Title: Different

Pair: ChanHun (Chanyeol-Sehun)

Other pair: temukan saja di dalamnya

Genre: YAOI of course, INCEST, romance

Rate: M

ChanHun

.

.

.

.

.

Chanyeol membawa Sehun ke Rumah sakit karna terlampau panik, setelah ia mencium adiknya tadi Sehun langsung tidak sadarkan diri. Dia sendiri kini sudah penuh keringat dingin mengingat tindakan di luar akal nalarnya yang dia lakukan terhadap Sehun akan membuat Sehun semakin membencinya.

Sehun langsung menerima perawatan intensif, dirinya belum sadar dan masih tertidur pulas. Chanyeol segera menghubungi Ibu. biarpun ia takut pada reaksi Ibunya nanti, tapi yang pasti Chanyeol tetap harus menghubungi Ibunya mengabarkan tentang Sehun.

Ia hanya duduk di sofa dalam ruangan kamar rawat VIP itu. Chanyeol tidak mau Sehun dirawat di kamar yang banyak orang dan bisa membuat istirahat Sehun terganggu. Setelah satu jam Chanyeol menyadari bahwa Sehun mulai bergerak, bangun dari tidurnya yang lumayan lama.

Tepat saat itu Ibu datang pada pukul lima sore.

"Chanyeol!" Ibu sepertinya berlari dari luar karna sekarang ia nampak mengatur napas. "bagaimana keadaan Sehun? kenapa dia bisa pingsan?" wanita itu langsung menghampiri Sehun di brankar yang kini mulai menggeliat pelan untuk bangun.

Chanyeol meneguk ludahnya dengan kasar saat melihat Sehun yang membuka mata dan langsung meliriknya dengan pandangan kesal.

"Ibu.. aku tidak mau di sini, aku ingin pulang" rengek Sehun dengan suara seraknya.

"beruntung hyung-mu menjemput, jika tidak Ibu tidak akan tau kau pingsan di jalan. Kau harus di sini dulu, pasti ini karna kau kelelahan bekerja dan kuliah" Ibu mengusap rambut hitam milik putra bungsunya.

Sejauh ini Chanyeol bersyukur karna Sehun tidak melaporkan soal ciuman tadi kepada Ibu, ia merasa lega namun juga masih merasa was-was. Sehun pasti sangat membencinya sekarang. teramat sangat benci lebih dari yang sebelumnya.

"aku benci Rumah sakit, Ibu tau itu kan.. Ibu, aku mau pulang. Aku baik-baik saja"

"Chanyeol, apa yang Dokter katakan?" Ibu malah bertanya pada Chanyeol.

"Dokter mengatakan Sehun dehidrasi dan kelelahan sehingga tubuhnya lemas, juga tenggorokannya mengalami radang"

Sehun masih menatap kesal pada Chanyeol "hanya radang biasa, nanti jika minum air mineral yang banyak aku akan sembuh. Aku ingin pulang, Bu"

"jangan seperti anak kecil begitu. kau kelelahan, jadi sekarang waktunya kau istirahat. Ucapkan terimakasih pada hyung-mu" Ibu mencubit pipi Sehun gemas.

"untuk apa aku berterimakasih padanya" juteknya yang memandang ke arah lain sementara Chanyeol hanya menghela napas, mencoba untuk maklum pada sikap Sehun.

"Sehun, Chanyeol yang sudah menolongmu dan membawamu ke sini. Ibu tidak pernah mengajarkan putra Ibu menjadi orang yang tidak tau terimakasih"

Sehun menyernyit, justru Chanyeol lah yang membuat kondisinya semakin parah tadi. Ciuman kurang ajar itu yang membuat demamnya semakin parah "terimakasih" ucapnya singkat.

"sama-sama, kau harus cepat sembuh" belum sampai tangan Chanyeol yang ingin mengusap rambut Sehun, anak itu sudah menjauh untuk menghindar dari sentuhan Chanyeol.

.

.

.

.

.

Setelah menyelimuti tubuh Ibunya yang sudah tertidur pulas di sofa, Chanyeol menghampiri Sehun yang juga kembali tertidur setelah tadi meminum obatnya. Ia mengusap rambut Sehun yang lembut itu dengan leluasa karna hanya disaat adiknya tidur Chanyeol dapat melakukan hal itu.

Bukan karna ia terobsesi pada rambut atau kepala Sehun, namun memang begini lah salah satu bentuk perhatiannya pada seseorang yang ia sayangi. Chanyeol ingin melindungi Sehun yang terlihat dari luar adalah seseorang yang kuat dan galak, namun di dalamnya adalah sosok yang sensitif dan mudah rapuh.

Ia bisa melihat itu di dalam diri Sehun, karna tanpa sadar Sehun menunjukkan kelemahannya di depan Chanyeol selama mereka bertemu.

"aku ingin buang air kecil.." gumam Sehun dalam tidurnya.

Chanyeol menyernyit khawatir, "Sehun, kau kenapa? Kau ingin buang air kecil?" tanyanya memastikan karna suara Sehun sangat serak dan kecil.

Sehun membuka matanya perlahan. "aku ingin buang air kecil" ucapnya sedikit lemas.

"ayo, aku akan mengantarmu" Chanyeol menarik tiang infusan Sehun lebih dekat, dengan mudah ia dapat membantu tubuh kurus Sehun untuk beranjak bangun.

"aku bisa sendiri, tidak perlu diantar" ia masih saja bersikap jutek pada Chanyeol dalam keadaan sakit seperti ini.

