Taehyung berlari sepanjang lorong hotel menuju kamarnya. Meeting belum usai sebenarnya, namun mendengar Jimin yang mendadak pingsan membuatnya tanpa pikir panjang mengundurkan diri dan segera berlari. Sejin selaku manager mereka mengikuti dari belakang.
Jimin, tidak. Jangan lagi, Jimin. Racaunya dalam hati.
Maka ketika ia membuka pintu kamar mereka yang ia lihat adalah Yura dengan wajah pias karena khawatir juga 2 orang pria paruh baya yang salah satunya mengenakan jas putih khas dokter.
"Bagaimana keadaan Jimin?" Tanyanya pada Yura.
"Ia pingsan tiba-tiba." Jawab Yura, "dan pihak hotel membantuku memanggil dokter."
Sejin yang paling fasih berbicara menggunakan bahasa asing mendekat pada dokter yang kini tengah berbicara dengan bahasa yang tentunya tidak Taehyung mengerti.
Taehyung tidak tahu harus melakukan apa, maka yang ia lakukan hanyalah mendekati Jimin dan menggenggam jemarinya yang sedingin es.
"Kemungkinan dia mengalami depresi." Ucap Sejin, Yura tengah mengurus administrasi bersama pihak hotel dan dokter itu.
"Tidak mungkin." Desis Taehyung.
"Dokter itu menyarankan kita untuk membawa Jimin ke psikiater setibanya kita di Korea nanti, setelah mendengar penjelasan Yura mengenai kondisi Jimin sebelumnya. Dokter tadi hanyalah dokter umum, ia hanya bisa memberi resep obat untuk demam dan sakit kepala."
"Jimin tidak gila, Hyung." Taehyung memandang Sejin tidak setuju.
"Bukan hanya orang gila yang pergi ke spesialis jiwa, Taehyung-ah. Di sini jelas terlihat bahwa yang membuat Jimin sakit bukan raganya." Sejin menepuk bahu Taehyung pelan, "aku akan pergi ke apotik menebus resep ini. Kau jaga Jimin hingga yang lain kembali."
Taehyung mengangguk, "Hati-hati, Hyung."
Tepat ketika pintu kamar mereka tertutup, Taehyung merasa tangannya digenggam. Ia berbalik dan menatap Jimin yang sudah tersadar. Wajahnya pucat dan sudut bibirnya yang robek akibat bogem mentah milik Yoongi ditempeli plester.
"Jimin, astaga. Kau oke?"
Mungkin terdengar konyol karena Taehyung menanyakan hal yang sudah jelas, Jimin tidak sedang baik-baik saja.
"Tae," panggil Jimin, matanya memerah dan basah, "peluk aku, Tae." Geritnya nyaris 'tak terdengar.
Tangannya merentang mencoba menggapai tubuh Taehyung.
Dengan mata yang sama basahnya, Taehyung merendahkan tubuhnya dan memeluk Jimin, "Kau selalu punya aku, Jimin."
"Aku tahu, aku tahu, aku selalu tahu."
Pelukan Jimin mengerat.
x
x
HEADSOT (CHAPTER 4)
(BTS Fict, AU, OOC, BxB, JiKook/VKook,VMin, pair bisa berubah kapanpun, tokoh REAL. Sekali lagi, tokoh real. Murni hanya sekedari imaji dari seorang fans, mungkin sedikit setting canon kubangun di awal namun semua itu murni sebagai dasar agar cerita ini bisa berlanjut. Too much imagination. Jika tidak nyaman dengan hal itu, silakan klik back.)
If you do not like this fiction or feeling uncomfortable with all of that, please don't read and give me something look like shit.
x
x
"Apa Jimin baik-baik saja?" Yoongi bertanya pada Hoseok yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka.
"Kalau Hyung khawatir cepat temui saja dia." Balas Hoseok.
Hening beberapa saat.
Hoseok memutar pandangannya, "Kalau Hyung merasa bersalah, minta maaflah."
"Aku tidak salah." Balas Yoongi.
"Ya sudah," Hoseok mengangkat bahu, "aku mau mandi. Nanti aku mau makan malam di kamar Jimin saja."
Yoongi diam tidak menjawab. Membiarkan Hoseok dengan handuk putihnya masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menyalakan shower.
Sejujurnya jika saja Yoongi boleh jujur, ia merasa begitu bersalah pada Jimin. Demi Tuhan, ia baru saja menghajar Jimin bahkan hingga ia babak belur dan tubuhnya pasti sakit sekali menghantam dinding. Namun ia terlalu gengsi, ah tidak, lebih tepatnya ia tidak berani dan merasa begitu berat hati untuk melihat keadaan Jimin.
Ia sempat bertanya pada Namjoon mengenai keadaan Jimin, Namjoon bilang Jimin mungkin mengalami depresi. Sungguh Yoongi bisa memahami Jimin, pria yang sering merasa bersalah karena hal yang tidak dilakukannya. Pria yang selalu merasa bahwa semua beban ada di pundaknya. Namun mungkin kali ini beban itu begitu berat. Bahkan hingga Yoongi khawatir punggung Jimin mungkin akan patah jika terus memaksakan diri memikulnya seorang diri.
Meski Yoongi cenderung mengabaikan banyak hal pun cenderung tidak memikirkan banyak hal, namun sesungguhnya ia memikirkan seluruh anggota nyaris setiap waktu. Dan mungkin kali ini juga ia harus bisa sedikit saja mengalah.
"Loh? Hyung pakai jaket mau kemana?" Tanya Hoseok begitu selesai mandi.
"Makan malam di kamar Taehyung 'kan?"
Hoseok tersenyum lebar sekali sampai Yoongi khawatir ujung senyuman itu akan mencapai daun telinganya, "Nah, ini baru Hyungku."
"Apa sih?" Yoongi menepis rangkulan Hoseok.
Hoseok hanya tertawa pelan dan mulai memilah pakaiannya sendiri, "Tolong nanti pelan-pelanlah pada Jimin."
"Geurae."
x
x
x
Kamar mereka tidak terletak begitu jauh, namun kebetulan saja berada di lorong yang berbeda di lantai yang sama membuat mereka memerlukan waktu beberapa menit untuk mencapai kamar Taehyung.
