.4.

Makan malam bersama selalu menyenangkan, bahkan Eniq pun merasa demikian. Meskipun dia tidak bergaul baik dengan anak-anak yang ada di panti asuhan, maupun dengan sebagian besar suster pengurus, tapi kesempatan ini menjadi waktu rutinitasnya berbincang dengan Suster Hilda.

Bocah laki-laki itu mengambil tempat tepat di sisi Suster Hilda. Mudah untuk memboikot kursi itu-kursi di sebelah kursi Suster Hilda-, karena Suster Hilda sebagai suster kepala selalu duduk di ujung kanan, dan Eniq suka duduk di sisi kanannya, jadi dia selalu duduk di sana.

Makan malam berlangsung dengan hidangan sederhana, tidak ada anak yang meributkan soal rasa atau menolak makan karena rasa makanan mereka tidak pernah berdegradasi dari kata 'enak'.

Eniq telah memasukan segigit besar muffin ke dalam mulutnya-Suster Hilda sudah bersedia dengan segelas air, yakin anak ini akan segera tersedak-, tapi dia masih bisa berbicara dengan mulut berkantung, "Bef...Gifulah, Suf...Ter...Afku afkan ifkut ol...Ol," Suster Hilda langsung menyorongkan gelas yang telah dipersiapkannya, waspada Eniq akan segera memuntahkan makanannya, "Minum dulu. Nak. Minum."

Eniq menegak air terburu-buru, mengeliminasi segera onggokan besar muffin yang tersendat di kerongkongannya. Rasa mualnya pun pergi bersamaan dengan meluncur turunnya bongkah padat itu ke pencernaannya.

Suster Hilda tersenyum melihat Eniq telah bernafas lega.

"Lain kali habiskan dulu makananmu," Suster Hilda menasihati.

Eniq mengangguk dalam sekali sebagai tanda mengerti. Apapun yang dikatakan Suster Hilda dianggap keramat baginya, bagai perintah suci dari 'Iman'nya, sehingga dia tidak sekalipun berpikir melanggarnya.

"Kau akan ikut apa?" tanya Suster Hilda kemudian.

"Olimpiade matematika!"

Beberapa suster yang mendengar menegok dengan tatapan tidak percaya, 'Yang benar?', dan anak-anak di sekitarnya mulai mencondongkan telinganya.

Senyum Suster Hilda semakin mengembang, "Prestasi yang baik, Eniq. Bersama dengan Elize?"

Eniq mengangguk dalam sekali lagi, "Ya, kami berdua." Mereka tidak menyadari sekitar mereka hening hanya untuk mendengarkan perbincangan mereka. Di dalam benak setiap orang nyaris tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mereka tidak bisa membayangkan Eniq, teman sepanti yang aneh dan introvert, ternyata otaknya sangat berpotensi. Atau justru karena terlalu berpotensi dia menjadi 'agak' aneh?

"Kapan pertandingannya diadakan?"

"Untuk tingkat daerah, minggu depan."

Senyum di wajah Suster Hilda lenyap bagai api lilin yang padam. Suster Hilda langsung tercenung. Rautnya sedikit muram.

Eniq memiringkan kepalanya, menatap Suster Hilda dalam-dalam dengan bola mata kelerengnya, "Kenapa, Suster?"

Wanita tua itu menggeleng pelan, senyumannya muncul kembali, senyum sendu, "Aku hanya berpikir, 'Cepat sekali. Apa para peserta tidak kekurangan waktu untuk mempersiapkan diri?',"

Tatapan Eniq semakin tajam menusuk. Suster Hilda sampai merasa bocah di hadapannya bisa membaca pikiran. "Cukup maupun tidak, memang hanya itu waktu yang kami punya."

Suster Hilda mendengus geli, mendorong pelan kepala Eniq, "Dasar sok dewasa."

