SWEET NOTHING

DONGHAE X HYUKJAE

Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul SWEET NOTHING karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita. Dan. Didalam Fanfic ini anggap saja seorang lelaki bisa melahirkan, dan membesarkan seorang anak.

Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi/MPREG harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.

.

.

Thank You

.

.

Happy Reading

.

.

BAB 3

You don't know a thing about me

You ain't got the night to tell me

"Mr. Know it All, Kelly Clarkson"

Kau mengetuk pintu yang lama tidak pernah kubuka.

Kening Hyukjae mengernyit saat mobilnya memasuki halaman parkir Sweet Sugar. Benar-benar padat. Ia harus berhati-hati melewati deretan mobil-mobil menuju samping bangunan. Beruntung masih ada tempat kosong dan ia memarkir mobil disana. Wajahnya menunjukkan ekspresi heran menatap halaman parkir dari kaca spion sebelum keluar dari mobil. Baru pernah ia melihat hal seperti ini di Sweet Sugar.

Hyukjae memasuki toko kuenya melalui pintu belakang bangunan tersebut yang mengarah ke pantry. Tidak seperti biasanya, ruangan itu sepi, menyisakan gelas-gelas dan piring bekas sarapan pegawai-pegawainya. Detak jantungnya lebih cepat menyadari Sweet Sugar akan menghadapi hari-hari yang lebih sibuk. Tanpa sadar, ia menggigit bibir. Ada kekhawatiran bertemu dengan Donghae.

Dengan sisa tekad, Hyukjae melangkah ke bagian depan Sweet Sugar dan matanya terbelalak melihat orang di mana-mana. Mereka memenuhi ruang display, beberapa melihat-lihat kue dan sisanya berbaris di depan meja kasih dengan sikap tidak sabar. Ia pun melihat Junsu ikut sibuk di belakang meja display, mengambil kue-kue yang diminta oleh pelanggan. Sesaat, tubuh Hyukjae terasa kaku, bingung harus berbuat apa menghadapi keramaian itu, lalu bergegas masuk ke belakang meja display dan meletakkan tasnya.

"Pagi Sweet Sugar! Mau kue apa, Nyonya?" Hyukjae menyapa ramah perempuan berpakaian rapi yang maju ke meja konter. Ia membuka satu baris antrean lagi.

Perempuan itu menunjuk ke meja display. "Saya mau mini croissant, chocolate muffin, dan chesee cake potongan. Masing-masing satu lusin, ya"

Hyukjae menunduk untuk mengambil pesanan-pesanan itu dan memasukkannya ke dalam kardus ukuran satu lusin. Ia melirik Junsu yang juga tengah menunduk di sampingnya untuk mengambil eclair. Benaknya masih merasa bingung dengan keadaan ini.

"Junsu-ya, itu semua pelanggan?" bisik Hyukjae seraya mengambil mini croissant.

Junsu memutar bola matanya. "Memangnya kau pikir siapa? Orang mengantre sembako hah?"

"Aku baru sekarang melihat pelanggan sebanyak ini, tahu!" tukas Hyukjae. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan menutup kardus, kemudian mengambil kardus yang lain untuk diisi chocolate muffin.

"Kebanyakan langganannya Donghae," bisik Junsu saat sama-sama berdiri di rak kawat mengambil muffin yang baru matang. Hangat dan manisnya menguar begitu lekkt.

"Pantas saja!" dengus Hyukjae. Ia melirik tajam ke arah dapur, membayangkan sang Chef sedang bekerja.

Kening Junsu mengerut. "Pantas apanya, Hyukie?"

Dagu Hyukjae mengarah ke pelanggan singkat. "Itu, yang datang wanita semua!" katanya dingin. "Bagaimanapun buaya tetap buaya!"

"Wanita-wanita itu saja yang mengejar dia." Bibir Junsu membentuk senyum menggoda.

