Title : Our Love

Cast : Donghae | Eunhyuk

Genre : Romance, Sad, Hurt, Comfort, MPREG

.

*Our Love*

.

Donghae memang namja yang begitu sibuk, menomorsatukan pekerjaannya di atas apapun. Hingga tanpa ia sadari keluarga kecilnya terlupakan, kekasih hatinya telah menjauh darinya. Tapi sungguh ia tidak bermaksud seperti itu, ia hanya ingin mengembalikan kejayaan perusahaan ayahnya. Ia tidak ingin kerja keras ayahnya semasa hidupnya sia-sia begitu saja.

Berawal dari kematian ayahnya –Tuan Lee saat ia masih kuliah dahulu. Saat itu mau tidak mau jabatan CEO Lee Corporation harus turun kepada Donghwa, yang merupakan putra sulung keluarga Lee. Terlebih saat itu Donghwa baru saja menyelesaikan studi bisnisnya di London.

Tapi siapa yang tahu bahwa bakat kepemimpinan Tuan Lee tidak turun sedikitpun pada Donghwa. Ia lebih menyukai usaha menyenangkan seperti restoran keluarga yang kini dikelolanya –Grill5 Taco, daripada mengelola perusahaan ayahnya sendiri. Beruntung sang ibu mendukung keputusannya. Menurutnya, apapun pekerjaan yang dijalani dengan hati akan lebih berhasil dibandingkan jika dikerjakan dengan terpaksa.

Tapi dengan keputusan tersebut, posisi CEO menjadi kosong. Meskipun Nyonya Lee kerap kali menggantikan posisi itu dalam rapat pemegang saham, namun pada akhirnya pemegang saham mereka menjadi berkurang. Hingga akhirnya Lee Corporation yang tadinya berada di peringkat pertama dalam kerajaan bisnis di Korea Selatan dan menempati posisi 10 besar dalam perusahaan paling berpengaruh se-Asia, mulai terlupakan. Tergantikan oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya.

Namun Donghae tidak tinggal diam. Ia tidak ingin kerja keras ayahnya semasa hidup hancur begitu saja. Karena itu, Donghae yang saat itu sudah menikah dengan Eunhyuk segera mengambil kelas percepatan hingga ia bisa lulus dari SNU lebih cepat. Dan saat itu Eunhyuk begitu mendukung Donghae, menemani suaminya dalam setiap aktivitas padatnya, termasuk saat awal-awal Donghae memegang kendali Lee Corporation sebagai CEO. Meskipun sulit, namun berkat dukungan Eunhyuk yang selalu menyemangatinya, akhirnya Donghae berhasil membawa Lee Corporation kembali ke masa jayanya. Dan hal itu pula yang membuat Donghae melupakan istrinya, bahkan ia lupa siapa yang berada dibalik keberhasilannya kini.

Tok! Tok! Tok!

"Ya!"

Pintu berbahan kaca tebal itu terbuka saat Ryeowook mendorongnya pelan. Ia memasuki ruang kerja atasannya sambil membawa sebuah dokumen kuning di tangannya.

"Sajangnim, ini proposalnya" ucapnya sopan sambil meletakkan dokumen tersebut di atas meja –menghadap Donghae.

Donghae membaca sekilas dokumen tersebut kemudian membubuhkan tanda tangannya di tempat yang disediakan dan mengembalikannya pada Ryeowook.

"Kenapa kau masih disini?" tanya Donghae karena Ryeowook tidak kunjung pergi setelah ia mengambil dokumen yang sudah ditandatangani olehnya.

"Ehm, sajangnim. Anda... Maksudku, apa Nyonya Lee sudah kembali? Anda berhasil membawanya pulang?"

Donghae menghela nafas pelan dan meletakkan pulpen yang dipegangnya sejak tadi.

"Tidak. Dia benar-benar membenciku sekarang. Sepertinya kami memang harus berpisah, aku ingin ia bahagia"

"Tapi, sajangnim anda harus mempertahankan pernikahan anda. Maaf jika saya lancang, tapi melihat bagaimana Eunhyuk-ssi dulu mempertahankan semua ini, mungkin kali ini giliran anda yang mempertahankan semuanya"

Donghae kembali menghela nafas pelan dan mengeluarkan sebuah amplop coklat yang baru diterimanya.