Menurut cerita Hoseok, Namjoon menyarankan untuk tidak mengungkit hal-hal berbau Jungkook apalagi mini konser yang akan mereka adakan di hadapan Jimin. Tidak seorang pun menginginkan Jimin berurusan dengan dokter kejiwaan. Apalagi jika sampai Jimin harus mengkonsumsi obat antidepresan yang sering kali membuat penggunanya ketergantungan.
"Sebelum depresinya memberat, bukankan kita semua ingin Jimin segera pulih dan berhenti menyalahkan dirinya sendiri? Jadi Hyung, jangan marahi Jimin lagi." Ucap Hoseok di depan kamar Taehyung dan Jimin.
"Iya." Jawab Yoongi singkat.
"Dan jangan pukul dia lagi kalau ia mulai meledak."
"Astaga, iya Hobie. Iya. Aku juga tidak ingin keadaan Jimin memburuk." Yoongi menyingkirkan telapak tangan Hoseok yang menutupi tombol bel dan menekannya 2 kali.
'Tak lama kemudian pintu terbuka. Wajah tersenyum Sejin dan Hankyunglah yang pertama kali menyambut.
"Kebetulan sekali," ucap Sejin, "tepat ketika kami ingin pergi kalian datang."
Hoseok tersenyum cerah. Yoongi hanya diam melihat Jimin yang terduduk di atas kasurnya dengan sweater besar berwarna cokelat susu yang Yoongi tahu benar itu adalah sweater milik Taehyung sementara anggota Bangtan yang lain duduk di lantai beralaskan karpet hijau bermotif dedaunan yang entah mereka dapat dari mana.
Seolah mengerti kedua manager itu pamit pergi meninggalkan mereka semua. Sebelum berlalu Hankyung sempat menepuk bahu Yoongi yang masih mematung di depan pintu.
"Yoongi-ya, sini." Seru Seokjin.
Pintu tertutup dan Yoongi segera duduk di atas karpet itu. Sisi kosong itu tidak begitu luas karena dipan berukuran king bed itu tepat berada di tengah-tengah namun masih cukup untuk menampung kelima pria dewasa yang duduk membuat lingkaran dengan banyak makanan berada di bagian tengah.
"Aku sampai harus memohon pada pihak hotel untuk menggunakan dapur mereka, awas saja kalau kalian tidak banyak makan." Ucap Seokjin sembari mulai membuka penutup aneka hidangan itu.
"Jimin-ah, ayo turun."
Jimin mengulaskan senyum kecil dan menggeleng. Matanya redup nyaris kehilangan cahaya dan pandangannya kosong melompong.
Yoongi membawa tubuhnya mendekati Jimin dan merangkulnya hangat, "Hei, kau tidak boleh begitu. Hargai usaha Hyung tertuamu itu."
Jimin berbalik menatap Yoongi tepat di kedua manik matanya, "Aku tidak lapar."
"Tapi kau harus tetap makan. Ya?" Yoongi membuang pandangannya ke samping, "kalau kau tidak mau makan karena mulutmu yang masih pegal, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." Ucapnya nyaris berbisik.
Dengan kurang ajar Jimin menggerakkan jemarinya mengacak poni Yoongi, "Minta maaf bukan gayamu, Hyung."
Tanpa semua orang duga justru Jiminlah yang pertama bersikap biasa saja kali ini. Tidak ingin membiarkan kesempatan seperti itu berlalu begitu saja maka semua orang yang berada di dalam kamar itu mulai tertawa bahagia dan saling melempar canda.
"Hentikan jari-jari pendek kurang ajarmu itu," desis Yoongi, "mereka mengacak-acak poniku."
Jimin mengulum senyum dan menggeleng.
"Kau ingin aku mencabut mereka satu persatu, ya?"
Jimin bergidik ngeri dan segera melepas rangkulan Yoongi. Duduk di sela kosong di antara Taehyung dan Seokjin, seolah bagian kosong itu memang di sediakan untuknya. Dan memang mereka sengaja melakukannya.
Yoongi mendengus dan mengambil tempat di samping Namjoon. Seokjin tersenyum hangat dan mulai menyendok nasi ke piring kosong mereka semua.
Hoseok menjerit ceria, "Yeaaah, kita piknik!"
Ada banyak menu di hadapan mereka. Bahkan hingga sepiring bulgogi yang masih hangat dan mangkuk sup rumpu laut yang masih mengepul.
Taehyung mengambil potongan daging paling besar dan meletakkannya di atas piring Jimin, "Makan yang banyak, Jimin-ah."
Jimin memakannya meski enggan.
"Ini bukan masakanmu, Hyung." Ucap Namjoon tiba-tiba.
Seokjin hanya tertawa pelan, "Ya, kau selalu tahu."
"Masakanmu jelas jauh lebih nikmat," Hoseok mendramatisir cara mengunyahnya, "perfecto." Diakhiri dengan decakan yang membuat mereka semua tertawa.
"Aku dan Sejin Hyung yang membelinya tidak jauh dari sini. Tidak terlalu enak, koki dan pelayannya saja kebanyakan berambut pirang." Ujar Seokjin.
"Mereka pasti tidak bisa mengucapkan bultaoreune dengan benar." Yoongi yang sedari tadi terdiam akhirnya menimpali.
"Dan mereka tidak tahu apa itu annyeonghaseyo?" Namjoon menambahi.
"Atau pittamnunmul?" Dan Seokjin mengakhiri dengan satu ucapan telak.
Mereka semua tertawa bahagia. Sejenak melupakan Jungkook? Tidak. Nyatanya di sana, di sisi lain Taehyung ada sisi yang kosong. Dan Jimin menatapnya dengan penuh guratan duka. Harusnya di sana ada Jungkook yang berucap dengan mulut mengerucut lucu.
"Do you know IU?" Bisik Jimin lebih pada dirinya sendiri.
Setelah semua makanan itu habis 'tak bersisa, Seokjin memaksa Namjoon dan Hoseok mencucinya sebelum mengembalikan piring dan mangkuk kepada pihak hotel. Sebagai pria-pria yang tahu tata krama, mereka meminjam bersih berarti harus mengembalikannya dalam keadaan bersih pula, ujarnya.