Hyukjae mengangkat bahu tidak peduli. Ia melangkah cepat ke meja konter, berusaha tidak menabrak pelayan yang juga sedang bekerja. Dengan cepat tangannya menarik selotip untuk merekatkan kardus dan memasukannya ke dalam kantong plastik putih. Dibawanya pesanan ke meja kasir.

"Mini croissant selusin, chocolate muffin selusin, dan chesse cake selusin," kata Hyukjae pada Yeri yang berdiri di balik meja kasir. Ia menarik napas panjang, berusaha tidak merasakan sesaknya, dan melayani pelanggan lain yang memesan sweet corn muffin dan pie rogout ayam.

Setia. Setiap laki-laki pada awalnya memang menunjukkan dirinya setia dan berjanji akan membuat bahagia. Tapi, pada akhirnya? Tidak pernah ada kata bahagia, meninggalkannya sendiri dengan hati penuh luka, dan tidak peduli apakah dirinya masih berdaya. Hyukjae berusaha mengendalikan aliran napasnya yang mulai tersendat dan membuat kepalanya pening. Ia memasukkan dua roket kentang ke dalam kardus dan tiga risoles keju daging asap.

Merasa telinganya berdengung dan denyut dikepalanya semakin menjadi-jadi, Hyukjae menyandarkan tubuhnya ke dinding sebelum terhuyung-huyung dan ambruk. Ia berusaha menarik napas dalam-dalam. Keramaian seperti ini yang ia inginkan di Sweet Sugar, tapi ada sesuatu yang dikhawatirkannya. Kehadiran Donghae. Entah mengapa sejak laki-laki itu datang, ia diserang ketakutan tentang hal yang selama tujuh tahun tidak pernah dibukanya lagi.

.

.

.

Hyukjae menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki dapur, menguatkan diri, lalu mendorong pintu. Sesaat tubuhnya terpaku mendapati suasana dapur berbeda. Ada ketenangan dan kehangatan tersendiri yang diciptakan sang koki.

Seisi Sweet Sugar membicarakan Donghae, sampai-sampai telinganya panas. Apa yang dilihat dari seorang Donghae? Wajahnya yang tampan? Tubuhnya yang atletis? Atau cara bicaranya yang bisa menghipnotis setiap wanita? Rasa jengkel mengaliri dirinya menatap Donghae yang tengah mencatat sesuatu. Tentu saja ia belajar lama tentang laki-laki dan cinta, sehingga tidak mungkin mau terperosok ke jurang yang sama.

"Chef, ada order opera cake untuk diambil sore ini," kata Joy,salah satu pelayan, dengan suara dan sikap centil.

"Oke," jawab Donghae santai tanpa mengalihkan pandangan dari catatan.

Hyukjae mendadak bergidik ngeri melihat begitu banyak perempuan yang tergila-gila pada Donghae. Dengan kesabaran yang ditingkatkan, ia mendekati sang pelayan. "Joy, kalau ada order, lewat telepon saja. Bolak-balik buang-buang waktu!" katanya kaku pada sang pelayan.

Joy menunduk dan mengangguk. "Iya, Sanjangnim."

"Ya sudah, kembali ke ruang display. Banyak kerjaan disana." Ucap Hyukjae tak sabar.

Sang pelayan menuruti kata-kata atasannya. Masih dengan kepala menunduk, Joy keluar dari dapur. Terlihat sekilas tubuhnya gemetar melihat sorot mata Hyukjae yang tajam.

Maksud Joy menggoda Donghae sangat jelas, meskipun laki-laki itu tetap bersikap netral. Namun, netral atau tidak, Hyukjae tidak mau mengambil resiko. "Chef, saya harap kau tidak menggoda pelayang atau koki perempuan."

Jeda panjang, kemudian Donghae meletakkan pulpen dan catatannya. "Saya tidak menggoda siapa-siapa."

Hyukjae mempertajam sorot matanya. "Pokoknya saya tidak ingin masalah cinta dibawa ke dapur." Suaranya terdengar lebih pelan. "Karena saya tahu laki-laki macam apa kau itu."

