Sakura semakin tidak mengerti. Ia tahu ini harus berakhir.
Ia tahu betapa menjijikan mendengar nama wanita itu.
Tapi, kalau laki-laki payah didepannya ini memberikan tatapan sedih?
Apa ia harus mengakhirinya?
You're a shooting star i see
.
.
.
A vision of ecstasy
.
.
.
When you hold me, I'm alive we're like
.
.
.
DIAMONDS.
Sasuke's PoV.
Aku merasa mual saat mendengar ocehan tidak jelas Kabuto-sensei jadi aku memilih untuk membuang waktu di bangunan seni. Luar biasa sekali sekolahanku, jam masuk untuk kelas bisnis dibuat sepagi mungkin sedangkan jam masuk kelas seni dibuat senyaman mungkin untuk muridnya. Melihat perbedaan keduanya, aku merasa seperti dipenjara.
Aku menelusuri lorong bangunan jurusan seni sambil mencopot dasi dan blazer-ku yang berlogo kelas bisnis agar tidak terlalu dipandangi orang-orang. Hasilnya? Nol persen sukses. Mereka masih tetap menatapku.
Aku menelosori lorong paling ujung dan menemukan sebuah tangga tak terpakai dan menaikinya, aku terkejut, aku hampir saja bertabrakan dengan Sakura Haruno di lantai tiga, lantai kelas dua belas.
"Hei." Yamanaka pirang disamping gadis itu menyapaku, aku hanya mengangguk tanpa ekspresi. Kulihat wajahnya mengetat, pasti Yamanaka Ino tengah menyimpan dendamnya padaku.
"Sakura." Panggilku. Ia menoleh, wajahnya datar, pucat seperti kurang tidur—tapi aku yakin. Kalau anak laki-laki ditanya tentang Sakura, mereka pasti akan menjawab
'Eh? Memangnya Sakura Haruno kenapa? Bukannya ia sama cantiknya dengan yang kemarin.'
Dasar manusia kurang observasi.
"Apa?" tanyanya. Ia menatapku marah, aku tahu alasannya.
"Maaf."
"Kau tahu, dengan terus mengucapkan itu, kau tidak selalu lolos dari maut. Tidak hari ini." Ucapnya. Aku menelan ludahku. Aku tahu yang kulakukan sangat tidak sopan untuknya yang sedang dalam keadaan jatuh. Tapi aku tidak bermaksud, dan kadang kebiasaan muncul begitu saja disaat yang kau terakhir ekspektasikan.
"Lalu apa?" aku menatapnya berani. Ia balik menatapku. Gadis ini berani juga, selama aku hidup (dan saat fase payahku pun) belum ada yang berani menatap balik mata tajamku.
"Sakura, dengarkan aku." Aku memegang pundaknya, Yamanaka Ino terlihat kaget disebelah. "Aku salah, dan benar aku merasa kasihan denganmu. Bukannya itu sebaliknya juga? Tapi aku yakin maksud kita berdua berbeda?"
"Maksudmu maksud kita berdua berbeda apa? Kau bahkan tidak terdengar meyakinkan. Mungkin kalau maksud yang berbeda itu tentang aku mengasihanimu karena kau payah, dan kau mengasihaniku karena aku anak haram, itu mungkin benar." Ia memasang muka congkak. Gerah.
"Dengar."
"Aku mendengarmu. Ino juga."
"Kau bisa mendengarkanku dengan diam?"
"Bukankah itu sedari tadi yang kulakukan?"
Aku menggeram kesal. "Sakura." Panggilku dengan nada marah, ia kemudian membenarkan posisinya kaget, namun kembali seperti biasa. "Kau tidak tahu apa-apa dengan maksudku kemarin, aku yang melakukannya jadi—"
"Maaf ..."
Aku menoleh. Kami bertiga menoleh. Disana ada Hinata dengan uh, penabuh drum band Sakura. Naruto Uzumaki, tengah merangkul Hinata mesra. Menjijikan. Aku pun bisa merasakan bahwa Sakura merasa jijik juga, tapi aku yakin orang yang kami tuju berbeda. Memang benar, kami sama. Tapi ujung-ujungnya kami adalah dua manusia yang berbeda. Aku dan Sakura.
"Ya?" Yamanaka Ino menjawab duluan. Karena ia sendiri yang napasnya tidak tercekat diantara kami bertiga. Hinata mengumbar senyumnya, manis. Tapi, aku sadar dengan tatapan lelaki yang merangkulnya kearahku. Ia memandangku tidak suka.
Hinata, mengapa kau berurusan dengan Bajingan Posesif satu ini?
