-Arai Furukawa-

(Raito)

oke, disinilah saya dengan chapter keempat dari Twisted Fate. Asa lumayan lama membuat chapter sebelumnya. tapi saya juga tidak heran sih. memang dia itu notabenenya agak pemalas #dikejarAsa

ah, walaupun sebenarnya saya juga agak telat nge-publish chapter ini. sebenarnya saya sudah membuatnya sejak awal juni. tapi, ada berbagai kendala sehingga chapter empat baru bisa saya publish sekarang.

sekedar info, seperti yang sudah kami sepakati, jalan cerita tergantung dari masing-masing author. tapi, kami mencoba supaya jalan cerita gak terlalu cepat. Jadi, ada beberapa info yang perlu diketahui.

Walaupun ini fanfic Yuki-Zero, tapi kami juga peduli dengan jalan cerita. Jadi, di awal-awal chapter seperti ini, kemunculan Zero sangat sedikit.

Ada slash Yuki-Kaname, karena fanfic ini berlatar belakang setelah anime Vampire Knight S2 selesai. Jadi, gak mungkin kami mengabaikan hal ini.

silakan membaca!

.

ooo

.

Disclaimer

Vampire Knight sepenuhnya milik Hino Matsuri

Author

Furukawa Arai (Raito)

Warning

AR, AU, Yuki-Zero, dua author /AsaRaito/, cerita ini ambil bagian setelah Vampire Knight S2 (anime) selesai.

Summary

Sekali lagi, bloody rose itu terangkat, mengarah ke jantung Yuki. Tapi, sekuat apapun ia mencoba, Zero tetap tak bisa menarik pelatuknya. "Kau bersumpah akan membunuhku kan jika kita bertemu lagi? Aku kemari supaya bisa mati ditanganmu." "!" / Warning Inside

.

ooo

.

.

::-Delay-::

.

Day Class, 10.30 am ...

"Hanya itu materi pelajaran kita hari ini. Selanjutnya ..." Yagari tiba-tiba berhenti menerangkan ketika matanya melihat satu-satunya vampire di Day Class sedang tertidur pulas di samping sahabatnya.

"Cross-san, ini bukan waktunya untuk bermalas-malasan," suara Yagari membuat Yuki langsung terjengat. Sementara itu, Yagari hanya menghela napas melihat tingkah Yuki.

"Ah, maaf Yagari-sensei, ehehe~," dengan wajah innocent, Yuki menyahut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Haah," hela Yagari. "Aku tak akan memberikanmu waktu untuk tidur saat kelas sedang berlangsung hanya karena kamu adalah Guardian, Cross Yuki," sambar Yagari setelahnya. Yuki bergidik ngeri sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.

Akhirnya, pelajaran di hari itu pun selesai. Tanpa menunggu lebih lama –bahkan Yagari belum sempat keluar dari kelas itu–, Yuki langsung meletakkan kepalanya di atas buku tulisnya yang tergeletak di meja. Dia tidak mempedulikan Yagari yang memandangnya dengan tatapan membunuh atau apalah itu. Sekarang, tidur adalah hal wajib yang harus didahulukan daripada hal-hal yang lain.

"Hoaaamm~," gadis itu menguap sekali lagi sambil meregangkan tubuhnya yang kaku. Entah Yuki sadar atau tidak, dia sebenarnya sudah menguap lebih dari 50x sejak Yagari pertama kali menegurnya. Toh, Yagari pun sepertinya tak peduli. Asalkan Yuki tetap 'berpose dengan mata terbuka', Yagari tak akan menegurnya lagi.

"Yuki ..." Yori, sahabatnya itu memanggil dengan nada khawatir. "Apa yang terjadi semalam sampai kamu mengantuk seperti ini?" tanya Yori. Tak dipungkiri lagi, gadis ini pun ingin tahu apa yang dilakukan Yuki semalam. Dia pasti berpatroli semalaman suntuk, atau ada sesuatu yang terjadi sehingga gadis beriris cokelat itu tak bisa tidur sama sekali.

"Banyak yang terjadi," jawab Yuki pelan dengan senyumnya yang khas.

