Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Pairing: Naruto x Tsunade

Rating: T

Genre: Romance/hurt/comfort/humor

Setting: canon (Naruto Shippuden)

Note: Cerita pesanan dari Dsevenfold. Semoga sesuai dengan harapanmu.

Jumat, 18 Desember 2015

.

.

.

FEELING

By Hikari Syarahmia

.

.

.

Chapter sebelumnya:

'Ada apa dengan Tsunade-baasan? Dia sangat aneh sekali. Kenapa dia malah mengajakku kencan? Apa yang akan aku lakukan jika aku berkencan dengan wanita tua? Apalagi dengan seorang Hokage. Pasti semua orang akan menganggap aku gila karena mau saja berkencan dengan seorang nenek-nenek. ARGH! AKU BENAR-BENAR PUSING SEKARANG!' batin Naruto yang syok di tempat. Dia tidak menyangka bakal masuk dalam cinta terlarang. Cinta beda usia yang sangat jauh dan akan mendapatkan rintangan yang sangat berat nantinya.

Setelah itu, apa yang akan terjadi selanjutnya?

.

.

.

Chapter 4: Kencan pertama

.

.

.

Tibalah waktu yang telah dijanjikan antara Naruto dan Tsunade.

Pada hari minggu, jam 10 pagi di taman desa Konoha. Naruto melangkahkan kakinya dengan perasaan yang tidak menentu ke arah taman desa. Antara ingin pergi atau tidak ingin pergi. Sungguh hal ini sangat memberatkan hatinya bagaikan neraca timbangan.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi misi kencan ini, membuat Naruto harus bangun pagi-pagi sekali. Dia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dari mencuci pakaian, menyapu, mengepel, menjemur pakaian dan terakhir mandi. Setelah itu, dia berpakaian seperti biasanya dan sarapan dulu dengan makan ramen instant dan segelas susu. Kemudian mondar-mandir di ruang tamu sambil memikirkan matang-matang tentang misi kencan ini antara mau pergi atau tidak mau pergi. Jadi, keputusannya adalah mau pergi. Ketika teringat ancaman Tsunade kemarin itu.

"Baguslah, kalau begitu. Kamu harus berkencan denganku. Aku tidak mau tahu," Tsunade berkacak pinggang dengan wajah yang sangat serius."Kalau kamu tetap bersikeras juga menolak misi kencan ini, aku akan bilang pada orang-orang desa kalau kamu pernah menciumku. Lalu aku beberkan semuanya kalau kamu mencoba menggodaku dan ..."

Begitulah perkataan Tsunade yang terlontar padanya waktu itu. Membuat Naruto tidak berkutik. Jadi, mau tidak mau, dia harus melaksanakan misi kencan ini bersama Tsunade. Sungguh terasa aneh jika berkencan dengan seorang nenek tua nantinya. Apa kata dunia?

Ya, mau bagaimana lagi? Naruto sudah menyetujuinya. Kini dia juga sudah menginjakkan kakinya di taman desa. Di mana sang Hokage kelima sudah menunggunya.

Taman desa yang cukup sepi dan hening. Tanpa ada seorang pun yang terlihat di sana. Mengantarkan Naruto mencari sosok sang Hokage yang ingin ditemuinya. Pasti sang Hokage masih berpenampilan tua seperti itu, pikir Naruto. Menebak asal-asalan.

Cukup lama mencari ke semua sudut taman desa tersebut, mata biru Naruto pun menangkap sosok gadis yang sedang duduk di sebuah bangku batu, berada tepat di bawah pohon yang rindang. Gadis yang masih muda dan kelihatannya seumuran dengannya. Tapi, dilihat dari ciri-ciri fisiknya yaitu berambut panjang krem diikat ponytail. Bermata kuning emas. Ada tanda prisma biru di keningnya. Memakai pakaian seperti yukata berwarna biru langit sebatas setengah paha dengan ikatan kain hitam di pinggangnya membentuk simpul. Bawahannya adalah celana hitam ketat di atas lutut. Sepatu yang dikenakan adalah sepatu ninja standart berwarna hitam. Jadi, gadis ini mengingatkannya pada ...

