Fate/Abnormal
Pride of Emperor
Haloo! Zhitachi muncul lagi nih!
Kali ini akan ada beberapa Servant yang terpanggil usai pertandingan akbar antara Saber melawan Archer. Tapi sebelum itu, Zhitachi mau menjelaskan sedikit tentang 4 Servant tersisa yang akan ikut di perang keenam. Langsung aja dibahas...
4. Ozymandias (Rider).
Seorang tokoh utama dalam pembentukan piramid di seluruh daerah Mesir. Awal dari era pemujaan dewa langit melalui perantara Pharaoh agung, Ozymandias. Lahir dari cahaya RA yang menerangi seluruh semesta, Ozymandias memimpin rakyatnya menuju keagungan dari Pharaoh sejati. Belum ada yang tahu seperti apa makhluk mistis yang dimiliki Rider ini. Jika dilihat dari kekuatan semasa hidupnya, besar kemungkinan ia memiliki hal yang bahkan melampaui pemikiran manusia.
5. Gilgamesh with Uruk uniform (Caster).
Sang raja pahlawan telah kembali dari perjalanan keabadiannya!
Dalam legenda, ia digambarkan sebagai "orang yang memiliki segalanya". Kadang-kadang kejam, kadang-kadang menyetujui sifat manusia. Raja besar Uruk yang secara ketat memimpin rakyatnya kini muncul untuk membenahi peraturan di perang ini.
Berpikirlah dua kali untuk menghadapinya... Karena kita tidak tahu, serangan seperti apa yang akan dikerahkan oleh Raja Pahlawan ini untuk menghadapi manusia bahkan mahluk sekelas mistis.
6. Shuten Douji (Assasin).
Ada banyak cerita asli seputar Shuten Dōji. Seseorang mengatakan bahwa dia lahir di Gunung Ibuki untuk Yamata-no-Orochi dan seorang gadis manusia, yang lain mengatakan dia turun sebagai dewa Raja Naga Kuzuryuu. Ia terlihat kalem dari gadis biasanya, senyuman lembut serta suara menggoda seakan seperti menutupi sifat iblinya. Tidak ada yang tahu bagaimana sifatnya ketika menghadiri panggilan Cawan Suci keenam. Apakah ia masih seperti dulu, ataukah ia mempunyai wajah lain?.
7. Penthesilea (Berserker).
Lahir di tanah Amazon dan menjadi ratu para gadis Amazon ketika muda. Keturunan dari dewa perang yang terkenal dengan kehebatan serta kebengisan. Kuat dan garang layaknya singa di medan perang. Sifat dinginnya seakan tidak pernah ia tunjukkan kepada suku Amazon ataupun Master. Ia hadir dalam wujud pembalasan atas kematian anggota Amazon, mencari dan terus mencari orang yang pernah mempermalukan ia di hadapan rakyatnya sendiri. Ia tidak segan akan membantai siapapun yang disangka sebagai dalang dari kehancuran Amazon.
Oke, daripada bosan mending langsung baca...
Disclaimer: Type-Moon, Ufotable, Delight Work .Inc.
Genre: History, Supranatural, Tragedy, Action.
Character: All Classes Servant, OC, Chara in Fate Stay Night UBW.
Rate: K+ up to M.
Sinopsis: Kekacauan Grail Wars kelima telah selesai secara tidak terduga, membuat Emiya Shiro menjadi bintang utama dalam Grail Wars ini. 5 tahun kemudian, keluarga Satou masih tidak menerima kekalahan telak pada Grail Wars sebelumnya dan bertekad mendatangkan kembali perang tersebut. Tanpa ada bimbingan pengatur perang, Grail Wars keenam menjadi tidak seimbang, sehingga tragedi 5 tahun yang lalu kembali terulang, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Siapakah yang mampu menghentikan kekacauan Grail Wars kali ini?.
*A/N: Cerita ini Zhitachi ambil dari alur sesudah Emiya Shiro menyelesaikan sekolah sihirnya di inggris bersama Rin Tohsaka*.
~Not Like, Don't Read~
Opening : Kyoumei no True Force ( Opening Seirei Tsukai no Blade Dance).
- Kono mune ni michite yuke…
Taira mengarahkan tangan kanannya ke samping wajah dengan memperlihatkan segel perintah ke kamera.
- Kedakaki kyoumei no True force…
Servant Saber mengulurkan tangan ke kamera dengan senyuman lembut.
-Look into your inner light-
Memperlihatkan sekilas para Servant beserta Master mereka dan juga judul di setiap jeda.
- I must be gone and die, or stay and alive…
Memperlihatkan suasana kelam masa lalu Saber sampai akhir kematiannya.
- So, your decision is the same as I believe…
Ia percaya kepada keyakinannya sampai akhirnya ia terjatuh ke dalam kegelapannya sendiri.
- Every light has its shadow, I'll bet…
Suasana menjadi cerah ketika bertemu dengan Taira.
- Let's be optimistic, fear not…
Memperlihatkan pertama kali Saber bertemu dengan Taira, serta beberapa inti adegan di cerita selanjutnya.
- "Tsuyosa ni imi wa aru no ka" to…
Terlihat Machi tengah berdiri di tengah luar ruangan dojo beserta Servantnya.
- Owari no nai chihei ga waratta…
Memperlihatkan seorang pemuda berambut biru tengah duduk santai di atas gedung dengan ditemani oleh Servant.
- Umareta riyuu nado jibun de kimeru mono sa…
Servant Lancer muncul dari atas dan mendarat dengan gerakan halus sembari berjalan ke depan, di sampingnya ada gadis berambut kuning sedang membenarkan sarung tangan kanan.
- 'He that fears death lives not'…
Terlihat Rin Tohsaka tengah berjalan dengan tergesa-gesa.