Sisanya masih tinggal di kamar Jimin dan Taehyung sembari menonton acara televisi bersama. Beruntunglah televisi besar itu menangkap signal channel asal Korea sehingga mereka bisa menonton acara yang mereka mengerti.
"Jimin, kau harus minum obatmu." Taehyung menyodorkan obat milik Jimin yang harus diminumnya.
"Aku oke, Tae." Jimin mengibaskan tangannya di depan dada, menolak untuk meminum pil-pil pahit itu.
"Katakan itu pada orang yang sepucat mayat yang ada di hadapanku." Taehyung berujar malas.
Jimin mengulum senyum dan menunjuk Yoongi yang tidak begitu jauh darinya, "Maksudmu Yoongi Hyung?"
"Yak!"
Seokjin tertawa namun tangannya menyodorkan gelas berisi air, Namjoon nampak serius dengan acara yang tengah ditontonnya dan Yoongi terlihat diam seolah sedang berpikir keras atau memang sedang berpikir keras?
Akhirnya Jimin mengalah dan meminum obat-obat itu. Sesungguhnya ia sudah tidak sepusing tadi dan sebenarnya ia sendiri pun bingung kenapa ia bisa pingsan siang tadi. Separuh hatinya malu mengingat ia yang merengek pada Taehyung agar memeluknya. Namun Seokjin meraih telapak tangannya yang bebas dan menggenggamnya sembari sesekali menggerak-gerakkan jemarinya membuat ia melupakan hal yang sedang dipikirkan sebelumnya.
"Melamunkan apa?" Tanya Seokjin.
Jimin berbalik, menguap lebar dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar milik Seokjin, "Tidak ada." Dustanya.
"Bicarakan pada kami kalau memang ada yang ingin kau bagi." Timpal Seokjin.
Jimin mengangguk dan semakin merapatkan tubuhnya pada Seokjin, "Aku mengantuk, Hyung."
Taehyung menatap mereka berdua 'tak teratikan.
"Kalau begitu tidurlah."
Mungkin ucapan Seokjin adalah sihir atau mungkin juga efek samping obat-obatan itu mulai bekerja karena 'tak lama setelah mendengar ucapan terakhir yang Seokjin katakan napas Jimin mulai teratur. Ia terlelap.
"Aku akan bicara pada Bang PDnim besok pagi," Yoongi melirik Jimin yang kini sudah tertidur. Masih dengan sweater cokelat milik Taehyung lengkap dengan Seokjin yang tengah mengelusi kening Jimin penuh sayang, "kurasa kondisi Jimin memang tidak memungkinkan."
Namjoon mengalihkan pandangan dari layar televisi untuk pertama kalinya, "Hyung, kau tahu kita tidak bisa menolak."
"Lalu aku harus membiarkan ARMY melihat adikku pingsan di atas panggung begitu?"
"Yoongi-ya." Tegur Seokjin.
Yoongi hanya 'tak habis pikir bagaimana bisa ia menghajar Jimin meneriaki anak itu marah tanpa memikirkan kondisi Jimin. Mentalnya yang tertekan. Juga tubuhnya yang kurang makan. Meski semua orang melarang Jimin membuka internet, namun ia sendiri yakin Jimin pasti sudah mencari berita tentang mereka. Juga statement yang dikeluarkan pihak agensi.
Bukan tidak mungkin juga Jimin membaca komentar beberapa fans yang terlalu terkejut dengan kabar ini dan melimpahkan seluruh kesalahan padanya. Seolah semuanya adalah salahnya. Seolah pula bukan Jimin yang seharusnya berada di sini bersama mereka. Sedari dulu Jimin menerima banyak cacian. Dan bukan hal yang tidak mungkin kini ia menerima lebih banyak lagi bahkan mungkin dari kalangan ARMY yang begitu mencintai Jungkook dan terlampau terkejut hingga tanpa sadar membuat mereka menyalahkan Jimin. Meski tidak begitu banyak, namun tetap saja ada.
Mungkin hal itu akan disesali mereka nantinya. Dan Yoongi pun membaca beberapa ungkapan netizen walau kebanyakan mengecam tindakan gadis itu, namun tidak sedikit pula yang menyayangkan Jungkook yang terluka padahal seharusnya Jimin lah yang terluka.
"Kau pun tahu Namjoon, Jimin tidak sedang baik-baik saja dan ia tidak bisa terus berpura-pura baik-baik saja. Jimin terus berpikir seharusnya bukan Jungkook yang terkena peluru itu, aku sadar sekarang. Ini bukan tentang profesionalitas, ini tentang hati. Dan kemungkinan Jimin akan melakukan hal bodoh sangat besar saat ini."
Ucapan panjang Yoongi mendiamkan semuanya. Kecuali dengung air conditioner di pojok ruangan. Ah, juga suara wanita pembawa acara dari televisi.
x
x
x
Jimin terbangun pagi hari tanpa seseorang pun berada di sisinya. Ia mengucek matanya dan menggapai ponselnya yang berada di atas nakas.
Pukul 07.40
Ah, ia terbangun cukup siang. Apa yang lain meninggalkannya sarapan? Tetapi tidak mungkin juga. Mungkin Taehyung atau Seokjin Hyung sedang membawakan ia sarapan. Jimin tidak ingin terus merepotkan semua orang, maka dengan mata yang menahan kantuk ia masuk ke kamar mandi. Membasuh wajah dan menyikat gigi.
Ia memutuskan untuk tidak mandi terlebih dahulu. Bukan karena malas, namun lebih pada tidak ingin melewatkan sarapan pagi yang biasanya disediakan di bagian barat hotel, di ruangan terbuka dan langit sebagai atapnya. Siapa tahu Hyungnya yang lain sedang berada di sana atau barangkali sedang meminta layanan antar ke kamarnya. Pada akhirnya Jimin hanya mengganti sweater yang dikenakannya dengan t-shirt putih polos dan memakai beanie hut untuk menutupi rambutnya yang berantakan khas orang bangun tidur.
