Konichiwa! Saya kembali lagi dengan FF gaje ini. Ini adalah bab keempatnya! Semoga readers menyukai FF ini!

HAPPY READING!


FALLING BUTTERFLY

Pusing, jantung berdebar dan mata berkunang-kunang. Itulah yang Shinichi rasakan selama berjalan di atas jembatan tua, seolah penyakit anemia sedang menyerangnya. Dengan langkah sedikit terhuyung, Shinichi berusaha menyamai langkah Heiji dan Kurenai. Bahkan saking pusingnya, dia menempelkan tangannya ke kepalanya dan berusaha menahan pusingnya. Keringat dingin pun membanjir deras ditubuhnya.

"Kudo? Kau kenapa? Apa kau sedang sakit?" tanya Heiji cemas dan ia memegangi lengan Shinichi.

Shinichi hanya menggeleng pelan. "Te, tenang saja. A, aku tidak apa-apa kok." Jawabnya terbata-bata, rasa pusing semakin kencang mendera kepalanya.

Kurenai berbalik dan menoleh memandang Shinichi. Dia lalu menghampiri Shinichi dan meyentuh kening Shinichi dengan punggung tangannya. Panas. Itulah yang dia rasa. Kurenai sedikit mengangkat dagu Shinichi dan melihat jelas wajahnya yang memucat. Diakhiri dengan darah segar yang tiba-tiba mengalir deras dari hidung Shinichi. Itu sudah cukup membuat Kurenai membekap mulutnya karena syok. "Shi, Shinichi-kun, kamu mimisan! Tu, tubuhmu juga lemas da, dan kamu demam tinggi!"

Heiji membelalak kaget. Dia pun ikut melakukan hal yang sama dengan Kurenai. Dia sudah yakin kalau Shinichi benar-benar sakit dan langsung heboh sendiri melihat sahabat karibnya itu. "Ya Tuhan! Kudo, kita selidiki tempat itu besok-besok saja! Sekarang kau sedang sakit, kau perlu istirahat!" pinta Heiji cemas.

Shinichi menggeleng. "Ti, tidak. A, aku ba, baik-baik saja. Jj, jangan cemaskan a, aku. Ki, kita lanjutkan saja pe, penyelidikannya." Tolaknya terbata-bata, disusul dengan pusing yang semakin gencar menderanya dan mimisannya yang semakin parah.

"KUDO!" teriak Heiji kesal. "Dengar! Sekarang kau sedang sakit! Jangan memaksakan diri lebih dari ini! Sudah diputuskan, kita kembali ke rumah Bibi Kurenai dan menunda penyelidikan ini! Dan jangan harap aku menerima protesanmu itu!" ujarnya tegas.

"Ta, tapi, Hattori..."

"Bibi, ayo kita kembali ke rumah Bibi sekarang!" ajak Heiji, tanpa memedulikan protesan Shinichi.

Belum sempat Shinichi memprotes kembali, tiba-tiba kepalanya terasa seperti berputar-putar. Denyut nadi dipelipisnya semakin kuat, membuat darah dari hidungya mengalir semakin banyak. Lambat laun, pandangannya buyar dan kesadarannya pun menipis. Dia samar-samar melihat Kupu-kupu biru yang terbang diantara Heiji dan Kurenai, sampai akhirnya kesadarannya benar-benar hilang.

"Aaakkh! Kudo! sadarlah! KUDO!" teriak Heiji panik. Wajahnya pucat dan kedua tangannya terus mengguncang-guncang tubuh Shinichi yang berada di lantai jembatan.

Sedangkan Kurenai pun hanya bisa terdiam membisu melihatnya. Wajahnya memucat dan airmata menetes deras. Dia pun membekap mulutnya. Dia teringat kejadian yang sama. Kejadian yang persis sama dengan yang dialami seseorang 20 tahun lalu. Kejadian yang dialami Yusaku. Tidak. Jangan sampai kejadian itu terulang lagi. TIDAK BOLEH!


FLASHBACK

Liburan setelah skipsi cukup untuk membuat Kurenai, Yukiko, dan Yusaku sedikit bernafas lega. Di liburan itu, mereka memilih untuk sekedar bersantai di desa tempat tinggal Kurenai. Mereka memang membutuhkan udara segar setelah beberapa bulan sering sesak nafas saking tegangnya saat skripsi bersama si Dosen killer, walaupun bagi Yusaku itu bukanlah skripsi yang terlalu memacu adrenalin. Sejam sudah mereka berkendara dan akhirnya tiba di desa Aokiira. Udara sejuk menyambut mereka dan pemandangan gunung yang menyejukkan indra penglihatan mereka. Sejuk, hijau dan asri. Sesuai keinginan mereka.