Naruto menghentikan langkahnya sejenak, tak jauh dari gadis itu berada. Memperhatikan gadis itu dengan seksama. Apakah mungkin pandangannya itu salah?

'Hm, tidak mungkin gadis muda dan secantik itu adalah Tsunade-baasan. Tapi, kalau diperhatikan lama-lama sih memang seperti Tsunade-baasan. Eh ...,' batin Naruto yang ternganga habis seperti ikan mati kehabisan napas. Ia belum menyakinkan dirinya kalau gadis itu adalah Tsunade.

Lantas gadis itu menarik pandangannya ke arah Naruto. Naruto tersentak.

"Waduh, dia melihat ke arahku," gumam Naruto yang panik. Ingin rasanya dia lari dari sana. Tapi, entah kenapa tubuhnya terpaku begitu.

Seketika gadis itu menampilkan senyum lebarnya yang terbaik. Ia melambaikan tangannya ke arah Naruto.

"NARUTO!"

Spontan Naruto kaget setengah mati mendengarnya. Ternyata gadis itu mengenalnya. Saat bersamaan, gadis itu berlari-lari kecil ke arahnya.

Begitu dekat, gadis itu berdiri berhadapan dengan Naruto. Ia tetap menampilkan senyum terbaiknya sehingga membuat hati Naruto tertawan. Rona merah tipis tercetak di dua pipi Naruto.

"Eh, ka-kamu siapa?" tanya Naruto terbata-bata. Gugup begitu.

Hening sejenak. Gadis itu terdiam sebentar. Wajahnya datar begitu.

Sedetik kemudian, gadis itu membuka suaranya.

"Jadi, kamu tidak tahu siapa aku?"

Gadis itu malah balik bertanya. Naruto sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ti-tidak. A-Aku tidak tahu siapa kamu. Me-Memangnya sebelumnya kita pernah saling mengenal ya?"

Naruto berwajah polos. Gadis itu menepuk jidatnya. Seketika wajah gadis itu menjadi sedikit sewot.

"Dasar, Naruto no baka. Coba perhatikan aku baik-baik. Masa kamu tidak mengenal aku sih? Buka matamu lebar-lebar, tahu!"

Gadis itu menjadi kesal karena Naruto malah tidak mengenalnya. Secara langsung, Naruto memperhatikan gadis itu mulai dari atas dan bawah. Lalu dari bawah ke atas. Kemudian Naruto membelalakkan kedua matanya.

"EH, TI-TIDAK MUNGKIN!" Naruto memasang wajah yang syok sambil menunjuk ke arah gadis itu."TSU-TSU-TSUNADE BAA-BAASAN!"

Dengan wajah yang memerah, gadis itu tersenyum malu-malu begitu. Dia mengangguk cepat.

"Ya, aku Tsunade."

"Eh, ti-tidak mu-mungkin Tsunade-baasan bisa berubah menjadi gadis muda dan secantik ini? Pe-Penampilan Baasan seperti gadis yang seumuran denganku. Baasan tidak kelihatan tua sama sekali."

Tanpa sadar Naruto memuji gadis itu. Gadis yang memang adalah Tsunade sendiri. Membuat perasaan Tsunade berbunga-bunga. Dia semakin tersipu-sipu malu begitu.

"Itu benar. Aku kelihatan muda dan cantik, kan? Seperti gadis seusia denganmu. Aku mencoba menyesuaikan diri agar kamu berkencan dengan gadis muda. Bukan kencan dengan wanita tua," Tsunade tersenyum dengan wajah kemerahan."Dengan begini, kamu tidak usah bingung ataupun takut jika orang-orang desa mengetahui kalau kamu berkencan dengan seorang Hokage. Tapi, orang-orang akan menyangka kamu berkencan dengan gadis biasa yang seumuran denganmu. Jadi, misi kencan ini akan berjalan dengan lancar. Lalu satu lagi, kamu jangan panggil aku Baasan. Panggil aku Tsunade saja. Mengerti?"

