Ahahahah...
Gomen, telat update, soalnya flashdis saya hilang, harus cari pinjaman dulu -_-"
Translate projectnya sebenernya siap upload, cuma saya agak kurang yakin akan grammernya, soalnya langsung pake google translate ( teman saya menolak pekerjaan yang saya berikan T.T )
ai-haibara : ahahaha... *ikut2an ngibarin bendera (?) makasiiiiii...! udah tak upload yang translate XXD
ZephyrAmfoter : gomeeeennn telaat T.T flashdisk saya hilang, nyari2 gak ktmu,, ahirnya pinjem deehhh
Happy reading
LovEnemy 4
Disclaimer : Ierou Tanabe
Bagaimanapun, sudah sekitar lima tahun Hakubi selalu menemani gadis Yukimura itu. Ia telah melihat banyak kenangan yang terlewati. Mulai dari ketika si Sumimura itu masih berupa bocah cengeng yang tak bisa melakukan apa-apa, sampai ketika si Sumimura itu mempunyai mental dan keinginan yang kuat untuk tidak membuat gadis Yukimura itu terluka untuk yang kedua kalinya. Yah, persahabatan yang sanga kuat, sampai ahirnya gadis Yukimura itu tak menyadari bahwa bocah Sumimura itu telah menjadi separuh bagian dari hidupnya.
Tiba-tiba, Tokine berdiri. Hakubi sedikit terkejut.
"Ayo, Hakubi!" ucap Tokine lantang tanpa keraguan sedikitpun. Hakubi memejamkan matanya sejenak, dan membukanya lagi.
"Baik, Honey..."
Normal POV
Tokine berjalan cepat menyusuri sekitar Karasumori itu. Berharap menemukan apa yang ia cari, siapa lagi kalau bukan Yoshimori seorang. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, berharap segera menemukan laki-laki berambut jabrik itu.
Setelah sekian lama mengelilingi daerah itu, hasilnya nihil. Tokine mulai mempercepat langkahnya. Rasa bersalahnya membuatnya kawatir akan Yoshimori, walaupun sebenarnya ia tak tahu apa kesalahannya. Ia sangat berharap, hal itu bukanlah hal besar.
Nafas Tokine mulai memberat ketika sudah mengelilingi daerah luas itu dua kali. Ia sama sekali bingung, sekaligus jengkel, karna tujuannya tak ada dimana-mana, termasuk dimana biasanya Yoshimori berada. Tokinepun memutuskan untuk berisitrahat sejenak, meluruskan kakinya yang pegal setelah ia paksa untuk terus berjalan.
Tokine menghela nafas panjang, melepas letihnya. Tatapannya mulai tak menentu. Sesekali ia menoleh ke kanan-kiri. Hakubi yang sembari tadi mengikutinya pun merasa sediit letih juga.
Tiba-tiba, tatapannya terfokus pada sebuah kantong plastik hitam yang terlihat samar-samar di balik semak-semak belukar. Tokine langsung berdiri, tetap waspada. Perlahan namun pasti, ia mulai mendekati tempat kantong plastik itu berada. Tangannya telah siap membentuk kekkai. Namun, niatnya untuk segera menghancurkan kantong itu hilang begitu saja setelah mengetahui bahwa kantong itu hanyalah sebuah kantong plastik biasa.
Tokine langsung menghela nafas lega. Ia segera membalikan badannya, mecari Yoshimori lagi, namun tiba-tiba rasa penasaran menyerangnya begitu saja. Ia segera berbalik lagi, menatap dalam-dalam kantong itu. bentuknya tak menentu, dan tercium aroma yang sangat familiar di hidungnya.
Denga hati-hati, Tokine menyodok-nyodok kantong plastik itu dengan tenketsunya. Kantong itu tetap saja kokoh. Tokine mulai jengkel, ia menyodoknya lebih keras. Benar saja, ikatan kantong itu langsung terbuka lebar, megekspos sesuatu didalamnya.
