Love's Note

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre(s) : Romance, drama, hurt.

Rated : T

Warning :

OOC, College love story,

typo(s), AU,

.

Enjoy

.

Jika kau bertanya padaku kapan terakhir kali aku memintamu meluangkan waktu, mungkin aku sudah tidak tahu jawabannya. Terakhir kali kita bertemu, kita bahkan tak saling menyatakan rindu. Aku malah sampai lupa rasanya merindukanmu. Tapi jika kau bertanya padaku kapan terakhir kali aku mencintaimu, jawabannya adalah…

Aku belum berpikir untuk berhenti mencintaimu.

Malam itu Hinata menulis lagi, memulai tulisannya dari lembar paling pertama dalam draft naskahnya. Tapi sepertinya, karakteristik manis harus berhenti mulai detik ini, karena rasa pahit jauh lebih menguasai isi hati. Ia harus berhenti menulis kisah manis setelah 4 judul novelnya laku terjual, ia harus memulai lagi. Namun, ini tidak seperti Hinata terlalu sulit untuk menulis kisah pahit seperti yang ia rencanakan, karena sudah pasti inspirasi datang dari kisah cintanya sendiri.

Sejujurnya, membuat cerita fiksi dari kisah pribadi punya keuntungan juga, karena yang jelas Hinata tak perlu pergi kemana-mana untuk mencari bahan referensi. Kisah cintanya sudah jelas, dan tak perlu dijelaskan dari awal lagi mengapa pada akhirnya ia ingin kisah itu dibukukan. Karena kekasihnya terlalu berharga untuk sekedar menjadi kepingan cerita yang terlupakan.

Tapi entah mengapa hingga detik ini, kendala terbesar tetaplah bagian mengarang nama. Nama karakter dalam buku bukanlah barang mewah yang harus sebuntu itu untuk dicari, karena nama hanyalah sekedar identitas. Dan harusnya, bagian ini adalah yang paling mudah, hanya saja tidak untuk Hinata.

Terakhir mengarang nama, ia bahkan memerlukan bantuan dua gadis bersurai kontras. Sakura dan Ino bilang tak pernah mempermasalahkan bila nama mereka benar-benar harus berakhir menjadi karakter utama wanita dalam dua judul novel berbeda. Ino malah pernah dengan semangat datang ke rumahnya dengan membawa lembar asli kartu keluarga.

Tapi untuk cerita ini, Hinata hanya benar-benar membutuhkan nama seseorang. Ia sangat membutuhkannya, agar tulisannya tak pernah berhenti di tengah jalan lagi. Sebuah nama bisa menjadi motivasi juga, pikirnya.

"Halo, kau bisa datang ke rumahku hari ini?"

Tidak, adalah jawaban yang paling benci ia dengar, dan tak pernah Hinata bayangkan akan diucapkan oleh kekasihnya sendiri. Hinata bukannya sedang merengek, ia hanya meminta satu menit saja dari seluruh kesibukan Gaara di luar sana, dan jawabannya masih saja tidak.

Jadi sesakit ini ya rasanya ditolak?

Dulu, dulu sekali saat hubungan ini masih baik-baik saja, Hinata yang beberapa kali membatalkan janji demi merampungkan buku. Ia benar-benar mengesampingkan perasaan kala itu, karena logikanya memberitahu bahwa menjadi penulis adalah impiannya sejak berada di sekolah menengah atas.

Ia benar-benar sukses dengan buku pertama, dan Gaara adalah orang pertama yang memberi selamat. Lelaki itu juga ikut mempromosikan novel pertamanya. Dari situ juga ia mulai dikenal sebagai penulis baru di kampus, baik kakak tingkat maupun adik tingkat langsung mengenalnya. Ya, meskipun semua itu tak luput dari popularitas Gaara juga, lelaki itu memang lumayan dikenal seluruh angkatan. Hinata jelas bahagia bisa dikenal orang sebanyak itu, meski dari pihak kakak tingkat tak ada yang pernah tahu ada hubungan apa antara dirinya dengan sang sabaku muda.