Giliran Tsunade yang menunjuk ke arah Naruto. Membuat Naruto menurunkan tangannya. Apalagi Tsunade berjarak cukup dekat dengannya. Jantung Naruto berdebar-debar tidak karuan saat dipandang tajam oleh Tsunade dalam jarak dekat seperti itu. Ia terpana karena bisa menatap wajah muda Tsunade yang sangat memikat hatinya sekarang.

"Eh, ba-baik ... Tsu-Tsunade."

"Bagus!"

Tsunade tersenyum senang karena permintaannya dituruti oleh Naruto. Lantas tangan kanan yang digunakan untuk menunjuk Naruto, beralih merangkul lengan Naruto dengan erat. Tentu saja Naruto kaget lagi dibuatnya. Wajah Naruto memerah lagi.

"Ayo, kita pergi kencan, Naruto!"

"Eh? Kemana Tsunade-baasan?"

Wajah Tsunade sewot lagi.

"Tuhkan, kamu masih memanggilku baasan. Aku sudah menjadi gadis seusiamu, tahu. Bukan nenek-nenek lagi."

Naruto menelan ludahnya. Ia tersenyum kikuk.

"Hehehe, ma-maaf, Tsunade."

"Huh, ya sudah. Aku maafkan."

"Te-Terus kita akan pergi kencan kemana?"

"Bagaimana kalau jalan-jalan keliling desa saja?"

"Eh, ja-jalan-jalan keliling desa?"

"Iya. Ayo, kita langsung pergi!"

Tsunade pun menarik tangan Naruto begitu saja. Naruto kelabakan karena terseret oleh arahan Tsunade. Padahal ia belum menyetujui sepenuhnya keputusan Tsunade itu. Tapi, Tsunade tidak mau menunggu hasil keputusan Naruto itu sebelum Naruto mengatakannya.

"EH ... TU-TUNGGU! TUNGGU DULU, TSUNADE!"

Suara teriakan Naruto menggema keras di taman itu. Bersamaan angin sepoi-sepoi pun muncul untuk menemani kepergian mereka. Mereka segera meninggalkan taman itu dan memulai rencana acara misi kencan yang akan dilakukan seharian itu. Hal ini akan menimbulkan kejadian yang sangat menghebohkan nantinya.

.

.

.

Sudah cukup lama Naruto dan Tsunade berjalan kaki menyusuri berbagai sudut jalan desa. Mereka berkeliling tiada henti dan tanpa merasa capek sedikitpun. Walaupun sesekali mereka singgah untuk membeli sebuah minuman dan makanan. Untuk menghilangkan rasa haus dan lapar selama dalam perjalanan misi kencan ini. Mereka menjalani semua ini dengan perasaan yang berbeda-beda.

Awalnya Naruto merasa canggung, takut dan risih karena harus berkencan dengan seorang wanita tua berumur setengah abad. Tapi, sekarang dia merasa senang dan bahagia bisa berkencan dengan seorang gadis muda seumuran dengannya. Apalagi gadis itu cantik sekali melebihi kecantikan Sakura, begitulah di pikiran Naruto sekarang.

Dia sangat menikmati arahan perjalanan misi kencan ini, seiring Tsunade yang menyeretnya pergi kesana-kemari. Ia menurut saja karena hatinya sudah tertawan dengan pesona Tsunade yang sangat memikatnya. Bahkan orang-orang desa tidak tahu kalau Naruto berkencan dengan Hokage kelima. Mereka menyangka Naruto berkencan dengan gadis biasa. Jadi, mereka tidak terlalu memperhatikannya ataupun memikirkannya. Mereka hanya memperhatikan sekilas saja. Setelah itu, mereka pun sibuk melakukan aktifitas masing-masing.

