Disclaimer: Oda-sensei no manga.


piranha19: Gak seru bikin cerita kalau gak ada cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta segitiganya loh... Hehe... Makasih.

KaizokuGari: Disini ada pairing ZoRoLaw, LuCaKaku, sm LuNa juga loh... Suka sama pairing yang itu?

Hoooh... Syukur banget deh kalau gak OOC, soalnya rada susah sih nentuin OOC atau gaknya. Di One Piece kan gak pernah ada romance nya, jadi gunain imaginasi aja kalau misal karakter-karakter itu kalau dalam dunia romance tuh bakal gimana. hehe... Makasih tetap konsisten review ya... :D

Yadi: Ah, kenapa? Cemburu ya? Sama yang mana nih? :D Makasih btw.

Muhammad591: Wah, senang sekali ketemu pembaca yang selalu penasaran dengan lanjutan ceritanya. Makasih ya... Terus kasih saya semangat ya dengan tetap baca dan review... :D

Naomi: Welcome back... :D

Ah iya, 2x ngepost gak muncul itu gara-gara saya baru accept reviewnya, makanya agak lama masuknya. Maafkan kelalaian saya ya... :D

Hoho... saya juga suka adegan teasing-teasing, tapi terus terang agak susah sih. yah, tapi mudah-mudahan gak mengecewakan deh. Makasih yah udah kembali ngereview...

Ok, sekian reply reviewnya. Maaf yah update-annya agak lama, soalnya ada banyak hal yang harus dikerjain sama author, jadinya baru sempat nge-post sekarang. Terimakasih banyak buat yang masih nge-review dan masih mendukung author untuk terus melanjutkan ceritanya. Post selanjutnya minggu depan ya, guys. See you later. Selamat menikmati.


Chapter 4. The meeting.

Luffy, Nami, Sanji, Usopp, dan Zoro tiba di depan rumah Kaku dan Robin. Mereka semuanya tercengang melihat rumah di depan mereka yang begitu mewah seperti istana. Nami bolak-balik memeriksa alamat yang diberikan oleh Kaku. Luffy dan Usopp seakan terbelalak dengan tampang bodoh mereka. Sanji sudah tidak sabar ingin menemui kakak Kaku yang kabarnya terkenal sangat cantik. Sedangkan Zoro, seperti biasa, menguap sambil menggosok-gosok kepalanya yang bengkak akibat pukulan si penyihir dan semua itu karena si pendekar pedang menyebabkan teman-temannya nyasar sebelum sampai ke tempat tujuan.

(Zoro's POV)

Aku berhenti menguap dan menggaruk kepala bagian belakangku ketika pintu besar nan mewah itu terbuka, menampakkan seorang wanita. Baiklah, kuakui, cantik, elegan, misterius, tapi tatapannya sangat mengintimidasi. Senyumnya yang indah dan mata birunya yang cantik memandang langsung ke arah kami. Kaku pernah memberitahu kepadaku kalau umurnya dan kakaknya terpaut 10 tahun, tapi dia tidak tampak jauh lebih tua dari kami. Bahkan wanita itu bisa dibilang tampak seumuran denganku. Rambut hitam panjangnya yang sangat lurus dengan poni depannya membuatnya tampak lebih muda. Bentuk badannya sangat bagus, lebih tepatnya seksi. Hmm.. Jangan berpikiran mesum, Zoro. Jangan menyamakan dirimu dengan si koki mesum itu. Lihat apa yang dilakukannya sekarang? Mimisan! Sungguh pemandangan yang sangat bagus. Akan kutertawakan dia untuk waktu sebulan.

"Kalian pasti teman-temannya Kaku. Aku Robin, kakak Kaku. Dia sudah menunggu kalian di dalam. Tadi dia sudah kusuruh keluar menyambut kalian, tapi entah kenapa dia menyuruhku menyambut kalian sendirian. Anak itu ada-ada saja." Ucapnya dengan senyum khasnya.