Kini Hinata baru saja menyadari, betapa masa lalu adalah tempatnya orang-orang bersalah, dan masa kini adalah waktu yang tepat untuk membalas kesalahan. Betapa Hinata menjadi ingin sekali menjalani masa yang sudah berlalu dengan lebih baik lagi, ia ingin menghapus kesalahannya pada Gaara. Hinata benar-benar menyesali dirinya yang terlalu bermain dengan logika hingga melupakan perasaan orang lain, perasaannya sendiri juga sama saja.

Tapi yang namanya waktu, ia tak akan pernah kembali. Meski rasanya ingin sekali mengulang lagi tanpa menyakiti, tetap saja luka yang pernah diberi tak akan pernah mudah untuk diobati. Pun sama halnya dengan kisah manis yang ada di awal cerita, tak akan pernah bisa diulang lagi. Karena kehidupan tidaklah sama seperti lembaran fiksi yang jika sudah masuk ke tahap paling menggores hati, bisa kembali ke lembar pertama lagi.

.

Percobaan kedua menelepon sang kekasih, Hinata sempat mendengar secercah harapan yang keluar dari bibir si rambut merah, hanya saja…

"Bisa kita bertemu?"

"Tentu."

"Kau dimana?"

"Aku di kampus sekarang. Kalau kau tidak keberatan, kau yang ke sini ya?"

"Setelah itu kita bisa pergi?"

"Jangan bercanda, konsultasi laporan akhirku saja sudah tertunda lima kali." Jemari Hinata mengetuk-ngetuk di atas meja, matanya terpejam menahan emosi. Hampir saja ponsel yang selalu menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan Gaara itu berakhir di tong sampah, kalau saja ia tidak ingat perjuangan untuk membeli satu benda portable itu.

Hinata tak akan pernah keberatan meski harus menjemput dari antariksa sekalipun, jika itu yang ingin Gaara dengar. Tapi bolehkah Hinata sekali saja mengajukan keberatan tentang pertemuan yang selalu dibatalkan? Ini tidak adil untuk gadis sepertinya, sama sekali tidak adil. Padahal Hinata selalu percaya, harapan akan selalu ada bagi orang-orang yang mau berusaha. Tapi mengapa setelah berusaha sekian keras, harapannya hanyalah tinggal harapan kosong?

Ini semua salah Gaara, bila saja pemuda itu tidak mengatakan hal yang bertolak belakang dengan keinginannya, mungkin Hinata tak akan berpikir untuk memiliki mood seburuk ini. Rasa-rasanya, entah mengapa hubungan mereka makin jelas di titik ini. Saat kesibukan benar-benar mengambil alih seluruh fokus dari kehidupan yang awalnya sangat bahagia, perlahan rasa cinta memang ikut pudar.

Benar kan, berpacaran dengan kakak tingkat memang tak baik bagi kesehatannya. Tiap hari harus menekan sakit di hati ketika kata 'tidak' selalu menjadi melodi yang tak akan pernah berganti. Padahal di awal semester 5 ini, Hinata berharap akan ada satu kali kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu berdua lagi, karena mungkin saja di semester depan ia sendiri kembali tak bisa memikirkan perasaan orang lain atas kesibukannya sendiri sebagai mahasiswa yang akan menjalani kuliah lapangan.

"Halo, Hinata?"

Jika memang Gaara selalu punya kepentingan lain yang tak bisa dibatalkan, harusnya Hinatapun juga bisa seegois itu. Harusnya Hinata juga punya hak untuk memaksakan sebuah pertemuan, karena setidaknya perasaannya bisa kembali tenang bila sudah bertemu meski hanya satu kali. Hanya satu kali, apakah itu terlalu sulit? Tapi nyatanya Gaara nampak tak pernah ingin mengerti semenyebalkan apa perasaan menunggu yang ia alami.

.

"Kudengar gadis itu pindah." Sakura menyeruak diantara bangku Hinata yang berdempetan dengan bangku Ino.

"Gadis yang mana?" Ino membesarkan suaranya, menarik perhatian orang-orang.

Dasar orang-orang jaman sekarang, hobi sekali bergosip.

"Yang mana lagi menurutmu? Ya jelas yang mengganggu kekasih sahabat kita yang paling manis ini."