Tapi, hanya segelincir orang yang curiga ketika tidak sengaja berpapasan dengan Naruto dan Tsunade di tengah jalan yang dipenuhi orang-orang. Orang yang curiga itu adalah Shizune sendiri.

Shizune sedang berjalan sendiri sambil menggendong seekor babi. Matanya pun terbelalak ketika melihat Naruto sedang berjalan dengan Tsunade. Tentu saja membuat Shizune kaget setengah mati kalau sang Hokage sudah berubah menjadi gadis muda berumur 16 tahun. Sama persis sewaktu Tsunade masih muda dulu.

"Lho, i-itu Tsunade-nee, kan?" Shizune tercengang."Kenapa dia merangkul tangan Naruto seperti itu? Jangan-jangan ... WAAAAAA!"

Wanita berambut hitam pendek itu segera mengejar Naruto dan Tsunade yang sudah menjauh di ujung jalan desa sana. Ia penasaran dengan apa yang terjadi antara Naruto dan Tsunade sehingga Tsunade bertingkah muda seperti itu.

Tak hanya Shizune yang mengikuti Naruto dan Tsunade, tapi Sasuke dan Sakura. Mereka juga berpapasan dengan Naruto dan Tsunade di tengah jalan. Bersamaan Sasuke dan Sakura juga sedang berkencan. Sama halnya dengan Naruto dan Tsunade sekarang. Mereka penasaran siapa gadis yang telah menyeret Naruto itu. Padahal mereka sendiri tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya di desa Konoha itu.

Maka sudah diputuskan, Sasuke dan Sakura mengikuti langkah Naruto dan Tsunade. Mereka tidak jadi berkencan dan lebih memilih menyelidiki siapa gadis misterius yang pergi bersama Naruto.

Akhirnya semakin banyak orang yang curiga dengan sosok gadis misterius yang bersama Naruto sekarang. Hal itu terjadi ketika mereka berpapasan dengan Naruto dan Tsunade di jalan. Kebanyakan mereka adalah teman-teman dan orang-orang terdekat Naruto. Pasalnya, mereka sangat penasaran siapa gadis misterius yang bersama Naruto itu. Mereka belum pernah melihat gadis itu di desa ini. Hanya ada dua orang yang tahu yaitu Shizune dan Jiraiya.

Kini mereka semua bersembunyi di tempat masing-masing dan bersepakat untuk menyelidiki siapa gadis misterius itu, tatkala Naruto dan Tsunade memutuskan untuk bercengkerama di dekat tebing perbukitan yang dibatasi oleh pagar besi. Persis di dekat bukit monumen patung wajah kelima Hokage itu.

Di antara desiran angin yang bertiup sepoi-sepoi, menerbangkan apa saja yang berada di tempat itu. Membuat suasana semakin semarak ketika berduaan di tempat seperti itu. Rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar dimainkan angin. Naruto dan Tsunade terdiam sambil memandang lepas ke bawah sana. Di mana terlihat pemandangan wajah desa yang begitu indah. Sungguh membuat momen ini menjadi semakin terasa menyenangkan.

Dua insan yang berbeda umur itu, terdiam cukup lama setelah mengistirahatkan diri masing-masing dari acara jalan-jalan keliling desa. Mereka tidak tahu harus membicarakan apa untuk dibahas dalam keadaan seperti ini.

Lalu bola mata biru Naruto melirik ke arah Tsunade. Gadis itu berdiri tepat di sampingnya. Tapi, gadis itu tidak merangkul lengannya lagi.

Diperhatikannya sang Hokage dengan lama. Sang Genin pun terpana akan pesona kecantikan makhluk Tuhan yang berada di sampingnya ini. Tidak menyangka sang Hokage rela mengubah penampilannya seperti gadis berumur 16 tahun agar tidak ada yang curiga bahwa dia adalah sang Hokage. Tidak ada cacatnya sedikitpun. Ia seperti gadis yang sepangkat dengannya. Tubuhnya yang sempurna. Wajahnya yang cantik. Matanya yang indah ...