- So take a step towards me, dear…
Ada adegan dimana Servant milik Rin mengibaskan rambutnya sekali.
- Wasurerarenai kako sae…
Terlihat ada dua Servant tengah duduk di sebuah batu dengan berlawanan arah.
- Sutesareru basho ga mieru kai?
Servant sebelah kanan perlahan tersenyum tipis.
- Kirisake yo sora mo umi mo daichi mo tamashii mo…
Servant Saber dan Lancer dengan dibantu Servant Archer tengah berlari dan bertarung dengan Servant Rider.
- Seigi mo shinjitsu mo nani mo kamo wo Terase yo Shimmering light…
Sementara itu Servant Caster dibantu oleh Servant misterius tengah berhadapan dengan Servant Berserker. Terjadi dua ledakan besar secara bersamaan di dua pertarungan.
- Ikusen oku no toki wo mo koete…
Di lain tempat, Shiro, Rin, dan Taira tengah menghadapi Servant Assasin yang dibantu 'Dark Grail'.
- Kimi to deaeta kono guuzen wo…
Serangan dari 'Dark Grail' mengenai Taira dan mengirimnya ke kegelapan.
- Mune ni dakishimeru yo…
Ia mendarat di tempat mimpi yang pernah ia alami.
- Me ni utsuru wa arasoi darou ka…
Taira melangkah ke sebuah pedang aneh yang tertancap di tanah, terlihat beberapa hologram kesedihan dari wajah Machi dan Karin.
- Soretomo kanau ka douka mo shirenai kibou na no ka…
Dengan sekecil harapan di tangannya, ia menarik pedang itu. Seketika seluruh ruangan berubah menjadi terang.
- Michibike yo Holy silver light…
Ledakan besar muncul di tempat terakhir Taira menghilang.
- Seinaru yaiba wo nuki Shoudou wo…
Taira Muncul dengan beberapa zirah emas yang mirip seperti seseorang di mimpinya. Ia mengarahkan pedang tumpul itu ke arah Assasin.
- Mo tenazuke shouri e to…
Tatapan Taira menjadi tajam dengan dibalas senyuman iblis dari Assasin.
- True Force!
Muncul judul "Fate/Abnormal : Pride of Emperor" dengan kobaran api melingkari setiap huruf.
Chapter Four : Predestined Meeting.
"Siapa... Kau?".
Gadis bergaun putih menoleh ke arahku. Senyuman tipisnya seakan tidak goyah walaupun ada musuh di belakang dirinya. Wajah mungilnya serta pupil mata yang menawan seakan menghipnotis diriku. Puluhan pertanyaan yang ingin aku ucapkan seakan tidak mau keluar ketika melihat sosok gadis cantik berdiri di depanku.
"Kau baik-baik saja, Master?".
"Y-Ya".
Ia memanggilku dengan sebutan 'Master'?. Kenapa ia memanggilku begitu?.
"Lancang sekali kau membiarkan raja hebat ini memandang punggungmu itu!".
Pemuda pirang itu mengeluarkan kembali senjata dari portal kuning, kali ini ada 6 portal yang muncul di samping pemuda itu.
Keenam pedang melesat ke arah punggung gadis ini. Ia bahkan seakan tidak menyadari serangan barusan.
"Bahaya!".
*Set!*.
Secara cepat ia berbalik badan dan menangkis seluruh serangan dengan gerakan anggun. Gaya menangkisnya seperti ia menari di taman bunga.
Pemuda pirang mendecih pelan. Kali ini ia tidak tanggung-tanggung, ia mengerahkan puluhan bahkan seperti ratusan portal sembari mengeluarkan pedang.
Oh tidak, ini buruk!.
"Kelancanganmu karena mengacuhkanku adalah mati!".
Ratusan pedang mengarah ke gadis bergaun ini. Ia tidak menghindar ataupun maju, ia seakan terus berdiri di depanku.
"Kenapa kau tidak lari?".
"Aku tidak mungkin meninggalkan Masterku karena masalah ini... Lagipula mainan itu tidak mampu menghibur seorang manusia yang anggun sepertiku" Balasnya dengan anggun sembari memegang dada dengan tangan kiri.
"Dan juga aku tidak ingin pertemuan kita menjadi kacau seperti ini, wahai Masterku" Ia menurunkan tangan kirinya dan beralih ke gagang pedang. Wajahnya terlihat serius ke arah depan.
Seluruh pedang melesat keluar dari portal dengan kecepatan tinggi. Tidak ada siapapun yang mampu selamat dari serangan seperti itu.
"Kau tidak mungkin selamat!".
Mendadak, waktu di sekitarku menjadi lambat.
"Ne, Master".
Ia memanggilku lagi, ia hanya memalingkan sedikit wajahnya ke arahku.
"Aku ingin kita bertemu dengan keadaan normal, atau setidaknya tidak dalam kekacauan seperti ini".
"Apa maksudmu?".
"Suatu hari nanti pasti kita akan bertemu, aku sudah menunggu sangat lama untuk saat seperti ini".
Ia berbalik ke arahku, pedang yang ia pegang kini ditancapkan ke tanah. Kedua tangannya beralih ke atas gagang.
"Aku bersumpah di atas pedang ini... Aku bersumpah untuk seluruh perasaan suci dan keanggunan bunga mawar... Kehebatanku akan aku gunakan untuk dirimu, wahai Masterku".
Tangan kanannya ia arahkan ke dada.
"Atas nama penguasa Roma, akan aku bimbing Masterku menuju keindahan yang melebihi Domus Aurea".
"Namaku...".
*Deg!*.