Tokine tersentak bukan main saat mengetahui 'isi' kantong plastik itu. ia melangkah mundur, menjauhi kantong plastik itu. matanya terbuka lebar, dengan tatapan tak percaya.
"YOSHIMORI...!" teriaknya keras sambil langsung berlari meninggalkan tempat itu.
"Kau yakin, tak apa dengan cake itu...?" ucap Madarao sambil menatap sesuatu di balik semak-semak itu.
"Diamlah, Madarao...!" ucap Yoshimori keras sambil tetap menatap lurus.
Madarao terdiam mendengar ucapan Yoshimori. Ia merasa bersalah telah menayakan pertanyaan bodoh itu. Madarao menghela nafas panjang. Ia menolehkan kepalanya pada Yoshimori, dan terpampang jelas muka kusutnya. Ya, Yoshimori pasti sedang kesal.
"Aaaarrgghh!" teriak Yoshimori sambik mengecak-acak rambutnya. Kekkainya malah jadi tak stabil karena konsentrasinya sesaat teralihkan oleh hal lain di benaknya.
"Yoshimori, kalau kau tak bisa berkonsentrasi, lebih baik kau tak mengawasi Karasumori dari atas sini... kau akan terluka parah jika kau secara tak sengaja menggoyangkan kekkaimu dan jatuh...!" seu Madarao setelah melihat kekkai Yoshimori yang perlahan mulai kacau. Ya, seperti biasanya, Yoshimori sedang mengawasi Karasumori di atas gedung tertinggi sekolahnya.
Yoshimori tetap saja cuek. Ia segera mengeluarkan sebuah kotak coffemilk dari dalam tasnya, menancapkan sedotan, dan menyeruputnya dengan cepat. Madarao hanya bisa bersweatdrop melihat tingkah Yoshimori.
"Yoshimori..."
Yoshimori merasa seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke kanan-kiri, namun, yang ia lihat hanyalah udara kosong. Ia meyeruput coffemilknya lebih cepat, dan menganggap bahwa suara itu hanyalah ilusinya semata.
"Yoshimori..!"
Suara itu semakin menggema di telinga Yoshimori.
"Yoshimori!"
Yoshimori segera mencari sumber suara itu. ia mendengarkan dengan cermat. Ia menoleh ke segala arah, dan ia menemukan sesosok perempuan berbaju putih berlari kencang sambil menoleh ke kanan-kiri.
Perempuan itu sontak langsung menoleh ke atas, dan benar saja, mata keduanya bertemu.
"T..To..Tokine...?" Gumam Yoshimori pelan. Semburat merah mulai merambat di wajah Yoshimori dengan cepat, begitu pula dengan gadis itu.
"Ketsu! Ketsu! Ketsu! Ketsu! Ketsu! Ketsu!" gadis itu, Tokine, langsung membentuk beberapa kekkai ke arah Yoshimori dan melompatinya dengan lihai. Yoshimoripun semakin bingung akan sikapnya sendiri.
Setelah ia berdiri di atas kekkai yang sejajar dengan kekkai Yoshimori, Tokine berhenti. Ia menatap sejenak Yoshimori yang lebih pendek darinya, walaupun Yoshimori terlalu panik untuk menatapnya balik.
"Mau apa kau, cewek tua..!" ucap Yoshimori sambil membalikkan badannya membelakangi Tokine. Ia mencoba melupakan hal tadi untuk sementara, dan berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
" Yoshimori..." lirih Tokine pelan, namun masih bisa di dengar oleh Yoshimori. Yoshimoripun merasa luluh, ia membalikkan badannya...
'GREB!'
Dua buah tangan melingkar tepat di perut Yoshimori. Yoshimori sontak menoleh, dan matanya langsung membulat sempurna. Ia mendapati seorang Yukimura itu langsung mendekapnya erat. wajahnya ia benamkan dalam-dalam di dada sumimura sekejap, semburat merah itu menyebar di wajah Yoshimori. Coffemilk nya pun terjatuh begitu saja dari tangannya.