Kejadian berikutnya menyelamatkan Suster Hilda, anak-anak di meja makan berebutan bangkit dan berlarian ke dekat Eniq, berebutan pula menyalaminya dan meneriakinya dengan, "Selamat berjuang!", "Jangan sampai kalah di pertandingan pertama!", atau, "Semoga berhasil."

Untuk pertama kalinya Eniq dikerubuti seperti gula-gula pasir dipanggul segerombolan semut pekerja. Ia kelimpungan melayani orang-orang yang ingin menjabat tangannya.

Kenapa mereka begitu senang? Yang ikut bertanding kan bukan mereka.

Suster Hilda menghela nafas. Lega. Dia yakin Eniq tidak percaya dengan ucapannya. Tatapan anak itu mengatakan segalanya. Tapi dia tetap merespon seolah memang demikian yang terjadi. Seolah pembicaraan mereka adalah definitif, deskriptif, denotatif. Padahal mereka berdua tahu konotasinya.

'Semoga saja rasa ingin tahumu dan instingmu yang terlalu tajam tidak akan membahayakanmu, Eniq,' Suster Hilda memandangi muram ke arah Eniq, 'Semoga Tuhan melindungimu.'

--HF-Smile--

Di ruangannya, nyaris seperti tugu batu, dia duduk termangu.

Tidak akan ada yang menyadarinya bila dalam beberapa waktu dia tidak menghela nafas. Matanya tidak sedikitpun berkedip dari kartu nama di atas mejanya.

Kecemasannya akan anak-anak yang masih berada di bawah perlindungannya membuatnya berpikir keras. Memikirkan setidaknya satu jalan untuk membiarkan anak-anak itu terbebas dari masalahnya.

Seandainya dalam waktu dekat ini ada orang-orang yang datang untuk mengadopsi.

Adopsi.

Benar.

Cara ini terdengar paling rasional, tapi bagaimana menarik orang-orang untuk mengadopsi anak? Sekarang anak-anak tidak lagi mungil dan polos, mereka bertumbuh pesat. Apalagi kenakalannya, beberapa anak lelaki sering membuat kepalanya pusing. Tapi bagaimanapun, mereka hanya menikmati masa kanak-kanak yang bebas.

Suster Hilda menggeleng, mengusir semua pesimisnya. Dia harus melakukan sesuatu, tidak ada yang bisa melakukannya selain dia. Bila dia tidak bisa mempertahankan panti asuhannya, setidaknya dia harus bisa menyelamatkan anak-anak asuhnya dari tidur di jalan dan mengais sampah untuk makan.

Dia mengangkat telepon di sisinya, menekan tombol yang pararel dengan telepon di ruang suster. Ketika di seberang telah memberi jawaban, dia berkata, "Tolong kumpul di ruanganku. Ada yang ingin kubicarakan."

--HF-Smile--

Suster Hilda sudah memilih waktu paling tepat untuk mengadakan rapat rahasianya. Anak-anak tengah bertualang di awal dunia mimpi pada waktu nyaris tengah malam. Tidak mungkin ada yang bangun, tidak mungkin ada yang dengar, tidak mungkin ada yang tahu pembahasan pertemuan rahasia mereka.

Itu pemikirannya.

Eniq punya pemikiran sendiri, seyakin bila dia menunggu dalam lemari pajangan di depan ruang Suster Hilda dia akan mendengar penyebab kesuraman air muka Suster Hilda pada makan malam tadi.

Anak laki-laki itu terbukti benar.

Hanya sebentar saja dia menunggu, dia sudah bisa mendengar suara beberapa pasang sepatu berderap terburu-buru. Tentu itu suara yang ditimbulkan para suster asuh. Disusul bunyi engsel, kemudian sedikit deritan. Setelah itu tidak ada suara lagi.

Eniq pun keluar dari persembunyiannya.