Taira tersadar sembari mengatur nafas, ia seakan tidak mampu berkata lain ketika terbangun dari mimpi buruk barusan. Ratusan pedang yang ingin membunuhnya, seorang gadis yang muncul entah dari mana, pemuda pirang dengan tatapan dingin ke arahnya, apa itu bukan sebuah mimpi buruk?.
'Siapa gadis itu? Apa yang ingin ia ucapkan?'.
Pikiran Taira seakan penuh tanda tanya seputar gadis itu. Namun, yang ia pikirkan sekarang adalah... Siapa pemuda pirang yang mengeluarkan pedang itu?.
'Sebenarnya mimpi apa yang barusan aku alami?'.
Ia memegang kepalanya yang masih sakit, rasa pusingnya sedikit mereda ketika ia bangun tidur. Namun, ia merasa bahwa rasa sakit tersebut bukan berasal dari gejala biasa.
Ia bangun dengan perlahan, hidungnya mencium sesuatu yang enak. Mungkin Machi sedang memasak sesuatu di dapur.
*Kriet!*.
Taira membuka pintu dapur dengan perlahan, Machi segera menoleh ke arah pintu. Ia mematikan kompor dan bergegas berjalan ke arah Taira.
"Ta-Taira-kun, ba-bagaimana keadaanmu?" Ucapnya sembari mengelap tangan di celemek.
"Aku agak mendingan, hanya sedikit merasa pusing".
"Kau sedang masak apa Machi?".
"O-Oh itu...".
Ia menoleh ke arah panci.
"I-Itu nasi bubur... Ka-Karena Ta-Taira-kun sedang tidak enak badan, ja-jadi aku memasaknya".
Taira tersenyum tipis ke arah Machi.
"Terima kasih atas perhatianmu, Machi".
Pipi Machi merona ketika melihat wajah Taira.
"Sa-Sama-sama".
~ZHITACHI~
Seorang pemuda berjas hitam tengah berlarian di lorong sembari ketakutan. Wajahnya seakan seperti telah melihat hantu. Ia segera berbelok ke kanan gang, karena sangat panik ia sampai menabrak tong sampah yang ada di pinggir lorong.
*Tap! Tap! Tap!*.
Suara langkah santai terdengar di lorong usai pemuda itu berbelok arah. Sosok yang ditutupi pakaian hitam sedang mengejar orang itu dengan santai.
*Tap! Tap! Tap!*.
*Set!*.
*Tap!*.
Langkah pemuda itu terhenti ketika di depannya sudah jalan buntu. Ia menoleh ke arah belakang sembari mundur ketakutan.
*Tap! Tap! Tap!*.
"Sudahi main-main ini".
"A-Apa yang kau inginkan!".
*Set!*.
*Tap!*.
Sosok yang pernah dilawan Karin berhenti tidak jauh dari pemuda itu.
"Cukup simple, aku hanya ingin... Nyawamu".
"Nya-".
*Jleb!*.
Sebuah belati menancap tepat di tengah kepala, pemuda tersebut jatuh perlahan lalu tewas.
"Seribu laki-laki dan seribu perempuan sudah aku bunuh, Master" Ucapnya melalui batin.
"Bagus, Assasin... Datanglah ke sini segera".
"Baik, Master".
Sosok yang dipanggil Assasin kini menghilang bersama kegelapan.
Pukul 23.18...
Shiro sedang duduk santai di sofa sembari menonton berita di tv. Setelah dihajar oleh barang yang menumpuk banyak, kini ia baru bisa santai. Rasa lelah seakan tengah menggergoti dirinya. Walaupu begitu, ia masih belum merasa ngantuk.
Rin muncul dari belakang dan perlahan memeluk leher Shiro.
"Terima kasih atas pekerjaanmu, Emiya-kun".
Shiro menoleh ke arah Rin.
"Kau belum tidur, Rin?".
"Mana mungkin aku bisa tidur jika kau belum istirahat".
"Breaking News! Ratusan mayat berceceran di setiap lorong kota Fuyuki. Kebanyakan korban berasal dari pemuda sampai orang dewasa. Petugas masih belum tahu motif apa yang barusan terjadi. Dilihat dari cara membunuh korban, si pelaku melakukan tindakan ini seperti melakukan suatu pemujaan. Menurut petugas, kemungkinan besar masih ada mayat di sekitaran kota Fuyuki".
"Kuharap pembunuh itu tidak sampai ke sini".
"Jika ke sini pun yang malah ia akan kena masalah, hehe".
"Bukan itu, aku masih penasaran alasan si pembunuh itu".
"Memangnya apa yang membuatmu penasaran? Tidak biasanya kau memikirkan hal ini, Emiya-kun".
"Aku pernah membaca buku di Asosiasi dulu, sebuah ritual besar memerlukan banyak tumbal. Di lihat dari pembunuhan ini, si pelaku kemungkinan sedang melakukan suatu ritual dengan skala besar".
"Ritual? Pembunuhan berantai? Tumbal?".
"Hanya ada satu ritual pemanggil yang konon di lakukan di kota ini. Sebuah ritual yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan korban".
"Jangan-jangan ritual itu...".
"Ritual pemanggilan Cawan Suci".
~ZHITACHI~
Shinji dan kakek cebol tengah menunggu kedatangan Assasin di tempat pemanggilan. Sebuah gumpalan asap hitam muncul di tengah segel. Assasin muncul dari balik gumpalan asap hitam tersebut.
"Perintah pertamamu sudah saya lakukan".
"Bagus Assasin".
"Shinji" Panggil kakek itu ke arah Shinji. Shinji segera menoleh ke arah kakek cebol itu.
"Lakukan perintah kedua".
"Baik, Oji-sama".
*Set!*.
Ia memajukan tangan kanan yang terdapat segel perintah.