Sungguh sudah membuat pikiran Naruto meracau kemana-mana sehingga muncullah pikiran yang sudah melampaui batas dari apa yang diperkirakannya.

Dia melamun sampai terbawa ke masa depan nanti. Di mana nanti, ia ingin menikah dengan gadis yang berada di sampingnya ini. Mempunyai anak. Menjadi seorang Ayah. Lalu mengurus anak-anaknya bersama Tsunade di dalam rumah yang sederhana. Pasti hidupnya bahagia tanpa ada beban dan kesepian yang dirasakannya seperti ini. Itulah harapan yang mendadak muncul di hatinya.

Hingga suara Tsunade pun terdengar nyaring di telinganya, membuat lamunan Naruto buyar begitu saja.

"Naruto ..."

"Heh?!" Naruto tersadarkan."Eh, uhm ...?!"

Naruto linglung sebentar. Tsunade kebingungan melihat Naruto.

"Kenapa? Kenapa kamu memandangku sampai segitunya?"

"Eh?! Ti-Tidak. Ti-Tidak ada apa-apa."

Segera saja Naruto membuang mukanya yang memerah dari hadapan Tsunade. Jantungnya berdegub kencang. Tubuhnya sedikit gemetaran. Dia mengalami kegugupan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.

Sang Hokage tercengang. Sedetik kemudian, ia tersenyum lembut dengan rona merah tipis di dua pipinya. Kedua tangannya bergerak ke arah Naruto sekarang.

GREP!

Kedua mata Naruto membulat sempurna tatkala mendapati dirinya dipeluk Tsunade dari arah belakang. Seketika wajah Naruto semakin memerah padam seperti kepiting rebus sekarang.

"Naruto ..."

"I-Iya, Tsunade."

Benar-benar membuat Naruto gugup setengah mati. Jantungnya bekerja keras untuk memompa darah lebih banyak. Sehingga membuat tubuh Naruto menjadi panas-dingin. Ia benar-benar sudah merasa di ambang puncak kebahagiaan. Ia telah menyakini dirinya kalau ia sangat mencintai sang Hokage.

Sang Hokage terus memeluknya erat dari belakang. Sementara orang-orang yang sedang mengintai mereka, tercengang dan syok dengan pemandangan semua ini.

"Eh, ternyata gadis itu pacarnya Naruto," ujar Sakura yang sedang bertengger di atas pohon.

"Benar juga. Dia sudah memeluk Naruto seperti itu," sahut Sasuke yang juga bertengger di atas pohon. Dia berada di samping Sakura.

"Aaaah, i-itu tidak mungkin. Tsunade-nee sudah ...," kata Shizune panik sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Sedangkan Ton Ton masih dipeluknya dengan erat.

Sasuke dan Sakura yang berada di dekat Shizune. Mereka berdua memperhatikan Shizune dengan aneh.

"Eh, Tsunade-sama? Kenapa, Shizune-san?" tanya Sakura keheranan.

Shizune hanya tertawa cengengesan. Dia kelihatan terbata-bata.

"Hahaha ... Ti-Tidak ada apa-apa."

"Oh ..."

Sakura hanya manggut-manggut tanda mengerti. Shizune pun menghelakan napas leganya.

'Haaaaah, syukurlah Sakura tidak curiga kalau itu memang Tsunade-nee. Tapi, aku tidak menyangka Tsunade-nee benar-benar sudah nekad. Dia benar-benar suka dengan bocah remaja seperti Naruto dan sekarang dia sudah berani berpacaran dengan bocah itu. Ini karena insiden waktu itu, kekhifalan mendatangkan cinta aneh seperti ini. Tsunade-nee, kamu sudah gila mencintai seorang daun muda seperti Naruto,' batin Shizune yang sangat panik di dalam hatinya sendiri.