"Apa saja?" tanya Yori. "Selain bahwa kamu adalah vampire, pasti ada yang terjadi kan?"

"Mm~ .." Yuki memejamkan matanya dan kembali menikmati saat-saat tidur berharganya. Entah dia tidak mendengar pertanyaan Yori atau sengaja mengabaikannya, tapi diabaikan seperti itu membuat Yori tak punya pilihan lain selain menjitak kepala sahabatnya itu.

Ctak!

"Ittai!" jerit Yuki yang langsung tersentak. Padahal, tadinya gadis itu sudah hampir memasuki alam mimpi. Sekarang, ia kembali 'ditarik' berkat jitakan ampuh Yori.

Kedua tangannya memegang dahinya yang merah akibat tindakan Yori. Tapi sepertinya sang pelaku pun tak merasa bersalah karena hal itu. Dia justru tersenyum dan berkata, "Jadi, apa yang terjadi?"

Ah, Yuki benar-benar tidak punya pilihan lain selain menceritakannya pada Yori. Dari dulu, memang dia yang selalu kalah kan kalau berdebat dengan sahabatnya itu? Kali ini pun sama, dia tak bisa menyembunyikan apa yang terjadi dari Yori. Bisa dibilang, Yori memiliki tingkat kepekaan yang tinggi untuk tahu bahwa Yuki sedang menyembunyikan sesuatu.

"Aku hanya bertemu dengan ...," mendadak, Yuki berhenti berucap. Pandangannya jatuh ke bawah, sementara surai cokelatnya menutupi sebagian matanya. Ketika teringat bahwa tadi malam dia bertemu dengan Zero, keinginan Yuki untuk menceritakan apa yang terjadi pada Yori menjadi hilang entah kemana. Dia tak bisa menceritakan hal itu pada Yori. Apalagi kalau semua yang terjadi menyangkut nyawanya sendiri. Dia tak mau membuat Yori menjadi lebih khawatir lagi.

"Bertemu dengan siapa?" tanya Yori ingin tahu.

Yuki terdiam beberapa saat, terhanyut dalam pikirannya. Tapi dia tak boleh diam seperti ini terus. Maka, akhirnya dia memberanikan diri dengan berkata, "Aku bertemu dengan Aidou-senpai hari ini." Senyumnya pun akhirnya merekah, berusaha untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Dan sepertinya senyuman itu ampuh untuk membuat Yori tersenyum pula.

"Jadi, kamu tidak bisa tidur karena bertemu Aidou-senpai?" Yori sepertinya pun mulai tertarik.

"Iya! Dia membuatku tak bisa tidur dengan ocehannya. Dan dia memarahiku karena aku dan Kaname-nii pergi tanpa bilang-bilang, hahaha," timpal Yuki sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Berbohong seperti ini tidak membuat Yuki menjadi lebih baik. Dia justru semakin merasa bersalah pada sahabatnya. Well, tapi paling tidak, dia tidak sepenuhnya berbohong pada gadis itu.

.

ooo

.

"Ha-hachuu..!" suara itu menggema di ruang utama Night Dorm. Dua orang siswa Night Class yang masih terbangun pun langsung menatap satu-satunya vampire yang berambut pirang di tempat itu.

"Hanabusa, kau sakit ya?" tanya Shiki polos. Matanya tidak berpaling dari sebuah majalah yang ada di pangkuannya. Sementara tangan kanannya sibuk mengambil pocky dari bungkus yang disodorkan oleh Rima. "Baru kali ini aku melihatmu bersin sekeras itu."

"U-urusai, Shiki! Aku tidak sakit! Entah kenapa, tiba-tiba aku bersin gak jelas seperti ini," sambar Aidou tak terima.

"Vampire dengan kekuatan es malah sakit flu. Itu tidak lucu," sahut Rima tanpa ekspresi pula. Matanya melirik ke arah Aidou yang sedang menahan emosinya.

"Tidak mungkin! Aku tidak sakit flu!" bantah Aidou. "Pasti ada yang membicarakanku sampai-sampai aku bersin seperti ini!" geram Aidou menduga-duga.