"Huaaa, udaranya segar sekali! Keputusan yang tepat untuk berlibur disini!" pekik Yukiko girang, seraya mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.

"Apa kubilang! desa tempatku tinggal ini memang cocok untuk bersantai kan? Udaranya juga sangat sejuk, seperti AC. Walaupun tadi sempat ada yang protes, sih."sindir Kurenai, sambil melirik Yusaku dengan senyum kemenangan.

"Haha. Ya, ini memang tempat yang cocok untuk liburan ya, Nona Pengantuk." Balas Yusaku, dengan senyum datarnya dan urat biru yang terlihat di dahi.

"Hei! Aku bukan pengantuk, bodoh!"

"Lho? apa iya? Lalu, siapa yang sudah nyaris seratus kali dimarahi Dosen Misako karena berulang kali nyaris tertidur di kelas kita ya, Yukiko?"

"HEEEEIII!"

"Hahaha, sudahlah. Kalian jangan bertengkar. Sebaiknya kita nikmati liburan seminggu yang sangat berharga ini saja." Lerai Yukiko pelan, takut membuat keadaan semakin panas akibat duo sejoli itu.

Yusaku menghela nafas panjang. Pandangannya tiba-tiba jatuh pada sebuah jembatan tidak jauh darinya. Jembatan tua yang mengarah ke dalam hutan.

Namun, bukan jembatan tua itu yang menarik perhatian Yusaku. Seorang pemuda aneh yang misterius dan terlihat seperti anak SMA berdiri tegak di atas jembatan itu. Wajahnya pun tertutup oleh poni rambut hitamnya. Tapi, Yusaku bisa melihat jelas kalau orang itu sedang memandangnya dan menyeringai aneh.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang dan membuat debu-debu disekitar berterbangan. Tanpa sengaja, debu-debu itu sedikit masuk ke mata Yusaku dan membuat Yusaku mengucek-ucek matanya. Begitu Yusaku kembali melihat ke arah jembatan, pemuda itu menghilang. Menghilang tanpa tertinggal jejaknya. "Eh? Kemana perginya..."

"Woooii! Kutu buku! Mau sampai kapan kau berdiri seperti patung disana?" teriak Kurenai memanggil, dengan raut wajah datarnya yang sedikit merona.

"Yusaku! Ayo cepat! Nanti kamu ditinggal Kurenai, lho!" sahut Yukiko menimpali.

"Eeh, aah, yaa." Balas Yusaku kaget. Ia berlari menghampiri mereka, seraya menoleh memandang jembatan tua itu. Rasa penasarannya mendadak muncul. Ditandai dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Aneh. Rasanya aku melihat seorang anak SMA disana. Tapi, kenapa dia bisa menghilang secepat itu? Ini harus diselidiki." Gumamnya.


"Eh? Apa kamu yakin, Yusaku? Kamu bilang, kamu melihat seorang pemuda aneh di jembatan tua tadi?" tanya Yukiko ragu.

Yusaku mengangguk mengiyakan. "Ya, aku yakin sekali. Aku melihat jelas seorang pemuda seumuran anak SMA yang berdiri tegak disana. Aku memang tidak melihat wajahnya karena tertutup poni rambutnya. Tapi aku yakin kalau tadi dia melihat kedatangan kita dan aku juga melihat samar-samar kalau dia tadi menyeringai aneh. Waktu aku mengucek mataku karena kelilipan dan kembali melihatnya, dia sudah hilang." Jelasnya yakin. "Aku penasaran. siapa pemuda aneh itu, ya?"

Yukiko mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke dagu, ikut memikirkan cerita Yusaku. Dengan wajah polosnya, Yukiko melemparkan pandangannya pada Kurenai "Kurenai, apa kamu tahu sesuatu tentang ini?"

Kurenai sejenak terdiam. Lama sekali ia berpikir sampai kemudian dia memekik heboh dengan wajah pucat karena takut. "Mu, mungkinkah dia adalah... Hayato?"

"Hayato?" Yusaku dan Yukiko kompak membeo. "Siapa itu? Apa dia berhubungan dengan jembatan tua itu?" tanya Yusaku.

Kurenai mengangguk ragu. "Entahlah, aku tidak tahu apa dia punya hubungan dengan jembatan itu atau tidak. Tapi aku yakin sekali setelah mencocokkannya dengan legenda lama desa ini."