Hmm.. Aku tahu, ini pasti karena taruhan itu. Sial. Anak itu benar-benar serius ingin membuatku jatuh cinta pada kakaknya. Sepertinya aku benar-benar terpaksa harus membantu Kaku mendekati Califa. Ugh.. Aku benar-benar tidak menyukai wanita itu. Wanita itu sangat genit. Tapi biar bagaimanapun, aku sudah berjanji akan membantunya jika aku jatuh cinta pada kakaknya.

"Masuklah. Kalau kalian tidak masuk, teman kalian yang mimisan bisa kehabisan darah dan mati." Ucap wanita itu dengan tetap tenang dan tersenyum. Tiba-tiba aku dan teman-temanku merinding mendengar kata-katanya itu. "Cuma bercanda." Setelah mengatakan itu, wanita itu membalikkan badannya masuk ke dalam. Kami yang memandanginya pun ikut tertawa bodoh sambil menggotong si koki mesum ke dalam rumah.

Aku tidak bisa berhenti menatap ayunan rambut hitam panjangnya yang lembut itu. Baiklah, aku memang tidak pernah menyentuhnya, tapi dengan melihatnya saja aku sudah tahu kalau rambutnya bisa membuat bahkan penata rambut sampai terkagum-kagum padanya.

Tapi yang paling aku suka adalah mata biru wanita itu. Mata birunya sangat indah, lembut, tapi terpancar suatu kesedihan yang mendalam, entah apa itu. Selain itu tentu saja bentuk badannya. Badannya yang ramping dengan segala kelebihan yang bisa membuat para lelaki meneteskan air liur hanya dengan melihatnya. Bukannya mesum, tapi aku laki-laki normal, wajar kalau mengagumi bentuk tubuh wanita. Yah, setidaknya aku tidak separah si koki mesum yang sampai mimisan dan sampai sekarang dia masih terbaring lemah. Dia pingsan di atas sofa panjang berwarna ungu. Si payah ini memang selalu begitu, terutama saat melihat wanita cantik yang seksi.

Sesaat aku mengagumi kesempurnaan wanita itu, sebuah suara berat membangunkanku dari lamunanku. "Cantik kan?" Sosok Kaku muncul tak jauh dari telingaku. Anak ini sangat berisik. Dia masih belum menyerah dengan misinya untuk membuatku kalah taruhan. Dia berbicara sambil membawaku mengikutinya ke kamarnya. Kamar yang besar, penuh dengan pedang, figur-figur superhero dan boneka jerapah. Kamar ini sangat menggambarkan kepribadian Kaku.

"Hmm.." Ucapku menggumam tanda setuju. "Bersiaplah untuk kalah." Ucap laki-laki dengan mata hitam besar itu padaku seraya menyombongkan dirinya. Lalu dia melanjutkan perkataannya lagi, kali ini mimik wajahnya sedikit berubah lebih serius. "Tapi... perlu kuingatkan lagi. Kau tidak boleh benar-benar jatuh cinta pada kakakku. Bukannya aku tidak suka kau bersama kakakku, tapi aku kasihan padamu karena hubungan kalian tidak mungkin." Terpancar keyakinan yang besar saat Kaku mengemukakan pernyataannya.

Aku terdiam sejenak mencerna kata-kata Kaku. Hal apa yang membuatnya begitu yakin kalau hubungan kami tidak akan berjalan. Apa karena aku tidak pantas untuk kakaknya karena aku cuma seorang mahasiswa yang memilih pedang sebagai sebuah cita-cita? Atau karena perbedaan umur? Tapi yang membingungkan adalah... Kenapa aku harus memikirkannya? Toh aku tidak punya niat untuk jatuh cinta pada kakaknya.

"Kenapa?" Tanyaku iseng. Masih dengan wajah serius, Kaku memandangku dengan intens. "Kenapa kau penasaran? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta dengan kakakku?" Tanyanya cemas. "Aneh. Bukannya kau yang menantangku untuk jatuh cinta padanya? Kenapa sekarang aku tidak diperbolehkan untuk bersamanya?" Aku tidak habis pikir, bukannya kalau kucing diberi ikan, kucing itu tidak akan pernah menolak?