Dia duduk berjongkok di samping pintu, pada selasar yang lebih gelap agar dia mudah menyarukan diri dan melarikan dirinya bila tanda-tanda selesainya rapat sudah mendekat. Eniq telah lama mengenali dan memahami program ruang pada panti asuhan ini. Ruangan Suster Hilda paling strategis dibading ruang lainnya, dan paling banyak aksesnya karena dia merupakan orang yang paling pertama menerima tamu dan sebagai pusat komando. Akses itu akan menguntungkan Eniq untuk bersembunyi di mana saja, di ruangan sepanjang selasar dalam waktu singkat. Semuanya sudah masuk dalam perhitungannya, bahkan waktu yang dia butuhkan untuk mencapai ruang terdekat sebelum tertangkap basah menguping pembicaraan.

Dia hanya tinggal diam dan mendengarkan.

"Ini cukup berat dikatakan, kuminta kalian tidak berkomentar."

Semua suster yang ada di ruangan itu bertukar-tukar pandang. Suasana serius yang ganjil mengunci mulut mereka rapat-rapat.

"Siang tadi, aku menerima kedatangan dua orang tamu pria. Salah satu di antara mereka adalah notaris. Namanya Tuan Westin."

Seorang akan berkomentar kalau saja dia tidak mengerti siratan makna dalam sorot mata Suster Hilda. Dia pun menundukkan kepalanya.

"Menurutnya, aku sudah kehilangan hak milikku atas tanah ini. Dalam waktu seminggu kita semua diminta meninggalkan tempat ini karena tanah dan bangunan ini akan disita."

Tidak ada seorang pun yang tidak terperangah. Menganga lebar seolah rahang mereka sudah kaku.

Seorang yang kembali kesadarannya dengan cepat, langsung berkomentar tidak senang, "Bagaimana mungkin? Suster masih memiliki akta tanah. Mereka tidak boleh menyitanya!"

"Ya, aku menunjukkannya pada mereka. Tapi, lagi katanya, akta tanahku sudah tidak berlaku lagi karena perundangan tanahnya masih pada tahun perang. Sementara setelah perang telah muncul perundangan baru. Pada saat itu seharusnya aku mengurus kembali hak akusisi tanah."

"Tapi...Selama ini tidak ada surat pemberitahuan kan? Mereka tidak boleh seenaknya!"

Suster Hilda nyaris mendengus tertawa, dia seperti melihat dirinya sendiri tadi siang pada rekan-rekan susternya. Pemikiran mereka sama persis dengan dirinya. Kalau saja terjadi pada situasi yang lebih nyaman. "Benar, mereka tidak boleh seenaknya."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukan aksi boikot? Kita bisa menaruh pagar duri dan papan protes di sekitar rumah," cetus seorang lagi. Beberapa ada yang mengangguk-angguk setuju.

"Kalau begitu malah akan membahayakan anak-anak. Lagipula kalau kita bereaksi setegas itu, kita harus menceritakan yang sebenarnya pada anak-anak."

"Perkataan Suster Grace benar, dan itu juga yang menjadi beban pikiranku. Aku tidak mau menakuti anak-anak," imbuh Suster Hilda, "anak-anak tetap prioritas utama kita."

"Maksud Suster, Anda rela diusir dari sini? Cara seperti itu pun tetap mencelakai anak-anak," Suster Ann menyela ketus. Dia sangat tegang dan kaku.

"Adopsi, Suster. Masih ada cara untuk menyelamatkan anak-anak," Suster Hilda menjawab sabar, "Dalam seminggu ini, kita harus bisa mencarikan orang tua angkat bagi anak-anak. Hubungi saudara, kenalan kalian, siapapun. Yang pasti yang sungguh-sungguh akan merawat mereka."

"Atau titipkan ke panti lain," Suster Grace menambah pelan.

Wajah Suster Hilda suram, "Ya, itu jalan terakhir."

Hening.

Meskipun sulit mencari orang tua asuh yang benar-benar serius menginginkan anak dan yang akan merawat anak angkat mereka sepenuh hati, tapi anggaplah masalah itu selesai. Masih ada masalah lain.