Lantas mereka bertiga terus mengintai dua sejoli yang tengah bercengkerama itu. Tak hanya mereka saja, ada beberapa orang yang juga mengintai. Mereka adalah Ino, Shikamaru, Chouji, Kiba, dan Shino. Mereka berlima sedang bersembunyi di balik semak-semak, tak jauh dari Naruto dan Tsunade berada.

"Hei, siapa sih gadis yang bersama Naruto itu? Sangat mencurigakan," ujar Ino yang berada paling depan.

"Itu benar," Chouji mengangguk sambil memakan kripik kentang kesukaannya. Dia berlutut di samping Ino.

"Sepertinya gadis itu bukan orang desa ini. Kemungkinan asalnya dari desa lain. Soalnya baru kali ini aku melihat gadis secantik itu di desa ini," kata Kiba yang berada di sebelah Chouji.

"Tapi, rasanya gadis itu mengingatkan aku pada seseorang. Dia mirip sekali dengan Hokage kelima," ungkap Shikamaru bersikap santai.

Semuanya pun melihat ke arah Shikamaru. Mereka tercengang.

"Eh? Mirip Hokage kelima?" seru mereka serentak kecuali Shikamaru.

"Itu baru dugaanku," Shikamaru memandang lepas ke arah Naruto dan Tsunade."Kemungkinan gadis itu adalah Tsunade-sama. Tsunade-sama mengubah dirinya menjadi gadis seumuran dengan Naruto. Supaya menyesuaikan dirinya dengan Naruto sehingga dia bisa leluasa menjalin hubungan dengan Naruto. Dengan kata lain, Hokage kelima berpacaran dengan seorang genin seperti Naruto sekarang."

"HAAAH? HOKAGE KELIMA BERPACARAN DENGAN NARUTO?!"

Semuanya kaget dan membelalakkan kedua matanya secara bersama-sama. Shikamaru sweatdrop dibuatnya.

"Hei, jangan ribut! Nanti kita ketahuan," bisik Shikamaru menempelkan telunjuknya di bibirnya untuk mengisyaratkan semua temannya agar menutup mulut masing-masing. Tentu saja pendapat Shikamaru ini benar-benar membuat mereka syok sekali.

Perhatian mereka pun tertuju pada Naruto dan Tsunade. Tsunade yang masih memeluk erat Naruto dari belakang. Wajah Naruto yang sudah memerah padam seperti lampu merah. Semakin memerah saja ketika bersamaan Tsunade membisikkan sesuatu padanya.

"Naruto ... Aku ... Aku cinta padamu."

DEG!

Kedua mata Naruto membulat sempurna. Ia sangat kaget ketika sang Hokage sudah mengatakan isi hatinya yang sebenarnya. Ia tidak menyangkanya sama sekali.

Dengan perasaan yang bergetar, Naruto menjawab perkataan Tsunade itu.

"A-Apa maksudmu, Tsunade?"

Tsunade tersenyum kecil.

"Aku mencintaimu, Naruto. Bukan cinta seorang nenek untuk cucunya. Tapi, cinta seorang wanita pada laki-laki layaknya cinta seorang kekasih. Aku harap kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Aku senang jika kamu mencintai aku juga."

Naruto tertegun. Ia semakin syok saja mendengarnya. Tapi, juga senang karena Tsunade memiliki perasaan yang sama dengannya.

Lalu Naruto melepaskan rangkulan tangan Tsunade dari pinggangnya. Ia berbalik dan menghadapkan dirinya pada Tsunade. Ia menatap Tsunade dari jarak yang cukup dekat.

"Maaf ...," tutur Naruto dengan nada yang pelan."Aku tidak bisa menerima cintamu, Tsunade."

Perkataan Naruto ini sungguh mengagetkan Tsunade. Tsunade membelalakkan kedua matanya.

"Tapi, kenapa Naruto?"

Naruto memandang wajah Tsunade lekat-lekat. Raut wajah Tsunade menjadi kusut.