Salah satu sudut mulut Donghae sedikit terangkat mendengarnya. 'Laki-laki macam saya?' ia mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada meja, "menurutmu, saya lelaki macam apa?"

"Laki-laki yang merasa punya tampang dan merasa jadi pusat idaman perempuan." Hyukjae berkata sinis.

"Oh really?" Donghae kelihatan tidak suka dengan kata-kata Hyukjae. Wajahnya mengeras dan berkata tidak kalah sinis. "You know, it feels scary—and funny at the same time—when someone judges ypu although they haven't known you really well. Dan asal kau tahu, aku tidak tertarik dengan perempuan manapun. I'm more intersted with sweet man like you."

Hyukjae tidak menanggapi. Ia tidak mau suasana dapur menjadi tidak karuan karena pertengkaran mereka. Di raihnya catatan pesanan. "Opera cake," katanya seperti bergumam, lalu melangkah ke dry store, tidak peduli lagi pada sang koki.

Di dry store, Hyukjae mengambil telur, tepung, gula dan margarin yang dimasukkannya ke dalam mangkuk besar dari stainless. Mood-nya hari ini benar-benar parah. Tapi, ia berharap, seburuk apa pun harinya, tidak mengubah hasil kerjanya.

Sebelum Hyukjae menarik pintu dry store, pintu telah dibuka lebih dulu dari luar. Ia menahah napas mendapati Donghae di sana. Gejolak emosi membuat jantungnya berdebar cepat. Ia menatap mata laki-laki itu. Sepasang mata dengan sorot yang familiar. Sorot yang bisa memorak-porandakan hatinya.

"Kau tidak jadi keluar?" tanya Donghae.

Hyukjae menahan geram dalam hatinya. Ia melewati laki-laki itu cepat sehingga bahunya bersenggolan dengan lengan Donghae. Menyebalkan! Kenapa dirinya hanya diam terpaku memandangi laki-laki itu? Diletakkanya mangkuk stainless sedikit kasar, lalu mulai mencapur bahan. Hatinya tidak bisa tenang.

Hyukjae meyadari Donghae sudah kembali ke dapur saat ia hendak membawa mangkuk stainless berisis telur, gula pasir, tepung terigu, pengembang kue, dan margarin ke stand mixer. Laki-laki itu sempat menoleh dan tersenyum padanya, tapi Hyukjae buru-buru mengalihkan matanya ke besi-besi mixer yang sedang mengaduk bahan-bahan.

Sambil menunggu adonan selesai di mixing, Hyukjae menyiapkan empat loyang dan melapisinya dengan kertas roti. Ia menyesali matanya tidak bisa dicegah untuk tidak melirik Donghae. Laki-laki itu sedang memasukkan adinan chocolate muffin ke cetekan. Tangannya melintasi cetakan-cetakan itu dengan cepat, namun tenang. Terkesan kokoh dan kuat—mampu melindungi.

Kenapa ia jadi memperhatikan tangan Donghae? Kesal dengan tingkahnya sendiri, Hyukjae segera mengangkat mangkuk stainless. Dituangkannya adonan yang telah berubah mejadi kental, berwarna kuning terang, dan berteksture lembut ke masing-masing loyang. Kemudian satu per satu loyang dimasukkannya ke oven. Ketika berbalik dari oven, matanya kembali bertemu dengan mata Donghae. Tangannya mengepal karena begitu kesalnya. Konfrontasi kecil semacam ini membuat hati Hyukjae gentar. Ekspresi tenang Donghae membangkitkan rasa yang lama tertidur dalam dirinya.

Hyukjae lekas mengalihkan perhatian dengan menyiapkan gula pasir dan vanila esens untuk membuat simple syrup. Ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya begini. Mungkin masa lalunya yang membuatnya terlalu sensitif berdekatan dengan laki-laki, atau mungkin dirinya sudah terbiasa sendiri, sehingga butuh waktu menyesuaikan diri. Dinyalakannya kompor untuk mendidihkan air. Ia menarik napas dalam, menenangkan hatinya yang resah.