Ia melangkahkan kakinya ke sisi barat hotel. Mencari keberadaan Hyungnya di antara orang-orang asing.
Dan di sudut dekat pagar pembatas ia melihat Yoongi dan Namjoon tengah duduk berhadapan dengan Bang PD, Sejin dan salah seorang pria yang Jimin tahu ia menjabat sebagai salah satu petinggi di BigHit, juga salah satu pria asing yang tidak Jimin ketahui siapa. Mungkin salah satu perwakilan investor. Entah. Jimin tidak berniat untuk menguping sebenarnya, namun entahlah ia merasa ia harus bersembunyi.
Dengan langkah mengendap ia mendekat ke arah mereka. Beruntunglah mereka terlihat begitu sibuk dan kebetulan tubuh Jimin yang kecil membuatnya tersamarkan oleh postur orang-orang Amerika yang tinggi menjulang itu.
Ia memilih untuk mendekat sampai batas yang aman. Ia menyembunyikan dirinya di balik pot tanaman yang tinggi dan memasang telinganya lekat-lekat.
"Aku mohon pertimbangkan kesehatan Jimin." Itu suara Namjoon.
"Namjoon-ah, ini bukan kemauanku. Di sini banyak pihak terlibat dan tidak mungkin kita membatalkan mini konser kita." Balas petinggi itu.
Bang PD menyesap cangkirnya, "Bujuklah Jimin."
"Ia sedang sakit," itu suara Yoongi, "tolonglah untuk mempertimbangkan saranku."
"Kau mau membuat lagu baru asal Jimin tidak perlu ikut konser begitu?" Tanya Sejin.
Jimin mengetatkan pegangannya pada tepian pot, menunggu jawaban Yoongi.
"Ya. Aku akan membuat satu atau dua lagu baru. Kami akan berlatih sebelum konser, sekeras mungkin. Tapi jangan paksakan keadaan Jimin."
Mata Jimin terbelalak. Apa-apaan dengan satu atau dua lagu baru? Orang gila mana yang bisa membuat satu atau dua lagu dalam kurun kurang dari seminggu dan mementaskannya di hadapan banyak orang.
"Kami akan bekerja sama. Kami akan bekerja lebih keras, tapi tolong pertimbangkan keikutsertaan Jimin," Namjoon mulai meyakinkan, "Hoseok dan Taehyung pun sudah mulai berlatih untuk perform. Kurasa satu minggu waktu yang cukup banyak untuk kami semua berlatih lagu baru sebelum mini konser itu."
Namjoon mengatakan sesuatu yang mustahil. Jimin tahu semua orang sama tertekannya. Dan apa-apan dengan semua ini? Jika anggota lain bahkan Hoseok dan Taehyung yang terluka saja siap berlatih lebih keras agar Jimin tidak perlu ikut, maka akan sangat tidak tahu diri jika Jimin tetap memikirkan perasaannya sendiri dan tidak melihat perjuangan anggota lain.
"Anggaran budget kita semakin menipis jika terus tinggal di sini dan terlebih ARMY sudah terlalu lama menunggu kepastian dari agensi. Separuh dari penjualan tiket sudah direfund, butuh waktu untuk merefund sebagian lagi dan kekecewaan mereka tidak akan hilang begitu saja setelah uang mereka kembali," petinggi itu mulai bicara, "sebagian mungkin akan mengerti. Namun berita mengenai Jungkook sudah berembus bahkan berita burung seperti Bangtan akan bubar jika tidak ada vokalis utamanya mulai menjadi buah bibir di Korea."
"Dan mini konser itu akan diadakan paling lambat lima hari dari sekarang, kami sudah mengshare beritanya dan penjualan tiket esok hari pukul delapan malam. Mungkin terlampau mendadak, tapi lebih cepat lebih baik sehingga kalian bisa cepat pulang ke Korea dan memperkecil pengeluaran kita di sini." Terang pria asing itu.
"Kami berlima bisa." Namjoon berujar meyakinkan.
"Kami mengenal ARMY, mereka akan mengerti walau kami tidak melakukan mini konser sekalipun. ARMY adalah fans yang luar biasa, mereka tidak akan menyalahkan siapapun." Yoongi menimpali.
"Namun kami pun paham mengenai kondisi agensi. Kami setuju untuk melakukan mini konser di tengah kondisi mental para anggota yang sedang tidak baik, tapi tolong pertimbangkan tentang Jimin." Namjoon mulai kehabisan akal.
Tanpa diduga Yoongi bangkit, membungkukkan badannya 45 derajat dan berujar penuh harapan, "Kumohon. Kumohon, Bang PDnim. Buat orang-orang itu mengerti."
"Yoongi-ya." Sejin terlihat terkejut melihat Yoongi yang memohon.
Bang PD sudah akan mengeluarkan perkataannya, ia pun setuju untuk mengistirahatkan Jimin mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan. Bahkan ia sudah bicara pada berbagai pihak agar mengerti kondisi artis mereka saat ini. Namun begitu banyak tuntutan dari pihak investor yang akhirnya membuat ia menyetujui adanya mini konser terakhir sebelum mereka vakum dari tour dunia mereka selama 3 bulan sembari melihat kondisi Jungkook ke depannya.
"Baiklah, kupikir …"
Perkataannya terpotong karena melihat Jimin berjalan dengan terburu ke arah mereka. Wajahnya memerah. Dengan kasar ia menyentak tubuh Yoongi.
"Apa yang Hyung lakukan?" Semburnya marah, "jangan memohon demi aku. Jangan mengemis pada orang-orang yang hanya memikirkan uangnya itu demi aku. Kau tidak boleh melepas harga dirimu yang selalu kau junjung tinggi-tinggi."
Jimin merasa matanya panas. Ia tidak suka melihat Hyungnya memohon sampai seperti itu. Tidak ada yang boleh merendah demi dia, tidak boleh. Siapapun tidak boleh berkorban lagi untuknya. Jimin sudah bertekad dan berjanji bahwa pengorbanan Jungkook tempo hari adalah pengorbanan terakhir demi dirinya.
Mulai sekarang, Jimin sudah berjanji bahwa ialah yang akan berkorban untuk orang-orang di sekelilingnya. Demi orang orang-orang yang dicintainya, jika memang ada yang harus mati sekalipun: biar dia saja.