"Karena kita berbeda. Umur kita berbeda sangat jauh. Tidak mungkin kita bersatu menjadi sepasang kekasih. Hubungan ini akan menjadi sangat berat jika orang lain mengetahuinya. Apalagi kamu adalah seorang Hokage. Kamu adalah pemimpin desa ini. Tidak mungkin seorang Hokage berhubungan dengan seorang genin yang masih muda seperti aku. Jadi, aku mohon pikirkan lagi perasaanmu itu. Atau lupakan saja perasaanmu itu. Perlakukanlah aku sebagai cucumu sendiri, Tsunade-baasan."

Tsunade terperanjat lagi mendengarnya. Ia benar-benar syok mendengarnya.

"Tapi, Naruto. Aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku harap kita menjadi seorang kekasih. Aku yakin kalau kamu mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku yakin kamu juga mencintaiku. Aku tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai cucuku. Kamu adalah laki-laki yang sangat kucintai sekarang. Jadi ..."

Belum sempat Tsunade menyambungkan perkataannya, Naruto malah memotongnya.

"CUKUP!" bentak Naruto sekeras mungkin dan mampu membuat Tsunade terdiam karenanya."CUKUP SAMPAI DI SINI SAJA. AKU PERGI!"

Kemudian Naruto beranjak pergi meninggalkan Tsunade. Tapi, tangan Naruto ditangkap oleh Tsunade. Naruto kaget dan menoleh ke arah Tsunade.

Dilihatnya, Tsunade memasang wajah sedihnya. Lalu Tsunade memegang pipi kanan Naruto dan ...

Semua orang yang mengintai di tempat itu, menahan napas dan membelalakkan kedua mata masing-masing. Wajah mereka merona merah begitu. Bahkan ada yang menutup matanya karena tidak tahan menyaksikan adegan yang terjadi antara Naruto dan Tsunade yaitu Shizune. Shizune merasa akan pingsan dan jatuh dari atas pohon sekarang juga karena harus melihat adegan yang pernah ia lihat sebelumnya.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naruto dan Tsunade sekarang?

Pasalnya adegan insiden memalukan itu terjadi lagi. Kali ini bukan disengaja ataupun kecelakaan. Tapi, Tsunade yang melakukannya duluan.

Tentu saja Naruto membeku karena mendapatkan kejutan manis dari sang Hokage. Ciuman singkat hanya sedetik saja sama seperti insiden waktu itu.

Setelah itu, sang Hokage tetap memasang wajah sedihnya sambil mengatakan sesuatu.

"Terima kasih karena kamu sudah mau berkencan denganku. Itu adalah tanda misi kencan ini berakhir sampai di sini. Terima kasih sekali lagi, Naruto. Aku mau pulang dulu. Sampai jumpa lagi."

SYAAAAT!

Sang Hokage segera pergi dan menghilang begitu saja dari hadapan Naruto. Naruto terdiam membisu dengan raut wajah yang syok karena baru saja mendapatkan kejutan seperti insiden memalukan waktu itu. Ia benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi mengenai semua ini. Ia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Entahlah, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Semua orang yang mengintai, juga menjadi syok karena mengintip orang yang sedang bermesraan. Terlebih bagi yang masih single. Pasti akan miris dan iri melihatnya.

"Ah, Naruto sudah mendapat ciuman pertamanya dari gadis itu. Betapa irinya. Aku juga mau," cetus Ino yang merasa tidak terima.

"Naruto sungguh beruntung ya?" celetuk Chouji yang masih asyik memakan kripik kentangnya. Kali ini bungkusan yang ke-lima puluh. Tumpukan sampah bungkusan kripik kentang sudah menumpuk di depan Chouji.

"Sangat menjijikkan," Shikamaru berwajah sewot.

"Wah, si rambut kuning sudah merasakan ciuman pertama dari gadis secantik itu! AKU KALAH DARINYA!" Kiba meracau sendiri.