"A..!" kali ini, Yoshimori kehabisan kata-kata.
"Maafkan aku, Yoshimori..."
Kekkai yang dinaiki oleh Yoshimori dan Tokine kini mulai tak stabil. Pelukan erat Tokine membuat Yoshimori melupakan segalanya. Yoshimori hanya bisa terpaku di tempat, sampai ahirnya kekkainya tak mampu untuk bertahan lebih lama. Jelas saja, mereka langsung terjatuh.
"ketsu!"
Sebuah kekkai langsung membentang lebar di bawah mereka. Mereka langsung memantul di atas kekkai itu. Pelukan Tokinepun lepas begitu saja dari Yoshimori. Namun, Yoshimori tetap saja terpaku dengan tatapan kosongnya.
"Yoshimori..."
"Yoshimori..."
'BLETAAK!' sebuah pukulan mendarat sukses di kepala Yoshimori. Yoshimori yang sembari terdiam langsung terdorong ke samping akibat pukulan itu.
"Apa-apaan...!" seru Yoshimori sambil mengusap-usap bekas pukulan tadi. namun, kata-katanya terhenti begitu melihat Tokine dengan tatapan nanarnya.
"Tokine...?" gumam Yoshimori. Tokine langsung mjenundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Maafkan aku..." ucap Tokine tiba-tiba.
Yoshimori terheran-heran dengan perkataan Tokine barusan. ia mulai berhenti mengusap-usap kepalanya, dan menyamankan posisi duduknya di sebelah Tokine.
"Untuk apa?" Yoshimori bertanya sok lugu sambil menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Um..." gumam Tokine resah. Yoshimori pun semakin penasaran akan kata-kata Tokine.
"Hm...?"
"Cake itu, Yoshimori!" ucap Tokine paksa sambil menutup rapat-rapat kedua matanya. Yoshimori hanya bisa melihat wajah kusut Tokine.
'Ah.. dia tahu tentang cake itu...' gumam Yoshimori dalam hati. Ia pun menghela nafas panjang.
"Ah, tak apa, aku bisa membuatnya lagi, lain kali. haha.." Kata Yoshimori sambil memasang senyum palsunya. Tatapan Tokinepun semakin nanar dan ia merasa bersalah atas sikap Yoshimori itu.
Yoshimori langsung berdiri dari tempat berpijaknya, kamudian menmbersihkan debu-debu yang menempel di bajunya. Ia menoleh pada Tokine yang masih terduduk lemas di sampingnya.
"Berdirilah Tokine..." ucap Yoshimori sambil menyodorkan tangannya pada Tokine.
"Hm..!" jawab Tokine singkat, kemudian meraih tangan Yoshimori dan segera berdiri. Senyum kecil mulai mengembang di bibir Tokine.
"Terimakasih..." ucap Tokine pelan. Tanpa menatap Yoshimori. Yoshimori sama sekali tak membalas kata-katanya. Tokine hanya bisa menghela nafas pendek.
Perlahan-lahan seutas cahaya matahari mulai terbayang di antara kabut-kabut yang masih mengambang di langit. Tokine mulai menutupi wajahnya dengan tangan kirinya agar silau cahaya matahari tak mengenai matanya langsung. Namun, hal itu tak berlangsung lama, sampai ahirnya sorot bayangan Yoshimori menutupi cahaya matahari di depannya. Pandangannya pun perlahan-lahan tertuju pada hanya bisa menatap wajahnya yang memandang datar pemandangan di depannya.
Namun, ia langsung menoleh ketika ia menyadari seseorang menggengam tangannya semakin erat sembari tadi. Perlahan, semburat merah itu mulai merambat di wajah cantiknya. Ia tersenyum dan memejamkan matanya menghindari cahaya matahari yang semakin kuat.
'Kau bertambah kuat, Yoshimori...'