"Assasin, aku perintahkan kau... Cabut jantungmu sendiri dan serahkan dengan tangan kanan".
Assasin terlihat terkejut mendengarnya. Tangan kanannya bergerak perlahan ke arah jantung, ia menoleh ke arah tangannya dan mencegah tangan tersebut.
*Jleb!*.
Tangan kanannya menusuk dadanya dengan kuat, ia merasakan jantungnya tengah dipegang oleh tangannya sendiri.
*Sleb!*.
Assasin menarik kuat jantungnya dan mengarahkannya ke depan. Seketika Assasin tewas dengan tangan kanan di ulurkan ke depan. Shinji merasa jijik ketika melihat adegan barusan.
"Ambil jantung itu Shinji".
"Ba-Baik" Shinji berjalan santai ke arah tubuh Assasin dan mengambil jantung tersebut dengan rasa jijik.
"Sekarang ikuti aku" Ucap kakek itu sembari berjalan ke sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat pemanggilan.
*Set!*.
Kakek cebol itu membuka pintu yang Nampak usang. Ia melangkah kembali dengan di susul Shinji.
Shinji melihat seorang gadis berambut putih panjang dengan pakaian berantakan sedang di rantai di tengah ruangan. Kondisi tubuhnya sangat mengenaskan, tubuhnya terlihat mulai mengering, sayup matanya seakan mulai kehilangan cahaya.
"O-Oji-sama, siapa gadis itu?" Tanya Shinji di sela ia berjalan.
"Dia merupakan seorang homunculus dari Einzbern yang dulu aku culik di kota tua".
*Set!*.
*Tap!*.
Langkah kakek cebol dan Shinji berhenti di depan gadis itu.
"Berikan jantung itu kepadaku Shinji".
Shinji menyerahkan jantung yang ia pegang ke kakeknya.
Kakek cebol itu segera memasukan jantung tersebut ke bagian dada gadis itu.
"AAAAA...".
Gadis itu berteriak keras akibat tindakan tersebut. Akibat teriakan tersebut, Shinji segera menutup kedua telinganya. Teriakan yang dihasilkan menimbulkan gelombak angin dan perlahan mulai menyebar.
Sementara itu...
"Ritual pemanggilan Cawan Suci? Bukannya perang gila itu sudah berakhir 5 tahun lalu? Tidak mungkin kan jika perang ini dimulai sebelum 10 tahun".
"Menurut buku memang tertulis jika perang Cawan akan terjadi setiap 10 tahun. Namun, aku merasa sangat aneh tentang kejadian ini".
"Benar ju-".
*Deg!*.
Shiro dan Rin merasakan firasat aneh. Mereka berdua menoleh ke arah berlawanan.
"Rin, kau menyadarinya?".
"Ya, sebuah gelombang sihir yang sangat kuat".
"Sudah kuduga ini ada kaitannya dengan Cawan Suci".
"Tidak mungkin perang ini dilakukan tanpa peraturan semestinya. Siapa yang ingin memulai perang mematikan ini?".
"Hanya ada tiga keluarga besar penyihir yang mampu memanggil perang ini. Menurut tuan Melloi, keluarga Einzbern sepertinya tidak akan datang ke kota ini. Dilihat tentang dua perang Cawan waktu lalu, Einzbern sudah berhenti untuk memanggil Cawan ke kota ini".
"Lalu kedua, keluarga Tohsaka... kurasa itu tidak mungkin juga" Tambah Shiro.
"Hanya satu keluarga yang masih menginginkan Cawan ini...".
Pandangan Shiro menjadi tajam.
"Keluarga Matou".
~ZHITACHI~
Karin tengah duduk di dekat jendela mobil sembari menahan kepalanya di pintu mobil. Pandangannya melihat ke arah lampu gedung yang tengah menyinari kota malam.
Ia masih kepikiran tentang kejadian waktu lalu, seorang manusia yang menabrakkan dirinya namun tidak mati. Menantang dirinya dalam pertarungan satu lawan satu namun kabur. Ia seperti sebuah teka-teki untuk dirinya.
"Apa kau juga salah satu Master?".
"Arti kata yang ia ucapkan seperti menambah sebuah teka-teki untuk kota ini".
Tangan kanannya menggenggam dengan erat.
"Kali ini, dengan kekuatan serta keinginanku, aku akan menghentikan perang busuk ini sampai tidak ada yang tersisa. Tragedi yang pernah terjadi pada diriku waktu lalu tidak akan kubiarkan terjadi untuk kota ini!".
Karin merasakan sebuah gelombang kuat melintas di dekatnya, ia menoleh ke arah samping untuk mencari sumber gelombang.
"Gelombang ini, jangan-jangan...".
Ia teringat sesuatu yang mengerikan pada masa lalunya. Ia mendecih pelan, sebuah perasaan yang telah ia segel jauh dalam hati perlahan mulai teringat.
"Cawan Suci!".
~ZHITACHI~
Taira tengah berdiri di depan gerbang dojo sembari memandangi Machi yang tengah pulang. Sudah menjadi kebiasaannya menunggu Machi sampai masuk ke rumah. Ketika Machi sudah sampai di depan gerbang, ia lekas membuka gerbang.
"Ukh!".
Tangan kanan Taira terasa seperti terbakar, ia mengelus-elus pelan telapak atas tangan.
"Tanganku seperti terbakar".
Taira tidak memperdulikan masalah tersebut, ia segera masuk ke dojo dan mengunci pintu gerbang.
*Kriet!*.
*Dum!*.
Machi menutup pintu rumah dengan pelan.
"Aku pulang" Ucapnya dengan nada lirih.
Machi segera melepaskan sepatunya dan lekas mengambil sandal rumah.
"Darimana saja kau, Machi?".