"Ia sudah melayangkan gugatan cerai padaku, ia juga sudah menandatanganinya. Bukankah itu berarti ia sudah benar-benar menyerah dengan pernikahan ini? Sekarang aku tidak lagi memikirkan pernikahan kami, aku hanya ingin ia bahagia, Ryeowook-ah. Termasuk jika itu perceraian"

"Sajangnim, selama kau belum menandatangani surat itu, perceraian tidak akan terjadi. Kurasa masih ada masa depan yang lebih indah untuk pernikahan kalian daripada sebuah perceraian"

Donghae termenung, memikirkan ucapan asistennya itu. Memang benar, tapi apakah ia bisa melakukannya? Apa ia bisa mempertahankannya? Selama ini segala hal yang ia lakukan berhasil karena ada Eunhyuk disisinya, tapi sekarang ia harus melakukannya seorang diri demi mendapatkan kembali hati istrinya.

Donghae kembali menghela nafas lelah. Ini semua membuatnya pusing.

.

*Our Love*

.

Akhir minggu kembali datang. Dan Donghae kembali datang ke rumah orangtuanya, berniat menjemput sang istri. Ia tahu gugatan cerai sudah berada di tangannya, tapi tidak ada salahnya kan jika ia berusaha lagi sampai titik terakhir?

"Mereka pergi ke restoran milik Tuan Muda Donghwa setiap Minggu" ujar penjaga rumah ibunya.

Donghae mengangguk mengerti dan beranjak masuk ke mobilnya, melajukan mobil sport-nya membelah jalan raya Seoul yang cukup padat di hari Minggu ini. Menuju restoran milik kakaknya yang berada di Hongdae.

Butuh waktu setengah jam hingga Donghae sampai disana. Grill5 Taco. Cukup ramai untuk Minggu pagi ini. Restoran dua lantai itu bahkan sudah dipenuhi pembeli. Antrian mobil yang berjejer di lahan parkir membuat Donghae memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Lagipula dari sini ia bisa melihat dengan jelas Donghwa, Ibu, juga istrinya yang sibuk di dalam sana. Turut membantu melayani pelanggan yang membludak.

Donghae hendak melajukan mobilnya, memutuskan untuk pergi dari sana karena sepertinya keadaan di dalam terlalu ramai untuk mengajak istrinya pulang. Namun matanya menangkap anak kecil yang berlari memasuki restoran ramai itu, sementara di belakangnya seorang wanita –mungkin ibunya, menyusul sang anak yang sudah menghilang di balik pintu masuk restoran.

Dan Donghae melihat anak kecil tersebut berlari menuju antrian kasir, ia juga melihat istrinya berada disana. Berjalan pelan sambil membawa nampan berisi piring kotor bekas makan pelanggan. Dan semua terjadi begitu cepat. Anak kecil tersebut tidak sabaran karena Eunhyuk yang berada di depannya berjalan sangat lama –menurutnya. Hingga anak kecil itu menyalip Eunhyuk dari samping dan membuat istrinya itu terhuyung membentur meja di sampingnya.

Seketika suasana restoran itu menjadi panik. Terlebih melihat raut kesakitan dari wajah istrinya juga keadaan istrinya yang sedang hamil tua membuat seisi restoran berseru khawatir. Donghae segera turun dari mobil dan berlari panik memasuki restoran, bersamaan dengan ibunya yang menghampiri Eunhyuk dengan khawatir.

"Gwaenchanha?" tanya Donghae panik setelah tiba di hadapan istrinya.

Eunhyuk terkejut dengan kehadiran Donghae disana, namun keterkejutannya tertutupi dengan rintihan kesakitan yang keluar dari bibirnya. Tidak hanya Eunhyuk, ibunya dan juga Donghwa terkejut dengan kehadiran Donghae yang secara tiba-tiba itu.