Saat timer berbunyi, Hyukjae mengeluarkan kue dari oven. Harumnya selalu ia suka. Hangat dan manis. Ia membawa kue-kue itu ke rak pendingin, bersamaan dengan Donghae yang juga meletakan muffin disana.

"Makanan yang enak terbuat dari hati yang hangat," kata Donghae sambil mengamati kue yang baru diletakkan Hyukjae di rak pendingin.

Lelaki manis itu tidak menyahuti, memilih mengambil kue yang lain untuk didinginkan. Tapi, Donghae menunggunya dengan senyum memikat. Hyukjae sekuat tenaga untuk tidak peduli.

"Ini sebuah kebenaran, makanan itu mempengaruhi perasaan." Donghae bersandar pada meja dengan gaya santai dan melipat tangannya di depan dada. "Makanan bisa membuat orang senang, sedih, atau bahkan..." ia seperti berbisik "...bergairah"

Hyukjae memutar bola matanya. "Do your things, Chef."

"Mungkin kita bisa ke luar makan malam. Aku akan mengajakmu makan salmon yang dimasak dengan mint atau bawang putih dan wine." Donghae berbicara lebih pelan. "Can you imagine something so delicious and so hot?"

"Enough, Chef! Bisa kau bekerja dan tidak perlu berbicara yang tidak penting?" tanya Hyukjae tak sabar.

"Mungkin terlalu lama sendiri, Hyuk." Donghae sepertinya tidak berniat menyerah. "You need someone who can show you how beautifull you are."

Hyukjae tidak sanggup menanggapi dan meinggalkan Donghae. Ia mengeluarkan ganache yang disimpan di lemari pendingin. Tatapan penuh daya pikat dan suara yang mendayu lembut di telinganya, benar-benar menagnggu. Godaanya membuat Hyukjae mati-matian menahan niat ingin mencekik Donghae kuat-kuat.

"Jadi, gimana? Kau mau makan malam denganku malam minggu ini?" kini Donghae berdiri di samping lelaki manis itu.

Hyukjae melihat sekeliling sekilas. Mata seisi dapur kembali terarah pada mereka. "Tidak." Hyukjae menggeleng tegas. Ia berusaha menjaga nada suaranya.

Sebelah alis Donghae naik. "Why?"

"Untuk apa? Buang-buang waktu saya saja!" sergahnya cepat. Hyukjae bisa menduga, semakin lama bekerja sama dengan Donghae, semakin mempercepat dirinya terserang stroke dini.

"Menurutku, itu ide yang bagus menurutku," kata-kata Donghae begitu tenang dan terjaga, memperlihatkan emosinya yang terkendali.

"You wanna play, Chef?" balas Hyukjae geram karena tak sabar. Aliran darahnya seakan-akan menaiki wajah dan hampir memenuhi otaknya. "In your dream!" desisnya.

"Interesting," Donghae tersenyum puas mendengar sarkasme yang dilontarkan Hyukjae.

Dasar gila! Hyukjae memaki dongkol dalam hati. Benar-benar membuat waktu berdebat dengan orang seperti Donghae. Ia mengambil kue yang sudah dingin, mengolesi atas kue dengan butter cream, lalu menyiramkan chocolate coating—cokelat yang dilelehkan, diaduk bersama susu cari hingga benar-benar tercampur rata—dan membiarkan permukaan cokelat mengeras. Dengus kesal keluar dari hidungnya menatap Donghae yang masih menatapnya dengan sorot menggoda. Ia tidak akan membiarkan Donghae menemukan kelemahannya dan menjatuhkannya.

.

.

.

Tapi, aku terlalu takut untuk percaya.

"You wanna play, Chef? In your dream!"

Donghae tersenyum kecil mengingat kembali kata-kata Hyukjae seraya menyalakan mesin mobilnya. Ia melirik jam digital di mobilnya. Pukul setengah sepuluh malam. Halaman parkir sudah sepi. Hanya tersisa mobilnya dan dua motor milik office boy.