Kalau menurutku, Naruto punya masalah control issues. Ia merasa khawatir kalau hal yang digenggamnya berusaha melarikan diri. Seperti Sakura, kulihat beberapa kali saat malam hari ia menginap, ia mengecek ponselnya dan dari samping bisa kulirik bahwa Naruto menanyakan kabarnya setiap saat. Maniak.
"Umm, aku ada urusan dengan Sasuke-kun. Tapi sepertinya aku menggangu, ya? Kudengar percakapan kalian tentang kemarin malam barusan. Sepertinya aku mengganggu hubungan kalian, ya? Aku benar-benar minta maaf karena kemarin membawa Sasuke-kun untuk menemui Sakura-san yang makan bersama dengan Gaara. Maaf, aku tidak tahu kalian punya hubungan ..."
Aku, Sakura, Yamanaka, dan Bajingan bodoh itu menatap Hinata ngeri.
...
Sakura's PoV
Sialan. Sial. Sial.
Gadis ametis yang digilai semua orang ini benar-benar lancang untuk ukuran nada bicara yang pelan. Bajingan Bangsawan. Sialan. Aku menatap sengitnya yang masih setia dirangkul oleh Naruto-niichan. Lalu aku membuang wajahku.
"Ah, Hyuuga-senpai. Sepertinya kau salah paham, ya ..." Ino disebelahku tersenyum. Aku dan Sasuke saling bertukar pandang. "Uchiha-kun disini semalam bertemu Sakura setelah diantar Sabaku no Gaara kerumahku. Ia ada urusan denganku—tidak. Dengan keluargaku."
Naruto-niichan yang tadinya mengernyit bingung setengah mati, membenahi wajahnya. "Maksudnya, Ino?"
"Iya." Ino tersenyum, manis sekali. "Sasuke-kun ingin memberikan kado ulang tahun kepada Ibunya sebuah gaun, dan karena Sakura tepat sekali berada dirumahku, Ibuku jadikan saja ia model."
Wow, alasan bagus Babi Bodoh.
"Ya." Sasuke menambahkan. "Lalu aku menyindirnya dengan mengatakan kalau badan Sakura-san terlalu kurus untuk dijadikan model untuk pakaian, tidak menarik—ah." Sasuke memberhentikan 'permainan ikut-ikutan'-nya setelah kuberikan tatapan tajam.
"Dan itulah mengapa aku bermasalah dengan Pantat Ayam ini."
Sasuke mendelik kearahku, aku membuang wajahku, biar saja. Ini bayaranmu, Bodoh!
"Eeeh? Jadi itu alasanmu semalam mengantarku pulang cepat? Aku bahkan lupa ulang tahun Bibi." Hinata terkikik. "Beri tahu aku kapan pestanya nanti."
Sasuke tersenyum, tapi Naruto-niichan disebelah Hinata tidak. Ia tetap dengan pandangan tajamnya. Terasa mengintimidasi—apalagi Naruto-niichan juga selebriti, tapi kalau aku boleh meralat, tatapan Uchiha Sasuke saat pertama kali masuk SMA, lebih mengerikan. Kau tidak tahu kapan akan terhipnotis dengan mata jelaga hitamnya yang membuatmu tunduk.
"Sakura, apa itu benar?" Naruto-niichan menanyakan kepastian.
"Sakura-san sudah dewasa. Apa kau masih akan mengekangnya suatu saat nanti kalau ia menikah? Kau punya isu kontrol yang berbahaya disana, Bung." Sasuke mendecih setelah mengatakannya. Aku melotot, Ino juga, si Jalang Ametis juga.
"Haha." Naruto-niichan tertawa. "Bagus sekali mendengarnya langsung dari laki-laki yang bahkan tidak bisa merawat perempuan dengan baik. Benahi dulu ucapanmu ke Sakura, hei Adik kelas!" lanjutnya. Hinata mengelus pelan dada Naruto-niichan. Aku mendecih.
Aku tidak tahan. Aku dulu selalu duduk dipangkuan Nii-chan lalu ia akan membacakanku cerita. Aku yang dulu pasti dengan bangga mengatakan kalau aku adalah orang spesial yang pernah Naruto-niichan sentuh sedekat itu. Tapi dengan adanya jalang ametis bodoh satu ini? Tidak. Hanya Tuhan yang tahu—dan bahkan aku tidak mau tahu sejauh mana hubungannya dengan Naruto-niichan.