"jangan keras kepala, jika kau jatuh di kamar mandi penyakitmu akan bertambah" sedikit jahat, tapi Chanyeol berkata begitu agar Sehun mau diantar olehnya.

Sehun tidak mau bicara lagi, dia melangkah pelan ke arah kamar mandi dengan dituntun oleh Chanyeol. Chanyeol merangkul pinggangnya dan menggenggam tangan kirinya erat agar Sehun tidak terjatuh saat berjalan. Ketika sampai di kamar mandi..

"kau mau berdiri di sana sampai kapan? Minggir, aku mau menutup pintunya" Sehun menarik tiang infusannya masuk ke dalam kamar mandi bersama dirinya.

Chanyeol terkejut saat Sehun menutup pintu kamar mandi dengan sedikit kencang di depan wajahnya. Dugaannya tepat, Sehun masih marah padanya berkat insiden ciuman di mobil. Chanyeol harus meminta maaf lebih banyak lagi sekarang.

Setelah beberapa menit Sehun keluar dari kamar mandi, ia lumayan salut pada sikap Chanyeol yang bahkan masih setia berdiri menunggunya di tempat yang sama lalu sekarang dengan cekatan menuntunnya lagi menuju ke brankar.

"bagaimana? Kau merasa agak baikan?"

"tenggorokanku sudah tidak begitu sakit, tapi suaraku belum bisa kembali normal" Sehun memakai selimutnya kembali hingga sebatas pinggang.

"secepatnya kau pasti sembuh" Chanyeol tersenyum hangat sementara Sehun berusaha melihat ke arah lain agar tidak semakin kesal melihat senyuman Chanyeol itu.

"infusan ini mengganggu"

"itu untuk menambah cairan di tubuhmu, Dokter mengatakan kau terkena dehidrasi"

"sudah sana kau tidur, jangan ganggu aku" Sehun berusaha memejamkan matanya untuk kembali tidur.

Namun Chanyeol tidak mengindahkan kata-kata Sehun, justru kini dia duduk di kursi yang berada di sebelah brankar untuk menemani adiknya tidur. bonusnya, ia bisa memandangi wajah cantik dan damai milik Sehun saat terlelap.

Ia melihat Sehun yang sudah memejamkan matanya dengan tenang, "hei maafkan aku soal tadi saat di mobil.. aku akui, aku benar-benar bodoh" terlihat napas Sehun teratur dan tenang, jadi Chanyeol melanjutkan kembali. "aku sungguh minta maaf, aku menyayangimu Sehun"

Lama Chanyeol memandang wajah cantik adiknya, dengan berani ia mendekat lalu pelan-pelan mencium kening Sehun yang tertutup oleh poni itu. setelahnya, Chanyeol kembali duduk sambil menggenggam tangan kiri Sehun.

Ia tidak tau bahwa sebenarnya Sehun belum tertidur pulas.

.

.

.

.

.

Sehun mengusap poni menjutainya yang menutupi mata ketika ia baru saja bangun tidur, samar-samar dia dapat melihat nampan berisikan sarapan yang sudah tersedia di atas laci di samping brankarnya. Namun bukan hanya sarapan itu yang Sehun lihat berada di samping brankarnya, tapi ia juga melihat sosok Chanyeol yang ternyata tidur di kursi untuk menungguinya semalaman.

Sehun mendengus, ia mengusap keningnya sambil menghela napas lelah. Harus bagaimana ia bersikap pada Chanyeol? Dia sangat membenci Chanyeol, tapi jika Chanyeol terus begini padanya maka situasi akan berbanding terbalik menjadi Sehun yang terlihat menyiksa Chanyeol.

Perlahan tangannya menyentuh helaian rambut Chanyeol yang berwarna kecoklatan itu, rambutnya begitu halus dan jatuh mengakibatkan timbulnya rasa bersalah dalam hati Sehun. ia melirik pada sesuatu yang tertempel di gelas air mineralnya pada menu sarapan di atas laci.

Matanya menatap horor pada gelas tersebut, dia berhenti mengusap rambut Chanyeol dan mengambil selembar sticky notes yang ternyata tertempel di sana. Sticky notes lagi, dan itu sudah pasti dari pengagum rahasianya yang tidak jelas itu.

Sehun membaca rangkaian kalimat pada kertas tersebut:

Kau terlalu lelah bekerja hingga jatuh sakit seperti ini. aku selalu memperhatikanmu dan mendoakanmu agar cepat sembuh, jaga lah kesehatanmu Sehun. aku mencintaimu

SRAK!

Sehun kaget karna kertas itu direbut oleh tangan Chanyeol dengan cepat, ternyata dia sudah terbangun. Chanyeol menyernyit ketika membaca isi pesan itu dan meremat kertasnya dengan kemarahan memuncak.

"ini sudah keterlaluan, aku akan menyelidiki siapa orang ini. dia tidak boleh mengganggumu" ujarnya.

"memangnya apa urusannya denganmu? Aku senang kok memiliki pengagum rahasia" jawab Sehun pura-pura cuek. Sungguh, dia malas jika Chanyeol melakukan sesuatu lagi untuknya. Dia semakin melihat sisi dirinya yang jahat terhadap hyung-nya itu.

"bukan dengan cara seperti ini, Sehun. ini disebut dengan meneror" Chanyeol menekankan ucapannya.

"ada apa ini? kenapa kalian sudah berargumen pagi-pagi?" Ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap heran pada kedua putranya.

"Ibu, apa Ibu melihat suster yang membawa masuk sarapan untuk Sehun?" Chanyeol bertanya dengan lembut.