"Ge er sekali ..." gumam Rima yang akhirnya memilih untuk ikut melihat-lihat majalah di genggaman Shiki. Shiki yang duduk di sampingnya hanya mengangguk mengiyakan. Keduanya tak menunjukkan ekspresi yang membuat Aidou bertambah tenang. Justru, ketenangan mereka lah yang membuat Aidou semakin frustasi.

Aidou tak merespon ucapan Shiki. Dia tahu, kalau dia memutuskan untuk tetap berdebat dengan duo vampire polos itu, ujung-ujungnya justru dialah yang terpojokkan. Karena itulah Aidou memilih untuk diam dan duduk di tangga yang tak jauh dari Shiki dan Rima. Tapi tetap saja, ekspresinya menunjukkan rasa tidak puas karena sudah diejek oleh Shiki dan Rima.

Mata blue sapphire-nya menatap Shiki dan Rima bergantian, mengamati setiap gerakan dari dua vampire itu. Sejujurnya, dia tidak mengerti kenapa Shiki dan Rima masih berada di sini. Awalnya dia menduga bahwa kedua vampire itu juga memutuskan untuk pergi ketika Kaname meninggalkan Cross Gakuen. Namun tampaknya dugaannya itu salah besar. Shiki dan Rima masih berada di sini, entah karena alasan apa.

"Hei Hanabusa, dimana Ruka dan Kain?" tanya Shiki yang akhirnya berhasil membuat Aidou tersadar dari lamunannya.

"Benar juga. Aku belum melihat mereka sejak mereka datang kemari," timpal Rima.

Aidou menghela napas berat. Kedua tangannya ia silangkan di dada. "Aku tidak tahu. Mereka bilang, ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Kaname-sama. Sepertinya penting. Jadi, aku memutuskan untuk tidak mengganggu mereka."

"Hm~ ..." gumam Shiki sambil membuka halaman selanjutnya dari majalah yang ia pegang. Rima pun sepertinya tak menunjukkan rasa ketertarikan sama sekali, karena dari tadi matanya terus fokus melirik ke arah majalah di tangan Shiki.

"Kau sebenarnya ingin tahu kan, Hanabusa?" tebak Shiki, lagi-lagi dengan kepolosannya. Tapi justru hal itulah yang membuat wajah Aidou memerah.

"Te-tentu saja tidak, Bodoh!" dengusnya. Padahal, ekspresinya itu menunjukkan yang sebaliknya.

"Hanabusa tidak pandai menyembunyikan sesuatu," celetuk Rima tiba-tiba, yang pada akhirnya membuat Aidou semakin terpojokkan.

"Diamlah, kalian berdua! Kalian ini gak bisa hidup ya tanpa mengganggu privasi orang lain?!" geram Aidou. Dia pun akhirnya berdiri dan membersihkan celananya. Lalu tanpa ba-bi-bu, ia segera berbalik dan melangkah ke atas melalui tangga.

"Dia baru sadar ya?" celetuk Rima lagi, yang sebenarnya hanyalah gurauan untuk membuat Aidou bertambah frustasi. Ya ampun ...

Awalnya, Aidou sudah bersiap untuk memarahi kedua vampire itu lagi. Tapi, ia mengurungkan niatnya. "Aku ingin tidur. Kalau tiba-tiba Yuki-sama kemari, bilang saja altemis-nya berada di koper itu," Aidou menunjuk ke arah koper cokelat yang berada di dekat pintu keluar.

Shiki dan Rima hanya melirik sebentar, lalu kembali menekuni kesibukannya masing-masing. Nampaknya, mereka tidak tertarik. Tapi sebenarnya, mereka sudah mengangguk dalam diam. Tanpa diucapkan pun, mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.

Dengan begitulah akhirnya Aidou memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua di sana. Kalau saja Aidou tak tahu sikap mereka yang seperti itu, mungkin saja saat ini dia sudah membunuh mereka berdua karena tidak mendengarkannya. "Haah, mereka itu ..." gumam Aidou sambil menggelengkan kepalanya. "Mereka mendengar dan mengerti, tapi tak merespon. Dasar ...!"