Segera saja kulangkahkan kakiku menjauh, Ino mengikutiku. Emosiku semakin tinggi saja. Apa-apaan juga si Hinata bodoh itu, berkata dengan sengaja dihadapan Naruto-niichan. Apa gadis ametis itu tahu? Sakura tidak yakin kalau ia benar-benar tidak meninggalkan jejak apapun di kamar Sasuke.
Sialan.
"Sakura, tenanglah."
Ino memegang tanganku, menarikku. Lalu menangkup dua belah pipiku dengan tangannya. "Dengar. Sudah kubilang berkali-kali. Akhiri ini! Persetan dengan Sasuke, kau hampir saja ketahuan tadi. Dari awal, aku juga memang tidak suka dengan Hinata, ia seperti ular, kau akan kaget dengan betapa tenangnya ia saat memangsa."
Aku memandang Ino. "Ino, kami sudah terlibat sangat jauh." Aku memegang dua belah tangannya. "Aku tidak bisa meninggalkan Sasuke sendirian begitu saja di dalam jurang setelah aku yang mengajaknya masuk. Aku bertanggung jawab, Ino."
"Ya." Ino memandangku dengan tatapan mengancam. "Kau bertanggung jawab. Tapi kalau akhirnya kau yang akan ditinggal di ujung jurang sendirian? Atau bahkan dikubur hidup-hidup? Sakura, tinggal atau ditinggal. Manusia selalu memilih pilihan yang paling aman."
Aku menghela napas, lalu meninggalkannya. Aku sedang tidak ingin belajar atau apapun yang hanya membuat suasana hatiku makin buruk. Aku segera turun dari bangunan seni dan menuju koperasi dan membeli sebuah pulpen dan kertas. Aku ingin membuat lirik.
Lalu, kucari saja bangunan atelier ditengah taman yang memisahkan antara kelas bisnis dan seni, kemudian duduk disana. Aku menghela napas lalu memfokuskan diri. Temanya, aku dan Sasuke dan Naruto dan Jalang bodoh.
Sepertinya aku akan menghasilkan lagu patah hati paling menyedihkan sepanjang masa, bukan begtitu?
Taiyoukei wo nukedashite
Heikousen de majiwarou
Watashi to kimi no kage
No you ni nobiteiru
Aa, Heikousen.*
Aku tersenyum kecil. Aku mengagumi kemampuan majasku dan bagaimana dengan santainya aku menulis lirik yang berarti berat.
Yuuki ga nai no wa jidai no sei ni shiteshimaeba ii
Itsumade tattemo, omoi wa kuchi ni dasenai mama
Tada kowarenai you ni onaji kyou o kurikaeshi nazotte
Dokonimo ikenai negai no ibasho o sagashiteta.*
Saat aku mulai mencoba menulis baris lirik selanjutnya, aku dikagetkan dengan tepukan di punggungku.
"Hei."
Itu, Sabaku no Gaara.
...
Sabaku no Gaara's PoV.
Haruno Sakura.
Gadis manis penyanyi yang suaranya merdu. Lagu-lagunya yang santai, seperti I will*, membuatku rileks. Atau yang beraliran heavy metal seperti Fallen*, membuatku semangat dan mengagumi bagaimana ia menyanyikan lagu bernada tinggi dan cepat dengan santai.
Jujur saja, aku dulunya adalah tipikal arsitokrat yang biasa kalian temui. Membosankan. Kalau dijadikan warna, hanya hitam putih. Tapi, saat pertama kali Neji Hyuuga menyetel radio mobil Shikamaru secara acak dan mendengar suara bass lembut, aku merasakan getaran aneh.
Lalu, langsung saja kutanyakan siapa penyanyinya. Shikamaru menatapku aneh, seperti orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Kalau kuingat waktu itu, untung saja Sasuke mengingatkan Shikamaru agar terus menatap kedepan karena ia yang memegang setir, kalau Shikamaru terus menatapku, mungkin kami akan tergilas truk.
Neji menjawab pertanyaanku, katanya Haruno Sakura. Murid sekolahku, dan berada ditahun yang sama denganku, hanya berbeda jurusan. Bagaimana aku bisa selama ini mengabaikan seseorang hebat disekolahku? Aku ingin mempergunakan hiperbola disini jika boleh, suaranya memberi warna kepada kehidupan putih-hitamku.
Aku mulai mendengarkan suaranya dari waktu kewaktu, tapi aku tidak menunjukkannya kepada kawanku. Bisa gawat kalau tiba-tiba aku dibilang seorang maniak, yah, padahal iya. Aku kecanduan suara Sakura.