"iya, tadi memang ada suster yang membawakan sarapan Sehun. memangnya kenapa?"

"apa dia terlihat mencurigakan?"

Ibu merasa pertanyaan Chanyeol mulai aneh. "kenapa kau bertanya seperti itu?"

"jangan dengarkan dia, Bu" sahut Sehun malas.

"pokoknya aku akan menyelidiki ini" ucap Chanyeol tegas, ia beringsut dari kursi dan permisi keluar dari kamar pada Ibu mereka.

"sebenarnya ada apa dengan hyung-mu?"

"mungkin dia masih mengantuk" Sehun kembali memejamkan matanya, memikirkan siapa sebenarnya pengagum rahasia ini. samar-samar dia mendengar Ibunya yang menyuruhnya untuk sarapan.

ChanHun

Sedikit banyak Sehun berharap Chanyeol berhasil dalam menyelidiki siapa pengagum rahasianya. Bagaimanapun juga, Sehun tidak mau diganggu dan diteror seperti itu. setelah keluar dari Rumah sakit kini keadaannya sudah baik-baik saja, namun Sehun tetap harus menjaga kesehatannya karna kegiatan kuliahnya yang semakin padat.

Semenjak keluar dari Rumah sakit, Sehun tidak pernah masuk kerja. Sehun bepikir mungkin dia akan berhenti kerja saja karna ia tidak mau kelelahan dan jatuh sakit lagi, akan lebih merepotkan Ibu nantinya.

Melamun itu menyenangkan, sampai Sehun baru sadar bahwa ponselnya sejak tadi bergetar menandakan adanya telpon masuk dan itu dari Ibunya.

"ya, Ibu?" jawabnya sambil beringsut dari ranjangnya yang nyaman.

"Ibu akan pulang agak malam karna Bibi Yeonjae mengajak makan malam bersama. Tidak apa kau makan malam sendirian?" Bibi Yeonjae itu rekan Ibunya di tempat kerja.

Sehun sedikit badmood, "iya Bu, tidak apa-apa"

"jangan makan makanan instan, kau kan bisa memasak─"

"baik baik Ibu, aku akan memasak. Ibu jangan khawatir.. sampaikan salamku pada Bibi Yeonjae"

"nah Ibu mencintaimu"

"aku juga mencintai Ibu"

Sambungan itu berakhir. Sehun menghela napas, dia harus masak untuk makan malamnya sendiri. Ia mengusap helaian poni hitamnya ke belakang. Tiba-tiba teringat pada Chanyeol yang mencium lembut keningnya.

Sehun pasti sudah gila karna ia masih merasakan bekas ciuman itu di keningnya yang kemudian ia usap-usap dengan kasar karna rasa kesalnya pada hyung-nya itu.

Ini sudah pukul enam sore, Sehun harus bersiap-siap di dapur untuk memasak. mungkin dia hanya akan membuat makanan yang sederhana karna ia hanya makan sendirian. Apa yang harus Sehun masak? Ia pun membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan.

Banyak sekali bahan yang dapat diolah tapi Sehun hanya akan membuat nasi goreng kimchi dan daging saja. ia mengambil sekotak daging tersebut kemudian mulai ia potong-potong menjadi bentuk kubus kecil.

"Sehun"

Ia terperanjat mendengar suara yang berat itu, "astaga!" Sehun menoleh horor pada sosok Chanyeol yang juga ikut kaget di belakangnya.

"kau kenapa?" Chanyeol yang panik langsung menghampiri Sehun.

Sehun lalu menatap jarinya. "jariku! Jariku masih adaaa" pemuda cantik itu merosot lemas ke lantai.

"apa jarimu terluka? Maaf aku tidak tau kau sedang memotong daging" Chanyeol refleks menggenggam tangan Sehun yang masih mengelus-elus dadanya karna kaget. Ia perhatikan jari Sehun dengan hati-hati. "kau... tidak terluka"

Sehun menarik tangannya dari genggaman Chanyeol. "lain kali jangan kagetkan aku seperti itu!"

"kupikir itu tidak akan membuatmu kaget" Chanyeol membela diri.

"aku sedang tidak menyalakan televisi, tidak ada suara apapun bahkan saat kau masuk, jadi aku sangat kaget ketika kau memanggil" Sehun kembali berdiri dan meraih pisau untuk kembali memotong-motong daging.

"aku benar-benar minta maaf" sesal Chanyeol dengan tulus. "Ibu menghubungiku, ia bilang kau hanya makan malam sendirian. Aku khawatir kau tidak meminum obatmu"

Sehun merutuki Ibunya yang malah menghubungi Chanyeol. Kenapa Ibu harus selalu melapor pada pria itu? "obatku sudah habis. Aku sudah sembuh total" jawabnya ketus.

"syukur lah kalau begitu" Chanyeol menghampiri Sehun agar dapat melihat wajah cantiknya dari dekat.

Ia perhatikan bagaimana Sehun memotong daging dengan telaten dan lebih fokus dibanding sebelumnya. Matanya berhenti pada bibir mungil Sehun yang berwarna merah muda, ia jadi ingin merasakan lagi bagaimana manisnya bibir itu. namun Chanyeol langsung menggelengkan kepalanya, menepis pemikiran bodoh di dalam otak.

"aku boleh makan malam di sini?"

"memangnya kau mau makan malam di mana lagi? aku hanya membuat nasi goreng kimchi" Sehun kali ini mulai memotong sayuran-sayuran.