Tak lama setelah kepergian Aidou, pintu utama Night Dorm terbuka. Di luar, tampak seorang gadis berambut cokelat yang mengintip masuk melewati celah-celah pintu yang ia buka barusan. "Ano, permisi ..."

Serempak, Rima dan Shiki langsung menoleh ke arahnya. Majalah yang tadinya mereka baca sekarang sudah tergeletak di meja. Nampaknya, Shiki yang meletakkannya di sana ketika pintu Night Dorm terbuka.

"Ah, Yuki-sama," Rima berdiri dan berjalan mendekati pintu, sementara Shiki hanya terdiam di sofa.

"Maaf, Rima-senpai. Tapi, apa Aidou-senpai masih bangun?" tanya Yuki sopan. Walaupun dia adalah vampire pureblood, tapi Rima dan Shiki tetaplah kakak kelasnya. Setidaknya begitu ...

"Aidou baru saja pergi ke kamarnya," jawab Rima. Ia berhenti berjalan setelah ia tepat berada 1 meter di depan Yuki. Matanya yang polos menatap Yuki yang sedang tersenyum ke arahnya. "Kalau Yuki-sama mencari koper yang Aidou bawa, kopernya ada di situ," Rima menunjuk ke arah samping kanannya, dimana sebuah koper tergeletak tak jauh darinya.

Mata Yuki melirik ke arah yang Rima tunjuk. Seketika, senyum tipisnya tadi barubah menjadi senyum lebar. "Ah, iya. Aku mencari koper itu."

Rima menghela napas panjang, lalu ia mengambil koper itu dan menyerahkannya ke Yuki. "Arigatou, Rima-senpai," ucap Yuki.

Rima hanya mengangguk mengiyakan. Tanpa menunggu gadis itu pergi dari Moon Dorm, ia langsung kembali duduk di samping Shiki setelah mengambil majalah yang tadi Shiki letakkan di meja. Tanpa menunggu lebih lama, majalah itu sudah terbuka ke halaman dimana mereka terakhir kali baca.

"Eh?" gumam Yuki, merasa dikacangi. Padahal, dia belum pergi dari tempat itu.

Ah, dia ingat sesuatu. Pandangannya ia edarkan ke seluruh ruangan, mencoba mencari sesosok vampire yang ia cari. Tapi, sepertinya ia tak menemukannya. Hanya ada Shiki dan Rima di sana.

"Ano, Shiki-senpai, Rima-senpai, dimana Ka-"

"Aku suka yang ini," kata Shiki sambil menunjuk sebuah foto di majalah itu, seakan-akan tidak mendengar ucapan Yuki.

"Seleramu jelek," sahut Rima.

"Tidak," sangkal Shiki.

Dan begitulah mereka. Totally ignored her.

Yuki menghela napas pelan. Kalau sudah seperti ini, memang tak ada jalan lain. "Aku harus menemuinya ..." gumamnya sambil meletakkan kopernya lagi di tempat semula.

.

ooo

.

Day Time, 02:00 pm ...

"Kaname-sama, apa tidak apa-apa membiarkannya seperti ini?" tanya Ruka khawatir. "Dengan kembalinya Asato, kemungkinan besar Yuki-sama akan berada dalam bahaya lagi," sambung Ruka.

"Ditambah lagi, vampire hunter Kiryuu itu ..."

Kaname hanya terdiam. Tangannya memainkan gelas berisi cairan merah bening dengan cara menggoyangnya. Namun, matanya justru terfokus ke arah salah satu bidak yang ada di papan caturnya. Ya, papan catur yang tepat berada di tengah-tengah ketiga vampire di ruangan itu.

"Biarkan saja," jawab Kaname singkat. Entah kenapa, tangannya berhenti memainkan gelas yang ia pegang. Lalu, tanpa ketertarikan, Kaname segera meletakkan gelas itu di samping papan caturnya. Sepertinya, ia tak jadi meminumnya.