"Aku akan konser. Aku akan ikut mini konser itu."
Pandangan mata Jimin menegas, nyalang memandang ke arah matahari pagi hari. Sementara di dalam hatinya badai memporak-porandakan segala yang tersisa.
Harapan dan kecewa menenggelamkan jiwanya hingga karam.
x
x
x
Seokjin nampak kusut ketika Jimin sekaligus Yoongi dan Namjoon kembali.
"Jimin, astaga kau kemana saja?" Seokjin menangkup wajah Jimin, "aku khawatir."
Jimin tersenyum kecil, "Aku baru saja sarapan bersama Hyungnim. Ah, aku mau mandi dulu." Segera ia masuk ke kamar mandi.
Beruntunglah Jimin sudah diajari bagaimana caranya memasang ekspresi palsu. Seolah bahagia meski tidak. Ternyata pelajaran makro dan mikro ekspresi yang dulu ia pelajari sebelum debut ada gunanya. Sayangnya, Hyungnya yang lain pun mempelajarinya. Dan mereka tahu Jimin tengah menipu mereka. Seperti ia menipu seluruh dunia di hadapan kamera ketika ia gagal di tes vokalnya ia bisa tertawa di depan kamera, merekam vlog seolah ia baik-baik saja.
"Apa yang terjadi?" Selidik Seokjin.
"Hyung dari mana saja?" Yoongi bertanya ketus, "anak itu terbangun dan mendengar pembicaraanku dengan PDnim."
Seokjin terkejut, "Sungguh?"
"Ya," Namjoon menyahut, "dan parahnya ia malah setuju untuk bergabung di mini konser."
"Aku tadi sedang membawakan sarapan untuk Taehyung dan Hobie yang sedang berlatih sebelum berniat membawa sarapan untukku dan Jimin. Kupikir tidur Jimin nyenyak sekali tadi. Aku minta maaf, ini kesalahanku." Seokjin berucap sembari melirik creamy soup dan garlic bread yang ada di atas nakas, juga dua gelas susu yang masih mengepulkan uap hangat.
"Bukan salahmu, Hyung." Namjoon berujar menenangkan.
Tiba-tiba bel kamar mereka berbunyi berkali-kali, ketika Namjoon membuka pintu yang nampak adalah raut panik Sejin dan Hankyung.
"Hyung ada apa?" Yoongi bertanya dengan nada gamang yang kentara.
"Nyonya Jeon membuat keputusan medical evacuation." Ucap Sejin cepat.
Seokjin mengernyit bingung.
"Jungkook akan dibawa pulang ke Korea." Hankyung menambahkan.
Namjoon dan Yoongi langsung berlari ke kamar mereka panik, bersiap untuk mengunjungi Jungkook.
Sejin menatap Seokjin, "Tolong jaga Jimin, Seokjin-ah."
Seokjin mengangguk patah-patah.
x
x
x
Pada akhirnya Jimin pun tahu mengenai keputusan pemindahan Jungkook ke Korea. Setelah seluruh dokumen perjalanan, keputusan dan rekam medis siap, termasuk pula biaya transportasi seperti ambulance dan pesawat ditambah biaya seluruh pengobatan dan paramedis yang akan turut mengantar Jungkook telah matang dipersiapkan.
Namjoon bilang kondisi Jungkook relatif stabil meski tidak ada peningkatan, sehingga dokter Mark pun setuju. Sayangnya yang Jimin baru ketahui hari ini adalah bahwa Jungkook akan dipindahkan pagi hari tepat di hari mini konser mereka akan diadakan. Yang artinya 2 hari yang akan datang Jungkook akan pulang.
Jimin merasa seperti entahlah, ia tidak memiliki kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Sungguh ingin sekali rasanya ia menemui Jungkook. Sayangnya Nyonya Jeon masih melarang Jimin datang. Jimin paham, pasti berat untuk Nyonya Jeon. Namun ia pun menanggung beban yang sama beratnya.
"Jimin."
"Huh?"
Jimin mengerjap dan menatap Taehyung yang baru saja mendorong bahunya pelan.
"Sebentar lagi bagianmu." Bisiknya.
Mereka saat ini sedang berlatih di dalam kamar hotel hanya bermodalkan sebuah dvd player untuk berlatih vokalnya. Memang untuk mini konser mereka kali ini mereka hanya akan membawakan lagu-lagu Bangtan yang bertempo lambat, mengingat kondisi Hoseok yang masih belum pulih benar dan cedera di bahu Taehyung bahkan masih basah lukanya.
Mereka pun hanya membawakan 10 lagu dengan perkiraan konser selama dua jam yang akan banyak diisi oleh tanya jawab dan obrolan lain. Pun jumlah tiket yang dibatasi hanya 2000 kursi.
Sedangkan part yang seharusnya Jungkook nyanyikan dibagi kepada ketiga vokal lainnya. Seokjin memegang bagian terbanyak mengingat warna suara Taehyung yang berbeda dengan Jungkook dan Jimin menolak banyak bagian milik Jungkook.
Namjoon menyerahkan microphone pada Jimin karena microphonenya hanya ada 2 buah, salah satunya dipegang Seokjin. Jimin menyanyikan bagiannya sambil terpejam dan ketika Seokjin menyanyikan bagian Jungkook setelah bagiannya membuat Jimin mengernyit dalam pejam.
Meski suara Seokjin sama lembutnya dengan Jungkook namun tetap berbeda. Rasanya begitu berbeda. Suara Jungkook memiliki power yang kuat namun terdengar lembut sedangkan suara Seokjin akan menguat seiring powernya. Juga falsetto yang dinyanyikan Seokjin tidak semulus dan seringan Jungkook.
Berbeda. Ini berbeda.
"Kita istirahat dulu." Komando Namjoon sembari mempause dvd playernya.
Hoseok mengerang dan menjatuhkan kepalanya di bahu Seokjin, "Aku lelah. Rasanya tidak seperti Bangtan ya kalau menyanyi hanya sembari duduk."
Yoongi menekan keningnya, "Bersyukurlah setidaknya kau tidak perlu mendengar gerutuanku di back stage karena kelelahan menari."