Jadi, saat aku sadar bahwa gadis yang kubantu untuk mengambil—maaf—pembalut itu adalah Haruno Sakura, aku tahu kalau aku telah diberi kesempatan dari Kami-sama untuk menjalin hubungan dengan Sakura.
Kurasa, kami terus bertemu secara tidak sengaja. Kebetulan-kebetulan ini makin memperkuat perasaanku, aku ingin memilikinya. Tidak hanya tentang suaranya, kulitnya yang berwarna langsat terlihat lembut, bibirnya keriting imut, matanya berwarna hijau menyinarkan api semangat yang entah mengapa masih terlihat lembut, dan hatinya.
Aku tidak sengaja melihatnya waktu itu turun dari van band-nya untuk membantu seorang anak yang menangis. Aku waktu itu sedang bersama kakak-kakakku di dalam limosin untuk pergi makan malam dengan petinggi-petinggi tidak jelas.
Kurasa, dengan kebetulan-kebetulan tersebut, Tuhan seakan mengijinkan kami berdua untuk bertemu. Untuk membahagiakan hidup satu sama lain, karena dari pengalamanku, aku sendiri bahagia saat bertemu dengannya. Seperti sekarang, saat bagaimana aku sedang malas duduk dikelas karena tidak ada Sasuke lalu memilih untuk duduk di atelier taman pemisah kelas bisnis dan kelas seni lalu bertemu dengan gadis gulali yang kudamba.
Ia sedang menulis, sebuah lirik sepertinya. Dari yang kulihat dibelakangnya. Ia serius sekali, aku tidak ingin mengganggunya. Tapi tanganku gatal jadi aku spontan menepuknya. Ia menengok lalu menatapku bingung lalu memerah entah kenapa. Bahkan pergantian ekspresi wajahnya yang cepat membuat aku merasa kupu-kupu berputar di perutku.
"Ada yang bisa kubantu Sabaku—"
"Gaara tidak apa-apa." aku memotongnya kemudian duduk di hadapannya. Posisiku sekarang berada di hadapan Sakura, yang memisahkan hanyalah meja bulat putih di dalam atelier ini.
"Ah, jadi, Gaara-kun? Apa aku boleh memanggilmu begitu?" ia bertanya dengan gestur lucu, aku terkekeh lalu mengangguk. Imut sekali. "Ya. Jadi ada perlu apa?"
"Tidak ada apa-apa." ia terlihat bingung. "Aku hanya bosan dikelas, tidak ada yang menarik. Lebih tepatnya, aku menghindari Guru galak cerewet yang selalu mengincarku untuk mengerjakan soal di papan tulis." Ujarku bercanda, ia tersenyum.
"Eh? Bukankah dari yang aku dengar, kelas bisnis kalau gurunya semakin galak, maka semakin penting pelajarannya? Dan bukannya kalau kau disuruh maju terus-menerus, ia menyukaimu karena pintar?" ia bertanya bertubi-tubi. Rasanya ini lebih nyaman dari kemarin dimana Sakura selalu diam saja. Apakah gadis ini tidak betah karena ada Hinata dan Sasuke? Mungkin.
"Sakura-chan." Matanya membelalak lalu pipinya bersemu sedikit saat kupanggil seperti itu, tapi ia terlihat gelisah juga. Aku penasaran dengan apa yang dipikirkannya. "Apakah menurutmu arsitokrat harus mengikuti pelajaran dengan benar? Dan hidup sesuai apa yang diekspektasikan?"
Sakura menaruh pulpennya di kertas. Lalu menatapku sambil menopang dagunya. "Tidak juga, aku kenal beberapa orang yang 'twisted' walaupun mereka orang-orang penting."
"Seperti apa yang diharapkan, Nona Selebriti pasti tahu semuanya, ya. Maksudku kau bahkan telah menginjak dunia luar sementara aku belum, kau sudah tahu kerasnya dunia. Itu hebat." Sakura tersemu mendengar pujianku. Kalau seperti itu, rasanya aku ingin menghabiskan satu hari penuh untuk melontarkan pujian untuknya.
"Tidak juga." Sakura merenggangkan badannya, kulihat dari balik kemejanya, ia kurus sekali. Pasti ia terlalu sibuk untuk mengurusi dirinya sendiri. "Aku tidak ada apa-apanya kalau Gaara-kun suatu saat nanti melakukan debut dalam asosiasi masyarakat. Dampakku tidak akan ada apa-apanya kalau dibandingkan denganmu lima tahun lagi, kau tahu."