Machi menoleh ke arah seorang pemuda berambut biru yang tengah berdiri di depan dirinya.
"Onii-san" Ucapnya dengan nada lirih.
Pemuda itu menghela nafas pelan.
"Sudah kubilang untuk tidak mendekati keluarga Fujimaru, kenapa kau tetap ke sana?".
Machi tidak menjawab pertanyaan dari kakaknya, ia bahkan tidak menoleh ke arah mata sang kakak. Ia merasa seperti ketakutan melihat ke arahnya.
"Sudahlah, aku lelah membicarakan hal ini".
Pemuda itu pergi meninggalkan Machi yang terdiam diri di loker sepatu rumah.
"Tapi ingat ini, Machi...".
Pemuda itu berhenti ketika tiga langkah berjalan.
"Cepat atau lambat keluarga Fujimaru akan mengalami sebuah kutukan, pada waktunya nanti kau akan melihat hal tersebut di depan matamu sendiri" Ucapnya sembari menoleh sedikit ke arah Machi.
Ia menoleh ke arah depan dan berjalan perlahan menjauhi Machi.
"Ingat itu, Machi".
Machi masih tidak menjawab pertanyaan dari kakaknya. Kata-katanya seakan terkunci oleh perkataan dari kakaknya tersebut.
Hanya terlintas sebuah kata yang ingin ia ucapkan sekarang...
"Taira-kun".
Pagi hari...
Taira memasuki ruangan kelas sembari berjalan santai ke arah bangku duduk. Ia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Yo, Taira!" Sapa Koujiro dari arah bangku duduk.
"Hm".
"Bagaimana keadaanmu sekarang?".
"Jika kau tidak memulai pertanyaan aneh, mungkin saja aku akan sehat sampai sore" Jawabnya sembari menarik bangku.
"Ne, apa yang terjadi antara kau dengan Machi kemarin?".
Taira menaruh tasnya ke gantungan meja dan setelah itu duduk. Ia menahan wajahnya dengan tangan kanan.
"Kebiasaan busukmu sudah keluar, Koujiro".
"Tidak-tidak, aku hanya sedikit penasaran" Balasnya sambil mengelus-elus rambut belakangnya sendiri.
"Sedikit untukmu tapi banyak ruginya untukku".
Machi masuk ruangan kelas 10 menit kemudian. Ia melangkah santai ke arah Taira.
"Ba-Bagaimana keadaanmu, Ta-Taira-kun?".
Taira menoleh ke arah Machi yang sudah berdiri di depannya.
"Sedikit mendingan".
Kedua matanya sekilas menoleh ke arah tangan kanan Machi. Tangan kanannya memakai sapu tangan berwarna hitam, sementara di tangan kirinya tidak memakai sapu tangan.
"Machi, ada apa dengan tanganmu?".
Machi segera menyadari hal tersebut dan langsung menyembunyikan tangan kanannya ke belakang.
"I-Ini... E-Eto... Ke-Kemarin kena air panas, y-ya... Air panas".
Taira hanya menggumam, tidak biasanya Machi seceroboh seperti itu.
*Teng! Teng!*.
Bel masuk telah berbunyi.
"A-Ano, na-nanti kita bicarakan lagi, Ta-Taira-kun".
"Hm".
Taira mengangkat kepalanya dan lekas membenarkan posisi duduk. Karena sekarang hari Selasa dan masih hari awal, pelajaran untuk hari ini cukup padat. Apalagi hari yang lalu ia sempat tertinggal nilai praktek.
"Membosankan" Ucapnya saat mengingat jadwalnya yang begitu padat.
Dalam penglihatan sekilas, ia melihat sosok gadis bergaun putih tengah tersenyum di depan dirinya. Ia merasa terkejut usai merasa fenomena barusan.
*Deg!*.
Tangan kanan Taira kembali merasakan sakit seperti terbakar. Ia memegang tangan kanannya dan menggengam dengan pelan.
"Apa itu barusan?".
Siang hari memang pas dihabiskan untuk bersantai, terlebih lagi waktu tersebut merupakan jam istirahat terpanjang. Taira tidak mungkin menyia-nyiakan hal tersebut. Sudah 15 menit yang lalu ia tidur di atas atap sekolah. Ditemani dengan angin yang tenang, berteduh di bawah cahaya matahari yang tertutupi oleh atap tangga gedung. Sungguh waktu yang pas untuk menghabiskan waktu istirahat.
Machi dan Koujiro tiba di atap sekolah sembari mencari Taira.
"Sudah kuduga dia di sini".
Mereka berdua berjalan santai ke arah Taira. Mereka lekas duduk di sampingnya.
"Tempat ini memang yang terbaik" Ucap Koujiro sembari membuka bungkus roti.
Machi menaruh bekal lainnya ke arah samping. Terkadang Machi membuat dua bekal untuk ia bawa ke sekolah. Alasannya mungkin bekal satunya untuk Taira.
Ia masih merasa khawatir tentang keadaan Taira akhir-akhir ini. ia merasa bahwa Taira terlalu lelah pada dua hari terakhir. Semenjak mereka berdua selesai melakukan sparing, Taira seakan seperti memaksa batasan dalam dirinya.
Namun, ketika melihat hari ini ia datang ke sekolah dalam keadaan sehat, itu sudah cukup buatnya. Ia merasa beberapa rasa khawatirnya mulai menghilang.
Taira membuka mata perlahan, ia segera bangkit lalu meregangkan tubuhnya sekali ke atas. Hal pertama yang ia lihat adalah Machi yang duduk di samping dirinya.
"Machi?".
"O-Ohayo, Taira-kun".
"Yo sahabatku, tidurmu sangat nyenyak sekali".
"Jika kau tidak memberiku lembaran praktek gaje itu, tidak mungkin aku akan tidur sepulas ini" Balasnya sembari mengucek mata sekali.