Donghae memasukkan gigi mundur pada persenelingnya, namun saat itu juga ia mendapati Hyukjae berdiri di beranda Sweet Sugar, sibuk menelepon berkali-kali dengan ekspresi gusar. Melihat itu, Donghae khawatir terjadi sesuatu pada Hyukjae jika membiarkannya pulang sendiri. Mobilnya rusak dan harus masuk bengkel. Ia mematikan mesin dan keluar dari mobil.

Sambil mengamati wajah Hyukjae yang terlihat lelah, Donghae berjalan mendekat. Hampir tidak mengejutkan mengingat hidup lelaki manis itu yang dipenuhi banyak pekerejaan.

"Akan susah jika pesan taksi pas hujan seperti ini." ujar Donghae saat sudah berada di dekat Hyukjae. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan berdiri dengan sikap santai.

Hyukjae tidak menanggapi laki-laki itu. Ia sibuk dengan ponselnya, berusaha menghubungi taksi. Bayangan gelap keletihan di bawah matanya ditegaskan oleh cahaya lampu yang memancar ke wajahnya.

Tanpa keinginan mundur, Donghae senyum-senyum usil. "Kau akan kearah Distrik Seocho, kan? Sudah dipastikan macet parah."

Hyukjae tidak menjawab dan berusaha keras tidak mengarahkan mata ke arah Donghae. Ujung lidahnya membasahi bibir bawahnya, mengurangi kegusarannya.

Pandangan Donghae turun ke tubuh mungil Hyukjae. Ia belum pernah memperhatikan selekat ini, tapi sekarang ia melihat bahwa lelaki manis itu lebih kurus daripada yang ia sadari. "Tapi, ini sudah malam. Kalau ada apa-apa denganmu bagaimana? Diculik, diperkosa, dibunuh? Menyeramkan! Aku antar pulang saja."

Mata Hyukjae seakan menghujamkan belati pada mata Donghae. "Terimakasih tawarannya, Chef. Tapi akan lebih menakutkan jika pulang denganmu! Lagipula aku ini juga lelaki!"

Donghae tidak dapat menahan senyum geli mendengarnya. Benar-benar takjub melihat bagaimana perlawanan Hyukjae terhadap dirinya. "Mau sampai kapan kau menunggu taksi? Anak-anakmu menunggu dirumah, kan?"

"Tidak, terimakasih." Tukas Hyukjae. Ia mengangkat dagunya untuk membela diri.

Donghae kesal dengan jawaban itu, sekaligus penasaran. Hyukjae menyimpan lebih banyak hal daripada yang Donghae pikirkan. Lelaki manis itu mengubur kerapuhannya dengan sangat baik. Tapi, persetan dengan betapa menjengkelkannya lelaki manis itu, ia tidak mungkin membiarkan Hyukjae pulang sendirian. Dengan gerakan ringan, Donghae menjulurkan tangan kanannya, meraih pergelangan tangan Hyukjae dan mengajak lelaki manis itu ke mobilnya.

"What the hell are you doing, Chef?" Hyukjae berusaha menarik tangannya.

"Mengantarkanmu pulang." Donghae melepaskan tangan lelaki manis itu ketika berada di dekat mobil dan membuka pintu mobil untuknya. "Silakan, Sanjangnim."

"Saya sudah bilang, saya bisa pulang sendiri!" bentak Hyukjae kesal.

Donghae tetap bersikap tenang, meskipun hatinya diperciki rasa jengkel. "Tidak ada tawar-menawar. Aku hanya berniat mengantarkanmu pulang dengan selamat!"

"Tapi saya bisa menjaga diri saya sendiri!" Hyukjae menatap tajam lelaki dihadapannya.