"Aw!" Hinata berjengit kala bahunya disenggol bahu Sakura dengan sangat keras.

"Kau pasti sudah tahu kan, Hinata?"

"Belum lah, memang siapa yang memberitahuku?"

"Makanya dengarkan aku, Matsuri sudah tidak berangkat kuliah sejak tiga hari lalu, dan kabarnya dia akan pindah ke jurusan desain grafis mulai semester depan." Sakura mulai menyebar gosip, beberapa perempuan di kelas berduyun-duyun menyambar kursi, ikut duduk di dekat mereka.

"Yang benar?" Hinata berjingkat, matanya membelalak lebar.

"Benar, Sasori sendiri yang bilang kalau gadis itu benar-benar ketakutan saat dipukuliuntuk yang terakhir kalinya."

"Woah, memang siapa yang memukul gadis itu?"

"Kalian memukulorang sampai orang itu pindah?"

"Wah, hebat!"

"Hei, berisik! Pergi saja sana, kenapa jadi banyak yang ikut menggosip begini sih?" Muka Sakura langsung masam, gadis yang sering berdandan tomboy itu sudah jelas kehilangan selera menggosip saat ada orang lain yang ikut menguping.

Perempuan yang dimarahi Sakura langsung lari, takut kena damprat si gadis beringas. Dasar, wajah saja yang cantik, tapi kelakuan mirip preman.

"Tapi kita tidak bermasalah, kan?" Sakura lantas menggeleng, Hinata bernapas lega.

"Syukurlah, eh tapi Sasori itu siapa?" Hinata tak butuh satu menit hanya untuk menyadari perubahan raut wajah Sakura yang tiba-tiba tegang selepas bergurau dengan Ino.

"Sasori itu siapa, Sakura?" Yang ditanya hanya menggaruk kepala.

"Dia adalah calon kekasih Sakura yang membantu kami mencari informasi tentang Matsuri." Oh, mungkin niat Ino baik ikut membantu Sakura yang kesulitan bicara, hanya saja Sakura menanggapinya dengan lirikan tajam.

"Terima kasih banyak ya, Ino." Sakura mencibir.

"Oh, jadi saat di toko es krim itu kau benar-benar sibuk dengan laki-laki? Berarti sebentar lagi kau memang punya pacar, lalu setelah pacaran lama-lama putus juga, iya kan?" Hinata meledek Sakura yang kini hampir menangis.

"Jangan bicara seperti itu, kau membuatku takut, Hinata."

"Ya ya, aku bercanda. Semoga hubunganmu jauh lebih baik dariku, longlast, tidak banyak masalah,dan bisa sering bertemu juga."

Hei Gaara, lihatlah temanku sekarang ini sudah bahagia dengan kehadiran pasangannya. Tidakkah bisakahkita bahagia seperti teman-temanku?

Tapi tak apa, Hinata sudah jauh lebih sadar diri bahwa kebahagiaan yang ia harapkan mungkin sudah sangat sulit untuk diraih. Jangan tanya Gaara, mungkin saja lelaki itu tak pernah mengkhayalkan kebahagiaan lagi bersamanya. Kebersamaan mereka sudah jauh tertinggal di belakang sana dan entah bagaimana cara untuk mendekatkan kembali hati yang telah jauh. Terdengar mustahil, kan?

"Kami tidak sering bertemu kok." Sakura mengoreksi. Hinata lantas menatap Sakura heran.

"Baru pendekatan sudah jarang bertemu? Jangan-jangan dia hanya ingin main-main?"

"Sasori bilang, hubungan yang dewasa itu bukan yang harus menuntut untuk bisa bertemu dan berduaan tiap hari. Kalau kami jarang bertemu, artinya kami semakin merindukan satu sama lain, dan semakin rindu berarti semakin mencintai, bila semakin mencintai maka semakin sulit juga untuk melepaskan." Sakura mengulas senyum di akhir kalimat.

Hinata bungkam.

.

Kali ketiga mendial nomor Gaara, Hinata rasa ia mulai putus asa. Jangankan berharap diberi kalimat 'aku tak bisa bertemu lagi hari ini', diangkat pun tidak. Perlahan ia mulai sangsi dengan perasaan kekasihnya. Jika memang masih mencintai sudah pasti tidak akan pernah berpikir dua kali untuk saling menghubungi, bukan?