"Hehehe".
Taira menoleh arah bekal yang ada di samping Machi.
"Kenapa ada dua bekal di dekatmu, Machi?".
"I-Ini...".
Machi segera menaruh bekal yang ia pegang dan mengambil bekal yang masih penuh. Pipinya sedikit merona.
"I-Ini untuk Ta-Taira-kun".
"Untukku?".
"U-Um" Balasnya sembari memalingkan wajah meronanya.
Taira menerima bekal tersebut sambil kebingungan ketika melihat tingkah laku teman masa kecilnya ini.
"~Wiiuh~ Kok panas yah di sini" Ejek Koujiro ke arah mereka berdua.
Wajah Machi semakin merona, sementara Taira tetap acuh sembari menghabiskan bekal.
10 menit kemudian...
Taira menutup tutup bekal dan menaruhnya ke dekat wadah bekal lain milik Machi. Ia merasa sangat kenyang. Entah itu buatan Machi yang memang sangat enak, atau memang dia sedang kelaparan. Akan bahaya jika ia tiduran usai makan bekal tersebut. Ia tidak mau gemuk gara-gara masalah ini.
"Bekalmu memang yang terbaik, Machi".
Pipi Machi kembali merona.
"Ma-Masakanmu ja-jauh lebih baik dariku, Ta-Taira-kun".
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Taira... Apa kau akan pulang usai istirahat ini selesai?" Tanya Koujiro sembari memandangi langit.
"Aku masih ada tugas yang harus aku selesaikan".
"Begitu yah...".
*Teng! Teng! Teng!*.
Bel pulang telah berbunyi, sekolah untuk hari ini akan selesai lebih awal karena akan dilakukan pembinaan pada murid kelas satu. Untuk kelas dua ataupun tiga diperbolehkan pulang lebih awal. Namun, ada beberapa murid yang masih ingin berada di sekolah. Baik itu menghadiri pelajaran tambahan ataupun ingin pergi ke perpustakaan.
Mereka bertiga bersiap-siap untuk kembali ke kelas, Taira tengah membantu mengambil wadah bekal dan memberikannya ke Machi.
"Oke, habis ini aku akan pergi karaoke bersama temanku, sampai jumpa" Ucap Koujiro sembari berjalan ke arah tangga.
"Aku juga".
Machi menoleh ke arah dasi Taira yang terlihat tidak lurus.
"Tu-Tunggu sebentar, Taira-kun".
"Hm?".
Kedua tangan Machi beralih ke dada Taira sembari membenarkan dasi yang ia pakai. Si empu merasa terkejut.
"Bi-Biar aku yang membenarkannya sendiri" Ucapnya sambil gugup.
"Ti-Tidak apa, Taira-kun".
Taira tetap merasa tidak enak dalam situasi seperti ini. ia segera melepaskan pelan pegangan tangan Machi ke dasi.
"Su-Sudah cukup, Machi".
"Ti-Tidak apa Taira-kun, bi-".
Kedua matanya terkejut ketika melihat ada tanda ukiran berwarna merah samar di tangan kanan Taira. Ia segera melepaskan pegangannya, setelah itu ia mundur selangkah.
"Ada apa, Machi?" Ucap Taira kebingungan.
Ia menundukkan sedikit kepalanya.
"Cepat atau lambat keluarga Fujimaru akan mengalami sebuah kutukan, pada waktunya nanti kau akan melihat hal tersebut di depan matamu sendiri"
"Kenapa Taira-kun menerima panggilan itu, Kenapa?" Balasnya dengan nada lirih.
"Kenapa dengan dirimu, Machi?" Ucap sembari memegang kedua pundak Machi.
"Ti-tidak apa, Ta-Taira-kun. A-Aku hanya sedikit pusing" Balasnya sembari tersenyum.
Taira menurunkan kedua tangannya.
"Baiklah, kalau begitu lekaslah pulang, istirahatkan tubuhmu... Sepertinya kau masih lelah karena menjagaku seharian lalu. Mungkin aku akan pulang ke dojo sore ini".
"U-Um".
Taira tersenyum sekali ke arah Machi, ia berjalan pelan ke arah tangga sembari meninggalkan Machi di atap.
Suasana di atap sekolah kini menjadi sunyi. Ia membuka sarung tangannya dan menaruh sarung tangan tersebut ke saku baju.
Di tangannya terdapat sebuah ukiran aneh dengan warna merah. Ia menoleh ke arah ukiran tersebut dengan tatapan dingin.
"Walau Taira-kun mengikuti perang ini, aku akan tetap melindungi dirinya sampai tersisa kami berdua".
Ukiran tersebut menyala terang. Pandangan Machi beralih ke arah depan.
"Untuk alasan itulah aku mengikuti perang ini".
Sesosok manusia dengan beberapa zirah berbentuk bergelombang berwarna merah di lengan muncul di belakang diri Machi. Tidak terlihat wajah maupun bagian atasnya, hanya terlihat sekilas rambut putih yang terurai tengah tertiup angin.
Malam hari...
Tidak disangka oleh Taira bahwa tugasnya jauh lebih banyak yang ia duga. Ia menduga hanya 2 nilai praktek yang belum dimasukkan ke nilai utama. Namun justru masih ada satu nilai praktek yang ternyata menyita banyak waktu.
Ia melangkah pelan sembari menahan rasa kantuknya, ia bahkan seperti tidak mampu menahan kesadarannya lebih lama karena rasa kantuk yang sangat menyiksa ini.
Kedua mata lemasnya sempat menoleh ke arah depan. Tak jauh dari depan gerbang dojo miliknya, ada seorang berambut putih terurai dengan pakaian seperti era samurai tengah berdiri menghadangi langkahnya.