Gemas dengan sikap keras kepala Hyukjae, Donghae tidak memedulikan apa pun lagi. Ia memegang pinggang lelaki manis itu dan membantunya masuk ke mobilnya. Lalu di tutupnya pintu dan berputar cepat ke pintu kemudi, berpura-pura tidak mendengar Hyukjae yang memaki-maki dirinya.

"Kau tidak bisa mengaturku, Chef!" kata Hyukjae marah saat Donghae sudah duduk di kursi kemudi.

"Oh, ya?" Donghae menatap Hyukjae tajam, berusaha menghentikan protes lelaki manis itu. Tapi, Hyukjae tidak mengacuhkannya, terus bicara dengan nada penuh emosi, membuatnya frustasi. Ia memutar kunci mobilnya, lalu terdengar suara mobil menderu. "Aku hanya mempermudah, Hyuk." Dengusnya.

"Dasar berengsek!" maki Hyukjae bertubi-tubi.

Donghae menancap gas mobilnya dalam. Halaman parkir yang licin oleh air, membuat ban berdecit saat meninggalkan Sweet Sugar. Tanpa melepaskan fokus dari jalan, sebelah tangan Donghae menekan tombol play pada CD player. Terdengar suara lagu Sacrifice yang disenandungkan Creed memenuhi keheningan di dalam mobil.

Sekilas, Donghae melirik lelaki manis yang duduk di sampingnya. "You want something to eat, Hyuk? Ada pancake house di depan." Suaranya terdengar lebih tenang.

"No." Hyukjae tidak mau mengalihkan pandangannya dari jendela.

"Are you sure? Pancake roll di situ enak sekali." Donghae kembali meliriknya. Ia tersenyum penuh rajukan. "Adonannya memang biasa saja, tapi mereka bisa membuatnya menyatu dengan sempurna, ditambah syrup dan sedikit krim kocok di atasnya."

Hyukjae tidak menjawab dan menarik napas dalam. Untuk beberapa saat mereka terdiam, sama-sama menenangkan diri.

"Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Hyuk. No more. No less." Donghae tersenyum pada Hyukjae meskipun lelaki manis itu tidak melihatnya.

.

.

.

Ketika mobil Donghae terhenti di rumah Hyukjae, keduanya masih mematung di tempat masing-masing. Lagu Creed yang masih mengalun, seakan-akan tidak mampu membuat mereka bicara. Dengan gugup, Hyukjae menurunkan salah satu kakinya yang saling bertumpuan. Beberapa saat lalu, ia telah mengumpulkan kata-kata, tapi saat semuanya hening perlahan-lahan isi otaknya terkikis.

"Sudah sampai. Tidak ingin turun, Sanjangnim?" tatapan Donghae mantap memandangnya.

Hyukjae menyingkirkan sehelai poni dari wajahnya dengan jemari yang tidak sabar. Emosinya kembali tergelitik. "Saya harap, mulai besok kau bersikap sopan, Hae!"

"Kalau kau bisa menerima tawaranku dengan baik, aku pasti sopan, Sanjangnim," ujar Donghae tenang.

"Begitu?" Hykjae sulit mengontrol rasa jengkelnya. "Tapi, susah bersikap baik padamu!"

Sebelah alis Donghae terangkat. Rasanya ia ingin tertawa. "Sama susahnya bersikap baik padaku?"

"Karena kau memang tidak bisa dipercaya!" tukas Hyukjae tegas.

"Kau tahu, sebenarnya aku tidak suka dengan orang yang seenaknya menilai aku macam-macam." Donghae menggeleng sambil tertawa masam. "It's just like commenting a film based on reading the synopsis without even watching it. Sounds strange, right?"

Hyukjae tidak tahu harus menanggapi apa. Ia memilih untuk segera pergi dari hadapan Donghae. Dibukanya pintu mobil. Hujan sudah berhenti. Tapi, tanpa pernah disangkanya, Donghae keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuknya. Mata mereka bertemu dan jantungnya kembali berdentum-dentum keras.