Aku sudah memberimu tiga kali kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, tapi kau mengabaikannya. Sesulit itukah meluangkan sedikit waktu yang kau punya untuk bisa menemaniku? Kupikir pertemuan pertama kita setelah kau pergi sebulan adalah harapan bagi kita untuk bisa seperti dulu. Aku ingin menjalani waktu seperti dulu, tapi mungkin kau sudah tak mengharapkan hal yang seperti itu.

Lembar demi lembar naskah baru mulai terisi. Seharusnya semua karakter sudah mulai dimainkan, tapi nama satu orang yang menjadi pemeran utama pria belum juga bisa ia tentukan. Dimana Gaara sekarang?

Dering telepon yang tak mau berhenti menyadarkan Hinata dari lamunannya di depan laptop. Ia meraih ponsel di atas nakas kayu, memeriksa nama si penelepon, lalu bangkit dari duduknya.

"Gaara?"

"Hinata, kau di rumah?"

"Ya."

Tak sampai satu menit hingga bel rumahnya berbunyi.

"Aku di depan."

Sepertinya ada harapan lain untuk memperbaiki hubungan ini, apalagi saat Gaara menyodorkan sebuket mawar merah di balik pintu. Hinata hampir tertawa jika wajah Gaara tidak mendadak berubah serius saat bunganya sudah ia terima.

Terima kasih karena Gaara tidak menolak umenjadi lelaki yang perhatian, setidaknya untuk hari ini. Karena bagi Hinata, satu hari saja sudah lebih dari cukup untuk berbasa-basi dengan orang yang sudah hilang komunikasi dengannya beberapa hari.

"Boleh aku memelukmu?"

Sangat.

Mereka tak perlu berpikir dua kali untuk saling merengkuh satu sama lain, karena Hinata yakin hanya itu satu-satunya cara untuk berbagi kerinduan yang selalu menyelinap di malam-malam kelabu sebelumnya, malam dimana mereka tak pernah lagi berkirim pesan.

Apa kau mendengar suara rinduku? Itu terlihat jelas dari debaran jantung yang terus melompat-lompat, seolah ingin keluar dan terbang bebas. Aku merindukanmu, jelas tak akan pernah berhenti melakukannya. Karena inilah aku, orang yang tak akan pernah berhenti mencintaimu.

"Matamu berkantung, kau masih sering nulis sampai larut?"

Tidak, sebenarnya aku hanya sering menangis memikirkanmu.

"Sudah ada berapa buku yang belum kubaca?"

Tidak ada satupun, bagaimana aku bisa menulis tanpa kau temani?

"Hinata, kenapa kau dari tadi diam?"

Eh, memangnya sudah berapa lama Hinata melamun?

"Ak-aku belum menerbitkan buku lagi sejak kau pergi." Gaara terkekeh sekaligus mendengus geli.

"Kau ada-ada saja."

"Ap-pa kau mau pergi lagi setelah ini?" Gaara menggeleng.

"Jadi kau tidak akan menolak kubuatkan minuman, kan?"

Hinata terkekeh lagi. "Tidak akan."

Dan Hinata meninggalkan Gaara sendirian di ruang tamu. Ia hanya berharap Gaara tidak tiba-tiba berubah pikiran dengan menghilang lagi.

Beberapa detik berlalu, si gadis Hyuuga keluar membawa nampan berisi dua gelas soda dan setoples makanan ringan. Tapi tiba-tiba saja Gaara tak ada di ruang tamu, entah kemana lelaki itu. Jangan-jangan lelaki itu memang pergi?

"Gaara?" Hinata berjalan berputar-putar rumahnya sendiri, tapi sejauh mata memandang, Gaara…

Gaara di sana, menatapi foto besar yang terpajang di sudut ruangan, persis di sisi kiri pintu depan. Hinata langsung bernapas lega, syukurlah karena Gaara tak menghilang lagi seperti yang ia pikirkan.