"Agassi, duduklah" ucap seorang pembeli yang berdiri, memberikan kursinya untuk ditempati Eunhyuk.

Donghae menggumam terima kasih kepada pembeli tersebut dan membantu Eunhyuk duduk disana. Sementara Eunhyuk masih memegang pinggangnya yang berdenyut sakit dengan tangan kanannya mengusap perut buncitnya yang ikut terasa ngilu. Sepertinya bayi kecilnya terkejut karena guncangan tadi hingga perutnya ikut terasa sakit padahal ia yakin sekali yang terbentur meja hanya pinggangnya, perutnya aman karena ia langsung menahan dengan tangannya tadi.

"Appo" ringis Eunhyuk pelan.

Sementara sang anak kecil yang menyebabkan semua ini sudah berkaca-kaca, nyaris menangis melihat raut kesakitan Eunhyuk. Terlebih ia baru sadar saat melihat perut besar Eunhyuk, ia tahu di dalam sana ada adik bayi yang juga kesakitan karena tindakannya tadi.

Eunhyuk menahan ringisannya, melihat wajah anak kecil itu yang sudah memerah –bersiap untuk menangis.

"Aigoo, adeul. Jangan menangis. Ahjumma baik-baik saja" ucap Eunhyuk pelan.

Tapi sepertinya ucapan Eunhyuk tidak menenangkan anak kecil itu, anak kecil itu justru menangis kencang dan berhambur memeluk ibunya yang berada disana.

"Ah, Agassi. Anda baik-baik saja? Maafkan kenakalan anak saya" ucap ibu dari anak tersebut.

"Ne, nan gwaenchanha" ucap Eunhyuk menenangkan ibu dari anak itu juga seisi restoran yang masih memperhatikannya, dan tentu saja suami serta keluarganya yang berada disana.

Tapi Donghae tahu Eunhyuk hanya menenangkan mereka semua, karena sejak tadi tangan kiri Eunhyuk terus menekan pinggangnya sementara tangan kanannya mengusap perut buncitnya, seakan meredakan rasa sakit disana.

"Kita ke rumah sakit saja" ucap Donghae cemas.

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja" tolak Eunhyuk halus.

"Jangan berbohong. Aku tahu kau tidak baik-baik saja"

"Ne, Hyukkie-ya. Eomma rasa Donghae benar, kita ke rumah sakit saja. Benturannya tadi cukup keras, eomma takut itu akan berdampak pada kandunganmu" ucap Nyonya Lee.

Akhirnya Eunhyuk mengangguk pasrah untuk dibawa ke rumah sakit. Sebenarnya pinggangnya benar-benar sakit, juga perutnya yang terus berkontraksi sejak tadi. Donghae dan Nyonya Lee memapahnya perlahan menuju mobil Donghae yang terparkir di tepi jalan. Sementara Donghwa tetap di restoran, menenangkan seluruh pelanggan terutama ibu dari anak kecil itu yang berkali-kali meminta maaf.

"Akhh"

Eunhyuk kembali meringis saat di dalam mobil. Donghae yang mengendarai kemudi mobil sesekali melirik ke belakang, melihat istrinya yang masih saja kesakitan, berbanding terbalik dengan ucapannya tadi saat di restoran. Sementara Ibunya yang ikut dengannya sibuk menenangkan Eunhyuk yang terus meringis memegang perutnya.

"Donghae-ya, tolong lebih cepat. Sepertinya keadaan Eunhyuk tidak baik" ucap Nyonya Lee panik setelah ikut memegang perut Eunhyuk. Sebenarnya sejak tadi ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan keadaan menantunya ini. Ia juga melihat bahwa hanya pinggang Eunhyuk yang terbentur, tapi sejak tadi Eunhyuk terus mengusap perutnya kencang. Dan benar saja, perut Eunhyuk terasa tegang dan kencang saat ia pegang.

Donghae sekali lagi melirik ke belakang, kemudian ia menginjak kuat pedal gasnya. Jalan raya yang ramai di hari Minggu membuat mereka baru tiba di rumah sakit terdekat 20 menit kemudian.