Aku tersenyum. Ia pandai melontarkan pujian juga, tetapi tidak terkesan menjilat. Aku mempunyai banyak pengalaman dalam bidang menjadi objek kaum penjilat. "Tapi, orang-orang lebih hapal tentang musisi terkenal daripada seorang politisi."
Ia terlihat bingung. "Berarti kita sama-sama orang hebat. Ah, semua orang disini juga hebat, sih." Lanjutnya, polos sekali. Ia kemudian membuka lembar buku tulis—tidak, buku itu nampak seperti memo tapi dengan ukuran yang lebih besar, dan melanjutkan kegiatan menulisnya.
"Apakah itu lirik?" tanyaku. Ia mengangguk. "Boleh kulihat?" ia mengangguk lagi kemudian memberikannya padaku.
"Dikritik oleh arsitokrat membuatku setengah merinding." Ujarnya saat aku membaca lembar halaman yang tadi Sakura tulis. Humornya cocok sekali ditelingaku.
Aku mengerjapkan mataku. Ini lebih dalam tapi entah mengapa ringan daripada yang biasa Sakura buat. Namun, tanpa Sakura menyanyikan baris itu, aku sudah bisa membayangkan suara lembutnya. Ini hebat. Ini akan menjadi karya besarnya.
"Wow." Aku hanya bisa berkata seperti itu. Aku kehilangan kata-kata. Ini luar biasa hebat. Dambaanku berada di hadapanku, memberitahuku lirik tentang lagu barunya yang selalu kunantikan. Apakah aku akan mati besok? Karena hari ini, aku merasakan keberuntungan yang benar-benar besar daripada mengetahui kalau aku dilahirkan dikeluarga arsitokrat yang sangat berkecukupan.
"Apakah ini bagus?" Sakura mengambil kertasnya. "Aku bisa menjamin kalau penggunaan pengandaian kataku lumayan bagus, tapi kurasa maknanya terlalu dalam tapi baris selanjutnya ringan, ah aku akan—"
Sakura terdiam, kata-katanya tidak selesai.
Tentu saja.
Karena aku telah mencuri bibirnya duluan.
TBC
So, some GaaSaku for y'all. Jadi, seperti yang saya bilang. Saya nggak akan buat Sakura menjadi yang menderita sendirian disini. Actually, all of these people casts here are the pained ones. Gaada yang beruntung di dalam lingkaran setan yang saya sebut, cerita ini. Oh iya, ada yang tanya, Hinata baik apa buruk? Duh, gimana ya. Saya nggak bisa jawab. Kalau udah belajar psikologi (sedikit-sedikit lah) kalian pasti ngerasa bingung untuk ngejawab pertanyaan itu karena kalian tahu pasti ada sesuatu yang bisa membuat mereka bertindak begitu. Kalau menurut saya, Hinata ini kena diktat Ibu yang salah, ya tapi liat aja nanti ya. (Maaf saya emang setan). Btw, saya kira saya nggak bisa update dalam waktu yang lama. Tapi ternyata hanya butuh satu setengah jam untuk ngetik ini, dan actually i'm proud because i always takes a long time before finishing (with school tasks and etc). But not today!
* Taiyoukei wo nukedashite
Heikousen de majiwarou
Watashi to kimi no kage
No you ni nobiteiru
Aa, Heikousen.
Ini bisa diartikan:
Mari keluar dari sistem tata surya
Dan melintasi garis sejajar
Terus memanjang, seperti bayangan kita,
Garis sejajar. (Heikousen)
* Yuuki ga nai no wa jidai no sei ni shiteshimaeba ii
Itsumade tattemo, omoi wa kuchi ni dasenai mama
Tada kowarenai you ni onaji kyou o kurikaeshi nazotte
Dokonimo ikenai negai no ibasho o sagashiteta.
Arti:
Lebih baik aku menyalahkan waktu karena tidak mempunyai keberanian
Selamanya, aku tak akan bisa mengeluarkan perasaanku yang tertahan dimulut.
Aku mengulangi hari yang sama agar tidak patah hati
Mencari tempat dimana harapan yang tak dapat terwujud ini pergi entah kemana.
Btw, ini lagunya Sayuri – Heikousen. You should've check it out, everyone who has watched Kuzu no Honkai for sure know this soundtrack, don't y'all?
*I will = Lagunya Chelsy, tahu Ao Haru Ride? Bgm animenya pakai lagu ini. Dengerin aja. Hehe.
*Fallen = Lagunya Egoist, kalau pernah nonton Psycho Pass (1&2) pasti tahu dong soundtrack ending ini, ini saya akuin suara vokalisnya hebat banget.
Oke, sekian.
Kobayakawa Matsuri.