"Tapi ..." Ruka hendak kembali protes. Namun, Kain segera mencegah Ruka untuk tidak mencampuri urusan Kaname lebih jauh lagi. Awalnya, Ruka menatap Kain dengan pandangan tak percaya. Tapi akhirnya, ia tak punya pilihan lain selain menuruti Kain.

"Baiklah," Ruka pun memilih untuk mengalah. Mungkin, saat ini hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah menunggu. Walaupun saat ini ia tahu kalau Yuki sedang dalam bahaya, tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Yuki. Satu-satunya jalan adalah untuk menunggu, seperti yang Kaname katakan.

"Kalau begitu, kami undur diri," pamit Kain, mewakili Ruka pula. Setelah itu, Kain dan Ruka membungkuk untuk terakhir kalinya dan segera keluar dari ruangan Kaname.

Setelah kepergian Kain dan Ruka, Kaname hanya terdiam di tempat. Tak banyak gerakan yang ia lakukan, selain tangannya yang bergerak mengambil bidak ratu putih yang berada di atas papan catur. "Yuki, apa yang akan kau lakukan sekarang?" gumam Kaname pelan.

Sementara itu, Kain dan Ruka masih terdiam beberapa saat di depan pintu Kaname yang tertutup. Mereka berdua tidak langsung pergi. Sepertinya, ada sesuatu yang mereka pikirkan sehingga mereka bahkan tidak menyadari keberadaan seseorang yang berjalan mendekat.

"Kain, aku masih berpikir ini semua tidak benar. Aku ingin melakukan sesuatu untuk Yuki-sama. Tapi, ..." perkataannya terhenti, seolah-olah kata-kata selanjutnya sangat sulit diucapkan olehnya.

Sebelum merespon perkataan Ruka, lelaki itu menghela napas sembari menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangan kanannya. "Sudahlah Ruka, kita serahkan saja pada Kaname-sama. Tak ada yang bisa kita perbuat untuk membantu Yuki-sama sekarang."

Ruka menatap Kain, lalu berkata, "Ya ... tak ada pilihan lain."

"Membantuku? Untuk apa?"

Serentak, Kain dan Ruka langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana, 10 meter dari mereka, berdiri seorang gadis yang sedang melihat ke arah dua vampire itu dengan tatapan penuh tanya.

Awalnya, Ruka dan Kain tak bisa berkata apa-apa. Selain karena terkejut bahwa Yuki mendengar percakapan itu, mereka juga tak menyangka bahwa dengan jarak sedekat itu, keberadaan Yuki sebelum gadis itu bersuara seperti tak bisa mereka rasakan. Entah itu karena mereka yang tak waspada, atau karena kemampuan Yuki yang semakin terasah, mereka tidak tahu. Hanya saja saat ini mereka benar-benar tertangkap basah sedang membicarakan gadis itu.

"Ruka-senpai, Kain-senpai, membantuku dari apa?" Yuki mengulang pertanyaannya sekali lagi, berharap agar kedua vampire bangsawan itu menjawab pertanyaannya.

"Ugh.." Kain menggeram, menahan dirinya supaya tak berbicara. Tapi, aura mengintimidasi milik Yuki entah kenapa bisa ia rasakan sampai menusuk tulang, memaksanya supaya ia menjawab pertanyaan Yuki. Tak hanya Kain, tetapi Ruka juga merasa aneh. Belum pernah ia merasakan aura mengintimidasi milik Yuki. Padahal, gadis itu hanya menunjukkan wajah polosnya. Tak ada alis yang mengerut ataupun mata yang menatap tajam. Tapi, kedua vampire itu bisa merasakan kehadiran aura baru itu.

Apakah ini karena Yuki-sama adalah seorang pureblood...? batin Kain. Tapi, kenapa baru sekarang aura itu muncul?

Kain dan Ruka tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Mereka berdua hanya menunduk, tak mampu menatap mata Yuki yang seperti 'menembus' pertahanan mereka. Mau bagaimanapun juga, Yuki adalah seorang vampire pureblood. Tidak mungkin bagi vampire bangsawan bisa melawannya.