"Terima kasih tumpangannya," kata Hyukjae seraya mengalihkan pandangan dan keluar dari mobil. Ia melangkah menuju rumahnya tanpa menoleh atau berkata-kata lagi. Namun, ketika di dengarnya suara langkah di belakangnya, ia menghentikan kakinya dan berbalik. Dilihatnya Donghae berdiri tak jauh darinya. "Kau mau apa?"

Donghae mengedikan bahu pelan. "Mengantarkanmu. Memastikan kau baik-baik saja sampai rumah."

"Tidak perlu, saya—"

"Jalan Hyuk, sudah malam," tukas Donghae memotong ucapannya.

Hyukjae menatapnya sesaat kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sekali dalam hidupnya, ia pernah membuat seorang laki-laki mengacuhkan segalanya. Dan, itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ia tidak akan pernah membiarkan Donghae masuk ke dalam kehidupannya.

Ketika mereka sampai di depan pintu pagar, Hyukjae menatap Donghae yang berdiri di belakangnya dari balik bahunya. Saat seperti ini pun, ia bisa merasakan kekuatan, keteguhan, serta aura maskulin dari laki-laki itu. Jemarinya memutar-mutar tali tasnya, bingung ingin berkata apa.

"Tidak masuk?" tanya Donghae.

Hyukjae kembali berbalik menatapnya. Tidak tahu kenapa, tubuhnya menegang. Ia merasa harus segera mengucapkan selamat malam dan membiarkan laki-laki itu pergi dari hadapannya. Tapi, mulutnya seakan kaku dan lidahnya kelu.

Baru saja Donghae membuka mulut, ketika pintu tiba-tiba terbuka dan tiga anak kecil berlarian ke arah pagar, membuat kata-katanya tertelan.

"Eomma!"

"Hyukie Eomma!"

Mata Hyukjae melebar melihat Jisung, Jeno, dan Jaemin menghambur kepadanya. Ia tidak menyangka keuda anaknya belum tidur. Terlebih lagi melaihat kehadiran Jaemin. "Jaemin-ah, kau datang? Dimana Eomma dan Appamu?"

Sebelum Jaemin menjawab, Ryeowook dan Yesung ikut keluar dari dalam rumah. Adiknya itu merangkul bahu Jaemin. "Hai, Hyung. Maaf tidak memberi kabar dulu. Aku kira Hyung akan pulang cepat," kata Ryeowook.

"Tidak apa-apa, Ryeowook-ah." Hyukjae tersenyum. Lalu menoleh pada Donghae. "Oh ya, Yesung, Ryeowook, ini Donghae, pastry chef baru di Sweet Sugar."

Ryeowook dan Yesung secara bergantian menjabat tangan Donghae. Namun, keakraban seperti itu membuat Hyukjae semakin tegang. Ia sempat melihat mata adiknya berbinar, seakan-akan menangkap sesuatu. Tatapan itu akan berujung pada segala bentuk dugaan-dugaan tentang hubungannya dengan Donghae, tapi tidak sopan jika tidak memperkenalkan siapa laki-laki itu. Justru, hal itu akan menimbulkan banyak pertanyaan.

"Jeno, Jisung, Jaemin, kenalan dulu dengan Donghae Ahjussi." Hyukjae membungkuk pada ketiga bocah itu.

Jeno, Jisung, dan Jaemin maju dan membungkuk sopan kepada Donghae, lalu Donghae membalasnya dengan mengusap lembut kepala tiga bocah kecil itu. Hyukjae hanya bisa meremas ujung tasnya dengan kencang, menahan remasan di perutnya yang juga mengencang. Ada kehangatan dalam sikap Donghae memperlakukan Jeno, Jisung, dan Jaemin. Dan, ketiganya juga dengan baik menyambut laki-laki itu.

"Kau mau masuk sebentar, Donghae? Aku baru menyeduh teh dan ada beberapa cemilan yang aku bawa." Ryeowook menawarkan.

