JY present
At the Intersection
.
Cast: OngNiel! Little Woojin!
Daniel, K! Seongwoo, O! Woojin, (?)!
Other Cast: Jinyoung, B! Jihoon, P! Jisung, Y!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.
.
Chapter Three
.
.
Warning: Typo(s), too complicated, hurt gagal, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
.
.
.
Keadaan Incheon International Airport lebih padat dari biasanya. Maklum, mulai memasuki penghujung bulan, wajar saja lautan manusia tercipta disana. Salah satu pengunjungnya, seorang pemuda dengan kemeja putih yang tak terkancing sempurna dan celana satin hitam serta jas hitam yang tergantung di lengannya tengah berjuang membelah lautan manusia dari arah yang berkebalikan dengannya. Tak peduli dengan kopernya yang beberapa kali terseok di lantai bandara, ia tetap berjalan.
"Ah sial, masuk musim dingin. Aku lupa," tangannya bergerak, memakai kembali jas hitamnya yang sejak tadi ia abaikan guna menghangatkan tubuhnya yang hanya berbalut kemeja. Tubuhnya berjengit merasakan dingin yang masih mampu menembus jasnya. Ah benar, pasti karena kancing kemejanya. Sejujurnya, ia tak peduli. Tangannya terlalu malas membenarkan dua kancing teratas kemejanya untuk ditautkan.
Langkahnya semakin di percepat begitu ia mendekat pada deretan taksi yang menyapa pengelihatannya. Taksi terdekat segera ia datangi. Punggungnya membungkuk, menyapa sang supir taksi yang nampak terperangah –karena wajahnya? Atau apa? Sekali lagi, ia tak peduli. Supir taksi itu segera membuka bagasinya, membantu penumpangnya memasukkan koper hitam besarnya yang ternyata lebih ringan dari kelihatannya.
"Anda mau kemana.. em, Tuan?"
Penumpangnya tertawa singkat. "Saya tidak setua itu. Dan tolong antarkan saya ke Wooridul Spine Hospital, secepatnya."
"Eh, tapi sekarang sedang jam pulang kerja, jadi mungkin–"
Pria di kursi belakang memajukan tubuhnya, mendekat pada sang supir yang meliriknya dari spion tengah. "Saya tidak peduli. Tolong, secepat yang anda bisa."
Setelahnya, supir itu memilih diam dan mengemudi. Tak lagi ia mengajak penumpangnya berbicara. Mana berani ia mengajak pria di belakangnya itu berbicara kalau saja sekarang ini penumpangnya itu menguarkan aura mencekam dalam taksi? Supir itu terintimidasi karenanya. Padahal penumpangnya itu tengah sibuk dengan ponsel miliknya.
Pria itu melirik jendela di sebelahnya setelah mengetikkan sesuatu di ponselnya. Irisnya menatap tajam tiap gedung tinggi yang di lewati.
"Well... Hai Seoul."
.
.
Jisung beberapa kali membuka ponselnya, mengecek apakah ada pesan atau panggilan disana. Nyatanya, nihil. Pesan terakhir yang ia terima adalah pesan dari kontak atas nama 'Beruang bodoh 2' sepuluh menit lalu. Isinya singkat, hanya pemberitahuan bahwa pesawat yang ditumpangi sang pengirim pesan mengalami delay.
"Hah, dasar."
"Jisung hyung?"
Jisung mendongak, menatap Seongwoo yang masih terbaring di kasur rumah sakit. Tatapan bertanya terlukis di manik pemuda itu. Ah, sepertinya Jisung bergumam terlalu keras tadi.
"Ya? Apa kau mau sesuatu Seongwoo?"
Seongwoo menggeleng. "Kenapa kau mengecek ponselmu terus? Apa kau sedang membuat janji? Kau bisa meninggalkanku, tidak apa."
"Janji? Tidak tidak, tidak ada."
"Lalu kenapa hm?"
Jisung melirik gelisah. "Itu– hanya Jihoon yang mengatakan bahwa ia akan terlambat menjengukmu nanti. Itu saja."
"Ah, begitu? Apa mereka kesulitan menjaga Woojinie?"
Mati sudah.
"Ah tidak. Kutebak mereka sedang bermain sekarang. Atau sedang makan siang, atau juga sedang mengerjakan tugas Woojin."
Jisung menyelipkan senyum bangga. Kadang ia merasa ada untungnya juga menjadi seorang pembohong ulung. Seperti saat ini misalnya, ia jadi bisa menyelamatkan nyawanya agar tak 'terbunuh' dalam tangan Seongwoo.
Seongwoo mengangguk beberapa kali. "Omong–omong hyung. Aku.. jadi ingin kimbap."
"Ya terus kenapa?"