"Maksudku bukan cinta yang seperti itu. Aku cuma berharap kau menyukainya. Tergila-gila padanya kalau perlu. Tapi kalau cinta yang dimana kau mengharapkan sebuah timbal balik, maka itu tidak mungkin." Kaku yang berkata-kata padaku tanpa jedah dalam setiap kata-katanya pun terengah-engah. Kemudian dia mengambil nafas panjang. "Baik, akan kujelaskan sebelum kau kecewa nantinya. Kakakku itu kelihatannya kuat, padahal dia sangat rapuh. Dia tidak pernah menangis di depan siapapun, bahkan ketika orang tua kami meninggal. Tapi, dia menangis di depanku ketika orang itu pergi meninggalkannya."

Kaku mengeluarkan sesuatu dari kotak berwarna coklatnya. Sebuah foto. Foto Robin bersama seorang pria. Laki-laki berambut hitam, bertopi putih, dan mengenakan kaus warna kuning itu memeluk mesra Robin yang rambutnya masih sebahu. Terlihat foto itu foto yang sudah kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Siapa?

"Laki-laki ini adalah mantan pacar kakakku. Mereka mulai pacaran saat mereka SMA. Mereka saling mencintai, dan tak terpisahkan. Aku pun sangat senang ketika mereka bersama. Kakakku sangat bahagia bersamanya. Tapi..." Dia berhenti sejenak, menutup matanya dan berkata, "Kenyataan yang menyakitkan harus memisahkan mereka. Aku tidak tahu secara detailnya alasan kenapa mereka berpisah. Kakakku tidak pernah cerita. Dia tidak pernah menunjukkan emosinya di depan orang. Tapi satu hal yang kutahu, mereka masih saling mencintai meskipun jarak dan takdir sudah mempermainkan mereka." Kaku yang sudah lelah berdiri terus, duduk di sofa dekat tempat tidurnya dan mempersilahkanku mengikutinya untuk duduk.

"Maaf, ada sesuatu yang membuatku penasaran. Mungkin kakakmu masih mencintai laki-laki bertopi putih yang ada di foto itu, tapi apa yang membuatmu begitu yakin kalau pria itu masih mencintai kakakmu?" Tanyaku penasaran.

"Karena aku pernah tidak sengaja melihat kak Law yang sedang memandangi kakakku dari jauh dua tahun yang lalu. Dia sadar kalau aku melihatnya dan langsung memberiku aba-aba untuk tetap diam dan tidak memberitahu kakakku. Dan aku, tetap menutupi hal ini dari kakakku sampai sekarang." Kaku terlihat sedih saat membicarakan hal itu. Aku yang tadinya penasaran pun kini terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Sampai tiba-tiba terdengar teriakan Luffy yang riangnya mengatakan kalau makan malamnya sudah siap. Aku dan Kaku pun saling tersenyum dan beranjak dari tempat duduk menuju ke meja makan.

Terlihat sosok Robin yang mengenakan celemek. Di sampingnya Sanji yang sudah tidak mimisan lagi sedang membantunya menyiapkan makanan sambil terus menerus mencekoki wanita di sampingnya dengan kata-kata pujian yang hampir membuatku muntah jikalau ada makanan dalam perutku.

Luffy sudah siap di meja makan. Anak laki-laki berambut hitam itu memegang sendok di tangan kanannya, garpu di tangan kirinya sambil menghentak-hentakkan kedua tangannya dengan tidak sabarnya dan berteriak makan dengan kencangnya. Sontak, tingkah lakunya itu dihadiahi sebuah pukulan di kepalanya oleh Nami, si nenek sihir. Usopp yang duduk tepat di sebelah Luffy pun cuma menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku melirik dengan sudut mataku sosok belakang dari wanita yang lebih tua sembilan tahun dariku itu dengan penasaran. Wanita itu sepertinya sadar kalau aku sedang memandanginya. Dia langsung menatapku sambil tersenyum. Oh, sial.

"Tidak baik menatap seseorang dengan cara seperti itu, Kenshi-san." Lagi-lagi sebutan itu. "Heh? Panggilan macam apa itu, onna? Namaku Zoro. Kau lupa?" Ucapku seraya terganggu dengan panggilan itu.