Mendengarnya, kecemasan Hyukjae menjadi-jadi. Ia menatap tajam ke arah sang Chef, mengisyaratkan untuk menolak. "Kita ada meeting besok pagi, kan, Hae? Saya rasa kau perlu istirahat."

Donghae menatap Hyukjae sekilas, lalu kembali menatap Ryeowook. "Iya, kapan-kapan aku akan mampir."

Hyukjae menghembuskan napas lega. "Sekali lagi, terima kasih untuk tumpangannya, Hae."

Donghae mengangguk. "Selamat malam semuanya."

Saat Donghae berlalu, Hyukjae mengikuti Ryeowook, Yesung, dan anak-anak memasuki rumah. Entah mengapa hatinya belum bisa tenang dan merasa hari-harinya akan lebih berat dari sebelumnya.

"Donghae kelihatannya orang baik ya, Hyung," ujar Ryeowook ketika mereka berdua berada di dapur. Adiknya itu menuang teh dari teko ke cangkir-cangkir yang sudah disiapkannya.

Hyukjae mengangkat bahu. "Hyung tidak tahu."

Bibir Hyukjae membentuk seringaian. "Hyung selalu begitu kepada setiap laki-laki. Semua dianggap buruk, sama sekali tidak ada bagusnya."

"Kan, Hyung bilang tidak tahu, Dongsaeng-ah," kata Hyukjae.

"Tapi, pasti Hyung nantinya akan menilai jelek." Ryeowook tersenyum, memberi pengertian pada kakanya. "Coba kenal dulu. Kada apa yang tampak di luar, tidak sama dengan hatinya."

Hyukjae menarik napas dalam, malas untuk membahas Donghae lebih lanjut. Ia mengambil salah satu cangkir dan menyeruputnya. "Oh iya, Ryeowook-ah, bagaimana sejauh ini kau dengan Yesung? Semua baik-baik saja, kan?"

Ryeowook mengangguk. "Iya, semoga seterusnya begitu, ya, Hyung." Wajahnya berbinar senang. "Dan, aku punya kabar baik, Hyung.:

"Kabar apa?" Hyukjae ikut bersemangat.

"Aku hamil!"

Mata Hyukjae melebar senang. Ia meletakkan cangkirnya dan memeluk Ryeowook. Baru pernah dilihatnya adiknya sebahagia ini. "Selamat ya, Dongsaeng-ah. Hyung ikut senang. Doa-doamu terkabul. Semoga semua lancar!"

"Semoga." Ryeowook melonggarkan pelukannya dan menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga punya satu doa untuk Hyung yang semoga dikabulkan Tuhan."

"Doa apa?" Hyukjae mengusap pipi Ryeowook. Adiknya itu selalu tidak bisa menahan air matanya. Orang yang mudah tersentuh dan begitu lembut.

"Aku berdoa semoga Hyung mendapatkan kebahagiaan yang sama besarnya dengan yang aku rasakan. Atau mungkin lebih." Air mata Ryeowook mengalir saat menatap kakaknya.

Jantung Hyukjae berdegup lebih cepat mendengarnya. Ia tidak mampu berkata-kata. Hanya tersenyum dan memeluk kembali Ryeowook. Terbesit keinginan untuk merasakan hal yang sama—bahagia—tapi ia telah kehilangan semua cara. Ia takut untuk berharap dan percaya, karena tidak mau berpegang pada sesuatu yang sia-sia.

.

.

.

TBC

.

.

.

Maaf untuk typo yang masih bertebaran, dan maaf jika ada yang kurang nyaman dalam pergantian cast dan perubahan cast menjadi Boys Love, apalagi dengan tema MPREG yang ada di FF Remake ini. Ini hanya sekedar untuk meramaikan Fanfic HaeHyuk yang semakin jarang dijumpai di FFn. Dan, segala Review positif yang kalian berikan, sepenuhnya aku persembahkan untuk Sefryana Khairil ^^

TERIMA KASIH yang sudah menyempatkan untuk Review^^

.

.

.

Big Love

Cutie Monkey