Yuki memiringkan kepalanya beberapa derajat. "Memangnya, ada apa sampai Kain-senpai dan Ruka-senpai ingin menolongku? Ah, mungkinkah ... ini semua ada hubungannya dengan Kaname-nii?"

Kain dan Ruka bertatapan sekilas. Jika seperti ini terus, maka situasi akan bertambah rumit. Terlebih lagi di depan mereka ini, adalah 'Yuki' yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

Kreek ...

"Uh?" Yuki mengalihkan pandangannya ke arah pintu di samping Kain dan Ruka yang tiba-tiba terbuka, menampilkan seorang vampire yang menatapnya dengan tatapan lembut dari balik pintu bersisi dua itu.

"Yuki ..." panggilnya dengan senyuman tipis.

Entah mengapa, senyuman Yuki langsung mengembang begitu melihat sosok yang dicarinya itu akhirnya memunculkan diri. "Kaname-nii!"

Kaname membuka pintu itu lebih lebar lagi, seperti mengisyaratkan kepada gadis itu untuk masuk ke dalam. Awalnya Yuki ragu karena pertanyaannya belum dijawab oleh kedua kakak kelasnya itu. Tapi, mengingat bahwa mereka berdua baru saja keluar dari ruangan Kaname, mungkin saja kakaknya itu tahu sesuatu. Tidak, justru kakaknya lah yang lebih tahu daripada mereka berdua. Karena itulah setelah menatap Ruka dan Kain bergantian, Yuki akhirnya memilih untuk masuk ke dalam.

Tak lama setelah Yuki masuk, Kaname menutup pintu dan segera duduk di samping Yuki yang sudah menempatkan dirinya di sofa terlebih dahulu.

"Yuki, ada apa datang kemari?" tanya Kaname. "Seharusnya kamu beristirahat."

"Ah ... sebenarnya, aku ingin bertanya sesuatu," setelah meyakinkan dirinya, ia akhirnya memberanikan diri untuk menatap Kaname. "Kenapa ... kenapa aku ditempatkan di Day Class?"

Sejak awal, seharusnya Yuki ditempatkan di Moon Class, karena ia adalah vampire. Hanya karena alasan bahwa ia ditunjuk sebagai Guardian dan harus melindungi siswa Day Class tidak cukup untuk menghilangkan keraguannya. Kalau hanya seperti itu, Yuki seharusnya masih bisa masuk ke dalam Moon Class, karena tugasnya hanyalah menjaga Sun Dorm di malam hari. Justru aneh jika ia harus terbangun di siang hari untuk bersekolah, sementara malam hari harus tetap terjaga untuk menjaga Sun Dorm.

Melihat Kaname yang hanya terdiam, Yuki tak menyerah. "Kaname-nii? Kenapa Kaname-nii menyembunyikan sesuatu lagi dariku? Apakah ini ada hubungannya dengan keselamatanku lagi seperti dulu?"

Kaname mengedipkan mata sekali, tak menyangka Yuki akan menyangkut-pautkan hal ini dengan masa lalu. Tapi, beberapa saat kemudian Kaname sudah tersenyum lagi. Tangannya bergerak membelai rambut Yuki yang panjang, lalu berkata, "Yuki, bukan hanya aku saja kan yang menyembunyikan sesuatu?"

Yuki sempat terkejut, tapi ia tak bergerak. "Aku... menyembunyikan sesuatu? T-tentu saja tidak, ahaha ..."

Kaname menatap Yuki dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. "Dengan reaksi seperti ini ... hm?"

Yuki hanya bisa mengalihkan pandangan matanya supaya tak bertatapan langsung dengan Kaname. Kedua tangannya mengepal dan ia menggigit bibirnya, mencoba untuk menahan perasaannya.

Mustahil Kaname-nii tidak mengetahui apa yang kulakukan tadi malam ... batin Yuki. Tentu saja, Kaname tidak mungkin tidak tahu tentang apa yang terjadi semalam. Tentang Zero yang tiba-tiba muncul, dan tentang Zero yang entah mengapa memilih untuk menolong Yuki. Jelas Kaname tahu semua itu.