Hoseok terkekeh pelan.
Taehyung, Jimin dan Namjoon terlihat sedang sibuk membicarakan lagu yang akan mereka bawakan terlihat dari cara Namjoon memegang pensil dan menandai bagian lirik lagu yang tercetak di kertas yang ada di tangannya.
"Aku kasihan pada ARMY." Ucap Hoseok tiba-tiba.
"Aku juga." Balas Seokjin.
Ia merasa sedikit tidak adil karena tiket yang begitu terbatas pada mini konser mereka kali ini memiliki harga nyaris 5 kali lipat dari tiket di seat termahal di konser mereka biasanya. Sedikit tidak adil namun nyatanya tiket mereka tetap terjual habis.
"Kita jalani saja." Yoongi bergumam.
"Seokjin Hyung." Panggil Namjoon.
Seokjin tidak menjawab namun ia menoleh menatap Namjoon menunggu ucapannya selanjutnya.
"Bagian ini Hyung saja yang bawakan, ya?" Namjoon menandai salah satu bagian yang seharusnya dibawakan Jungkook di lagu Butterfly.
"Lalu Jimin?"
Namjoon menunjuk Jimin dengan dagunya yang terlihat begitu emosional dengan napas terengah dan mata memerah. Ia menggigit bibirnya seperti sedang menahan geraman, ucapan, jeritan atau apapun itu. Di sampingnya Taehyung mengelus bahunya penuh afeksi.
"Ia sudah mencoba tapi berakhir seperti itu."
Seokjin mengangguk. Ia senang sebenarnya karena ini pertama kalinya ia mendapat bagian menyanyi terbanyak sepanjang karirnya bersama Bangtan selama ini namun tetap saja ia pun merasa tidak nyaman menyanyikan bagian yang bukan miliknya.
Suasana yang pengap mendadak pecah ketika Yoongi berujar pelan.
"Besok setelah kita gladi resik kita kan mengunjungi Jungkook." Ucap Yoongi sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Lusa konser kita dan lusa juga Jungkook akan pulang ya." Hoseok mencubit dagunya.
"Kita semua?" Tanya Seokjin sumringah membayangkan akhirnya Jimin bisa bertemu dengan Jungkook.
Yoongi menggeleng, "Nyonya Jeon masih tidak memperbolehkan Jimin datang."
"Aku bisa tinggal di depan kamarnya." Jimin menatap dengan mata penuh harap, "kumohon izinkan aku ikut kali ini."
Taehyung mengangguk, "Aku akan meminta Yura Noona bersamamu. Setidaknya kau bisa mengintip Jungkook nanti." Taehyung mengacak rambut Jimin.
Ah, mereka paham. Taehyung mencoba untuk membuat Jimin senang. Mungkin inilah saatnya bagi mereka untuk sekedar membuat Jimin kembali tertawa.
"Jungkook pasti jadi gemuk sekali kerjanya tidur terus begitu." Hoseok menyeletuk cepat.
"Aku akan senang melihat ototnya menghilang, sungguh sebagai kakak tertua aku takut ditindas olehnya melihat ia semakin berotot." Seokjin menimpali.
Tiba-tiba Yoongi berbalik menatap Jimin lekat, "Dan kau harus tahu kalau sekarang Jungkook botak. Kau bukan lagi anggota Bangtan dengan visual ketujuh, Jungkook baru saja turun satu peringkat menggantikanmu."
Jimin tersenyum kecut. Dalam hatinya yakin sekali ia masih visual ketujuh di Bangtan seperti yang biasa Jungkook kemukakan. Meski Jungkook botak sekalipun.
"Aku tidak bisa membayangkan perasaan Jungkook ketika bangun nanti, melihat otot-otot besarnya menghilang dan kepalanya yang botak. Ia bisa menangis semalaman." Taehyung membalas dan seketika mengundang tawa.
"Dan aku yang harus mendengar tangisannya semalaman. Pasti seram mendengar seseorang menangis tengah malam di kamarmu." Namjoon 'tak mau kalah.
Mereka tertawa walau pedih. Berharap diam-diam bahwa kelakar mereka akan membuat Jungkook bangun secepatnya.
"Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengan Jungkook."
x
x
x
Mereka menjalani gladi resik hingga sore hari. Semuanya berjalan lancar karena semalaman Jimin sudah mencoba menekan emosinya kuat-kuat meski berakhir dengan menangis nyaris sampai pagi mencoba membuang seluruh emosi sendu.
Beberapa kali ia mendapati pelatih mereka seolah ingin menegurnya namun selalu urung. Jimin tahu pasti wajahnya terlihat datar sepanjang gladi resik. Namun bukankah itu baik daripada ia menangis seperti latihan-latihannya beberapa hari yang lalu?
Taehyung meunjukkan tweet yang akan ia bagikan di twitter pada Jimin, "Aku merekam kalian semua dari belakang." Ujarnya.
Kami baik-baik saja. Adalah caption yang Taehyung tulis diakhiri dengan emoticon singa khasnya. Taehyung merekam ketika mereka tengah menampilkan lagu Tomorrow, tepat ketika bagian Jimin.
Jimin meringis mendengar suaranya sendiri terdengar datar tanpa emosi.
"ARMY merindukanmu, Jimin. Semua bertanya kabarmu. Kujawab kalau kau semakin gemuk tidak apa-apa?" Taehyung menyunggingkan senyum kotaknya di akhir kalimat.
Jimin mengangguk. Ia tidak membuka akun twitter mereka untuk memposting sesuatu sejak kejadian itu padahal biasanya ialah yang paling aktif di twitter.
Taehyung tahu Jimin sedikit gugup. Terlihat dari rahangnya yang menegas dan matanya yang bergetar samar memandang bangunan rumah sakit di hadapannya. Hyung-Hyung mereka berada di depan bersama manager dan beberapa petugas keamanan mereka. Ia sendiri berada di barisan paling akhir. Beberapa staff dan petugas keamanan lain mengikuti.
Bang PD sudah mengunjungi Jungkook tadi pagi, kini ia tengah sibuk mengadakan meeting dengan pihak ketiga yang mereka sewa gedungnya untuk mengadakan konser esok hari.