"tidak apa, kebetulan aku ingin mencoba masakan adikku" Chanyeol nyengir sementara Sehun menunjukkan mimik ingin muntah. "aku ingin membantumu"

"tidak usah, nanti malah jadi hancur" tapi Sehun berpikir lagi, mungkin Chanyeol ada gunanya. "eum.. ambilkan keju di dalam pantry, dan juga tomat di dalam kulkas. Aku lupa mengeluarkan tomat"

Sesuai dugaan, Chanyeol tanpa bicara apa-apa lagi langsung menuruti perkataan adiknya. dia membuka laci pantry untuk mengambil keju lalu setelah itu mengambil tomat di kulkas. "biar aku yang potongkan tomatnya" ujar Chanyeol mengambil pisau untuk memotong tomat tersebut.

"sekalian saja kau potong kejunya" suruh Sehun dengan seenaknya.

"masakanmu pasti enak" Chanyeol terkekeh sendiri karna merasa senang akan mencoba masakan adiknya untuk pertama kali.

"tidak seenak masakan Ibu" Sehun mengoreksi. Sebenarnya Sehun ingin bertanya tentang pengagum rahasianya yang tengah diselidiki Chanyeol. Tapi memangnya benar Chanyeol sungguhan akan menyelidikinya? Bisa saja Chanyeol berbohong.

"iya, masakan Ibu sangat enak. Membuatku jatuh cinta dan terus-menerus ingin dibuatkan makanan olehnya" Chanyeol memotong tomat dengan hati-hati.

Sehun menoleh padanya, "kenapa kau gigih sekali ingin kembali bersama dengan Ibu? bukannya kau sudah merasa enak dikelilingi harta berlimpah dari Nenekmu itu?" sangat kasar, ucapan Sehun sangat lah kasar namun Chanyeol berusaha untuk tidak marah.

"bersama Ibu juga bersama denganmu" Chanyeol mengoreksi kalimat Sehun. "itu memang kesalahanku di masa lalu. Aku terlalu fokus pada apa yang sudah diberikan padaku, tapi tiba-tiba aku sadar bahwa aku bisa menjadi seperti sekarang juga berkat Ibu. jika Ibu tidak melahirkanku ke dunia, aku tidak mungkin bisa seperti ini"

"kenapa tidak dari lama saja kau mencari Ibu? kenapa baru sekarang? tidak kah kau merasa sudah terlalu terlambat?"

"tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada seseorang, apalagi pada Orang tua. Tadinya aku juga merasa sudah terlambat karna Ibu pasti sudah membenciku.. tapi ternyata Ibu menerimaku kembali dengan kedua tangannya yang hangat. Aku sadar, maaf itu tidak pernah terlambat"

Sehun berdecih, "sayang sekali, untukku itu sudah terlalu terlambat"

Chanyeol tidak suka tatapan remeh dari Sehun itu.. seperti bukan Sehun. Sehun adalah pemuda yang ceria dan baik hati, Chanyeol tidak suka ketika Sehun bersikap jahat serta arogan seperti sekarang ini.

"kau akan memaafkan aku" kata Chanyeol serius.

"bermimpi saja terus" nada bicara Sehun lebih meledek, tapi senyum sinisnya mengendur ketika melihat tatapan Chanyeol padanya yang terlampau dalam. Kenapa Chanyeol menatapnya begitu? kemudian wajah tampannya perlahan mendekat pada wajah Sehun.

Ini gawat, pipi Sehun terasa hangat.. benarkah dia seperti ini karna Chanyeol? Sehun menahan napasnya, dia tidak boleh terpesona pada pria menyebalkan itu. jadi dengan kasar tangannya mendorong wajah Chanyeol menjauh.

"terlalu banyak bicara, jangan ganggu aku masak!" Sehun kembali menyibukkan dirinya dengan memasak nasi goreng.

Chanyeol meringis memegangi hidungnya yang sedikit sakit karna dorongan dari tangan Sehun barusan. Namun dia tersenyum ketika sadar bahwa kedua pipi adiknya sedikit memerah muda, manis sekali menurutnya.

.

.

.

.

.

Sehun merasa segar setelah mandi. ia menghampiri hamster kecilnya yang sedang bermain-main di dalam kandang, biji bunga matahari masih tersedia banyak untuknya, jadi Sehun tidak perlu memberi makan lagi untuk malam ini.

Ia mendengar suara Ibunya yang sudah pulang, jadi dia keluar kamar dan melihat Ibunya tengah berpelukan dengan Chanyeol.

Ternyata Chanyeol masih berada di rumahnya, Sehun pikir saat ia tinggal mandi Chanyeol akan pulang tanpa menunggu Ibu. ia sedikit malas melihat momen kasih sayang antara Ibunya dan Chanyeol, Sehun segera menutup pintu kamarnya lagi.

"Sehun, tadi kau memasak untuk hyung-mu?" terlambat, karna Ibunya sudah menegur lebih dulu.

Sehun menghela napas diam-diam, "iya aku memasak untuk makan malam"

Mendengar jawaban Sehun sang Ibu tersenyum sangat lebar. Setidaknya Sehun sudah mau makan berdua dengan hyung-nya. "bagus lah kalau begitu. Ibu akan mandi dulu, lalu setelah itu kita makan cake bersama" Ibu menunjukkan sekotak kue yang dia bawa.

"maaf Bu, jadi Ibu yang harus membeli cake hari ini" Sehun berkata lesu.

"tidak apa-apa. kau memang tidak boleh keluar rumah terlalu sering mulai sekarang, kau kan baru saja sembuh" Ibu meletakkan cake tersebut di atas meja lalu pamit untuk mandi.