"Lalu...," Suster Joseline nyaris seperti menggumam bagi dirinya sendiri, "...Bagaimana dengan kami?"

Hening lagi.

Perasaan yang muncul di antara para suster berbaur, bercampur aduk antara sedih, bingung, kesal, marah, kecewa, berduka, dan banyak lagi. Sama seperti yang begolak di dalam dada Suster Hilda. Sekian lama berkerja sama, mereka tidak seperti majikan dan anak buahnya. Mereka adalah keluarga besar. Suster Hilda tidak mengganggap dirinya sempurna membina rekan-rekan kerjanya, Tuhan-lah yang menyatukan mereka. Analoginya, mereka bola tembaga yang berjejer bersama-sama, diikat benang ke sebuah balok besi tipis. Tangan Nya menggerakan mereka. Kadang mereka beradu, bersilang arah, tapi itu adalah proses bagi mereka untuk bergerak bersama ke arah yang sama.

Atom dari kerumitan rangkaian molekul ini adalah, sulit berpisah dengan mereka semua.

Seandainya saja ada takdir yang lain.

Suster Hilda memilih tersenyum santai dan lembut, daripada menambah kericuhan suasana, "Kalian bisa pulang ke rumah keluarga kalian masing-masing. Gaji dan pesangon kalian juga akan kubayar utuh."

"Bagaimana dengan Suster?"

Suster Hilda mengulum bibirnya, nampak berpikir, "Pertanyaan bagus. Mungkin sudah saatnya wanita tua ini berhenti mengurusi orang lain dan mulai diurus orang lain. Mungkin...Panti jompo."

"Pikiran macam apa itu?" Suster Ann terperanjat ngeri. Suster-suster yang lainpun sama terperanjatnya.

"Seperti yang kalian tahu, aku tidak punya keluarga lagi," Suster Hilda menanggap ringan, "Jalan yang paling bisa kusyukuri adalah masuk panti jompo. Setidaknya aku punya kamar sendiri dan makan secukupnya setiap hari."

"Tapi..."

"Tidak ada 'tapi' lagi. Aku yakin aku masih mampu mengurus diriku sendiri," Suster Hilda memutus tegas. Pembicaraan sudah selesai, tidak ada perpanjangan, "Seminggu ini kita harus bekerja keras untuk anak-anak. Kita bagi ke dua kelompok. Kelompok satu, bersama denganku, mencari panti asuhan yang masih bisa menampung anak-anak. Kelompok dua mencari pasangan-pasangan tua yang belum memiliki anak, rasanya informasi ini bisa kalian dapatkan di dinas kependudukan. Lebih baik lagi kalau kalian bisa menghubungi saudara atau kenalan yang bisa mengadopsi anak. Sekian."

Pintu cukup tebal, suara di dalam hanya samar-samar saja terdengar namun Eniq sedikit banyak masih bisa menangkap abstraksi pembicaraan di dalam. Dia segera menyusup ke dalam kegelapan ketika mendengar langkah-langkah semakin mendekati pintu, bersembunyi di balik rak. Tidak akan ada yang menyadari eksistensinya karena ruang suster ada di lorong yang lain, bahkan ketika dia mengekstensikan lehernya untuk melihat punggung-punggung wanita yang semakin menjauh.

'Notaris, tanah, adopsi', Eniq mengulang sekali lagi dalam hatinya. Tiga kata cukup untuk awal langkah berikutnya.

--HF-Smile--


Author's note: saya bingung...lama-lama fic buatan saya jadi benar-benar berbau detektif, padahal awalnya saya tidak berniat demikian sweetdrop, dan sama sekali tidak ada unsur romance nya...sweetdrop again, mudah-mudahan tidak membosankan pembaca sekalian, hehehehe. Soal masalah yang terjadi di sini, cuma fiktif, saya sendiri belum mencari tahu apa benar ada negara yang mengambil alih tanah setelah perang ditimpuk sendal.

Keep R & R, 'kay?