"Hm ... Cinta itu memang buta," gumam Shino yang berlutut di belakang Kiba. Dia tidak sendirian, tapi bersama Akamaru.

Mereka semua saling bersahut-sahutan. Semua itu juga terjadi pada ketiga orang yang masih berada di atas pohon, yaitu Sasuke, Sakura dan Shizune.

"Eh, Naruto memang berpacaran sama gadis itu," Sakura tercengang.

"Hn," Sasuke mengangguk.

"Aku tidak tahu apapun soal ini," Shizune kalang kabut.

Semuanya tampak syok dengan pemandangan yang disaksikan ini. Mereka benar-benar tidak menduganya. Diam-diam, Naruto mempunyai hubungan khusus dengan gadis yang diduga adalah sang Hokage kelima. Hal ini akan menjadi suatu berita yang sangat menggemparkan warga desa nantinya.

Di antara angin bertiup pelan, Naruto diam berdiri terpaku sambil memandangi wajah patung para Hokage yang berada di atas sana. Di mana terukir wajah sang Hokage kelima. Dipandangnya dengan lama patung wajah Tsunade itu oleh Naruto.

Seketika wajah Naruto menjadi suram. Kedua matanya menyipit sayu.

'Maafkan aku, Tsunade. Terpaksa aku menolakmu. Hal ini kulakukan demi reputasimu sebagai Hokage di desa ini. Aku tidak ingin menjadi bebanmu. Cukup sudah hanya aku yang merasakan namanya penderitaan itu. Aku tidak ingin penduduk desa membencimu karena kamu mencintai seorang genin muda seperti aku. Aku harap kamu bisa melupakan perasaan cintamu itu, Tsunade,' batin Naruto yang mulai merasakan hatinya tidak menentu lagi karena sehabis merasakan adegan insiden memalukan seperti waktu itu. Ia tidak tahu lagi harus membawa perasaan ini kemana. Haruskah dia melupakannya begitu saja?

Entahlah. Dia sendiri bingung. Apa yang harus dia lakukan?

Saat ini biarlah waktu terus berjalan. Entah apa yang terjadi selanjutnya nanti.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

SAATNYA MEMBALAS REVIEW

btn: ini udah next.

Senju-nara shira: salam juga buatmu.

Saya akan jawab pertanyaanmu ini:

1. Chapter selanjutnya udah rilis nih

2. Iya, nanti mereka mempunyai hubungan khusus. Semua konoha akan mengetahuinya.

Amin. Terima kasih ya.

Red Devil Ngawi: hehehe ... lihat dulu ya.

Namikaze Nogami: terima kasih. Ini udah next. Semoga kamu suka.

firdaus minato: oh, baru tahu nih kamu suka naru x tsuna. Oke, kapan-kapan saya baca fic yang kamu rekomendasikan itu. Terima kasih.

The Black Water: maaf ya telat updatenya. Gak bisa cepat nih.

Guest: jangan khawatir. Chapter kali ini saya perpanjang lagi. Semoga kamu suka.

Cuka-san: nggak bakal discontinued kok fic ini. Maaf, gak bisa update kilat. Ini udah lanjut. SEMANGAT JUGA!

Sunakawa-kun: oke, ini dilanjutkan. Terima kasih.

orokepet: ini udah update ceritanya.

Stellar uzuki yugao: iya, ini udah lanjut lagi.

kainan: oke, chapter 4 update nih.

Arief417: oke. Saranmu boleh juga. Terima kasih. Nggak apa-apa kok.

Dsevenfold: gimana? Udah sesuai harapanmu untuk chapter kali ini?

slamet luscfer: oke, ini udah next kok.

.

.

.

A/N:

Chapter 4 update!

Terima kasih atas review-mu untuk chapter kali ini.

Sampai jumpa di chapter 5.

Tertanda

HIKARI SYARAHMIA

Rabu, 23 Desember 2015

PLEASE REVIEW!