Bahkan mungkin ... Kaname tahu, kalau Yuki sebenarnya ingin ... mati.

Cepat-cepat Yuki singkirkan semua pikiran buruk itu. Sekarang, ia harus fokus. Ia tak bisa mendapat jawaban dari Kaname kalau dirinya sendiri justru termenung seperti ini. Sekali lagi, Yuki mencoba untuk menatap Kaname. "Kaname-nii, ini persoalan yang berbeda. Kaname-nii pasti sudah tahu rahasia milikku, walaupun aku sebenarnya tidak berniat untuk menyembunyikannya. Tapi, aku tidak tahu kenapa Kaname-nii dan Kepala Sekolah justru malah menempatkanku di Day Class."

Kaname masih terdiam, karena ia tahu bahwa Yuki masih belum selesai berbicara.

"Terlebih lagi, Kaname-nii mencoba untuk menjauhkanku dari bahaya lagi kan? Kaname-nii, aku bukan anak kecil lagi seperti dulu. Aku .. tidak, sekarang semuanya sudah berbeda. Aku ingin menghadapinya."

Kaname tiba-tiba tersenyum dan tertawa kecil. "Yuki, seharusnya kamu menikmati masa damai yang singkat ini. Aku hanya ingin kamu bahagia ..."

"Kaname-nii menganggapku seperti anak kecil lagi ya?" tanya Yuki miris. Aku memang tak keberatan jika ditempatkan di Day Class lagi. Tapi, aku perlu tahu alasannya.

"Aku sudah pernah bilang padamu, Yuki. Aku tidak menganggapmu seperti itu. Aku hanya ingin melindungimu."

Yuki memejamkan matanya, lalu ia memutuskan untuk berdiri, membuat Kaname hanya bisa menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. "Kaname-nii, aku tahu ini terkesan egois. Tapi, aku ingin menghadapi takdirku, karena itulah aku ingin tahu alasannya," ucap Yuki. Lalu, ia menatap Kaname untuk mencari jawaban.

Awalnya, Kaname masih terdiam. Tapi, itu tidak berlangsung lama, karena beberapa detik kemudian, Kaname sudah tersenyum miris. "Ingin menghadapi takdir? Yuki, walaupun kamu berkata seperti itu, tapi tadi malam kamu justru ingin berlari dari takdir itu sendiri bukan?"

"Eh?" tiba-tiba saja Yuki tersadar. Mendengar semua itu dari Kaname, ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya dari sinar matahari yang samar-samar menembus tirai. "Aku ..."

"Yuki, aku khawatir padamu. Malam itu, aku sudah menahan diriku supaya tidak ikut campur. Itu adalah bukti bahwa aku sudah membiarkanmu menghadapi takdirmu sendiri bukan?"

Kali ini, Yuki tak bisa berkata apa-apa lagi untuk merespon semua perkataan Kaname barusan. Ya, dia sudah kalah telak ...

Atmosfer di ruangan itu terasa hampa ketika dua vampire itu hanya terdiam tanpa kata-kata. Setelah Kaname berhasil memojokkan Yuki, keduanya memang membisu.

Akhirnya, Kaname hanya memunculkan senyumnya. "Yuki, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan beristirahat."

.

ooo

.

"Yuki, kenapa dengan wajah murungmu itu?" tanya Yori yang sudah tak tahan lagi melihat sahabatnya itu hanya terdiam di kelas sambil merangkul kedua kakinya. Sudah jelas Yori bisa tahu kalau Yuki sedang tak senang hari itu. Padahal, kelas baru saja akan dimulai.

Awalnya Yuki hanya terdiam. Tapi begitu Yori bertanya, aura suram justru malah bertambah pekat di sana. "Yori, aku bodoh ya? Hahaha ..."

Yori hanya bisa sweetdrop di tempat. Yuki, kamu baru saja tertawa, tapi tak terlihat seperti tertawa ...

Sebenarnya Yori ingin bertanya pada Yuki lagi. Tapi begitu melihat Yuki yang kembali hanyut ke dalam lamunan, ia menahan dirinya supaya tak bertanya. Mungkin, jalan terbaik saat itu adalah membiarkan Yuki seperti itu.