"Oh, maaf Hinata, aku hanya penasaran melihat foto sebesar ini." Yang ditunjuk adalah sebuah foto keluarga yang terdiri ada ayah, ibu dan satu anak. Foto keluarga.

"Oh, ibuku yang menaruhnya kemarin malam."

"Ini pertama kalinya aku melihat kedua orang tuamu, mereka masih awet muda ya?" Gaara tersenyum, tampan sekali. Sayang, senyum itu sempat menghilang dengan waktu yang tak bisa terbilang sebentar.

"Tidak lah, sebenarnya itu foto lama. Rambut mereka juga sebenarnya sudah beruban, tetapi disemir lagi demi pekerjaan."

Hinata tersenyum kecut, membayangkan kedua orang tuanya yang berkerja keras di luar sana. Jujur saja, ia tak suka dengan pekerjaan ayah dan ibunya. Pendapatan mereka tak seberapa, tapi terus-menerus memaksa bekerja.

"Tapi wajahmu sama seperti di foto, tidak ada yang berubah." Sekali lagi Gaara tersenyum. Jangan tanya kondisi wajah Hinata, rasanya seperti sedang dipanggang.

"Kau ada-ada saja, pastinya ada yang berubah, karena aku semakin tua."

"Tidak, kau tidak terlihat menua. Orang tuamu pasti menurunkan gen awet muda mereka padamu." Rambut Hinata diacak-acak, ia sempat hampir protes kalau saja Gaara tak mulai bicara lagi.

"Aku jadi merasa bersalah karena dari dulu sampai sekarang datang ke rumah ini, tidak pernah melihat orang tuamu."

Benar juga, mana mungkin Gaara bisa bertemu ayah dan ibunya yang sama-sama bekerja di bandara hingga larut malam? Akhir-akhir ini saja, pertemuan Hinata dengan orang tuanya hanya terjadi di meja sarapan.

"Tidak apa-apa, aku pernah bercerita pada mereka kalau kau dating kemari." Hinata menarik Gaara untuk kembali ke ruang tamu.

"Aku dengar perempuan yang meneleponmu malam-malam itu sudah pindah, kau jadi tidak perlu khawatir lagi." Gaara mengulas senyum, sementara Hinata diam-diam mendengus. Lagi-lagi tentang perempuan itu.

Bila saja Gaara tahu alasan mengapa perempuan itu pindah, dia pasti tak akan pernah mau bertemu Hinata lagi. Aneh ya, mengapa Gaara bersikap biasa saja saat perempuan itu pindah? Setahunya kedekatan Gaara dengan perempuan itu bukanlah kedekatan biasa.

Inginnya Hinata bertanya tentang kejadian dimana Gaara memakaikan plester luka pada Matsuri, hanya saja ia sedang benar-benar tidak berminat mengajak ribut orang yang sangat ia harapkan kehadirannya. Bisa-bisa Gaara pergi lebih lama lagi.

"Kau benar, aku tidak perlu khawatir lagi."

Mereka sama-sama terdiam setelahnya, memandangi layar televisi yang sejak tadi memang menyala. Hinata hanya mengetuk-ngetukkan jemari di atas lututnya sendiri, memikirkan obrolan macam apa yang harus dibicarakan hanya agar hubungannya tak benar-benar mencapai batas kebisuan maksimal. Harusnya sih ada pembicaraan yang sedikit lebih panjang dari biasanya hari ini, karena komunikasi yang baik adalah harapan terakhir mereka untuk tetap bertahan.

Hinata harus mengatakan sesua-

"Aku minum ya?" Gaara langsung menenggak soda hingga tersisa setengahnya. Hinata masih diam, mencoba mengingat sesuatu.

Gaara beralih mencomot camilan, Hinata tetap memikirkan sesuatu. Ia hanya tidak tahu, baiknya ini dikatakan atau tidak.

"Sebenarnya, aku sedang mencoba menulis buku baru." Gaara langsung memusatkan perhatian penuh pada kekasihnya.

"Buku seperti apa?"

"Entahlah, yang jelas bukan cerita cinta manis lagi."

"Apa yang salah dengan kisah cinta manis? Tulisanmu bagus."