Sehun melangkah ke meja makan, membuka kotak cake yang tadi dibawa oleh Ibu. ternyata di dalamnya adalah tiramissu cake, lumayan menjadi favorit untuk Sehun. ia melirik pada sosok Chanyeol yang menghampirinya karna juga ingin tau cake rasa apa yang Ibunya beli.

"kau pulang saja, sudah malam" ucap Sehun tiba-tiba. Dia merasa bersalah karna sudah beberapa hari ini membiarkan Ibunya yang membeli cake karna Sehun sudah tidak bekerja semenjak keluar dari Rumah sakit. Dirasanya Chanyeol hanya menghancurkan suasana saja jika ikut makan cake bersama Ibu dan dirinya.

"tapi aku ingin makan cake bersama kalian dulu"

"sudahlah pulang─"

"tidak." tegas Chanyeol, dia menatap Sehun dengan pandangan sedikit kesal. Adiknya itu tidak pernah mau kalah dalam perang mulut jadi tanpa sadar Chanyeol seperti membentaknya.

Sehun merengut, "kau tidak perlu membentakku"

"aku tidak membentak" kilah Chanyeol sambil menghela napasnya lelah. "aku tidak akan seperti itu jika kau tidak terus-menerus mengusirku"

"aku kan memang tidak pernah suka melihatmu sejak awal, sejak kau masuk ke dalam kehidupanku dan Ibu" balas Sehun dengan singit.

Chanyeol mengatupkan rahangnya, dia mencengkram kedua pergelangan tangan Sehun lalu mendorong pemuda cantik itu ke dinding hingga Sehun memekik cukup kencang. "lepaskan!" namun dia juga menjadi takut ketika tatapan Chanyeol padanya berubah menjadi kesal.

"terkadang aku merasa lelah pada ujianmu, Sehun.." gumam Chanyeol tepat di depan bibir Sehun.

Sehun merinding karna Chanyeol bisa berlaku seperti ini ketika dia sedang merasa frustasi atau marah. Ia berpikir bisa meremehkan Chanyeol, tapi ternyata sulit. Chanyeol memang lebih kuat darinya.

"jika kau ingin aku pergi, baiklah.. aku akan pergi" ia melepas cengkramannya pada Sehun dan berlalu menuju ke pintu.

Sehun hanya mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali menandakan Chanyeol telah pergi. apa itu barusan? Chanyeol marah padanya? Sehun tertawa hambar merasa tidak percaya bahwa Chanyeol menyerah begitu saja, Chanyeol akhirnya mencapai batas kesabaran.

.

.

.

.

.

Chanyeol melempar kunci mobilnya ke atas ranjang dengan sembarangan lalu dia duduk dan melepas sepatunya. Ia jadi merasa menyesal setelah tadi marah pada Sehun, dipikirnya Sehun agak keterlaluan padanya tapi sekarang dia jadi merasa menyesal.

Bagaimanapun juga, sudah sewajarnya Sehun memperlakukan Chanyeol seperti itu. sekali lagi, karna kesalahan Chanyeol di masa lalu.

Ponselnya berdering, panggilan dari Pak Choi ─sekretarisnya.

"aku menemukan siapa pemuda ini, Presdir"

Chanyeol merasa emosinya kembali meluap tatkala informasi baik ini dia dapatkan dari sekretaris kepercayaannya itu. "siapa dia?"

"kami bekerja sama dengan Polisi dan Detektif untuk mencari siapa orang ini. kami baru hanya menduga, Presdir karna Detektif masih mencari bukti kuat tentangnya"

"santai saja Pak Choi, aku tidak memberi batas waktu padamu. Jangan terlalu gegabah dalam rencanamu" Chanyeol mengusap kasar wajahnya.

"dugaan Detektif, orang ini bernama Huang Zitao"

Chanyeol menyernyit bingung, "Huang Zitao? dia bukan orang Korea?"

"ya, dan itu juga yang menyulitkan kami untuk mencarinya"

"teruskan pencarian kalian, kabari aku jika ada perkembangan"

"baik, Presdir" lalu Pak Choi memutus sambungan lebih dulu.

Chanyeol merapalkan nama Huang Zitao di kepalanya dengan perasaan kesal. Jadi selama ini orang itu yang mengganggu Sehun? meski belum tentu benar, Chanyeol sudah terlanjur marah hingga ke ujung kepalanya.

Dia mencengkram ponsel di tangannya kuat-kuat namun ponsel itu ternyata berdering lagi dan kali ini tidak ada nama, hanya nomor saja yang memanggilnya.

"halo?"

"halo Pangeran yang cerdas! Apa kabarmu? Hahaha"

Chanyeol terkesiap mendengar suara ini. "Ayah?"

ChanHun

"Ibu sudah mengirim pesan pada hyung-mu tentang jadwal kuliahmu yang baru, semoga saja nanti dia bisa menjemput" ucap Ibunya dari seberang line telpon.

Astaga, Sehun memijat pelipisnya seketika. "kenapa Ibu harus beritau dia?" karna terlalu kesal akhirnya Sehun menjadi lelah untuk sekedar marah-marah.

"Sehun, kau baru saja sembuh.. Ibu tidak ingin kau kembali jatuh sakit"

"aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri" nada bicara Sehun sedikit meninggi. Bahkan mengagetkan Kim Minseok ─teman satu jurusannya─ yang kini duduk di sebelahnya pada kelas kedua.