Taira mengucek matanya sekali, mungkin ini halusinasi sebelum tidur karena ia terlalu sering memaksa tubuhnya ataupun dirinya sedang melamun.
"Mungkin ini halusinasiku".
Sosok berambut panjang itu menarik sebuah katana yang berada di samping pinggang. Ia lekas mengarahkannya ke arah Taira.
Taira menatap tajam ke arah sosok tersebut, tidak mungkin juga halusinasinya seakan ingin menantang dirinya. Memang benar sih Taira sering berlatih ilmu Kendo, tapi tidak mungkin juga ada yang berani menantang dirinya semalam ini.
"Hm?".
Sosok itu segera melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Taira dan berniat menebas dirinya. Taira yang semula masih belum menerima respon tersebut segera sadar dan beralih ke arah samping kanan.
*Wush!*.
*Dum!*.
Tanah seketika retak ketika pedang tersebut mengenai tanah. Taira tidak mampu berbicara hal lain selain terkejut bukan main.
"Hoi-hoi, i-ini pasti mimpi!".
Sosok itu menarik kembali pedangnya dan segera melakukan tebasan menyamping. Taira yang melihat serangan tersebut segera menghindarinya.
*Srak!*.
Bagian baju di dada tersayat cukup lebar, ditambah ada segores luka kecil di pipinya.
"Ukh! Luka ini sungguhan... Ja-Jangan-jangan ini bukan mimpi!".
Sosok itu menarik pedangnya ke belakang dan segera melakukan serangan menusuk ke arah Taira.
"Observe!".
Taira memanggil replika pedang pendek berwarna biru sembari bersiap menangkis serangan tersebut.
*Set!*.
Serangan tersebut berhasil dihalau oleh pedang ilusi Taira.
Tatapan mata orang yang ada di depan Taira menjadi tajam, sosok tersebut segera memutar pegangan pedang menjadi 180 derajat lalu mengangkatnya.
*Set!*.
Pandangan Taira menoleh ke arah gerakan pedang tersebut.
*Wush!*.
Secara mendadak arah serangan beralih ke arah bawah dengan sangat cepat.
*Trak!*.
Pedang ilusi Taira hancur ketika menerima serangan tersebut. Ia mundur beberapa langkah, nafasnya terasa sedikit berat. Ia sekilas berpikir, siapa orang yang ada di depannya ini? kenapa ia sangat ingin membunuh dirinya?.
"Siapa kau sebenarnya...".
Sosok itu menurunkan pegangan pedang, tatapan tajam nan dingin terus ia pancarkan ke arah Taira. Dengan perlahan Taira mundur sembali menghindari jarak dari sosok mengerikan itu.
*Set!*.
Taira merasa ada tembok yang menghalangi dirinya untuk mundur. Ia sudah tidak punya rencana lain untuk bisa lolos dari orang yang sedang menekan dirinya dengan hawa membunuh sebesar itu.
Ia tetap menunjukkan wajah tegar walaupun sudah berada di ujung maut. Sepertinya ini sudah menjadi takdirnya untuk mati terbunuh.
"Aku akui keberanian dalam dirimu yang sudah menantang diriku dengan keterbatasan lemahmu itu" Untuk pertama kalinya sosok itu membuka suara. Suara seorang gadis dengan nada lembut namun sangat menekan.
"Tapi... Kematianmu di sini sudah ditakdirkan oleh surga. Sebelum kau bisa memanggil Servantmu, aku akan membinasakanmu terlebih dahulu".
'Se-Servant?'.
"A-Apa maksudmu?".
"Tanyakan itu ketika sudah mati".
"Apa ma-".
*Jleb!*.
Gadis itu menusukkan pedangnya ke arah perut Taira. Ia terus menekannya sampai dua pertiga besi pedang masuk dan menembus ke tubuh Taira.
*Sleb!*.
Gadis tersebut menarik pedangnya dengan cepat, membuat Taira tidak kuasa menahan tubuhnya lebih lama lalu jatuh bersender ke tembok.
"Akan kubiarkan kau mati secara perlahan... Anggap saja ini hadiah dariku untukmu".
Gadis itu membuang bekas darah yang menempel di pedang ke arah samping.
Pandangan Taira perlahan mulai mengabur, tubuhnya perlahan mulai merasakan dinginnya udara malam.
'Apa aku akan mati seperti ini... Tanpa ada perlawanan apapun... Ilmu yang diajarkan Nee-san, bahkan belum sempat aku mencobanya'.
Perlahan, Taira memejamkan kedua matanya. Ia sudah tidak kuat lagi menahan matanya untuk terus terbuka. Rasa sakit yang ia rasakan, darah yang perlahan terus keluar dari tubuhnya, seakan seperti menyiksa tubuh lemasnya.
'Maafkan aku... Nee-san... Machi...'.
"Master".
Ia mendengar suara yang pernah ia dengar. Suara yang selalu melindungi dirinya, suara yang selalu menuntunnya ke cahaya. Suara yang pernah ia dengar dari bibir mungil seorang gadis, pertemuan dirinya dengan gadis itu di sebuah dunia yang terang, tanpa rasa takut dan keberanian yang luar biasa dari gadis tersebut.
"Suatu hari nanti pasti kita akan bertemu, aku sudah menunggu sangat lama untuk saat seperti ini".
"Atas nama penguasa Roma, akan aku bimbing Masterku menuju keindahan yang melebihi Domus Aurea".
"Namaku...".
Taira memajukan tangan kanannya dengan langkah lemas ke arah depan. Ia mengambil nafas sekali sembari membuka sedikit mulutnya.
"NERO!".