Eunhyuk segera ditangani oleh dokter sementara Donghae dan Nyonya Lee menunggu di luar.

"Eomma terkejut kau berada disana tiba-tiba" ucap Nyonya Lee.

"Aku datang ke rumah pagi tadi, tapi Paman Shim bilang kalian berada di Taco setiap Minggu"

"Maaf telah menamparmu hari itu, tapi eomma benar-benar kesal dengan sikapmu saat itu"

"Gwaenchanha. Aku pantas mendapatkannya" ucap Donghae sambil menyentuh pipi kirinya. Bekas tamparan ibunya memang sudah hilang. Lebam dari tinjuan hyung-nya juga sudah pudar. Tapi ia masih bisa merasakan ngilu saat tulang pipinya disentuh. Sepertinya Donghwa benar-benar menggunakan seluruh kekuatannya saat meninjunya hari itu.

Drrrttt.. Drrrttt..

Donghae melirik ponselnya yang bergetar, menandakan panggilan masuk dari asisten pribadinya –Kim Ryeowook.

"Yeoboseyo.."

"..."

"Aku tidak bisa, batalkan saja. Katakan pada mereka ada hal yang mendesak dan aku tidak bisa datang"

"..."

"Batalkan! Istriku masuk rumah sakit dan aku tidak bisa kesana!" –Pip.

"Donghae-ya, kau ada janji? Pergilah. Biar Eunhyuk eomma yang urus. Nanti jika terjadi sesuatu eomma akan mengabarimu"

"Tidak perlu. Aku sudah membatalkannya, kurasa Ryeowook bisa mengatasinya"

"Heump... Kau berubah"

"Nde?"

"Ya, kau berubah. Sebelumnya kau tidak pernah membatalkan janji apapun itu, apalagi dengan klien hanya untuk menemani Eunhyuk"

"Aku... aku bahkan tidak sadar melakukannya, aku hanya panik dan khawatir dengan keadaan Eunhyuk hingga tidak ingin meninggalkannya"

Nyonya Lee tersenyum lembut dan menggenggam tangan Donghae erat.

"Mendiang appa-mu pasti bahagia disana melihat perusahaan yang didirikannya dengan susah payah kini begitu maju ditanganmu. Tapi ingatlah, dulu appa-mu juga pernah membawa perusahaan menjadi sesukses sekarang. Tapi dulu appa-mu tidak pernah meninggalkan keluarganya. Ingat, dulu kita selalu punya waktu bersama meskipun appa-mu sibuk. Ia selalu menyempatkan diri bermain denganmu atau Donghwa. Itu semua karena ia tidak ingin kehilangan waktunya dengan keluarga. Jadi, eomma ingin kau seperti appa-mu. Demi Eunhyuk juga calon bayi kalian nanti"

Sekilas Donghae mengingat kenangan masa kecilnya bersama sang ayah. Ayahnya memang sibuk, tapi ia selalu pulang tepat waktu. Ayahnya selalu menyempatkan waktu untuk bermain bersama mereka, membacakan dongeng sebelum tidur, bahkan menemani ia dan Donghwa tidur. Tapi yang ia lakukan sekarang berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan ayahnya dulu.

"Eunhyuk sudah mengirimkan surat cerai padaku, eomma" ujar Donghae pelan.

"Kau sudah menandatanganinya?"

Donghae menggeleng pelan.

"Belum, aku masih ingin mempertahankannya. Tapi jika memang ia lebih bahagia jika kami berpisah, maka aku akan mengabulkan perceraiannya" sahut Donghae lemah.

"Eomma setuju dengan perceraian kalian. Tapi jika kau mau berusaha memperbaiki semuanya, eomma akan lebih senang lagi. Tunjukkan keseriusanmu padanya, eomma tahu ia juga terpaksa berpisah denganmu, tapi eomma juga tahu ia ragu denganmu"

.

*Our Love*

.