"sayang, kau ingat apa pesan Ibu? perbaiki hubunganmu dengan hyung-mu"

Sehun diam. bagaimana? Dia tidak mau mengecewakan Ibunya juga, apalagi barusan Ibunya berucap dengan nada suara yang begitu lemah lembut.

"sudah ada Dosen, aku tutup dulu telponnya" hanya itu yang bisa Sehun katakan lalu memutus sambungan.

"sebenarnya ada apa denganmu?" Minseok bertanya dengan heran.

"Ibuku.. ya seperti para Ibu yang lain, terlalu mengkhawatirkan anaknya" Sehun masih terbawa kesal.

"bukan kah itu bagus? Ibuku juga begitu, bahkan selalu memaksaku membawa bekal ke kampus. Di matanya aku masih Minseok yang berusia enam tahun" Minseok meratapi nasibnya.

Sehun tertawa, Minseok memang pembawa hiburan untuknya. Sudah lama dia tidak satu kelas dengan Minseok karna mereka berbeda jadwal. Sehun mengambil jadwal kuliah malam sementara Minseok mengambil jadwal pagi dan siang. Kali ini mereka akan terus satu kelas karna Sehun sudah pindah jadwal.

"sudah lah hyung, lebih baik sekarang kita makan siang dan temani aku ke loker" Sehun beranjak dari kursinya dan menarik lengan Minseok.

Mereka keluar kelas dan menuju ke bagian loker. Minseok heran karna Sehun terus saja menariknya hingga sampai di depan loker milik pemuda cantik itu. "ada apa ini? kau terlalu rindu padaku?"

"bukan begitu, hanya saja.. aku merasa takut tiap kali membuka loker" Sehun membuka lokernya. Sudah dia duga, terdapat sepucuk surat lagi di dalamnya.

"kau pikir setelah membuka loker di dalamnya ada hantu? Kau terlalu banyak membaca webtoon, Hun"

"ini lebih menyeramkan dari hantu, hyung" Sehun mengambil surat itu dan langsung memberikannya pada Minseok.

"apa ini? surat cinta? Kau selama ini memendam perasaan padaku?!" pekik Minseok panik sementara Sehun kembali tertawa karna reaksinya.

"baca saja hyung, itu untukku bukan untukmu"

"oh, maaf" Minseok membuka surat itu dan membacanya kata demi kata.

Aku senang melihatmu sehat kembali. Kau semakin cantik dari hari ke hari, tidak berubah sejak dulu kita pertama bertemu. Aku mencintaimu, Sehun-ku

Setelah membacanya Minseok menyernyit jijik, "dia korban sinetron atau apa?"

"aku tidak mengerti hyung, ini terjadi sudah lama"

"kenapa kau tidak cerita padaku?"

"karna aku selalu lupa hehe"

Setelah itu Minseok hanya menggerutu tentang Sehun yang melupakan teman bla bla bla dan sebagainya hingga mereka melangkah keluar dari gedung Universitas itu.

Sehun tidak menemukan Chanyeol dimanapun hingga beberapa menit kemudian. Mungkin Chanyeol memang marah padanya karna kejadian kemarin. apa Sehun keterlaluan padanya? Kalimat Chanyeol terlintas di otaknya.

"tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf pada seseorang, apalagi pada Orang tua. Tadinya aku juga merasa sudah terlambat karna Ibu pasti sudah membenciku.. tapi ternyata Ibu menerimaku kembali dengan kedua tangannya yang hangat. Aku sadar, maaf itu tidak pernah terlambat"

Sehun tidak percaya hatinya mulai luluh seperti ini.

.

.

.

.

.

Chanyeol menghela napas menatap lembaran-lembaran kertas hasil kerjanya di atas meja yang berserakan, hari ini dia tidak begitu fokus jadi dia memilih untuk makan siang terlebih dahulu. Mengambil ponsel yang sejak tadi dia acuhkan lalu menemukan tiga pesan masuk: dua dari Yongra dan satu dari Ibunya.

From: Yongra

Yeollie, aku ke rumahmu dan tidak ada siapa-siapa. Apa kau hari ini bekerja?

Rumah yang dimaksud Yongra adalah rumah Grandma, Yongra belum tau bahwa Chanyeol sudah membeli rumah sendiri.

From: Yongra

Jawab pesanku, Yeollie! Kau berani mengacuhkanku?

Chanyeol mendengus geli, lalu dia membuka pesan dari Ibunya.

From: Ibu

Sehun pindah ke jadwal kuliah pagi. Dia akan pulang pukul satu siang di hari ini dan hari sabtu, hari lainnya dia pulang pukul 3 sore. Ibu tidak memaksamu menjemputnya, tapi jika kau bisa Ibu sangat berterimakasih.

Apa Chanyeol harus menjemputnya? Ia hanya masih sebal dengan kejadian kemarin, hari ini pun Sehun tetap akan bersikap sama padanya: Ketus dan jutek.

Chanyeol tetap harus membalas pesan Ibunya.

To: Ibu

Baiklah, Ibu. terimakasih sudah memberitau aku tentang jadwal Sehun. aku mencintai Ibu

"Presdir, ada yang ingin bertemu anda" tiba-tiba Pak Choi masuk ke dalam ruangannya yang luas itu.

"siapa?"

Pak Choi tidak menjawab, dia hanya membuka pintu lebih lebar agar orang itu bisa masuk ke dalam ruangan Chanyeol.

"selamat siang, Presdir Chanyeol yang terhormat. Aku tidak mengganggu waktumu kan?"