"Panggil aku Kak Robin, maka aku akan memanggilmu Zoro-san." Cukup keras kepala juga meskipun mengucapkannya dengan senyum. "Tsk.. Kalau begitu, terserah kau mau memanggilku apa. Aku pun akan memanggilmu sesuka hatiku." Tambahku dengan jengkel. Sebuah botol sake diletakkan tepat di depanku. Wanita itu benar-benar tahu apa yang aku inginkan. Aku memandangnya dengan senyum menyeringai.

Tidak butuh waktu lama untuk Nami, Luffy, Sanji, dan Usopp untuk dekat dengan Robin. Wanita itu memang tidak banyak bicara, tapi dia sangat ramah dan dia seakan tahu apa yang disukai para tamunya itu. Di atas meja ada sake, orange, daging, dan berbagai macam makanan-makanan eropa yang berkelas. Terlihat jelas teman-temanku sangat menyukainya.

Setelah perut sudah terisi penuh, Wanita itu mempersilahkan kami mengelilingi rumahnya. Kaku bertindak seakan seperti seorang guide, mengitari rumahnya sambil menjelaskan fasilitas-fasilitas yang ada kepada semua tamunya. Aku sendiri tidak punya keinginan untuk mengikuti tour bodoh itu, jadi aku memilih untuk merebahkan badanku di sofa dan mencoba untuk memejamkan mataku.

Langkah-langkah pelan yang mendekat itu membangunkanku. Langkah yang terdengar seperti sepatu wanita. Nami? Tidak... Dia sedang dalam tour bodoh. Wanita itu?

"Ada masalah, onna?" Tanyaku masih dalam keadaan mata tertutup. "Sangat mengesankan. Kau bahkan tahu siapa yang berjalan mendekatimu meskipun dengan mata tertutup. Sungguh seorang pendekar pedang yang punya masa depan cerah." Mendengar kata-katanya aku pun langsung beranjak bangun dari rebahanku.

Tanpa sadar, ternyata aku berdiri menghadap langsung tepat di depan wajah wanita itu, dua senti lagi sampai bibir kami bertemu. Aku pun tersadar dan mengambil langkah menjauh darinya. Aku sangat yakin, saat ini wajahku pasti merah padam. Seketika aku berusaha menyembunyikan rasa maluku, terdengar tawa kecil dari bibir wanita itu. Aku langsung menatap tajam padanya.

"Hoi onna, apa yang kau tertawakan?" Tanyaku jengkel. Tapi dia tetap tertawa tanpa memperdulikan ocehanku. Melihatku menggumam tanpa karuan, dia pun mendekatkan tangannya ke arah kepalaku, berusaha mengacak-ngacak rambutku seperti yang biasa orang lakukan pada binatang peliharaannya.

"Rambut hijaumu sangat unik. Membuatku ingin menyentuhnya, kenshi-san." Ucapnya makin menjadi-jadi mengacak rambutku. Aku yang tidak sabar akan perlakuannya padaku pun langsung menangkap lengannya. Sementara itu, peserta tour bodoh itu sudah kembali dari keliling-kelilingnya. Mereka semua tercengang menyaksikanku yang sedang kelihatan seperti menggoda wanita yang lebih tua dariku itu, terutama Koki busuk dan Kaku. Aku pun buru-buru melepas tangannya, mengacuhkan mereka, dan melanjutkan tidurku.

(General POV)

Sekilas tersirat rona merah di wajah Zoro yang tertangkap oleh mata Kaku. Kaku menjadi makin khawatir dengan kehidupan percintaan temannya itu.

Matanya kemudian menatap ke arah kakaknya yang saat ini sedang tersenyum memandang pria pendekar pedang itu dengan gumamannya yang terdengar seperti, "Laki-laki yang menarik," bagi Kaku. "Gawat. Sepertinya bakal ada bencana." Ucap Kaku.


That's the end of this chapter. I hope they are not too OOC, especially Zoro and Robin. They're too hard to describe.

Onna: woman.

Kenshi: swordman