Yoshimori's POV
Seperti biasa, pagi ini kumulai dengan langkah gontaiku berangkat ke sekolah. Sesekali aku menguap melawan kantuk yang menyerangku setiap hari. Namun, aku tak bisa membantah kenyataan, bahwa aku adalah seorang kekaishi yang bekerja setiap malam membunuh ayakashi-ayakashi bodoh yang hanya memikirkan akan kekuatan semata. Tenagaku terkuras habis demi membunuh semua ayakashi itu.
Ketika aku sampai di suatu pertigaan, aku melihat seorang perempuan familiar berambut panjang. Aku langsung bersemangat untuk menghampirinya. Tokine.
"Tokine..!" aku mempercepat langkahku sampai aku sejajar dengannya. Ia tetap saja tak menoleh.
"Oiii...!" ku tambah volume suaraku. Tetap saja ia tak menoleh.
'Sial... cepat sekali ia melupakan kejadian tadi malam...?' batinku kesal. Aku hanya terdiam sambil tetap berjalan di sampingnya. Menunggu respon.
Namun, ia sama sekali tak bersuara sampai ahirnya kami berdua telah memasuki kawasan sekolah Karasumori. Ia meninggalkanku di tengah jalan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku hanya bisa merengut melihatnya dari belakang.
'Apa yang ia pikirkan...?' batinku. Aku langsung berjalan menuju gedung SMP.
Hari ini, seperti biasanya, aku melewati pelajaran demi pelajaran dengan malas. Bantal keramatkulah satu-satunya sahabat setia yang menemaniku. Walau Kurosu-sensei selalu berlalu lalang di sekitarku, toh semuanya tetap berjalan begitu saja. aku terlalu merepotkan untuk dibangunkan.
'KRIIINGGGGG...!' bel tanda istirahat berbunyi nyaring di sudut ruang kelas. Aku langsung berdiri, dan seperti biasa, Kurosu-sensei sedikit kaget. Aku langsung keluar kelas sambil menyeret bantalku. Seisi kelas hanya bisa sweatdrop melihat aktivitasku setiap hari.
Aku berjalan menuju atap sekolah, seperti biasanya. Mengistirahatkan badan dan tidur nyenyak di sana.
Aku berjalan sambil setengah tertidur. Wajar saja, pandanganku agak kabur, sampai ahirnya..
'BRUK!'
Aku terjatuh menabrak sesuatu. Aku mengusap-usap mataku, dan be6tapa terkejutnya aku melihat seorang gadis tersungkur di depanku. Aku cepat-cepat berdiri dan membantunya membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai. Setelah sebagian buku ada di tanganku, aku langsung menyerahkan padanya.
"M..maaf, ini buku..." kata-kata ku tercekat.
Aku mendapati seorang gadis yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rambutnya tergerai sebahu, wajahnya bisa dibilang cukup manis. Dilihat dari seragamnya, sepertinya dia anak SMA. Kelihatannya dia anak baru disini.
"Terimakasih..!" ucapnya sambil tesenyum manis. Semburat merah itu langsung muncul di wajahku, walaupun sedikit. ia langsung berjalan melewatiku, melanjutkan rutenya. Aku pun juga langsung memulai langkah gontaiku menuju atap sekolah.
Setelah memanjat anak tangga terakhir, seperti biasa, aku mengernyitkan dahiku melihat seosok manusia sudah merebahkan badannya mematung di sana. Walau begitu, aku tak bisa berbuat apa-apa, aku langsung merebahkan badanku di sebelahnya.
"Shishio.." sapaku pelan. Ia tetap saja tak menghiraukanku dan tetap memamdang lurus ke atas, melihat langit. Walau aku merasa teracuhkan, aku hanya bisa meredan kekesalanu dalam hati.
Aku mulai merilekskan badanku sejenak. Hembusan angin sepoi-sepoi membelai lembut wajahku. Namun, entah kenapa, aku tak dapat menutup mataku dengan mudah. Sesuatu sepertinya mengganjal mataku untuk tetap terbuka. aku berusaha mengingat-ingatnya kembali. Namun, hal itu nampaknya tak berhasil, sampai aku berusaha untuk menutup paksa mataku. Melupakan semua masalah.