Chanyeol kembali mengatupkan rahangnya ketika mengetahui ternyata sang Ayah lah yang mengunjunginya ke sini.

"aku cukup kaget dengan kepulanganmu. Kupikir kau lebih betah di Eropa membuang-buang uangmu bersama para wanita murahan" Chanyeol berucap sarkatis sambil beranjak dari kursi lalu mengambil jas hitamnya yang tergantung di sandaran kursi tersebut.

"jadi kau tidak rindu pada Ayahmu ini?" Ayah tertawa cukup geli karna sikap Chanyeol yang tidak berubah padanya.

"ah, aku salah. Bukan uangmu, tapi uang Grandma" Chanyeol mengoreksi kalimatnya sendiri yang tadi dia ucapkan.

"Chanyeol-ah, kau merasa sudah hebat merebut posisi Ayah di ruangan ini? di perusahaan ini?" Ayah mulai merasa kesal dengan putra sulungnya itu.

"Ayah yang seperti anak kecil" Chanyeol memakai jasnya sambil menatap heran pada sang Ayah. "yang benar saja, kau masih merasa iri pada putramu sendiri?"

"Ayah yang sudah bekerja keras menjalankan perusahaan ini sebelum kau, Chanyeol"

"ya, menjalankannya menuju jurang maut kebangkrutan. Itu sebabnya Grandma memindahkan posisi Ayah padaku, terima kenyataan saja"

"kau benar-benar anak kurang ajar" gumam Ayahnya yang mulai geram.

"aku harus makan siang, melihat Ayah hanya membuat perutku tambah lapar" Chanyeol melangkah melewati tubuh Ayah yang masih kesal terhadapnya.

Pria paruh baya itu menoleh pada Pak Choi yang setidaknya masih membungkuk hormat padanya sebelum ia mengikuti langkah Chanyeol dari belakang.

"kau pikir aku tidak tau apa yang akhir-akhir ini sedang kau lakukan, Chanyeol?"

Mungkin Chanyeol memang lupa, lupa bahwa Ayahnya masih memiliki cukup kekuasaan untuk berbuat apapun yang dia mau.

Termasuk menyelidiki bahwa selama ini Chanyeol ternyata sudah bertemu kembali dengan mantan istrinya serta putra bungsunya secara diam-diam.

.

.

.

.

.

"sudah lama tidak masuk kerja lalu ketika masuk kau malah mengundurkan diri begini?" pekik Jongdae dengan oktaf tingginya, Seohyun di sebelahnya menutup kedua telinga sambil memejamkan mata. Biarkan dulu Jongdae protes panjang lebar hingga selesai lalu setelah itu baru dia yang bicara.

"sebenarnya kemarin-kemarin itu aku sakit hingga tidak bisa bekerja, maaf aku tidak memberi tau ka─"

"kau sakit dan tidak memberitau kami? Kau benar-benar jahat, Hun" Jongdae menginterupsi.

"itu karna aku tidak mau membuat kalian panik dan rep─"

"kau selalu saja berkata begitu, takut membuat kami repot repot repot dan sebagainya. Kau itu sahabat kami atau bukan?" Jongdae menginterupsi kedua kalinya.

"aku tau, maafkan aku hyung. begini saja, nanti malam kita makan malam bersama di rumahku─"

"kalau kau berhenti bekerja, aku juga akan berhenti kerja Sehun. aku tidak bisa semangat kerja jika satu saja rekan kerjaku berhenti" Jongdae menginterupsi ketiga kalinya.

"hyung, dengarkan dulu penjelasan─"

"tidak, Sehun! aku tidak mau mendengar apapun. mulai saat ini kau harus memberitau kami jika ada sesuatu─mph!" kali ini Seohyun yang menginterupsi dengan membekap mulut Jongdae secepatnya sebelum Jongdae berkicau lebih panjang.

"aku ingin tau, kenapa kau memutuskan berhenti bekerja?" tanya Seohyun.

"aku ingin fokus kuliah, Ibuku juga khawatir jika aku masih bekerja aku akan kembali jatuh sakit karna kelelahan"

Seohyun mengangguk mengerti. "itu keputusan tepat, kau harus lebih mementingkan kuliahmu"

"terimakasih kalian mau mengerti. Nanti malam aku undang makan malam di rumahku, bagaimana?"

"baiklah, kami akan datang" Seohyun sumringah, sementara Jongdae mengangguk-ngangguk dengan mulutnya yang masih dibekap oleh gadis cantik itu.

Setelah pamit, Sehun keluar dari restauran ayam tempat ia bekerja. Sekarang dia tidak akan bekerja di sana lagi dan rasanya sedikit sedih. Bahkan Manajernya menyangkan sekali keputusan Sehun karna Sehun termasuk pegawai yang rajin.

Tidak disibukkan dengan pekerjaan, membuat Sehun memikirkan hal-hal yang biasanya tidak dipikirkan karna terlalu sibuk bekerja. Termasuk memikirkan Chanyeol yang sudah tiga hari ini tidak muncul di hadapan Ibu dan dirinya.

Ibu bilang Chanyeol menghubunginya, mengatakan bahwa pekerjaan di kantor sedang sangat sibuk dan dia tidak bisa berkunjung ke rumah. Memangnya apa yang Sehun harapkan? pria menyebalkan itu datang? Sehun berharap dia menghilang saja dari kehidupannya.

Tapi benarkah dia sungguh-sungguh berharap begitu?

.

.

.

.

.