Eunhyuk terbangun di tengah malam karena rasa kering pada tenggorokannya. Ia memang sering terbangun tengah malam untuk meminum dua-tiga teguk air putih. Biasanya ia selalu menyediakan segelas air putih di meja nakas, tapi sepertinya sebelum tidur tadi ia lupa menyiapkannya. Dulu Donghae yang selalu menyediakan air putih untuknya, karena Donghae sangat paham dengan kebiasaannya yang satu ini. Tapi itu dulu 'kan? Sekarang ia tidak bisa mengandalkan suaminya itu. Toh, perceraian mereka akan segera terjadi.

Eunhyuk memutuskan keluar dari kamar dan dengan langkah terseok-seok ia berjalan menuju dapur. Seluruh lampu ruangan sudah diredupkan membuatnya harus ekstra berhati-hati saat berjalan.

"Kau membutuhkan sesuatu?"

Pranggg!

Sebuah suara dari belakang mengejutkan dirinya hingga tanpa sengaja gelas kaca ditangannya terlepas dan pecah membentur lantai.

"OMO!"

Eunhyuk berbalik dan lagi-lagi ia harus terkejut mendapati Donghae berdiri disana.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu" sesal Donghae.

"Eoh, ehm. Gwaenchanha" sahut Eunhyuk pelan.

Eunhyuk berusaha berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca yang mungkin akan melukainya jika tidak segera disingkirkan. Tapi perutnya yang besar menyulitkan dirinya saat berjongkok dan Donghae menyadari hal itu.

"Biar aku saja. Kau berdiri disini saja" ucap Donghae sambil membantu Eunhyuk kembali berdiri dan membawa namja yang masih berstatus sebagai istrinya itu berdiri menjauh dari pecahan kaca itu.

Eunhyuk mengelus perutnya yang terasa sedikit ngilu karena ia berusaha jongkok tadi, sementara Donghae sudah memasukkan pecahan kaca tersebut ke dalam kantong plastik dan membuangnya ke tempat sampah.

"Perutmu baik-baik saja?" tanya Donghae sambil mengambil gelas baru untuk Eunhyuk dan menuangkan air putih pada gelas tersebut.

"Ya, sudah lebih baik"

"Bagus kalau begitu. Ini" ucap Donghae seraya memberikan segelas air putih tersebut pada Eunhyuk.

"Gomawo"

"Hmm, kembalilah ke kamar. Kau masih harus banyak istirahat, ingat pesan dokter" ingat Donghae.

Ya, kejadian tadi siang saat di restoran membuatnya harus banyak berbaring. Dokter mengatakan benturan di pinggangnya tidak berakibat fatal untuk kandungannya, tapi sedikit guncangan membuat kandungannya berkontraksi dan mengharuskan Eunhyuk untuk bedrest selama beberapa hari.

Donghae mengantar Eunhyuk kembali ke kamar dengan membawa segelas air yang sudah ia isi lagi. Ia takut Eunhyuk kembali terbangun nanti dan mencari minum lagi, jadi ia menyiapkan segelas air dan meletakkan di meja nakas.

"Kau tidur dimana?" tanya Eunhyuk tiba-tiba mengingat di rumah ini hanya ada tiga kamar. Kamar ibunya, kamar Donghae yang kini ditempatinya, dan kamar Donghwa di lantai atas. Dulu saat ia tinggal disini, ada satu kamar di lantai atas di sebelah kamar Donghwa yang ia tempati. Tapi sekarang kamar tersebut telah diubah Donghwa menjadi ruang kerja untuk namja itu.

"Aku bisa tidur dimanapun, kau tidak perlu khawatir" sahut Donghae dengan senyum lembutnya yang sudah sangat lama tidak dilihat Eunhyuk.

Eunhyuk ingin menahannya, namun kemudian ia membiarkan Donghae keluar dari kamar. Mengingat mereka akan segera bercerai sebentar lagi, rasanya ia tidak perlu terlalu perhatian pada Donghae.

Tapi tetap saja, beberapa menit mencoba memejamkan matanya nyatanya tidak dapat membuat Eunhyuk kembali terlelap. Kekhawatirannya tidak bisa ia tutup-tutupi. Di luar pasti dingin, memikirkan Donghae tidur tanpa selimut ataupun bantal membuatnya juga tidak bisa tidur. Akhirnya ia menyerah.