"Tidak ada mood menulis cerita manis lagi." Gaara hanya mengangguk-angguk paham.

"Tapi entah kenapa aku masih saja sulit mengarang nama, bolehkah aku pinjam namamu?" Hinata kembali menatap Gaara yang tengah meneguk soda lagi.

Sejenak lelaki itu nampak berpikir, mengetuk-ngetukkan jarinya di lutut.

"Pakai saja, aku justru senang kalau namaku menjadi terkenal." Lelaki itu terbahak setelahnya, dan Hinata tak akan pernah ragu untuk ikut mengisi ruangan dengan tawa mereka.

"Boleh aku melihat naskahnya?"

"Ja-jangan, ini rahasia."

"Apanya yang rahasia? Nanti juga semua yang membaca tahu isinya." Hinata menggaruk belakang kepala.

"Anggap saja kejutan, terutama untukmu."

Mengobrol dan bersenda gurau lagi seperti ini, Hinata jadi harus memikirkan ulang nasib percintaannya. Karena di titik ini, ia merasa tak akan pernah bisa melepaskan Gaara sampai kapanpun. Gaara itu terlalu istimewa, dan akan selamanya begitu. Bukan hal mengejutkan memang bila perasaan Hinata bisa berubah-ubah dengan cepat sepanjang waktu, seperti kali ini ia mengharapkan ada sedikit titik cerah pada hubungan mereka.

Hinata ingin sekali bisa memiliki hubungan manis seperti dulu, ia tak akan pernah bisa membayangkan bila suatu saat nanti tawa Gaara tak akan pernah bisa ia dengar sedekat ini lagi, Hinata takut jika Gaara memberikan tawa merdunya untuk orang lain. Tapi ia sendiri tetap tak pernah tahu apa yang akan terjadi di keesokan hari.

Bila saja Gaara semakin sibuk dan tak ada lagi waktu untuk mempererat komunikasi, maka saat hari kelulusan tiba tidak berarti hubungan mereka bisa lebih baik dari ini. Toh mungkin saja Gaara akan semakin jauh dari sudut pandangnya, mencari kerja, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Bagian paling menyakitkannya adalah saat Hinata harus tinggal seorang diri jika saat itu benar-benar terjadi.

.

Note to Love : Aku tidak mungkin bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Kau itu terlalu berharga, apa kau sadar?

.

Rajin apdet tjieeeh~ satu hari berkali-kali biar pembaca nggak digantung. Oke fiks, cukup cintaku saja yang digantung.

Mau cerita ini cepet-cepet tamat gak? Mau tahu kelanjutan hubungan mereka nggak? Makanya, ayo baca dan banyakin ripiuw ya, biar aku tahu kalau banyak yang menantikan kehadiran ff ini di sampingmu. *ketawa jahat*

Kurang lebih 2 minggu lagi aku ada kuliah lapangan, jadi nggak akan mungkin bisa seleluasa ini buat ngobrak abrik cerita. Cepat lambatnya cerita ini tamat tentu tergantung reader sekalian, tertarik atau enggak gitu maksudnya.

Udah ah, daripada kalimatku makin alay, mending aku balesin review satu satu.

Hikarishe : Iya kan? Bener kan kamu lebih suka versi yang baru? Aku juga :") Yang versi lawas itu belum end, jadi baru nggantung di chap 4 terus tak hapus.

RahilsanXD : Iya, aku tahu kok kamu udah pernah baca dan review di versi lawasnya cerita ini, ndak apa. Makasih mau review lagi.

suciir630 : Makasih banget ffku dibilang bagus. :))) Untuk tahu kelanjutannya, tetep pantengin ff ini ya, jangan sampai ketinggalan setiap update-an terbarunya. :D

lenacchi : Wkwkw, ketahuan nama pemeran aslinya. Padahal udah kukoreksi dua kali, ternyata mataku tidak sejeli dulu. Makasih koreksinya, ya. hehehe. Masalah ditolak atau enggaknya, aku nggak tahu apa yang jadi patokan penerbit. Sedih sih, tapi nggak apa, aku masih mau coba terus sampai mereka luluh. Wkwk.

.

Salam manis,

Waan Mew