Tiba-tiba, Shishio bangkit dari tidurnya. Aku sedikit kaget, sampai aku ikut terduduk.
"Mau kema.." belum selesai kata-kataku keluar dari mulutku, ia sudah pergi begitu saja dari hadapaku. Dasar kurang ajar.
Aku merebahkan badanku kembali. Toh, ia lebih baik tak disini, menghabiskan tempat saja. aku menghela nafas panjang.
"Ketsu!"
Aku membuka mataku tiba-tiba. Rasanya, aku mendengar seseorang mengucapkan kata itu. aku kembali menutup mataku. Ah, itu pasti khayalanku.
"Ketsu!"
Aku kembali membuka mataku. Bukan. Itu bukan khayalanku. Aku langsung terduduk, mencari sumber suara itu.
"Ketsu!" sesosok perempuan langsung mendarat sempurna di sampingku dari kekkainya. Oh, ternyata Tokine. Aku kembali merebahkan badanku.
"Mau apa kau cewek tua...?" ucapku malas. Raut kesal mulai tampak di wajahnya.
"Yoshimori...! Um... aku punya ide..." ucap Tokine terbata-bata.
"Hm?" ucapku sambil membuka sebelah mataku. Aku mulai penasaran atas perkataanya.
"Bagaimana kalau kita membuat kue itu lagi..?"
Mataku membulat sempurna. Membuat kue lagi? Kue apa?
"Maksudmu...?"
"Um... kue kemarin yang kujatuhkan..."
Entah mimpi apa aku semalam, kali ini aku sangat senang. Membuat berdua dengannya? Itu bagaikan mimpi yang terjadi sekali seumur hidupku.
"B..baiklah.."
"Oke..." jawabku lirih. Tokine langsung berbalik meninggalkanku.
"Tokine!" panggilku keras. Entah kenapa, panggilan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Jelas saja, Tokine langsung berbalik setelah berjalan beberapa langkah.
"Hm?"
Aku bingung harus berkata apa. Ayolah, ucapkan sepatah kata saja..!
"Dimana..?"
"Besok, di dapur SMA."
"Kau sudah minta ijin pada penjaga dapur?"
"Tentu saja, bodoh. Besok, kau bawa bahannya, oke?"
"Tak masalah..."
Tokine berbalik dan memulai langkahnya kemabali. Aku hanya bisa melihat punggungnya semakin menghilang ditelan kabut.
"Yooooooosssshhhhhhhhhh!" aku langsung berlompatan tak jelas begitu tokine tak terlihat lagi. Kali ini, aku sangat senang bukan main. Setelah capai sendiri berlompatan, aku langsung merebahkan badanku sambil mengatur nafasku yang tak karuan. Semburat merah merambat sempurna di sekujur wajahku.
Entah kenapa, bel tanda pelajaran terdengar di telingaku. Biasanya, aku mengabaikannya dan kembali ke dalam mimpi-mimpiku. Aku langsung berdiri, membenahi bajuku, dan segera berangkat ,menuju kelas. Entah mengapa, hari ini terlihat begitu menyenangkan dari biasanya.
Aku berjalan melewati koridor sekolah dengan senyuman lebar menghiasi bibirku. Ku coba menyembunyikan wajah malasku kali ini. Begitu aku memasuki kelas, aku langsung berteriak keras.
"Kon' nichiwaaaaaaa" seruku sambil melambaikan tangan pada seisi kelas. Semua anak di kelas bersweatdrop ria melihat perubahan drastis pada tingkahku.
"Hm.. mungkin itu akibatnya dia tidak meminum coffemilk pada sehari..." ucap Tabata sambil membuka lembar demi lembar buku keramatnya.
TBC
Huahahahah (?)
Selesai juga nih fic...
Btw, translate projectnya juga sudah saya upload!
Tapi pasti banya typo dan grammarnya ancur deh ^^
R E V I E W