"Jisung hyu~ng, 'kan kau yang menawariku tadi," Seongwoo mencebik. Wajahnya tertekuk kesal. Jisung hanya bisa menghela nafasnya. Seongwoo itu kalau sudah sakit, kepribadiannya jadi berubah. Tidak ada Seongwoo yang workaholic, yang ada hanya Seongwoo yang manja dan pemaksa. Kalau sudah begini, Jisung tak bisa menolak permintaan 'beruang' itu.
"Okay okay, aku turun ke kantin dibawah. Apa kau mau menitip lagi?"
"Em," Seongwoo mengerutkan dahinya, berpikir sejenak. "Ah aku juga mau mango float, ya? Ya Jisung hyung?"
Jisung menghela nafasnya lagi. "Kau itu sebenarnya sedang sakit apa mengidam huh? Okay aku turun."
Seongwoo tertawa dengan nada imut. Maniknya memperhatikan bagaimana punggung hyungnya itu berjalan keluar kamarnya. Gumaman kesal bisa Seongwoo dengar dari kasurnya. Biar sajalah, toh hyungnya yang menawari ia mau apa tadi.
Tangan Seongwoo bergerak, hendak meraih ponselnya di meja nakas. Kegiatannya terhenti ketika ia mendengar bunyi pintu kamarnya yang terbuka. Apa sekarang jadwalnya melakukan sesuatu? Ini bahkan belum masuk jam makan siang atau jam minum obat atau sebagainya. Seongwoo menoleh.
"Jisung hyung? Apa kau meninggalkan dompetmu?"
Hening. Tak ada jawaban.
Seongwoo bergidik. Tak mungkin ada hantu di siang hari 'kan? Apa ada orang jahat yang masuk kamarnya? Atau ada seseorang yang salah mengunjungi kamar? Tidak mungkin itu Jihoon dan Jinyoung serta Woojin, karena pasti Woojin akan langsung berteriak begitu masuk kamarnya.
"Apa.. ada orang?" punggung Seongwoo menegak. Tatapannya awas, menanti sosok lain muncul dari balik dinding yang memotong ruang utama dengan pintu ruangan Seongwoo. Kini Seongwoo bisa mendengar suara langkah dari sana, langkah yang semakin mendekat dengan pandangannya.
Nafas Seongwoo tercekat setelahnya. Kelopak matanya melebar melihat seorang pria dengan surai yang warnanya menyerupai kopi cappucino kesukaannya. Sebuah koper terseret mengikuti langkah pemiliknya. Tas tangan khas pekerja kantoran tergantung di genggaman tangan yang satunya.
Keduanya terdiam, saling menatap dalam seakan sudah bertahun–tahun tak bertemu.
Memang begitu 'kan?
Bibir Seongwoo bergetar, hendak mengucapkan sesuatu dengan susah payah. Yang keluar dari sana hanya suara nafas yang tersendat berulang. Telapaknya bergetar menutupi mulutnya yang menganga. Bahkan ketika sosok itu berjalan mendekatinya, meninggalkan kopernya teronggok begitu saja di dekat kasur Seongwoo, ia hanya bisa membelalak. Ketika telapak itu terangkat, mengusap surai Seongwoo pelan dan penuh kehati–hatian seakan surai itu terbuat dari kaca yang mudah pecah, air mata Seongwoo langsung turun tanpa perintah.
"Sudah kubilang–," ibu jari sosok berbalut jas dan kemeja putih itu berpindah, menghapus air mata Seongwoo yang turun tanpa henti. "–jangan menangis... beruang."
Pandangan Seongwoo mengabur. Kepalanya mulai dihantam oleh rasa pusing yang langsung datang begitu saja. Tubuhnya bergetar merasakan rasa hangat dari telapak pria dihadapannya mengusap pipinya berulang. Rasanya masih sama, hangat dan menenangkan.
"Kenapa kau menyakiti dirimu seperti ini? Kenapa kau– tak melepaskanku?" Daniel, pria dengan surai coklat muda yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Seongwoo, menyentuh dagu Seongwoo lembut, meminta pada sang surai hitam untuk mendongak dan menatap wajahnya. Senyuman penuh emosional tersungging di wajah Daniel kala dilihatnya air mata Seongwoo yang turun semakin deras. "Kenapa– kenapa aku juga belum bisa melepaskanmu?"
Seongwoo tersentak saat lengan Daniel melingkari bahunya, menariknya dalam sebuah dekapan hangat yang belum pernah ia rasakan kembali enam tahun terakhir ini. Tubuh Seongwoo kaku, Daniel bisa merasakan itu. Biarlah, ia hanya ingin memeluk tubuh yang ia rindukan selama ini. Telapaknya kembali bergerak, mengusap surai hingga tengkuk Seongwoo berulang.
"Aku dengar... kau shock ringan."
Seongwoo mengangguk terpatah.