"Kau tidak apa?" Tanya Taehyung di samping pintu kamar Jungkook.
Jimin mengangguk dan meninju bahu Taehyung pelan, "Jangan khawatir. Lagipula ada Yura Noona bersamaku."
Yura menanggapi dengan senyuman. Ia sudah menjenguk Jungkook tadi pagi bersama Bang PD.
"Ini," Yura menyodorkan masker hitam dan id-card bertuliskan crew milik Yura, "jangan sampai Nyonya Jeon melihatmu."
Jimin menerimanya mengucapkan terima kasih dan membawa tas besar yang biasa dibawa staff dan id-card yang dikalungkan di lehernya membuat ia terlihat seperti staff lain. Bersama Yura ia mendekat ke pintu kamar Jungkook, mengintip dari kaca bening persegi panjang yang kain penutupnya disingkap Namjoon tadi.
Jimin melihatnya. Jungkook ada di sana, dengan alat-alat kedokteran terpasang di tubuhnya dan kepalanya yang terbalut perban disamarkan oleh scraft sutra berwarna coral milik Nyonya Jeon. Ada rindu yang membuncah di dadanya, juga rasa khawatir dan takut yang menyergap hingga ke sudut terdalam hatinya.
Ketika Taehyung menggenggam tangan Jungkook dan membawa dahinya menempel ke punggung tangan adik termudanya membuat kerinduan Jimin semakin membengkak. Batapa ia pun ingin mengenggam telapak tangan Jungkook merasakan bagaimana permukaannya yang halus dan hangat.
Dan ketika Seokjin mengusap pipi Jungkook hati-hati, Jimin membuang pandangannya, "Noona, kita tunggu di tempat lain saja."
Yura mengangguk mengerti dengan amat pasti, "Ayo kita tunggu di taman."
Yura mengambil tas dari punggung Jimin dan menggendongnya sebelum memegang lengan Jimin yang lemas seolah hembusan lirih angin mampu menerbangkannya bagai anai.
Kerinduan memancar kuat dari kedua iris Jimin yang redup dan kosong. Seolah separuh hidupnya yang tersisa baru saja direnggut setengahnya.
Napas yang ia hela dengan tarikan berat itu, mungkin tanda bahwa Jimin hidup mengandalkan seperempat jiwanya yang bahkan sekarang tengah merengek untuk ikut dengan seperempat bagian lainnya. Melihat kondisi Jimin yang justru semakin terlihat buruk setelah melihat Jungkook membuat Yura merasa hatinya tersengat kuat.
x
x
x
Jimin tengah bersiap di back stage. Para staff sedang sibuk hilir mudik menyiapkan penampilan mereka. Meski mereka hanya membawakan 10 lagu dan bahkan hanya satu kali berganti pakaian, namun tetap saja suasana back stage sesibuk biasanya.
ARMY sudah memasuki area mini konser sekaligus fanmeeting, mereka duduk sesuai dengan tiket yang mereka beli. Tempat duduknya kali ini dibuat dalam susunan memanjang bertingkat. Panggungnya pun relatif kecil dan hanya berbentuk persegi panjang. Ada layar besar di belakang dan kiri-kanan atas. Saat ini mereka masih menonton musik video yang diputar sembari menunggu Bangtan siap.
Jimin menghela napas, dalam hatinya masih teringat pada Jungkook yang tadi pagi terbang ke Korea. Apa ia baik-baik saja? Apa kondisinya memburuk? Apa ia sudah masuk ke kamar rawat barunya? Atau apakah dan apakah yang lain. Dan satu mengapa: mengapa harus hari ini ketika mereka justru sibuk menyiapkan mini konser?
Jimin merentangkan tangannya ketika salah seorang staff memakaikannya jas berwarna hitam. Tampilan mereka kali ini formal. Dengan jas dan celana hitam juga sepatu pantofel. Tidak ada jacket macam-macam warna dan gemerlap glitter. Tidak ada make up dengan eyeliner dan eyeshadow tebal. Semuanya dimake up senatural mungkin, mengusung konsep kebersahajaan mereka tanpa Jungkook. Kecuali untuk Jimin yang memerlukan bantuan make up lebih berat seperti concealer dan bb cream untuk menutupi memar keunguan yang disebabkan Yoongi.
Ketika Jimin memasang ear-in di telinganya dan tangannya memegang microphone dengan nama Jimin tertempel di bagian bawah, Namjoon merengkuh kelima member lainnya. Tidak ada sorakan penuh semangat, tidak ada tawa. Hanya senyum dan tepukan saling menguatkan.
"Kita bisa melakukannya." Bisik Namjoon.
Tidak ada yang menjawab namun semuanya percaya dan yakin dengan apa yang diucapkan Namjoon. Sedangkan Jimin merapalkan doa dalam hati.
Maka ketika lampu stage dimatikan, mereka muncul satu persatu seiring cahaya yang menyorot. Jimin merasa takut sekaligus kerdil, gemetar seluruh tubuhnya. Seperti menghadapi konser pertama. Namun tanpa diduga, Hoseok yang seharusnya berada di belakangnya justru maju mengiringi Jimin sambil mengenggam tangannya. Seolah menyiratkan bahwa Jimin tidak sendiri.
Konser mereka berjalan lancar. Penuh haru dan air mata. Baik airmata dari member lain maupun ARMY. Namun Jimin sama sekali tidak menangis. Air matanya seolah habis menangisi Jungkook semalaman tadi. Mereka menyanyikan lagu mereka satu persatu.
Namjoon duduk di ujung barat, paling dekat dengan pembawa acara sekaligus penerjemah wanita dengan rambut dicat ungu pucat. Di samping Namjoon ada Seokjin lalu Yoongi, Taehyung, Jimin, dan di sisi timur Hoseok sebagai ujung.
Ada sesi tanya jawab yang justru berakhir sebagai sesi saling memberi semangat. Jimin merasa beruntung karena setidaknya dari yang ia tangkap walau hanya sedikit, mereka semua berjanji akan tetap mendukung Bangtan meski mereka harus vakum sekalipun. Mereka akan menunggu hingga Jungkook pulih dan Bangtan bisa meneruskan konser dunia yang tertunda.