"Legenda lama desa ini?" Yukiko membeo. "Memang, itu legenda tentang apa?"

Kurenai sejenak menyesap teh matcha hangatnya, dengan keringat yang mengalir dan wajah yang pucat. Setelah itu, dia menggeleng lemah. "Maaf Yukiko, aku tak bisa memberitahumu. Itu adalah rahasia desa ini. Orang luar tidak boleh mengetahuinya."

"Tapi..."

"Setidaknya, kau bisa sedikit bercerita tentang orang bernama Hayato itu kan?" tanya Yusaku.

Kurenai memalingkan pandangannya. Terlihat jelas kalau dia ragu untuk menjelaskan. Terlihat dari pandangan matanya yang memancarkan rasa takut. Setelah jeda agak lama, Kurenai akhirnya menghela nafas berat. "Baiklah, aku..."

Yukiko dan Yusaku memandang Kurenai penuh harap, menanti jawaban Kurenai.

"Akan kutunjukkan siapa itu Hayato." Jawab Kurenai akhirnya. "Tapi, kita harus pergi ke hutan itu melewati jembatan tua itu nanti malam. Kalian mau melakukannya?"

"Eeeehh? Untuk apa? Dan nanti malam yang kamu maksud itu kapan?" tanya Yukiko kaget, dengan wajah ketakutannya yang –agak- kekanakkan.

Kurenai menutup telinganya, akibat suara merdu Yukiko. Dan Yusaku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya karena bingung. "Iya, untuk apa kita kesana malam-malam?" tanya Yusaku.

"Karena Hayato hanya muncul tengah malam saja, di dalam hutan dekat jembatan itu. Lagipula, kurasa kita juga bisa minta bantuan Bibi Ruri, Pendeta di Kuil dekat rumahku ini, untuk berbicara dengan Hayato."

"Eeerr, tunggu sebentar." Sela Yukiko tiba-tiba, raut wajahnya pucat. "Kalau kita sampai meminta bantuan Pendeta Kuil, berarti Hayato yang kamu bicarakan itu..."

"Ya." Kurenai menyela. "Kita akan berhadapan dengan roh."

"APAA?" pekik Yukiko kaget. Wajahnya sudah seperti orang anemia karena takut. Sedangkan Yusaku membelalak kaget. "Roh?"

"Jujur, sebenarnya ini bukanlah hal yang semestinya kukatakan. Tapi sebenarnya, roh yang kumaksud itu adalah... Roh Kupu-kupu."

Hening menyelimuti ruang tamu Kurenai seketika. Yukiko hanya memandang kosong Kurenai, dan Yusaku menunduk memikirkan pernyataan Kurenai yang baginya sangat tidak masuk akal itu. 'Hal seperti itu mustahil ada. Lalu, pemuda yang kulihat itu...' batin Yusaku penuh tanya –penasaran- dengan apa yang dia lihat.

"Jadi, apa kalian setuju dengan yang kukatakan tadi atau bagaimana?" tanya Kurenai memastikan. Dia kembali menyesap teh matchanya. Lalu dia memandang Yusaku, dengan pandangan khawatir. "Yah kalau kalian menolak, kita tidak perlu..."

"Tak apa."

Yukiko dan Kurenai spontan menoleh ke arah Yusaku. Yusaku menghela nafas panjang lalu memandang penuh keyakinan pada Yukiko dan Kurenai. "Aku tidak masalah soal itu. Kita selidiki saja tempat itu nanti malam. Tengah malam ini"

"A, APA? MALAM INI?" teriak Kurenai dan Yukiko serentak, kaget dengan keputusan berani Yusaku. "Ta, tapi, Yusaku, itu..." Protes Yukiko

"Sudahlah, kita akan baik-baik saja nanti. Percayalah." Potong Yusaku, dengan tatapan mata lembutnya.

Yukiko memandang Yusaku cemas. Dan Kurenai pun hanya memandang dalam pada Yusaku. 'Dasar Kutu buku bodoh! Kau bahkan tak tahu apa itu roh Kupu-kupu. Bodoh!'


Akhirnya kelar juga chapter 4 ini, hoho! Arigatou bagi readers yang udah komentar dan menjawab siapa yang mesti 'dikorbankan' dalam FF ini.

Sedikit spoiler, mungkin FF ini akan berakhir BAD END alias si tokoh utamanya tewas. tapi itu ya tergantung sama mood author, hoho #plak!#

Doakan saja semoga mood saya tidak menyuruh saya untuk 'mengakhiri' hidup Shinichi di FF ini ya, Jaa na~