menggerakkan bibirnya dan mulai memagut bibir peach itu dengan bibir hatinya. Jaejoong menaruh tangannya di dada Yunho berusaha untuk melepaskan ciuman itu, namun saat tangan itu menyentuh dada Yunho, Jaejoong dapat merasakan debar dada Yunho. Perlahan Jaejoong menurunkan tangannya dan kemudian membalas pagutan Yunho. Balasan yang dilakukan oleh Jaeoong itu secara tidak langsung sudah menjawab keraguan dalam diri Yunho tentang perasaan adiknya. Dan setelah semua itu mereka jatuh ke dalam dunia mereka sendiri.

Saat merasa Jaejoong telah akan kehabisan nafasnya, Yunho kemudian melepas ciuman mereka dan menatap wajah Jaejoong yang kini sudah seperti kepiting rebus. Yunho mengambil wajah Jaejoong dengan kedua tangannya dan kemudian menatap wajah Jaejoong dengan lebih dalam lagi. Ah~ adiknya benar-benar cantik.

"Ah~ Kau benar-benar tumbuh menjadi sangat cantik eoh?" kata Yunho kemudian sambil menatap Jaejoong yang tampak tidak suka

"Aku ini namja hyung! Aku tampan!" kata Jaejoong tidak terima

"Ah~ Kau namja cantik! Dari dulu sampai sekarang kau akan terus cantik!" kata Yunho sambil menyentuh ujung hidung Jaejoong dengan telunjuknya kilat

"Hyuunnggg~~~" kata Jaejoong merajuk tak suka

"Saranghae" kata Yunho lagi menegaskan perkataannya yang sebelumnya

"Nado saranghae" balas Jaejoong kemudian yang membuat jantung mereka berdua sangat berdebar saat itu juga

Mendengar balasan jawaban dari Jaejoong Yunho tidak dapat menutupi rasa bahagianya dan kemudian kembali membawa wajah itu mendekati wajahnya dan kemudian kembali memagut bibir yang terasa manis itu. Ciuman itu perlahan turun menuruni leher jenjang Jaejoong dan kemudian Yunho hisap leher yang berharum vanilla tersebut dengan rakus sehingga membentuk sebuah bercak disana.

"Hyu..ng..~~" desah Jaejoong kala merasakan sensasi aneh dan rasa sakit pada lehernya

"Jung Jaejoong, kau adalah milikku" kata Yunho sambil terus membuat bercak disana

TBC