Mereka berada di penghujung konser ketika mereka semua termasuk Bangtan menonton video Spring Day bersama-sama. Lalu disambung dengan tayangan penampilan live mereka membawakan Spring Day. Barulah Jimin merasa matanya memanas. Melihat moment kebersamaan mereka sebelum kejadian mengejutkan itu menimpa.
Sebelum mereka membawakan lagu terakhir, seorang fans yang dipilih secara acak oleh Namjoon diberikan kesempatan untuk naik ke atas panggung. Fans beruntung itu terlihat begitu muda, mengenakan kacamata dengan rambut sebahu berwarna keemasan.
Yang membuat Jimin terkejut adalah fans itu menangis tepat di samping pembawa acara, memegang microphonenya dengan jemari bergetar dan mulai bicara dalam bahasa korea, "Selamat malam, Oppadeul. Aku merasa begitu beruntung bisa berdiri sedekat ini dengan kalian. Kupikir aku akan bahagia setelah melihat kalian dari jarak sedekat ini, namun ternyata aku salah. Aku sangat bahagia tapi aku juga sedih."
"Ada apa? Hei, jangan menangis." Namjoon menjawabnya.
"Kalian tidak baik-baik saja, Oppa. Jadi berhentilah untuk mencoba terlihat baik-baik saja. Aku-maksudku ARMY juga tidak keberatan berbagi kesedihan. Aku tahu kalian semua sedih bahkan mungkin lebih sedih dari kami, tapi jangan membohongi kami, Oppa." Wanita itu menggusap sudut matanya menggunakan tisu yang diberikan si pembawa acara.
"Kami memang baik-baik saja. Lihat?" Kali ini Taehyung yang menimpali.
"Aku mengikuti les bahasa Korea agar jika suatu saat nanti bisa bertemu dengan Oppadeul aku bisa bicara banyak hal. Aku masih SMP, mungkin aku tidak mengerti banyak hal. Tapi aku lihat kalian berbohong. Dan Jiminie Oppa," tangis gadis kecil itu pecah, "aku melihat Oppa seperti bukan Jiminie Oppa yang biasanya. Kalau Oppa sedih, nangis saja. Kalau Oppa ingin marah, marah saja. Jangan seperti ini Oppa. Jangan pura-pura."
Jimin terdiam. Hoseok sibuk menenangkan tangisan gadis itu. Jimin tidak mendengar apapun yang gadis itu ucapkan kecuali satu hal:
Jika ada satu ton beban yang harus dipikul. Terasa berat jika dipikul sendiri namun Bangtan bertujuh. Juga ARMY ada jutaan di seluruh dunia, jadi ayo kita pikul beban itu bersama-sama.
Maka ketika lagu 2! 3! Sebagai lagu terakhir dinyanyikan, Jimin mencoba menyanyikannya sebaik mungkin. Berusaha tidak mengingat Jungkook dan kejadian menyedihkan seperti pada lagu-lagu sebelumnya.
Namun ketika suara dalam milik Taehyung menyanyikan, "Gwaenchanha ja hana dul set hamyeon ijeo seulpeun gieok modu jiwo nae soneul japgo useo."
Dan Seokjin meneruskan dengan lembut, "Gwaenchanha ja hana dul set hamyeon ijeo seulpeun gieok modu jiwo seoro soneul japgo useo."
Bagian Jungkook kali ini akan dibawakan Jimin, maka Jimin membuka mulutnya dan, "Geuraedo joheun nari apeu …" suaranya menghilang.
Bukan itu bukan suara Jungkook. Jimin merasa begitu gagal dan sekelebat memori wajah Jungkook yang mengernyit nyeri muncul di kepalanya.
Namun, "… manhgireul nae mareul mitneundamyeon hana dul set, mitneundamyeon hana dul set." Semua member termasuk rapper line sekalipun meneruskan bagian Jimin.
Dan ARMY juga.
Maka ketika Taehyung mendekat, mendekapnya dalam dekapan erat dan membiarkan Jimin menangis di bahunya. Suara-suara itu masih menyanyi serentak meski berat, tersendat, susah dan kepayahan menahan isak. Namun semuanya terus berusaha untuk bernyanyi seolah menunjukkan bahwa Jimin tidaklah sendirian.
Berharap dalam hitungan ketiga: semuanya akan baik-baik saja asal mereka tetap bersama dan saling percaya.
"Geurado joheun nari hwolssin deo manhgireul nae mareul mitneundamyeon hana dul set."
"Mitneundamyeon hana dul set."
"Mitneundamyeon hana dul set."
Tidak ada seorang pun yang tidak menangis malam itu.
x
to be continue
x
Iya saya tau itu scene terakhirnya pas mini konser aneh banget. Ga enak dibaca, tapi mau gimana ya masa di chapter lalu masalah mini konsernya heboh di ch ini ga ditulis rasanya gimanaaa gitu. Dan pas ditulis malah jadi lebih gimanaaa gitu. Abaikan imajinasi fans yang ga pernah nonton konser tapi sok-sokan ngetik tentang konser. Aku aja ga suka scene pas konsernya kok/lha?
Many thanked to:
bxjkv, Ly379, JJKookie, SparkyuELF137, dianaindriani, ichikawa haru, uzi, pinkeualmond, Monday Kid, PikaaChuu, Unknown, Miya Vische, nindiya99, kin.naV7, dan Audrie.
(Lupy'all Babies. Oh iya, Ch kemarin aku dapet pencerahan dari salah satu reviewer, euy. Sempet jadi ga mood ngelanjutin FF ini juga tapi aku gamau nelantarin FFku lagi tapi review dari teman-teman yang lain banyak yang bikin aku jadi semangat. Makasih banyak sekali lagi, tanpa kalian aku bukan siapa-siapa.)
Aku mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Inget jangan baca FF rated M siang-siang, tunggu minimalnya berbuka puasa gitu *eh* malah ngajarin yang sesat. Dan buat yang tidak menjalankan, aku mau bilang: sampai ketemu di ch selanjutnya. Bubye!
Lots of Love,
December D. (find me on twitter: DecemberD_ppie)