Bel masuk pun berbunyi dengan nyaring, membuat semua siswa yang masih berada di luar kelas langsung masuk ke dalam. "Pelajaran pertama malah etika ya? Duh ..." beberapa siswa mulai mengoceh satu sama lain.

"Aneh, Yagari-sensei belum masuk ke kelas. Biasanya, Yagari-sensei selalu tepat waktu ya?" bisik beberapa siswa lagi.

Keadaan di kelas mulai ramai. Seperti biasa, sang ketua kelas pun mencoba untuk menenangkan siswa-siswa di kelas itu. Tapi, usahanya bisa dibilang tak begitu berpengaruh.

5 menit kemudian, Yagari membuka pintu kelas dan segera masuk. Di belakangnya, ada seseorang yang mengikuti langkahnya. "Sekarang, tenang! Ada berita bagus hari ini," suara Yagari berhasil membuat seisi kelas hening seketika.

Tapi, keheningan itu tak berlangsung lama. Beberapa siswa mulai berbisik-bisik ketika melihat siapa yang berada di samping Yagari. Namun, Yuki sepertinya tak peduli. Bahkan, mungkin dia tak mendengarkan dan masih sibuk dengan lamunannya.

"Hari ini, salah satu teman kalian yang dua bulan lalu pergi ke luar kota sekarang sudah kembali. Tolong bertemanlah dengannya seperti dulu," ucap Yagari sembari menepuk pundak siswa di sampingnya yang hanya memasang tampang dingin. Kemudian, Yagari mengarahkan pandangannya ke arah seorang gadis yang sedang melamun di samping Yori. Melihat bahwa gadis itu belum sadar apa yang terjadi, dia hanya menggelengkan kepalanya.

Lain halnya dengan Yuki. Sejak Yori melihat siapa siswa yang berada di samping Yagari, tubuhnya serasa membeku. Pandangannya tak terlepas dari siswa itu. Bahkan, ia tak bisa berkata-kata.

Dengan kaku, Yori melirik ke arah Yuki yang masih belum tersadar dari lamunannya. Dengan pelan, ia memanggil gadis itu, berusaha untuk menyadarkan sahabatnya. "Yu-Yuki ..."

Gadis itu masih belum bergeming.

"Yuki..!" panggil Yori dengan nada yang lebih keras. Tapi, Yuki masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya sudah 'keluar' dari lamunan. Karena itulah Yori terpaksa mengguncang-guncang tubuh Yuki pelan. "Yuki!"

"Eh?" akhirnya, Yuki pun menoleh ke arah Yori. "A-ada apa Yori? Kau memanggilku ya? Hehe, maaf tadi aku sepertinya melamun," respon Yuki kikuk.

Tapi, kali ini Yori justru malah tak bisa menjawab. Ia hanya melirik ke depan, seperti membuat isyarat agar Yuki melihat ke depan pula.

Mata Yuki mulai bergerak melihat ke depan. "Memangnya ada apa di de-"

...

Yuki tiba-tiba tak bisa melanjutkan ucapannya. Sontak dia berdiri sambil menggebrak mejanya, entah itu karena tidak sengaja atau disengaja. "Z... Zero..?!"

.

TBC

ooo

.

.

itu adalah chapter keempat dari Twisted Fate. sebelumnya, saya minta maaf kalau ada kesalahan kata, atau karena ada ke-OOC-an dari karakter-karakternya. saya sebisa mungkin membuat semua karakter di sini tetap seperti di anime. tapi ya, mungkin saya malah gagal.

dan juga, saya tidak mengecek ulang chapternya. jadi, kalau misal ada sesuatu yang tidak dimengerti, silakan pm saja. nanti saya akan hubungi Asa supaya dia mencantumkan penjelasan yang saya kasih di chapter berikutnya.

chapter kelima akan saya serahkan ke Asa. doakan saja supaya dia bisa melanjutkannya dengan cepat.

terakhir, jangan lupa review.

thanks for reading,

sekian dari saya,

-Raito Furukawa-