"Woojinie.. Woojinie sudah hebat, hm? Ia yang menelpon Jisung hyung dan Jihoon ya?"
Lagi, Seongwoo hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan Daniel.
Daniel terkekeh pelan, mengabaikan rasa sesak atau pandangannya yang mulai memburam. Oh, air mata itu rupanya sudah menetes membasahi pipinya tanpa ia sadari. "Woojinie mengatakan padaku kalau kau tiba–tiba tertidur. Dia menangis kencang kau tau? Aku– langsung keluar dari ruang rapat dan menenangkannya."
"Rapat?" Seongwoo mengutuk berulang, menyadari bahwa suaranya bergetar dan serak. Terdengar sangat jelas. Terlebih, nafasnya juga tercekat di ujung kalimat tanyanya.
"Ya, aku sedang rapat."
"Kenapa?"
"Tidak masalah aku atau kau menelponku kapanpun, bahkan saat aku rapat sekalipun."
"Kau.. CEOnya."
Daniel menarik sudut bibirnya. "Terima kasih sanjungannya, Ong."
"Ke–kenapa kemari?"
"Kau bertanya kenapa?" Daniel melonggarkan rengkuhannya. Seongwoo mendongak dengan rasa tak ikhlas karena kehilangan rasa hangat yang melingkupi tubuhnya. Tunggu– apa? Oh ayolah Seongwoo, jangan bercanda. Kau tak boleh mendekapnya terus menerus. Tidak sekarang. Tidak selamanya.
Kalian sudah berpisah, ingat?
Seongwoo mengangguk pelan.
"Aku menagih janjimu."
Dahi Seongwoo berkerut dalam. "Jan– ji?"
Daniel tersenyum lembut. Perlahan ia membungkukkan punggungnya, menyamakan jarak pandangnya dengan Seongwoo. "Kau berjanji untuk mencintaiku sampai kapanpun. Aku menagihnya sekarang."
Hah?
Apa? Tunggu, apa yang– tidak, ini pasti mimpinya.
Ya, pasti hanya efek halusinasi dari obat penenangnya.
"Aku kembali untukmu dan Woojin."
"K– kenapa?"
Daniel memajukan wajahnya, menghapus jaraknya dengan wajah Seongwoo perlahan. Bibirnya yang sudah menyentuh bibir Seongwoo mulai bergerak, memberikan lumatan kecil dan panjang disana. Seongwoo tak menolak, ia terpejam, merasakan bagaimana bibir itu kembali menciumnya. Masa bodoh dengan hatinya yang berteriak, mengungkapkan bahwa ini adalah salah.
Tidak, ini tak boleh salah.
Daniel melepaskan pagutannya beberapa menit setelahnya, menyisakan saliva yang membentang dari bibir keduanya. Kecupan ringan ia berikan sebagai penutup.
"Karena aku mencintai kalian. Mencintai Kang Seongwoo dan Kang Woojin."
.
.
"Kau bilang pesawatmu delay, delay apanya brengsek," Jisung menyandarkan punggungnya pada koridor rumah sakit, membiarkan tubuhnya berdiri di depan pintu ruang Seongwoo dirawat dengan tangan yang masih membawa kantung berisi kimbap dan mango float pesanan Seongwoo. Helaan nafas menyusul di akhir kalimatnya.
Tolong salahkan dua manusia di dalam sana yang tak menyadari bahwa pintu yang menghubungkan ruang rawat dengan koridor itu tak tertutup rapat. Jisung nyaris menjatuhkan belanjaannya karena panik, mulai menerka apa yang terjadi dengan Seongwoo. Dan voila, yang ia temukan adalah seorang 'beruang' bodoh yang sedang memejamkan mata dalam dekapan 'beruang' bodoh lainnya. Itulah alasan mengapa Jisung berdiri sendirian disini, menunggu seperti orang bodoh selama beberapa saat.
Senyuman tipis terbentang di bibir Jisung.
"Welcome back."
.
.
.
–TBC–
a/n: Ehee, sudah update nih hehehe.
Oh iya,
Pengumuman, next chapter adalah last chapter
Sedih dd ini FF udah mau selesai aja ternyata;_;
.
BTW DANIEL RANK 1 YIHAA:")))) WOOJIN GEDE RANK 6 YIHAAA
Tapi Yongguk kenapa rank 21;_; say goodbye ke bias lagi deh;_;
DD WOOJIN JUGA KE ELIM IHHH;_;
Sedih banget liat interaksi dia sama Daniel pas di akhir, pas Daniel meluk Woojin.
Berasa liat bapak bapak lagi meluk anaknya yang nilai ujiannya jelek;_;
Ah masih mewek saya tuh;_;
Besok yang debut siapa saya udah pasrah, udah bias semua;_;
.
XOXO,
Jinny Seo [JY]