Chanyeol merindukan Ibunya. Tidak, dia juga merindukan adiknya. tidak bertemu tiga hari membuatnya merasa sangat bersalah. Seharusnya saat itu dia tidak marah pada Sehun, seharusnya ia bersikap sabar agar Sehun dapat melihat kesungguhannya untuk memperbaiki hubungan, bukannya pergi dan menghindar.

Ia mampir di toko kue langganan Ibu dan Sehun. membeli cake coklat yang mungkin akan disukai oleh dua orang yang paling ia cintai itu.

"Chanyeol, Ibu sangat rindu padamu sayang" begitulah yang Ibunya ucapkan saat Chanyeol sudah sampai di rumahnya.

"maaf, Bu. pekerjaanku kemarin sangat menyita waktu" Chanyeol memeluk Ibunya dengan erat.

"tidak apa, Ibu mengerti. Ayo masuk lah"

Chanyeol mengikuti Ibunya melangkah masuk ke flat apartemen yang sederhana itu. setelah meletakkan cake di atas meja, ia melepas jasnya sambil memperhatikan seluruh ruangan. "di mana Sehun?"

Ibu kembali dari dapur dengan pisau kue di tangannya, "dia sudah tertidur. Sehun sudah berhenti bekerja, pola tidurnya sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya"

"dia berhenti bekerja?" Chanyeol kini mengerti mengapa Sehun pindah jadwal kuliah. Dia bodoh sekali tidak menjemput adiknya sejak tiga hari lalu dan malah menghindar darinya. "Ibu, apa aku boleh membangunkannya? Kita makan cake sama-sama"

"coba saja kau bangunkan dia, jika dia tidak mau jangan dipaksa" ujar Ibunya lembut.

Chanyeol mengangguk, dia melangkah ke kamar adiknya. ketika membuka pintu dia mendapati kamar Sehun yang gelap seperti biasa. dengan pelan-pelan dia menutup pintunya kembali dan menghampiri Sehun yang terlelap di atas ranjang dengan bergulung selimut pada tubuhnya.

Ia usap pipi Sehun yang terasa begitu halus di tangannya. "maafkan aku" ia bergumam pelan.

Chanyeol merebahkan diri di sebelah Sehun, ia memperhatikan dengan penuh kagum bagaimana lekuk wajah cantik adiknya. adik yang seharusnya ia lindungi bagaimanapun keadaannya. Ia mendekap tubuh Sehun dengan hati-hati agar tidak terbangun.

Dia menciumi pucuk kepala Sehun dengan penuh sayang "aku menyayangimu"

"apakah sopan menyelinap masuk ke kamar orang lain saat malam hari?"

Suara Sehun terdengar. Chanyeol terkejut, lalu dia mulai melepas dekapannya pada tubuh Sehun agar ia bisa menjauh sebelum Sehun lebih marah lagi.

Namun tanpa diduga, Sehun menarik kemeja Chanyeol di bagian dada agar pria itu kembali mendekat padanya. "tidak, tetap di sini" ucapnya tanpa ingin memandang Chanyeol.

Chanyeol tidak bisa lebih kaget dan merasa senang dari ini. dia tersenyum lalu mendekap lagi tubuh adiknya itu. Sehun masih saja gengsi, tidak mau menatapnya hingga Chanyeol akhirnya dengan berani memegang dagu Sehun lalu mengangkatnya perlahan agar ia bisa melihat wajah cantik milik Sehun.

Diluar dari pemikiran apapun, Chanyeol mencium bibir Sehun. ia rindu pada Sehun, ingin mencicip lagi bagaimana manisnya bibir itu dan kejutan selanjutnya adalah Sehun membalas ciumannya. Chanyeol diam-diam tersenyum karna ciuman mereka semakin dalam dan menghanyutkan.

Sehun mencengkram kemeja Chanyeol semakin erat, pipinya memanas, dan dia merasa sudah gila karna membalas ciuman Chanyeol seperti ini.

"eumphh nghh" ia melenguh karna Chanyeol menyelipkan tangan di pinggangnya, menariknya lebih dekat agar semakin rapat pada tubuh maskulin pria yang lebih tua tersebut.

Tanpa sadar lenguhan Sehun malah membuat Chanyeol semakin tertantang, adernaline-nya sebagai pria justru terpacu lebih kuat. Ia memagut bibir Sehun, sesekali menghisapnya hingga bibir Sehun mulai memerah.

"mhh cukup.." Sehun memegang kedua pipi Chanyeol dan menjauhkan wajah mereka sehingga ciuman merekapun terlepas.

Chanyeol memperhatikan bagaimana Sehun mengatur napasnya dengan bibir yang sudah memerah. ia bisa melihat itu dalam kegelapan karna cahaya bulan masuk melalui jendela kamar Sehun yang tirainya tidak ditutup.

"maafkan aku" Chanyeol merasa sudah lancang. Tapi sekali lagi, yang membuatnya lupa diri adalah bibir Sehun terasa sangat manis.

Sehun semakin tidak mengerti bagaimana hatinya saat ini. tapi degupan jantungnya mungkin bisa membantu Sehun mencari tau apa yang sedang terjadi pada hatinya hanya karna pria menyebalkan seperti Chanyeol.

.

.

.

.

.

TBC

Gatau kenapa gue cuma kepikiran Tao yang cocok jadi peneror Sehun.

Gue ga edit-edit lagi, jadi temukan saja typo yang bertebaran. Sekali lagi gue peringatkan, kalau ga suka sama pairnya gausah dibaca ya.

Ga suka ff crack couple? Oh, maaf gue malah akan semakin memperbanyak ff crack couple *ketawa jahat*

Thank you very much, i love you all