Cahaya terang muncul dari tangan kanan Taira, menghasilkan sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan. Kini ada ledakan asap muncul di dekat dirinya. Sosok gadis misterius itu segera mundur untuk menghindari ledakan barusan.
*Wush!*.
Sebuah pedang aneh berwarna hitam dengan dilapisi aura putih tengah mengarah ke gadis tersebut dengan melakukan tebasan menyamping.
*Trang!*.
Gadis itu berhasil menghalau serangan tersebut. Namun, karena daya dorongnya yang kuat membuatnya harus terpental beberapa meter.
*Tap!*.
Gadis itu mendarat dengan tangan kiri menyentuh tanah.
"Tak kusangka dia bisa memanggilnya hanya dengan sebuah nama".
Suara pedang berbunyi terdengar dari balik asap putih tersebut.
*Wush!*.
Sebuah tebasan kuat ke arah samping, membuat asap putih menghilang sepenuhnya. Hanya menyisakan beberapa kelopak bunga melati terbang di sekitar dirinya. Seorang gadis pirang dengan rambut terikat memakai gaun putih muncul di depan Taira. Gadis itu menancapkan pedang anehnya ke tanah. Tangan kirinya ia arahkan ke dada.
"Umu, Kaisar yang anggun telah kembali untuk menerima panggilan".
Taira membuka sedikit matanya dan menatap ke arah depan. Secara samar ia melihat seorang gadis yang sama seperti di mimpinya. Seorang gadis yang selalu menyelamatkannya dari bahaya.
Gadis pirang itu menyadarinya. Ia segera mencabut pedangnya dan berbalik badan. Senyuman tipis ia tunjukkan ke arah Taira.
Sebuah senyuman yang tidak akan pernah Taira lupakan seumur hidup. Senyuman indah yang selalu melindungi dirinya, kini berdiri tepat di depan matanya.
"Kita bertemu lagi...".
"Master".
~TBC~
Ending : Edelweiss (Ending Centaur no Nanami).
- If as Edelweiss, Scaring for the dark…
Awan kelabu menutupi cahaya matahari, perlahan meneteskan air matanya. Saber berdiri memandangi rerumputan luas di temani batu berukuran sedang di sampingnya dengan pakaiannya bukan berwarna putih melainkan merah.
- Soshite sekai ga, boku no koto wasurete mo…
Pandangannya masih ke arah depan, tidak peduli walau hujan akan turun. Ia menoleh pelan ke arah batu di sampingnya, layar mulai terangkat ke udara sambal merekam hujan datang. Terlintas ada beberapa adegan Saber tengah memimpin rakyat dan berakhir tertidur di atas batu sembari dengan leher berlumuran darah.
- Nandome no, magarikado darou…
Di suatu tempat, Saber tengah memimpin rakyatnya dengan anggun.
- Boku ga mita, kibou nara koko de…
Tempat berganti di depan ruangan atas istana, Saber berdiri sembari meregangkan tangan ke arah kota, tidak lupa ia tersenyum ke arah kota tersebut.
- Dare demo nai, kimi ga iru sore dake de ii…
Terlihat beberapa perajurit sedang mendiskusi untuk melakukan rencana pembakaran kota.
- Waratte…
Penduduk kota berlarian karena seluruh kota tengah terbakar dengan kobaran api yang besar.
- Yagate!
Saber tersenyum puas ke arah kobaran api, ia seperti menikmati pemandangan yang dianggap indah itu.
- Rasen no you ni meguttemo…
Saber tengah meninjau kontruksi pembanguan Aiteus damestus yang dibangun di atas kota yang telah terbakar.
- Hana wa…
Ia menoleh sekilas ke arah samping.
- Kage no katachi o shiranai…
Seluruh warga mengecam pembangunan tersebut dan menyudutkan Saber. Waktu dan tempat berpindah, Saber duduk di dekat batu sembari memegang sebuah belati dan berniat mengarahkannya ke leher.
- If as Edelweiss, tenohira ni…
Waktu kembali ke awal, aliran waktu perlahan menjadi lambat. Saber menyentuh butiran air hujan dengan telunjuk kanan.
- If as Edelweiss, Scaring in the dark…
Beberapa cahaya perlahan muncul dari langit kelabu, menghapus beberapa bagian dari awan kelabu.
- Soushite sekai ga, boku no koto wasurete mo kidzukenai…
Ia perlahan menyadari bahwa perilakunya di masa lampau memang salah. Waktu di sekitar Saber mulai berjalan seperti semula.
- Kaze ni obieteta…
Dunia yang di tempati saber perlahan berubah, pakaiannya juga ikut berubah menjadi pakaian awal yaitu gaun putih.
- Boku mo mata, kawatteiku yo!
Di depannya kini ada Taira sembari mengulurkan tangan kanan dengan senyuman tipis ia tunjukkan ke Saber. Saber membalasnya dengan senyuman bahagia.
Akhirnya selesai juga... Setelah chapter ini berakhir, kemungkinan kecil akan ada beberapa pertarungan di kota Adachi ini, karena Zhitachi akan menargetkan Fanfict ini akan berakhir sekitar 16 chapter lebih. Untuk Shiro dan tokoh Fate Stay Night akan ikut ambil dalam cerita ini, namun tidak terlalu sering karena perang ini akan terfokus ke kota Adachi.
Untuk kemungkinan lain, di chapter depan akan Zhitachi deskripsikan sedikit chara OC yang mengikuti perang ini, namun tidak dengan masa lalu mereka. Karena Zhitachi pikir, hal tersebut terlalu membebani ke cerita ini.
Oke, mungkin itu saja yang Zhitachi sampaikan, sampai jumpa di minggu depan...
*Kritik dan Review dari Reader sekalian akan sangat memotivasi Zhitachi untuk menjadi lebih baik*.