Eunhyuk kembali keluar dari kamar, kali ini ia berjalan menuju ruang tamu dan menemukan Donghae berada disana. Berbaring memeluk dirinya sendiri. Dugaannya tepat, disini cukup dingin. Terlebih sofa panjang yang ditempati Donghae tidak cukup untuk panjang tubuhnya, Donghae harus menekuk kakinya agar muat berbaring di sofa tersebut.

"Donghae-ya" bisik Eunhyuk pelan sambil sedikit mengguncangkan pundak namja itu.

Donghae yang memang tidak bisa tidur segera membuka matanya saat mendengar bisikan halus serta sentuhan di pundaknya.

"Eoh? Kau butuh sesuatu?"

"Ani. Tidurlah di dalam. Disini dingin"

"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa tidur disini. Jja, masuklah. Disini dingin" suruh Donghae.

"Karena itu, tidurlah di dalam. Aku tidak mau kau sakit karena tidur dalam udara dingin seperti ini" ucap Eunhyuk cemas.

"Hmm... Arra" putus Donghae karena dirasa ia tidak bisa melawan Eunhyuk. Eunhyuk pasti akan tetap memaksa dan mereka tidak akan tidur sebelum Donghae mengiyakannya.

Akhirnya keduanya berbaring di tempat tidur yang sama. Meski dengan sedikit jarak dan rasa canggung menyelimuti keduanya, tapi dalam hati Donghae bersyukur karena Eunhyuk masih sangat mencintainya. Istrinya masih memberikan perhatian padanya.

Donghae nyaris terlelap saat dirasanya aura gelisah dari namja yang berbaring disampingnya. Eunhyuk sejak tadi tidak berhenti bergerak. Sebentar berbalik ke kanan, sebentar ke kiri. Sepertinya namja itu tidak nyaman.

"Kau tidak bisa tidur? Kau tidak nyaman karena aku ada disini?" tanya Donghae sambil berbalik menatap Eunhyuk.

"Aku mengganggumu, ya. Maaf" sesal Eunhyuk.

"Aniya. Aku akan keluar supaya kau nyaman, ya" ucap Donghae sambil beringsut turun dari tempat tidur. Eunhyuk segera menangkap tangannya sebelum Donghae benar-benar keluar dari kamar.

"Jangan! Aku hanya tidak bisa menemukan posisi yang nyaman untuk tidur, bukan karena kehadiranmu disini. Gwaenchanha, kau bisa tidur disini"

Donghae kembali berbaring disampingnya.

"Apa yang membuatmu tidak nyaman? Mungkin aku bisa membantu"

"Ehm... Perutku terasa berat. Biasanya saat tidur aku akan menggunakan bantal untuk menyangganya, tapi karena kau memakai bantal itu jadi aku tidak bisa menahannya. Bantal guling terlalu tinggi untuk menahannya" jelas Eunhyuk.

"Kemarilah" ucap Donghae pelan.

"Ne?"

Donghae membuka lengannya, membawa Eunhyuk berbaring disisinya dengan lengan kanannya sebagai bantalan untuk istrinya. Sementara perut besar Eunhyuk bertumpu pada pinggang Donghae.

"Seperti ini nyaman?" tanya Donghae.

"Ya. Tapi kalau semalaman seperti ini tubuhmu akan pegal"

"Gwaenchanha. Yang penting kau bisa tidur. Tidurlah" bisik Donghae sambil mengeratkan pelukannya sementara tangan kirinya berada di atas perut buncit Eunhyuk.

Untuk pertama kalinya ia menyentuh perut buncit Eunhyuk, menyentuh bayi kecilnya yang terlelap di dalam sana. Ada rasa menggetarkan yang hinggap di hatinya. Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan yang membuatnya mengurungkan niat untuk menandatangani surat perceraian itu. Perasaan yang membuatnya ingin menjaga namja yang telah terlelap dalam pelukannya, serta bayi yang ada di kandungannya.

"Selamat tidur" bisik Donghae amat pelan.

.

.

*TBC*